AVG Penghapus Brontok


11.01.2006 – AVG Penghapus Brontok

Dengan menggunakan instalasi AVG Anti-Virus Free Edition edisi Oktober 2005 ditambah update terbarunya per tanggal 10 Januari 2006, Brontok di Personal Computer saya langsung terdeteksi. Sebelumnya dengan update per tanggal 06 Januari 2006, anti virus gratisan ini masih belum bisa mendeteksi adanya Brontok tangguh ini.
AVG memang program ringan dan sudah menjadi alternatif bagi para penggunanya selain anti virus branded yang beratnya minta ampun, selain dari ukurannya serta waktu yang dijalankan saat scanning.
Yang saya salut juga dengannya adalah kita bisa langsung mengupdatenya dengan update terbaru tanpa terlebih dahulu menginstall update versi sebelumnya. Berbeda dengan Norton Anti Virus (NAV) yang pernah saya install, kita tak bisa mengupdate versi terbarunya sebelum update versi lamanya terinstall terlebih dahulu.
So, bagi Anda yang sampai saat ini komputernya belum sehat juga maka saya sarankan untuk memakai AVG Anti Virus dan tentu jangan lupa untuk meng-update-nya. Insya Allah, sepertinya Oythea konsisten untuk meng-upload-nya di fordis pada tema komputer.
Tambahan saja, secara manual saya juga telah coba menghapus brontok dengan tiga cara dari tiga guru yang berbeda hasilnya nihil. Entah pakai shampoo, brontok cleaner, ataupun enabreg. Tapi ini bisa juga untuk penjagaan atau alat finishing touch setelah kita jalankan AVGnya.
Sebagai referensi lainnya antivirus yang sudah terbukti sanggup menghilangkan brontok adalah Kaspersky, tapi itu sebatas katanya karena program itu belum saya coba. Itu saja dari saya.
ps. thanks berat sama Oythea, sudah kasih update terbaru dan sarannya.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:55 11 Januari 2006

Rindu Arafah


09.01.2006 – Rindu Arafah

linanganku Ya Allah
menjadi saksi betapa aku merinduiMu
menjadi pengisi dari telinga yang mencari panggilanMu
akankah hati dan kaki ini menujuMu
bilakah hati dan kaki ini menujuMu
aku rindu arafahMu
aku rindu jabalrahmahMu
aku rindu rumahMu
jangan biarkan aku meratap ya Allah
kerana Engkau tak memanggilku segera
jangan biarkan tetesan bening ini melaut menjadi samudera
kerana Engkau tak memanggilku segera
jangan biarkan buliran cinta ini mengering menjadi sahara
kerana Engkau tak memanggilku segera
bilakah aku berpeluh di arafahMu
hingga aku berteriak labbaik Allohuma Labbaik
sungguh aku takut berpeluh di mahsyarMu
hingga aku berteriak:
jadikan saja aku domba
yang tak akan dimintakan
pertanggungjawaban olehMu ya Allah
bilakah aku ke arafahMu?

