Hadiah Besar Pagi Ini


image

Senin pagi ini (7/1) baru saja mau duduk di kursi kerja tampak satu tas berisi banyak barang di atas meja. Alhamdulillah, isinya ada mug, jam beker, tempat post it, sertifikat, dan yang utama adalah sebuah buku yang berjudul: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak.

Terima kasih saya ucapkan kepada Direktorat Kitsda yang telah memberi semuanya ini pada saya. Apa gerangan hubungan mereka, hadiah ini, dan saya? Saya cuma diminta untuk bantu menyunting naskah-naskah terpilih tentang kisah-kisah para jurusita ataupun pegawai yang terkait dengan penagihan pajak. Cerita dari para pegawai pajak di barat sampai timur Indonesia. Sekali lagi terima kasih banyak.

Senin yang saya rasa sudah suka di awal jadi tambah suka lagi. 🙂

***

Riza Almanfaluthi

07 Januari 2013

*Langsung di tulis di hp.

Di Suatu Malam-malam


image

Kika: Yahya Ayyasy, RDA, Maulvi

MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS


MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS

Haji Salim—sebutlah namanya demikian—tak pernah menyangka alih fungsi kebun miliknya berdampak besar buat para penghuni komplek perumahan lama. Tanah berukuran 1500 meter persegi itu kini telah menjadi komplek perumahan baru yang tidak seberapa besar. Letaknya berada di dataran paling tinggi. Di atas perumahan lama yang sejak tahun 2000 saya tempati, di wilayah Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Sebelum perumahan baru berdiri, kebun itu menjadi tempat menanam buah-buahan. Ratusan batang pohon pepaya hidup dan dirawat oleh Haji Salim. Kebun itu seperti menjadi oase yang menawarkan keteduhan bagi sekitarnya. Adem, apalagi saat hujan. Petrichor, bau tanah dan tumbuhan tersiram gerimis pertama, begitu harum menyengat hidung.

Dulu, itu lahan yang tak pernah bisa dibeli oleh pengembang perumahan lama. Belasan tahun kemudian, Haji Salim tak bisa memungkiri lezatnya harga tinggi yang disodorkan kepadanya. Kebun itu kini telah menjadi kenangan. Hilang. Bersama harta karun terpendam di dalamnya yang tak pernah disadari oleh Haji Salim.

Kekeringan

Sudah dua belas tahun lamanya saya tinggal di rumah ini. Dan baru pada pertengahan tahun 2012 saya merasakan kemarau yang berdampak langsung pada keluarga saya. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan akan air, saya menyedotnya dari sumur pantek berdiameter dua
inci dan berkedalaman enam meter.

Sampai saat itu kami tak pernah merasa kekeringan. Pada saat sumur tetangga sudah mulai kering, sumur kami tidak. Dan para tetangga pun terkadang meminta air kepada kami. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.

Dua minggu lamanya saya sabar dengan mesin air yang menyala selama lebih dari lima belas jam seharinya menunggu tetes demi tetes air yang akan memenuhi tandon. Sampai pada suatu titik ketika berjam-jam saya menunggu tidak ada sama sekali air yang keluar dan mesin sudah berteriak nyaring kelelahan, akhirnya saya menyerah.

Saya panggil tukang gali sumur, meminta kepadanya untuk dibuatkan sumur baru. Kali ini dengan kedalaman sepuluh meter dan dengan luas penampang sumur seluas satu meter persegi. Syukurnya penggalian cukup dilakukan hanya pada satu titik lokasi. Tidak ada batu besar yang menghalangi dalam pencarian air ini.

Pada akhirnya, setelah tiga hari menggali, tukang gali sumur merasa cukup untuk menghentikan penggalian ketika air sudah sebatas pinggangnya. Nanti pada waktu musim penghujan ketersediaan air akan melebihi tinggi daripada saat sekarang. Saya lega walau banyak biaya yang keluar untuk mengerjakan semua ini. Tak mengapa, karena atas segala sesuatunya ada harga yang harus dibayar.

