Kuliah Dhuha Al Yaum Ma’al Qur’an di Penghujung Ramadhan


image

Hari ke-27, di Masjid Al Ikhwan, setelah sesi melelahkan di malamnya ditambah sahur pakai nasi biryani dengan 66 lebih jama`ah, kini saatnya mendengarkan kuliah dhuha bersama Ustadz Badruddin, Lc.

Temanya: Cara Berinteraksi yang Baik dengan Alqur’an.

melamun


Harusnya keluar pintu tol Cietereup, ngelamun, jadi kebablasan sampai pintu tol Sentul. 😥

HARAPAN MAHADAHSYAT


HARAPAN MAHADAHSYAT


Islamedia –Apa yang menyebabkan seseorang ingin terus hidup di dunia? Tentunya karena ada harapan ia akan mendapatkan sesuatu untuk kesenangan dirinya. Dan harapan itu adalah kuncinya. Orang yang tidak punya harapan maka biasa disebut orang yang putus asa. Kalau enggak kuat iman biasanya bunuh diri.

Dalam Islam kita dilarang untuk melakukan bunuh diri, karena dosanya begitu besar. Pun, buat apa bunuh diri karena sebenarnya setiap masalah tentunya selalu ada solusi sebagai pasangannya. Karena pula rahmat Allah yang begitu luas. Maka jangan sekali-kali putus asa dari rahmatNya. Lagi-lagi ini menyangkut masalah iman.

Nah terkait dengan harapan ini, ramadhan bisa juga disebut sebagai bulan penuh harapan. Dengan demikian begitu banyak orang—terutama yang beriman—menyambutnya dengan riang gembira, minimal enggak ngedumel. Mengapa? Karena begitu banyak harapan-harapan yang diberikan Allah kepada orang yang berpuasa. Mulai dari segi kebendaan sampai yang transendental (Memangnya Ulil doang yang bisa ngomong kayak ginian).

Mulai dari sekadar berharap bedug maghrib cepat berbunyi atau juga suasana siang dan malamnya yang berbeda dengan hari-hari biasanya dan ini sering menimbulkan kerinduan yang begitu mendalam. Atau harapan dapat berbuka puasa bersama dengan keluarga dan mendapatkan kehangatan yang menyertainya. Atau dengan mencicipi minuman, makanan, dan masakan yang hanya muncul di bulan Ramadhan itu. Atau keramaian tiada tara di masjid dan musholla bagi anak-anak yang tidak biasa didapatkan di bulan selainnya.

Atau sekadar harapan dapat THR bagi para pegawai dan buruh. Atau dapat bagian beras dan uang zakat bagi para mustadh’afin. Atau harapan bisa mudik yang tidak menyurutkan niat dari jutaan orang para pelakunya walau kesulitan dan kelelahan menghadang didepan. Dan lebaran tentunya. Duh, banyak banget yah harapan-harapan itu. Tetapi itulah yang membuat kita hidup. Apalagi jika semuanya, harapan-harapan itu, bermuara pada kenyataan.

Itu hanya sebatas keduniawian. Padahal ada harapan yang lebih dahsyat dan mahadahsyat lagi. Seluruhnya ada di bagian yang transendental itu. Mulai dari harapan bisa dilipatgandakannya pahala dari semua amal-amal kebaikan yang dilakukan, atau ketenangan jiwa yang begitu banyak dicari oleh orang seantero dunia, atau keberkahan hidup dunia dan akhirat, atau mendapatkan malam yang mulia, malam seribu bulan, malam lailatul qadr.

Atau menjadi orang yang seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia di 1 Syawal. Bersih. Putih. Tanpa noda dan cela apalagi dosa. Atau harapan mendapatkan predikat al-‘abda attaqiyya (orang yang bertakwa)—dan ini sudah jelas dicintai oleh Allah. Atau harapan mendapatkan rahmat, ampunan Allah, dan pembebasan dari api neraka. Atau harapan masuk surganya Allah dari pintu Arroyyan.

 

Dan harapan yang mahadahsyat itu adalah berjumpa dengan Allah Akbar. Sebuah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama di alam ruh. Kita begitu merasakan nikmat yang luar biasa hingga mendapatkan sensasi tiada terkira ketika kita berbuka puasa hanya dengan seteguk air dingin atau secangkir teh hangat, seiring itu kita mengucap syukur Alhamdulillah, apatah lagi berjumpa dengan Sang Mahaindah: Allah ‘azza wajalla. Indah nian jika harapan mahadahsyat itu terealisasi.

Berharaplah, teruslah berharap, jangan pernah berhenti untuk berharap di hari-hari Ramadhan yang tersisa ini. Hiduplah, teruslah hidup, jangan pernah berhenti untuk hidup di bulan 1000 harapan ini. Jangan pernah menyerah untuk terus beramal karena Allah, sebagai jalan memuluskan harapan itu menjadi nyata. Jangan pernah untuk lelah lalu kita rehat karena tempat istirahat kita sejatinya cuma ada di sana, di jannahNya Allah.

