DIGITAX 2006


20.01.2006 – DIGITAX 2006 di Komputerisasi: Mari Berbagi…

Tak dinyana Forum Diskusi di Portal DJP tidak hanya menampilkan postingan tidak bermutu bahkan menjurus ekspolitasi pornografi. Tak disangka, di sana ada tempat untuk berbagi ilmu. Tentu bukan di kategori umum, tapi di komputerisasi.
Itu yang saya rasakan sejak beberapa hari ini mengikuti diskusi yang berkembang di sana. Mulai dari yang sekadar pertanyaan yang diulang-ulang, permintaan bantuan, juga sampai pada berbagi program berguna, tangguh, dan Free lagi. Apalagi dengan kerelaan dari sebagian ahli dalam pembuatan program, semisal DIGITAX.
Dulu saya memang mempunyai software database pajak. Tapi karena virus Brontok yang meng-KO-kan komputer saya sehingga terpaksa harus diintal ulang. Software peraturan pajak itu pun hilang jadinya dan saya tidak punya cd-instalasinya. Jadinya sudah beberapa minggu ini saya kerepotan dalam mencari peraturan-peraturan pajak. Tidak enak juga kalau numpang sama teman untuk melihat itu.
Syukurnya kahadiran DIGITAX ini menghilangkan kegalauan saya. Walaupun belum sempat dicoba seberapa canggihnya ia mampu untuk menampilkan peraturan-peraturan perpajakan yang diinginkan oleh user. Tapi yang pasti kehadirannya bagi saya–walaupun masih dalam versi beta–sudah cukup untuk menjadi solusi di tengah kebutuhan akan software bermutu dan gratis.
Tentunya, para user termasuk saya menginginkan, bahwa software ini harus dikembangkan lagi. Dengan update-update terbaru peraturan perpajakannya misalnya. Juga pengembangan softwarenya yang tidak sekadar berhenti pada versi beta-nya saja.
Kemudian diupayakan pula bagaimana cara instalasi yang gampang atau user friendly. Seperti kalau kita jalankan program-program yang branded itu loh. Tinggal pencet tombol next, next, next, and Finish.
Oh ya, satu lagi adalah perlunya lebih banyak lagi server mirror untuk memudahkan para newbie mengunduhnya.
Kepada programmer DIGITAX maafkan saya yang sudah diberi gratis masih saja menuntut terlalu banyak. Ini semua karena saya peduli dengan Digitax lho. Soalnya kalau sudah canggih kan, bisa saja menjadi pilot project bagi DJP dalam pengembangan software gratis buat Wajib Pajak. Daripada bayar mahal-mahal buat konsultan program, lebih baik honornya buat kesejahteraan pegawai DJP sendiri terutama programmernya. Betul begitu?
By The Way, salut buat Mas Fakhrurrozi karena telah sharing. Tentunya ini adalah ilmu yang bermanfaat. Tahu sendiri kan kalau ilmu bermanfaat itu pahalanya tiada akan putus-putus sampai di sana. Dan sungguh luar biasa besar sekali pahalanya.
Tentunya pula kepada yang lain, jangan lupa untuk selalu berbagi hal-hal yang bermutu dan bermanfaat. Sekali lagi sungguh, tiada ruginya menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Itu saja.
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

HADITS PALSU TENTANG JIHAD AKBAR


17.01.2006 – HADITS PALSU TENTANG JIHAD AKBAR

Jihad dewasa ini berkembang menjadi suatu topik yang banyak dibicarakan dan ditulis oleh orang-orang yang bahkan belum pernah melewatkan waktu mereka satu menitpun di medan perang. Berbagai individu Muslim ini menjabarkan apa yang dimaksud dengan jihad dan apa yang bukan. Di antara yang mereka sebutkan adalah bahwa memelihara dan membesarkan anak adalah jihad, berdakwah adalah jihad, mengajak orang lain untuk pergi ke masjid adalah jihad, merendahkan pandangan adalah jihad, dan lain sebagainya.
Hanya sedikit ulama yang menjelaskan makna jihad sebagaimana yang dipahami dan dijelaskan oleh ulama dari mazhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali, yaitu jihad dalam pengertian linguistik berarti “berusaha/berjuang dengan sungguh-sungguh” dan dalam pengertian syari’ah berarti “berperang menghadapi musuh Allah”. Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah Shahih Bukhari, menyatakan bahwa setiap kali kata “fi sabilillah” di sebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka hal itu berarti Jihad.
Hanya sedikit ulama yang benar-benar menunaikan kewajibannya mengajak orang lain untuk menyembah Alloh SWT dan mematuhi perintah-Nya. Hanya sedikit ulama yang menerangkan kewajiban jihad dalam Islam dengan semestinya. Dan para ulama ini adalah mereka yang pernah terjun langsung dalam jihad.
Mereka telah mencium bau mesiu, mereka telah merasakan kepulan debu peperangan, keringat mereka mengucur deras di bawah hujan tembakan dan bom musuh. Tidak seorang ulama pun yang pernah terjun langsung ke medan perang yang mengatakan bahwa bangun menegakkan shalat shubuh atau memelihara dan membesarkan anak di lingkungan sekuler dan kafir adalah jihad.
Pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa jihad adalah seperti apa yang disebutkan di atas, adalah pendapat mereka yang sudah kalah sebelum berperang menghadapi musuh orang kafir, pendapat mereka yang bersedia untuk tunduk pada kemauan musuh, yang setuju atas perbuatan orang kafir, yang malu untuk pergi berjihad, yang berusaha untuk menyenangkan hati orang kafir dengan memenuhi tuntutan mereka untuk tidak mengakui jihad sebagai suatu peperangan.
Bertentangan dengan apa yang dikatakan individu muslim ini, salah satu definisi tepat apa yang digunakan orang-orang non-muslim, dalam mengartikan jihad adalah “Perang Suci” (Holy War). Jihad adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam bentuk peperangan secara fisik, yang dilakukan karena sebab-sebab yang agung, suci, dan mulia, yaitu dalam rangka menegakkan Kalimatullah SWT. Kebanyakan orang non-muslim telah memahami jihad dalam definisi ini, namun berbagai individu muslim ini selalu menentang dan menyatakan ketidaksetujuannya jika jihad diartikan sebagai Holy War. (Azzam Publication, 8: 2002).
Tulisan ini tidak akan membicarakan tentang hukum berjihad (fardu ‘ain atau fardhu kifayah) yang sudah jelas dalam Kitabullah, dan Hadits-hadits Nabi, dan telah disepakati oleh para imam mazhab fuqoha salaf maupun khalaf. Namun disini akan diuraikan tentang suatu perkataan bahwa jihad memerangi musuh adalah jihad kecil atau seringkali dianggap sebagai jihad dalam arti sempit., dan ini banyak diungkapkan oleh mereka yang merasa cendekiawan muslim di tanah air ini.
Banyak disinyalir bahwa jihad memerangi musuh agama adalah termasuk jihad kecil (jihadul ashghar). Sedang yang dikatakan sebagai jihad besar (jihadul akbar), adalah memerangi hawa nafsu.
Pendapat tersebut didasarkan pada sebuah riwayat:
“Kita telah melaksanakan jihad kecil, dan akan menuju jihad besar”. Para sahabat bertanya: “Apakah jihad akbar itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab: “Yaitu jihad melawan hawa nafsu.”
Sebagian umat Islam berupaya mengalihkan pandangan umat Islam terhadap pentingnya jihad, mempersiapkan diri, berniat melaksanakan dan mengmalkannya. Tetapi pada kenyataannya, dalil yang digunakan tersebut bukanlah sebuah hadits, demikianlah kata Ibnu Hajar Al-Asqalany di dalam Tasdidul Qaus. Tetapi yang benar adalah perkataan Ibrahim bin ‘Ailah. Memang ungkapan tersebut sangat populer di kalangan umat Islam, sehingga tampak sebagai hadits.
Al-‘Iraqy di dalam Takhriju Ahaditsil Ihya’ mengatakan: “Hadits tersebut oleh Imam Baihaqy dengan sanad dhaif, dari Jabir. Al-Khatib juga meriwayatkan hadtis tersebut di dalam buku sejarahnya, dari Jabir.
Andaikan hadits ini shahih, makna yang dikandung bukan berarti mengenyampingkan persoalan jihad. Sebab, jihad itu dilakukan di dalam rangka melakukan penyelamatan terhadap negara Islam atau menolak serangan musuh dari wilayah Islam. Tetapi yang terkandung dalam hadits tersebut ialah wajib melawan hawa nafsu, sehingga sikap hati menjadi ikhlas hanya karena Alloh. (Imam Hasan Al Banna, 81).
Dalam sebuah buku lain disebutkan: Perkataan: “Kita kembali dari jihad kecil (peperangan) menuju jihad besar”, yang oleh sementara orang disebut sebagai hadits, secara fakta adalah salah, dan merupakan karangan belaka yang tidak memiliki dasar. Sebenarnya perkatan ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi Ablah, seorang generasi penerus dan bertentangan antara isi dan realita.
Ibnu Taimiyah di dalam Al-Furqan PP.44-45 menulis: Hadits ini tidak mempunyai sumber yang shahih dan tidak seorang ahli hadits dan ulama pun yang diketahui pernah meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir adalah perbuatan yang paling mulia dan yang lebih penting lagi, jihad adalah perbuatan yang paling penting demi kemanusiaan.
Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa hadits ini adalah hadits dhaif (lemah) karena sumbernya adalah Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al-Khiyam . AlHakim berkata, “Hadits riwayat orang ini tidak dapt dipercaya”. Abu Ya’la Al-Khalili berkata: “Orang ini sering memalsukan hadits, seorang yang sangat lemah dan meriwayatkan hadits yang tidak dikenal” (Masyari-ul-Asywaq, Ibnu Nuhas (1/31).
Perawai lainnya adalah Yahya bin Al-Ula, seorang yang dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadits (Ahmad). Amru bin Ali, An-Nasa’I, dan Ad –Daraqutni menyatakan, “Haditsriwayat orang ini tidak diakui”. Ibnu Adi menyatakan, “Hadits riwayat orang ini adalah palsu” (Tahzibut-Tahzib 11/261-262). Ibnu Hajar berkata, “Dia dituduh telah memalsukan hadits”. (At-Taghrib). Ad-Dhahabi mengatakan , “Abu Hatim berkomentar bahwa orang ini bukanlah seorang perawi hadits, Ibnu Ma’in menggolongkannya sebagai seorang yang lemah, dan Ad-Daraqutni berkata bahwa orang tersebut dapat diabaikan”. (Syeikh Abdullah Azzam, 75: 2002).
Mengapa pula perlu diuraikan derajat perkataan tersebut di sini adalah karena banyak dari kaum muslimin yang mendasari dirinya untuk tidak ikut berjihad hanya karena hadits palsu ini. Dengan ini pula beragam makna tentang jihad muncul ke permukaan. Kalangan yang mengaku ‘aliran Islam yang santun’ menekankan konsep jihad demikian dengan gencarnya.
Golongan intelektual tak ketinggalan mengatakan, menuntut ilmu termasuk jihad, dan lain sebagainya. Bahkan saking takutnya dengan segala yang berbau jihad, maka mereka yang getol menyeru jihad ditangkapi, dan ada ide untuk menutup pondok pesantren dan lembaga yang diduga keras mengajarkan jihad dalam kurikulum pendidikannya. Bahkan tidak mungkin yang menulis artikel inipun dicap sebagai FUNDAMENTALIS ISLAM, ISLAM RADIKAL, PENGIKUT ABU BAKAR BA’ASYIR, dan lain sebagainya.
Sekalipun masih banyak lagi hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai jihad diantaranya ialah amar ma’ruf nahi munkar, tetapi pada prinsipnya, bagi para pelakunya tidak akan mendapatkan syahadah kubra dan pahala sebagai mujahid. Sebab pahala ini sangat dikhususkan kepada mereka yang gugur di medan pertempuran fi sabilillah.
Sebagaimana pula disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal (Shahih Al-Jami’ no. 2828) bahwa “Ibadah yang paling tinggi nilainya adalah jihad”.
Sungguh beda nilainya antara tembaga, perak , emas, platina, alumunium, yang kesemuanya adalah logam. Dan sungguh beda imbalan yang akan di dapat oleh orang yang mengucurkan keringatnya dan darahnya di medan peperangan bila ia ikhlas dengan orang yang mengucurkan keringatnya karena mengetik artikel ini saking ruangannya tak ber-AC.
Joserizal Jurnalis pun berjihad dengan pisau bedahnya, Dyah Risang Ayu pun berjihad dengan penanya, Neno Warisman pun berjihad dengan seminarnya, Hidayat Nur Wahid pun berjihad dengan partainya, Tamsil Linrung pun berjihad dengan dananya untuk mewujudkan penerapan syari’at Islam di Sulawesi Selatan, semuanya berjihad —sekali lagi—dengan keahliannya.
Namun sungguh berbeda pahala yang akan diterima oleh tukang becak asal Tegal yang sudah berada di tanah jihad di Palestina dan telah menjadi syahid di sana atau dengan Habib Rizieq Syihab yang tidak hanya berkoar menyerukan dan membuka posko pendaftaran jihad namun sudah berangkat ke Iraq melalui Yordania untuk membunuh tentara agresor Amirikiyyah wal Britaniyyah.
Sekali lagi sungguh amat berbeda pahala yang akan mereka terima, karena ini berbanding lurus dengan segala kesusahan dan kengerian di medan perang, yang juga berbanding lurus pula dengan azab yang akan mereka (para mujahiddin) terima bila ia tidak ikhlas berjihad karena-Nya semata namun hanya karena mengharap pujian manusia belaka.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Q.S. Al-baqoroh: 216).
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati;bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka…(Q.S. Ali Imron: 169). Allohu a’lam bishowab.

