THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

Kenapa yang Pertama Iwojima?


image

Sebelumnya sudah kebayang nanti kalau sudah sampai di toko buku itu saya bisa sepuasnya beli setiap buku. Tapi pada kenyataannya tetap saja yang saya beli adalah buku-buku yang benar-benar akan saya habiskan untuk satu bulan ini.

Kemarin Ayyash sudah saya bebaskan untuk beli apa saja. Eh dia cuma beli komik Naruto edisi terakhir. Dan beli mainan congklak atawa dakon atawa mancala yang dikombinasi dengan permainan kayak scrabble. Harganya diskon 50%. Kinan bagaimana?

Kinan sudah uring-uringan tak mau ke toko buku itu. Enggak ding. Awalnya mau eh pas lewat suatu mal berubah haluan dah niatnya untuk ke toko buku. Pengennya ke tempat bermain yang ada di mal itu. Tapi seberapa banyaknya tetesan airmatanya yang saya usap dari pipinya tetap tak menggoyangkan niat saya. 🙂 Maaf ya Nak…pan sudah pekan lalu kita mampir ke sana.

Setelah ngambeknya mereda seperti biasa dia jelajahi ruangan toko buku dan mengambil buku mewarnai dan buku latihan menempelkan stiker. Bahkan dia ambil tiga buku, lebih banyak daripada yang diambil kakaknya.

Beberapa buku terjemah juz 30 diambil Ummu Haqi, istri saya yang bernama Ria Dewi Ambarwati ini. Cuma itu bae. Tak ada yang lain. My beloved rose ini sudah sibuk jaga Kinan yang kemana-mana jadi tak sempat lihat-lihat buku secara mendalam.

Sekarang apa yang saya beli? Sudah saya twitkan kemarin kalau saya menemukan bukunya Malcolm Gladwell di toko buku itu. Saya tahu Malcolm Gladwell semasa saya menerima hadiah dari Direktorat Jenderal Pajak saat memenangkan juara pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2012. Dari beberapa hadiah yang saya terima itu ada buku judulnya Outliers. Ditulis oleh Gladwell itu. Langsung dah kepincut sama dia. Tak perlu berpikir dua kali untuk ambil What the Dog Saw. Eeh…pas mau bayar ketemu lagi sama bukunya yang lain: Blink. Saya Ambil juga.

Gladwell itu memberikan yang baru dalam memandang sesuatu. Cara dia bagaimana mendefinisikan sukses di Outliers itu bagus banget. Kisah-kisah nyata yang ditulis di sana dibuat dalam gaya jurnalistik investigatif. Sangat Menarik. Intinya: darinya saya mendapatkan banyak ilmu dan kisah baru. Begitu yah kalau orang sudah punya kualitas menulis yang bagus maka untuk buku selanjutnya bisa jadi jaminan mutu sampai saya borong semua bukunya.

Hal sama saat saya beli buku tentang Karmaka Surjaudaja, pendiri OCBC NISP yang berjudul Tidak Ada yang Tidak Bisa. Kalau buku itu tidak ditulis oleh Dahlan Iskan saya tak akan mungkin membelinya. Saya suka buku yang ditulis Dahlan Iskan karena cara berceritanya bagi saya yang kayak “ngedongengin”. Bikin semangat. Bikin tumbuh banyak harapan.

Dua buku lain adalah tentang Perang Dunia II. Pertempuran di salah satu “hotspot”nya: Samudra Pasifik. Saat prajurit Amerika merebut Guadalcanal dan Iwojima dari tangan serdadu Jepang penguasa pulau pada waktu itu. Saya sudah punya film dokumenter perebutan Iwojima itu. Nah saya ingin melengkapi kajian pertempuran tersadis yang pernah ada ini dari bukunya.

Buku terakhir adalah buku seputar rahasia dan skandal yang pernah terjadi di Vatikan yang dilakukan para pausnya. Sejak awal berdirinya Vatikan sampai sekarang. Harganya didiskon hingga cuma Rp27 ribu kurang sedikit.

Nah itu beberapa buku yang saya beli di bulan ini. Dan saya yakin buku-buku itu adalah buku-buku yang bisa saya baca sampai khattam. Serta manfaat buat saya. Buat apa? Yakni untuk memenuhi dahaga intelektualitas (jiaaa…) saya, menghilangkan lapar kepenasaran saya tentang sejarah dunia, dan menyerap ilmu cara menulis yang baik.

Dan ngomong-ngomong tahu tidak, dari semua buku itu buku apa yang pertama kali saya baca? Tepat sekali… Iwojima 1945. Jangan tanya kenapanya. Karena tidak semua harus ditanyakan dengan kata “why”.

Sekian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara.

Ummulqura, Bogor.

Ditulis pada smartphone pada program thinkfree.

11.20 16 Desember 2012

KINAN FATHIYA


KINAN FATHIYA

Image069

00.55

Bayi itu akhirnya lahir juga. Aku menitikkan air mata. Ada perasaan bahagia menggumpal dalam dada. Tapi itu bukan anakku, dan bukan pula anak istriku. Bayi itu anak dari pasien lain yang sama –sama bersalin di rumah inap Bidan Rokhaniyah. Aku merasa lega mendengar tangisan bayi itu. Beberapa saat sebelumnya hanya terdengar teriakan ejan dari ibunya yang berusaha dengan keras mengeluarkan sang penerus kehidupan dari rahimnya.

