Potong Saja Jempol Saya Ini


Potong Saja Jempol Saya Ini

Dengan paniknya saya kembali mencari Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) Mega Pro di album dokumen saya. Sudah tiga kali saya obok-obok album itu hasilnya nihil. Kemana gerangan dokumen itu berada? Padahal niatnya, besok saya harus ke kantor samsat untuk membayar pajak yang akan jatuh tempo pada tanggal 07 Pebruari nanti.
Setelah merunut-runut kembali ke satu tahun yang lampau akhirnya saya menyadari bahwa BPKB itu masih ada di dealer. Saya benar-benar lupa untuk mengambilnya. Deg…, wah bisa gawat kalau urusannya begini. Pikiran buruk langsung bekerja, jangan-jangan BPKB itu sudah digadaikan sama dealer.
Soalnya delaer itu—dari berita di Koran—pernah ditipu milyaran rupiah gara-gara banyak subdealernya ngemplang. Jadi pada jaman di mana kejujuran sudah menjadi barang langka, bisa saja dealer menggadaikan BPKB milik konsumennya untuk menambah modal. Tapi saya langsung menepis pikiran itu, “masak dealer sebesar itu, masih mau menipu konsumennya”.
Berangkat dini hari dari rumah sekitar pukul 05.30 pagi, saya langsung menuju ke kantor untuk absen terlebih dahulu dan mengerjakan pekerjaan yang harus selesai hari ini. Setelah secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan itu, saya berenecana untuk menanyakan dan mengambil BPKB di dealer yang berlokasi di Jl. Arief Rachman Hakim Depok.
Berarti saya harus menempuh perjalanan bolak-balik, soalnya kalau berangkat ke kantor saya pasti melewati Depok. Ya bagaimana lagi, soalnya sudah setahun ini absennya sudah memakai finger print. Jadi tak bisa diabsenkan atau diwakilkan kecuali saya meminta kepada teman: “Potong saja jempol kiri saya ini”, lalu dikeringkan pakai formalin, dan menitipkannya kepada teman saya itu. Emang mau?
Sampai di dealer, jam sudah menunjukkan waktu 08.30 pagi. Masih sangat pagi untuk ukuran kantor mereka. Masih banyak pegawai yang belum datang sehingga saya harus menunggu sekitar setengah jam untuk mendapatkan BPKB itu.
Akhirnya orang yang bertanggung jawab masalah BPKB itu datang dan melayani saya. Kekhwatiran saya pada hilangnya BPKB terhapus sudah setelah ia memastikan bahwa semua BPKB milik konsumen yang ada di sini aman-aman saja.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit agar BPKB itu sudah berada di tangan saya. Setelah mengucapkan terimakasih banyak kepada sang petugas, saya segera pergi ke kantor samsat untuk membayar pajak, mumpung masih pagi.
Sampai di sana, puluhan orang sudah berjubel di depan loket. Map yang saya serahkan kepada petugas berpakaian dinas polisi ditolak mentah-mentah. “Pakai map biasa saja, jangan yang seperti ini!” suruh petugas polisi itu sambil menyerahkan map saya yang berwarna hijau telor asin dengan logo program pascasarjana magister manajemen.
Setelah membeli map kuning yang harganya seribu perak, saya kembali ke loket dan menyerahkan berkas-berkas pembayaran pajak dan perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
Biasanya saya membayar pajak pada hari libur kantor yaitu pada hari sabtu. Di mana pada hari itu kantor samsat depok tetap membuka pelayanannya. Pada hari itu orang yang dating ke loket tidak sebanyak pada hari Jumat ini.
Dan saya cuma menunggu satu jam saja di sana. Namun di hari ini saya harus menunggu dua jam lebih sedikit sambil terkantuk-kantuk menunggu panggilan. Sembari pula menyaksikan orang-orang yang datangnya lebih akhir daripada saya bisa langsung dipanggil dan cepat pulang.
Saya tetap bertahan, tapi saya was-was, bisa enggak saya sholat jumat di kantor? Jam setengah dua belas, nama saya dipanggil. Segera setelah itu saya sudah memacu kuda besi susuri jalanan menuju kantor. Dan sepertinya tidak mungkin untuk bisa sholat di sana.
Akhirnya saya putuskan untuk sholat di masjid Rawajati Barat setelah saya mendengar pengumuman-pengumunan dari takmir masjid, padahal jaraknya sudah dekat dengan kantor. Tak mengapalah daripada saya ketinggalan khutbah dan sholatnya.
Setengah jam kemudian, saya sudah dalam perjalanan kembali. Dan sempat terpikir, kalau absennya tidak memakai finger print alangkah nikmatnya saya bisa pulang langsung dari kantor samsat menuju rumah yang jaraknya tak seberapa jauhnya. Daripada bolak-balik ke kantor.
Tapi inilah resiko kerja sebagai pegawai di kantor pajak moderen. Selain masalah potongan tunjangan jika saya tidak absen sore, dan banyaknya pekerjaan yang harus saya lakukan, juga sepertinya saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja.
Karena ini pun menyangkut moral hazard saya sebagai pegawai yang telah menandatangani kode etik. Ini pun menyangkut keinginan saya untuk ikut berperan—entah sebagai batu bata tersembunyi di balik cat dinding yang indah warnanya atau batu pondasi yang tersembunyi di balik tanah—dalam pembentukan kantor pajak yang ideal. Serta dalam mewujudkan peradaban ummat yang kokoh, kuat, dan bersih dari segala bentuk kecurangan.
Jika semua cita dan asa itu sudah mendarah daging dalam diri, maka tak perlulah saya berseru lagi kepada teman: ”Potong saja jempol saya ini”, ketika saya mengeluh harus kembali ngantor.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:32 03 Februari 2006