dedaunan di ranting cemara
saat aku merindui Arafah
17:31 09 Januari 2005

Institut Dayakologi Hingga Brontok Lagi


09.01.2006 – Institut Dayakologi Hingga Brontok Lagi

Lembur, Institut Dayakologi, hingga Brontok
Sabtu, 07 Januari 2006 10.00 – 15.00 WIB
Dalam setahun pelaksanaan system administrasi modern, baru kali ini saja ada nota dinas kepala kantor kepada para pegawainya untuk datang pada hari sabtu kemarin. Lembur nih ceritanya. Karena ada perubahan sistem, jadi kita-kita pegawai diharuskan untuk datang supaya tahu apa saja perubahannya langsung dari pegawai DIP kantor pusat.
Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh pagi, jadwal lembur dimulai jam sepuluh, tapi motor masih juga belum selesai di cuci. Nih, orang dari jam delapan motor sudah dititipin belum juga dikerjain dari tadi. Setengah memaksa saya meminta supaya motornya jangan terlalu bersih dicuci (soale nanti kelamaan). Akhirnya lima menit kemudian selesai juga, walaupun masih basah karena belum dilap. Nggak apa-apa nanti juga kering sendiri.
Berkutat di jalanan Jakarta di hari sabtu, ternyata sama saja dengan hari biasa. Macet juga tuh. Mengingat kejadian rabu kemarin, saya masih trauma untuk ngebut. Tapi kadang ngebut juga sih, kalau jalanan sedikit sepi.
Sampai di kantor satu jam kemudian, saya kira saya yang paling telat, eh ternyata banyak juga yang datangnya bareng sama saya. Malah ada yang datangnya lebih lambat dari saya. Yang lebih kacaunya, ternyata DIP datang jam sebelas siang lagi. Dan coba bayangin kita cuma disuruh nyalain komputer doang, lalu boleh pulang.
Yaaaa, kalau cuma ngerjain kayak ginian, gak perlu ada nota dinas-nota dinasan, lembur-lemburan, datang-datangan, kebut-kebutan (emang elo ngebut, za?). Sudah menempuh puluhan kilometer, BBM jadi tak bisa dihemat (untung saya pakai motor), acara perlu diskedule ulang, tidak bisa berkumpul sama keluarga yang memang sudah waktunya berkumpul dengan mereka, dan satu yang lain: tidak dibayar lagi. Kita kan professional, harusnya pada waktu lembur perlu juga tuh dihargai. Tapi kemarin dihargai juga tuh walaupun dengan sekotak nasi. (Btw, emang tahu upah lembur PNS , berapa sih?)
Tapi setidaknya, sambil menunggu badan ini segar kembali, saya coba ngenet dengan IP address milik Kasi. Asyik juga, cepat banget man. Nggak kayak hari kerja, yang leletnya minta ampun. Ibaratnya kalau kita buka satu halaman saja, kita bisa ngeteh (nggak ngopi, coz saya tidak suka kopi) duluan sampai habis.
Di Google, saya cari berita tentang tragedi sampit 2001, setelah di Jumat kemarin melihat di Fordis ada kepala berserakan. Apa sih yang melatarbelakangi peristiwa itu? Pertanyaan itu membuat saya mencoba untuk berimbang dengan mencari berita selain dari BBC yang tendensius sekali, juga dari Institut Dayakologi dan dari pihak Dayak lainnya. Cukup memberikan kepada saya banyak wawasan tentang Sampit 2001. Tapi tidak usah saya ceritakan di sini, panjang dan mengerikan juga.
Apalagi membaca berita tentang 80 orang etnis pendatang yang digiring oleh salah satu kelompok etnis lainnya ke sebuah hotel yang bernama Hotel Rama Sampit, dan setelah itu tidak ada kabar tentang nasib mereka. Saya langsung mengaitkan berita itu dengan berita lainnya yang disampaikan oleh teman saya, waktu berkunjung ke Palangkaraya. Di Hotel Rama tersebut, ada satu kamar penuh yang isinya cuma kepala doang. Allohua’alam tentang kebenaran berita ini.
Selain ngenet tentang Sampit, saya juga coba mencari anti brontok yang sampai detik ini komputer saya masih terinfeksi oleh virus yang terus mengembangkan variannya.
Saya download antibrontok, saya coba seek and destroy, saya coba buka registry, saya hapus folder exe, dan tralalala…. berhasil booo. Folder option-nya berhasil terlihat. Sekarang sudah bersih komputer nih.
Saya coba memasukkan UFD (USB Flash Disk), search, waow, banyak juga folder exe-nya. Saya coba tekan Del untuk menghapusnya. Tapi apa mau dikata, yang saya tekan enter, virusnya jadi aktif lagi. Saya coba seek and destroy lagi. Sampai jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, komputer masih saja restart, buka, restart lagi. Saya menyerah juga akhirnya, apalagi orang DIP sudah menunggu di belakang saya untuk coba upgrade sistem administrasi baru. Yah sudah saya lepas, kali aja dia coba benerin problem saya.
Bay de wey, sabtu kemarin masih sabtu yang—gimana yah—tidak ngenakin kayaknya. Tapi ada juga enaknya dikit, makan nasi kotak sama nambah wawasan tentang konflik yang pernah dialami anak bangsa Indonesia ini.
Thanks Allah.
Engkaulah yang mahamengetahui.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
05.45 08 Januari 2006 (Harpot launching hari ini)

