Secuil Daftar Isi Spiritual Journey Emha Ainun Najib


image

Malcolm Gladwell


image

Nemu lagi bukunya setelah Outliers.

Foto Pagi Ini


IMG_0027

Bro Unesa and …..

 

IMG_0049

dengan kawan-kawan Banding dan Gugatan II

 

IMG_0055

Sok sibuk.

 

IMG_0058

Menatap jalan Jenderal Gatot Subroto yang macet dari ketinggian lantai 19

15 Tahun Lampau. Jurangmangu.


image

SIAP-SIAP DISIKUT HULK


SIAP-SIAP DISIKUT HULK

Salah satu doa yang sering kali saya panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.

    Saya sekamar dengan tiga orang lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor 11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di Madinah.

    Ada beberapa cara pergi ke Masjidil Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up (mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang. Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang terjatuh dari mobil.

Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf. Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road. Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai Masjidil Haram.

    Atau naik bus gratis yang disediakan Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13 Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.

    Yang dari Bakhutmah dan Misfalah kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday. Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil Haram.

    Kalau kita naik bus dari Kuday, maka kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya hijau yah…

    Silakan pilih moda transportasi yang mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat, maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat. Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang kedua. Menunggu saja.

    Biasanya kalau sudah mulai sepi di hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan mengangkat telunjuk menandakan angka satu.

Mereka minta infak kepada kita satu reyal untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.

Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.

(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)

Syukurnya flat kami ini habis di renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini adalah pintu gerbang flat kami.

 

(Suasana saat mau pergi ke Madinah)

    Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.

(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)

Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.

Berikut teman-teman baik saya yang sekamar itu:

Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang bersahaja.


Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.

Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J

    Sering kali kalau saya ingat Makkah alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.

    Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.

    Maka segeralah ke sana.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 01 Juli 2012

 

Tags: makkah, madinah, rasyid, imay, tommy, masjid terapung, jeddah, kuday, bakhutmah, misfalah, makkah almukarramah, hulk, cerita haji, india, pakistan, bengali, afrika, turki, Yordania, Suriah, Mesir

NA ADONG HEPENG


NA ADONG HEPENG

 

Mau cerita saja kejadian hari kamis di pekan lalu. Pagi itu di depan pasar Citayam ban meletus. Doorrr!!! Saya kira ban motor orang lain. Ternyata ban belakang motor saya. Terasa ada yang berbeza. Terasa bergoyang.

Kejadiannya jam 05.37 pagi. Sedangkan jadwal Kereta Rel Listrik (KRL) pukul 05.45. Ya sudah saya dorong motor ke tempat penitipan motor. Untung tak jauh cuma 100 meter-an. Yang terpenting adalah menitipkan motor dulu. Naik KRL dulu. Ke kantor dulu. Absen dulu. Alhamdulillah tak telat. Tak jadi dipotong. Motor mah urusan belakangan.

Dua hari sebelumnya, seorang teman bercerita kalau ada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ban motornya bocor. Lalu ia meninggalkan motornya sampai sore sama tukang tambal ban. Dianya kemana? Ke kantor. Kok meninggalkan motor dinas di abang tukang tambal ban? Semuanya demi absen.

Eh, ini kejadian pada saya. Tapi saya meninggalkannya di tempat penitipan motor. Pagi masih dimudahkan. Tapi sorenya harus ekstra kerja keras. Niatnya ngelembur karena banyak pekerjaan di kantor. Tapi tak jadi karena harus urus motor dulu. Takutnya nanti tak ada tukang tambal ban yang buka malam-malam.

Oleh karena itu jam lima sore langsung cabut. Sampai di Stasiun Citayam jam 18.15. Sholat dulu, lalu ke tempat parkiran. Ditawarkan pompa tangan untuk isi angin. Posssss… 1000 kali pompaan juga taka akan pernah bisa. Ban luar sobek karena sudah tipis. Berarti ada robekan besar di ban dalam.

Segera saya menuju ke tukang tambal ban. Ban luar dibuka. Betul juga ban dalamnya pecah sepanjang 3 cm. Saya pikir percuma kalau ditambal dengan ban luarnya yang masih sobek. Kudu beli ban luarnya juga. Saya tanya pada sang tukang berapa harga banya. “Seratus empat puluh limar ribu rupiah,” katanya.

