The Final Destination


The Final Destination

Empat bulan sudah surat elektronik itu terkirim kepada seseorang. Itu sebelas hari sebelum kami berangkat meninggalkan Indonesia untuk menapaktilasi jejak-jejak ayahanda para nabi, Ibrahim AS. Sekadar penyesalan dan permintaan maaf atas sebuah tingkah laku. Agar tanpa beban kepergian kami itu dan musnahlah semua yang menjadi mimpi buruk saya selama bertahun-tahun ini. Tapi yang ada adalah senyap dari jawab. Tak ada balas. Persis akhir baratayudha di Kurusetra.

Di sana, di sebuah tempat yang tiada hijab antara diri, doa, dan Sang Penerima Harap, dengan membayangkan wajahnya saya tak henti-henti meminta agar ia di suatu saat dapat mengikhlaskan dan memaafkan atas segala salah. Dan…doa itu tergantung di langit. Enggan untuk turun ke bumi menuju the final destination. Atau sedang menunggu saat yang tepat? Persis Pasopati yang siap lepas dari busur Arjuna menuju tubuh Adipati Karna.

Empat bulan sudah berlalu, kemarin, balasan surat itu muncul. Sebuah kesyukuran yang tiada terkira, ia sudi memaafkan saya. Sebenarnya sudah dari dulu katanya, tapi tak pernah terucap dan tersampaikan. Atau saya yang sudah lupa? Persis Amangkurat I yang lupa sejarah kalau bapaknya—Sultan Agung—adalah musuh sejati VOC, sedangkan ia adalah karib dari kumpeni.

Memaafkan jelas dan yakin tak bisa direkayasa secara artifisial dengan sekadar kata-kata. Ia membutuhkan energi besar untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan yang pernah terjadi. Dan Muhammad Sang Teladan adalah contoh mutlak dari sebuah sosok yang gemar untuk menaburkan ribuan butir-butir maaf kepada semua yang telah memberikan rasa sakit berpuncak dan derita berlipat-lipat kepada dirinya di suatu ketika, di masa lalu. Tanyakan kepada sejarah atas kesaksian Abu Sufyan dan Wahsyi.

Memaafkan adalah Shalahuddin yang membiarkan ribuan Kristen pergi dari benteng Yerusalem dengan tenang. Sedangkan 88 tahun sebelumnya, di kota tua itu, darah Muslim dan Yahudi bahkan Kristen menjadi banjir, amis, dan anyir. Dibuang percuma oleh kebiadaban yang dibawa dari Eropa.

clip_image001

Memaafkan adalah upaya keras membuang ke dasar laut motivasi dendam berkepanjangan. Asal ia keluar dari hati yang putih. Dan itu bukan laku sia-sia. Ia mendamaikan dan menyatukan dua pribadi atau bahkan dua bangsa. Kalau saja memaafkan menjadi pakaian kebesaran buat Kurawa bahkan buat Pandawa sekalipun, walau hanya topeng, maka perang besar itu tidak akan pernah terjadi.

Sungguh layaklah seorang sahabat Nabi saw mendapat sebuah predikat yang membuat sahabat yang lain menjadi bukan apa-apa dan siapa-siapa: Ahli Surga. Tiga hari penyelidikan seorang sahabat yang lain menegaskan sahabat berpredikat itu tak mempunyai amalan utama sedikitpun. Kerja akhirat yang ia lakukan adalah biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Tetapi ada satu yang menjadi pembeda. Dan pembeda itulah yang menentukan: ia memaafkan semua orang di saat malam telah larut, saat kantuk akan mendapatkan tempatnya.

Kemarin itu, seseorang telah menjadi Shalahuddin abad ini—bagi saya tentunya. Ia membiarkan kerak-kerak pekat pelan-pelan keluar tenang dari kota suci hati dan pikiran saya. Untuk jangan kembali. Agar bersih dengan tatanan dan era baru. Kibar panji terima kasih telah berdiri tegak di atas sudut-sudut benteng. Hilang sudah langit hitam. Akan selalu ada ketenangan setelah badai.

Terima kasih kepadanya. Semoga Allah membalas dengan surga. Setelahnya, kapan saya akan menjadi Shalahuddin? Atau kapan pula Anda semua menjadi Shalahuddin buat saya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

sepi menjadi pecundang

11.54 16 Februari 2012

Gambar diambil dari sini.

TAS HAJI


TAS HAJI

    Sekarang saatnya untuk sedikit membahas tas haji, di mana mengambilnya, tips menandai tas, dan saat mengembalikan tas kopor besar. Untuk mengambil tas yang menjadi hak dari para calon jamaah haji (calhaj) maka syarat yang dibawa adalah kuitansi infak dan pembelian batik yang sudah pernah saya bahas di sini.

Sebagai cadangan—takut ditanya-tanya oleh petugas di sana—bawa saja SPPH (surat Pendaftaran Pergi haji) dan BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Senyatanya dua dokumen ini tidak ditanya, cukup kuitansi itu saja.

Ingat mengambil tasnya adalah pada hari dan jam kerja yang telah ditentukan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor. Tepatnya setelah manasik haji yang terakhir.

    Setiap calhaj diberi tiga tas. Satu tas kopor besar, satu tas tenteng, dan satu tas kecil yang biasa dikalungkan di leher—biasanya buat dokumen paspor dan buku kesehatan. Tas yang didapat kami berasal dari Saudi Arabian Airlines dan juga berlogo Bank Mandiri. Saya tak tahu kaitannya apa Bank Mandiri dengan maskapai penerbangan itu dan perjalanan ibadah haji ini. Pun, karena kami tak pernah merasa menabung di bank ribawi itu. Kami hanya menabung di bank syariah, Bank Muamalat Indonesia.

    Tas kopor besar diisi segala kebutuhan kita di tanah suci dengan berat maksimal antara 32 kg sampai dengan 35 kg. Saya tak tahu tepatnya, karena dari selebaran kertas yang ada di dalam tas itu ditulis untuk tas kopor berat maksimalnya adalah 35 kg, tetapi di plastik penanda yang berada di pegangan kopor berat maksimal yang diperbolehkan adalah 32 kg. Sepertinya berat pastinya adalah 32 kg karena dalam surat pernyataan yang diberi oleh petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor di sana tertulis berat maksimal adalah 32 kg.

