Kita Bukan Sisyphus


Sabtu pagi pukul 05.45  pada 6 Mei 2017 di Autodromo Nazionale Monza, Italia, tiga orang pelari jarak jauh dunia sedang bersiap membuat sejarah baru dalam sebuah proyek yang dicetuskan oleh perusahaan sepatu Nike berjuluk: Breaking 2.

Proyek ini adalah sebuah proyek inovasi yang dirancang untuk membuka potensi manusia. Juga merupakan proyek ambisius untuk memecahkan rekor lari maraton sejauh 42,195 kilometer dalam waktu di bawah dua jam.

Sampai saat itu rekor dunia maraton untuk pelari laki-laki yang dicatat oleh International Association of Athletics Federation (IAAF) adalah 2:02:57. Pelari Kenya Dennis Kimetto membuat rekor itu di Berlin Marathon pada 28 September 2014.

Butuh dua menit 58 detik saja agar lari maraton dalam waktu di bawah dua jam bisa pecah. Tapi jelas butuh usaha keras untuk mencapainya. Bahkan banyak yang menganggap proyek ini sebagai proyek tidak mungkin. Tetapi bagi Nike: “The impossible is an opportunity to envision the future of sport.”

Namun dunia telah belajar tentang mengatasi banyak ketidakmungkinan. Maka pemilihan tanggal tidaklah sembarangan. Tanggal 6 Mei bukanlah tanggal biasa saja. Pada 63 tahun yang lalu, di tanggal yang sama di tahun 1954, sebuah pendobrakan atas batas potensial manusia terjadi.

Pelari Inggris Roger Bannister memecahkan rekor lari yang pada waktu itu menjadi sesuatu yang mustahil. Menurut ilmu pengetahuan saat itu manusia tidak mungkin berlari satu mil dalam waktu di bawah empat menit. Tetapi Bannister mampu membuktikan sebaliknya. Di trek Iffley Road Universitas Oxford, Bannister mencatat waktu tiga menit 59,4 detik.

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Catatan waktu Bannister hanya bertahan 46 hari. Lalu banyak pelari memecahkan rekor dalam tiga tahun setelahnya. Batas waktu di bawah empat menit kemudian menjadi standar waktu dalam kualifikasi pelari profesional. Pada 1999 rekor lari satu mil dengan waktu tiga menit 43,13 detik yang dicetak oleh Hicham El Guerrouj bertahan sampai sekarang.

Nike ingin mendobrak batasan dua jam itu. Dengan keyakinan bahwa setelah batasan itu diterobos maka akan banyak orang yang bisa berlari menyelesaikan maraton di bawah dua jam. Untuk itu dengan pendekatan holistik banyak hal telah dipersiapkan. Mulai dari pemilihan pelari, sepatu, kaus, pelatihan, nutrisi, dan lingkungan. Sirkuit balap mobil F1 Monza dipilih karena elevasinya yang rendah, minim angin, dan suhu rata-rata 12 derajat celcius

Nike telah menetapkan tiga pelari elit dunia. Ada pelari Kenya Eliud Kipchoge, 32 tahun, peraih medali emas maraton di Olimpiade Rio 2016.  Lalu pelari Eritrea Zersenay Tadese, 35 tahun, pemegang rekor dunia Half Marathon sampai saat ini dengan waktu 58 menit 23 detik. Terakhir, pelari Ethiopia Lelisa Desisa, 26 tahun, pemenang Boston Marathon 2015.

Mereka bersiap membuat sejarah baru pagi itu. Kostum lari berteknologi menempel di sekujur tubuh: kaos dan celana lari khusus, manset ketat di tangan, jam lari, kaos kaki pendek, dan sepatu dengan teknologi mutakhir.

Ketika terompet berbunyi mereka langsung berlari dan jangan dilupa ada enam pelari pendamping yang mendahului ketiganya. Merekalah yang disebut pacer. Tugas pacer adalah menjaga irama lari dari pelari utama agar tidak kendor dan lemah. Di beberapa kilometer tertentu pacer lama itu akan diganti dengan pacer baru yang bertenaga segar.