Rujukan:
1. Al-Qur’an yang mulia;
2. Join the Caravan, Syeikh Abdullah Azzam, Azzam Publication, 2001;
3. Laa Izzata illa bil Jihad, Imam Hasan Al-Banna, Generasi Kita Press.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Diedit 18:00 15 Januari 2006

Perkenalkan Nama Saya: HEDONIS


17.01.2006 – Perkenalkan Nama Saya: HEDONIS

Sudah menjadi Hedoniskah Kita……………..?

Dalam suatu program yang ditayangkan setiap malam minggu oleh salah satu stasiun tv, dibahas tuntas tentang kemewahan dunia yang dimiliki para pengusaha dan selebritis dunia. Di tampilkan pula tentang kehidupan mereka dari pagi hingga malam dengan surga dunianya, mulai dari istananya , perabotannya, jet pribadinya, mobil-mobilnya dan banyak lagi yang lainnya.

Salah satunya adalah seorang pengusaha keturunan Arab yang mempunyai kerajaan bisnis di Spanyol. Begitu banyak mobil mewah yang ia punyai mulai dari Lamborghini sampai Jaguar, dari yang terkuno sampai yang paling canggih. Semuanya terparkir di Istananya di selatan Spanyol bak sebuah showroom. Satu lagi ia mempunyai sebuah mobil kuno yang kini tiada duanya di dunia, tentu ini berarti betapa mahalnya mobil tersebut. Belum lagi istana dengan puluhan kamar mewahnya. Dan saya yakin mobil atau kamar itu tak semuanya terpakai.

Tak lupa di akhir acara itu dilukiskan pula bagaimana kehidupan sosialnya dengan warga masyarakat sekitar. Ia membangun sebuah masjid besar dan indah, serta menyumbang berbagai macam kepentingan publik. Pokoknya ia digambarkan sebagai sosok dermawan bagi kota itu.

Ada lagi sosok kaya lain yang berasal dari salah satu negara teluk. Ia begitu membanggakan perhiasan emasnya yang begitu berlimpah, rumahnya yang besar, isri yang cantik dan lain sebagainya. Pokoknya semua keindahan dan kenikmatan dunia ada pada orang tersebut. Yang entah kapan kita akan dapat menikmatinya, kecuali di Surga nanti (itupun kalau kita pantas mendapatkannya).

Sekarang mari kita lihat di Ethiopia, Palestina, Bangladesh, atau Indonesia, di mana kemiskinan sudah menjadi keseharian di sebagian besar penduduknya yang mayoritas muslim. Untuk memenuhi kebutuhan dasarnya—pangan, sandang, papan—saja mereka harus bersusah payah. Bila mereka tak sanggup, lalu putus asa, maka jalan pintas dengan bunuh diri menjadi solusi. Na’udzubillah.
Lalu apa hubungannya antara orang kaya yang disebut di awal tadi dengan kemiskinan yang begitu mencolok di sebagian negara tersebut? Adalah suatu ketimpangan. Ketimpangan yang seharusnya tak pernah terjadi. Yang membuat saya tambah miris lagi adalah ternyata banyak dari mereka yang bertampang Arab dan mengaku Islam.

Dalam Islam, kemiskinan merupakan tanggung tanggung kawab sosial bagi orang-orang yang mampu dan juga merupakan tanggung jawab agama. Apakah mereka tidak mempunyai kepekaan tentang keadaan umat? Sedangkan kemubadziran selalu mereka abadikan dalam setiap detak jantung mereka.

Kita bisa lihat betapa ketika negara-negara penghasil minyak tersebut mulai menghasilkan miliaran dollar dari emas hitamnya, jalanan di Paris terutama di sebuah jalan yang terkenal dengan pusat mode dunianya dipenuhi para emir berjubah dan wanita yang ber-abaya hitam.
Bank-bank di Eropa pun mulai kebanjiran dana dengan banyaknya deposito yang ditanamkan di sana dengan bunga yang tidak mereka ambil. Gaya hidup hedonisme pun bermunculan di negara-negara teluk yang sekitar sembilan puluh tahun lalu masih hidup dengan peradaban nomadennya.

Benar apa yang pernah dikatakan oleh Rosululloh bahwa satu yang dikuatirkan yang akan terjadi pada umatnya adalah kemewahan dunia yang menyilaukan. Ibnu Khaldun –rahimahulloh- dalam Mukadimah-nya berkata: ”Kehidupan mewah (jetset) merusak manusia. Ia menanamkan dalam diri manusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan perilaku buruk lainnya. Nilai-nilai yang baik yang notabene merupakan tanda-tanda kebesarannya hilang dari mereka dan berganti dengan nilai-nilai buruk yang merupakan sinyal kehancurannya dan kepunahannya. Itulah di antara ketentuan Alloh yang berlaku pada makhluk-Nya yang menjadikan negara sebagai ajang kedzaliman, merusak strukturnya dan menimpakan penyakit kronis berupa ketuaan yang membawa kepada kematiannya.”(Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998:34)

Apa yang akan diperoleh dari suatu negeri yang hedonismenya begitu berurat berakar? kita lihat di Qur’an Surat Al-Isra ayat 16:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Kenyataan apa pula yang akan didapat oleh para hedonis itu? Wahn, ya Wahn itulah yang akan mereka peroleh. Cinta dunia dan takut mati. Dan mereka tidak , akan memperdulikan siapa pun, yang mereka pikirkan bagaimana kesenangan itu akan tetap abadi dengan mereka.
Padahal dengan segala kekayaan yang dimilikinya itu semua bisa untuk mengentaskan dan membawa maju kembali Islam dan umatnya kepada peradaban yang tinggi dan gilang gemilang. Apalagi dengan adanya dua organisasi besar umat Islam yakni OPEC dan OKI. Seharusnya dengan adanya dua organisasi itu umat bersatu dan mendapatkan manfaatnya yang lebih besar. Sungguh luar biasa.
Namun apa yang terjadi? OPEC dan OKI sekarang ini sudah tak mempunyai gigi taring lagi setelah era Faisal bin Abdul Aziz yang pernah menggunakan minyaknya sebagai alat untuk menekan Amerika dan sekutunya pada tanggal 6 Oktober 1973. Produksi minyak dikurangi dan pengirimannya ke Amerika Serikat dan Belanda dihentikan. Kebijaksanaan ini diikuti oleh beberapa negara Arab lainnya, sehingga harga minyak melonjak dan melumpuhkan banyak negara industri.(Ensiklopedi Islam Jilid I, 1999:162)

Sekarang apa yang dikatakan oleh para emir itu ketika mereka diminta untuk memboikot dan mengontrol minyaknya? “Tak semudah membalikkan telapak tangan….”, kata mereka. Padahal Raja Faisal pernah mengatakan sebuah kalimat yang sekarang amat terkenal ketika ditekan oleh Amerika Serikat untuk segera melepas aksi embargo minyaknya, kurang lebihnya demikian: “siapa yang butuh minyak, merekalah yang butuh minyak, kami tidak membutuhkannya, dan kami siap untuk kembali ke zaman onta.” Semoga Alloh memberikan kelapangan padanya.

Entahlah, ketika para penerusnya tidak bisa berbuat apa pun untuk dunia Islam ini. Entahlah mereka yang berada di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi. Dalam tataran kebijakan yang akan diambil oleh suatu negara mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika Saddam dengan seenaknya menganeksasi Quwait—sehingga mereka harus meminta bantuan Amerika Serikat dan sekutunya yang jelas-jelas tidak seiman.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara-saudara mereka di Bosnia dan Chechnya terbantai—hanya Malaysia yang jauh di ujung timur saja mau menerima para pengungsi Bosnia. Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika banyak dari mereka yang merasa terdiskriminasi ketika mereka berada di Amerika Serikat pasca 11 September.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara-saudara mereka dihujani berton-ton bom di Afghanistan, mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika ratusan anak di Irak mati setiap harinya karena kelaparan, dan masih banyak lagi yang lainnya gemingnya mereka.

