banal


banal

*

 
 

teriakku pada macan

yang ada di kebun binatang:

aku ambil lorengmu!!!

pada zebra:

aku ambil belang-belangmu!!!

pada singa:

aku ambil surai di lehermu!!!

pada buaya:

aku tak akan ambil kulitmu!!!

Bosan,

aku akan ambil matamu saja,

pada ular:

aku akan ambil lidahmu!!!

Satu-satu,

aku permisi pada semua penghuni,

setelahnya aku menjadi binatang…

banal  

 
 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

Februari Maret 2011

 
 

  

MATANYA ABADI


MATANYA ABADI

 

Tahun 2006, saya sempatkan diri untuk memfoto kucing betina ini. Ini adalah kucing yang sering mampir di rumah saya. “Ngeong…ngeong,” serunya kalau saya lagi makan.

    “Tunggu sebentar, ya Cing, kamu tulangnya aja,” kata saya, “tapi enggak apa-apa ding, nih dikit dagingnya.” Saya sepertinya tidak pernah berbohong padanya dengan cara bilang pus-pus sambil bawa sesuatu yang mirip daging terus ke luar rumah dan ketika si kucing sudah di luar pintu, tangan saya ternyata kosong dan langsung , “Braakk!” tutup pintu. Si Kucing gondok dalam hati berkata, “Awas Lu ye…Bohong.” Sama binatang saja tak tega bohong apalagi sama manusia.

 

    Sampai sekarang betina ini masih hidup. Tapi tak lagi mangkal kayak angkot cari penumpang di rumah saya lagi. Di rumah tetangga kali, atau dia sudah punya rumah sendiri. Tak tahu saya. Soalnya dua anaknya sekarang gantian yang jadi preman di rumah saya. Ini betina hebat juga, sudah punya anak banyak dan cucu banyak tetap hidup sampai sekarang. Nih fotonya saya ambil beberapa pekan lampau tepatnya di bulan Februari 2011.

 

    Kelihatan sih kalau sudah tua, wajahnya tak sesegar dulu. Sudah mulai tirus. Mungkin kalau ibarat manusianya sudah mulai ada keriputnya. Tapi swer ketika saya memfoto itu kucing, gak ada tuh namanya keriput sama uban. Dan yang pasti matanya yang dicelak hitam itu, abadi bo…

 

Sendu (bukan senang duit atawa senang ndusel-bersempit-sempitan) matanya seperti ada duka lestari. Duka, kenapa gue jadi binatang harusnya jadi foto model difoto mulu soalnya.

 

Sayu matanya seperti menyiratkan sebuah keharuan. Haru lalu jadi biru. Eh ternyata ada juga yah cowok yang foto gue. Terima kasih…terima kasih.

 

Jelita? Tidaklah yau. Dia tak punya mata jelita. Manusia yang hanya punya mata jelita. Bukan binatang ini. Walau ada yang tak mau disebut jelita pada matanya, soalnya ditengarai saya “ngegombal“. Jiaaa…

    

Tahukah kamu, brother…sekarang dia—kucing ini—lagi hamil, hamil tua. Saya tak tahu siapa yang menghamilinya. Yang jelas bukan saya. Sebentar lagi melahirkan. Mungkin waktu saya menulis ini—di tengah malam—kucing itu sudah menjilat-jilati anak-anaknya.

 

Tapi yang pasti saya tidak pernah seranjang dengannya. Paling jauh hubungan kami cuma mengelus-ngelus kuduknya pakai tangan atau lehernya dengan kaki. Kalau malam saya tak pernah menyuruhnya masuk, harus di luar.

Cukup kisah gita cinta saya dengan kucing betina ada di zaman SMA dulu. Memandikannya, membedakinya dengan bedak antikutu sampai menemaninya melahirkan memelihara anak-anaknya. Lagi-lagi—sori yah—bukan karena saya dia hamil. Tidur siang ada itu si kucing di samping saya. Mendengkur, mendengkur barenglah kita. Kalau saya: “Zzzzz…zzzzz”. Dia: “Grttttt…grtttt…grtttt.”