Behind the Scene: Bojo Loro


06.01.2006 – Behind the Scene: Bojo Loro
Email itu bertubi-tubi masuk ke inbox saya. Telepon genggam Qaulan Sadiida pun tiada berhenti deringnya menerima short message services. Jikalau saya punya alat komunikasi sepertinya (hare gene, masih juga nggak punya?) , mungkin saya akan mengalami hal yang sama dengan Qaulan Sadiida.
Beragam komentar pun datang untuk membuat ending yang lebih bernas bahkan mengusulkan untuk membuat sequel—yang saya pikir nantinya akan tersia-sia seperti judul sinetron Tersanjung dengan tujuh episodenya.
Pula dengan membawa misi terselubung anti poligami dan dendam gendernya dengan menjerumuskan ke lembah kesengsaraan yang paling dasar untuk si Bima. Hingga ada yang sengaja datang ke meja kerja saya hanya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di balik Bojo Loro.
Saya cuma bisa menjawab kepada mereka, ”That is a fiction, Bro…” Tidak lebih. Jawaban itu tentu tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah memberikan komentar tentang pilihan pada happy, bad, or thrust ending , serta pada setiap bulir bening yang jatuh saat membacanya—satu email dan satu silaturahim langsung menyatakan itu.
Brother, jangan malu untuk menangis, jika menangis itu membuat jiwa kita lebih tercerahkan menyadari kekhilafan diri. Bahkan saya tak bisa membendung bulir-bulir bening ini jatuh saat membaca buku ”Bukan di Negeri Dongeng: Kisah Nyata para Pejuang Keadilan”, salah satu ceritanya ditulis oleh seorang wanita—Mbak HTR—yang sering engkau katakan: ”cewek ini berkali-kali membuatku menangis”.
Pula saat saya membaca buku ”Memoar Cinta di Medan Dakwah: Catatan Harian Seorang Aktivis” yang ditulis oleh ustadz Cahyadi Takariawan—seringkali dianggap sebagai Ketua MPR karena mirip dengan ustadz Hidayat Nurwahid apalagi beliau sering pakai baju batik.
Tentunya ini semua tak bisa dilepaskan oleh pasangan tandem saya, Qaulan Sadiida, yang dengan segenap hatinya pula berusaha untuk menyelesaikan apa yang telah menjadi bagiannya. Terus terang saja, cita rasa bahasanya tak bisa terlampaui oleh saya. Maka hasil akhirnya pun membuat saya tak lelah untuk berulangkali membaca draft Bojo Loro. Pesan singkat darinya cuma satu saat telah menyelesaikan itu: ”Semuanya dari sini,” sambil tangannya menunjuk ke arah dadanya. Hati. Segala puji hanya untuk Allah.
Maka siapa yang tak akan tergetar mendengar senandung ayat-ayat Allah yang dikeluarkan dari hati-hati guru, ustadz, dan orang-orang yang ikhlas. Maka siapa yang dapat menghalangi keindahan dari cerita yang dibuat dengan tangisan usai salat malam oleh Mbak kita yang satu ini dengan cerpen: ”Ketika Mas Gagah Pergi”.
Maka siapa pula yang menyangkal keromantisan padang pasir saat Habiburrahman menulis ”Ayat-ayat Cinta”-nya dengan menangis juga. Maka siapa yang mengingkari keikutdukaan kita saat membaca tulisan Abu Aufa di kala ia ditinggalkan anak perempuannya yang berumur sehari bernama: Hikari.
Sebagaimana seorang teman menggambarkan kesedihan itu layaknya kesedihan Muhammad Sang Musthofa ditinggalkan Ibrahim tercinta. Layaknya kesedihan bangsa ini saat dipertontonkan tsunami 12 purnama yang lalu atau banjir bandang baru-baru saja.
Hingga dari mula itu, seorang guru menulis saya sampai berkata: ”itulah kedahsyatan hati, itulah kedahsyatan fiksi, hingga orang sampai tidak bisa membedakan realitas kehidupan kita itu fakta atau fiktif.”
”Brother, that is a fiction,” ulang saya. Dengan sedikit imajinasi liar tentunya—saya tak bisa membayangkan pula keliaran imajinasi yang dimiliki JK Rowling dengan Harry Porternya, JRR Tolkien dengan The Lord of The Ring-nya, atau Afifah Afra Amatullah dengan Genderuwo Terpasung-nya.
“Brother, That is a fiction…” ulang saya. Tapi tak menyangkal pula bahwa fenomena itu memang benar-benar terjadi pada sebagian dari kita hanya karena diawali dengan chating, sms, dan email iseng sehingga pada akhirnya melonggarkan ikatan dan batasan yang dulu dipegang erat saat di kampus.
“Brother, that is a fiction…” ulang saya sembari menyerahkan selembar tissue wangi kepada teman yang meneteskan air mata. Bukan karena meratapi nasib Kinanti, bukan karena Bojo Loro, tapi karena di atas mejanya ada semangkuk irisan bawang merah. (Maaf paragraf ini benar-benar fiksi karena melihat Squidward yang menangis bukan karena melihat adegan Spongebob meratap tak rela melepaskan kuda laut liarnya, tapi karena ada semangkuk bawang bombay di dekatnya;-)
”Brother, that is a fiction….” ulang saya. Arahkan telunjukmu ke hati, rasakan dan dengarkan denyutnya. Hingga kau rasakan rasa setara memiliki bojo loro.
riza.almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00.15 06 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Mega Pro Terjungkal