Ngok… Duit di dompet cuma Rp 65 ribu. ATM pun jauh. Malas ambil duitnya. Jadi saya bilang ke Si Lae-nya: “Lae, simpan SIM saya ditambah Uang saya,mau? Besok saya bayar lunas.” Si Lae-nya diam saja. Geleng kepala. “Oh tak bisaaa,” katanya.

“Ya sudah ditambah KTP saya, bagaimana?”

Tetap saja dia tak mau. SIM ditambah KTP ditambah Rp 65 ribu, tetap tidak mau juga?

“STNK saja,” kata dia.

Ya sudah saya girang mendengarnya. Cek dompet. Pooosssss….Tak ada. Ngik.

“Yaaah gak ada Lae. Ketinggalan di rumah. Bagaimana kalau SIM, KTP, duit 65 Ribu ditambah hp saya?” Harga hp seken saya itu 10 kali lipat harga ban itu. Terlalu tinggi ya? Ya sudah 5 kali saja deh.

Ogah. Dia diam bae. Idealismenya tak bisa dibeli. Tik…tik…tik…gerimis jatuh. Saya memutuskan untuk menambal ban dalamnya saja. Mendengar putusan itu Si Lae-nya sudah merasa segan saja bawaannya.

“Tak bisa ditambal nih,” katanya. Saya ngotot, “sudah tambal saja, masih bisa kok.” Pada akhirnya dia menambal juga. Soor…soor…soor…suara hujan. Deras banget. Petir sambar-menyambar. Depan toko sudah tergenang air setinggi lutut bebek. “Lae, nanti yang bolongnya dilapis ban dalam bekas yah, ” kataku padanya.

Saat dia menambal ban, saya berpikir sampai tidak motor ini ke rumah. Minimal ke ATM dulu dan setelahnya sekalian ke bengkel beli ban luar. Si Lae menunggu tambalan matang menonton tv siaran langsung Inter Milan lawan Liga Selection. Saya berdiri menatap rinai hujan dan merenungi nasib. Merenungi kenapa Si Lae ini masih tak percaya sama saya. Hihihi tampang jenggot tak bisa jadi garansi.

Anehnya dingin-dingin begitu saya beli teh botol dingin. Haus. Walau ada air putih di tas. Sepuluh menit kemudian selesai penambalan.

“Berapa Lae?”

” 8000,” katanya.

Saya tak bisa pulang langsung karena hujan masih deras. Tulalit tulalit weeeks hp samsulku mati kehabisan daya. Lengkap sudah. Tersandera. Unconnecting people. Setengah jam lamanya saya menunggu hujan reda. Ternyata tak betah juga. Langsung saya ambil keputusan untuk menerobos rerimbunan hujan ini. Yang penting selamatkan dulu barang-barang elektronik di bawah jok. Saya tak bawa jas hujan. Tak pernah menyiapkan soalnya. Karena jarak rumah dengan stasiun dua kilo saja.

Setelah tas ransel kugendong dipunggung. Grung…pelan-pelan saya mengendarai motor. Duduknya juga tak bisa di tengah jok. Di ujung jok saja agar bebannya tak sampai ke ban belakang.

Tak pakai jas hujan. Tak pakai jaket. Tak pakai helm (jangan ditiru). Tak pakai topi. Pelan-pelan lagi. Telak banget hujan leluasa menyetubuhi saya. Maksud saya, hujan telak menguyupiku. Setelah 600 meter lewat saya mampir ke ATM. Berrrr… alat pendingin ATM bertiup menambah dingin yang saya rasakan. Ambil hepeng. “Lae, nih aku adong hepeng,” batinku.

Saya segera naik motor lagi dan menemukan bengkel. Ya sudah saya sekalian mampir. Yang terpenting menemukan ban luar dengan merek dan kualitas apapun. Harga ban denganmerek random yang tak jelas itu Rp150 ribu. Bisa kurang goceng kalau pasang sendiri. Ngok, memangnya saya punya alatnya apa? Jadi tetap tuh itu barang saya beli.

Lebih dari 15 menit Si Mas itu memasang ban. Tapi kayaknya 20 menit lebih deh. Di tengah pemasangan ban itu hujan mereda. Ehh pas selesai, baru menempelkan
tangan di stang motor, hujan kembali datang. Tapi tak apa, aku tetap harus menerobos hujan. Yang penting saya segera bisa sampai rumah.