 

Semuanya berakhir ketika Bibi saya marah-marah karena kasurnya jadi jelek. Dan kursi tamu jadi banyak kutunya. Padahal sudah dibedakin dengan bedak antikutu—kucingnya bukan kursinya. Kutunya juga sering menggigit saya ternyata. Pantas saja kenapa kalau duduk di kursi itu badan kok gatal-gatal. Air susu dibalas dengan air tuba. Kucing diusir. Saya sendiri.

 

sendiri…

menggigil,

walau secuil biru

cukup untuk sehari

 

Kucing tak mengerti puisi. Betina di foto atas pun demikian. Tak peduli dengan saya yang membaca sajak-sajak di depannya. Dia hanya peduli dengan daging. Titik. Manusia? Brother? Dia? Jelita? Peduli pada apa…?

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tetap jadi inspirasi karena menumbuhkan

03.55 pagi 16 Maret 2011

 

 

    

 

 

 

monolog: cinta


MONOLOG: CINTA

 

Di bangsal Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit itu terlihat beberapa pasien yang sedang ditangani oleh dokter dan para perawat. Satu di antaranya dalam keadaan kritis. Selang infus dan tabung oksigen serta kabel alat monitor detak jantung sudah terjulur kemana–mana dari tubuh nenek renta. Seorang wanita separoh baya berada di sampingnya. Tak jemu-jemu mencoba memperdengarkan kalimat talkin di telinga nenek itu.

Di sudut yang lain, seorang ibu muda dengan wajah yang tampak kelelahan berada di samping ranjang beroda. Mengelus-ngelus dengan penuh kasih sayang kaki sang anak berumur 10 tahunan yang sedang terbaring sakit dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia baru saja melepas lelah setelah sendirian ke sana ke mari mengurus pendaftaran masuk UGD dan persiapan rawat inap di rumah sakit itu.

Ada lagi seorang ibu yang berusaha menenangkan kondisi suaminya karena tangan suaminya selalu berusaha untuk melepaskan selang infus yang terpasang rapih itu di tangan yang satunya lagi. Mata ibu itu sembab karena kesedihan luar biasa melihat suaminya terkena stroke dan melumpuhkan sebelah anggota tubuhnya.

Yang baru datang adalah seorang laki-laki dengan membawa gelas berisi air hangat. Tubuhnya menggigil. Ia berjalan sempoyongan dan ingin segera berbaring di atas ranjang yang belum dipersiapkan sama sekali oleh perawat. Hampir tubuhnya jatuh ke tanah kalau saja tidak ada adik perempuan dan suaminya yang memegang kuat tangannya. Wajah perempuan itu lagi-lagi terlihat penuh kecemasan.

Berjam-jam setelahnya, ruangan UGD itu mulai sepi, karena telah tengah malam dan semua sudah tertangani dengan baik oleh para pekerja medis rumah sakit itu. Para pendamping pasien masih bertahan untuk tetap menjaga tubuh-tubuh yang tergeletak tiada berdaya.

Ada hal yang tampak terlihat kuat di wajah-wajah mereka. Wajah dengan penuh energi cinta yang terbalut kegalauan dan kesedihan yang bercampur aduk. Sebuah energi yang mampu membuat mereka bertahan duduk berjam-jam, berdiri berjam-jam, menangis tanpa henti hingga tidak ada lagi air mata yang keluar, tanpa peduli beban berat pikiran tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan, mondar-mandir ke sana kemari tanpa memedulikan dirinya sendiri sudah makan atau istirahat, yang mampu berkata: “biarlah semua sakit ini aku tanggung daripada engkau yang sakit.”

Tidaklah mungkin seorang tanpa cinta mampu bertahan untuk menjaga tubuh-tubuh sakit itu dan mampu melakukan semuanya. Tidaklah mungkin. Dan saya—malam itu—ingin menjadi bagian dari mereka. Ingin belajar dari mereka. Untuk sosok tubuh yang tergeletak lemah dan tanpa kesadaran di samping saya. Seorang bapak yang telah membesarkan saya dan mampu menjadikan saya seperti hari ini.