04.01.2006 – Mega Pro Terjungkal, Tangan Kaki Lecet, Celana Bolong,

Tiba-tiba motor yang berada persis di depan saya mengerem mendadak. Jarak yang cukup dekat membuat insting saya berjalan. Tangan kanan sontak menggenggam rem depan. Dan kejadian itu begitu cepat. Saya jatuh ke depan dengan kaki terjepit di bawah putaran roda belakang. Tanpa bantuan orang lain mungkin saya tidak segera bisa bangun karena jepitan dan beban yang cukup berat dari motor itu.
Sepatu kiri yang terlepas segera saya pakai kembali sembari melangkah tertatih-tatih ke pinggir jalan. Mega Pro tidak sempat saya pikirkan, namun terlihat orang sudah menuntunnya ke tempat yang lebih aman.
Adrenalin yang bergolak di tubuh membuat saya lemas dan pucat pasi (katanya). Segera saya lihat luka apa yang diderita. Tangan lecet. Lutut jebol (lecet juga maksudnya), lebih parah daripada yang di tangan. Celana hitam yang biasanya saya pakai di hari senin sebagai pasangan favorit kemeja putih berlubang cukup besar di bagian lutut. Perlahan-lahan terasa nyeri juga di sekitar pergelangan tangan, sepertinya terkilir.
Motor 150 cc itu saya lihat pula. Lecet di lampu depan sebelah kiri . Kayaknya pas sebagai penghias karena sebelah kanannya pun sudah lecet waktu terjatuh di depan Depok Town Square karena banyak tumpahan oli dan tanah liat bekas galian yang berceceran. Selain itu pijakan kaki sebelah kiri lumayan bengkok juga. Air aki banyak juga yang tumpah.
Setelah beberapa lama beristirahat, menenangkan diri, serta meminta air putih pada mbak Warung tegal yang baru saja buka. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kalibata. Di sepanjang perjalanan, saya menganalisis mengapa saya sudah dua kali ini jatuh dari tumpangan ini.
Yang pertama mungkin karena ceceran oli itu membuat ban goyah dan tidak bisa stabil. Syukurnya waktu itu saya pakai sarung tangan sehingga tidak ada luka yang diderita. Namun sudah dua hari ini saya malas memakai sarung tangan, padahal benda itu selalu ada di kantong jaket ini. Dengan tidak memakai safety tool tadi akibatnya memang parah.
Nah, untuk accident yang kedua ini, saya menganalisis mungkin dudukan stang tidak dalam posisi lurus sehingga saat di rem depan langsung membuat kejutan, dan ini tidak diimbangi dengan penggunaan rem belakang ataupun rem belakang juga sudah aus, saya belum cek itu.
By the way, sejak itu saya tak lagi berani menggeber kecepatan di atas 60km /jam. Tapi entah di esok harinya, soalnya biasanya saat sudah lupa rasa sakit kumat lagi untuk menggeber di atas kecepatan normal.
The points are:
1. pakai sarung tangan setiap kita mengendarai motor, (kalau pakai helm sih sudah wajib dari sononya);
2. jangan ngebut;
3. jaga jarak.
Itu saja kali. Tapi terlintas juga, dosa apa yang telah saya perbuat sehingga Allah menegur saya dengan hal yang demikian. Astaghfirullah. Aku mohon ampun ya Allah.
riza.almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:50 04 Desember 2005