TALK SHOW MUHARRAM 1427 H


TALK SHOW MUHARAM 1427 H

MUHARAM SEBAGAI TITIK AWAL PERBAIKAN DIRI DAN KEBANGKITAN UMMAT

PEMBICARA: UST. SUBKHI AL-BUGHURI
MODERATOR: AGUS IDWAR

Senin, 13 Februari 2006
14 Muharam 1427

Masjid Shalahuddin Komplek Ditjen Pajak Kalibata

Pemuda Islam Kalibata

KUBURAN BAGI PARA KECOA


01.02.2006 – KUBURAN BAGI PARA KECOA
(Hancurnya Lemari Kami)
Lemari buku yang terbuat dari partikel kayu itu sudah tidak bisa menahan berat isi di dalamnya. Betapa tidak ratusan judul buku kepunyaan saya, Haqi, dan Ayyasy semuanya dimasukkan jadi satu.
Tentu saja lemari yang saya beli sekitar dua tahun lalu itu tidak bisa memuat semuanya. Sedangkan masih banyak lagi buku yang tercecer di sekitar rumah. Di buffet kamar utama, di meja komputer, di ranjang, di atas televisi, dan dimana-mana.
Dan sepertinya saya sudah benar-benar putus asa dalam mengelola perpustakaan pribadi ini. Dulu saya pernah menyusunnya dengan rapih, membuat database , dan membuat penomoran, tapi usaha itu tidak dilanjutkan lagi karena semakin banyaknya jumlah buku yang saya beli.
Di tengah kesibukan saya pun, akhirnya buku-buku perpustakaan yang ada di lemari itu terabaikan begitu saja oleh saya. Jarang dibersihkan dan jarang ditata lagi supaya apik dipandang mata, tidak semrawut seperti sekarang ini.
Ternyata dengan ketidakteraturan dalam penataan perpustakaan ini menyebabkan saya harus berpikir dua kali untuk membeli buku. Nah, padahal banyak sekali buku yang ingin saya beli. Dan saya pun tidak ingin hanya karena itu hobbi berburu dan membaca buku terhalang karena masalah ini belaka.
Jadi sudah saatnya saya harus kembali menata buku-buku itu. Kembali menata dan memperbaiki lemari itu supaya tidak rusak parah. Pintunya yang sudah berteriak kencang kalau dibuka perlu diolesi dengan minyak agar tidak bunyi lagi. Baut penyangga papan pun harus di pasang kembali agar bisa menahan beban buku di atasnya. Papan triplek sebagai penutup bagian belakang lemari pun sudah jebol sehingga perlu dipaku kembali.
Bila tidak diperbaiki segera, saya khawatir rayap-rayap dengan mudahnya merusak harta benda saya itu. Sedangkan di saat sekarang para kecoa sudah beranak pinak di sana, bahkan kadang sampai menjadi bangkai kering dan lemari itu pun menjadi tempat yang cocok untuk kuburan para kecoa.
Dan yang penting saya harus mendisiplinkan diri saya dan seluruh penghuni rumah untuk tidak menaruh benda-benda selain buku di dalam lemari itu. Karena pada kenyataannya banyak sekali barang-barang yang tidak ada kaitannya dengan dunia membaca ada di sana. Seperti mainannya dua prajurit kecil, bahkan palu, gunting asyik saja bertengger.
Juga saya harus menyediakan tempat khusus buat buku-buku milik Haqi dan Ayyasy sehingga tidak tercampur dengan buku saya. Setidaknya dengan ini dapat mengurangi beban yang ada.
Nah, yang jadi masalah selanjutnya adalah bila setelah lemari itu diperbaiki, dan isinya ditata kembali, kemudian ternyata masih banyak buku yang tercecer di luar, apakah saya harus membeli lemari buku satu lagi? Sedangkan rumah saya yang sempit sudah penuh dengan banyak barang.
Belum lagi harga lemari barunya yang sekarang sudah pasti jauh sekali dengan harga dulu sebelum kenaikan bahan bakar minyak sebanyak tiga kali itu. Atau apakah perlu solusi untuk memperluas rumah? Wah, tambah mahal lagi biayanya, tahu sendiri kan harga bahan bangunan sekarang ini melonjak hampir lebih dari 50% dari harga semula. Atau dengan cara lain?
Setelah dipikir-pikir ternyata biaya yang dikeluarkan supaya lemari buku tidak hancur dan tidak dijadikan kuburan bagi para kecoa mahal juga. Tapi kembali pada niat semula menjadikan buku-buku saya sebagai warisan tak ternilai buat para prajurit kecil, maka harga yang dibayar pun sepertinya tidak seberapa. Betul begitu?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:33 01 Februari 2006

10 Negara Terbesar Penduduknya


01.02.2006 – Tanya pada Peta Dunia: 10 Negara Terbesar Penduduknya
Sempat berlangganan majalah National Geographic hanya beberapa edisi, saya mendapatkan banyak sekali manfaatnya, terutama dalam penambahan wawasan tentang kajian-kajian penelitian kepurbakalaan, petualangan, dan masih banyak lagi lainnya. Tapi sayang dengan harga majalah yang cukup tinggi dibandingkan dengan yang lain, membuat saya berpikir dua kali untuk melanjutkan berlangganan lagi.
Namun setidaknya ada hadiah kecil yang diberikan pada edisi perdananya membuat saya mendapatkan banyak sekali manfaat. Yaitu berupa lembaran poster berukuran panjang lebar kurang lebih 100 cm x 80 cm. Masing-masing sisi berupa peta dunia dan citra planet bumi di waktu malam hari dilihat atau dipotret dari angkasa.
Poster itu saya tempel di dinding samping kiri dekat meja komputer rumah dengan peta dunia menghadap ke arah pembaca. Sedangkan citra bumi di malam hari, walaupun gambarnya indah tapi tidak terlalu penting untuk diperhatikan, sehingga saya korbankan untuk menghadap ke arah tembok.
Dalam peta itu terkandung banyak informasi tentang rumpun bahasa utama yang digunakan manusia di muka bumi, kepadatan penduduk dan negara-negara terbesar berdasarkan jumlah penduduk.
Berikut rumpun bahasa utama yang ada di dunia:
– Afro-Asiatik;
– Altaik;
– Austro-Asiatik;
– Austronesia;
– Dravidia;
– Indo-Eropa;
– Jepang/Korea;
– Kam-Tai;
– Nigeria-Kongo;
– Nilo-Sahara;
– Sino-Tibet;
– Uralik;
– Lainnya
Sedangkan di bawah ini adalah negara-negara terbesar berdasarkan jumlah penduduknya (2004):
– Cina : 1.306.314.000
– India : 1.080.264.000
– Amerika Serikat : 295.734.000
– Indonesia : 241.974.000
– Brazil : 186.113.000
– Pakistan : 162.420.000
– Bangladesh : 144.320.000
– Rusia : 143.155.000
– Nigeria : 140.602.000
– Jepang : 127.417.000
Dengan adanya peta dunia ini, saya benar-benar memahami letak geografis suatu negara atau wilayah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Saya jadi tahu negara-negara apa saja yang mendiami bumi Afrika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika.
Saya juga tahu dengan cepat dan mudahnya kota-kota kecil di sudut-sudut terpencil dari bumi, seperti di ujung Kanada atau di ujung Selandia Baru. Bahkan pada saat acara televisi menayangkan suatu daerah yang tidak saya kenal saya segera mencari tahu di negara mana lokasi itu berada.
Peta dunia itu pun membantu saya untuk mengenal lebih jauh tentang samudera, selat, teluk, danau, laut, kepulauan, tanjung, semenanjung, gunung, pegunungan, punggungan yang ada di planet bumi ini.
Bahkan di saat saya suntuk menghadapi komputer, saya meingistirahatkan mata dengan memandang peta dunia. Dan kadangkala ia menjadi sumber inspirasi dan menjadikannya setting cerita pendek yang pernah saya buat dulu.
Peta dunia ini mengingatkan saya pada saat di kelas dua SMP. Saya begitu menyukai pelajaran geografi. Sang guru selalu mengajukan pertanyaan di tengah-tengah ia mengajar. Dan saya selalu yang pertama kali mengangkat tangan untuk menjawabnya. Kalau Anda mengenal karakter Hermione—sosok cerdas di novel Harry Potter itu yang selalu mengangkat tangan dan tetap diacuhkan oleh Profesor Snape—maka itulah saya. Tidak mirip-mirip amatlah, dia perempuan saya laki-laki, cuma itu bedanya, narsis.
Sang guru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat saya. Beliau pun bertanya apakah ada selain saya yang bisa menjawabnya. Ruangan kelas sunyi tiada menjawab, akhirnya tetap saja beliau menunjuk saya.
Asal tahu saja saya tahu banyak tentang geografi karena di rumah Sang Bapak berjualan majalah bekas yang di dapat dari Pasar Senen Jakarta. Dari sanalah saya banyak membaca dan banyak mendapatkan ilmu yang belum didapat oleh kebanyakan teman-teman seumuran saya.
Dari pengalaman itulah, saya juga mengharapkan bahwa peta dunia ini menjadi wadah pembelajaran geografi sejak dini bagi Haqi dan Ayyasy. Sehingga mereka sudah tahu lebih dahulu daripada kawan-kawannya yang lain. Mereka akan lebih dahulu tahu di mana letak Tolanaro, Tocopilla, Sokhumi, dan Pulau Mafia berada. Bahkan bisa jadi mereka akan tahu dimana letaknya Kepulauan Cayman yang sampai saat ini pun saya masih belum juga dapat menemukannya. Mungkin bukan?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00:14 30 Januari 2006