    Setelah diisi, tas kopor itu diberi tanda apa saja yang mencolok. Terserah. Ada yang diberi pita, rangkaian tali, sapu tangan, dan lain-lain. Kalau saya di cat Pylox Scotch Light warna oranye atau jingga. Apanya yang dicat? Tetangga saya dulu mengecat 1/3 bagian atasnya, tapi saya tidak. Cukup dengan memberi sedikit tanda bulat dan cat strip di pinggirannya. Lihat saja gambar ini.

    Lalu setelah itu bagaimana? Jangan lupa mengambil dan mengisi Surat Pernyataan Barang Bawaan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor. Formulirnya sudah tersedia dan bisa diambil pada saat pengambilan tas itu atau beberapa hari sebelum pemberangkatan atau pengembalian kopor.

    Formulir itu rangkap tiga berkarbon. Lembar pertama warna putih untuk Kanwil Kementerian Agama, lembar kedua warna merah untuk PPIH Embarkasi, dan lembar ketiga warna hijau untuk jamaah haji. Siapkan meterai satu lembar untuk ditempel di lembar kedua warna merah. Serahkan lembar pertama dan lembar kedua pada petugas PPIH pada saat penyerahan kopor yang biasanya satu hari—ingat satu hari—sebelum pemberangkatan. Pengumpulan tas dilakukan di Masjid Baitul Faizin, Pemda Cibinong.

    Ya betul, jadi pastikan bahwa isi di dalam tas kopor besar adalah semua kebutuhan haji yang tidak kita butuhkan pada saat perjalanan berangkat. Yang dibutuhkan selama perjalanan ke embarkasi dan di dalam pesawat harusnya ada di tas tentengan yang dibatasi beratnya, kalau tidak salah 7 kg. Kita sudah berpisah dengan tas kopor kita satu hari sebelum pemberangkatan dan ketemu lagi di Bandara King Abdul Aziz Jeddah bahkan benar-benar bisa di buka dengan bebas adalah pada saat kita di maktab.

    Semoga informasi ini bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

    23.15 – 17 Oktober 2011

    Tags: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor, bank muamalat indonesia, saudi arabian airlines, tas haji, kopor haji, haji, haji 2011, bandara king abdul aziz jeddah, bandara king abdul aziz, kantor kementerian agama, jeddah.

    

3 HARI


3 HARI

    Tiga hari diberi tugas untuk menjadi anggota tim penyunting Buku Berbagi Kisah (Berkah) 2 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di sebuah hotel di bilangan Tanah Abang membuat saya semakin tahu kalau di DJP itu banyak penulis yang berbakat. Buktinya ada salah satu dari mereka yang tiga tulisannya lolos dari empat lebih kriteria penilaian yang telah disepakati oleh tim penilai dan editor. Termasuk kredibilitas kesehariannya di kantor. Luar biasa.

    Penilaian ketat itu membuat banyak juga tulisan yang memperoleh nilai tinggi di seleksi pertama namun gagal di seleksi berikutnya. Seperti karena temanya yang tidak unik atau hampir sama dengan tulisan lain yang berada dalam satu kelompok besar tema. Atau gagal dalam seleksi terakhir seperti penilaian keseharian di kantornya. Tulisannya memang bagus tetapi di kantor kerjanya enggak beres atau sering bolos, mohon dimaafkan kalau tulisannya memang tidak akan pernah bisa lolos.

    “Tidak adakah ruang untuk konfirmasi, klarifikasi, dan pertobatan di sini?” tanya saya pada forum. Jelas ada untuk dua yang pertama tetapi yang ketiga sepertinya tak memungkinkan dikarenakan buku ini diharapkan sebagai cerminan nyata dari para penulis. Jadi tak sekadar bisa menulis tapi sejalankah antara omongan atau tulisan dengan perbuatan atau integritasnya.

    Di tiga hari itu saya jadi tahu juga kalau tak banyak dari para penulis itu yang menulis bersih tanpa turun tangan dari para editor. Hatta masalah penggunaan kutipan buat kalimat langsung banyak yang tidak tahu. Di sinilah pentingnya tim penyunting untuk membereskan masalah itu. Tak sekadar itu jika memang diperlukan tim penyunting bisa memangkas tulisan hingga separuhnya.

    Pun, di tiga hari itu saya menemukan sebuah tulisan bagus. Tim juri juga memberikan nilai yang tinggi. Dan semua sepakat bahwa tulisan itu memang layak masuk. Karena keindahan bahasanya, alurnya, dan gaya penceritaannya. Tetapi ketahuan juga kalau itu cuma fiksi. Duh, sayangnya.

    Di tiga hari itu bahkan saya menemukan sebuah tulisan yang lebih bagus lagi. Dan ini bisa menutupi kekecewaan sebagian dari kami karena cerita yang cuma fiksi itu. Tulisan bagus yang biasa saya temukan di kolom oh mama oh papa dari majalah Kartini. Saya sampai merinding saat membaca dan mengeditnya—kebetulan saya yang ditugaskan untuk menyuntingnya.

Dan saya semakin tahu bahwa sebuah tulisan yang dibuat oleh seseorang yang mengalami langsung dari peristiwa pokok yang diungkap dalam tulisannya itu jelas lebih indah dan lebih bagus daripada tulisan yang dibuat dari orang yang hanya sekadar membayangkan saja. Padahal ia bukanlah seseorang yang menjadikan menulis sebagai kesenangannya. Salut buatnya. Tabik.

Di tiga hari itu yang terpenting lagi saya mendapatkan banyak hal lain. Seperti semangat menulis yang ditularkan dari Asma Nadia, bagaimana cara mengedit dari Mbak Nanik Susanti, dan cerita tentang integritas luar biasa dari pegawai pajak yang sudah 30 tahun mengabdi dan tidak mau disebut namanya itu.

Terakhir, dari sekian banyak kalimat kuat yang disampaikan Asma Nadia ada yang menggugah saya: “Jangan sampai ketidaksempurnaan tulisan itu menjadikan Anda berhenti untuk menulis.” Maka, ini sebuah nasehat buat saya dan mereka yang ingin menulis yaitu jangan pernah sekali pun untuk berhenti menulis sampai akhir nafas kita.

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ada saya atau tidak ada saya, jangan pernah berhenti untuk menulis

00.14 – 16 Oktober 2011

    Gambar diambil dari sini.

JANGAN SEBATAS NIAT


JANGAN SEBATAS NIAT

Hari-hari ini saya sering ditanya oleh teman-teman dengan pertanyaan seperti ini: “Kapan berangkat? Daftarnya kapan? Sejak kapan nabung? Saya jawab semuanya. Namun kali ini saya ingin menjawab sedikit tentang dua pertanyaan terakhir itu. Tentunya dengan sebuah cerita.