Brontok Memang Top Markotop


04.01.2006 – Brontok Memang Top Markotop

Jum’at 30 Desember 2005 kemarin menjadi jumat yang berdarah-darah buat Personal Computer (PC) saya. Virus lokal yang mencengangkan jagad teknologi informasi Indonesia bahkan dunia ini benar-benar mengobrak-abrik isi perut PC. Mulai dari aksi penggandaan folder sampai restart terus menerus saat mulai menjalankan antibodinya.
Norton Anti Virus (NAV) yang sudah lama tak pernah diupdate menjadi tak berdaya sehingga saya perlu meng-uninstall-nya. Namun karena tidak sesuai prosedur dalam merejectnya maka bekas-bekasnya masih saja ada dan kerap mengganggu dengan memunculkan pop-up windows installernya. Saya coba install ulang NAV tetap tak bisa juga.
Lalu saya coba untuk install McAfee versi 8. Malah jadi konflik dengan NAV sehingga PC semakin lambat tidak karuan. Tidak betah dengan situasi yang terus menerus begini terpaksa prosedur install ulang menjadi pilihan. Apalagi Brontok semakin menjadi-jadi dalam penggandaan dirinya.
Saya install ulang Windows XP SP2, cukup berhasil. Tapi gagal dalam install Office 2003, hang. Terpaksa reinstall ini saya tunda sampai senin karena jum’at sudah semakin gelap.
Senin pagi-pagi, saya datang untuk segera melakukan upaya yang gagal di hari sebelumnya. Saya memakai Office 2003 yang lain. Berhasil. Tapi apa lacur PC tidak bisa mendeteksi driver ethernet dan VGA. Saya lupa satu hal, karena PC ini adalah PC branded maka ia punya driver bawaan atau cd restore yang harus terlebih dahulu di install sebelum install Windows XP. Pyuhhhh….saya harus mengulangnya dari awal. Alamak…
Coba dengan CD Restore, sukses. Lalu dengan Windows XP SP2, sukses juga. Lalu install Office 2003, cukup singkat dan sukses juga. Baru setelahnya saya lihat PC saya bersih dari kotoran seperti bayi yang baru dilahirkan. Kecepatan maksimal benar-benar saya dapatkan.
Kemudian setelah install tool-tool yang dalam kesehariannya memang saya butuhkan, saya melanjutkan dengan install McAfee 8. Sukses. Setelahnya saya pindahkan file-file yang saya titipkan di sharedoc teman. Saya men-scannya, waow…brontok ada dimana-mana. Dengan removal dan sedikit trik dari teman OC, brontok benar-benar rontok.
Esok harinya, setelah memasukkan flashdisk yang saya anggap sudah bersih ke dalam colokannya. Saya lagi-lagi kaget. Brontok tidak terdeteksi oleh McAfee, tapi benar-benar ada dengan ciri folder option di explorer hilang, dan saat di search ada banyak folder exe dengan size sebesar 45kb. Kemungkinan besar yang menyebabkan McAfee tidak dapat mendeteksinya adalah variannya yang sudah berbeda dengan setting update McAfee yang hanya dapat melacak folder dengan ukuran 42 kb saja.
Terpaksa saya meminta bantuan teman OC lagi untuk mengusirnya. Segala upaya dikerahkan dan bersih juga. Tapi beberapa saat kemudian menyerang kembali entah darimana. Brontok benar-benar menguasai lagi dan amat bandel.
Akhirnya saya coba sendiri dengan upaya pertama yang saya lakukan adalah mencari removal yang benar-benar manjur. Rikpafile jadi tempat favorit untuk mencari. Berhasil saya dapatkan shampoonya. Saya coba dengan membuat notepad anti restart terlebih dahulu agar brontok tidak mengutak-atik removal saat mulai bekerja.
Melalui save mode command prompt, saya coba mengikuti petunjuk itu perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Dijalankan removal, dan benar-benar top markotop si bandel ini. Brontok GAGAL TOTAL untuk diusir. Restart jadi makanan utama saat menjalankan semua program antibodinya.
Sinar matahari sudah hampir tiada sore kemarin, dan saya putus asa mencoba mengusir virus aneh ini. Keinginan menghabisinya ditunda untuk hari itu. Tapi saya bertekad untuk mencoba membasminya keesokan harinya. Saya pikir masih ada hari esok untuk berjuang. Entahlah, ada yang mencoba untuk membantu?
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Memoar cinta di medan dakwah

from the deepest bottom of my soul


30.12. 2005 – from the deepest bottom of my soul
Kalimat ini ada dalam bagian email yang dikirim oleh seorang teman, saat ia me-reply surat elektronik yang dikirim oleh saya. Otak bagian kanan saya langsung meresponnya dengan sinyal-sinyal, menyuruh memori sejuta gigabytenya untuk bekerja mengingat kalimat pendek ini. Dan urat kebahasaan saya langsung ngeh dan nyambung.
Ya, saat saya mendengar atau membaca kata-kata atau kalimat-kalimat indah saya selalu berusaha untuk merekamnya dalam ingatan bahkan mencatatnya dalam lembaran kertas untuk saya koleksi.
Tidak hanya dari teman saya yang satu ini, tapi pada semua orang yang mempunyai cita rasa bahasa yang baik dan enak untuk didengar ataupun dibaca. Seperti dari Kang Asep misalnya—sudah saya kemukakan di tulisan terdahulu—dengan both sides perspective-nya, dari Azimah dengan Purnama di Sudut Jiwa-nya, dari Qoulan Sadiidan dengan Rindu Terlarang-nya, atau dari Ibnul Qoyyim al Jauza’I dengan Setetes Embun-nya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Terkadang saya merasakan keindahan kata itu saat ia dalam bahasa asing dan belum termaknai ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin saat ia diterjemahkan cita rasa itu sedikit berkurang, seperti judul tulisan ini.
Keindahan itu pun akan dirasakan dalam bahasa daerah dengan dua kata ini Bojo Loro, eit… jangan terlalu sensitif dulu yah. Dua kata tadi bisa berarti ganda istri dua atau istri sakit. Tinggal kita mau pilih yang mana. J
Ya sudahlah, sepertinya banyak yang ingin saya uraikan tentang kata-kata indah di sini, namun adzan Isya sudah memanggi-manggil saya. Jadi saya cukupkan dulu sampai di sini. Oh ya, terimakasih pada teman yang telah sudi untuk menyumbangkan kata-kata indahnya pada saya.
From the deepest bottom of my soul: thank you.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam, 19:29 29 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Twin Otter (Sensasi Borneo)