Tesis Lagi, Tesis Lagi


30.01.2006 – Tesis Lagi, Tesis Lagi (Ada yang mau membantu…?)
Saya terus terang saja selalu trauma kalau sudah memikirkan tugas akhir. Dulu waktu mau menyelesaikan skripsi di strata satu saja sudah pusingnya minta ampun. Sebenarnya bukan masalah pada pembuatannya namun susahnya ada pada saat mau memulainya. Benar-benar malasnya luar biasa. Malah keasyikan main game.
Lalu, baru terasa mood saat melihat kawan-kawan satu angkatan sudah pada lulus kuliah semua. Walaupun demikian tetap saja saya terlambat lulus selama satu semester dan wisudanya baru dilaksanakan satu tahun kemudian. Diklat Penyesuaian Ijazah pun ketinggalan juga. Yang berimbas pada keterlambatan saya untuk bisa naik pangkat secepatnya.
Walaupun demikian, saya masih bisa bersyukur dapat mengikuti ujian penerimaan account representative (ar) gelombang kedua. Yang pada akhirnya saya dapat diterima untuk menjadi salah satu AR di kantor yang lama.
Nah, seharusnya pengalaman itu tidak boleh terulang lagi. Setelah selama setahun penuh saya mengikuti kuliah strata dua, saya harus dihadapkan pada pemenuhan tugas akhir berupa pembuatan tesis. Kalau mau lulus dan diwisuda pada tahun ini, maka tesis itu harus diselesaikan paling lambat bulan September 2006. Karena acara wisudanya akan diselenggarakan pada Oktober 2006, dan hanya sekali dalam setahun.
Nah, kembali lagi hambatan psikologis saya yang terbesar adalah benar-benar belum ada mood. Yang kedua adalah tidak ada yang harus dikejar, karena kenaikan pangkat saya masih dua tahun lagi ke depan. Mungkin pada waktu pembuatan skripsi saya harus mengejar supaya bisa ikut DPI dan bisa naik pangkat serta ikut tes AR. Kali ini coba pikir apa yang harus saya kejar?
Hambatan yang ketiga, mungkin kesibukan sebagai AR. Alasan ini alasan klasik saja. Kalau benar-benar sibuk, kenapa masih sempat lihat-lihat blog, ikut forum di DSHNet atau Fordis Umum/Komputerisasi. Sebenarnya, saya masih bisa menangani seluruh pekerjaan itu. Tapi ya, itu tadi. Terkadang tidak ada pekerjaan yang rumit sama sekali. Namun sekali pekerjaan itu ada, datang dengan tumpukan berkas yang lumayan banyaknya di tambah ada batas waktu untuk menyelesaikannya.
Hambatan keempat adalah, saya benar-benar menemukan dunia di mana saya bisa menyalurkan hasrat yang terpendam dalam jiwa. Yakni menulis, menulis apa saja. Menulis di Ciblog yang baru saya temukan pada 20 Mei 2005. Atau ikut berpartisipasi di DSHNet sejak 06 Desember 2005 lalu. Sehingga banyak waktu saya disalurkan untuk itu.
Padahal kalau dipikir-pikir, saya bisa menyelesaikan minimal satu halaman dalam satu hari untuk menulis. Kenapa tidak untuk menulis tesis saja. Hentikan dulu hasrat yang ada pada hambatan keempat itu, lalu bertekad untuk membuat tesis. Tapi lagi-lagi ini menyangkut pada hambatan yang kelima. Apa coba?
Ya, saya ternyata masih blank dengan tema apa yang harus saya ambil. Dan saya juga masih blank dengan teori-teori kepenulisan tesis, yang sepertinya rada-rada ribet daripada saat membuat skripsi. Sebenarnya semua ada pada buku pedoman, namun lagi-lagi saya malas membacanya. Duh…
So, sekarang saya sudah mempunyai lima hambatan atau permasalahan yang menghalangi saya untuk bisa segera menyelesaikan tesis. Tinggal mencari solusinya. Tapi yang pasti saya harus mempunyai tekad yang amat sangat kuat (maaf, saya pergunakan kaidah bahasa hiperbola ini). Hanya dengan itu saya bisa memulainya. Tentu dibalik semuanya karena Allah menghendakinya.
Dan sampai saat ini solusi itu belum saya pikirkan masak-masak. Pula saya sudah cukup lelah untuk melanjutkan tulisan ini. Jadi pembahasan solusinya lain kali saja, ah…Atau kalau ada teman-teman punya solusi jitu, bisakah membantu saya? Sehingga tidak akan terdengar dari mulut saya keluhan: ”tesis lagi, tesis lagi.”
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:53 29 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Bukan Diariku


27.01.2006 – Mengapa Blogku Bukan Diariku?

Fungsi awal sebuah blog dari apa yang saya baca adalah tempat untuk mengemukakan semua perasaan–entah sedih, gembira, bahagia, duka lara, jatuh cinta, broken heart, bete, marah, kecewa, atau banyak lagi lainnya–yang kita alami dalam sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh dan dibagi kepada yang lain . Sehingga terkadang blog ini disebut juga sebagai diary online.
Nah, dari itu saya kemudian meninjau kembali, sebenarnya blog saya ini telah memenuhi kriteria itu belum yah? Wah, terlihat sekali ternyata saya belum bisa menjadikan blog ini untuk mengungkapkan segala perasaan saya kepada yang lain. Pengungkapan ini adalah pengungkapan yang eksplisit loh bukannya yang tersembunyi dibalik sebuah tulisan yang biasa saya buat.
Sehingga terkdang saya mengagumi juga, kepada teman-teman blogger yang lainnya yang bisa mengungkapkan perasaannya itu kepada yang lain. Dan menunjukkan kepada dunia, nih saya lagi bete, nih saya lagi kecewa, nih saya lagi jatuh cinta, nih saya yang lagi sakit, nih saya yang lagi empet sama tuh orang, etc. Semua curahan hati itu begitu mulusnya teman-teman upload tanpa mengindahkan kaidah-kaidah bahasa yang baku, dan kaidah lainnya, keluar begitu saja. Mengapa bisa, yah?
Setelah saya pikir-pikir, ternyata memang ada hambatan psikologis yang ada pada saya. Bahwasanya saya masih belum bisa terbuka seperti yang lain, mungkin ini dikarenakan identitas saya yang begitu nyata dihadapan teman-teman sekalian. Karena masih satu instansi misalnya. Atau karena tidak seperti di dunia maya yang sebenarnya, sehingga identitas asli seseorang tidak begitu ditutup rapat. Atau bahwa saya harus jaim, Teman-teman pasti tahu bukan makhluk yang satu ini apa?
Dan yang kedua adalah saya mempunyai keinginan bahwa apa yang saya tulis harus mematuhi kaidah bahasa yang baku. Sehingga dengan begitu, saya tidak bisa bebas untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada teman-teman sekalian. Kalaupun saya paksakan, jari saya ini berkali-kali menekan tombol Backspace dan Delete. Tanpa ada hasil apa-apa.
Dua sebab itu mungkin yang menyebabkan saya tidak bisa bebas seperti teman-teman sekalian. Yang menyebabkan blogku tidak menjadi diariku. Yang menjadikan blogku hanya sebagai kumpulan perasaan yang diungkapkan secara implisit, yang menjadikan blogku ini pantasnya adalah kumpulan pemikiranku. *Berat banget sih kaya filsuf saja)
Tapi saya pikir, tak mengapalah, karena memang kita diciptakan berbeda dari sananya. Dengan kemampuan dan keahlian yang berbeda. Dan dengan rasa yang berbeda bukan? Tapi kesamaan kita adalah: kita mempunyai rasa cinta. Cinta yang sederhana betul begitu, Mam? (Kagak nyambung).
Tapi pikir saya, tak mengapalah asal apa yang kita ungkap itu adalah sesuatu yang bernilai bagi teman-teman sekalian. Memberikan sesuatu yang berguna, yang baru, yang membuat gembira, yang membuat airmata ini menetes tanpa terasa karena kerinduan pada-Nya, dan membangkitkan semangat kita semua untuk bersama-sama berada di jalan-Nya sampai akhir nanti.
Jadi, ternyata kita memang berbeda. Jadi, ternyata blogku bukan diariku. Tak mengapa bukan?