Semua itu berawal sejak masuk kampus STAN tahun 1994. Sejak mengenal apa itu Islam yang tak sekadar sholat dan puasa saja. Semangat berislam tumbuh dengan penuh gelora. Yang pada suatu titik timbul adanya sebuah keinginan untuk bisa pergi haji. Tak cuma sebatas keinginan tapi sebuah kerinduan. Ya benar-benar rindu. Hingga kalau ada berita-berita tentang perjalanan haji di tv selalu saya tonton dengan semangat.

Bahkan hari Jumat selalu saya tunggu karena pada hari itu—di bulan-bulan menjelang dzulhijjah atau setelahnya—koran Republika, koran langganan di kosan, selalu ada lembaran khusus liputan haji. Foto-foto bangunan hitam dan masjidil haram selalu saya pandang lekat-lekat. Membuat saya tak sanggup untuk menahan air mata. Terburu-buru masuk kamar dan menguncinya, bersandar di pintu, jatuh terduduk sambil nangis habis-habisan. Saat itu saya benar-benar mohon pada Allah agar saya termasuk dari bagian orang-orang yang dipanggil untuk menjadi tamu-Nya. Tapi kapan? Duit dari mana? Pertanyaan yang saya sendiri tak tahu jawabannya.

Setelah itu, bertahun-tahun saya tetap terharu kalau ada liputan haji atau cerita dari saudara dan teman yang sudah pernah ke sana. Tetap dengan sebuah harap dan pertanyaan sama yang menggelayut setelahnya walau saya sudah kerja di kantor pajak. Ya, saya bahkan tak berani bermimpi untuk bisa punya mobil atau pergi haji.

Tapi Allah punya rencana lain. Modernisasi berefek adanya remunerasi. Tahun 2004 kantor saya mulai berubah mengikuti reformasi birokrasi yang sudah dicanangkan. Saya mulai berani bermimpi apa saja. Punya ini punya itu. Dan terpenting adalah bisa naik haji.

Akhirnya tibalah Oktober 2006. Saat itu bulan-bulan menjelang lebaran. Bukannya uang tabungan yang ada di bank diambil untuk bekal pulang kampung tapi kami tekadkan diri uang itu untuk membuka tabungan haji. Karena saya yakin betul menabung adalah realisasi yang paling riil dari sebuah niat. Jadi tak sekadar berhenti di niat saja. Dan saya yakin betul kalau sudah menabung Allah akan memudahkan realisasi cita-cita pergi haji ini. Seringkali saya bertanya kepada orang yang berniat haji dengan pertanyaan ini, “sudah buka tabungan haji?” Ini lagi-lagi untuk memastikan bahwa jangan sekadar niat.

Ada cerita pula kalau ada orang yang memulai menabung haji dengan satu uang logaman seratus rupiah dan berhasil naik haji. Dengan demikian jangan pernah meremehkan sedikitnya uang yang ditabungan karena pergi haji itu bukan sekadar ada uang atau tidak ada uang. Namun semata-mata karena Allah telah berkehendak pada orang yang dikehendaki-Nya. Begitu banyak orang kaya namun tidak tergerak hatinya untuk pergi haji. Dan betapa banyak orang yang tidak mampu secara finansial tetapi tiba-tiba berangkat karena mendapatkan rizki yang tidak disangka-sangka.

Karenanya setiap bulan kami paksakan untuk menabung. Walau terkadang juga ada bulan yang bolong tidak menabung karena uangnya digunakan untuk keperluan yang lain. Sampai suatu ketika di bulan November 2009 kami mantapkan untuk melunasi dana setoran awal pergi haji yang waktu itu masih sebesar Rp20 juta per jamaah. Setelah menyetor dan mendaftarkan diri baru ketahuan kalau kami akan diberangkatkan di tahun 2011. Alhamdulillah tak perlu lama. Waktu dua tahun yang ada digunakan menabung lagi untuk melunasi dana biaya haji.

Tak sekadar niat dan menabung, saya dawamkan doa ini setiap habis sholat: “Allaahummaj’alna hajjan mabrura.” Ya Allah jadikan kami haji yang mabrur. Karena saya mendengar dari seorang ustadz ada yang membiasakan diri berdoa dengan doa itu dan dalam setahun doanya terkabul. Sedang saya Insya Allah dalam dua tahun. Amin.

Dengan rentang waktu hidup yang saya jalani selama ini maka kalau dikronologiskan seperti ini:
Lahir- 1994 : Hanya tahu haji sebatas bagian dari Rukun Islam.
Tahun 1994 : Mulai ada keinginan yang luar biasa. Cinta dan rindu mulai timbul.
Tahun 2006 : Mulai menabung (tepatnya Oktober 2006).
Tahun 2009 : Melunasi biaya awal dan mendaftarkan diri untuk dapat nomor porsi (tepatnya November 2009).
Tahun 2011 : Dijadwalkan berangkat Oktober 2011. Insya Allah.

Saya berdoa semoga para pembaca juga dapat dipanggil Allah menuju tanah suci Makkah Almukarromah dan Madinah Almunawarah. Nikmati pengalaman spiritual terhebat di sana. Dan semoga menjadi haji yang mabrur.

**

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11.45 – 14 Oktober 2011

BLOG HAJI TEREKOMENDASI


BLOG HAJI TEREKOMENDASI

Sudah lebih dari dua orang yang saya kenal telah pergi ke tanah suci pada pekan pertama Oktober tahun ini. Sedangkan saya masih lama, Insya Allah tanggal 25 Oktober nanti. Saya cuma berharap Allah tidak memberi saya sakit lagi seperti di bulan syawal yang baru lewat, dua penyakit bertubi-tubi. Enggak ding, tepatnya maag di awal syawal dan cacar air di akhir Syawal. Amin.

Sembari menunggu hari H itu saya berusaha untuk memperdalam ilmu haji. Dengan membaca banyak literatur fikih haji dari berbagai buku atau membacanya melalui internet—swer sebelum ini saya tidak tahu apa-apa tentang ilmu haji, minim banget, dan menyedihkan. Yang menarik dari cara belajar online di internet itu adalah banyaknya pengetahuan yang tidak didapat dari buku-buku. Seperti belajar pengalaman dari orang yang sudah pergi haji. Oleh karenanya banyak blog yang sudah saya sambangi.