Sekali lagi mereka tak berbuat apa-apa dalam tataran kebijakan yang akan diambil oleh negara, dan ternyata yang berbuat nyata dari mereka adalah NGO-NGO nya, atau bahkan individual-individual mereka yang tergerak membantu saudara-saudaranya. Yang nyata adalah aksi boikot dari sebagian warganya terhadap produk Amerika Serikat dan Israel, itupun hasil dari kesadaran sendiri bukan hasil dari suatu kebijakan yang ditempuh negara mereka. Jadi apa yang terjadi pada para emir kita yang ada di tanah sana. Wahn kah mereka…?

Kita tak bisa menuduh mereka tanpa kita mengoreksi terlebih dahulu tentang keadaan kita di sini . Di negara yang kaya akan sumber daya alamnya, firdausnya bumi yang kini tetap bertahan untuk tetap hidup setelah lebih dari setengah abad yang lalu merdeka, setelah hampir delapan tahun berlalu dari pesta akbar terakhirnya, yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Apakah hedonisme itu ada di negara kita ini…?
Tak usah jauh-jauh melihatnya, tonton acara televisi kita, sepertinya tak ada krisis di negeri ini, atau bagi yang setiap harinya berkeliling di Jakarta sering melihat begitu banyaknya mobil yang harganya di atas satu milyar berseliweran di jalanan. Atau di sekitar segitiga emas Jakarta, restoran mahal sepertinya tak pernah sepi dari pengunjung di setiap siang atau malamnya. Sekali lagi terasa tidak ada krisis.

Apa salahnya mereka membelanjakan hartanya untuk kesenangan dunia mereka setelah bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Tidak ada yang salah. Kita sebagai muslim tak ada salahnya pula menikmati hidup mewah. Islam tidak menganjurkan untuk selalu hidup menderita dan melarat serta tidak berpakaian trendi.

Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Yazid bin Harun yang berkata bahwa Asma’ pernah mengeluarkan jubah yang di border dengan dibaj dan berkata: “Dengan jubah inilah dulu Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam menemui musuh-musuhnya”. HR Ahmad dan Abu Daud. Jadi penampilan dengan sedikit mewah dibenarkan untuk tujuan menerima tamu undangan dan psy war terhadap musuh-musuhnya. Yang dilarang ialah hanyut dalam kemewahan sebagai gaya hidup dan dasar negara. (Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998: 36-37).

Apakah hedonisme ada pada sebagian pemimpin kita? Apakah tidak cukup bukti dengan adanya pesta tahun baruan di Bali yang menghabiskan uang 10 miliyar dan ulang tahun sebuah partai politik dengan dana 1,4 miliyar, atau konser-konser mahal lainnya? (Sabili 14 Th.X:112), atau penyelenggaraan pesta pernikahan super mewah di hotel? Kalaupun hedonisme itu tak masalah, tapi layakkah itu semuanya dilakukan pada saat anak bangsa ini begitu menderita dengan banyaknya kenaikan harga bahan kebutuhan dasar? Ketika kemiskinan sudah menjalar ke semua sendi kehidupan.

Sekarang kita nilai diri kita sendiri, yang bekerja di sebuah direktorat di departemen ternama di republik ini. Jangan-jangan gaya hidup itu sudah menjangkiti kita. Apakah kita sering berganti-ganti handphone seiring dengan perkembangan trendnya? Atau kita sudah merasa tidak cukup untuk memiliki satu handphone?
Atau dengan mobil yang mentereng itu yang kayaknya sudah bosan untuk kita pakai. Atau dengan pakaian dan ikat pinggang yang kesemuanya harus bermerek? Atau dengan gaya hidup kita yang harus selalu makan siang di luar kota dan kembali pada saat jam kantor sudah menunjukkan jam empat sore?
Atau dengan gaya hidup kita yang malu untuk memakai pakaian yang sama di setiap resepsi sehingga memaksa kita untuk mempunyai pakaian yang harus baru?—sedangkan jika dipikir-pikir kalau memaksakan demikian kayaknya kita layak disebut orang yang simpatik (simpanse pakai batik, maaf), karena tidak mau tahu akan keterbatasan yang kita miliki.
Jadi, pikirkan gaya hidup yang manakah yang sering kita lakukan tanpa memikirkan keadaan sekeliling kita. Gaya hidup yang sering menimbulkan kemubadziran dan kesia-siaan, gaya hidup yang memaksakan diri, gaya hidup yang pada akhirnya lupa akan kesyukuran kita, gaya hidup yang membawa kita pada kufur nikmat, gaya hidup yang menjauh dari sifat qona’ah, gaya hidup materialisme, gaya hidup yang memandang dunia sebagai ukuran, gaya hidup yang bersumber dari harta yang tidak jelas; gaya hidup yang melupakan kematian, dan semua gaya hidup yang melupakan cinta-Nya.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; sampai kamu masuk ke dalam kubur; janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu); dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui; janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin; niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim; dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin; kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). QS At-Takaatsur:1-8.

Jadi ketika hati kita sudah tak tersentuh dengan segala ketidakadilan yang dialami umat di seluruh penjuru bumi ini, maka kita perlu instrospeksi diri kita, jangan-jangan hedonisme itu sudah menjadi darah daging kita, jangan-jangan wahn itu telah menjadi sumsum tulang kita. Kita berlindung dari semuanya itu.

Sekarang apa yang kita harus lakukan untuk memerangi hedonisme itu? Apakah cukup dengan perintah petinggi kita kepada bawahannya untuk memboikot acara pesta pernikahan—yang juga termasuk anak buahnya—karena diselenggarakan di sebuah ballroom hotel berbintang ? (memenuhi undangan pernikahan itu wajib, tapi kita berhak juga untuk tidak datang ketika di pesta itu diperkirakan banyak kemaksiatan, dan kalaupun kita berniat tidak datang, niatkan karena itu, bukan karena takut tidak memenuhi perintah atasan dan nantinya DP3 kita akan jelek).

Contoh di atas sudah cukup baik—karena mulai dari yang di atas terlebih dahulu—tetapi akan lebih baik lagi ketika para atasan juga secara makro menciptakan sistem yang anti hedonisme, sistem yang tidak menjadikan setoran sebagai alat ukur dari keberhasilan seseorang.
Yang paling penting adalah diri kita sendiri untuk mulai saat ini tidak berlaku hedonisme. Sering memandang ke bawah dalam hal keduniawian, dan selalu memandang ke atas dalam prestasi kerja dan keakhiratan. Atau kejarlah duniawimu seakan-akan kau akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok hari.

Dengan berintrospeksi ini, kiranya Alloh memudahkan kita menyingkirkan hedonisme itu, dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang peka terhadap keberadaan umat ini. Sadar tentang akibat yang akan diperoleh bagi orang-orang yang mempunyai wahn dalam dirinya, dan sadar tentang nikmatnya berjihad—karena orang yang wahn boro-boro memikirkan jihad, memikirkan perut saudaranya sendiri pun tak kan pernah terlintas dalam benaknya.

Oh….dunia,
Indahnya engkau selalu menghalangi aku bercinta dengan-Nya
Oh…dunia,
Gemerlapmu sering melupakanku kepada-Nya
Oh…dunia,
Kapankah aku memegangmu hanya dalam genggamanku, tidak dalam hatiku
Oh…dunia,
engkau sesungguhnya tak sebanding dengan setitik debu akhirat sekalipun
tapi mengapa banyak yang masih terpesona olehmu….?
Ya Alloh aku berserah diri padamu, dan hindarkanlah aku dari kebencianmu karena aku mengatakan apa yang tidak aku lakukan, sebagaimana Engkau telah firmankan:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?; amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. Q.S. Ash-Shaff: 2-3.
****
(untuk dua anakku yang tercinta yang sedikit tersia-sia karena aku menulis ini di sepanjang Ahad, di gerimisnya sore, di pinggiran Bojonggede, 2 Pebruari 2003).

Maroji’:
1. Alqur’anul karim;
2. DR. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998;
3. Ensiklopedia Islam Jilid I, PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1999;
4. Sabili Edisi 14 Tahun X, 30 Januari 2003.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ditulis di tahun 2003
diedit 12:52 14 Januari 2006

BERHENTI MEROKOK ITU GAMPANG


16.01. 2006 – BERHENTI MEROKOK ITU GAMPANG

Ini merupakan pengalaman pribadi tentang kebiasaan merokok yang mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Semoga pengungkapan ini bukanlah pengungkapan aib yang telah ditutupi oleh Allah, tapi sekali lagi hanya sekadar berbagi pengalaman yang pernah saya alami pada zaman dahulu kala (zaman tatkala masih ada T-Rex dan Kingkong. Alah,…ini cuma guyon).

Seingat saya pertama kali merokok adalah pada saat saya duduk di kelas lima SD. Itu pun hanya sekadar ikut-ikutan teman, dan rokoknya pun hanya kertas buku yang digulung menjadi lintingan kemudian diisap. Itu saja.

Lalu tidak lama, gulungan kertas itu berganti menjadi klobot yang diisi dengan tembakau. Ini pun hanya sesekali saja. Menginjak SMP, karena bergaul dengan banyak teman dan karena bisa mencari duit sendiri dengan berjualan asongan rokok di Jalur Kereta Haurgeulis – Cirebon , serta didukung kehidupan kereta yang amat keras, serta pergaulan dengan para pecandu rokok maka kebiasaan merokok semakin menjadi dan merasa telah kecanduan ketika kelas tiga SMP.
Apalagi setelah SMA, di mana saya harus hidup berpisah dengan orang tua dan mulai kost di tempat bibi saya, di barat Cirebon. Merokok pun menjadi kebiasaan yang tak bisa dilepaskan lagi pada setiap harinya. Tiada hari tanpa asap rokok di kamar kost. Habis makan merokok, belajar matematika pun sambil merokok, jalan-jalan sambil merokok. Nonton bioskop tak nyaman kalau tanpa merokok (maklum bioskopnya masih berbangku kayu). Pokoknya hidup rokok.

Yang paling aneh adalah kebiasaan berganti rokok. Karena saya adalah anak kost yang diberi uang setiap minggunya, maka kalau hari senin adalah hari yang paling teristimewa. Sebabnya pada hari itu saya bisa merokok Djisamsoe, rokok paling mahal pada saat itu.

Tapi semakin lama semakin habis uangnya, maka hari sabtu adalah hari yang paling merana, karena pada hari itu saya benar-benar hanya sanggup membeli rokok yang harganya Rp50,- satu batang. Itu pun dihisap berdua dengan adik saya yang sekamar dengan saya dan sudah kecanduan pula.
Biasanya kalau saya tak punya uang, saya utang dulu pada adik saya, namun pas saat itu adik saya pun kehabisan duit, maka terpaksa rokok itu dihisap berdua sehabis makan siang. Merana banget. Pokoknya sampai saat itu masih ada motto: hidup rokok…..!Tiada hari tanpa rokok.

