JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM


JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM

Jum’at, 18 September 2009

Dari kilometer 0 tepat pukul 05.56 WIB kami memulai perjalanan mudik ini. Sedari awal kami sudah niatkan bahwa mudik ini buat ibadah. Bukan untuk apa-apa. Jadi perjalanan panjang pun harus diiringi dengan ibadah itu. Maka kami pun bertekad walaupun Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi para musafir, kami tidak akan memanfaatkan fasilitas itu.

Dengan banyak alasan tentunya. Yang paling utama adalah rasa beratnya mengganti puasa di luar bulan ramadhan. Di saat orang lain tidak berpuasa dan miliu kebaikan tidak sekental di bulan Ramadhan. Alasan lain, kami ingin merasakan kenikmatan yang luar biasa di saat berbuka puasa di tengah perjalanan mudik. Bagaimana dengan nikmatnya nanti akan saya ceritakan kemudian.

Dari rumah sampai tol Cikampek perjalanan kami lancar. Walaupun selalu diberitakan dari radio yang saya pantau bahwa di ujungnya akan terdapat kemacetan yang mengular panjang. Tetapi kami bertekad perjalanan itu jangan sampai dibelokkan dari jalur yang tidak pernah saya lalui, misalnya melalui jalur alternatif Sadang.

Dan betul Allah selalu memudahkannya, ketika kendaraan-kendaraan lain diarahkan ke jalur alternatif, eh…pas untuk kendaraan saya tetap diarahkan ke jalur utama. Dua kali saya mengalaminya. Tetapi resikonya benar-benar berat.

Dari satu kilometer menjelang pintu tol Cikampek hingga Pertigaan Jomin dan 30 kilometer setelahnya, saya harus menempuhnya selama kurang lebih 5 jam kawan. Jalan yang tidak lebar dan hanya dua lajur, kepadatan kendaraan, ribuan pemudik motor, serta penumpukan kendaraan di SPBU, ketidaktertiban poara pengendara adalah beberapa penyebabnya.

Ini benar-benar puncak dari arus mudiknya. Kamis kemarin, sebagaimana diinformasikan teman-teman di facebook, perjalanan mudiknya amat mudah, masih lengang. Bayangkan saja, Jakarta Brebes hanya ditempuh selama 6 jam perjalanan.

Tapi kini kawan…sungguh berat perjalanan ini. Mau tidak mau, kami harus melaluinya untuk bisa bersilaturahim dengan sanak keluarga. Dan ini seninya mudik. Lalu saya, istri, dan anak-anak diberikan pemandangan yang amat menggiurkan.

Di tengah kemacetan dan panas terik yang membakar, betapa banyak para musafir itu meminum air dingin yang menyejukkan. Luar biasa…Apatah lagi para pedagang air minum itu sengaja menawar-nawarkankanya kepada kami dengan air kemasan yang sengaja dibuat berembun agar kelihatan segarnya.

Khadimat yang ikut saya sudah saya tawarkan untuk membatalkan puasanya karena terlihat sudah lemas betul ia. Tapi Alhamdulillah ia menampik tawaran itu. Maunya tetap puasa sampai akhir. Syukurlah…

Sedangkan untuk anak-anak saya tidak berikan penawaran itu karena sudah pasti mereka akan menerimanya sebelum saya menyelesaikan kalimatnya. Saya bujuk mereka untuk berpuasa sampai akhir.

Setelah lepas dari kemacetan, perjalanan itu sudah mulai terganggu dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyergap dan rasa capek yang luar biasa. Saya harus istirahat untuk memulihkan tenaga. Dan saya menemukan masjid yang representatif—masih di sekitar Kabupaten Subang sebelum masuk Indramayu—untuk menghilangkan rasa berat di mata.

Setelah menjama’qashar, saya langsung tidur pulas, setengah jam kemudian pada pukul 15.30 WIB saya bangun dan badan sudah mulai terasa segar kembali. Bapak saya sudah beli nasi timbel dan sate kambing ketika mau berangkat kembali, “untuk persiapan buka,” katanya. Buka masih lama pak.

Subang sampai Indramayu tepatnya di daerah Lohbener, lancar-lancar saja. Walaupun juga sempat ada kemacetan karena pasar tumpah. Dan ketika sudah mendekati Jatibarang, terdengarlah adzan yang menggema. Subhanallah, akhirnya kami bisa berbuka juga. Kami minggir sebentar untuk membeli sekadar makanan dan minuman kecil pembuka puasa. Hanya dengan seteguk air sudah menghilangkan beban yang sedari pagi menumpuk.

Ini nih…janji Allah bagi orang yang berpuasa. Dua kenikmatan yang diberikan yaitu berjumpa dengan Allah dan nikmatnya saat berbuka. Yang terakhir ini saya rasakan betul sebagai nikmat yang teramat luar biasa diberikan Allah kepada kami hari itu. Seperti yang juga Allah pernah berikan waktu mudik di tahun 2007.

Akhirnya sampai juga kami di Jatibarang. Dan setelah menurunkan Bapak di suatu tempat kami pun melanjutkan perjalanan kami karena Jatibarang bukan daerah tujuan mudik kami.

Eh…Allah berkehendak lain, ketika mau berangkat saya baru ngeh kalau ban belakang kanan mobil saya sudah kempes. Syukurnya ada ban serep. Masalahnya selama dua tahun umur mobil ini saya belum pernah mencoba-coba buka tempat ban serep. Utak-atik selama 20 menit tidak terbuka-buka juga baut penahan ban serep. Akhirnya saya putuskan tetap berjalan walaupun dengan pelan-pelan. Dengan pertolongan Allah 500 meter di depan ada tukang tambal ban.

Setengah jam kemudian kami sudah meneruskan perjalanan kami dengan tenang. Kami memakai jalur alternatif Jatibarang-Karangampel-Cirebon. Kami tidak memakai jalur yang biasa ditempuh para pemudik lainnya untuk menuju Jawa Tengah yaitu jalur Jatibarang-Tol Palimanan-Kanci.

Alasannya, saya sudah berkali-kali menempuh jalur alternatif itu. Dan saya sudah merasakan betul kenyamanannya selama berkali-kali lebaran. Jalannya lebar, mulus, dan sepi dari pemudik. Saya sampai berpikir, “aneh juga kenapa para pemudik motor ataupun mobil sedikit yang menempuh jalur ini.”

Kalau mobil bolehlah mereka tidak lewat sini, mungkin mereka berpikiran ada jalur tol. Tapi lebaran kayak begini tol juga macet sampai setengah perjalanannya. Kalau pemudik motor kemungkinannya satu menurut saya, mereka tidak tahu. Itu saja.

Alasan lainnya saya menempuh jalur ini adalah saya bisa mampir ke bibi saya di Segeran, sebuah kampung sebelum masuk Karangampel. Dan kami memutuskan untuk menginap di sana. Perjalanan mudik tahap pertama kami berakhir dulu.

Total jenderal waktu yang ditempuh adalah 13,5 jam kawan.

Melelahkan juga nikmat…

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21 September 2009 08:46

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s