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:11 27 Januari 2006

INULISASI


25.01.2006 – INULISASI

INUL, GUS MUS, GUS DUR
Masyarakat Indonesia kini digemparkan kedua kalinya oleh Inul dengan adanya pengharaman Bang Haji Rhoma Irama atas lagu-lagunya yang dinyanyikan oleh Inul, Annisa, Uut dan kawan-kawan. Alasannya mereka telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun.
Terelepas dari hukum syar’i mengenai musik, maka kita dapat melihat betapa pada masa sekarang, seseorang yang benar-benar dan jelas-jelas mengumbar aurat dan erotisme seksuil dihadapan ribuan bahkan jutaan pasang mata, telah dibela habis-habisan oleh para penggemarnya mulai dari kalangan artis sendiri, para wartawan, pakar hukum, feminis, pembela HAM, para “kyai”, bahkan DSH Netters pun turut turun tangan.
Secara kasarnya jelas sekali terdapat dua kubu disini. Kubu pertama “FPI” (Front Pembela Inul) yang dibelakangnya banyak juga terdapat para kyai Jawa Timur, dan kubu kedua kubu anti Inul yang dibelakangnya ada MUI (Majelis Ulama Indonesia bukan Majelis Urusan Inul), Front Anti Pornografi dan Pornoaksi, serta Bang Haji Rhoma Irama dengan PAMMI-nya.
Di sini tidak perlu saya ungkapkan argumen dari kubu kedua, yang diungkapkan disini adalah argumen kubu pertama antara lain sebagai berikut:
1. Konsultan Hukum menyatakan bahwa ia akan mengumpulkan sejuta tanda-tangan untuk terus mendukung kreatifitas Inul (yang menurut kalangan dari Kubu Kedua kreatifitas Inul hanya sebatas kreatifitas pantat belaka, maaf);
2. Feminis menyatakan bahwa telah terjadi ketidakadilan gender;
3. Salah satu Artis Sinetron penggerak demo mendukung Inul menanggapi seruan Bang Haji dengan menyatakan bahwa Tuhan yang mana yang diserukan Bang Haji? Dan umat yang mana dibelakang Bang Haji? Tak perlu bawa-bawa agama dong dalam urusan beginian?;
4. Pembela HAM menyatakan bahwa telah terjadi pemasungan terhadap seseorang untuk berkreatifitas;
5. Gus Mus (Mertuanya Ulil Absar Abdilla) menyatakan bahwa goyangannya Inul merupakan goyangan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci;
6. Gus Dur menyatakan bahwa tidak ada yang berhak melarang seseorang tampil di TV kecuali Mahkamah Agung.
Ada tambahan beberapa komentar lagi dari DSH Netters, salah satunya pernah berujar bahwa ada hikmah yang dapat diambil dari “ngebornya” Inul. Bahkan ada yang sampai menyatakan bahwa “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya”.
Komentar dari konsultan hukum, feminis, artis sinetron, pembela HAM sepertinya tak perlu ditanggapi pula karena kita tahu siapa mereka. Tentunya mereka memandang dari satu sisi saja yakni sisi “berkesenian”nya Inul.
Komentar dari salah satu DSHNetters tentang ada hikmah yang dapat diambil sudah ditanggapi oleh Saudara kita Al-Itsar yang pada intinya kita harus melihat terlebih dahulu seberapa besar mudharat atau manfaat yang timbul dari “sesuatunya” Inul itu dan kita tahu dengan jelas mudharatnya ternyata sangat jauh lebih besar dari manfaatnya.
Yang perlu “sedikit” (tidak perlu banyak-banyak soalnya kalau terlalu banyak buang-buang energi saja) kita cermati adalah komentar-komentar dari dua kyai kita ini, yang dua-duanya adalah juga satu daerah dengan Inul, sama-sama orang Jawa Timur.
Saya tidak tahu apakah pembelaan mereka terhadap Inul karena sama-sama satu daerah atau karena Inul adalah salah satu ikon yang akan menjadi maskot PKB kelak di 2004? Semoga saja tidak. Semoga pembelaan mereka semata-mata karena membela Muslim yang “teraniaya” (menurut mereka), tapi anehnya pembelaan mereka sepertinya tidak terlihat ketika benar-benar terjadi penganiayaan bahkan sampai terjadi pengusiran dan penghilangan nyawa atas ribuan saudara-saudara Muslim yang ada di Ambon dulu? Allohua’lam.
Kalau berargumen bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan lalu mengapa kita diperintahkan Allah bahwa untuk selalu memusuhi musuh yang nyata yakni Iblis dan para syaitan yang jelas-jelas mereka adalah juga ciptaan Tuhan juga.
Harusnya kalau Gus Mus tetap ngotot bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan, kiranya perlu ditambahkan dibelakangnya dengan kalimat “yang wajib kita perangi” karena asal muasalnya dari syaitan yang berusaha menggoda manusia dengan bangkitnya syahwat dan bukan dari Allah langsung, karena Allah adalah Maha Suci dan Maha Sumber Kebajikan. Lagi-lagi di sini kita memakai logika ‘aqidah, logika Asmaul Husna.
Bahkan argumen “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya” terbukti keliru besar karena ternyata goyangan itu dilakukan Inul tidak hanya di dihadapan suaminya saja namun di depan jutaan pasang mata yang bukan muhrimnya. Jadi jelas sekali itu bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci.
Kalaupun subjek pelakunya bukanlah Inul tapi para istri yang berusaha menyenangkan hati para suaminya, bisa-bisa yang timbul dalam benak para suami yang tak kuat iman adalah fantasi seks dengan citra Inul (maaf) yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam.
Tentang komentar Gus Dur, kita pun tahu beliau hanya tahu dari bisikan orang-orang di samping beliau. Semoga dengan silaturahim Bung Haji dengan beliau, membuka “mata” dan “mata hati” kita tentang perlunya mengedepankan etika moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah satnya kita perlu mengusahakan adanya televisi Islam yang berasal dari umat, oleh umat, dan untuk umat.
Ada satu keresahan dalam hati saat mula terjadi Inulisasi ini, yakni saat MUI yang beranjur kepada umatnya. Tak ada sambutan hangat bahkan pertanyaan, hujatan, cacian kepada sebagian ulama kita.
Contohnya pembelaan sebagian teman-teman saya di kantor, dan anehnya sebelum melakukan pembelaan terhadap Inul mereka akan memulainya dengan kalimat berikut ini: “saya tahu Islam telah melarang hal yang demikian, tapi bla…bla…bla…” Sebelum pernyataan itu berubah menjadi perdebatan panjang. Saya hanya berbicara demikian: “stop…stop…stop…itu saja, pakai yang di awal kalimat itu”. Saya tak tahu hukum mana lagi yang begitu sempurna mengatur kehidupan kecuali Al-Islam.
Adalagi teman saya yang lain bertanya, “mengapa harus Inul bukan yang lainnya yang lebih erotis dan lebih gila lagi?” Menurut saya itu karena Inul yang ini begitu di Blow up dan dibesar-besarkan oleh media. Kalau kita membiarkan yang satu ini muncul dengan adem ayem saja maka Inul lainnya akan senantiasa menghiasi layar televisi kita dengan santainya dan tanpa rasa bersalah. “ Satu-satu Bung…..!”
Teman saya yang satu lagi bertanya, “kenapa tidak memberantas terlebih dahulu VCD porno yang jelas-jelas meresahkan masyarakat? Lagi-lagi saya bilang “satu-satu Bung…” dan MUI pun sudah tak perlu memfatwakan haramnya VCD Porno karena Islam sudah dengan jelas dan terangnya menjelaskan tentang keharamannya.
Di sini pun karena pemerintah dan kaum feminis di satu sisi dan masyarakat anti pornografi di sisi lain masih berdebat dalam hal definisi pornografi. Menurut saya mengingkari kewajiban menutup aurat itu sudah merupakan aksi porno itu sendiri.
Yang lebih miris lagi, banyak orang berbondong-bondong untuk segera berdiri di belakang kemaksiatan, melihat semua ini bagaimana Allah akan segera menghilangkan segala azab dan bencana yang menimpa bangsa dan Negara ini. Sungguh dunia ini terbalik.
Akhirnya bersyukurlah kepada Allah atas “penglihatan” yang diberikan-Nya kepada kita, sehingga kita langsung jelas melihat mana yang sesungguhnya haq dan mana yang sesungguhnya bathil. Sehingga kita tak perlu tersesat terlebih dahulu untuk menuju yang haq itu. Untuk itu, tak lupa pada setiap akhir sholat selalu kita lafalkan” Ya Alloh tunjukilah yang haq itu haq sehingga kami bersegera untuk selalu menujunya, dan tunjukilah yang bathil itu bathil sehingga kami pun bersegera untuk selalu menjauhinya.”
Semoga tulisan ini bukan juga untuk membuat Inul semakin di Blow Up.
“Teu aya dei ugi abdi ucapkeun, mung salam ukhuwah, kahormatan, hapunten ka sadayana ti abdi, saudara seiman. Allohua’lam bishowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2004
Diedit 12:38 24 Januari 2006