Oh ya, saya akan sedikit menggambarkan lingkungan di tempat kost karena berhubungan erat dengan masalah rokok ini. Tempat bibi saya ini termasuk dalam lingkungan yang dekat dengan pesantren. Di musholla dekat rumah bibi selalu ada pengajaran baca Al-quran setiap hari ba’da sholat maghrib. Ini khusus untuk anak laki-laki dan dikelola oleh anaknya yang sudah hafidz 30 juz. Setelah sholat Isya lalu ada pengajian kitab kuning yang diajar oleh paman saya. Lalu ba’da shubuh pengajaran baca Al-quran khusus untuk anak perempuan.
Dengan sistem pengajian baca Al-Qur’an disana, saya harus mulai menghafal dari al-fatihah sampai benar-benar fasih (inipun hampir memakan satu bulan lamanya) kemudian diteruskan sampai surat AnNaba. Dari surat itu harus balik lagi sampai ke surat Al-Fatihah. Lalu diadakan khataman, yang lulus baru boleh baca kitab Al-Qur’an yang besar itu mulai dari juz pertama.
Saya tak sanggup untuk mengkhatamkan hafalan juz 30 selama tiga tahun itu. Saya hanya bisa sampai ke surat Annaba dan tak bisa balik lagi. Selain saya fokus hanya untuk belajar di sekolah—yang menyebabkan saya selalu disindir oleh paman karena mementingkan belajar dunia saja—saya juga terlena oleh kehidupan remaja yang walaupun amat ketat penjagaan dari bibiku, namun bisa juga dirasakan oleh saya.

Di tahun 1994, di tahun kelulusan itu saya sempat bingung mau melanjutkan kemana? Sedangkan proposal PMDK ke IPB tidak ditandatangani oleh orang tua. Padahal kata kakak kelas yang di IPB, dilihat dari nilainya Insya Alloh saya pasti lulus PMDK. Dengan alasan tak sanggup membiayai kuliah di sana.
Akhirnya kebingungan menyeruak, kemana lagi saya harus belajar. Sampai suatu ketika teman-teman mengajak saya untuk ikut pendaftaran di STAN. Kalau tidak salah bersepuluh kami mendaftar ke Jakarta.
Sampai di sana disodori pilihan spesialisasi apa yang dikehendaki. Teman-teman memilih pajak. Saya pun ikut-ikutan memilih spesialisasi itu. Yang terbersit dari hati yang paling dalam, sebenarnya saya ingin masuk ke spesialisasi Bea Cukai (BC), namun dari syarat yang harus dipenuhi untuk diterima di sana, saya harus mundur, karena tinggi badan yang kurang memenuhi pada saat itu.
Kenapa dulu saya ingin memilih spesialisasi yang cocok untuk laki-laki ini? Karena saya berpikir selain gagah dengan seragamnya juga kalau saya jadi petugas BC maka saya setidaknya dapat satu televisi selundupan untuk saya miliki dari pada dibakar (pada saat itu saya sering melihat di televisi bibi saya, banyak barang selundupan di bakar oleh kepolisian dan petugas BC). Maklum sejak SD hingga SMA saya terobsesi untuk memiliki televisi, orang tua saya tak sanggup membeli kotak ajaib itu (Saat ini kalau terlintas kembali niat dan pilihan itu, saya cuma bisa istighfar).

Setelah mendaftar itu ada sedikit kesadaran timbul, bahwa saya harus berhenti dari merokok atau setidaknya sampai saya benar-benar diterima di STAN. Karena saya takut ditolak pada saat pendaftaran ulang—padahal belum pasti saya itu bisa lulus atau tidak dari ujian STAN, soalnya dalam pendaftaran ulang itu saya harus membawa rekomendasi dari dokter bahwa paru-paru saya sehat. Sehingga saya berusaha mengurangi rokok dan selalu minum soda susu yang katanya bisa menghilangkan flek hitam di paru-paru pada saat di rontgen.

Sampai ujian masuk STAN diselenggarakan di Senayan saya tetap bertahan untuk tidak merokok. Awalnya saya gemetaran dan bibir terasa asam sekali. Saya kelimpungan dan untuk mengatasi kerinduan pada rokok itu saya beli rokok hanya untuk diciumi aromanya saja. Untuk saat itu saya sudah cukup puas.

Lalu pengumuman STAN pun tiba. Dengan doa orang tua yang tak pernah mengenal kata putus akhirnya saya diterima. Dari kesepuluh orang yang ikut mendaftar hanya berdua saja dari sekolah kami diterima di STAN. Saya di terima di spesialisasi pajak sedangkan teman saya di spesialisasi lelang.

Saya bersama bapak saya mencari tempat kost dan akhirnya saya mendapatkannya di tempat Haji Sanian, di samping Mushola al-Barkah. Saya sudah hampir dua bulan lamanya tidak merokok. Ternyata teman-teman kost saya juga tidak ada yang merokok.
Sampai suatu hari, kakak kelas mengajak saya untuk ikut pengajiannya. Di sana saya mendapatkan sesuatu yang berbeda. Mendapatkan pencerahan dalam pemahaman keIslaman. Dan mengetahui mana yang seharusnya ditinggalkan seorang muslim. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayahnya kepada saya. Dan saya berharapa semoga IA selalu menetapkan hidayah itu sampai akhir hayat saya.

Akhirnya dengan pemahaman dan semangat keIslaman yang menggelora di qolbu, serta rasa malu saya kepada teman-teman sepengajian maka akhirnya saya bertekad untuk meninggalkan rokok selama-lamanya. Azzam yang kuat.

Setahun setelah itu, adik saya diterima juga di STAN spesialisasi akuntansi. Adik saya pun diajak untuk ikut pengajian yang saya ikuti. Ia yang semula kecanduan akhirnya bisa meninggalkan rokok untuk selama-lamanya. Saat ini ia bekerja di BPKP Padang dan tetap tidak merokok.

Sekarang tahun 2006, hampir dua belas tahun lamanya saya meninggalkan dunia rokok. Zaman dahulu kala, rokok adalah hidup mati saya. Saya lebih baik kelaparan daripada tidak merokok. Kalaupun saya terdampar di padang pasir luas dan harus memilih antara satu bungkus cigarillos dengan seteguk air, tetap saya memilih yang pertama. Tapi sekarang NO WAY untuk rokok. Slogan dulu: hidup rokok! telah berganti dengan: MATI ROKOK…..!!!! Sekarang mencium baunya saja, sudah menyesakkan dada.

So, meninggalkan kebiasaan dan kecanduan merokok itu mudah. Gampang. Bagaimana caranya? Inilah cara saya:
1. AZZAM (tekad), sekali lagi harus mempunyai AZZAM yang kuat;
2. Lingkungan yang mendukung tanpa rokok artinya jangan mendekati atau berteman dengan para perokok;
3. Harus punya rasa malu. Malu dong masa aktivis (kepada mereka yang mau jadi aktivis) merokok?;
4. Camkan ke dalam hati yang paling dalam bahwa rokok itu adalah awal dari gejala penyalahgunaan psikotropika;
5. Pasti ingat bahwa rokok itu penyebab kanker, penyakit jantung, impoten, keguguran, kerusakan pada janin?;
6. Jangan lupa berdoa.

Kalau saya bisa, mengapa anda tidak?
riza almanfaluthi, saat diajak teman untuk mengenang masa lalu
2003
Diedit 09:15 14 Januari 2006

Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…


16.01.2006 – Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…
Belum juga surut gaung studi banding legalisasi judi, kini masyarakat Indonesia kembali digegerkan upaya segelintir orang untuk menerbitkan majalah Playboy Indonesia. Dengan sistem franchise, izin penerbitannya pun sudah diperoleh pada akhir November 2005 yang lalu.
Kini mereka sudah mengadakan audisi playmate—model yang akan ditampilkan di halaman utama—walaupun secara tertutup. Dan rencananya majalah itu akan beredar Maret 2006 nanti. Pengusung majalah pengeksploitasi aurat perempuan ini tentu saja bersikukuh bahwa penerbitannya akan disesuaikan dengan apa yang bisa diterima oleh masyarakat. Tetapi tak menampik bahwa foto-foto syur pun tetap akan ada. (Detikhot).
Mereka pun tak takut dengan kontroversial yang akan terjadi dengan peluncuran majalah itu di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim ini. Dengan melihat betapa sekarang pun telah banyak beredar dan di jual di lapak-lapak majalah pria yang juga menampilkan aurat wanita. Apalagi dengan harga seribu rupiah sudah mendapatkan tabloid serupa yang lebih hot di sepanjang pintu tol Tomang, Jakarta.
Lagi-lagi alasan klise dengan berlindung di balik keindahan, cita rasa seni yang tinggi dan tidak murahan, ekspresi rasa syukur kepada Tuhan, menjadi justifikasi. Apalagi dengan jaminan bahwa majalah itu tidak akan sembarangan beredar, hanya dijual di toko-toko buku terkemuka, serta menitikberatkan distribusi pada sistem berlangganan untuk meraih pembacanya.
Kembali di sini terjadi pertarungan wacana antara sekulerisasi dan integralisasi ideologi dalam berkesenian. Di mana bertahun-tahun sebelumnya pertarungan ini sudah didahului pada ranah kesusastraan dengan adanya pembagian sastra Islam di satu sisi dengan sastra tanpa embel-embel di belakangnya di sisi yang lain.
Perlu dicermati pula bahwa rencana penerbitan ini yang sengaja diekspos lebih dini dan akan menjadi kontroversial, ditinjau dari aspek pemasaran maka apa yang diinginkan pengusungnya tercapai sudah. Selain publikasi gratis juga akan dapat dilihat kecenderungan ke mana arah angin keinginan masyarakat bertiup.
Menolak atau menerima. Bila iya, maka Rencana A: penerbitan dengan lebih berani akan segera terlaksana. Bila tidak, rencana B harus dilakukan berupa penundaan peluncuran sampai waktu yang tidak dapat ditentukan atau menunggu lengahnya imun dari masyarakat.
Namun tentunya, kelengahan itu jangan sampai terjadi di tengah keinginan mayoritas bangsa ini keluar dari keterpurukan, kemiskinan, degradasi moral, dan rentetan musibah sepanjang tahun lalu bahkan di awal memulai tahun barunya.
Akankah tidak terpikir tentang musibah apa lagi yang akan menimpa bangsa ini dengan adanya niatan semu itu? Akankah tidak terpikir kerusakan moral apalagi yang akan dialami oleh para generasi penerus bangsa ini, yang sudah dibombardir dengan tayangan porno melalui siaran televisi, piranti-piranti cakram bajakan, telepon genggam, dan internet?
Akankah tidak terpikir naiknya angka kejahatan berupa kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan, trafficking, pedophilia atau semuanya itu sekadar onggokan angka statistik tiada berguna?
Atau akankah pemerintah pun kembali mengulang langkah paradoksal dengan membiarkannya begitu saja beriring dengan program peningkatan sumberdaya manusia Indonesia?
Mengutip pendapat seseorang di sebuah milis: “ketika di dalam kerja keras membenahi pendidikan bagi anak bangsa, pengupayaan peningkatan pengalokasian dana yang cukup, pembenahan sistem pendidikan, perbaikan gedung-gedung sekolah dan disertai peningkatan kesejahteraan guru, ditengarai ada upaya-upaya yang kontra produktif, yang mengikis dan menggerogoti output yang ingin dihasilkan, maka berapa besarkah dana yang akan terhambur sia-sia?” (Arnoldison, 13/1/06). Ya, sia-sia.
Tapi di saat mata hati menjadi bebal kesia-siaan pun hanya dianggap masalah kecil dan resiko yang harus diterima sebagai negara yang akan maju dalam pergaulan global. Tentu dengan sejuta argumen yang telah dikokang. Semisal tidak ada relevansi yang signifikan antara kemajuan dan kedigdayaan suatu bangsa dengan penerbitan-penerbitan tidak bermoral tersebut.
Namun tidakkah kita bisa mengambil pelajaran penting tentang keruntuhan peradaban umat Islam dengan kota-kota gilang gemilangnya di Baghdad, Cordova, Granada, Sevilla, ataupun Istanbul? Ya, keruntuhan terjadi di saat aspek moral sebagai PONDASI suatu peradaban berada pada titik nadir.
Bahkan Prancis yang tergolong negara besar, memiliki militer terlatih dan dipersenjatai dengan senjata-senjata canggih, serta diprediksikan oleh sebagian pengamat sanggup memberikan perlawanan kepada Jerman di saat perang kedua, pada kenyataannya mereka menyerah dengan mudah, tanpa syarat, bertekuk lutut di bawah kaki Hitler. Satu analisis penting dari kekalahan tersebut adalah Perancis dilanda dekadensi moral parah yang dibungkus dengan nama kebebasan (Alwakkil: 1998).
Ataukah kita akan bercermin pada polisi dunia Amerika Serikat (AS) di mana keluarga sebagai PILAR PENEGAK suatu peradaban dengan berjalannya waktu semakin ringkih dan tidak mempunyai ketahanan mental yang kuat. Single parent akibat perceraian ataupun kumpul kebo, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan psikotropika, hingga gank-gank kejam yang tidak mengenal hukum dan perikemanusiaan.
Tinggal menunggu waktu saja dari keruntuhannya, yakni di saat hukum dan penegakkannya sebagai ATAP PELINDUNG suatu peradaban hanya sanggup mengaum di atas kertas.
Lalu bagaimana dengan tanah air tercinta ini? Di saat penegakan hukum tidak berjalan, akankah dua hal lain paling esensi suatu peradaban yakni moral dan keluarga pun menjadi tidak kokoh, lemah, ringkih bagaikan sarang laba-laba?
Tentu kita akan sama-sama berseru: Tidak! sambil menata langkah-langkah perbaikan ke depan. Maka, langkah pertama adalah sudah sepatutnya pemerintah sebagai pemegang otoritas sah bersikap tegas. Pelegalisasian rencana undang-undang antipornografi dan pornoaksi menjadi suatu hal yang niscaya. Ketegasan ini perlu agar kebingungan para pakar terhadap pendefinisian pornografi dan pornoaksi berhenti. Dan tentu berhenti dengan keperpihakan pada nilai-nilai moral dan etika yang termaktub pada agama yang dianut mayoritas bangsa ini, yang tentunya juga ada pada agama lainnya.
Langkah Kedua tidak bisa dilepaskan dari peran para perwakilan rakyat di DPR RI dalam mempercepat pembahasan rencana undang-undang tersebut yakni dengan memetakan kekuatan kawan dan lawan. Sehingga dengan demikian diketahui seberapa besar kekuatan riil dari para pengusung moral dan pendukung materialisme. Setelahnya jika perlu pengerahan massa berupa parlemen jalanan dapat dibentuk sebagai kekuatan penyeimbang. Selain sebagai bentuk pengawasan atas kinerja anggota DPR yang seringkali lambat dalam menelurkan legislasi dan tidak sebanding dengan gaji/tunjangannya yang diterima.
Langkah ketiga adalah dengan tetap mempererat silaturrahim dan menyinergikan gerak dari para partai Islam, ormas Islam, LSM dan tentunya pula dengan media Islam serta pemuka-pemuka agama-agama lain yang seide agar tetap menjadi kekuatan penekan yang selalu diperhitungkan. Dengan tidak bosan-bosannya membuat pernyataan sikap, pembentukan opini melalui media massa, dan penyebaran ide perlawanan pada setiap khutbah sholat jumat.
Ketiga langkah di atas akan percuma bila tidak ada dukungan dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Berupa langkah tidak membeli, tidak membaca, tidak menonton produk-produk erotisme dengan alasan apapun. Yang terpenting lagi adalah azzam atau tekad dari setiap muslim untuk selalu terpanggil melakukan amar makruf nahi munkar. Sebagaimana himbauan Ikatan Da’i Indonesia agar setiap muslim harus proaktif dan terdepan dalam menebar nilai-nilai kebaikan dan memusnahkan nilai-nilai kejahatan.
Bila tidak, maka dengarkanlah firman Allah dalam surat AlJaatsiyah ayat 23 ini: ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.
Bila tidak, maka bersiaplah-siaplah melihat seorang bapak sembunyi-sembunyi, ragu-ragu membeli Playboy, sambil bergumam: ”oh Yes, oh No.” Ya, karena dia penasaran. Tidak, karena risih, malu, dan takut ketahuan anak-anaknya. Na’udzubillah.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:02 15 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AINA LAHUM ‘INDAAMAA aL-HARBU ‘ALAA aL-‘IRAAQI


16.01.2006 – AINA LAHUM ‘INDAAMAA aL-HARBU ‘ALAA aL-‘IRAAQI

Dimana Mereka Saat terjadi Perang Irak…?

Invasi yang sudah memasuki minggu ketiga itu kini telah memakan korban sipil begitu banyak, ratusan orang telah tewas, ribuan lainnya luka-luka dan kehilangan tempat tinggalnya yang telah rata dengan tanah. Perang telah memisahkan orang tua dengan anak-anaknya, suami dengan istrinya, dan telah menghilangkan kebebasan manusia untuk hidup damai.

Siapa yang tidak menangis melihat bayi yang tak berdosa menjadi korban perang dengan tubuh yang telah terbakar dan tidak utuh. Siapa yang tidak terketuk nuraninya melihat seorang ibu histeris dengan memukul-mukulkan tangan ke kepalanya karena enam orang anaknya telah menjadi mayat.
Dan siapa yang tidak panas hatinya melihat warga setempat diperlakukan semena-mena. Menyuruhnya supaya bersujud dan diam sembari memukulkan popor senjata ke kepala saat digeledah di tanah air mereka sendiri oleh pasukan penjajah karena mereka dianggap termasuk bagian dari Fida’in Irak. Tak ada tempat bagi mereka yang berusia muda untuk hidup bebas karena agresor telah menganggap mereka bagian dari suatu rezim otoriter.

Semuanya itu bisa kita saksikan dan kita dengar di layar kaca, media cetak, dan radio-radio dalam maupun luar negeri. Dunia mengecam kesombongan Amerika, demonstrasi marak di seantero dunia. PBB yang diharapkan menjadi penengah dalam konflik ini tidak bisa berbuat apa-apa. Sidang darurat Dewan Keamanan kemarin bukannya mengeluarkan resolusi mengecam invasi tersebut malah mengeluarkan resolusi yang dapat diartikan malah menjustifikasikan invasi tersebut yakni tentang dilanjutkannya program pangan Oil for Food yang sempat terhenti untuk Irak.

Dan saya melihat semuanya, saya merasa bukan orang Arab, dan saya pun dibatasi oleh jarak dengan daerah konflik tersebut.Yang saya rasakan, saya hanya orang Islam yang gemas melihat ketidakadilan yang menimpa umat Islam sekarang ini, setelah Bosnia, Chechnya, India, Palestina, Philiphina, Ambon, Afghanistan dan sekarang saatnya Irak. Kita semua melihatnya.

Saya sampai bertanya-tanya tentang kemampuan orang Arab dalam menyelesaikan konflik yang sudah berpuluh-puluh tahun melanda kawasan tersebut. Yang paling lawas adalah konflik Palestina sejak Israel yang dibantu Inggris dan PBB berdiri pada tahun 1948, sampai sekarang Palestina tetap menjadi ladang pembantaian bagi orang-orang Arab. Atau konflik teranyar di akhir abad ini yaitu invasi Saddam ke Kuwait, dengan alasan Kuwait telah merampok minyak Irak melalui pengeboran di sepanjang perbatasannya.

Secara ekstrim saya sampai bertanya-tanya manakah jiwa kepahlawanan orang-orang Arab pendahulu atau khususnya Ikhwanul Muslimin dalam setiap pertempuran. Sedangkan yang saya dengar dan lihat di media sekarang ini adalah kekalahan-kekalahan dan korban-korban yang berjatuhan di pihak Arab. Jangan-jangan semua semangat kepahlawanan itu bualan belaka dan hanya ada di buku-buku saja—yang kemudian saya sadari tidak demikian, karena tanpa jiwa dan ruhul jihad dan kepahlawanan itu tak mungkin ada Alhambra di Cordova, Samarra di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, Taj-Mahal di India, Maqam Sa’id bin Abi Waqqash di Cina, Masjid Agung di Demak, bahkan Masjid Raya di Roma.

Secara ekstrim lagi adalah saya tidak perlu lagi peduli dengan Irak dan masalah kaum muslimin lainnya di kawasan Timur Tengah sana, karena saya selalu merasa sakit hati saja melihat tayangan-tayangan dan berita saat ini. Yang menggambarkan betapa kekuatan sekutu telah hampir mendekati Baghdad dan lagi-lagi korban yang ditampilkan menjadi mayat ataupun tawanan perang adalah orang-orang Arab.
Daripada saya sakit hati dan membuat pikiran tidak bisa menanggung beban berlebihan serta daripada saya selalu mengucapkan kata-kata ARAB BAHLUL ketika menyaksikan tayangan-tayangan itu, lebih baik cari channel lain dan nonton film holywood yang bagus-bagus, menonton tayangan kriminal, atau channel gosip-gosip murahan. Tapi pada akhirnya tetap juga tidak bisa, selain saya tidak suka tayangan-tayangan murahan tersebut, saya tidak bisa membiarkan hati ini beralih dari kecintaan terhadap saudara-saudara saya di sana yang sedang menderita. Tapi sejujurnya saya ikut merasakan penderitaan mereka.