Dari sekian situs dan blog itu yang teramat menarik bagi saya, Insya Allah cuma dua blog ini.

Blog yang pertama amat menarik karena bicara hal-hal teknis dari mulai persiapan haji hingga pelaksanaan hajinya di sana. Hal-hal yang menurut kita sepele dan seringkali diabaikan ditulis di sana. Ditambah dengan ilustrasi foto membuat content blog ini amat bermanfaat dan layak untuk dijadikan referensi.

Blog yang menggunakan tagline: kupenuhi panggilanMu ini masih update. Postingan terakhir sampai tulisan ini dibuat adalah pada tanggal 19 Agustus 2011. Komentar saya adalah, “Teknis dan detil banget Bro.” Jarang saya temukan di blog lain. Saya cuma berucap dalam hati semoga apa yang ditulis menjadi ladang amal kebaikan buat penulisnya. Tidak pernah putus dan berhenti sebagai shadaqah jariah.

Nah, blog yang kedua, yang mengambil nama Bunda Thousand Words sebagai nama blognya ini buat saya exciting banget. Saya menemukannya di urutan pertama Mbah Google ketika saya mengetikkan kata “tanazul”. Awalnya iseng untuk berkunjung. Apalagi blog ini sudah lama enggak diupdate. Tanggal postingan terakhir adalah 6 November 2009.

Eh, ternyata saya tidak cukup membaca satu postingannya saja. Berlanjut terus dan terus ke postingan lainnya. Saya mulai baca blog ini dari waktu ashar sampai maghrib tiba. Enggak terasa. Yang membedakannya dari blog yang pertama atau yang lainnya adalah cerita pengalaman hajinya. Kalau blog pertama bicara tentang teknis haji tetapi blognya Bunda Bintari Sriwijayanti ini bercerita tentang pengalaman spiritual berhaji dengan suaminya di tanah suci. Tulisannya renyah. Natural. Manusia banget. Enggak jaim. Mencerahkan. Mengharukan. Dan mampu membuat mata saya berkaca-kaca.

Sedikit sekali blog yang konsisten bercerita dari awal sampai akhir tentang pengalaman hajinya. Terkadang ada blog lain yang semangat di awal untuk bercerita tetapi cuma berhenti di tulisan kedua atau ketiga. Nah blog ini Insya Allah bercerita lengkap. Recommended dah…

Layak kalau semua pengalamannya itu dibukukan. Dan memang bukunya sudah terbit. Judulnya: Menjemput Hidayah Di baitullah. Ini dia kaver bukunya.

Kalau mau jadi teman FB mereka gampang. Cari saja di google ketemu Insya Allah.

Itu saja kali saya mau cerita tentang blog terekomendasi ini. Semoga ini bermanfaat buat Anda yang mau pergi haji dan menambah wawasan.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.51- 9 oktober 2011

TAGS: blog abu syafwan, abu syafwan, blog bintari sriwijayanti, bintari sriwijayanti, kupenuhi panggilanmu,bunda thousand words,tanazul, menjemput hidayah di baitullaH, blog haji, haji,

NAPOLEON SETELAH WATERLOO


NAPOLEON SETELAH WATERLOO

 


Liburan panjang lebaran telah usai. Besok senin sudah mulai bekerja lagi. Perasaan malas kembali muncul, “coba saja kalau liburannya lebih lama, duh enaknya”. Apalagi setelah perjalanan mudik dan balik yang tentunya melelahkan sehingga butuh penyegaran dan pemulihan fisik supaya memulai bekerjanya lebih enak. Lagi-lagi hanya alasan pembenaran untuk sebuah kemalasan.

Sebuah pesan pendek masuk meningkahi keluhan itu. “Ayolah. Tetap semangat. Jangan begitu. Coba lihat sekitar kita yang bekerja dengan mengeluarkan peluh tapi hasilnya tak seberapa. Lihat tukang jual kerang rebus, tukang sol sepatu, penjual sarung remote tv yang lewat depan rumah. Kita? Cukup duduk di ruangan ber-ac, tunggu jam 5, dapat gaji gede di awal bulan. Syukuri dan jalani saja.”

Pesan yang menyadarkan nurani tentang pentingnya rasa syukur dan optimisme dalam hidup. Hidup itu apapun yang terjadi memang harus dijalani. Baik dan buruknya, nyaman dan menderitanya. Tinggal men-setting tool yang ada dalam otak kita pada mode sabar. Tapi tunggu dulu, gaji gede?

Wah, langsung alarm satuan ukur materialistis kita berbunyi. Dengan mulai membayangkan penghasilan yang didapat oleh karyawan BI, anggota DPR, pegawai pemerintahan daerah kaya (padahal mereka sendiri juga iri kepada para pegawai Kementerian Keuangan) dan lainnya. Naluri manusia yang sangat alamiah saat dihadapkan pada harta. Senantiasa mendongak ke atas dan jarang melihat ke bawah. Yang terakhir biasanya dilakukan kalau habis mendengar taushiyah dari ustadz di televisi. Jama`aaaaaaaaah oh jamaaaaaah.

Seringkali kita merasa kurang daripada yang lain kalau soal beginian. Atau merasa hidupnya paling miskin dan menderita. Makan sepiring berdua. Tidur beralaskan koran di pinggir jalan dan beratapkan langit.

Sedangkan banyak sekali orang yang merasa kita adalah orang yang lebih daripada diri mereka sendiri. “Mas, enak yah sekarang. Sudah punya istri, anak-anak, rumah, motor, mobil, sudah sekolah tinggi, status punya, kerja di pajak, gaji pastinya gede,” seorang teman jomblo mengomentari saya. Mendengar itu saya cuma bilang padanya, “makanya cepetan nikah.” Karena bagi saya jalan untuk membuka semuanya adalah dengan menikah. Sebab itu saya menikah di usia muda.

Ya, ternyata kita memiliki banyak sekali anugerah. Soal motor, mobil, dan rumah yang masih kredit serta letaknya tidak di pusat kota bahkan jauh, puluhan hingga ratusan kilometer dari tempat bekerja kita itu soal lain. Begitupula dengan SK PNS yang masih menginap di bank, asuransi kesehatan yang belum menggaransi seluruh anggota keluarga, atau tidak punya agenda liburan bulanan bahkan ke luar negeri, itupun soal lain.