Melihat Ketua BIN dari Jauh


25.01.2006 – Melihat Ketua BIN dari Jauh

Suatu sore, ketika hendak mengambil KTP saya di gerbang komplek BIN, saya dikejutkan oleh teriakan dari anggota TNI yang bertugas di pos tersebut kepada teman-temannya yang sedang duduk santai di samping pos. Mereka yang berpakaian preman langsung bersembunyi masuk ke dalam pos, sedangkan mereka yang berpakaian dinas “sekuriti” langsung mengambil segala atribut yang harus dikenakannya.
Saya yang segera pergi dari pos itu sambil menengok ke belakang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Ternyata, dari kejauhan ada sosok tegap, berkulit bersih, berpakaian sport menunggang kuda tinggi berwarna coklat. Di belakangnya terdapat beberapa pengawal dengan berjalan kaki dan ada juga yang menaiki kendaraan seperti mobil golf—hanya yang ini lebih besar lagi.
Langsung semua pemakai jalan di suruh minggir oleh pengawal, pos penjagaan yang berada di depan komplek langsung di tutup, sehingga ada beberapa kendaraan yang hendak memasuki komplek terpaksa berada di luar untuk beberapa saat. Sampai sosok berkuda itu menjauh dan di saat saya meninggalkan komplek itu, pintu gerbang masih di tutup.
Pembaca tahu siapa dia? Ya betul, dia adalah orang nomor satu dalam penanganan intelejen di negara republik ini. Hendropriyono. Sosok yang menjadi momok bagi umat Islam di era orde baru berkuasa dan sedang jaya-jayanya. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa Warsidi Lampung yang berdarah-darah itu.
Sekarang, ia menjadi Ketua Badan Intelejen Indonesia, suatu jabatan setingkat menteri, dan bertanggung jawab langsung terhadap presiden. Kalau pembaca adalah orang-orang yang sering melewati jalan antara Kalibata dan Volvo Pasar Minggu, maka pasti Anda akan melihat suatu renovasi besar-besaran di lingkungan komplek. Apalagi kalau Anda adalah orang yang juga sering masuk ke dalam komplek tersebut—karena komplek tersebut juga berbaur dengan komplek perumahan pegawai BIN—maka Anda pasti akan merasakan banyak perubahan tersebut.
Sepengetahuan saya yang kadang-kadang (kalau tidak dikatakan sering) mampir bersilaturahim ke rumah saudara, maka perubahan itu akan dirasakan ketika berada di pos pertama pintu gerbang. Sosok yang menyambut kita selain para anggota TNI juga adalah para petugas ( ini bukan anggota TNI, mereka direkrut utamanya dari para anak-anak pegawai BIN sendiri) yang berseragam hijau dengan bersepatu bot dan bertopi koboi. Sangat amat nyentrik.
Pintu keluar masuk pun di alihkan menjadi satu di sebelah selatan dengan pos yang cukup megah—yang mungkin biaya pembuatannya juga lebih mahal dari perumahan PNS tipe 21. Semua kendaraan beroda empat diperiksa dengan teliti menggunakan piranti anti logam dan kaca penglihatan untuk melihat bagian bawah mobil.
Semua yang masuk—kecuali tukang ojek yang telah dikenal, diwajibkan untuk menyerahkan ID card untuk ditukar dengan tanda pengenal tamu. Ini sebenarnya sudah sejak lama sebelum Hendropriyono menjabat sebagai ketua BIN, namun sekarang lebih ketat lagi (prosedural inilah yang menyebabkan saya kadang malas untuk bersilaturahim dengan saudara saya di komplek BIN). Semua itu terjadi di pos pertama untuk masuk komplek perumahan dan komplek perkantoran BIN. Saya tidak tahu bagaimana pula prosedural di pos perkantorannya yang di kelilingi pagar kawat tinggi itu. Jadi ada pagar tinggi di dalam pagar luar komplek.
Kemudian perubahan lainnya adalah, jalan sisi selatan yang biasanya juga bisa dilalui oleh para pengunjung umum, sekarang diblokir dan di setiap ujung jalannya berdiri pos penjagaan dengan para penjaga yang juga dibekali alat komunikasi primer yakni handy talky. Sekarang jalan itu menjadi jalan khusus karena di situlah Hendropriyono bertempat tinggal di rumah dinasnya. Semua jalan diberikan tanda-tanda lalu lintas standar, yang dulunya tidak ada sama sekali, dan jalan sekunder dijadikan satu arah.
Sekitar beberapa bulan yang lalu saya pernah melihat beberapa atau belasan ekor menjangan Bogor berada di bagian belakang komplek perkantoran di balik pagar kawat tinggi itu. Semua bisa di lihat dengan jelas. Namun sekarang entah kemana menjangan itu, mungkin sudah dipindahkan ke Monas. Dan sekarang di ganti menjadi istal (kandang kuda) yang amat bagus sekali.
Pada saat saya melintas masuk menuju rumah saudara saya sore itu, saya melihat kuda tegap yang sedang dimandikan oleh beberapa orang, dan awalnya saya berpikir bahwa kuda itu diperuntukkan bagi para petugas berseragam koboi itu. “Asyik juga jadi petugas disini”, pikir saya. Namun perkiraan saya salah besar, ternyata kuda itulah yang dipakai Hendropriyono untuk jalan-jalan di sekitar komplek.
Pembaca juga melihat bukan, sekarang telah berdiri kokoh sebuah tugu besar di depan komplek perkantoran BIN. Itulah BIN saat ini, mengalami perombakan luar biasa mungkin juga luar dalam. Entah bermaksud menjadikan BIN sebagai suatu lembaga yang harus dipandang oleh dunia internasional sebagai lembaga bonafid atau lainnya saya tidak tahu.
Tapi yang pasti, sepengetahuan saya (itu pun kalau saya tidak lupa) perombakan itu tidak dilakukannya waktu ia menjabat sebagai menteri transmigrasi di era Gus Dur. Saya juga berpikir, wah sepertinya Hendropriyono jadi anak emasnya Ibu Presiden apalagi dalam masalah pemberantasan terorisme ini. Tentu bukan dengan anggaran yang kecil ia dapat melakukan semua itu. Apalagi setelah ia sukses menangkap Umar Al-Faruq dan mereka yang dianggap olehnya sebagai teroris.
Tapi apa yang saya lihat di sore itu, seperti saya melihat suatu peristiwa di era majapahit atau era mataram dulu, di mana pemimpin feodal begitu dimuliakan, semua warga yang berada di pinggir jalan harus menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan. Dan para orang tua berharap kalau-kalau pejabat kerajaan itu melirik anak gadisnya, setidaknya dapat mengangkat harkat dan martabat orangtua.
Saya juga sempat berpikir, enak juga jadi menteri. Apalagi dengan menunggang kuda sepertinya ia bagaikan Mahapatih yang sedang inspeksi warganya tapi sayang hanya warga di tanah perdikannya (kira-kira rumah di komplek itu sudah bayar PBB belum yah…?:)). Bagaikan Adipati yang berusaha menyusun kekuatannya sendiri.
Saya pun sempat berpikir, “ah itu kan, fasilitas yang pantas ia dapatkan sebagai seorang menteri”. Apa iya…? Sedangkan banyak yang menjadi korban tak bersalah dari penerapan UU anti terorisme, lho apa hubungannya? Entahlah…Anda semua yang bisa menilainya.
Dan sepertinya, saya cukupkan di sini dulu tulisan ini. Terus terang saja, ketika saya menulis ini dan akan mempublikasikannya saya merasa khawatir. Terus terang pula saya merasakan sekali bahwa orde (untuk tidak dikatakan rezim) saat ini, menjadikan saya was was untuk mengungkapkan pendapat saya. Tidak ada bedanya pada waktu era orde baru.
Apalagi dengan adanya Undang-Undang anti terorisme. Dengan undang-undang itu intelejen kita bisa berbuat apa saja. Bahkan bisa juga ada intelejen cyber yang melacak siapa yang membuat tulisan ini. (wah paranoya bgt). Tak mengapalah….walaupun saya PNS dan masih satu almamater dengan Hendropriyono (mantan Ketua Ikatan Alumni STIA LAN), bukan berarti tidak harus dikritik, betul tidak…(gaya AA Gym)?
Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah dari diri saya pribadi, subjektifitas sangat berperan sekali dalam penulisan ini, makanya saya memberi judul Melihat Hendropriyono dari Jauh, tidak dari dekat, karena hanya sebatas informasi terbatas yang saya peroleh, kemudian saya kelola, dan jadilah tulisan ini.
Wassalaam.
: Senin, 21 Juni 2004.
: dedaunan sepanjang isya yang terlalu pendek untuk dilewatkan hanya dengan
menonton tv.
di edit 09:43 24 Januari 2006