Sekarang, dengan ban berperforma maksimal, saya bisa geber kecepatan. Herannya setiap saya tambah kecepatan, hujan pun semakin deras. Saya pun berkejaran dengan hujan. Semuanya basah. Sepatu basah. Baju basah. Kepala basah. Tas basah. Kuyup semua.

Sayang enggak ada rombongan penari di belakang saya. Dua puluh orangan begitu. Dan saya juga tak bawa tambur besar. Kalau ada kan saya bisa nyanyi India. Dung dung tak tak dung dung tak tak. Tum …namaste. Nyanyi apa yaaaah? Kasih tau enggak yaaa….? Pokoknya suasana mendukung banget buat setting film India. Tiang listrik dan pohon banyak.

Sedang membayangkan itu, motor sudah sampai di rumah. Tiiin…tiiin…klakson motor berbunyi. Pintu rumah dibuka. Langsung saya memasukkan motor ke dalam rumah. Apa yang terjadi setelah ini kawan? Kinan datang menyambutku. “Ujan-ujan ya Bi?” tanyanya. Ini dia foto Kinan di suatu hari:

Langsung lenyap capek saat melihatnya. Bahagia. Walau tampang saya tampang tak bisa dipercaya tapi wajah saya tetap disambut dengan gembira olehnya.

Jam setengah sembilan lebih saya sampai rumah. Ini berarti 3,5 jam dari kantor. Dan selesailah sudah timeline twitter yang saya buatkan narasinya ini. Cuma mau cerita saja.

Khattam.

 

Riza Almanfaluthi

dedauan di ranting cemara

ngetwit tanggal 25 Mei 2012

08.14 pagi.

 

Tags: citayam, lae, batak, kinan, shah rukh khan

MIMPI ORANG PAJAK


MIMPI ORANG PAJAK

 

Lebih dari empat setengah bulan sudah kami meninggalkan Makkah dan Madinah. Dua kota yang kalau disebut sama teman-teman yang mau pergi haji atau umroh selalu membuat mata saya berkaca-kaca dan hati merindu tidak kepalang. Hanya ratusan foto yang tersimpan dalam komputer menjadi pelipur lara. Atau dengan sesekali menyaksikan tayangan langsung di
http://live.gph.gov.sa/index.htm#.TvYOvVJIZ0t

*Foto sholat dzuhur 21 April 2012

Subhanallah pas saya copy paste alamat situs ini, di masjidil haram sedang adzan dzuhur. Allah…Allah…Allah… Sudut-sudut masjidil haram seperti lekat di depan mata. Ingin sekali untuk kembali ke sana. Saya jadi ingat sebuah tema diskusi dalam sebuah forum, judulnya: ini mimpiku dan mana mimpimu?

Maka hari ini kalau boleh saya bermimpi, kiranya saya bisa setiap saat pergi ke sana dengan mudah. Seperti teman-teman kantor kalau mau pulang kampung naik kereta atau pesawat di setiap bulannya. Jadi kalau iman lagi turun, segera rihlah naik pesawat jet pribadi, pergi hari jum’at sepulang dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta. Kemudian pakai kain ihram di pesawat dan berniat umrah saat tiba di miqat.

Tiba di Jeddah Sabtu pagi. Lalu naik Mercedes yang sudah siap menuju Makkah. Tiba di hotel terdekat dengan Masjidil Haram lalu istirahat sebentar. Setelah itu segera berangkat ke masjid untuk memulai thawaf. Putar-putar tujuh kali. Lalu berdo’a yang banyak di Multazam. Sholat sunnah dua rakaat dan minum air zam-zam. Sesudah itu pergi sa’i dari shofa menuju marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Selesai sudah rangkaian umrah.

*Lorong masjidil haram 18 November 2011

Shalat maghrib, isya, dan shubuh menjadi kesempatan terbaik mendengarkan recite atau bacaan surat imam yang merdu itu. Kyai Haji Abdurrahman Assudais atau Maher bisa jadi yang memimpin sholat itu. Tak bisa bohong kalau saya lebih menyukai bacaan Maher Almu’aqli.

Awalnya saya tak tahu bacaan indah milik siapa ini. Di masjid depan penginapan di Makkah saya pernah dengar bacaan itu. Menyentuh sekali. Tetapi cuma sekali mendengarnya. Lalu waktu sepulang dari sholat dzuhur di Masjid Nabawi terdengar keras banget bacaan yang sama dari toko yang jual buku, kaset, dan cd. Saya datangi toko itu dan menanyakan kepada penjaga toko yang orang Bangla siapa pemilik bacaan ini. Barulah saya tahu kalau ia adalah Maher Almu’aqli, seorang Imam Masjidil Haram dan Nabawi.