Dan itu baru sebatas yang terlihat secara zahir oleh orang lain. Ada anugerah yang tak terlihat, yang hanya dirasa oleh kita, pasangan kita atau anggota keluarga kita lainnya berupa ketenteraman dan keberkahan atas harta dan rumah tangga kita. Keluarga sehat. Anak-anak tumbuh kuat dan cerdas. Punya tetangga samping kiri, kanan, depan, dan belakang yang peduli terhadap kita dan baik-baik. Pembantu rumah tangga yang loyal, amanah, dan sangat membantu serta membuat kita tenang untuk beraktivitas di luar rumah.

Atau teman-teman kantor yang selalu mendukung kita dan apalagi kalau setiap urusan kantor senantiasa dimudahkan untuk diselesaikan dan dicari solusi atas setiap permasalahannya. Atau punya atasan yang baik dan memahami kita, itu juga sebuah anugerah yang luar biasa. Atau seringkali kita diberikan kemudahan untuk menaruh jari di finger print tanpa sedetik pun terlambat di setiap paginya—walau untuk itu ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Komputer yang enggak pernah hang atau kena bahkan tidak merasa diserang virus. Pensil, serutan, penghapus, pulpen, dan alat tulis yang selalu tersedia. Kertas continuous form, kertas ukuran kuarto dan folio, printer dan tinta refill-nya yang selalu ada setiap saat.

Telepon dan mesin faksmili yang siap untuk digunakan. Jaringan internet yang bisa diakses dengan mudah. Satpam dan office boy yang tak pernah pasang muka cemberut untuk kita. Kursi kerja yang bisa digoyang dan digeser dengan mudah dan tak pernah membuat kita jatuh saat mendudukinya. Coba, nikmat manalagi yang hendak diingkari?

Kalau sudah memikirkan ini, saya tidak bisa untuk meminta dan menuntut orang lain bersikap sama dengan saya, bahkan seringkali ini mengharuskan saya untuk berkaca pada diri sendiri. Saya jadi malu, ternyata banyak sekali yang tak sesuai dengan apa yang saya ucap dan tulis. Betapa banyak keluhan dan rasa ketidaksyukuran yang ada. Walau tidak sempat atau sedikit terucapkan dengan lisan, namun banyak terlintas dalam benak dan tercetus dalam hati.

Tentang angan-angan liar berapa banyak harta dan kekuasaan (baca: penempatan) yang bisa diraih lagi. Tentang keluhan terhadap kondisi rumah dan kantor. Tentang aktivitas dan kerja yang seringkali dengan embel-embel ataupun pamrih, ucapan yang dihias dengan ambisi, dan merasa mulia dengan jabatan dan kekayaan yang serba tanggung ini. Padahal dua terakhir ini pun sudah pasti tak bisa menyelamatkan diri saya saat di ujung nafas nanti. Saya jadi teringat Al Walid Ibn Abdul Malik, penguasa Damaskus, penguasa sebagian belahan dunia, pemuncak kejayaan Dinasti Bani Umayyah, di saat sekaratnya yang berucap, “hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku. Mana hartaku? Mana kekuasaanku?”

Itu baru sebatas keluhan, yang paling parah adalah jika tidak berhenti sampai di situ, tetapi hingga direalisasikan dengan ibadah yang sedikit. Duh, Gusti. Padahal Pemilik seluruh harta kekayaan di langit dan bumi telah menjamin rezeki buat saya jika saya mampu untuk melakukan tiga hal ini: meminta padaNya, ibadah yang benar dan banyak, dan bersyukur. Memikirkan semua itu saya seperti menjadi Napoleon setelah Waterloo.

Syawal ini saya mau berubah ke arah yang lebih baik lagi. Semoga.

***

 

Riza Almanfaluthi

Penelaah Keberatan

Direktorat Keberatan dan Banding

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak

–dimuat di Majalah Berita Pajak Edisi September-Oktober 2011

Gambar berasal dari sini.

 

 

 

PENGUMUMAN KLOTER


PENGUMUMAN KLOTER

 

Jauh-jauh hari kalau daerah lain, pengumuman kloter dan pemberangkatan ini sudah diketahui. Tapi untuk Kabupaten Bogor baru tanggal 1 Oktober ini diumumkan. Itupun setelah beberapa kali dimundurkan dari jadwal semula 17 September dan 24 September 2011.

Tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini. Yang selalu dikatakan oleh petugas haji Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor kepada kita-kita adalah: “Sabar, sabar, sabar.” Ya, ya, ya, kami sabar Pak. Masalahnya keputusan segera diketahuinya kapan pemberangkatan ini berpengaruh pada kapan calon jamaah haji (calhaj) akan mengambil cuti dan persiapan perbekalan, padahal tanggal 6 Oktober ada yang sudah berangkat.

Walau sudah diumumkan ada juga calhaj yang tercecer belum dimasukkan dalam daftar itu. Kebetulan calhaj itu adalah teman saya. Kok bisa? Saya juga tidak tahu kenapanya. Sampai-sampai ada calhaj yang tidak bisa menepis rasa curiga jangan-jangan ada rempeyek di balik gado-gado. Eits…tak perlu diperpanjang.

Lama kami—calhaj mandiri—mencari bocoran pengumuman itu, kali saja ada informasi yang bisa dibagi tetapi ternyata petugas haji keukeuh untuk tak mau memberitahu sebelum tanggal 1 Oktober 2011. Masalahnya kepada kami-kami yang mandiri bersikap itu tetapi lain hal kalau yang dari KBIH. Informasi pemberangkatan sudah sampai kepada calhaj binaan mereka. Seperti yang mau berangkat tanggal 7 Oktober nanti, mereka sudah dapat informasinya jauh sebelum tanggal 1 Oktober 2011. Apakah ini bukan diskriminasi namanya?

Walau demikian saya akhirnya lega juga pada hari Sabtu (1/10/2011) ini sudah ada kepastiannya setelah akun facebook saya ditempel gambar pengumuman hasil jepretan ketua regu Pak Rakhmat Tomi Wibowo ( http://www.facebook.com/tomi.wibowo ). Terima kasih banyak Pak Tomi.

Dari situ diketahui kalau Saya dan istri masuk

Kelompok Terbang (Kloter)     : 65

Rombongan            : 9

Regu                : 35

Tanggal pemberangkatan    : Selasa, 25 Oktober 2011

Embarkasi            : Jakarta

Untuk yang tanggal itu kumpul di Cibinong jam 4 pagi. Lalu berangkat ke asrama haji jam 5 pagi. Kemudian pergi ke bandara jam 11.25.