Sampah

Kita tahu bersama bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita tak bisa berbuat apa-apa jika tanpa air bersih dalam keseharian kita. Untuk minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Air menjadi kebutuhan hidup paling hakiki agar selalu tersedia setiap saat.

Bahkan jika pasokannya terhenti entah karena air dari PDAM yang berhenti mengalir, mesin air yang rusak, atau karena sumur yang kering, kita berusaha menyediakannya sedapat mungkin. Kita berkorban tenaga, uang, dan waktu untuk mendapatkannya. Para pekerja kantoran seperti saya akan rela cuti kerja untuk memastikan ketersediaannya.

Setelah kejadian itu, saya menyadari ada yang menyebabkannya. Satu sebab adalah tak ada lagi kebun Haji Salim yang selama ini menjadi resapan air. Tak ada lagi cadangan air pada pori-pori tanah di saat kemarau. Dan efeknya luar biasa sekali. Tak hanya saya yang membuat sumur baru, bahkan tetangga-tetangga saya yang lainnya juga turut menambah kedalaman sumurnya lagi. Kami kekurangan air.

Ketika kita menyadari pentingnya air sebagai sumber kehidupan itu maka barulah kita mengerti ada kerja-kerja yang harus dilakukan untuk menjaga ketersediaannya. Apalagi ditengarai bahwa dunia pada saat ini mengalami krisis air bersih sebagai konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan penduduk dunia. Masih 800 juta lebih penduduk dunia yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.

Tak perlu jauh-jauh, Kali Pesanggrahan yang berada persis beberapa meter di depan rumah saya adalah cerminan betapa sungai sebagai salah satu sumber ketersediaan air sudah mengalami pengurangan dalam daya dukungnya. Ini akibat menurunnya partisipasi masyarakat dalam menjaga sungai agar tidak tercemari. Kebiasaan membuang sampah di sungai masih sering dilakukan.


Sisi Kali Pesanggrahan depan rumah, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.

Ada dua hal penyebabnya. Pertama, kurangnya kesadaran masyarakat itu sendiri betapa sungai merupakan elemen penting dalam mendukung ketersediaan air. Ini direfleksikan dengan laku seenaknya sendiri membuang sampah di sana atau enggan membayar iuran sampah yang telah ditetapkan. Padahal nilai iurannya lebih rendah daripada harga sebungkus rokok, hanya Rp8.000,00 per bulan dengan jadwal pengambilan sampah dua kali seminggu.

Kedua, pemerintah tidak menyediakan tempat pembuangan sampah ataupun tempat pembuangan akhir yang layak, serta tidak menyasar program pengangkutan sampah itu pada masyarakat di luar komplek perumahan. Yang terjadi adalah pinggir kali menjadi tempat penimbunan sampah.

Padahal ketika sampah itu telah mencemari sungai maka yang terjadi adalah kualitas air yang jelas menurun. Air dengan kualitas buruk seperti itu menjadi salah satu penyebab dari menurunnya kualitas kehidupan, bangkitnya epidemi penyakit, dan sudah barang tentu tidak layak untuk menjadi sumber bagi lahan komoditas pertanian.

Kerja-kerja Kecil

Undang-undang telah mengamanahkan kepada pemerintah untuk menyediakan air yang memenuhi kualitas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat. Tetapi dengan keterbatasan pemerintah—anggaran minim dan ketiadaan aksi—yang ada maka masyarakat tidak bisa bersikap pasif. Dan pada faktanya masyarakat memang bersikap mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

Ditambah dengan minimnya pemahaman serta partisipasi sebagian masyarakat dalam memahami pentingnya menjaga ketersediaan air yang memenuhi standar mutu maka mau tidak mau sikap pasif menjadi seteru yang wajib dihilangkan. Maka disinilah kesadaran akan adanya kerja-kerja kecil, aktif, nyata, dan dimulai dari diri sendiri diperlukan bagi setiap individu. Apa yang bisa saya lakukan?