Dari ketiga pelari elit itu, Kipchoge yang masih bisa mengimbangi para pacer sampai mendekati garis akhir. Di kilometer ujung, pacer berteriak menyemangati Kipchoge agar berlari lebih cepat lagi, lagi, dan lagi. Sampai di 200 meter tersisa, para pacer melepas Kipchoge menuju garis finis. Kipchoge mencetak waktu 2:00:25, lebih dari enam menit kemudian menyusul Tadese, dan Desisa finis dengan waktu 2:14:10.

Ambisi memang tidak tercapai. Masih 26 detik lagi. Tetapi dua menit dan 58 detik lebih cepat daripada rekor dunia maraton yang dicetak tahun 2014 oleh Kimetto. Jelas ini menjadi pencapaian yang luar biasa. Sedangkan pendobrakan rekor lari dengan selisih tiga menit sebelumnya butuh waktu 16 tahun.

Pelari, pacer, dan orang-orang di belakang mereka yang menjadi tim hebat, inovasi teknologi yang mendukung, dan perencanaan matang menjadi variabel penting dari sebuah pencapaian tujuan menuju ke arah yang lebih baik. Inilah yang disebut perubahan.

Perubahan yang juga sedang dilakukan oleh instansi pengumpul sebagian besar dana Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara republik ini. Sebuah perubahan dengan jenama Reformasi Perpajakan yang mesti mendapat dukungan dari dalam yaitu pegawai Direktorat Jenderal Pajak sendiri. Merekalah yang berperan besar dalam perubahan itu.

Kalau reformasi ini tidak didukung oleh mereka maka dipastikan kegagalan reformasi menghadang di depan. Faktor ketiadaan dukungan internal menjadi faktor terbesar kegagalan sebuah proses reformasi. Perlu melibatkan mereka dengan sungguh-sungguh dalam proses reformasi dengan berpijak pada kenyataan paling mendasar: “Apa yang dibutuhkan mereka?”

Grup perubahan dengan nama Tim Reformasi Perpajakan yang dibentuk pada awal proyek perubahan ini harus memasang alat bantu dengar di telinga-telinganya dengan kepekaan luar biasa untuk merekam apa yang dimaui oleh seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak, untuk mencari titik temu antarpegawai yang masuk dalam Tim Reformasi Perpajakan dengan pegawai pajak yang liyan—yang lain. Kemudian untuk sama-sama jujur.

Tim Reformasi Perpajakan berusaha jujur bahwa ini adalah untuk kebaikan semua. Sehingga dipahami yang liyan karena mereka itu tak sudi harapannya dilambungkan kemudian jatuh dengan kepingan yang berserak.

Pula, yang liyan enggan dan tak mau menjadi Sisyphus. Ia yang menanggungkan hukuman membawa batu ke puncak gunung untuk selanjutnya menggelundung kembali ke bawah ketika akan tiba di atas. Tak pernah terjadi perayaan keberhasilan di puncak.

Sedangkan yang liyan juga harus berusaha jujur dan paham betul bahwa suatu perubahan butuh titimangsa. Tak boleh ada ketergesaan. Di sana, di mikrokosmosnya, mereka, Tim Reformasi Perpajakan berusaha cermat merencanakan setiap langkah menuju perubahan.

Maka kejujuran-kejujuran itu pada saat Ramadan seperti Nil yang menemukan Mediterania. Ketika sukma dan raga insan Direktorat Jenderal Pajak dilatih menerapkan kejujuran dengan laku puasa selama sebulan penuh. Yang kemudian diharap, mereka dan liyan, bisa menunaikan laku tanpa dusta itu pada sebelas bulan berikutnya. Ramadan dan reformasi berkelindan menuju satu tujuan: menjadi manusia yang berubah, berbeda, dan berdaya guna.

Entah dengan lakon apa kita berperan dalam proses perubahan itu.  Pelari, pacer, atau yang lainnya? Silakan pilih. Yang pasti kita tak mau menjadi Sisyphus untuk memelihara frustasi yang abadi.

 

 

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

13 Juni 2017

Artikel ini dimuat di Intax Edisi 5 tahun 2017

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s