Klik saja kalau mau mendengarkan bacaan alfatihahnya di sini. Atau kalau mau lengkap 30 juz unduh saja di sini. Yang pernah ke dua tempat suci itu pasti merindukan bacaan surat para imam itu.

Mari kita lanjutkan mimpinya. Sepertiga malam terakhir diisi dengan qiyamullail dan menyempatkan diri untuk mencium hajar aswad serta sholat dua rakaat di Hijr Ismail. Lalu setelah shubuh, baca alma’tsurat, sholat syuruq, dan dhuha. Sarapan di hotel dan jalan-jalan di menara jam yang tinggi itu. Jam sebelas siap-siap packing karena ba’da dhuhur kembali menuju Jeddah.

Adzan dzuhur berkumandang, segera pergi ke masjid, berdoa yang banyak minta ampunan Allah dan keselamatan umat Islam dari fitnah dunia. Sempatkan diri thawaf setelah shalat dhuhur. Dan jam setengah dua siang sudah tiba di hotel lagi, makan siang lalu cabut.

Sampai di Jeddah sekitar jam setengah empat sore. Naik pesawat jet lagi dan menyusuri 9 jam perjalanan menuju Jakarta dengan istirahat. Tiba di Soekarno Hatta senin dini hari. Paginya sudah ngantor
ngadepin Pemohon Banding dan Penggugat lagi di meja hijau Pengadilan Pajak. Selesai sudah.

Terbangun dari mimpi lalu sadar kalau diri ini hanya orang pajak. Tapi memangnya tak boleh orang pajak punya mimpi-mimpi? Mengutip perkataan teman dari Hasan Al Banna: “Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Insya Allah bisa. Jangan takut untuk bermimpi. Allah mahakaya, sudah pernahkah kita minta apa saja kepadaNya?

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ayo bermimpilah

20:22 21 April 2012

    

Tags: Maher almu’aqli, makkah, madinah, pengadilan pajak, hasan al banna, hajar aswad, hijr ismail, zam zam, Jeddah, Sudais, Abdurrahman Assudais, bandara soekarno hatta, nabawi, masjidil haram

 

Lengang


image

Pagi ini Allah mudahkan urusan saya. Semoga sampai selesai hari ini dan selamanya. Amin. Berharap banget.

Tiba di stasiun Citayam awalnya berharap commuter line (comlen) jurusan Tanah Abang. Ternyata comlen jurusan Jakarta Kota belum tiba. Ya sudah naiklah saya ke comlen Kota itu.

Syukurnya pula, comlen ini tak biasanya, kosong. Tumben. Tapi selalu sih comlen Jurusan Kota ini lebih kosong daripada comlen yang menuju Tanah Abang. Mungkin karena comlen Kota jadwalnya lebih pagi.

Syukurnya pula saat berdiri di depan bangku khusus ada yang turun di Stasiun Depok Lama. Kesempatan langka dapat tempat duduk. Alhamdulillah. Walau harus bersiap-siap bangkit kalau ada yang lebih berhak untuk duduk di tempat itu.

Ada wanita muda masuk di Stasiun Depok Baru. Saya tak kasih duduk kepadanya. Terlihat tidak hamil. “Nanti ya Mbak, gantian,” saya berkata dalam hati. Saya juga orangnya tidak tegaan. Jiiiaaah.

Saat comlen mau masuk Stasiun Pasar Minggu saya bangkit. Sudah cukup untuk rehat kaki saya. “Sok atuh calik. Mangga.”

Bersyukurnya lagi adalah saya bisa ketik semua kejadian pagi ini, di KRL lengang ini. Tumben saya bisa menulis di KRL.

Sekarang comlen mau tiba di Stasiun Manggarai saatnya bersiap turun untuk transit dan naik KRL Ekonomi menuju Stasiun Sudirman. Keretanya persis di belakang comlen Kota ini.

Itu saja. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada semua roker (rombongan kereta) mulai pagi sampai KRL yang terakhir pergi dari Stasiun Jakarta Kota nanti malam.

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di pojok comlen dan pinggir peron 5 stasiun manggarai
06.24 20 April 2012

Foto diambil pada pagi pukul 05.44 WIB 20 April 2012.

Iced Tea This Morning


image

Waiting for someone like you @ tax court


image