Yang saya sesalkan adalah mana tindakan dari saudara sebangsanya sendiri melihat semuanya itu. Tidakkah mereka tergugah? Tidakkah orang-orang Kuwait itu sadar bahwa Yusuf al-Qorodhawi telah berfatwa bahwa haram hukumnya menyediakan fasilitas apapun kepada siapapun juga yang akan memerangi kaum muslimin?
Tidakkah mereka sadari bahwa orang-orang Kuwait itu telah mempergunakan uang zakat yang merupakan hak kaum muslimim di dunia sebesar 20% dari hasil pertambangan minyaknya, untuk menyewa anjing-anjing penjaga dan satpam-satpam Amerika untuk menjaga wilayahnya dan menyerbu Irak? Tidakkah mereka lupakan sejenak peristiwa 1991? jangan pikirkan tentang perbuatan tiran dan diktator Saddam Hussain dulu, pikirkan sajalah rakyatnya yang notabene adalah satu rumpun dan bangsa dengan mereka.

Yang saya pertanyakan pula adalah mana fatwa ulama-ulama Arab Saudi? sedangkan ulama Syi’ah saja yang merupakan “musuh ‘aqidah” orang sunni memfatwakan kepada kaum muslimin dunia wajib berjihad melawan agresor yang akan menindas dan mengusir mereka. Mana peran ulama-ulama sholih yang menyesaki Mekkah dan Madinah dengan keilmuan dan kezuhudan mereka, yang menggemuruhkan Masjidilharam dengan kewara’an mereka dalam khutbah hajinya, yang menggaungkan dunia dengan suara-suara indah mereka dalam kaset dan CD murottal 30 juznya? Mana suara mereka?

Dan akhirnya saya kembali harus mengutip perkataannya Soekarno—yang sempat saya idolakan namun kemudian saya samakan dia dengan diktator Gamal Abdul Nasser bahkan Saddam Hussain sendiri, yang mengorbankan dan memenjarakan para ulama sholih demi kepentingannya. Soekarno pernah bilang: JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya pun merunut ulang sejarah.

Jazirah Arab pernah menjadi pusat peradaban dan pemerintahan, serta kekhalifahan Islam tepatnya di Medinah pada masa Rosululloh SAW hingga khalifaturrasyidin terakhir yakni Ali bin Abi Thalib. Setelah itu pusat Islam dipindahkan ke Damaskus sebagai Ibukota dari Dinasti Umayyah. Kemudian Baghdad menjadi Ibukota selama Kekhalifahan Bani Abbasiyyah. Cordova menjadi kota peradaban cemerlang di barat dari keturunan Dinasti Umayyah.
Peradaban Islam diwarnai pula dengan sejarah Istanbul yang menjadi Ibukota Kekhalifahan Ustmani. Dengan segala potensi keilmuan dan sejarah yang dimilikinya, kota Madinah tidak dapat kembali menjadi pusat pemerintahan Islam sejak wafatnya Ali di tahun 661 M sampai sekarang.

Bahkan kota Mekkah yang suci sekalipun sejak zaman Rosululloh tidak pernah menjadi pusat kekuasaan Islam, walaupun pernah diusahakan oleh Abdullah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid—ibunya bernama Asma’ binti Abu Bakar. Bibi dari ibunya yaitu Aisyah ummul mukminin. Dan bibi dari ayahnya yaitu Khadijah istri pertama Rasulullah SAW. Semoga Alloh meridhai mereka.
Ibnu Zubair tidak dapat melanjutkan perlawanannya melawan Bani Umayyah setelah Mekkah dikepung oleh Hajjaj bin Yusuf (semoga Alloh melaknatnya) selama lima bulan dan sepuluh malam. Ibnu Zubair wafat setelah bertempur dan dikepung rapat oleh pasukan lawan. Hajjaj bin yusuf langsung sujud syukur atas terbunuhnya Ibnu Zubair lalu mengirimkan kepalanya ke Damascus. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa 17 Jumadil Ula 73 Hijriah / 692 Masehi.

Setidaknya kalau melihat potensi Arab Saudi sekarang ini, dengan cadangan minyaknya yang melimpah, adanya dua kota suci Ummat Islam, potensi hampir tiga juta jama’ah haji, maka sudah selayaknya penguasa Arab Saudi dapat memanfaatkannya sebagai pusat peradaban Islam yang kuat, namun itu tak terjadi.
Malah yang terjadi kemudian adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai wali mereka untuk menjaga negaranya dari ancaman musuh. Khamar yang semula diharamkan untuk masuk ke Arab Saudi, sejak perang teluk pertama menjadi barang yang mudah dijumpai dan dikonsumsi oleh pasukan-pasukan sewaan.
Hal inilah yang dianggap oleh Usamah bin Ladin bahwa pemerintahan Arab Saudi telah mengingkari Islam. Padahal sebelumnya Usamah dengan segala kekayaan yang dimilikinya dan jalur Afghanistannya pernah menawarkan diri untuk menjaga tanah Arab itu dari kemungkinan invasi Saddam sehingga tidak perlu mendatangkan pasukan asing. Namun hendak dikata apalagi, pemerintah Arab Saudi menolaknya dan malah mengusir serta mencabut kewarganegaraannya.

Yang aneh adalah sikap dari ulama-ulama di Mekkah dan Madinah yang notabene sampai sekarang menjadi rujukan ilmu fiqih dari seluruh dunia, bahkan menjadi pusat dari Dakwah Salafiyah dunia—sampai-sampai untuk mengeluarkan Laskar Jihad dari Ambon saja Ustadz Ja’far Umar Thalib meminta fatwa dari ulama Salafi yang ada disana. Dan kebanyakan dari mereka hampir tidak menyentuh dunia politik sama sekali—terkecuali di Indonesia ini dengan keterlibatan Laskar Jihad di Ambon—bahkan dalam hal menyikapi Palestina ataupun Irak saat ini. Mengapa demikian?

Dan kalau kita kembali melihat sejarahnya, maka yang menjadi pilar dari berdirinya Dinasti Su’ud sekarang ini adalah pemuka bangsawannya sendiri, para ulama, serta para pemimpin suku di daerah-daerah. Yang paling menonjol dari pilar tersebut adalah pilar ulama ini setelah bergabungnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pelopor gerakan Ishlah dunia muslim.
Salah satu dari dua syarat yang diminta oleh Pangeran Muhammad bin Su’ud kepada Syeikh adalah “hendaknya Syeikh tidak meninggalkan mereka, dan merekapun TIDAK DIGANTI oleh orang lain”. Mengenai syarat itu, Syeikh berkata kepada Pangeran: “rentangkan tanganmu, aku berba’iat padamu. Darah harus dibayar dengan darah, dan perang dengan perang.” Syeikh meyakini bahwa kebenaran itu harus mempunyai kekuatan yang mendukungnya. Karena Alloh akan melenyapkan dengan kekuasaan, apa-apa yang tidak dilenyapkan dengan Al-Qur’an.

Bertemunya dua kepentingan itu ternyata mendatangkan manfaat ganda. Pada satu sisi, tahun 1773-1818, gabungan kekuatan itu mempersatukan masyarakat Islam untuk pertama kalinya sejak masa-masa awal. Pada sisi lain, bagi seluruh dunia Islam, gerakan pemurnian ini bergema dengan timbulnya gerakan perang terhadap bid’ah di berbagai negeri muslim.

Namun yang terjadi kemudian setelah wafatnya Syeikh adalah peran dominan dari ulama dalam kehidupan politik tidak ada sama sekali, yang menonjol adalah peran dari kaum bangsawan ini, terutama pada saat pemerintahan Raja Faisal. Pergerakan Islam dunia selain dakwah salafiyah tak ada geliatnya sama sekali. Peran ulama di sana saat ini adalah membentengi mainstream salafiyah dari pemikiran dan pergerakan Islam lainnya untuk tetap eksis dan tetap menjadi penopang dari monarki Arab Saudi.

Maka tidaklah aneh hingga saat ini belum ada satupun keterlibatan ulama salafi untuk memberikan fatwa bagaimana menyikapi serbuan Amerika dan Inggris ke Irak. Karena hal ini merupakan hal yang sensitif yang setidaknya akan membuat perpecahan di antara ketiga pilar itu. Kerajaan akan kehilangan mukanya di hadapan tuan besar Amerika ketika dianggap tidak bisa mengendalikan ulamanya yang selama ini diberikan tunjangan sangat besar.
Dan bagi para ulama ini akan menyebabkan hilangnya privillege yang selama ini dinikmatinya. Pada akhirnya entah sampai kapan kita—terutama saya—akan mendengar fatwa dari ulama-ulama sholeh itu yang akan menyejukkan ummat, yang akan menghentikan kesombongan Amerika, yang akan membangkitkan ruhul jihad muslimin di seluruh penjuru dunia, atau mungkin kita takkan pernah mendengarnya hingga Irak dan tanah air Islam lainnya benar-benar akan jatuh ke tangan Amerika dan kaum kuffar lainnya.

Sekarang saya dan Anda hanya menunggu datangnya pertolongan Alloh melalui ababil-Nya dengan perantaraan do’a-do’a yang kita panjatkan di setiap akhir shalat. Dan kita tetap akan menyaksikan pembantaian itu sembari minum teh manis hangat di pagi hari dan merutuki para emir Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, pengkhianat Kurdi Sekuler, dan para antek Amerika yang membiarkan semua itu terjadi, karena kebodohan dan ketidakmampuan kita pula untuk membantu mereka.

Allohu ‘alam bishshowab. Semoga Alloh memaafkanku karena kelancanganku ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(Q.S. 5:51)

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang”. (Al-Mumtahanah:1)

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. (HR Muttafqun ‘Alaih).

Daftar Bacaan:
1. Al-Qur’anul Karim;
2. Buku Sunnah yang mulia;
3. Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (Akar Idologis, dan Penyebarannya), Al-Ishlahy Press, 1995;
4. Fajrul Islam, Dr. Ahmad Amin, 1965;
5. Al-Firaq Bainal Firaq, Isfirani;
6. Ensiklopedi Islam; 1997
7. Qadatu-Fathi’l-Iraqi
8. Wajah Dunia Islam, Pustaka al-Kautsar, 1998;
9. Zionis Israel atas Hak Palestina, Luqman Hakim gayo, Penerbit Arikha Media
Cipta, 1993;
10. Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Joesoef Sou’yb.