Semoga cepat sembuh Bapak…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

unit gawat darurat rumah sakit bhakti yudha depok

08.21 12 Maret 2011

tak pernah sampai


tak pernah sampai

**

 

coba lihat pada ilalang yang tumbuh

di depan rumah kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang paling tinggi

tapi tak acuh pada air gunung

yang bersemedi dengan butirannya

membasuh daun-daun

coba lihat pada bisunya langit

yang indah di atas kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang tercepat

tapi tak acuh pada mendung hitam

yang segera akan menelannya

dan tak perlu mencoba

melihat aku

karena aku terlepa

di atas tanah yang rindu hujan

tak bisa tak acuh

untuk setiap anak panah pesan

yang berlari dari busurnya

tak pernah sampai

di setiap detiknya

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

menunggu

10.13 12 Maret 2011

 

senampan biru


senampan biru

**

 

aku taruh senampan biru

yang kupersembahkan

melalui rinai hujan yang jatuh di atasmu

atau geliat ikan yang lincah

tak hendak menangkap umpan

yang kau taburkan siang tadi

atau kelabu yang membebat diri

 

aku taruh senampan biru

untuk kau pilih

kau simpan

kau bawa

ke atas gunung

dengan tas carrier

bersama selembar matras

bersama sepotong jaket

bersama seperangkat tenda

bersama sleeping bag warna jingga

 

malamnya

kau memandang langit

mengambil segelas coklat panas

dan sepucuk biru

lalu menyentak

aku datang padamu

bersama petrichor

sampai pagi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, ruang biru

11.04 06 Maret 2011

 

 

 

 

BROWNIES


Brownies

**

 

sekotak brownies

terpotong-potong sadis

harum coklatnya menghingar bingar pagi

ada senyum menabuh sunyi

saat lidah bersua lezatnya

jika tinggal satu

bolehlah aku sampaikan sepotongnya

untukmu

 

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

08.01 7 Maret 2011

 

 

MAAF


[MONOLOG]: MAAF

Jum’at sore, tepat pukul 6 petang, jalanan di depan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak itu terlihat macet sekali. Ini pertanda kalau saya naik metromini dari tempat itu Kereta Rel Listrik (KRL) akan bangga meninggalkan saya dengan kejam, dingin, dan tanpa perasaan di Stasiun Sudirman.

Oke, saya pun berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju Bendungan Hilir. Dari sana saya dapat naik Metromini 640 menuju Stasiun Sudirman. Tak lama saya pun sampai dan menuju musholla kecil yang terletak di lantai atas.

Musholla seadanya yang dindingnya hanya berupa kain yang bisa di bongkar pasang. Tempat wudhunya terbatas dan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Tidak manusiawi memang. Yang mendisain
stasiun ini tak menghitung kapasitas pengguna jasa KRL yang muslim. Sudah jelas ada di negara mayoritas muslim sudah selayaknya berpikir masjid/musholla minded gitu loh. Atawa yang ramah dan friendly terhadap mereka.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan sholat maghrib. Lalu pergi ke peron 2 untuk menunggu KRL Bojonggede Ekspress yang akan tiba di Stasiun Sudirman untuk terlebih dahulu menuju Stasiun Tanah Abang.

Beberapa saat kemudian KRL itu tiba dan betapa terlihat begitu “crowded” orang yang berusaha masuk berebutan kursi. Sampai orang yang mau keluar tertahan beberapa detik di pintu kereta. Yang di dalam ngotot mau keluar, yang di luar ngotot tetap masuk. Hadeuhhh lucu juga sih, orang yang mau keluar itu sampai teriak-teriak kayak di manga Jepang, “haaaa…!”

Saya tak berebutan karena bagi saya sudah merupakan sebuah kesyukuran kalau sudah bisa menggelar kursi lipat di dekat pintu. Aman dan tak ada yang mengganggu. Dan setelah meletakkan tas di atas rak, saya pun membuka handphone dan lagi-lagi cring. Bunyi samurai keluar lagi. J

Kini saya akan bermonolog tentang sebuah kata: #maaf.