Setelah pengumuman ini apa lagi yang harus dikerjakan? Enggak tahu. Saya benar-benar enggak tahu. Tapi pada intinya kita yang mandiri ini memang harus banyak tanya dan cari informasi. Pada siapa saja. Petugas Haji, Pembimbing Manasik Haji, teman yang sudah pernah haji, teman satu regu, teman satu rombongan dan kepada siapa saja yang ditengarai memiliki informasi penting tentang haji.

Semoga informasi ini bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 Oktober 2011

 

Tags: haji, pengumuman kloter 2011, pengumuman kloter kabupaten bogor, kementerian agama kabupaten bogor, depag kabupaten bogor, departemen agama kabupaten bogor, haji, haji kabupaten bogor, pengumuman haji kabupaten bogor,

PELUNASAN BIAYA HAJI


PELUNASAN BIAYA HAJI

 

    Kini saatnya untuk menerangkan tahap pelunasan biaya haji di tahun 2011 atau 1432 H ini. Seperti telah diketahui bersama Pemerintah dan Komisi VIII DPR telah menyepakati besarnya Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2011 M sebesar Rp30.771.900,00 yang akan berlaku berbeda tergantung embarkasinya. Kalau dalam mata uang dollar untuk embarkasi Jakarta senilai US$3,589.00 ( 1 US$ = Rp8.700,00).

    Waktu pembayaran telah diplot selama dua minggu mulai 15 Agustus sampai dengan 26 Agustus 2011. Jika pada masa ini ada calon jamaah haji yang belum mampu melunasi diberikan tenggang waktu mulai tanggal 6 sampai dengan 9 September. Jika tidak maka akan digantikan dengan jamaah daftar tunggu 2012.

    Nah, bagaimana cara melunasinya? Tentu datang ke bank tempat kita buka rekening haji dan membayar setoran awal. Apa dokumen yang harus dibawa? Masing-masing bank punya aturan yang berbeda. Oleh karenanya untuk mengetahui pastinya lebih baik telepon Customer Service (CS) bank itu. Informasi dari petugas haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor kurang valid.

    Kalau di Bank Mumalat Indonesia Cabang Bogor—tempat kami berdua membayar setoran awal haji—yang di Jalan Pajajaran dekat Warung Jambu itu, menyaratkan kami untuk membawa ini:

  1. Pas Foto ukuran 3 x 4 sebanyak 5 lembar;
  2. Fotokopi Setoran awal BPIH sebanyak 1 lembar;
  3. Mengisi formulir yang disediakan petugas bank di sana.

Bagaimana dengan meterai? Bawa silakan tak bawa juga tak apa-apa. Karena bank telah menyediakannya dengan harga yang normal sebesar Rp6000,00 untuk 1 lembarnya.

Kami sampai di sana sekitar pukul 11.30 sesuai informasi yang didapat dari CS via telepon sebelum kami berangkat karena baru pukul 11.00 SISKOHAT bisa online. Dan menurut informasi SISKOHAT hanya online sampai pukul 14.00. “Jadi mengapa harus datang pagi-pagi?” begitu pikir kami. Di halaman depan bank sudah ada tenda berukuran 12 m2 dengan kursi-kursi yang masih kosong.

Pelayanan yang kurang memuaskan di tahun 2009 saat kami melakukan penyetoran awal dan informasi dari teman tentang kualitas pelayanan yang tak memadai di tahun-tahun sebelumnya pupus sudah saat kami datang ke sana. Kami sudah disambut ramah oleh petugas keamanan di pintu masuk yang juga memberi kami banyak informasi tentang cara pelunasan itu.

    Ternyata kami datang di waktu yang tepat, karena kalau saja kami datang di hari pertama atau di pekan pertama waktu pelunasan maka antriannya panjang dan memakan waktu lama. Pada hari Selasa (23/8) ini sampai siang itu cuma tiga orang termasuk kami yang melakukan pembayaran. Jadi tidak butuh lama untuk antri.

 

Kami diminta untuk mengisi formulir aplikasi transfer/pengiriman uang ke Menteri Agama dengan nomor rekening: 301 00394 15. Di tahun 2009 kami hanya diminta membayar Rp20 juta untuk mendapatkan porsi. Sehingga pada saat pelunasan BPIH di tahun 2011 ini kami hanya membayar sisanya. Perhitungannya sebagai berikut:

Jumlah BPIH     US$3,589.00 x 8.595,00 (kurs US$ pada hari itu) = Rp30.847.000,00

Dikurangi setoran awal = Rp20.000.000,00

Jumlah kekurangan = Rp10.847.000,00

Dari Teller lalu kami menuju CS untuk dibuatkan dokumen Setoran BPIH yang akan diserahkan kepada petugas di Kantor Kementerian Agama. Setelah dilayani oleh teller untuk pembayaran dan Customer Service untuk pembuatan dan penandatanganan seluruh dokumen, maka selesai sudah proses pelunasan BPIH ini.

    Sebelum pergi kami diberikan cinderamata. Satu tas untuk saya yang isinya satu set kain ihram, baju koko, dan kantung batu. Dan satu tas lain yang lebih kecil untuk istri saya berisi satu gamis, jilbab, mukena, dan kantung batu.

Setelah itu kami langsung menuju Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor yang berada di Cibinong untuk menyerahkan dokumen-dokumen sebagai berikut:

  1. Fotokopi KTP 3 lembar;
  2. Fotokopi Kartu Keluarga 1 lembar;
  3. Formulir Setoran BPIH.

Sudah selesai. Kami diminta untuk menghubungi petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor lagi nantinya di nomor telepon 021-87909015 untuk mengetahui kapan jadwal manasik terakhir. Semuanya dimudahkan Allah dalam tahap pelunasan ini. Insya Allah ini adalah berkah ramadhan 1432 H.

Demikian pembaca, semoga informasi ini bermanfaat buat Anda.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.46 – 26 September 2011

Tags: haji bogor, pelunasan biaya ibadah haji, bpih, biaya haji 2011, biaya haji, bank muamalat indonesia, bmi, tanggal pelunasan, kapan pelunasan ibadah haji, kantor kementerian agama kabupaten bogor, pelunasan haji, pelunasan biaya haji

JANGAN DIBUNGAIN YA PAK


JANGAN DIBUNGAIN YA PAK

Dewi namanya. Malam-malam kirim SMS pada saya. Bahkan datang ke rumah jam setengah sebelas malam. Saya tidak kenal dia. Dia juga tidak kenal saya. Saya dikenalkan dengan dia oleh Ustadz Fatkhurrokhman—KPP Pasar Rebo, halo Ustadz semoga antum sehat selalu—maghrib sebelumnya. Sebenarnya Dewi hendak menuju ke rumah Ustadz Fatkhurrokhman, tetapi, maka ia menyarankan Dewi untuk menemui saya.