Semoga, kau dan aku, menjadi bagian dari manusia yang dapat mewujudkan harapan mahadahsyat itu. Agar tak sekadar mimpi.

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Islamedia

03.33 pada 20 Ramadhan 1432 H

http://www.islamedia.web.id/2011/08/harapan-mahadahsyat.html

Gambar diambil dari sini.

AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA


AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA

 

Sabtu malam Ahad sebelum Ramadhan, kami bertiga—saya, Ayyasy, dan Kinan—menjemput Ummu Haqi dari sebuah hotel di Bogor tempat konsinyering sehari penuh itu diselenggarakan. Nama hotel itu adalah Hotel Sahira, tepatnya di jejeran Jalan Paledang. Kalau saya cuma tahu jalan itu identik dengan nama penjara.

Hotel itu dekat ditempuh dari stasiun Bogor. Jalan kaki bisa atau naik ojek juga bisa. Hotelnya terlihat bagus. Tampak depan bangunan bercita rasa zaman keemasan kolonial Belanda. Sepertinya juga hotel ini hotel syariah karena ada larangan untuk membawa minuman keras dan pasangan yang bukan mahrom untuk menginap. Di setiap kamarnya ada Alqur’an dan terjemahnya serta sajadah untuk shalat.

Untuk kami disediakan satu kamar buat bermalam sampai besok tetapi karena ada agenda yang tak bisa ditinggalkan oleh saya maka kami putuskan untuk pulang saja. Nah, sebelum pulang itu saya sempatkan untuk menjepret Ayyasy dan Kinan di samping unta yang sedari tadi mematung di lobi hotel yang interior dan pencahayaannya cukup bagus.

Selamat dinikmati saja fotonya. J Omong-omong tentang Bogor banyak sekali tempat eksotik untuk dikunjungi. Bogor bisa disamakan dengan Bandung. Yang membedakan adalah hujan, pohon, kijang dan rusanya. Satu lagi kata orang sih…perempuannya. Ah, ada-ada saja. Suatu saat kami akan sempatkan untuk jalan-jalan di sana. Eksplorasi lebih dalam dan lama.

Ini yang terakhir. Beneran terakhir. Sumpah. Kalau ke Bogor melewati istana Bogor dan di halaman luasnya menemukan banyak binatang mamalia seperti kijang dan rusa maka yang menjadi pertanyaan adalah apa bedanya kijang dengan rusa? Saya tanya saya jawab sendiri. Kalau kijang itu punya totol-totol sedangkan rusa tidak punya. Membedakan jantan dan betinanya bagaimana? Yang jantan itu punya tanduk sedangkan yang betina tidak.

Jadi kalau ada yang bertotol-totol dan tidak bertanduk itu namanya adalah kijang betina. Jangan salah sebut yah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

merdekalah kita

11.28 17 Ramadhan 1432 H

 

 

Tags: bogor, paledang, stasiun bogor, kijang, rusa, hotel sahira, kolonial belanda, belanda, istana bogor, bandung, kinan, ayyasy

DI SEBUAH KETINGGIAN


image

Pagi ini setelah kuliah shubuh, sesaat mau pulang ke rumah, hati kok tergerak untuk menangkap pemandangan pagi  yang sejuk ini. Masih banyak kabutnya yang bertengger di pucuk- pucuk pepohonan di kejauhan sana. Suasana masih sepi. Orang mungkin masih bergulung dengan selimutnya sehabis sahur tadi.
Jalan lurus ini adalah jalan depan rumah. Satu yang ada di hati pada pagi ini bersyukur tinggal di Bogor yang hawanya masih sejuk.
Jangan dilupa kicau burung-burung di pagi ini terasa gaduhnya. Seperti menyambut suasana hati saya yang sedang bahagia di Ramadan Mubarak ini.
Ya Rabb jangan kau cabut kebahagiaan kami di pagi ini sampai akhirnya.
Dan….
Ya benar, selalu akan ada banyak yang dilihat di atas ketinggian.
Pagi semua.
***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara.
Perpisahan juga adalah pertemuan yang salah tempat.
14 Ramadhan 1432 H
06.17

sekarat


sekarat


kata orang
aku tak layak mengharap debu cintaMu
apatalah lagi mengharap remah kasih sayangMU
aku adalah pendosa di bawah kaki gunung maksiat

kata orang
aku tak layak berteduh di pohon maafMU
apatalah lagi berenang di samudera ampunanMu
aku adalah pendosa berbaju kesombongan

kata orang
aku tak layak mencium bau surgaMu
apatalah lagi meminum telaga KautsarMu
aku adalah pendosa buat para tetangga

tapi kataMu

rahmatMU adalah bilangan yang tak terhingga

pada hambaMu yang terpilih

oh, di tepian maut yang mencekik leher

aku sungkurkan hidupku yang tinggal sedikit

aku tak mau menjadi fir’aun

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Diikutkan dalam lomba menulis puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