Berulang kali banyak disebut dalam berita-berita hikmah bahwa jiwa pemenang ada pada pihak yang dapat memberi maaf. Ya betul, ada ketenangan yang didapat. Bahkan kebahagiaan. Bukankah surga adalah milik mereka yang dapat memberi maaf atas kesalahan-kesalahan saudaranya di setiap malam?

Duhai pemberi maaf, bahkan Tuhan telah mengaflingkan surga untukmu. Tapi tak banyak memang orang yang mampu melakukan itu. Karena itu hanya milik para jiwa besar. Bukan jiwa pecundang dan pengecut.

Sering kali kita mendengar betapa seseorang tak mampu memaafkan khilaf saudaranya hatta perkara sepele, tapi karena menyangkut harga diri dia pun tak sudi memberi maaf. Aih, padahal Tuhan Maha Pemberi Maaf.

Satu lagi yang luput adalah meminta maaf. Padahal hal yang paling sulit adalah meminta maaf. Sejatinya karena harus ada harga diri yang tunduk pada kerendahhatian. Bisa tidak ia taklukkan ego diri untuk mengangkat kenyataan bahwa dirinya memang bersalah. Jika tidak, pantas Allah murka karena ia telah sombong, padahal sombong adalah hanya selendang milik-Nya semata.

Sudah sewajarnya dalam Al-Qur’an, Allah beri keutamaan pada orang yang meminta maaf pada manusia. Pun Allah telah memerintahkan kita untuk selalu meminta ampunan pada-Nya bukan?

Malam ini, kepada semuanya, saya meminta maaf teramat sangat, dari dasar hati yang paling dalam atas segala salah saya selama ini, sengaja dan tidak sengaja. Hingga hari menjadi kelabu. Day by day. Semoga bisa memaafkan saya. Hingga tak ada lagi kata jahat yang tertulis untuk saya.

To all, semoga bisa menerima pesan—yang tak tahu apakah akan utuh diterima—ini dengan baik.

**

Selesai sudah saya menuliskan monolog ini namun kereta tak sampai-sampai juga ke tujuan. Akhirnya saya menyandarkan kepala di besi yang ada di samping. Tidur sejenak. Namun tak sampai pulas karena goyangan kereta membuat kepala saya harus beradu momentum dengan besi. Dezig…atau bletak yah…untuk mengekspresikan ini? Sudah jelas kepala saya yang kalah. Karena saya bukan orang yang memiliki kepala batu. Halah…

Semoga semuanya bisa menikmati monolog ini.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Terima kasih kepada semua yang telah mampu menyelamatkan monolog ini dari tombol delete.

09.49 06 Maret 2011

 

 

 

berapa mawar


berapa mawar

kau letakkan di jalananku

agar aku pungut

setiap pucuk yang tergeletak itu

yang mencerabih tanpa henti

memberitakan kepadaku

ada hari di ujung jalan

membawa sekeranjang penuh

merah mewangi

aku terkapar

padahal cuma sehasta lagi

beri aku satu yang terakhir

lirihku

kembali…

dia menaburkan

aku tergagap:

berapa

mawar

lagi

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada mawar yang tergeletak di ujung jalan kesepian

01.55 5 Maret 2011

tebal


tebal

 

jika semua kata yang pernah terucap

di muka bumi adalah engkau

maka aku ingin menjadi kamus

dan thesaurusnya

tidak lain dan tidak bukan

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dini hari

01.00 03.03.2011

Kamar Dua Anak Itu


KAMAR DUA ANAK ITU

 

Perjalanan setengah jam lamanya berjalan kaki dari Stasiun Cawang ke tempat Diklat Menulis tepatnya di Gedung Pusdiklat Keuangan Umum itu membuat saya berkeringat tapi tetap harum. J Saya tidak langsung menuju ke kelas, tetapi mampir dulu ke Warung Tegal (warteg) yang berada di luar gedung. Makan pagi dan setelah selesai langsung buka laptop.

Untuk browsing begitu? Tidaklah. Saya harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan kemarin oleh Sang Tutor. Tadi malam saya tak sempat untuk mengerjakannya. Ada “pekerjaan” yang harus saya selesaikan—dan itu lebih penting—ditambah dengan kantuk yang luar biasa.

PR-nya adalah mendeskripsikan kamar. Soal ini saya sudah pernah mendapatkannya waktu di Forum Lingkar Pena (FLP) Depok tahun 2007. Untuk ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman FLP Depok.

Pendeskripsian yang bagus, kata sang Tutor, adalah ketika pendeskripsian kita itu benar-benar tampak nyata di depan orang lain dan dipahami betul tanpa orang lain itu turut serta melihat objek yang dideskripsikan. Jadi dengan membaca pendeskripsian kita itu dia sudah merasa cukup. Nah, kalau belum, berarti pendeksripsiannya gagal.

Deskripsi itu harus punya detil, punya dominan impresi serta menuliskannya berdasarkan urutan ruang. Nah, Sang Tutor juga ingin dalam deskripsi itu ada gambaran yang berdasarkan penglihatan kita, lalu menambahkan suara di dalamnya, lalu ada detil aroma, dan sentuhan serta detil pengecapan.

Ya sudah, di warteg itu, saya tulis berdasarkan apa yang saya ingat tentang sebuah kamar yang ada di rumah. Silakan untuk dinikmati. Apakah Anda sudah merasakan dan mengetahui dengan baik penggambaran kamar ini tanpa perlu jauh-jauh datang ke Citayam? Dan perlu diketahui saja dominan impresi deskripsi ini adalah BIRU. Nah loh…

Rasakan saja. Semoga bisa dinikmati dan dipelajari buat yang lain. Maaf ini sebisanya saya saja, cuma 4 paragraf, dan waktunya pun mepet. ^_^

DESKRIPSI KAMAR

 

Ruangan kamar itu berukuran 3×3 meter. Dengan cat warna biru yang teramat dominan. Sebuah springbed bersusun teronggok begitu tepat di depan pintu namun tidak menghalangi. Dengan coverbed bertemakan tokoh kartun ternama di dunia—lagi—berwarna biru. Di sudut kiri ruangan di seberang pintu memojok sebuah lemari plastik berukuran tinggi 2 meter dengan warna yang sama menghadap ke timur. Aduhai biru nian terasa.

Di depan lemari, tak jauh darinya, sebuah meja menyudut di sisi lainnya. Meja itu terlihat bersih tanpa ada setitik debu karena selalu dibersihkan setiap harinya. Di atas meja itu terpasang seperangkat komputer lengkap dengan kabel telepon dan kabel internet. Kabel yang membuatnya tidak pernah kesepian. Di dunia yang maya itu ia punya banyak teman yang bisa diajak ngobrol untuk mengurangi rasa sepinya.

Ya, ruangan itu terasa sepi, apalagi kalau sudah tengah malam. Suara jangkrik sajalah yang terdengar diselingi dengan suara kucing jantan yang sedang birahi. Setelah itu desibel hanya menunjukkan angka rata-rata seperti di kuburan. Tapi di sini tidak ada wangi kemenyan dan bunga kamboja yang ada malah bau cat yang menyengat tapi harum sekali. Ruangan ini baru direnovasi total setelah kebakaran di tahun lalu.

Sekarang kamar ini terlihat indah dengan lantai keramik berukuran 40×40 cm dan plafon gipsum warna putih yang kontras dengan warna dominan. Warna putih itu seakan penetralisir dari warna-warna mayoritas. Biru di dinding kamar dan hijau muda pada pintu, serta coklat tua pada sisi-sisi kayu jendela kamar dan pintu. Semua ini saya persembahkan untuk anak-anak saya, Haqi dan Ayyasy. Selamat tidur nyenyak, Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut warteg pancoran tanpa ada wifi

07.51 02 Maret 2011