Hujan di Johor


Kita hanyalah butiran hujan
yang lupa waktu
ikhlas jatuh mencumbu tanah
mengisi ruang-ruang kosong
semarak dan semerbak rindu
di sudut-sudut Johor
di antara senda gurau
anak-anak memainkan kita
kelak, pada waktunya,
kita menjadi petrichor
semacam akhir hayat
di lubang hidung para pecinta.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Medan, 8 Februari 2015

Aku Pernah Singgah


Aku pernah singgah di depan
pintu jantungmu, lama berdiri,
mengetuk dan mengucap salam.
Namun tak ada kalam yang liyan.

Yang ada malah, di setiap ketukan
ada debar jantungku sendiri,
Aku lupa, jantungku adalah
jantungmu juga yang nian.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
4 Februari 2018
Instagram Photo by @equshay
Check out his feed for more.

Butir-butir Perasaan


Butir-butir perasaan yang terjun
di bawah lampu taman, aku menunggu

jejak-jejak cahaya yang kemarin
di pinggir jalan, aku menunggu

tidur yang melulu, mimpi yang memburu
di Sabtu yang akan berakhir, aku menunggu

detak-detak hidup yang satu lagi,
di hari-hari sisa, aku menunggu

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
3 Februari 2018
Instagram Photo by @michelphotography_ch

Aku Sering


Aku sering menatap isi kepala para lelaki yang menjejali commuter line sore menuju bogor ini, seringnya aku dipaksa meratapi isi dompet mereka.

Aku sering melihat isi dompet para lelaki yang menjejali saku celananya sepulang kerja ini, seringnya aku dipaksa kembali mendekati isi kepala mereka.

Aku sering tak bisa membedakan antara perempuan dan plastik. Mana yang muasal, mana yang muara.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Januari 2018
Photo Instagram by: @indiedo

Kau Pernah Membayangkan


Kau pernah membayangkan dirimu hanyalah selembar kertas yang ditulis hujan. Ia yang menuliskan di tubuhmu, “Selamat pagi. Apa kabar?” Tetapi setelah itu, kau hanyalah tinta yang memudar. Pelan-pelan samar. Lalu hanya bisa bersabar agar hujan datang lagi esok pagi membawa api untuk membakar. Membakar lelah dan gigilmu. Tetapi kau cuma membayangkan. Hanya membayangkan. Sekadar.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
27 Januari 2018

Di Teras Rumahmu


Ketika sampai di teras rumahmu pada suatu sore. Aku tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang paling indah antara senja yang akan segera menghilang dan senyummu yang sedang mengembang?

Aku pun tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang paling cepat singgah antara malam yang jujur dan dirimu yang segera tidur?

Aku pun tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang paling niscaya antara segelas teh panas di atas meja dan masa depan untuk kita?

Aku pun tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang pasti antara engkau yang terperosok di jantungku atau aku yang membusuk di jantungmu?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
sehelai benang, 25 Januari 2018
Photo by @darwinphotography

Setidaknya


Setidaknya aku mengerti diammu
Mekar bunga di jantung senja
pelan-pelan sembunyikan rindu di ujung hari.

Setidaknya aku mengerti sabdamu
Debar surya di bubung kala
terang-terang nyalakan cinta di lambung pagi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
APTB, 19 Januari 2018
Photo by: @shainblumphotography

Tersebutlah Aku


Tersebutlah aku ujung pinsil yang patah
dan tak sanggup menulis kata bisu
pada kertasmu yang rela bicara 1000 bahasa.

Tersebutlah aku ujung pinsil yang kalah
dan tak cukup melukis senja ungu
pada kanvasmu yang tulus meniada 1000 cahaya.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Rinai hujan, 15 Januari 2018

Lalu Aku Menerima


Lalu aku menerima setiap kata yang diucapkan salju di musim lalu, agar aku sanggup menerjemahkan hikayat purba atas setiap keikhlasanmu untuk jatuh. Dan aku sekadar mengeratkan mantel agar tak kedinginan.

Dinding-dinding batu tua itu menjadi tempat aksara yang kautulis dengan segenap hujjah yang pernah diajarkan mahagurumu bernama sepi. Dan aku meriang melulu membayangkan panas air yang terjerang agar setiap kenang tentangmu menjadi pemenang bersama asap nafasmu yang menjulang-julang.

Lalu aku menerima derit roda kereta yang dipapah malam lalu, agar aku sanggup menafsirkan riwayat purwa atas setiap kerinduanmu yang rapuh. Dan aku semata-mata pohon yang daunnya membenci putih di halaman samping stasiun tujuan.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13 Januari 2018
Photograph by @yamashitaphoto from @natgeo at Shaolin Temple, Dengfeng, Cina.

Kode Pos


T’lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

(Setiap malam ayah mendendangkan lagu melayu ini untukku. Entah apa yang dipikirkannya, sehingga kini pun yang terpikirkan olehku hanyalah semua lantaran dan perihal pujangga)

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua, sayang
Cukup sudah cintamu setia

(Lembaran-lembaran kertas bertulisan tangan telah banyak terkirim. Dengan syair-syair yang melukakan dirinya sendiri untuk menyebut-nyebutmu dengan kata pusaka)

Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

(Berulang kali engkau mempertanyakannya. Seperti matahari yang tak pernah bosan hinggap di jendela pagi. Cantumkan saja kode pos yang pernah kutitipkan pada tukang pos yang lewat depan rumahmu itu. Engkau ingat: rumah yang menghadap ke laut dengan satu meja dan dua kursi di terasnya dan banyak nyiur di tepian pantai)

Terimalah jawabanku ini
Hanyalah doa restu Ilahi
Mogalah Bang kau tak putus asa, sayang
Pasti kelak kita ‘kan bersua

(Risalah itu selalu kuterima. Kelak akan kubalas segera. Tunggu, tunggulah sahaja. Bukan lagi syair penuh madah. Biarkan saja yang itu rebah. Ini hanyalah cerita. Cerita tentang segala. Segalanya kita)

Penaku satu mendadak patah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Cikaret, 6 Januari 2018
Kalimat tanpa tutup buka kurung adalah lirik lagu Fatwa Pujangga yang dipopulerkan Aishah.