Ps.:
Artikel di atas ditulis saat dimulainya penyerbuan Agresor Amerika ke Iraq. Sekarang banyak beredar VCD tentang kekalahan-kekalahan yang diderita prajurit pengecut Amerika oleh para mujahidin Iraq.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Diedit, 12.00 14 Januari 2006

Doa Keselamatan Buat Bush dan Blair


16.01.2006 – Doa Keselamatan Buat Bush dan Blair

Dalam sebuah diskusi tentang perang teluk kedua, seorang peserta pada akhirnya berkesimpulan dan menyeru untuk bersama-sama mendoakan kebaikan dan keselamatan dunia akhirat buat dua pentolan penggagas perang teluk pertama dan kedua itu. Diskusi berakhir geger dan membuat kemarahan sebagian yang lain, karena ini menyangkut kezaliman dua rahwana tersebut terhadap dunia Islam.
Dari diskusi tersebut saya mencoba untuk merunut kembali pada sejarah masa lalu, Rosululloh SAW dirundung kesedihan saat paman yang sangat dicintainya, Abu Thalib (penyembah berhala) meninggal dunia. Di tengah suasana duka beliau memohon kepada Alloh SWT agar mengampuni segala dosa dan kesalahannya. Tapi Alloh SWT menegurnya, bahwa dalam persoalan agama ada batasan-batasan toleransi yang tidak boleh dilampaui.

Melalui firman-Nya beliau diingatkan untuk tidak mendo’akan orang yang tidak seiman, “sama sekali tidak layak bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampun untuk orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu keluarga dekatnya setelah jelas kepada mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim” (Q.S. At-Taubah: 113)

Berbicara tentang masalah do’a mungkin ada orang yang mempersoalkan jika Nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin tidak boleh mendo’akan orang-orang musyrik, lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim As. Yang berdo’a untuk ayahandanya yang kafir, sebagaimana digambarkan dalam Qur’an: “Dan ampunilah bapakku karena sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. Asyu‘ara: 86).

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa do’a Nabi Ibrahim ini esensinya ialah meminta kepada Alloh SWT agar ayahandanya ini diberikan hidayah dan petunjuk supaya menjadi orang beriman. Bahkan menurut Imam Qatadah, setelah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahandanya adalah musuh Alloh, Ibrahim berlepas diri darinya.

Q.S. At-taubah, 114 berbunyi sbb: Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Alloh) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Alloh, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Jelasnya, berdo’a untuk orang-orang musyrik agar mereka diberi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kebaikan, dan sebagainya tidak diperbolehkan. Hal itu bukanlah bentuk dari toleransi. Mendo’akan mereka berarti mengakui dan membenarkan eksistensi kekafiran mereka.

Maka sungguh tidak pantas bagi mereka yang mengaku dirinya beriman mendo’akan Bush dan Tony Blair untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat setelah tampak jelas di hadapan kita dan masyarakat dunia lainnya permusuhannya terhadap Islam, kesombongan mereka yang layaknya Fir’aun dan Hamam, dan kebencian mereka. Serta aksi mereka yang telah mencabut ribuan nyawa dengan perang yang mereka lancarkan.

Tapi bagi para penganut teologi inklusif-nya Ulil Absar Abdilla, dalam hal mendoakan kebaikan terhadap mereka hal ini sah-sah saja, dengan anggapan bahwa tidak ada istilah kafir dan musyrik karena semua agama di dunia adalah benar. Jalan boleh beda-beda namun tetap satu tujuan yakni penyembahan kepada Tuhan Sang Maha Transenden. Jadi menurut mereka Bush dan Blair bukan orang musyrik, mereka juga penganut agama kebenaran. Sah-sah saja mendoakan kebaikan untuk mereka. Begitukah…? Sesungguhnya mereka telah dibutakan mata dan hatinya dalam melihat kebenaran. Allohua’lam.

Maraji’: 1. Alqur’anul Karim, 2. Sabili, 9/X/2003
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
dipublikasikan di tahun 2003
diedit kembali 13:59 14 Januari 2006

Kutunggu Bapak di Masjid


16.01.2006 – [TIPIKOR]-Kutunggu Bapak di Masjid

Siang itu begitu panas. Matahari dengan teriknya membakar Jakarta. Tak ada yang tersisa dari hujan yang turun dua hari sebelumnya. Dengan peluh yang membasahi wajah, saya menuntun motor menuju pelataran parkir Polda Metro Jaya. Citizen masih menunjukkan pukul satu lebih lima menit. Setelah menyampirkan jaket, saya bergegas menghampiri petugas parkir untuk menanyakan di mana letak kantor TIPIKOR.

Petugas tersebut langsung menunjuk ke arah menara tinggi di sebelah selatan, dan mengatakan bahwa kantor tersebut berada di bawah menara itu. Pfhh…kurang lebih seratus meter jaraknya dari tempat saya berdiri.
Kembali saya melangkahkan kaki dengan tergesa agar tidak kehilangan waktu. Soalnya, batas waktu untuk menjenguk hanya sampai jam dua siang. Setelah bertanya kesana kemari—sampai beberapa kali tersesat, dan di ping pong berulang kali—akhirnya saya sampai di depan pintu besi tebal yang terkunci dari dalam dan berjendela kecil seukuran muka saja.

Saya ketuk pintu besi, dan jendela kecil itu terkuak. Muncul sebuah wajah dan langsung menanyakan apa keperluan saya. Saya katakan saja bahwa saya ingin menjenguk tetangga saya yang sedang berada dalam sel itu sambil menyebut namanya.
Petugas tersebut dengan muka masam hanya meminta saya untuk menunggu, kemudian dia menutup kembali jendela itu. Dan saya masih berdiri di depan pintu itu sambil terbengong-bengong, tidak ada penjelasan sampai kapan saya harus menunggu. Saya melihat ke sekeliling, tidak ada tempat untuk berteduh yang nyaman, yang ada hanyalah bedeng tempat para pekerja sedang menyelesaikan renovasi gedung TIPIKOR.

Saya menghampiri bedeng itu untuk sekadar menghindari terik matahari yang sepertinya semakin menyengat penduduk bumi. Di sana sudah menunggu sambil berdiri seorang ibu dengan dua orang anaknya. Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya saya mengetahui bahwa kunjungannya pun sama yakni untuk menjenguk. Dia akan menjenguk suaminya yang terlibat dalam suatu aksi perampokan yang gagal. Ibu itu mengatakan bahwa suaminya hanya diajak oleh temannya. Sambil tersenyum kecut dia bilang, “sudah enggak ada hasilnya, ketangkep lagi”.

Dia pun menanyakan siapa yang akan dijenguk oleh saya. Saya hanya bilang, ”seorang tetangga”. Ibu itu kaget setengah tidak percaya. “Tetangga saja kok dijenguk segala”, tukasnya. Ya, memang saya hanya menjenguk seorang tetangga. Walaupun tidak satu RT dengan saya, sudah kewajiban seorang muslim untuk dapat menghibur saudaranya.

Saya tidak kenal dekat dengan tetangga saya itu, sebut saja Pak Anton (bukan nama sebenarnya). Dia adalah anggota legislatif periode 1999-2004 dari partai pemenang pemilu tahun 1999. Dia termasuk orang yang disegani di komplek saya. Semua orang tahu, dialah yang rajin menyumbang dana untuk menyokong kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di komplek kami. Mulai dari acara agustusan, kegiatan besar di masjid, pelopor pemasangan lampu penerangan jalan ber-watt besar, kegiatan senam pernafasan, sampai betonisasi jalan di RT-nya. Hingga akhirnya diangkatlah ia menjadi Ketua RT. Namun sayangnya dia jarang pergi ke Masjid.

Sampai suatu ketika, di penghujung masa akhir jabatannya—Pak Anton dipastikan tidak terpilih lagi karena dia membelot dan menjadi caleg dari partai baru pimpinan salah seorang putri proklamator. Sayang suara pendukungnya tidak memungkinkan kembali untuk mengantarkannya menduduki kursi empuk anggota dewan.
Bahkan surat kabar nasional memberitakan adanya aduan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat kepada Polda Metro Jaya tentang telah terjadinya tindak pidana korupsi di DPRD Kota X, yang pula menyebutkan namanya sebagai salah satu calon tersangka.

Akhirnya beberapa minggu kemudian dijemputlah Pak Anton dari rumahnya menuju Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan, sampai kemudian ditetapkan bahwa dia resmi menjadi tersangka bersama ketujuh belas anggota lainnya yang termasuk dalam kepanitiaan anggaran di dewan.

Tidak ada kegegeran di komplek saya, semua diam, sampai-sampai pula nyaris tidak ada orang yang menjenguknya. Sepengetahuan saya, kecuali istrinya, baru ada dua orang yang menjenguknya. Itu pun tidak satu RT dengannya.
Berita itu sampai ke telinga pengurus masjid Al-Ikhwan, yang dulu sempat berseberangan tentang suatu masalah. Keluhan Pak Anton tentang tidak ada yang menjenguknya dari para pendukung yang dulu selalu menempelnya menjadi bahan pemikiran Dewan Keluarga Masjid untuk mengutus saya menemui dan bersilaturahim dengannya. Untuk itulah siang itu saya berdiri lama menanti pintu besi ini terbuka.

Akhirnya setelah menunggu lima belas menit lamanya, keluar rombongan yang ada di dalam dan pengunjung yang berada di luar saling berebutan untuk masuk. Ruangan itu berukuran kurang lebih seratus meter persegi. Di sinilah tempat menjenguk itu. Antara ruangan utama dengan deretan sel-sel di sepanjang lorong hanya dibatasi jeruji. Di samping kanan ada jendela berjeruji, tempat tersangka kasus narkoba bertemu dengan penjenguknya, dan tidak ada kursi sehingga harus berdiri untuk berkomunikasi.
Setelah menyerahkan KTP ke petugas jaga, sambil menunggu Pak Anton dipanggil saya diminta untuk duduk dulu di bangku panjang seperti bangku tunggu di puskesmas. Beberapa saat kemudian, Pak Anton yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek, keluar sambil mencari-cari siapa yang menjenguknya. Saya berdiri dan menghampirinya, tampak sekali ia terkejut melihat kedatangan saya. Di mulai dari salam, jabat tangan erat, dan menanyakan kabar kesehatannya, akhirnya kami mengobrol panjang.

Tentang bagaimana bermulanya kasus ini, pertentangan antara Undang-undang Otonomi Daerah dan Peraturan Pemerintah yang sudah diperintahkan oleh Mahkamah Agung untuk dibatalkan, character assassination, aspek politik yang amat kental dalam penangkapannya, kaitannya dengan pilkada langsung, dan usahanya untuk keluar sesegera mungkin dari sini.

Satu yang terucap darinya, “sesungguhnya ada hikmah di balik semua ini, saya lebih memahami tentang roda kehidupan, bahwa orang tidak selamanya selalu berada di atas, tentu ada masanya ia untuk di bawah, entah pelan-pelan atau sengaja dijatuhkan, dan didorong secara tiba-tiba dengan menyakitkan”.