Bagi saya, memastikan keran air di rumah ataupun di masjid telah tertutup dengan rapat dan tidak rusak; menempelkan stiker peringatan hemat air atau tutup keran air dengan rapat juga adalah kerja itu. Ini adalah langkah kecil memastikan tidak ada air yang tersia-sia.


Ilustrasi Keran Bocor

Menanam pohon di lahan tersisa depan rumah dan di bantaran kali; membuang sampah pada tempatnya; membayar iuran sampah tepat waktu; menyiram tanaman dengan air cucian beras adalah kerja itu juga.

Tapi ada kerja lain berkaitan dengan masyarakat Pabuaran yang terkenal dengan semangat religiositasnya itu. Penyadaran akan pentingnya menjaga kualitas air ini dilakukan dengan menyentuh sisi-sisi religiositas mereka dalam kerangka menebar kebaikan melalui media dakwah secara lisan dan contoh. Ini yang dilakukan melalui pengajian yang saya asuh di setiap pekannya.

Ya, salah satu materi yang disampaikan adalah menjaga kualitas ibadah shalat. Ibadah shalat yang benar adalah ibadah yang memenuhi syarat sahnya shalat yaitu suci badan, pakaian, dan tempat. Ini terpenuhi ketika air yang digunakan untuk wudhu, mandi, dan membersihkan pakaian dan tempat itu bersih dan suci. Serta merta keduanya ini memenuhi kualitas air yang baik. Mau tidak mau agar shalatnya diterima maka air harus dipastikan suci dari najis. Dengan demikian masyarakat dituntut untuk menjaga kualitas air sedemikian rupa, setiap saat.

Diharapkan dengan ini tumbuh pemahaman bahwa ketika mereka membuang sampah di sungai, ini berarti setara dengan upaya tidak menjaga shalatnya dengan benar. Setara pula dengan laku berbuat kerusakan. Dan kitab suci telah melarang hamba Allah untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Butuh waktu lama, tetapi sungguh tak ada yang sia-sia. Yang penting bergerak dan bekerja. Masalah hasil diserahkan saja kepada Allah. Bagi saya itu sudah cukup. Pun bagi saya, menjaga kualitas air adalah menjaga kualitas religiositas. Menjaga nilai-nilai kehidupan abadi di atas tanah tempat berpijak manusia. Itu harta karun yang paling berharga.

***

Riza Almanfaluthi

06 Januari 2013

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Jurnalistik 2012 dengan kategori Karya Blogger.

    

Raba Punggungmu


image

Atau ubun-ubunmu….

Masuk Radar


image

Alarm menyala. Ada yang rela untuk dimakan di bulan depan.

Kinan Bakar Jagung


image

Napoleon Setelah Waterloo


image

Ditunjukin sama Kinan ada abi di majalah. Itu mah majalah lawas setahun lalu.

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

Ada Sarma


image

Sarapan bersama di ruangan pagi ini.

Kenapa yang Pertama Iwojima?


image

Sebelumnya sudah kebayang nanti kalau sudah sampai di toko buku itu saya bisa sepuasnya beli setiap buku. Tapi pada kenyataannya tetap saja yang saya beli adalah buku-buku yang benar-benar akan saya habiskan untuk satu bulan ini.

Kemarin Ayyash sudah saya bebaskan untuk beli apa saja. Eh dia cuma beli komik Naruto edisi terakhir. Dan beli mainan congklak atawa dakon atawa mancala yang dikombinasi dengan permainan kayak scrabble. Harganya diskon 50%. Kinan bagaimana?

Kinan sudah uring-uringan tak mau ke toko buku itu. Enggak ding. Awalnya mau eh pas lewat suatu mal berubah haluan dah niatnya untuk ke toko buku. Pengennya ke tempat bermain yang ada di mal itu. Tapi seberapa banyaknya tetesan airmatanya yang saya usap dari pipinya tetap tak menggoyangkan niat saya. 🙂 Maaf ya Nak…pan sudah pekan lalu kita mampir ke sana.

