sebuah purnama mengunggah pesona mengguncangkan enggan menjadi epilog lantas nista menyelinap asyik masyuk sedang di atas sana langit gemetar Kau ampuni fadihatku, Gusti Allah?
*** Riza Almanfaluthi dedaunan di ranting cemara Tapaktuan, 21 Mei 2016
Kita berputar bersama
menghujani langit dengan ribuan kata
penuh mimpi
lalu mata menjadi samudra
tujuh kali setelah itu
kita saling bertanya
kapan kembali?
cobalah untuk mengerti ketika segenggam cerita kau taburkan di pusara kesunyian yang ada malam seperti di siang hari raya atau serupa anak-anak kegirangan dengan kembang gula di mulutnya ah kalau kau tak berketentuan ini laksana aku bentangkan tangan di puncak kanchenjunga sampai di spasi ini pun aku kehausan dan kutenggak sebotol air putih menenangkan kerongkongan lalu aku teruskan membuat segumpalan puisi yang masih tak percaya hatimu menjelma dresden 71 tahun lalu
cobalah untuk mengerti kelap-kelip lampu jalanan sepanjang lanteumen hingga mata ie yang aku terabas dengan becak motor butut dari seorang tua yang sudah tinggal di kota ini lima dasawarsa lalu cuma mengisyaratkan kepadamu kalau lelah sudah mengalah kalau malam sudah menggelar tilam kalau rinai sudah memperlihatkan taringnya izinkan aku untuk mengajari kelopak mata bagaimana cara terbaik menyelubungi mata dan semua ingatan tentangmu
cobalah untuk mengerti huruf-huruf yang kau pintal menjadi kata-kata cuma sekadar cakap besar nyanyian para pengamen yang masuk silih berganti ke warung mi razali aku bergeming masih menikmati mi goreng cumi-cumi basah sambil uluk kata maaf, maaf, dan maaf lalu menjelang fajar kau terkaget-kaget seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata nyaris berdiri tegak di hadapan manekin keangkuhanmu kalau saja dayang-dayang kenangan tak segera kau bangunkan
cobalah untuk mengerti waktu sudah sedari tadi duduk di sampingku sambil memijat-mijat punggung mengusir letih yang menjadi kutu di rambut mencabik-cabik kantung mata yang hinggap di wajah sambil berbisik, “tidurlah. sudah dini hari.” dia masih tak percaya padaku, balasku. makanya aku biarkan jari-jariku ini bukan untuk membuat perkamen, tapi prasasti titik koma a sampai z kiri ke kanan membiarkannya kehujanan lalu membatu agar zaman bergulung-gulung lewat menjadi tahu kalau senyummu itu senja firdaus yang tercecer di bumi oooo, kaukah arca terakhir itu?
***
riza almanfaluthi dedaunan di ranting cemara banda aceh, 7 april 2016
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang sebungkus bulan yang kau bawa di tepian panjang pantai calang. Kita santap setiap potongannya. Dan di setiap gigitan itu meledaklah bunyi nafas-nafas kita. Itulah saat hasrat mengeja api yang sering kau sebut rindu.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang debur ombak yang kau selalu rapihkan karena kusut untuk kupakai. Kita cari sebintik bayang di bola mata masing-masing. Seringkali di sana sebentuk jujur menjadi binar abadi tak pernah terhapus dengan sepercik dusta barangkali. Itulah saat malam sungkan menyimpan hujan yang sering kau sebut air mata.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang isak merupa nanar menggenangi ruang-ruang perih di puncak gerutee. Kita hirup aroma kopi tubruk panas. Mungkin sebentuk asap adalah pilinan resume dari kabut sejarah pertemuan kita. Setiap kau bicara tentang perpisahan, aku yang bicara tentang perjumpaan. Itulah saat Tolstoy pun gagap bicara apa yang sering kau sebut cinta.
Aku segelas mabuk yang bercerita. Cerita apa saja.
Tiga orang ini mengais-ngais kata dalam tumpukan mulut. Menjadi puisi. Yang menafsirkan tentang malam. Dengan tafsirnya masing-masing. Di sebuah kota kecil. Ramai dengan sepi. Angkuh dengan gemuruh ombak. Karenanya tempat mana lagi ketika kata-kata dijaja dengan murah sedangkan kami di sini menjadikannya pualam. Indah didengar. Itu pun jika tidak tuli. Izinkan ia memusikalisasinya.
H E N D A K
**
aku hendak mengukur malam
dengan secangkir kopi panas
dan sebatang ingatan menyala
yang asapnya bertengkar
siapa harus pertama
menggapai angkasa
aku hendak mengukur malam
dengan banyak mulut para penyair
dan huruf-huruf lara derita
yang tercatat teliti
dalam sajak-sajak siapa
harus mati lebih dulu
diterkam sepi berwajah srigala
aku hendak mengukur malam
sesaat untuk kali ini saja
dengan siapa yang didamba para pecinta
:rindu yang tak pernah muara
***
Riza Almanfaluthi
Tapaktuan 22:29, 12 April 2014
HENDAK
**
Aku juga hendak mengukur malam
Sepanjang ombak yang semakin lama semakin keras menerjang…
Sedalam luka sepi yang menganga serupa jahanam…
Selarut serpihan doa yang berkecamuk dalam samudra keniscayaan…
Saat pagi datang, malam masih saja tak mau pulang…
***
Sofan
HENDAK
**
inginku mengukur malam dengan apapun yang mencoba mengusik lelapku,.
serasa manis terbenam dilidahku..
senada lagu menelusup telingaku..
seriak ombak buyarkan nadi pikirku..
inginku mengukur malam dengan sebongkah asa esok kan hadir lagi..
***