28.12.2005 – Twin Otter (Sensasi Borneo)

Setelah merasakan sensasi yang ternyata biasa-biasa saja saat pertama kali naik pesawat dari Jakarta menuju Palangkaraya, juga dengan Cassa dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu, saya benar-benar merinding–kalau tidak mau dikatakan takut–saat menaiki pesawat kecil bermesin ganda dari Puruk Cahu menuju Balikpapan.
Pesawat carteran jenis Twin Otter yang disewa oleh perusahaan pertambangan emas untuk pengangkutan karyawannya ini hanya dapat memuat 15 penumpang saja. Dengan bobot keseluruhan–termasuk barang-barang yang dibawa–maksimal 1500 kg. Lebih dari itu, maaf saja salah seorang penumpang harus dikorbankan untuk terbang di hari lain.
Makanya untuk memastikan penerbangan ini aman, setiap penumpang harus melalui alat ukur berupa timbangan, sehingga bisa diketahui berapa berat dirinya dan barang bawaannya. Biasanya bule asing yang bawaannya berat-berat, selain juga postur tubuhnya yang di luar ukuran normal penduduk lokal. Seringkali diatur dalam satu pesawat khusus untuk bule saja, ini bukan masalah rasial tapi karena ukuran orang dan barangnya yang berlebih itu.
Suara mesin pesawatnya berisik sekali sehingga setiap penumpang diberikan sepasang gabus kecil untuk menutup telinga saat pertama kali memasuki kabin pesawat. Suaranya akan bertambah keras ketika akan memulai lepas landas. Nah, disinilah kengerian itu berawal.
Saya persis duduk di dekat jendela, sehingga benar-benar merasakan kengerian saat melihat mesin terbang ini semakin melayang tinggi, tinggi, dan tinggi menjauhi permukaan tanah. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya bila pesawat kecil ini jatuh karena gagal saat lepas landas. Sepengetahuan saya saat-saat yang paling kritis dalam penerbangan adalah saat pesawat akan lepas landas dan mendarat.
Namun kengerian itu berangsur-angsur hilang ketika pesawat mulai stabil dan terbang di ketinggian tertentu. Saya menengok ke belakang untuk melihat penumpang yang lain. Persis di belakang saya, John Morgan–seorang manager pertambangan–sedang asyik merem melek mendengarkan musik yang diperdengarkan dari peranti digital melalui earphone-nya.
Penumpang lainnya sudah menikmati mimpinya dengan kepala yang terayun-ayun naik turun. Maklum kursi penumpangnya benar-benar hanya sebatas setengah punggung saja, sehingga tidak memungkinkan untuk menyandarkan kepala, kecuali bagi yang duduk di dekat jendela bisa menaruh kepalanya di dinding pesawat. dan Jarak antara kursi benar-benar sempit, sehingga kebanyakan para penumpang susah untuk meluruskan kaki saat terasa kesemutan. Untung perjalanan ini tidak lama hanya berkisar satu jam lima menit saja.
Hiburan satu-satunya di dalam kabin adalah penumpang dapat melihat apa yang dilakukan oleh pilot dan co-pilotnya ketika mengawaki pesawat ini. Aksi yang amat menarik untuk dilihat saat mereka mengoperasikan panel-panel, alat pengukur ketinggian, layar yang memunculkan peta daerah di bawah, dan begitu banyak tombol-tombol lainnya. Setidaknya ini dapat mengusir kebosanan yang mulai hinggap.
Namun ada yang lebih menarik lagi. Di ketinggian 1000 kaki dari permukaan laut, saya benar-benar mendapatkan sensasi Borneo. Mulai dari hutannya, sungainya yang lebar dan berkelak-kelok bagaikan anakonda, dan jalan daratnya yang panjang dan kecoklatan. Sudah pasti selain sensasi keindahan yang dirasakan, saya rasakan pula miris di hati melihat hutan kalimantan benar-benar hampir habis. Apa yang digembar-gemborkan LSM tentang kerusakan hutan benar-benar nyata, bahwa segala bentuk penebangan entah resmi atau ilegal telah membuat paru-paru dunia ini compang camping. Ditambah lagi segala bentuk penambangan liar yang membuat cekungan besar coklat dan tandus tanpa reboisasi. Duh…
Saat mendekati Balikpapan malah tambah parah, cekungan-cekungan besar itu bercampur baur dengan rumah penduduk lokal ditambah gunungan-gunungan hitam didekatnya. Dan ini semua menambah pekatnya aliran sungai dan laut di sekitarnya. Emas hitam bagi mereka memang betul-betul berharga apalagi di saat harganya begitu tinggi. di pasaran internasional.
Tiba-tiba mata ini sudah mulai lelah melihat ke bawah. Kantuk pun semakin memberatkan kepala. Namun di saat saya memulai bermimpi, terasa sekali pergerakan pesawat ini bermanuver untuk mendarat. Seiring dengan perubahan tekanan udara di kabin yang membuat telinga sebelah kiri saya sakit sekali. Ohoi…Sepinggan sudah mulai menyambut kami dengan landasannya basah oleh air hujan yang baru saja mulai turun.
Twin Otter ini mulai menjejakkan dua rodanya ke tanah dan membuang kemudinya menuju hanggar yang berisi deretan pesawat carteran. Sudah saatnya saya meninggalkannya dan menuju mobil bandara yang menjemput dan mengantar kami ke bangunan utama bandara. Saya bersyukur kepada Allah karena masih bisa menjejakkan kaki ini ke tanah, dan setidaknya ada pula kenangan yang terselip bersama Twin Otter ini, bahwa Borneo memang perlu diselamatkan. Itu saja.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Sepinggan basah
14:34 23 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Kamu Bisa, Qi…