Hanya Seorang FIDEL CASTRO


25.01.2006 – Hanya Seorang FIDEL CASTRO

Siapa yang tidak tahu dengan Fidel Castro pada saat ini? Sosok atheis yang telah memimpin Kuba selama 47 tahun ini bahkan kembali membuat merah telinga para petinggi Gedung Putih dengan tawarannya yang seperti mengejek itu.
Sebagaimana diberitakan oleh Republika kemarin (24/1), Castro menawarkan kepada penduduk miskin Amerika Serikat—negara moderen, makmur, dan superpower—bantuan berupa operasi mata sebanyak 150 ribu operasi. Termasuk di dalamnya berupa bantuan jemputan, akomodasi, dan perawatan yang dibutuhkan secara gratis.
Tawaran ini bagi Amerika mungkin merupakan upaya mempermalukan mereka, namun bagi Castro tentu bukan sekadar iseng belaka atau rutinitas pemberian kutukan kepada Amerika sebagaimana biasanya, tapi karena Castro meyakini kemampuan negaranya yang memang perlu dibanggakan. Yakni kemampuannya dalam menyediakan rumah sakit yang canggih, peralatan medis yang lengkap, dan didukung dengan sumber daya manusia yang unggul.
Dan ini semua bermula dari ambisinya menjadikan Kuba sebagai kekuatan medis global. Sejak tahun 1980, Kuba mulai menanamkan investasi pada sektor bioteknologi. Hasilnya adalah pada tahun 1990 Kuba menjadi negara pertama yang mengembangkan dan menjual vaksin Meningitis B disusul dengan Hepatitis B.
Tidak berhenti disitu, bersama Venezuela sejak 10 tahun yang lalu menggelar operasi mata gratis bagi warga warga miskin di Amerika Latin. Tidak tanggung-tanggung enam juta orang telah menerima manfaat dari program ini.
Dan pada akhirnya dunia pun mengakui keunggulan Kuba di bidang kesehatan ini. Bahkan prestasinya mengalahkan Amerika Serikat dalam masalah ketersediaan tenaga medis, yakni satu dokter untuk 177 penduduk. Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan satu dokter untuk 188 penduduk.
Tentunya keunggulan itu menjadikan Kuba sebagai daya tarik yang memesona bagi ribuan dokter dari berbagai dunia. Seperti yang ditulis Republika lagi, bahwa tahun lalu saja 1800 dokter dari 47 negara menyelesaikan studinya di Kuba. Pada saat yang sama 25 ribuan tenaga medis Kuba melanglang buana dengan menjelajahi sedikitnya 68 negara, termasuk Indonesia.
Maka dengan semua keunggulan itu pula wajar bagi Castro untuk meyakini bahwa Kuba dapat terselamatkan dari kebangkrutan finansial dan memutuskan ketergantungan pada sektor pariwisata. Wajar bagi Castro untuk membantu warga miskin Amerika Serikat yang sering menggerakkan sisi-sisi kemanusiaan negaranya karena banyak dari mereka terganggu penglihatannya.
Dus, dengan semua keunggulan itu wajar pula bagi Castro untuk menunjukkan izzah (kemuliaan) dirinya dan bangsanya. Wajar bagi Castro untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya dan bangsanya masih tetap eksis di tengah embargo tiada berkesudahan dari negara besar yang selama enam kepemimpinan presidennya tidak sanggup menggulingkan dirinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah mengapa ia sanggup tidak bertekuk lutut di bawah kaki Amerika Serikat? Mengapa ia mampu bertahan dari embargo ekonomi itu dengan hanya mengandalkan produksi gula, industri perikanan, dan cerutu Havana-nya yang terkenal itu? Mengapa ia sanggup menunjukkan kemuliaan dirinya hatta ia hanya seorang komunis, atheis pula? Yang seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh seorang muslim. Mengapa?
Seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh para emir negara Arab yang dengan kebijakan cadangan minyaknya bisa mengobrak-abrik tatanan perekonomian global, bukan ditunjukkan oleh Ajami seperti Iran. Ditambah dengan kemampuan salah satu negaranya yang dapat mengumpulkan lebih dari tiga juta manusia dalam satu waktu.
Dengan dua kekuatan itu, dipastikan mereka dapat menggentarkan hati para musuh Islam dan dunia. Namun apa yang terjadi? mereka bahkan menjadi budak-budak setia dari tuannya yang bernama Amerika Serikat.
Bahkan mereka bersorak sorai di saat tuan besarnya menebarkan angkara murka dengan melakukan invasi kepada negara Arab lainnya. Sehingga satu pertanyaan muncul: ”Dimana logika , dimana akal sehat? Saya semakin tidak paham saja membaca kelakuan politik beberapa negara Arab ini. Apa yang mereka cari sebenarnya?” (Syafii Maarif,17/1).
Tidak hanya itu, persoalan Israel pun tidak kunjung selesai sampai saat ini. Walaupun dari hari kehari sejak tahun 1948 nasib dan harga diri Palestina yang nota bene adalah bangsanya sendiri sudah semakin tiada artinya di mata durjana Israel.
Sosok-sosok yang mempunyai izzah itulah yang tidak dapat diberikan negara-negara Arab pada saat ini. Walaupun dulu pernah tercetak satu orang yang dapat melawan dengan gagahnya kesombongan Amerika Serikat dengan upaya yang dilakukan oleh King Faisal bin Abdul Aziz dengan embargo minyaknya pada tahun 1973.
Namun selalu saja di saat tunas kejayaan Islam mulai tumbuh, maka hama kekuatan kotor tak terlihat mulai bermain dengan segala daya dan upayanya. Di tahun 1975 Faisal pun dibunuh oleh keponakannya sendiri. Dunia Islam pun berduka tapi membawa sebuah pengakuan dalam hati yang paling dalam tentang kemuliaan diri seorang Faisal.
Bagaimana dengan Indonesia? Sanggupkah negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini dapat menunjukkan izzahnya di hadapan Amerika Serikat? Sanggupkah ia menandingi sikap yang ditunjukkan oleh Kuba yang luas daratannya hanya 88% dari pulau Jawa itu?
Hanya segunung keraguan untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Karena pada saat yang sama Indonesia pun dipertanyakan keunggulan apa yang dipunyainya, selain dari tingkat korupsinya yang sudah terkenal di dunia internasional.
Lagi dengan tekad kemandirian yang nyaris nihil pada diri para pemimpinnya. Semisal adanya ajakan untuk memboikot produk-produk Amerika Serikat dibalas dengan segudang argumen yang bersembunyi di balik kepentingan rakyat: ”Bahwa kita sendiri yang akan rugi kalau kita melakukan aksi boikot itu.” Lalu dengan alasan: ”berapa pengangguran akan tercipta dengan aksi itu?”, kekanak-kanakan, picik dan lain sebagainya.
Padahal di sisi lain, mereka membungkuk-bungkuk menuruti apa kata IMF dan para kapitalis liberalis dalam menelurkan kebijakan pembangunannya, tanpa melihat apa rakyat masih mampu untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasarnya?
Lalu jikalau tekad kemandirian itu saja nihil akankah mampu untuk menghadapi embargo dan tekanan dari negara-negara yang berusaha menginjak-injak kedaulatan dan harga diri bangsa ini? Tidak, tidak akan mampu.
Maka kita banyak menyaksikan anak-anak bangsa kita di siksa, dianiaya, diusir oleh para majikannya, pemerintah republik ini boro-boro untuk menegur negara pengimpor Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu, bahkan untuk memberikan bantuan hukum saja pun tak mampu.
Bahkan dengan negara tetangga yang bekas salah satu provinsinya saja tidak bisa bersikap tegas dalam menyikapi tiga rakyatnya yang tewas tertembak oleh ulah prajurit perbatasan negara itu. Apatah lagi dengan menghadapi negara Kangguru yang sudah terlalu banyak mengintervensi dan telah lama tidak bisa bersikap sebagai tetangga yang baik bagi Indonesia?
Maka tanpa kemuliaan diri itu, dengan mudahnya bangsa ini ikut turut pula memerangi anak bangsanya sendiri baik individu maupun kelembagaan dengan tuduhan terorisme yang dibuat-buat dan stigma yang amat buruk.
Maka tanpa kemuliaan diri itu kita pun akan melihat pula bangsa ini begitu rendahnya merengek-rengek kepada bangsa lain untuk mendapatkan pinjaman dan investasi baru yang menggiurkan bagi keberlangsungan jalannya pembangunan. Dan merengek-rengek pula untuk dapat menangguhkan pembayaran utang di saat jatuh tempo tak sanggup membayar bunganya saja yang benar-benar mencekik leher.
Maka tanpa kemuliaan itu kehinaan apalagi yang akan menimpa bangsa ini? Padahal tanpa mereka sadari—atau pura-pura tidak tahu—bahwa 85 % bangsa ini punya modal unggul untuk meninggikan izzahnya, yakni Islam.
Karena sungai sejarah peradaban Islam walaupun selalu dialiri dengan airmata, darah, dan pengorbanan, tidak akan jemu-jemunya menyuburkan tanah-tanah sekitarnya untuk senantiasa menumbuhkan dan mencetak generasi-generasi rabbani, para pahlawan, orang-orang besar, dan mempersembahkan tokoh-tokoh agung kepada dunia.
Maka kemuliaan manalagi yang didapat selain dari Islam? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menegakkan panji-panji dan obornya yang terang gemilang itu? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menguatkan geraham untuk senantiasa berpegang teguh pada dua pusaka yang ditinggalkan utusan terakhir-Nya?
Jika itu didapat, tidak hanya seorang Castro yang atheis itu yang akan tunduk dan menghinakan diri pada kemuliaan Islam, beribu-ribu Castro bahkan berjuta-juta nasionalis yankee hawkees pun akan terpaku, tunduk, dan bertekuk lutut di bawah bangsa yang hanya menakutkan dirinya pada satu Tuhan: Allah Sami’il ’Aliim .
Cuma: kapan saat itu akan tiba?
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08.29 25 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Anti Pornografi = Munafik?