 

Gambar dari sini.

m u h a s a b a h


muhasabah


saat KAU tiada di hati

gelisah itu sudah pasti,

nelangsa apalagi,

sepi mesti,

sedih tak pernah menyisih,

perih tibalah merintih

apalagi setelah ini?

sajadah panjang dicari-cari

sepertiga malam ditelikung berdiri

untuk qalb menjadi suci

putih

itu jika taubatku KAU kehendaki

aduuuh

jika tak

hiduplah yang perlu disesali

Rabb, bisakah aku dapatkan pintu surgawi

dengan kantung penuh duniawi

bekal yang tanpa isi

di hari ini

dalam kesendirian di lain sisi

sebuah introspeksi

menjadi setengah mati

untuk menggapai cintamu Ilahi

terimalah

terimalah

terimalah

***

 

Riza Almanfaluthi

10.53 Lantai 19 24 Juni 2011

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

P A K U


paku

*


kata-kata

hangus terbakar oleh pening

pada tengah malam yang mengguncang jiwa

karena sepinya

karena rapuhnya

sebentar lagi sepertiga malam terakhir anggun datang

seperti khalifah berdiri di atas karang kemenangan

di setiap medan-medan pertempuran

aku menggigil dipeluk bekunya air wudhu

aku tak menyerah pada detik-detik yang memanggul lena

pada hangatnya selimut

pada empuknya tilam

pada gemerlapnya mimpi

dan lalu aku ciumi sudut-sudut sajadah di setiap milimeternya

menyatukan diri, berusaha moksa,

mikraj mencariMu

dipilin dengan ribuan pinta usir derita

ribuan harap penuh ratap

“masih Kau dengar semuanya ini Rabb?”

dari hambaMU yang berpaku dosa di sekujur tubuh

***

Riza Almanfaluthi

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

Juni 2011


Sumber gambar


Mata Api


mata api

**

 

 

 

 

 

 

aku dekap hujan yang datang seketika padaku di sore hari ini

ia menangis, mengadukan berpuluh kesah

karena sungai yang tak mau terima

pohon yang tak mau tumbang

awan yang tak mau hitam

dan tanah yang tua

ia tak tahu

kalau aku

harusnya yang dipeluk

karena setangkai biru berduri

yang mendadak menusuk jantungku

hingga menembus tulang belakang, dan aku

hanya bisa merintih, merintih, dan merintih tak berkesudahan ini

lalu aku tatap hujan

tepat pada sepasang bola matanya

menembus ke relung terdalam

dan aku masuk ke labirin menyesatkan

yang tak tahu ujung dan arahnya

mencari sebuah tanya, bukan jawab

sembari itu aku masih lihat di sudut matanya

ada bening yang bertengger abadi

tidak butuh untuk jatuh dan lalu sirna

agar tetap menjadi saksi akan sebuah peristiwa

di saat itulah aku tergugah

bagaimana mungkin akan ada jawab jika tak ada tanya

aku hanya terdiam

saat isak menjadi iramanya

bahkan saat aku menjadi api

lihat !

aku adalah api yang dipagut hujan

tetap membara
sampai aku lipat dirinya

mengalungkannya di atas leher

dan berjalan menuruni tebing

di bawah sana

ada jeram yang kuat

untuk aku terjun

dan pergi ke laut

aku menjadi salmon

bermantel hujan

bersisik biru

dengan sepasang mata api

:dengarkan aku

***

Riza Almanfaluthi

4 Ramadhan 1432 H
Kebahagiaan adalah kesedihan yang salah tempat.

Gambar

baut


baut


dalam ramai

di atas jembatan penyeberangan

ada sedih terlukis di tangan-tangan lusuh hitam dan bau

tengadah dan sedang menunggu lemparan kertas bergambar para pahlawan

atau koin logam yang berisik jika timpa pada mangkuk-mangkuk jelek

gurat hidup yang durjana terpatri pada wajah ibu

di samping anak perempuan yang lelap dipeluk bulan

pak bu

sedekahnya buat makan

terucap getir mengguncang malam-malam yang lapar

dari apa yang sudah terkumpul

banyak atau sedikit

mustad’afinlah mereka

dan hidup tak berhenti di situ

di bawah jembatan

sudah menunggu laki-laki bermuka minyak

menunggu setoran

ah…di mana-mana laku culas selalu ada

aku rindu Umar al Faruq membawa sekarung gandum di tengah malam

kini para Umar itu masih bergelut dengan selimut hangat

kasur empuk, tv kabel, dan satpam yang menjaga

tak jauh-tak jauh

dari jembatan penyeberangan itu

dan aku hanya baut padanya

tak bisa berbuat apa-apa

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17 Juni 2011

Ikut disertakan dalam Lomba Menulis Puisi Alamanah Fair Kementerian Keuangan

Sumber gambar: di sini