26.12.2005 – Kamu Bisa, Qi…

Sebulan lamanya sepeda hasil menabung di sekolahnya menjadi mainan baru Haqi. Dengan tambahan dua roda kecil pada roda belakang ia cukup bisa menjaga keseimbangan. Walaupun demikian jatuh dari sepeda sering ia rasakan. Pernah bagian sisi kanan perutnya lecet-lecet akibat terbentur setang sepeda.
Saya pernah berpikir untuk melepas dua roda itu agar ia bisa cepat mahir menaiki sepeda. Tapi sebelum niat itu terlaksana salah satu roda kecil yang terbuat dari plastik itu pecah. Maka mau tak mau benda itu harus dicopot dari roda belakangnya.
Sejak saat itu Haqi jarang menaiki sepeda. ”Takut jatuh lagi,” katanya.
”Dulu juga sering jatuh, kenapa sekarang tidak mau?” pikir saya. Memang dengan hanya satu roda kecil di sisi kiri roda belakang, keseimbangannya harus benar-benar dijaga.
Tapi tiga hari yang lalu, setelah baru saja pulang dari kantor, Haqi serta merta berteriak saat melihat kedatangan saya. ”Bi, Abi…rodanya pecah lagi, tapi sudah dicopot sama Om. Sekarang Haqi sudah bisa naik sepeda tanpa roda kecil,” runtun Haqi.
”Ah…yang benar,” sangsi saya.
”Benar Bi, entar deh lihat kalau Abi libur. Tapi Bi, Haqi menabrak motor. Leher Haqi kena setang motor, nih lihat,” Haqi memperlihatkan lehernya yang lecet-lecet dan kemerah-merahan. Ini pasti sakit sekali.
”Haqi menangis nggak?” tanya saya.
”Iya lah Bi, pasti nangis, sakit sih.”
Malamnya, saat ia tertidur lelap, lukanya saya bersihkan dengan kapas dan membalurnya dengan obat merah. Maklum, bagi Haqi lebih baik memilih menahan sakit daripada lukanya dioleskan dengan obat merah. ”Perih sekali,” katanya. Malam semakin larut, saya merapihkan posisi tidurnya . Sholawat terluncur dari mulut untuk keselamatan dirinya. ”Engkau pasti bisa, Nak” batin saya.
Keesokan harinya, saat saya bisa pulang cepat dari kantor dan sampai di rumah jelang sore, saya benar-benar melihat Haqi sudah bisa menaiki sepedanya itu dengan lincah. Dengan kecepatan yang tinggi bagi anak seumuran dia, Haqi mondar-mandir menyusuri jalanan komplek yang lengang di depan rumah.
Coba tebak apa yang saya rasakan saat itu. Saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa melihat Haqi telah menempuh salah satu episode perjalanan hidupnya dengan sukses. Saya bertanya-tanya dalam hati, inikah yang sering dirasakan oleh semua bapak di seluruh dunia, saat melihat kesuksesan anaknya? Oh…inikah rasanya bahagia?
Dan ini baru kebahagiaan di dunia. Bagaimana pula dengan kebahagiaan akhirat, saat saya sukses menyelamatkan diri dan keluarga saya dari api neraka? Allah Mahabesar. Kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang senantiasa diharapkan, tidak hanya oleh saya, tetapi jutaan muslim lainnya di seluruh dunia.
Cukup sudah luka kemarin menjadi penanda awal keberhasilan Qi, dan Abi yakin Kamu memang bisa, Qi.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
delay karena baday
bandara 21 Desember 2005