Dewi mengetahui Ustadz Fatkhurrokhman dari mahasiswa UI yang ditemuinya di Metromini sepulang dari Dompet Dhu’afa. Permohonan mendadak atas suatu keperluannya tidak bisa dipenuhi oleh lembaga itu. Ia mengeluh kepada mahasiswa UI dan dari mahasiswa itu Dewi diminta untuk datang ke rumah Ustadz Fatkhurrokhman. Tetapi karena sedang bedrest dan jaraknya jauh dari Bojonggede ke Cinere, Ustadz Fatkhurrokhman menyarankan Dewi untuk menemui saya saja.

Dewi anak pertama dari sembilan bersaudara. Umurnya 27 tahun. Bapaknya sudah dua tahun tidak ada. Lima orang adiknya masih sekolah. Sedangkan ia belum lama keluar dari Rumah Sakit Cibinong dan Rumah Sakit Bunda Margonda Depok karena vertigo. Karena sering sakit-sakitan, ibu dari dua orang anak ini ditinggal suaminya tanpa kejelasan status. “Enggak kuat biayain sakit kamu,” kata suaminya. Kini Dewi tinggal bersama ibunya sebagai tulang punggung keluarga untuk membiayai adik-adiknya dan tentu dua anaknya juga. Peran sebagai buruh cuci pun dilakonin.

Dewi meng-SMS: “Pak, adek saya yang baru masuk SMK sampai saat ini belum bisa bayar SPP selama tiga bulan. Saya sudah ke sana ke mari namun masih belum ada jalan. Saya berusaha minta tolong sama tetangga tetapi mereka mintanya dibungain.”

Butuhnya berapa Mbak? Saya
kirim sms balasan.

Besarnya 240 ribu rupiah Pak. Jumlah yang sangat besar Pak. Tadi saya sudah coba usaha ke Jakarta. Yang ada malah uang yang seharusnya buat beli beras terbuang buat ongkos sama beli pulsa. Soalnya saya pinjam hp teman adek saya Pak.

Saya jadi ingat ada amanah yang belum tertunaikan. Maka saya minta ia datang malam itu juga ke rumah saya. Soalnya kalau bertemu besok pagi sudah jelas saya tidak ada. Saya sudah pergi ke kantor. Jarak 6 kilometer ditempuhnya.

Di ruang tamu itu wajahnya terlihat kelelahan. Ia mengutarakan semua keluhannya. Sang adik sebenarnya menunggak SPP tiga bulan, tapi cukup diminta untuk membayar 2 bulan dulu. SPP sebulannya Rp120 ribu. Saya periksa semua fotokopi dokumen yang saya minta sebelumnya. Yang pasti harus diketahui adalah alamat rumahnya untuk suatu saat saya dapat silaturahim dengan ibunya.

“Jadi emangnya Mbak Dewi mau pinjam uang?” tanya saya.

“Iya Pak. Tapi tolong jangan dibungain ya Pak,” pintanya.

“Emangnya tetangga sana minta bunga yah?”

“Iya Pak, saya mau pinjam 100 ribu. Saya cuma dapatnya 80 ribu. Lalu bayarnya bulan depan 130 ribu,” jelasnya. Waduh…gede amat.

“Ya sudah, tapi sebelumnya saya minta nanti Mbak Dewi sama keluarga yang lain doakan nama ini yah. Beliau yang sebenarnya bantu Mbak,” kata saya sambil menyodorkan secarik kertas berisi sebuah nama. “Anaknya sakit, tolong doakan supaya anaknya cepat sembuh.”

“Insya Allah Pak.”

“Ini uangnya.” Dua kertas warna merah dan dua kertas warna hijau berpindah tangan. “Tak perlu bayar bunga. Dan tak perlu ngutang. Ini dikasih saja.”

“Tapi pak…saya niatnya minjem?” Ia terperangah. Tak percaya. Matanya berkaca-kaca.

“Tak usah. Tidak apa-apa. Manfaatkan dengan baik saja,” potong saya. Ia tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dua tangan menangkup wajahnya. Saya sampai harus menarik tangan saya ketika ia tiba-tiba turun dari kursi tamu, duduk bersimpuh di hadapan saya, dan hendak mencium tangan saya.

Kata-kata terima kasih berulang-ulang terluncur dari mulutnya. Rona bahagia terlihat dari wajahnya. Besok ia akan datang lagi untuk menyerahkan bukti pembayaran SPP itu.

Uang 240 ribu rupiah bagi kita bisa jadi itu senilai jumlah pulsa hp bulanan kita. Atau senilai satu potong kemeja. Atau senilai traktiran 7 porsi tongseng STEKPI Kalibata dan 20 tusuk satenya. Atau senilai internet unlimited dua bulanan. Tapi bagi Dewi, uang senilai itu berharga sekali. Amat. Memperpanjang masa depan dan hidup keluarganya.

Nama yang saya sodorkan kepada Dewi adalah nama salah satu dari anggota milis ini. Kepadanya saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Masyarakat Bojonggede sangat terbantu sekali.

Infak dan segala pemberian kita adalah harta yang sesungguhnya. Menjadi benteng dari segala musibah dan petaka, wasilah untuk mendapatkan anak, menyembuhkan derita sakit, menjadi awal dari bertambahnya kebaikan kita, serta melatih kepekaan dan mendidik kita untuk menjadi orang yang soleh secara sosial. Karena sejatinya orang soleh secara individu itu banyak tetapi paripurna berkelindan dengan soleh sosial itu yang jarang. Saya banyak belajar dari teman-teman sekalian yang ada di sini.

Terima kasih atas pelajarannya, Kisanak…

***

Thanks to Bapak, Ibu, Mas Bro dan Mbak Sist :

Herlin Sulismiyarti; Hartyastuti; Harsoyo; R Ganung Harnawa; Noviyanti; Euis Purnama Sari; Erwinsyah Marpaung; Erwan; Ervan Budianto; Erni Nurdiana; Erin Fadilah Sari; Erfan; Eni Susilowati; Emma Kataningrum; Eldes Gina Kencanawati Marbun; Dina Lestari; Dian Sofa Imama; Dian Rahmawati; Dewi Andriani; Desiana Witianingtyas; Desi Purbi Mulyani; Cucu Sri Rahayu Botutihe; Binanto Suryono; Ayu Diah Rahmayati; Awik Setyaningsih; Ardiana Wiryawan; Anton Rukmana; Anik Noerdianingsih; Anang Anggarjito; Amran; Aliyah; Al Mukmin; Agus Budihardjo; Agung Priyo Susanto; Ade Hasan Pahru Roji; Abdul Manan; Moh. Suroto; Budi Utomo; Zakki Asyhari; Ujang Sobari; Uha Indiba; Tujanawati; Tri Satya Hadi; Tosirin; Tjandra Risnandar; Titik Minarti; Tintan Dewiyana; Sulistiyowati; Siti Nur`Aini; Setyo Harini; Ruli Kushendrayu; Roos Indrapurwati Yulinapatrianingsih; Riza Almanfaluthi; Rina Febriana Sitepu; Rimon Domiyandra; Ratna Marlina; Nugroho Putu Warsito; Nana Diana; Nady Safutra; Listya Rindrawardhani; Lia Yuliani; Layli Sulistiorini; Larisman Gaja; Khuriah Nur Azizah; Khadijah; Ita Dyah Nursanti; Irma Handayani; Indria Sari; Imamuddin Hakim; Ikaring Tyas Aseaningrum; Leli Listianawati; Mona Junita Nasution; Herri Rakhmat; Herpranoto; Rosvita Wardhani; Indah Pujiati

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10.25 – 17 September 2011

Philanthropycanus Erectus Citayamiensis

DIGAYUSIN LAGI


DIGAYUSIN LAGI

    Ry, izinkan aku menulis lagi malam ini. Tentang apa saja. Mungkin tentang yang aku alami hari ini. Seperti biasa aku harap engkau cukup diam dan menyimak apa yang aku tulis. Kau tahu kepalaku sakit kalau tidak menulis.

    Malam ini Ry, hujan. Jakarta hujan. Depok hujan. Citayam hujan. Apalagi Bogor, hujan pastinya. Alhamdulillah. Berkah banget. Sepertinya kemarau akan segera berakhir. Syukurlah. Dan aku seperti hari terakhir di musim kemarau. Kau tahulah artinya apa. Tapi tadi di Stasiun Sudirman ketika tetes-tetes hujan itu berubah menjadi gemerisik yang deras, sungguh bau tanah yang tersiram hujan itu menyengat banget.

Tahu kamu Ry, apa yang aku lakukan? Di pinggir rel, di peron 2 itu, aku hirup dalam-dalam petrichornya. Aku tiba-tiba teringat kamu Ry. Kalau saja aku sendiri di sana, akan aku rentangkan tanganku dan membiarkan nafasku yang berbicara lalu membiarkan wajahku tersiram gerimis pertama itu. Untuk menghapus ingatan pagi tadi agar hilang dan lenyap bersama petang yang membawa malam.

Kamu tahu Ry, aku di-Gayus-in lagi. Kapan? Iya, tadi pagi. Aku jadi teringat, Juli kemarin aku menulis sebuah artikel. Ceritanya tentang empatiku pada teman-teman DJP di bulan Maret 2010 lalu. Ketika itu kalau ada metromini yang berhenti di depan kantor keneknya itu selalu bilang: “Gayus! Gayus! Gayus!!!” Nah, aku tuh—dalam tulisan tadi—membayangkan bagaimana perasaan teman-teman ketika turun dari Metromini tadi.

Eh, sungguh Ry. Kejadian itu nyata padaku. Menimpa padaku hari ini. Dan aku tidak sekadar empati. Tapi menjadi saksi hidup dari perasaan yang timbul itu. Dulu sekadar membayangkan, kini benar-benar nyata. Pagi tadi dari Stasiun Sudirman aku naik Metromini 640 jurusan Tanah Abang Pasar Minggu. Perjalanan lancar mulai dari Setiabudi, Kolong, Benhil, Atmajaya, Komdak, dan Gedung Mulia. Nah sebentar lagi turun di jembatan penyeberangan sebelah gedung Jamsostek, persis depan kantor BKPM. Biasanya sih si kenek bilangnya: “Pajak..! Pajak..!” Tapi, kali itu si kenek ini bilangnya ya itu tadi: “Gayus! Gayus! Gayus!!!”

Spontan Ry, aku merasa gimana gitu. Banget nget…nget… “Alhamdulillah ya, sesuatu ya…,” kata Mbak Titi Sugiarti—yang ini teman saya—ala Syahrini di Gtalk. Sepertinya seluruh penumpang melihat saya dengan pandangan aneh dan penuh selidik. Atau ini hanya perasaan saya saja yah? Tapi pokoknya gimana gitu. Menggambarkan perasaan seperti itu rada-rada susah.

Beruntungnya Ry, tidak hanya saya yang turun, tapi sekitar lima orang teman saya juga ikut di Metromini itu. Mereka cuma tersenyum kecut dan saling pandang. Heheheheh kita senasib Mas Bro dan Mbak Sist. Tapi kebetulan Pak Jon Suryayuda S—atasan saya—tidak satu bus. Ceritanya akan tambah seru kalau beliau ikut merasakan juga. Akan jadi obrolan menarik. Hehehhhe…

Ternyata saya baru tahu dan kalau benar, kejadian itu adalah efek dari berita baru tentang Gayus yang punya duit 4 milyar. Ada-ada saja. Tapi yang pasti, kayaknya saya kudu lihat-lihat dulu keneknya siapa kalau mau naik Metromini. Kalau dia lagi—wajahnya ingat betul—ogah ah. Ngapain gitu? Metromini kan banyak…

Itu saja Ry, malam ini aku cerita sama kamu. Terima kasih tetap sama kayak yang dulu. Diam, masih mau mendengarkan aku. Aku yakin diammu adalah cinta yang tak terkatakan untukku. Ohya Ry, di luar hujan sudah menjadi prasasti malam. Jejaknya hanyut diterkam dingin. Kau merasakannya?

Salam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.45 – 15 September 2011

Pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/15/digayusin-lagi/

Tags: gayus, djp, metromini 640, tanah abang, setiabudi, kolong, benhil, atmajaya, komdak, gedung mulia, titi sugiarti, jon suryayuda s, bkpm, pasar minggu