Setelah ngambeknya mereda seperti biasa dia jelajahi ruangan toko buku dan mengambil buku mewarnai dan buku latihan menempelkan stiker. Bahkan dia ambil tiga buku, lebih banyak daripada yang diambil kakaknya.

Beberapa buku terjemah juz 30 diambil Ummu Haqi, istri saya yang bernama Ria Dewi Ambarwati ini. Cuma itu bae. Tak ada yang lain. My beloved rose ini sudah sibuk jaga Kinan yang kemana-mana jadi tak sempat lihat-lihat buku secara mendalam.

Sekarang apa yang saya beli? Sudah saya twitkan kemarin kalau saya menemukan bukunya Malcolm Gladwell di toko buku itu. Saya tahu Malcolm Gladwell semasa saya menerima hadiah dari Direktorat Jenderal Pajak saat memenangkan juara pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2012. Dari beberapa hadiah yang saya terima itu ada buku judulnya Outliers. Ditulis oleh Gladwell itu. Langsung dah kepincut sama dia. Tak perlu berpikir dua kali untuk ambil What the Dog Saw. Eeh…pas mau bayar ketemu lagi sama bukunya yang lain: Blink. Saya Ambil juga.

Gladwell itu memberikan yang baru dalam memandang sesuatu. Cara dia bagaimana mendefinisikan sukses di Outliers itu bagus banget. Kisah-kisah nyata yang ditulis di sana dibuat dalam gaya jurnalistik investigatif. Sangat Menarik. Intinya: darinya saya mendapatkan banyak ilmu dan kisah baru. Begitu yah kalau orang sudah punya kualitas menulis yang bagus maka untuk buku selanjutnya bisa jadi jaminan mutu sampai saya borong semua bukunya.

Hal sama saat saya beli buku tentang Karmaka Surjaudaja, pendiri OCBC NISP yang berjudul Tidak Ada yang Tidak Bisa. Kalau buku itu tidak ditulis oleh Dahlan Iskan saya tak akan mungkin membelinya. Saya suka buku yang ditulis Dahlan Iskan karena cara berceritanya bagi saya yang kayak “ngedongengin”. Bikin semangat. Bikin tumbuh banyak harapan.

Dua buku lain adalah tentang Perang Dunia II. Pertempuran di salah satu “hotspot”nya: Samudra Pasifik. Saat prajurit Amerika merebut Guadalcanal dan Iwojima dari tangan serdadu Jepang penguasa pulau pada waktu itu. Saya sudah punya film dokumenter perebutan Iwojima itu. Nah saya ingin melengkapi kajian pertempuran tersadis yang pernah ada ini dari bukunya.

Buku terakhir adalah buku seputar rahasia dan skandal yang pernah terjadi di Vatikan yang dilakukan para pausnya. Sejak awal berdirinya Vatikan sampai sekarang. Harganya didiskon hingga cuma Rp27 ribu kurang sedikit.

Nah itu beberapa buku yang saya beli di bulan ini. Dan saya yakin buku-buku itu adalah buku-buku yang bisa saya baca sampai khattam. Serta manfaat buat saya. Buat apa? Yakni untuk memenuhi dahaga intelektualitas (jiaaa…) saya, menghilangkan lapar kepenasaran saya tentang sejarah dunia, dan menyerap ilmu cara menulis yang baik.

Dan ngomong-ngomong tahu tidak, dari semua buku itu buku apa yang pertama kali saya baca? Tepat sekali… Iwojima 1945. Jangan tanya kenapanya. Karena tidak semua harus ditanyakan dengan kata “why”.

Sekian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara.

Ummulqura, Bogor.

Ditulis pada smartphone pada program thinkfree.

11.20 16 Desember 2012