Dunia kerja ASN dan PNS pada umumnya adalah dunia pengabdian yang sarat rutinitas dan tugas. Setidaknya 84 persen mereka yang memasuki dunia itu mengaku karena ingin berkontribusi kepada negara. Ini kata survei Kemenpan RB tahun lalu. Sayangnya, entah disadari atau tidak, banyak awak ASN yang akhirnya terjebak dalam rutinitas sistem itu sendiri, seolah dunia lain di luar sana sudah mati. Mereka tenggelam dalam SOP tugas harian—pagi ke malam—dan sebagian mengubur talenta yang sebenamya pernah mereka cita-citakan. Kalaupun dilakukan, talenta itu akhirnya tak lebih dari sekadar hobi pengisi jeda rutinitas semata. Haruskah lingkungan kerja ASN menjadi kuburan bagi berkembangnya talenta lain orang-orang di dalamnya? Bukankah seharusnya masing-masing bisa tumbuh beriringan, bahkan saling melengkapi?
Seperti Umur Manusia, Serupa Usia Dunia, Perjalanan Ini Singkat Belaka
Perjalanan ini singkat belaka.
Kamis sore itu, usai mengikuti diklat di bilangan Pancoran, Jakarta, saya langsung menuju Stasiun Pasar Senen.
Saya diantar oleh tukang ojek pangkalan yang biasa mangkal di depan Kantor BPJS Ketenagakerjaan di Jalan Jenderal Gatot Subroto. Karena sudah berlangganan, pria asal Madura itu bersedia menjemput di mana dan kapan saja saya membutuhkan jasanya.
Sebelum sampai di Stasiun Pasar Senen, saya memintanya untuk singgah sebentar ke Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Menteng Satu. Ada barang yang harus saya titipkan ke Pak Satpam di sana: pena Galaxy Samsung S8. Pena itu milik Mbak Ais, teman diklat, yang kebetulan terjatuh di tempat parkir mobil dan syukurnya berhasil saya temukan.
Ikut Arus Dunia Perbatuan
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan testimoni ini di akun Instagram teman saya, yaitu Mbak Adella Septikarina. Pemilik akun @adella_septikarina ini menyampaikan ulasan singkat terkait buku Sindrom Kursi Belakang.
Darinya saya mendapatkan ide untuk mempromosikan buku ini kepada teman-teman yang mutasi atau promosi di lingkungan kantor dan ditempatkan di seluruh penjuru negeri. Buku ini benar-benar relevan dengan seluruh kondisi yang dialami oleh teman-teman saya tersebut.
Ada Kisah yang Sehalaman pun Tak Sampai
Testimoni buku baru Sindrom Kursi Belakang ini sebenarnya ditulis oleh penulisnya hampir sebulan yang lalu. Namun, saya baru mengetahuinya saat saya dihubungi secara langsung oleh beliau. Ia adalah penulis beken yang telah mengeluarkan banyak buku, di antaranya adalah Negeri Para Laki-laki dan Menjadi Laki-Laki.
Terima kasih kepada Pak Eko Novianto alias Ekonov yang telah memberikan ulasan terhadap buku saya ini. Kepada Anda pembaca, silakan menikmati.
Larilah Terus dengan Bahagia
Sehari setelah peristiwa roket-roket Palestina menghancurkan sebagian wilayah israel, di belahan dunia lain, Pelari Kenya, Kelvin Kiptum, berhasil menorehkan rekor dunia lari maraton pada Ahad, 8 Oktober 2023.
Kiptum yang berumur 23 tahun ini berhasil mencatat waktu 2 jam 35 detik saja untuk menyelesaikan lari jauh sepanjang 42,195 km. Kiptum mendobrak rekor lari maraton sebelumnya yang dipegang oleh Eliud Kipchoge saat menjuarai Berlin Marathon pada tahun 2022 dengan waktu 2 jam 1 menit 9 detik.
Continue reading Larilah Terus dengan Bahagia
Kutulis Nyawamu, Senyawa Nyawaku: Reviu Buku Sindrom Kursi Belakang
Sudah dua pekan lamanya saya di kantor baru, tenggelam dalam pekerjaan yang menumpuk, dan bungah dengan rendezvous setiap malam.
Pun, baru pada kesempatan ini saya bisa membarui blog saya. Untuk kali ini saya ingin membagi salah satu reviu singkat buku Sindrom Kursi Belakang. Reviu ini dibuat oleh sahabat saya pelahap buku yang setia membaca buku-buku saya: Sigit Raharjo.
Testimoni Seorang Bibliophagist: Seandainya Saja Saya Mempunyai Energi dan Ketekunan
Banyak pembaca buku Sindrom Kursi Belakang memberikan testimoninya terhadap buku ini. Saya mengucapkan terima kasih dengan setulus-tulusnya kepada mereka semua.
Aim Nursalim Saleh, Direktur Ekstensifikasi dan Penilaian, DJP:
Cerita-cerita di sana bisa menjadi cermin buat pembacanya.
Dwi Astuti, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, DJP:
Saya ditemani buku ini di pesawat. Seru banget. Saya bisa membayangkan keindahan Tapaktuan dari buku ini. Seperti Andrea Hirata yang menggambarkan Belitong.
Rezza Kurniawan, Bekerja sebagai Pegawai Pajak

Rezza Kurniawan sedang membasuh gelas, piring, dan sendok pada saat saya memasuki ruang dapur kantor. Pemuda beranak satu dan berkaca mata minus tebal ini adalah office boy (OB) di kantor kami.
Baru beberapa bulan ini ia ditempatkan di lantai gedung tempat saya bekerja. Sebelumya Rezza ditempatkan di lantai lain gedung ini. Rezza sudah bekerja sebagai OB sejak tahun 2016.
Continue reading Rezza Kurniawan, Bekerja sebagai Pegawai Pajak
Menjaga Personal Branding di Dunia Maya

Caturwulan pertama tahun 2023 menjadi masa penuh pembelajaran buat seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Terutama tentang bagaimana cara terbaik berinteraksi di dunia maya dan mengelola media sosial individu.
Pada saat ini pun dunia maya menjadi tempat yang tepat untuk mengelola penjenamaan pribadi (personal branding). Ini karena jangkauannya secara global. Pengguna media sosial dapat berbagi pengalaman, konten, pemikiran kepada seluruh penduduk dunia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Mengapa “Dipergilirkan”? Pasti Ada Maksud dan Tujuannya. Sebuah Ulasan Buku Sindrom Kursi Belakang
Beberapa waktu lalu, ada teman saya bernama Mas Johana Lanjar Wibowo yang membagi ulasan kawannya (Mas Dany Setiawan) soal buku Sindrom Kursi Belakang. Ini merupakan ulasan singkat dalam pandangan pertamanya terhadap buku baru saya ini. Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas pendapatnya ini. Semoga bermanfaat dan silakan membaca.
*
“Resah dan bahagia itu dipergilirkan“
Itu adalah kalimat yang ada pada sampul bukunya pak Riza Almanfaluthi: “Sindrom Kursi Belakang”.
Hari Jumat sore kemarin, saya dipinjamkan sebuah buku oleh sahabat saya yang sekarang bertugas di Kanwil LTO (Large Tax Payer Office). Saya diminta untuk membacanya. Katanya tulisan-tulisan saya cocok dengan tipe penulisan di buku ini. Senang sekali saya.