“Kini saatnya kembali merenungi perjalanan hidup saya dan lebih mendekati pada Yang Di Atas, apalagi ramadhan sebentar lagi kan jelang, sedih saya tidak berkumpul dengan keluarga”, lanjutnya. Sesaat saya terpaku, sungguh ini menjadi nasehat mulia.
Tak terasa, hampir satu jam lamanya saya berbincang-bincang dengannya. Waktu besuk ternyata masih lama, tidak sampai jam dua tapi sampai jam tiga siang. Di akhir perbincangan, istrinya yang bekerja sebagai PNS di Pemerintah Kota X datang sambil membawa bungkusan makanan.
Saya mempersilahkan kepadanya untuk melepas kerinduan pada istrinya. Ini pula kesempatan saya pamit berpisah dengannya. Matanya berkaca, sungguh dia merasa tersanjung dan bahagia dikunjungi utusan DKM Al-Ikhwan. Saya peluk erat dirinya, dan membisikkan di telinganya, “kami tunggu bapak di masjid”.
***
Kembali saya arungi Jakarta dengan motor plat merah butut ini. Saya bersyukur motor ini masih bisa membawa saya melakukan sedikit kebaikan selain tugas utamanya mengantarkan saya menagih utang dari bule ke bule, dari India ke India, dari cina ke cina, dari makian ke makian, dari hibaan ke hibaan, dari panas dan dinginnya hujan.

Seperti rasa syukurnya saya dengan nikmat kebebasan yang ada pada saya. Kadang kita sadari, manusia memahami rasa syukur ketika kenikmatan yang dulu ia punyai sudah tiada di sisinya. Manusia sadar perlunya bersyukur tentang nikmat kebebasan dan kemerdekaan ketika ia sudah berada di dalam sel.
Pula tentang nikmat sehat baru ia sadari ketika sudah jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Tetapi sungguh terlambat orang yang mengetahui perlunya bersyukur tentang nikmat kehidupan ketika ia sudah mati. Sebagaimana digambarkan AlQur’an tentang manusia yang menghiba-hiba kepada Rabb-Nya untuk dihidupkan sekejap saja ke dunia agar banyak berbuat kebaikan yang tidak pernah ia lakukan di muka bumi. Tapi sungguh ia terlambat.

Kadang sebagai manusia, kita memang perlu untuk bersilaturahim dan menjenguk orang sakit, mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan, atau ta’ziah ke pekuburan, selain sebagai perwujudan pemenuhan hak-hak saudara-saudara kita, juga sekadar mengingatkan tentang banyaknya nikmat yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh yang dikunjungi. (Tapi saya rasa bukanlah tempatnya seorang lajang yang berkunjung dalam suatu walimatul ‘urus,y mensyukuri nikmatnya sebagai lajang yang tidak lagi dipunyai oleh sepasang mempelai.) Saya teringat Arrahman. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

Sehari menjelang ramadhan, Pak Anton diberikan status sebagai tahanan kota. Malam kedua, ia ikut tarawih bersama kami. Setelahnya pun ia ikut tadarusan. Membaca ayat demi ayat bersama kami. Shubuh tadi pun ketika saya sedang menulis ini, azan mengalun darinya. Sungguh ini hadiah ramadhan bagi kami. Semoga ini adalah buah dari silaturahim dan selamanya tetap bergabung dengan kami.

Aid bin Abdullah Al-Qarny dalam bukunya “Don’t be sad”—yang menjadi buku terlaris di abad modern di dunia Arab—pernah mengatakan: maka berilah perhatian kepada orang lain dan berterimakasihlah atas kebajikan yang telah dilakukannya.

Allohua’lam.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Edited 11.00 14 Januari 2005

Menikah Tanpa Cinta


13.01.2006 – Menikah Tanpa Cinta, Why Not?

Tak bisa dibayangkan pada zaman sekarang menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Dengan bersusah payah meniti dari waktu ke waktu—di samping pula banyaknya biaya yang dikeluarkan—untuk dapat mengetahui lebih dalam kepribadian masing-masing. Hingga saatnya pun tiada kata-kata yang terucap dari bibir mereka kecuali: I Love You.
Dengan semaian kalimat itu cinta semakin tumbuh, tumbuh, dan tumbuh sampai mereka terikat benar dalam suatu tali yang bernama pernikahan. Namun sebagiannya malah terjerumus dalam buaian dunia hingga batasan, aturan, dan kesucian pun ternoda. Bila perlu—entah karena tidak tahu atau disengaja—ada ruh yang terbentuk sebagai penghuni baru sang rahim layaknya inden sebuah mobil.
Malah yang lebih ekstrim, mereka memproklamirkan diri untuk tidak menikah, karena buat apa menikah kalau mereka sudah sama-sama cinta dan sudah sama-sama tahu tentang diri masing-masing, itu alasan utamanya.
Lalu tak bisa dibayangkan pula pada zaman sekarang menikah dengan gaya Siti Nurbaya yang tidak perlu ketemu dengan pasangannya, dijodohkan, ditanya mau atau tidak, lalu jadilah mereka mengucapkan perkataan yang berat hingga mengguncang ‘arsy.
Tak bisa dibayangkan lagi pada zaman sekarang yang semua ukurannya adalah kebendaan dan kedudukan, menikah tanpa cinta, tanpa rasa kasih sayang yang muncul tiba-tiba saat mendengar lagu-lagu melankolis, saat hujan rintik-rintik hingga menderas, saat berjalan di rel panjang lurus hingga ke ujung cakrawala, saat ombak menjilat jejak-jejak tapak kaki di tepian pantai pasir putih.
Lalu tak bisa dibayangkan lagi pada zaman sekarang yang hampir semua penghuninya memuja kemewahan, sebagian penghuninya yang lain menikah dengan bermodalkan azzam dan pencarian remah-remah rahmah Sang Kuasa.
Betulkah? Faktanya adalah sebaliknya. Saat ini semuanya tidak hanya bisa sekadar dibayangkan tapi bahkan bisa disaksikan, betapa banyak jiwa-jiwa memilih pasangannya dengan perjodohan bergaya Siti Nurbaya, tanpa pacaran, tanpa cinta, dan hanya bermodalkan kedekatannya pada Sang Pemilik Jiwa, tidak dengan bertumpuk-tumpuk hepeng dan emas permata.
Lalu setelahnya, bisakah tumbuh tunas-tunas cinta, menjadi pepohonan kasih sayang, berbuah kata-kata manis yang memerah, dengan dedaunan lebat penyejuk hati? Bisakah?
Lalu bisakah cinta itu tumbuh di saat belahan jiwanya tidak mempunyai kecantikan dan kegagahan dengan parameter barat? Tidak sekaya para emir pemilik ladang minyak? Ataupun tidak mempunyai catatan darah biru bangsawan Jawa, trah habaib, ataupun klan ternama? Bisakah?
Bisa. Karena para jiwa itu menyadari parameter mereka bukan duniawi. Parameter mereka adalah ukhrawi, yang tak bisa dinilai dengan segala isi bumi dan langit. Parameter mereka adalah keridhoanNya. Parameter mereka adalah addiin yang suci dan putih. Parameter mereka adalah kelangsungan penerus di jalan terjal, berliku, sepi, penuh onak dan duri, thoriqudda’wah.
Bisa, Karena para jiwa itu menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemilik segala cinta di alam semesta ini, yang membolak-balikkan hati, pemilik segala jiwa, pemilik segala rindu, mahakaya, mahamurni. Lalu mengapa ia tidak mengetuk-ngetuk pintu langit, meminta kepadaNya saat ia membutuhkan cinta itu tanpa menodai kesucian agama ini, kesucian diri, dan kesucian calon belahan jiwanya.
Bisa, jawab Anis Matta. Sudikah mendengar sedikit ceritanya pada kitab ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”? (Pustaka Ummi, 2000) Inilah kisah indah itu.
Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”
Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.
Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.
Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.
Dan kesetiaan itu adalah bintang di langit kebesaran jiwa. (p26-27).
Wahai saudaraku, jika tiba-tiba kesadaran itu muncul setelah membaca dan merenung, lalu mengapa takut untuk menikah? Mengapa takut tiada hari esok yang cerah tanpa “bondo”? Mengapa takut tiada martabat tertinggi sedangkan martabat itu bisa engkau rengkuh saat menjadi orang yang paling bertaqwa, bukan sekadar martabat dunia yang remeh temeh itu? Mengapa takut tidak ada cinta di antara kalian, wahai saudaraku?
Aku katakan saja untuk terakhir kalinya: ”Menikah tanpa cinta, why not?”

Ps. Untuk kawan-kawan di timur dan utara.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
kali banjir, Citayam 05:52 12 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

The Hobbit


12.01.2006 – The Hobbit
Kemarin, baru saja saya menyelesaikan membaca yang kedua kalinya buku karangan JRR Tolkien ini. Walaupun Anda sudah membaca novel lainnya yang sudah difilmkan oleh Peter Jackson, trilogi The Lord of The Ring mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, hingga The Return of The King, maka itu belumlah lengkap sebelum Anda baca buku yang berjudul The Hobbit.
Karena peristiwa besar di trilogi itu berawal dari seratus tahun sebelumnya yang diceritakan dalam buku ini. Dengan ditemukannya cincin setan oleh tokoh utamanya Bilbo Baggins, kakek Frodo Baggins, dalam sebuah dasar gua gelap di pegunungan berkabut.
Buku yang saya temukan di rak toko buku di bilangan Kalibata Maret 2004 lalu itu memberikan gambaran utuh dari kisah-kisah yang dibuat oleh Tolkien ini. Membaca bukunya tidak membuat kening berkerut karena selain tampilan font-nya lebih besar dari buku trilogi juga penuh dengan petualangan yang menegangkan dari para tokoh-tokohnya yang terdiri Gandalf sang penyihir putih, satu hobbit dan tiga belas kurcaci.
Sekadar menambah informasi saja, buku Tolkien ini dijadikan oleh bangsa barat sebagai rujukan dalam penamaan dan penggambaran makhluk-makhluk aneh selain manusia, seperti Orc, Goblin, Warg, Troll, Elf, Hobbit, dan Dwarf. Empat nama pertama selalu menjadi pihak kejam, sadis, dan selalu berlawanan dengan tiga yang terakhir kawan manusia.
Saking menariknya hingga saya membacanya berulang-ulang kali dan menambah penasaran saya pada buku-buku Tolkien lainnya. Sampai saat ini saya belum menemukannya, dengan mencarinya di toko buku ataupun searching di internet. Mungkin kalaupun ada, itu pun masih dalam bahasa aslinya. Entah di suatu hari nanti.
So, baca ini baru itu…
dedaunan di ranting cemara
hujan lebat
17:48 10 Januari 2006