Kembali ke Bandung dan Sajak-Sajak Kecil kepada M


Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:

Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”

Baca Lebih Lanjut

Cara Paling Brutal Menjadi yang Paling Menyedihkan


 

Sajak-sajak ini dipublikasikan pertama kali di akun media sosial Instagram saya di @riza_almanfaluthi.

Untuk pembaca yang ingin membaca dan memesan buku Matanya Bukan Mata Medusa, 41 Life Hacks Menyintas di Negeri Orang bisa mengeklik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

Tersedia buku Sindrom Kursi Belakang yang sekarang hanya menyisakan puluhan eksemplar saja.  Untuk sinopsisnya bisa dibaca di sini.

Buku Kita Bisa Menulis, Belajar kepada Mereka yang Tak Menyerah juga tersedia di tautan di atas. Buku ini sudah cetakan ketiga karena banyak yang mendapatkan manfaat dari panduan menulis yang ada dalam buku tersebut.

 

Lomba Baca Puisi Hori ke-78: Keragaman Interpretasi dan Gaya Membaca yang Sangat “Mereka


Kinan Fathiya Almanfaluthi pernah meminta kepada saya untuk menciptakan satu puisi. Niatnya, puisi itu akan dimusikalisasi dan dibacakan dalam lomba pencarian bakat di sekolahnya.

Puisi itu saya beri judul Kau Bukan Pecundang yang Bisa Ditemui di Setiap Lampu Merah. Singkat cerita, mereka menang lomba. Dari berbagai testimoni yang Kinan dengar dari guru dan teman-temannya dan diceritakan kembali kepada saya, puisi itu sangat menggugah. Oke, terima kasih.

Baca Lebih Lanjut

Menemukan Fotomu yang Tertinggal di Saku Celana Panjangku


 

 

Setelah 1000 Harimu


Roda pesawat mendarat di bandara yang namanya mengingatkanku padamu dan pada sepasang kelopak mata yang sering melahirkan aku, telaga, dan kata-kata. Atau sepasang ingatan yang kerap pudar karena takut pada hujan yang jatuh dan melunturkan warna pada dua sayap berwarna merah, kuning, hijau, dan kelabu. Di tanah gembur sawah bertumbuhlah padi dan segala engkau yang tak menyerah untuk keluar menyambut pagi, dengan tikus dan ular kembali ke sarangnya setelah adu akting di dramanya masing-masing, atau keong mas yang lapar terus menerus mencatat ribuan telur merah muda seperti tengkulak di masa panen. Sampai jualah kita di ujung cerita, tak tampak kucari fotomu di belantara binari, tak satu pun, tak ada. Sampai jualah fotomu itu, kudapatkan dari seorang teman yang menyerahkan buku Yasin, setelah 1000 harimu.

**
Riza Almanfaluthi
10-12-1445
Gambar dari media.cntraveler.com

Putu Buku Mengulas Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Mas Nugroho Putu Warsito adalah penyair sekaligus ASN Kementerian Keuangan dan pemilik akun Youtube Putu Buku. Spesialisasi kontennya adalah mengulas buku dan membaca puisi.

Salah satu konten yang baru-baru ini terbit adalah ulasan terhadap sajak-sajak saya dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.  Bagaimana komentar dan pendapatnya tentang buku sajak itu silakan ditonton saja.

Lebih detail tentang buku saya itu bisa dicari dalam menu pencarian dalam blog ini dengan kata kunci “Seseloki Seloka”. Salah satunya bisa dibaca dalam tautan berikut Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.

Pembaca juga bisa melihat-lihat beragam buku saya pada menu tautan berikut Linktree.

***
Riza Almanfaluthi
20 Mei 2024

Sepasang Mata Tenggelam


Di bawah pohon rambutan ia berhenti, mengais tumpukan sampah sisa-sisa pesta semalam.

Dicarinya kardus, gelas, dan botol plastik, kalau beruntung spanduk capres dan calon wakil rakyat yang bolong-bolong, dimainkannya batang besi berujung kait hingga ke dasar tong, tangan kayu berurat naga diayun nasib.

Didoronglah gerobak menuju pengepul demi menemukan limpul. Tauke sedang berbaik hati. “Kue keranjang untuk istri kau. Sehatnya itu.”

Di ujung pulang, ia melamun dua lengan kurus dihajar tebese menyambut dengan sepasang mata tenggelam, tanpa dasar, tanpa bayang.

***
Riza Almanfaluthi
10 Februari 2024

Lomba Gimik Pidato Bung Karno: Jadilah Alat Sejarah


Untuk memperingati HUT RI ke-77 sekaligus sebagai ajang silaturahmi pegawai, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas), Direktorat Jenderal Pajak menyelenggarakan kegiatan Morning Activity pada Senin, 23 Juli 2022.

Kegiatan itu diisi dengan pemberian motivasi oleh teman Fungsional Penyuluh Pajak dan banyak lomba yang diikuti banyak pegawai Direktorat P2Humas, mulai dari parade mode, gerak berantai, gimik pidato Bung Karno, dan lain sebagainya.

Baca Lebih Banyak

Pembacaan Puisi “Mata”


Pembacaan salah satu puisi saya yang ada di dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan yang berjudul “Mata”.

Pembacaan tersebut dilaksanakan untuk mengisi kegiatan pameran lukisan Hari Pajak 2022 di  lobi selatan Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta (Jumat,15/7).

Pembacaan diiringi dengan petikan gitar dari Pak Harris Rinaldi. Kami merupakan bagian dari Komunitas Sastra Kementerian Keuangan yang turut meramaikan peringatan Hari Pajak 2022 tersebut.

Buat teman-teman yang ingin membaca puisi itu sendiri silakan miliki buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan yang tersedia di tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

Silakan nikmati puisinya.

***
Riza Almanfaluthi

 

 

Pembacaan Puisi Fragmen Menanti Surat


Komunitas Sastra Keuangan (KSK) Chapter Direktorat Jenderal Pajak kembali berpartisipasi menampilkan parade puisi dalam rangka memperingati Hari Pajak 2022.

Acara diselenggarakan di tempat pameran lukisan di lobi selatan Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta (Jumat, 15/7).

Dari KSK yang ikut dalam performa itu adalah Pak Yari Yuhariprasetya, Ibu Aan Almaidah Anwar, Pak Harris Rinaldi, Mas Dimas Wisnu Mahendra, Mbak Nisa, dan lain sebagainya.

Pembacaan puisi dalam video kali ini  saya bersama Pak Yari Yuhariprasetya. Pak Yari mengiringi pembacaan puisi itu dengan dentingan gitarnya. Ia memusikalisasi puisi saya tersebut.  Terima kasih banyak, Pak.

Puisi Fragmen Menanti Surat adalah salah satu puisi yang ada di dalam buku puisi saya yang berjudul Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Juli 2022