d24.01.2006 – Anti Pornografi = Munafik?

Judul di atas adalah judul sebuah tulisan yang dibuat oleh Jonru. Si pemilik nama asli Jonriah Ukur ini mengumpulkan dan menulis tentang argumen-argumen yang selalu disampaikan para penyuka pornografi. Tentunya ada pula jawaban untuk setiap argumen itu.
Saya kira ini bermanfaat sekali untuk menambah wawasan dan meneguhkan keyakinan kita terhadap bahayanya pornografi. Dan sesungguhnya beribu cara Iblis dan jutaan tentaranya untuk mempersiapkan segala tipu dayanya di balik argumen-argumen cantik, indah, dan humanis, tapi sesungguhnya tipu daya mereka adalah lemah:
76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Annisa 4:76)
Seperti permintaan si penulis sendiri bahwa tentu apa yang diungkap di sini adalah sedikit dari banyak argumen. Oleh karena itu, kalau Pembaca mempunyai argumen lain yang biasa diungkap para penikmat pornografi, mohon untuk di tulis dan diberikan bantahan logis, sederhana, telak, dan menohok. Sehingga mereka tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, terdiam seribu bahasa, ibarat kata tenggorokan mereka tersedak tidak hanya oleh buah Kedondong tapi juga dengan buah Durian lengkap dengan kulit-kulitnya. (Emang enak…?)
Tulisan ini sedikit saya edit (siap-siap untuk menjadi editor) agar gaya bahasa ngeblognya dan penulisannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa mengurangi sedikitpun inti dari apa yang dia ungkap.
Kalau Anda terhubung dengan internet, sila untuk melihatnya langsung di blog Jonru, tepatnya di http://jonru.multiply.com/journal/item/143. Selamat menikmati.
***
Salah satu tudingan yang paling menggelikan dari orang-orang yang propornografi terhadap orang-orang yang anti pornografi adalah: ”MUNAFIK LU!”.
Selain itu, masih banyak argumen-argumen lain yang tak kalah lucunya.
Berikut saya sarikan beserta bantahannya. Jika ada teman-teman yang mau
menambahkan, dipersilahkan ya….
Argumen #01:
Orang yang anti pornografi adalah orang munafik, di satu sisi mereka menentang, tapi di belakang diam-diam menikmatinya
Jawaban:
Para penentang pornografi melakukan aksi kontra seperti itu, bukan
karena mereka tidak suka hal-hal yang berbau seks. Sebagai manusia
normal, tentu saja mereka suka.
Dan justru karena suka itulah mereka menentang pornografi.
Mereka telah tahu dampak buruk pornografi. Mereka tidak mau dampak buruk
itu menimpa orang lain. Karena itulah mereka menentang pornografi.
Info selengkapnya bisa dibaca pada tulisan saya: Saya suka pornografi (http://jonru.multiply.com/journal/item/138 ) Lagipula, sepertinya istilah “munafik” yang Anda gunakan itu tidak tepat.
Mari kita lihat apa pengertian munafik yang sebenarnya: Berdasarkan ajaran Islam, munafik adalah ciri manusia yang tidak taat beragama, tapi dari luar ia mencoba memunculkan kesan bahwa ia sangat alim dan ahli ibadah. Ia juga diam-diam memusuhi Islam dari dalam. Inilah pengertian munafik yang sebenarnya.
Argumen #02:
Majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur
Jawaban:
Alasan ini biasanya dilontarkan oleh sebagian orang yang anti pornografi. Walau saya sama antinya dengan mereka, saya tidak setuju dengan alasan ini. Budaya adalah ciptaan manusia yang akan terus berubah.
Mungkin saat ini majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur. Tapi bagaimana kondisi lima tahun lagi? Siapa tahu, majalah yang lebih vulgar dari Playboy pun sudah dianggap sangat biasa. Tahun 1940-an, orang pacaran tak berani bergandengan tangan di tempat umum. Tabu. Tapi kini? Berciuman di depan umum pun sudah biasa.
Budaya, norma masyarakat, dan seterusnya, tidak bisa dijadikan patokan dalam hal ini. Kalau mau menentang pornografi, pakailah ajaran agama (Islam) sebagai patokannya. Ajaran Islam sangat tegas mengenai hal ini, dan tidak berubah sejak dulu hingga kiamat nanti.
Argumen #03:
Majalahnya belum terbit, tapi kok sudah ribut duluan?
Jawaban:
Memang pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya tak
ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat bagaimana
medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti. Mungkin ia akan
dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin pula tidak terlalu
vulgar.
Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan
meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya
tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti majalah Gatra
atau Sabili.
Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat
pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang
mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana.
Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya
belum terbit?
Argumen #04:
Kenapa hanya Playboy yang diributkan? Toh, selama ini sudah banyak media
sejenis yang bertebaran di mana-mana?
Jawaban:
Anda sepertinya jarang membaca koran atau menonton televisi, ya?
Sudah begitu sering para aktivis anti pornografi melakukan aksi demo.
Mereka menentang hal-hal porno seperti itu. Tapi berhubung sekarang
majalah Playboy sedang naik daun, maka kita mempergunakan kesempatan ini
untuk menentang Playboy. Ini hanya masalah momentum. Bukan berarti kami
tidak peduli pada media porno lainnya.
Argumen #05:
Ini tidak porno, kok. Ini karya seni. Tampilannya elegan dan intelek.
Jawaban:
Saya mau jawaban jujur dari Anda, para pria sekalian. Ada foto seorang wanita yang sangat seksi dan tanpa busana, dikemas dengan selera seni yang amat tinggi, bahkan terkesan amat elegan dan berkelas. Apakah kemasan seperti ini berhasil menghilangkan nafsu birahi Anda ketika melihat tubuh si wanita?
Kalau jawaban Anda Ya, okelah. Argumen Anda saya terima
Kalau jawaban Anda Tidak, maka argumen Anda akan saya tertawakan!
Ketahuilai, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi “perasaan bersalah” yang muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media pornografi.
Argumen #06:
Kalau mau menentang Playboy, berantas dulu majalah-majalah porno yang sudah banyak beredar di Indoensia. Juga VCD porno dan sebagainya.
Jawaban:
Inilah strategi mengelak yang amat menggelikan. kalau kita berteriak: “Kami anti Playboy,” maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang VCD porno yang duluan ada?
Kalau kita berteiak “basmi VCD porno”, maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang majalah Popular yang telah dulu ada?” Kalau kita berteriak “breidel majalah Popular”, maka mereka berkata,”kenapa Anda tidak melarang bla bla bla…” Demikian seterusnya. Ini benar-benar argumen yang tidak mutu!
Lagipula, argumen seperti ini seolah-olah menuding para anti pornografi sebagai pihak yang memberikan iklim yang kondusif terhadap maraknya pornografi. Kalimat “berantas dulu VCD porno” dan sebagainya, sepertinya memperlihatkan bahwa mereka sedang lupa satu hal: Yang seharusnya memberantas hal-hal seperti itu adalah pihak kepolisian, dan pemerintah.
Nanti kalau ada kelompok anti yang melakukannya secara sepihak, misalnya FPI, Anda langsung mencibir lagi. Hehehehehe… Serba salah deh, Anda ini!
Argumen #07:
Anda bilang, pornografi itu meresahkan masyarakat. Masyarakat yang mana?
Toh faktanya, orang yang suka pada majalah porno jumlahnya jauh lebih besar.