Tapi di ranjang ini, istriku masih saja dengan rintihannya menahan rasa sakit dan mulas yang teramat luar biasa. Sudah empat jam lamanya proses induksi ini berjalan. Dan belum ada tanda-tanda kepala calon bayi sudah turun menuju mulut rahim. Pula belum ada tanda-tanda ejan sebagai awal dari sebuah persalinan. Masih bukaan tiga kata Ibu Bidan.

“Allohukariim, sakit banget, Bi…” kata istriku. Tetesan air mata itu jatuh.

“Sabar, ayuk shalawat. Abi sudah berdoa kepada Allah. Abi yakin IA tidak memberikan beban yang tidak sanggup Abi untuk memikulnya. Itu berarti semua itu bisa Umi lalui. Abi yakin Umi bisa. Sebentar lagi tidak akan lama,” ujarku panjang memberikan kata-kata positif. Walaupun dalam hati yang paling terdalam ada resah mengganjal dan kesedihan karena tak tega melihat penderitaannya.

Aku yakin Allah akan memudahkan semuanya ini. Karena selama ini aku telah meminta pada-Nya. Apatah lagi 50 menit sebelumnya aku telah mengirimkan sms kepada banyak orang sholeh untuk ikut serta mendoakan istriku. Beberapa diantaranya membalas dengan segera. Bahkan ada salah satunya memberikan saran kepadaku untuk membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali ditambah dengan surat Al-Fatihah. Lalu meniupkannya ke dalam segelas air, meminumnya dan mengusapkannya ke muka dan perut istriku. Semua SMS dan balasannya sudah cukup membuatku tenang. Tinggal Allah memilih dari jalan mana doa itu dikabulkan.

“Sabar ya Mi, istighfar, shalawat…” aku masih menenangkannya sambil mengusap-usap punggungnya. Kantuk beratku yang semula ada kini sudah lenyap.

02.00

Ibu Bidan sudah selesai membersihkan dan merapihkan ruang persalinan yang baru saja dipakai oleh pasien yang tadi. Kini tinggal memindahkan istriku dari ruang rawat inap ke ruang itu. Aku memapahnya sambil menggeser tiang infus ke dalam ruangan. Erangan bercampur dzikir semakin kencang keluar dari mulut istriku.

“Sudah bukaan delapan. Cepat sekali. Tapi jangan ngeden dulu yah,” pinta Ibu Bidan saat kembali memeriksa istriku.

“Aduh, Bi…sakit banget. Lama sekali sih. Enggak tahan sakitnya ya Allah,” erang istriku.

“Iya Mi tenang, sebentar lagi. Ayo nyebut. Umi bisa.”

02.18

“Jangan ngeden dulu Bu, masih belum lengkap,” kata Bu Bidan sambil melepas sarung tangannya. “Coba miring ke kiri, supaya mempercepat turunnya kepala ke bawah.”

Istriku kembali memiringkan badannya ke kiri dibantu olehku. Tapi beberapa saat kemudian ia langsung merintih. “Enggak Bu…udah enggak kuat nih sakitnya,” katanya sambil berusaha untuk merubah posisinya menjadi terlentang. “Mau ngeden nih Bu, mau ngeden…!”

“Jangan, masih lama…”

“Enggak Bu. Sakit…!”

Bu Bidan segera melihatnya dan ternyata betul tanda-tanda kelahiran sudah terlihat sekali. Bu Bidan yang masih belum siap dibantu asistennya segera menyarungkan sarung tangan karet itu kembali. Sedang aku masih dalam posisi memegang tangan istriku.

“Eh iya betul nih, ayo coba ngeden. Ya…ya..ya….sebentar lagi. Tarik nafas,” teriak Bu Bidan menyuruh istriku. “Sekali lagi!”

Istriku berteriak. Kencang sekali. “Aaaaaaaaaaaaaa…..!!!”

02.20

Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat sosok makhluk kecil berambut hitam lebat keluar dari rahim istriku. Merah. Berlendir. Menangis.

“Aaaaaaaaaa….!!!” teriak Istriku walaupun bayinya sudah keluar. Ia merasa harus berteriak sekencang-kencangnya. Barulah ia terdiam ketika aku memberitahu padanya bahwa bayinya telah lahir.

“Perempuan,” kata Bu Bidan.

“Alhamdulillah. Bu Bidan maaf ya saya sampai berisik begini,” ujar istriku yang masih terengah-engah.

02.25

Allohuakbar…! Allohuakbar…!

Dengan tersedu-sedu kukumandangkan adzan pada telinga kanan anakku yang sedang berbaring di dada istriku. Allohukariim. Aku bahagia sekali atas nikmat yang Ia berikan kepada kami.

Syukurnya pula aku tidak pingsan pada saat itu. Padahal rekam jejak yang aku punya kalau melihat proses yang berdarah-darah seperti itu maunya pingsan melulu. Seminggu sebelumnya saat aku melihat proses menjahit luka di jari jempolku akibat cutter, tubuh sudah berkeringat dingin, perut mual, kepala pusing, mata berkunang-kunang, walaupun tidak sempat pingsan karena tindakan yang diambil dokter cepat sekali.

Ya, aku berusaha menguatkan diriku. Karena tidak ada siapa-siapa disamping istriku pada malam itu. Tumben juga Bu Bidan tidak menyuruh aku keluar sebagaimana ia pernah menyuruh aku pada saat persalinan anak keduaku enam tahun lalu.

***

Lalu kusebut ia bidadari kecilku itu:

Kinan Fathiya Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Riza Almanfaluthi

di antara 49 cm dan 3,5 kg.

09 08 2008