Jangan Takut Menulis


Semuanya berkumpul di kepala ini keinginan untuk menuliskan sesuatu. Tapi apa hendak dikata, saat pena telah terpegang di tangan, lembaran kertas kosong terhampar di atas meja, atau saat program pengolah kata terbuka di depan mata, tidak ada satu huruf pun yang muncul di layar atau tertoreh hitam di atas putih. Tetap kosong. Kalaupun ada huruf yang muncul selalu tombol backspace atau delete menjadi penyapu hingga tetap bersih, atau dengan coretan tegas panjang menimpa satu atau dua kata yang sempat tertulis.
”Saya tak bisa menulis,” selalu kesah itu yang muncul. Ada apa ini?
Kalau diibaratkan kepala kita adalah teko yang telah terisi penuh dengan air maka sudah sunnatullah, air itu akan tumpah keluar. Kecuali di ujung mulut teko ada penutup rapat yang menyebabkan air tak bisa keluar. Lalu penutup apa yang menghalangi dan menyumbat isi kepala kita sehingga tak bisa mengeluarkan seluruh ide yang ada padanya dalam bentuk tulisan?
Hanya satu, perasaan TAKUT. Takut salah, takut di nilai orang lain, takut di hina, takut di banding-bandingkan, takut tidak trend, takut tidak runut, takut terlihat bodoh, takut tidak nyastra, takut tidak nyambung, dan seribu satu alasan ketakutan lainnya itu.
Ketakutan itu muncul karena satu sebab saja. Kita tidak mau dilihat jelek oleh orang lain. Maka hasilnya sungguh menakjubkan, ketakutan itu menjadi penghalang besar bagi sebagian orang untuk menulis. Bila kita selalu dihantui ketakutan itu maka yakinilah seumur hidup kita tidak akan pernah menulis satu huruf pun. Bahkan satu karakter pun tidak, entah titik atau koma. Seperti Sundel Bolongkah rasa takut itu hingga kita menjadi paranoid dengan ketakutan itu sendiri? Lalu bagaimana, dong?
Hanya satu obatnya, cuek beybeh, jangan pernah pedulikan apa kata orang, jangan pernah sekalipun berpikir tentang penilaian orang lain, jangan pernah berpikir tentang teori njlimet kepenulisan. Biarkan ia mengalir apa adanya. Jangan pernah dihentikan sampai Anda memutuskan di mana titik terakhir itu Anda tempatkan. Lalu berhentilah sejenak saat Anda telah menemukan titiknya. Istirahatlah.
Setelahnya, Anda akan temukan huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Dan kata-kata itu menjadi sebuah kalimat. Dan kalimat-kalimat itu menjadi sebuah paragraf. Dan paragraf-paragraf itu begitu mudahnya, begitu gampangnya memenuhi lembaran kertas dan layar Anda.
Barulah Anda tidak bisa cuek beybeh disini. Anda harus care it. Anda harus menjadi editor bagi diri Anda sendiri. Minimal Anda harus memperbaiki kesalahan tulis yang ada pada karya Anda itu. Setelahnya pilihan kata yang tepat. Itu saja. Tidak lebih.
Tunggu dulu, ada satu lagi, ulangi terus langkah ini sampai Anda temukan betapa mahirnya Anda menyusun rangkaian kata itu. Sampai Anda temukan ternyata masih ada yang harus diperbaiki dalam tulisan Anda. Sampai Anda temukan betapa ketakutan itu hanya ada di awal langkah Anda. Betapa ketakutan itu hanya pada saat Anda akan memulai suatu langkah besar. Setelah itu ia menghilang bagaikan halimun ditelan pagi yang cerah dengan sinar mentari hangat tersenyum pada dunia.
Anda tidak percaya? Sekarang juga! Ambil pena, ambil kertas, and just do it!
Masih tidak percaya? Sesungguhnya tulisan ini diawali pula dari rasa takut.

***

dedaunan di ranting cemara
disampaikan pada sesi ngeblog (nulis) itu mudah.
22:24 18 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan