malam separuh


 


 

sebuah purnama mengunggah pesona
mengguncangkan
enggan menjadi epilog
lantas nista menyelinap 
asyik masyuk
sedang di atas sana
langit gemetar
Kau ampuni fadihatku, Gusti Allah?

 

 

 

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Tapaktuan, 21 Mei 2016


 

Jadi Saja


 

Sepi duduk di tepian gerhana

tangannya menggurat langit

dengan cahaya sebagai tinta

hujan turun setelahnya

di setiap tetes itu

ada kata-kata terselip

waktu yang mencumbu doa ribuan kali

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 13 Mei 2016

WADA’


Kita berputar bersama
menghujani langit dengan ribuan kata
penuh mimpi
lalu mata menjadi samudra
tujuh kali setelah itu
kita saling bertanya
kapan kembali?

***

Tapaktuan, 27 April 2016

seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata



cobalah untuk mengerti
ketika segenggam cerita kau taburkan di pusara kesunyian
yang ada malam seperti di siang hari raya
atau serupa anak-anak kegirangan dengan kembang gula di mulutnya
ah kalau kau tak berketentuan
ini laksana aku bentangkan tangan di puncak kanchenjunga
sampai di spasi ini pun aku kehausan
dan kutenggak sebotol air putih
menenangkan kerongkongan
lalu aku teruskan membuat segumpalan puisi
yang masih tak percaya
hatimu menjelma dresden 71 tahun lalu

cobalah untuk mengerti
kelap-kelip lampu jalanan sepanjang lanteumen hingga mata ie
yang aku terabas dengan becak motor butut
dari seorang tua yang sudah tinggal di kota ini lima dasawarsa lalu
cuma mengisyaratkan kepadamu
kalau lelah sudah mengalah
kalau malam sudah menggelar tilam
kalau rinai sudah memperlihatkan taringnya
izinkan aku untuk mengajari kelopak mata
bagaimana cara terbaik menyelubungi
mata dan semua ingatan tentangmu

cobalah untuk mengerti
huruf-huruf yang kau pintal menjadi kata-kata
cuma sekadar cakap besar nyanyian para pengamen
yang masuk silih berganti ke warung mi razali
aku bergeming masih menikmati mi goreng cumi-cumi basah
sambil uluk kata maaf, maaf, dan maaf
lalu menjelang fajar kau terkaget-kaget
seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata
nyaris berdiri tegak di hadapan manekin keangkuhanmu
kalau saja dayang-dayang kenangan tak segera kau bangunkan

cobalah untuk mengerti
waktu sudah sedari tadi duduk di sampingku
sambil memijat-mijat punggung
mengusir letih yang menjadi kutu di rambut
mencabik-cabik kantung mata yang hinggap di wajah
sambil berbisik, “tidurlah. sudah dini hari.”
dia masih tak percaya padaku, balasku.
makanya aku biarkan jari-jariku ini
bukan untuk membuat perkamen, tapi prasasti
titik koma
a sampai z
kiri ke kanan
membiarkannya kehujanan lalu membatu
agar zaman bergulung-gulung lewat menjadi tahu
kalau senyummu itu senja firdaus yang tercecer di bumi
oooo, kaukah arca terakhir itu?

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
banda aceh, 7 april 2016

foto dari skyhdwallpaper.com

tidak ada yang baru di bawah matahari


2015-04-10 12.30.06 (2)

Dua sampan terkapar diterkam gelombang

Dermaga jauh entah di hadapan

Diremehkan rindu yang pura-pura mengeja gerimis kesedihan

Lukanya hanya bisa diampuni oleh sebuah perjumpaan

***

Imaji Jum’at

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 10 April 2015

Aku Epilog di Bab Terakhir Catatan Harian yang Kau Kirim Kepadaku Dengan Beribu Gesa


 

 

 

Tidak Ada Argari

 

By: Riza Almanfaluthi

 

Aku kuyup digigit ribuan hujan dari langit yang menganga lama

getar petir menular menjadi  gemerutuk  sekujur tubuh

haus dari apa yang kau sebut pelukmu

selalu saja ada alasan buat ombak untuk terus menatapku yang sedang duduk di bawah nyiur

menjadi tabir dari keluhmu tentang aku yang didera jauh

tak cukup ribuan halaman kertas mengeja setiap katayang kau kikir dengan pena rindumu
biarkan tintanya habis…

karena tidak ada yang lebih sedih dari pedih yang kuhirup menjadi udara pagi….

 

Aku senja yang disapa satu persatu oleh jarum jam di dinding kayu lapuk rumahmu

cicak mana yang mau berpesta serangga di sana

detaknya tidak lebih dari 20 desibel, akankah kau dengar?

tapi ini kalibrasi epik karena harimu berdenyut tanpa sebentuk suara

tanpa wajah yang dimamah senyum, tanpa geliat raga yang dikobar renjana

tanpa ketik huruf yang bersembunyi di balik kaca, tanpa tombak tawa semenjana

biarkan ujung bayungnya jatuh…

karena tidak ada yang lebih tegar dari argari berantamu yang kubayar menjadi khayal…

 

Aku epilog di bab terakhir catatan harian yang kau kirim kepadaku dengan beribu gesa

selarik hitam mengular lama tanpa jeda mengisyaratkanku akan sebuah igau

enggan aku baca, karena aku tahu berapa kali engkau tala madah berjuluk perpisahan

sedetik sapamu hanya senampan basa-basi terhidang di piring penuh kedustaan

atau sekadar keengganan bercampur peluh dinginmu saat kau sadar ini tak boleh nyata

biarkan ia menetes…

karena tidak ada yang lebih harum dari wangimu yang kupecut menjadi hening semesta…

 

Aku sampul buku yang dicampakkan benih-benih rayap di sudut lemari yang bisa kau jangkau setiap saat

Sebuah entah apalagi yang akan kau gesekkan di atas senar-senar biola sedihmu

Akan kau dermagakan kemana harap

Akan kau deraikan kemana lagi cerita

Akan kau sisihkan kemana lagi segala kemas

Sedangkan aku dengan rinduku setengah mati yang tak pernah bisa mati

Biarkan itu adanya…

Karena tidak ada yang lebih

tidak ada yang lebih berduka dari rimba asmara yang kuriba menjadi kusuma pusara

tidak ada…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Tapaktuan, 2 September 2014

 

 

SEGELAS MABUK


SEGELAS MABUK

 

 

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang sebungkus bulan yang kau bawa di tepian panjang pantai calang. Kita santap setiap potongannya. Dan di setiap gigitan itu meledaklah bunyi nafas-nafas kita. Itulah saat hasrat mengeja api yang sering kau sebut rindu.

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang debur ombak yang kau selalu rapihkan karena kusut untuk kupakai. Kita cari sebintik bayang di bola mata masing-masing. Seringkali di sana sebentuk jujur menjadi binar abadi tak pernah terhapus dengan sepercik dusta barangkali. Itulah saat malam sungkan menyimpan hujan yang sering kau sebut air mata.

Aku segelas mabuk yang bercerita tentang isak merupa nanar menggenangi ruang-ruang perih di puncak gerutee. Kita hirup aroma kopi tubruk panas. Mungkin sebentuk asap adalah pilinan resume dari kabut sejarah pertemuan kita. Setiap kau bicara tentang perpisahan, aku yang bicara tentang perjumpaan. Itulah saat Tolstoy pun gagap bicara apa yang sering kau sebut cinta.

Aku segelas mabuk yang bercerita. Cerita apa saja.

***

Riza Almanfaluthi

Lamlagang, Banda Raya, Banda Aceh

15 Mei 2014

Ditulis untuk Jejak Kata Tapaktuan

Sumber gambar dari sini.

MERAH ITU…


Merah itu…

 

 

kau merah, yang taburkan segenggam debu rindu, seraya rapal mantera amarah, lalu kau punah dikikis tatah kesumat, perihnya tanpa tara.

kau tumbang, koyak, jejas, jatuh dalam geraham getir

maka seringkali aku memohon padamu, di setiap malam yang nyaris kelu, kalau kau tak perlu peduli pada ingatan masa lalu.

kau puisi, yang hurufnya berkicauan merdu, di rerumpunan belukar kata, lalu kau sibak dengan spasi, dan apa yang kau temukan?

makna yang purba: cinta yang renta

maka sebelum kau sirna membawa prasasti luka, tetaplah menjadi puisi

yang aku acap eja di tengah malam

malam yang merah

merah itu engkau.

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis buat Open Mic Jejak Kata Tapaktuan

11.48 10 Mei 2014

Gambar diambil dari sini.

 

H E N D A K


Tiga orang ini mengais-ngais kata dalam tumpukan mulut. Menjadi puisi. Yang menafsirkan tentang malam. Dengan tafsirnya masing-masing. Di sebuah kota kecil. Ramai dengan sepi. Angkuh dengan gemuruh ombak. Karenanya tempat mana lagi ketika kata-kata dijaja dengan murah sedangkan kami di sini menjadikannya pualam. Indah didengar. Itu pun jika tidak tuli. Izinkan ia memusikalisasinya.

H E N D A K
**
aku hendak mengukur malam
dengan secangkir kopi panas
dan sebatang ingatan menyala
yang asapnya bertengkar
siapa harus pertama
menggapai angkasa

aku hendak mengukur malam
dengan banyak mulut para penyair
dan huruf-huruf lara derita
yang tercatat teliti
dalam sajak-sajak siapa
harus mati lebih dulu
diterkam sepi berwajah srigala

aku hendak mengukur malam
sesaat untuk kali ini saja
dengan siapa yang didamba para pecinta
:rindu yang tak pernah muara
***

Riza Almanfaluthi
Tapaktuan 22:29, 12 April 2014

HENDAK

**

Aku juga hendak mengukur malam
Sepanjang ombak yang semakin lama semakin keras menerjang…
Sedalam luka sepi yang menganga serupa jahanam…
Selarut serpihan doa yang berkecamuk dalam samudra keniscayaan…
Saat pagi datang, malam masih saja tak mau pulang…
***

Sofan

HENDAK

**

inginku mengukur malam dengan apapun yang mencoba mengusik lelapku,.
serasa manis terbenam dilidahku..
senada lagu menelusup telingaku..
seriak ombak buyarkan nadi pikirku..
inginku mengukur malam dengan sebongkah asa esok kan hadir lagi..
***

Sudirman Napitupulu

Menjadi Hujan


image