Jawaban:
Jika ada 10 orang yang berkumpul, dari 9 di antara mereka mengatakan 1 + 1 = 3, sedangkan yang satu orang mengatakan 1+1 = 2, siapakah yang benar?
Kalau Anda mengatakan “jumlah orang yang doyan majalah porno jauh lebih besar”, maka Anda termasuk orang yang setuju bahwa 1 + 1 = 3. Anda hanya melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak. Padahal suara terbanyak belum tentu benar.

Argumen #08:
Itu semua tergantung moral orangnya, kok. Kalau otaknya sudah ngeres,
lihat kambing aja bisa langsung birahi. Apalagi lihat majalah porno.

Jawaban:
Sepertinya kita terbiasa untuk melihat masalah secara tidak
proporsional. Ada wanita yang berpakaian seksi dan mencoba menggoda pria
lewat penampilannya yang merangsang itu. Dan ketika ada pria yang
mengusilinya, kita semua menyalahkan si pria. Sedangkan si wanita kita
sebut sebagai orang modern karena penampilannya mengikuti perkembangan
jaman.
Kita hanya terbiasa menyalahkan orang yang terjebak melakukan kesalahan.
Ini benar-benar tidak adil. Seharusnya, kedua pihak harus disalahkan. Si
penggoda salah, di tergoda juga salah.
Jadi ketika ada orang yang berpikiran mesum setelah membaca Playboy,
apakah kita hanya menyalahkan orang tersebut dan tidak menyalahkan Playboy? Hihihi.. betapa tidak adilnya dunia ini!
Argumen #09:
Di negara-negara yang sangat permisif terhadap pornografi, kehidupan
mereka normal-normal saja kok.
Jawaban:
Negara mana yang anda maksud? Amerika? Coba tengoklah lebih dekat. Budaya kumpul kebo di sana telah membuat tatanan kehidupan mereka hancur lebur. Banyak anak yang tidak tahu siapa orang tuanya. Banyak orang yang kesepian karena tidak punya pasangan hidup yang setia. Mereka sepertinya baik-baik saja. Tapi coba Anda simak
kehidupan mereka lebih dekat. Janganlah Anda terbuai oleh indahnya film2
hollywood.
Argumen #10:
Playboy dan majalah porno lainnya hanya untuk konsumsi 21 tahun ke atas.

Jawaban:
Oh, apakah ini berarti: hanya orang yang berusia di bawah 21 tahun yang
akan dikenai dosa jika membaca media porno? Apakah orang yang berusia 21
tahun ke atas bebas dari dosa-dosa seperti itu?
Argumen #11:
Masalah dosa dan agama, itu urusan pribadi masing-masing. Jangan
bawa-bawa agama dalam hal ini. Lagipula, yang menentukan dosa itu kan
Tuhan, bukan kamu.
Jawaban:
Kalau agama adalah urusan pribadi masing-masing, kenapa harus ada ulama
atau ustadz? Apakah salah jika kita menasehati orang lain untuk berbuat baik dan
meninggalkan hal-hal yang tidak baik?
Kalau Anda berkata itu tidak baik, maka Alebih baik kembali ke masa
SD dan memarahi para guru Anda yang telah memberikan Anda pelajaran budi
pekerti dan sebagainya.
Dalam konteks tertentu, agama memang urusan pribadi. Tapi setiap
penganut agama juga berkewajiban untuk saling mengingatkan dengan
saudara-saudaranya yang lain.
Soal dosa, memang itu ditentukan oleh Tuhan. Tapi Tuhan juga telah
memberikan penjelasan lewat kitab suci bahwa pornografi itu dosa. Apakah
ini belum jelas bagi anda?
Argumen #12
Batasan porno itu kan relatif!
Jawaban:
Kalau Anda seorang muslim, coba Anda baca Al Quran. Di sana sudah
dijelaskan dengan amat tegas mengenai aurat dan sebagainya.
Argumen #13
Sudahlah, biarkan saja pornografi beredar. Yang penting kita bisa
mengendalikan diri, tidak ikutan menikmati!
Jawaban:
Dari segi pribadi, Anda benar. Tapi apakah Anda tidak peduli pada
masyarakat umum yang tidak bisa mengendalikan diri?
Atau jika Anda tidak peduli pada mereka, apakah Anda tidak peduli pada
anak, ponakan, dan saudara-saudara anda lainnya? Apakah Anda yakin,
mereka juga bisa mengendalikan diri seperti Anda?
Terimakasih dan wassalam, JONRU.
***
Jadi itulah sedikit dari berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh mereka yang mengaku (atau tidak) sebagai penikmat pornografi. Kalau memang pembaca adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada niat untuk menyelamatkan kita sendiri, anak-anak kita dan keluarga dari bahaya pornografi ini, maka sudah selayaknya untuk menyebarkan pesan-pesan ini kepada teman-teman kita.
Untuk teman-teman yang seide, diharapkan dengan adanya ini semakin menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Tentunya juga ini berguna buat teman-teman yang secara alami memang tidak atau belum bisa berbicara di depan umum dan tidak mampu untuk berdebat ataupun sekadar berbicara atau menjawab argumen sedikit kepada lawan bicara.
Dan untuk teman-teman yang pro pornografi, maka diharapkan pula dengan adanya jawaban-jawaban yang ada di sini, tidak sekadar terdiam seribu bahasa karena tercekik kulit buah durian mendapatkan jawaban yang telak itu, namun pencerahan dan kesadaran itulah yang kita harapkan dari mereka. Tentunya bila Allah berkehendak, yang penting kita telah berupaya semaksimal mungkin.

Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:41 21 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan