Cerita Mudik: 540


540
Adalah kilometer yang harus saya tempuh dalam perjalanan balik saya dari Tlogosari, Semarang ke Pabuaran, Bojonggede. Ini adalah pengalaman pertama dalam seumur hidup saya mengendarai sendiri mobil yang menempuh jarak ratusan kilometer. Waktu mudik di H-1, hari Jum’at (12/10) keluarga di Semarang belum memercayai saya untuk memegang sendiri kemudi sehingga harus mengirimkan orang terpercaya di keluarga kami untuk pegang kendali perjalanan mudik itu.
Ohya, perjalanan mudik kami saat itu terasa menyenangkan. Mengapa? Karena perjalanan kami lancar-lancar saja dan tidak terjebak kemacetan berjam-jam seperti yang diberitakan di malam sebelumnya atau di H-2 dan H-3-nya. Ini dikarenakan kami berangkat ba’da shubuh, tepatnya pukul 05.30 WIB di Jum’at itu. Coba kalau kami memaksakan diri untuk berangkat di malamnya, pasti kami terjebak di Tol Cikampek atau Tol Kanci yang padat merayap.
Dari pengalaman mudik dari Jakarta ke Semarang yang menarik itu saya bertekad bahwa nanti kalau balik dari Semarang ke Jakarta, saya sendiri yang harus menyupiri. Orang lain? No way. “Bener, nih?” tanya ipar saya setengah tidak percaya. “Insya Allah,” tegas saya.
Maka untuk mempersiapkannya, saya sering jalan-jalan menyusuri jalanan Semarang dan paling jauh ke rumahnya Mbah Redjo*) di sekitar Borobudur, Magelang dengan menempuh jarak 80 kilometer lebih dengan jalan dua arah yang sempit dan tidak selebar jalan pantura Jawa Barat. Apalagi terasa beratnya menaiki jalanan mendaki di sekitar Ungaran dan berliku di Bawen. Alhamdulillah berhasil juga sampai ke Magelang. Ini menambah kepercayaan diri saya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta sendiri.
Agar perjalanan balik itu terasa nyaman dan mengasyikkan—sebagaimana slogan Polri dalam Operasi Ketupat tahun ini , Mudik itu Asyik—maka saya cuci mobil itu sebersih-bersihnya dan sekinclong-kinclongnya. Ruang dalamnya saya bersihkan dengan vacuum cleaner agar tidak ada sedikitpun kotoran yang tersisa. Saya isi bensin full tank dengan membayar Rp182.500,00. Tekanan ban saya cek terlebih dahulu, ini penting banget karena saya melihat bannya kok seperti kempes. Dan betul setelah dicek ternyata tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Tekanan ban depan yang seharusnya ukurannya 31 psi ternyata cuma 29 psi. Dan ban belakang tidak sesuai ukuran yang seharusnya 35 psi.
Akhirnya saat itu pun tiba, Sabtu (20/10) pagi, tepatnya pukul 06.30 WIB, setelah berpamitan, mengenolkan odometer agar bisa diketahui seberapa jarak yang telah kami tempuh, memasang seatbelt dengan benar, bersama-sama berdoa: bismillahi majreha wamursaha inna robbi laghofururrohiim, memperbanyak sholawat, berangkatlah kami berlima, istri saya, dua anak saya, dan saudara kami, ke Jakarta.
Dengan hanya bermodal papan petunjuk arah yang dipasang di sepanjang jalan pantura saya mulai melakukan perjalanan jauh ini. Yang harus saya waspadai adalah pengendara motor. Sudah cukup banyak berita yang saya dengar tentang banyaknya jumlah korban yang tewas kebanyakan dari para biker itu. Untuk itu saya selalu menjaga jarak, menjaga kecepatan—tidak pernah lebih dari 80 km/jam, dan senantiasa pergunakan lampu sen untuk berpindah jalur.
Batang, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes saya lalui dengan lancar walaupun sempat tersendat saat melintasi kota Pekalongan karena jalan yang sempit, banyaknya pertigaan dan penyeberang jalan. Kami beristirahat di SPBU sebelum Tol Kanci. Setengah jam kemudian kami sudah melanjutkan perjalanan.
Menuju tempat bibi saya di Segeran, Indramayu, sengaja saya tidak lewat jalan Tol Kanci. Saya lewat kota Cirebon dan melalui jalan alternatif menuju Karangampel, rute jalan yang dulu kami lewati saat berangkat mudik. Jalanannya lebar 4 jalur, sepi dan berseparator. Benar-benar asyik!
Bertahun-tahun kami selalu lewat sini, tapi saya pikir, aneh juga kenapa banyak pemudik yang tidak mengambil rute bagus ini. Jalur konvensional Lohbener-Jatibarang-Palimanan-Kanci itu selalu padat dengan pemudik terutama pengendara motor dan rawan kemacetan. Seharusnya kalau mereka tahu betapa bagusnya rute ini yaitu Lohbener-Jatibarang-Karangampel-Cirebon, pasti mereka akan kesengsem untul melewatinya. Ohya, jangan ambil rute Lohbener-Indramayu-Karangampel-Cirebon karena jalan itu adalah jalan alternatif yang terlalu jauh memutar.
Sampai di tempat bibi saya jam setengah tiga sore. Beristirahat sebentar, makan-makan dulu, lalu diberi oleh-oleh mangga asli Indramayu yang tanpa obat dan pengawet, saya lalu berpamitan menuju Jatibarang untuk bertemu dengan bapak saya dan bersilaturahim dengan saudara-saudara saya di sana.
Di Jatibarang, saya sempat gregas-greges, masuk angin, pusing-pusing, dan berkeringat dingin. Saya paksakan untuk tidur sebentar, sekitar 10 menit. Ganti baju dan meluluri tubuh dengan minyak kayu putih dan balsam, sedikit banyak mampu mengusirnya.
Pukul 17.30 WIB dari Jatibarang, kami—yang sekarang berenam, ditambah adik saya yang ikut menumpang—melanjutkan kembali perjalanan balik ini. Suasana remang-remang, jalanan yang mulai padat, tidak sedikit pemudik motor yang tetap berkendara, penyeberang jalan yang sembarangan, pengemudi mobil yang tidak sabaran membuat saya harus menambah konsentrasi dan tetap waspada. Karena, lagi-lagi, berkendara malam adalah petualangan pertama saya. Dan saya bertekad untuk tidak beristirahat terkecuali di saat jelang tol Cikampek.
Kandanghaur, Pamanukan, Ciasem, Sukamandi sudah saya lewati. Perasaan sudah jauh kok Cikampek belum juga nyampe-nyampe. Dari Sukamandi masih 24 kilometer lagi. Phuihhhh….kaki sudah kaku minta istirahat. Di kilometer 19 sebelum Cikampek jalanan sudah macet, kendaraan mulai merayap. Ternyata di ujung sana ada truk gandengan yang mogok dan memakan setengah badan jalanan sehingga jalan yang tadinya dua jalur menjadi satu jalur.
Beberapa lama kemudian kami sampai juga di SPBU sebelum pintu tol Cikampek. Di sanalah kami beristirahat, makan mi seduh, dan sholat. Empat puluh lima menit kemudian tepatnya pukul 20.48 WIB kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami masuk tol Cikampek. Masih 140 kilometer lebih jarak yang harus ditempuh kami untuk sampai rumah.
Menurut saya, perjalanan di tol Cikampek sangat menegangkan. Situasinya tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk bersantai-santai atau berkecepatan minimum. Semuanya seperti memburu sesuatu di depan. Saya sering diklakson bus AKAP atau ditembak dengan lampu jauh dari mobil yang di belakang, padahal saya telah sampai pada batas maksimum kecepatan yang ditoleransi. Dan selama tujuh puluh kilometer itulah saya kembali berkonsentrasi penuh hingga pintu tol JORR.
Di lintasan tol JORR, kepadatan pengguna jalan tol tidaklah sepadat tol Cikampek, begitupula dengan tol Jagorawi. Saya sudah bisa bernafas lega, tapi saya merasa sendirian sekarang, soalnya semua sepertinya sudah terlelap. Saya hanya ditemani muhasabah yang mengharu biru dari seorang ustadz di radio Dakta 107,0 FM. Tanda-tanda kantuk sudah mulai terasa dengan seringnya saya menguap, tapi saya tahan. Alhamdulillah berhasil hingga pintu tol Citeureup.
Lagi-lagi saya bisa bernafas lega. Kalau sudah keluar dari tol, perjalanan sampai ke rumah, Insya Allah, sudah tidak menegangkan dan tidak akan lama lagi. Syukurlah, tepat dua jam perjalanan dari Cikampek, dan tepat pada kilometer 540 akhirnya kami sampai di depan rumah.
Saya bersyukur Allah memberikan kemudahan pada saya untuk mengadakan perjalanan mudik dan balik ini dengan lancar, tanpa halangan, tanpa kurang suatu apapun juga. Perjalanan mudik tahun ini, bagi saya adalah pengalaman yang amat membahagiakan, menyenangkan, dan mengasyikkan.
Semoga ini adalah buah dari doa yang senantiasa saya panjatkan di ramadhan, keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat. Dan sebenarnya tidak hanya perjalanan mudiknya itu, kontemplasi selama ramadhan itu pun membuat hati saya tenang dan bahagia. Suasana malam-malamnya, tarawih, qiyamullail, tilawah, silaturahim, penjagaan hati, mata, dan telinga, serta iktikafnya. Saya berharap semoga tidak hanya saya saja yang mengalaminya, Anda juga, para pembaca, mendapatkan sejumput keberkahan ramadhan itu.
Hingga terasa sekali kerinduan pada ramadhan tahun depan. Kerinduan agar ramadhan segera datang menghampiri kita. Meramadhankan hati kita, meramadhankan semuanya, meramadhankan masjid kita yang kini mulai sepi, dan meramadhankan perjalanan mudik balik kita. Cuma satu saja pertanyaannya, akankah kita menjumpai ramadhan tahun depan? Allohua’lam bishshowab.
Terimakasih pada semuanya.

*) Mbah Redjo ini bukan dukun, tapi mbahnya istri saya.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
04:47 21

MUMPUNG DIA DEKAT


Saya ingin jadi orang baik. Saya ingin jadi tetangga yang baik buat tetangga-tetangga saya. Saya ingin agar Allah tidak memberikan beban yang sungguh tidak sanggup saya untuk memikulnya. Saya ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang senantiasa ikhlas, bisa menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan buruk dan menyakitkan.
Saya ingin agar Allah memberikan saya pandangan yang jelas agar tampak kebenaran itu adalah kebenaran dan kebatilan itu adalah kebatilan. Pun saya ingin agar Allah memberikan saya hati yang sensitif terhadap kebenaran, mata yang mudah menangis, dan kekuatan untuk bangun di tengah malam. Meminta pada-Nya, mengadu pada-Nya, untuk menuntaskan segala hajat dan permasalahan dunia dan akhirat saya.
Saya ingin agar Allah memberikan saya kesehatan, juga kepada istri dan anak-anak saya. Agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada bapak saya. Agar Allah melapangkan kubur ibu saya. Dan mengampuni mereka, serta mengasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi saya di waktu kecil.
Saya ingin agar Allah memberikanku kekayaan yang berkah lalu menjadikan saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat-Nya. Saya ingin Allah menjadikan anak-anak saya sholeh, pintar, dan cerdas. Dan menjadikan mereka pejuang-pejuang agama-Nya.
Saya ingin agar Allah menetapkan saya untuk tetap komitmen di jalan “menyeru” ini. Juga agar Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada para pendukung dakwah di manapun mereka. Agar cahaya Islam ini tetap benderang di segala penjuru.
Saya ingin agar Allah tidak menimpakan malapetaka dan bala kepada saya dan keluarga saya. Dan saya ingin agar khadimat saya mau lagi untuk tinggal bersama kami selama bertahun-tahun ke depan. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan kehidupan saya dan keluarga di tahun-tahun mendatang.
Dan saya selalu berharap Allah mematikan saya dalam syahid. Selamat dunia dan akhirat. Serta berkumpul dengan istri, anak-anak, dan keluarga serta orang-orang yang beriman lainnya di Jannah Firdaus-Nya.
***
Semua yang saya ungkapkan di atas itu adalah sebagian kecil dari permintaan saya kepada Allah Yang Maha Pengabul Permintaan dalam setiap panjatan doa dan keluh kesah saya. Karena saya merasa sebagai manusia yang tidak punya apa-apa, miskin, dan lemah, maka kepada siapa lagi saya harus meminta segalanya baik yang besar maupun remeh temeh terkecuali kepada-Nya. Dia Yang Maha Kaya dan Maha Pemilik Segala. Mumpung Dia dekat dengan saya, dan mumpung saya masih bertemu ramadhan tahun ini.
Dari awal ramadhan sampai hari ini, saya sudah tiga kali mendengar dari para penceramah di masjid komplek saya, Masjid Al-Ikhwan, berbicara tentang Allah yang lagi dekat dengan kita yang berpuasa. Saya kok sepertinya baru merasa mendapatkan sesuatu tema yang baru dan belum sekalipun diketahui oleh saya. Apa karena dulu hati saya masih tertutup sehingga tidak bisa peka mendengar segala bentuk kebaikan atau pas kebetulan saja hati saya ini, di ramadhan ini, lagi sensitif-sensitifnya sehingga baru dirasakan ngeh oleh saya.
Kata para ustadz itu, dari rangkaian ayat sebanyak lima ayat di surat Al-Baqarah yaitu tepatnya di ayat 183 sampai dengan 187 yang berbicara tentang puasa, tiba-tiba terselip ayat 186 yang berbicara tentang penegasan Allah bahwa diri-Nya itu dekat. Coba kita simak dulu ayatnya yah:
186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Maka dapat diartikan bahwa di ramadhan inilah Allah menegaskan bahwa Allah itu dekat, tidak jauh, tanpa hijab dari hamba-hambanya yang berdoa, yang meminta apa saja kepada-Nya, asal kitanya ini senantiasa memenuhi perintah-Nya dan beriman pada-Nya. Tuh kan, ada syarat yang harus dipenuhi dulu sebelum Dia mengabulkan permintaan kita.
Ini berarti-intinya-kita harus berupaya dulu. Kita berdoa setelah usaha, ikhtiar, dan kerja keras karena menurut Abdurrahman Muhayar, doa dalam pengertian yang sebenarnya bukan hanya sekadar wujud ketakberdayaan yang memaksa seseorang merengek kepada Allah SWT.
Tapi menurut saya senantiasa kita –saya dan Anda—berdoa kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun saja. Agar kita tidak dianggap sebagai orang yang sombong karena tidak pernah meminta pada-Nya. Memang kita orang yang kuat apa? Kita orang yang tidak punya kebutuhan apa? Atau semuanya kita bisa upayakan dengan usaha kita sendiri? Ah, sungguh terlalu…
Di ramadhan ini dengan kedekatan-Nya itu, dengan tanpa hijab-Nya itu, maka sudah selayaknya saya—yang dengan tertatih-tatih mendekati-Nya di luar ramadhan, tapi merasa kurang optimal hasilnya ini—bergembira dan bertekad untuk tidak melewatkan waktu tanpa berdoa pada-Nya, bertekad untuk meminta segala hajat saya. Begitu pula Anda teman-teman. Mumpung Dia dekat.
Kita merasakan ketenangan ba’da ramadhan tahun lalu sampai hari ini, bisa jadi, Insya Allah, karena Allah mengabulkan doa kita yang dipanjatkan saat ramadhan lalu. Kita bisa menyelesaikan tugas akhir kuliah, mempunyai kendaraan, rumah yang sederhana, anak-anak sehat, suami atau istri semakin sholih dan sholihah, pekerjaan kantor bisa diselesaikan dengan baik, tidak ada masalah dengan tetangga, punya anak lagi, tidak pernah terlambat masuk kantor dan gaji tidak dipotong absen, kalaupun dipotong itupun cuma sedikit sekali, semakin banyak berinfak, semakin rajin ke masjid, bicara yang secukupnya, selalu antusias mendengarkan nasehat kebaikan bisa jadi semua itu karena Allah mengabulkan doa kita.
Ya, cukuplah itu menjadi nasehat bagi diri saya sendiri. Maka mumpung kita lagi berpuasa, Dia dekat, berdoalah, berdoa apa saja. Berdoa demi kebaikan dunia dan akhirat kita. Setelah itu kita tinggal menikmati semuanya itu. Insya Allah.
***

* Doa adalah otak ibadah. (HR Ibn Hibban dan at-Tirmidzi).
* Doa adalah senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi. (HR al-Hakim)

Maraji’:
1. Alqur’an Mulia;
2. Abdurrahman Muhayar, Berdoa, Republika, 11 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07:12 27 September 2007

SEMUANYA BERKAH


SEMUANYA BERKAH

Sungguh nikmatnya ukhuwah saya rasakan pada hari-hari ini. Betapa tidak permohonan baju layak pakai dan dana untuk kegiatan bakti sosial (baksos) yang saya edarkan melalui email dan forum diskusi mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa positifnya.
Dering telepon dan email balasan yang masuk banyak menanyakan teknis pengambilan baju layak pakai, bahkan hingga jam-jam terakhir juga masih ada yang menanyakan nomor rekening bank saya untuk bisa mentrasfer dana untuk kegiatan itu.
Dari Denpasar dikirim satu kardus penuh baju layak pakai. KPP LTO, Madya Jakarta Timur, hingga Kantor Pusat adalah tempat-tempat yang saya kunjungi untuk diambil baju layak pakainya. Dari teman-teman satu kantor pun banyak juga yang memberikan barang yang sama pula hingga terkumpul satu troli penuh. Tidak hanya itu dana yang terkumpul baik secara tunai ataupun melalui rekening bank adalah sebanyak Rp1.700.000,00. Dengan dana yang dikumpulkan dari teman-teman panitia yang lain terkumpul total dana empat juta lebih.
Subhanallah jumlah yang sangat luar biasa besarnya bagi saya dan teman-teman panitia. Hingga kami memutuskan untuk menambah paket sembako yang semula 150 paket seperti tahun yang lalu menjadi 200 paket sembako. Terdiri dari beras empat liter, satu kilogram minyak goreng curah, dua bungkus mentega simas, satu kilogram tepung terigu, dan satu kilogram gula pasir. Yang kalau diuangkan maka satu paket sembako itu seharga Rp38.500,00. Sehingga total dana yang harus kami sediakan adalah sebesar kurang lebih delapan juta rupiah.
Dengan dana awal 4 juta itulah kami membeli sembako ke pedagang sembako langganan baksos kami yang sudah tiga tahun ini menjalin kerjasama. Dengan bermodal kepercayaan, pedagang sembako mau menyediakan paket dan sisa uangnya nanti diberikan setelah acara baksos selesai. Kami optimis kekurangan dana yang ada akan bisa ditanggulangi dari hasil penjualan baju layak pakai.
Ohya, tidak hanya paket sembako yang bersubsidi yang kami berikan. Kami juga menjual sembako eceran dengan harga yang amat murah. Simas satu bungkus kami hargai seribu rupiah. Satu liter minyak goreng seharga tujuh ribu rupiah. Sekilo tepung terigu kami hargai lima ribu rupiah. Gula pasir empat ribu rupiah sekilonya.
Alhamdulillah, acara kemarin berlangsung dengan sukses. Terasa dan terlihat kegembiraan pada wajah-wajah mereka yang mendapatkan sembako gratis dan murah, pakaian yang amat layak pakai (terutama yang dari kantor pajak). Tetapi kami juga tidak bisa menutupi kekecewaan mereka yang tidak mendapatkan kupon paket sembako gratis dan murah itu.
Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semata-mata keterbatasan yang ada pada kami. Namun kami mempersilakan mereka untuk membeli baju layak pakai dan sembako eceran yang harganya pun jauh sekali dari harga pasaran. Bila mereka pun ingin memiliki baju layak pakai, tetapi tidak memiliki uang kami persilakan mereka untuk berbicara kepada panitia tentang ketidaksanggupannya, dan kami akan berikan apa yang mereka minta.
Pakaian yang amat layak pakai itu kami jual seharga Rp7000,00 sampai Rp500,00 (lima ratus perak). Bahkan ada yang kami bagikan gratis. Dan juga agar semua daerah yang ditengarai menjadi kantong-kantong kemiskinan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan baju layak pakai ini, maka kami bersepakat untuk tidak menggelar semua barang itu di hanya satu lokasi saja.
Pada akhirnya ada teman lain yang bergerak untuk mengevaluasi hasil baksos tersebut. Dari hasil evaluasi itu kami juga bersepakat bila ada dana yang tersisa dari hasil keuntungan baksos tersebut, maka agar menjadi keberkahan bagi para donator yang telah menginfakkan hartanya, sebagian dana tersisa akan diberikan untuk menyubsidi kekurangan dana iktikaf. Pelaksanaan iktikaf ini merupakan acara yang yang pertama kalinya diselenggarakan untuk tiga desa yang dipusatkan di masjid di desa kami.
Yaitu untuk menambah kekurangan dana menu makanan berbuka puasa buat para shoimin dan juga sahur para peserta iktikaf. Insya Allah ini akan menjadi suatu keberkahan, karena pahala yang akan didapat adalah sama seperti pahala puasanya orang yang berbuka puasa itu. Subhanallah. Dan tidak ada sepeserpun untuk kami para panitia. Insya Allah semuanya berkah.
Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi teman-teman yang telah menyumbangkan baju layak pakainya, seperti Ichal, Arya, Mbak Titik Minarti dan kawan-kawannya, Mbak Julianti, si Lay Erwinsyah M, Mbak Ardiana, Mbak Dewi Wiwiek, Mas Erfan, Ibu Mona Junita, dan Mas Purnomo di Denpasar.
Juga kepada teman-teman yang telah menginfakkan uangnya tunai ataupun transfer melalui rekening Bank Mandiri saya seperti (maaf saya menyebutnya dengan nama inisial, agar tidak mencederai niat baik ini) AR sebesar Rp500.000,00. Hamba Allah sebesar Rp100.000,00 (sampai saat ini saya belum mendapatkan konfirmasi nama donator ini). Ayr sebesar Rp250.000,00. Ich sebesar Rp100.000,00. Sebesar Rp250.000,00 telah disumbangkan oleh 6470. Mbak A*is*h sebesar Rp250.000,00 dan kawan lama saya yang menelpon di detik-detik terakhir: Mbak Listy sebesar Rp250.000,00.
Saya tidak bisa memberikan apa-apa kepada para donator sebagai balasannya . Saya hanya berharap semoga Allah senantiasa melimpahkan balasan kebaikan yang berlipat ganda atas semua kemurahan hati mas-mas dan mbak-mbak donatur. Sungguh bukan karena tulisan saya, sungguh bukan karena kenal dengan saya semua ini terjadi. Semuanya semata-mata karena Allah telah menggerakkan segumpal daging bernama hati untuk senantiasa sensitif terhadap kebersamaan dan kepedulian. Terimakasih.
Dan saya yakin bagi yang belum berkesampatan untuk turut serta dalam kebersamaan ini, bukan berarti tidak peduli, tapi karena semata-mata ada prioritas yang lebih dekat, yang lebih membutuhkan, yang lebih penting di daerahnya masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita semua. Amin.
Jazakalloh khoiron katsiro.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:26 24 September 2007
Sekadar laporan sekilas. Foto digital ada tapi belum saya terima.

Baju Layak Pakai Anda Dibutuhkan Mereka


Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan keberkahan kita di bulan ramadhan yang mulia ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan sehingga bisa mengoptimalkan ibadah di bulan penuh pahala ini. Semoga kita senantiasa tetap mencintai rasulullah SAW dengan melaksanakan semua sunnah-sunnahnya.
Saudara-saudaraku semua, Insya Allah saya bersama teman-teman di Desa Pabuaran, Bojonggede, Bogor akan mengadakan Bakti Sosial di daerah minus di kampung kami yaitu di daerah PARKO. Di sana banyak sekali saudara-saudara kita yang kekurangan, dan Insya Allah bantuan kita yang sedikit sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Teknisnya kita akan menjual sembako 150 paket dengan harga yang telah di subsidi dari dana-dana dan infak-infak yang diberikan oleh donator. Tidak hanya itu selain menjual sembako kami juga akan memberikan secara cuma-cuma kepada yang betul-betul tidak mampu. Insya Allah. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman bertahun-tahun mengadakan bakti sosial, baju layak pakai yang kami kumpulkan sungguh-sungguh sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Baju-baju layak pakai itu awalnya kami hargai dulu sesuai dengan masih bagus atau tidaknya baju itu. Biasanya harganya sekitar Rp4.000,00, Rp3.000,00, Rp2.000, Rp1.000,00 atau gratis sama sekali. Tetapi terkadang mereka tidak membeli, mereka menunggu sampai acara itu selesai untuk mendapatkan secara gratis baju-baju itu. Bagi kami tidak masalah. Karena itu pun memang untuk mereka semua. Kami beri harga juga bukan untuk kami, tetapi untuk menutupi kekurangan subsidi atau penambahan jumlah paket sembako tersebut.
Insya Allah apa yang antum semua berikan kepada mereka, akan menjadi keberkahan bagi saudara-saudara kita yang berkekurangan tersebut. Apalagi di bulan ramadhan yang mana Allah telah menjajikan kepada kita semua atas pelipatan ganda pahala atas semua kebaikan yang kita berikan apalagi memberikan infak kepada yang membutuhkannya. Sudah waktunya kita tidak melepaskan kesempatan besar ini.
Insya Allah acara itu akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : AHAD BESOK, 23 SEPTEMBER 2007
Tempat : PARKO, DESA PABUARAN, BOJONGGEDE, BOGOR

Bagi antum semua yang mau memberikan baju layak pakainya, bisa saya tunggu sampai hari jum’at nanti tanggal 21 September 2007, bagi yang berkantor di Kalibata atau sekitarnya yang dekat dan bisa saya jangkau dengan motor saya, Insya Allah saya akan jemput di kantor masing-masing.
Dan bagi antum yang berniat untuk sedekah dan berinfak bisa juga saya ambil langsung (kalau dekat dengan daerah sekitar Kalibata), atau juga antum semua bisa transfer ke rekening:

RIZA ALMANFALUTHI
Bank Mandiri
0060005113XXX

(Agar tidak tercampur dengan uang saya yang ada di bank Mandiri yang memang tinggal Rp110.000 , mohon untuk konfirmasi kepada saya melalui PM di DSHNet (username: riza almanfal) atau melalui email pajak: riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau via HP: 0817 79 5050. Ditunggu sampai hari Jum’at tanggal 21 September 2007).

Sungguh kepedulian kita semua sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya tidak bisa memberikan balasan kepada antum semua yang sudi dan berkenan atas kesediaannya untuk berbagi kepada sesame dan mempercayakannya kepada saya. Hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaikan antum dengan kebaikan berlipat ganda. Harapan terbesar saya adalah semoga kita dikumpulkan oleh Allah di Jannah-Nya yang keindahannya tidak pernah dilihat, didengar, dan dirasa oleh manusia. Semoga. Amin.

Barokallohu fiikum.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Riza Almanfaluthi

MEMBERI ATAU…?


Seorang teman selalu berangkat ke kantor lebih pagi daripada yang lainnya. Ia selalu naik motor dari rumah menuju tempat kerjanya. Dan di dalam tasnya selalu tersedia pembalut luka, obat merah, dan beberapa gelas air kemasan. Saat ditanya untuk apa ia membawa semua itu di setiap harinya, ia selalu menjawab, “agar saya bisa menolong orang lain.”
Setiap pagi, ia seringkali menjumpai para pengendara motor yang tergeletak di tepian jalan. Entah karena menabrak atau tertabrak kendaraan lain. Sudah barang tentu pengendara motor tersebut mengiris kesakitan karena luka dalam ataupun luar. Kalaupun tidak ada luka, muka pucat sudah menandakan ia mengalami guncangan adrenalin yang amat hebat.
Semuanya harus ditangani segera. Tapi senyatanya orang-orang yang menolong seringkali hanya memindahkan korban kecelakaan tersebut ke pinggir jalan. Lalu setelah itu panik, bingung, lalu telepon kesana kemari. Bahkan yang lainnya cuma terbengong-bengong. Tidak dipikirkan bahwa korban perlu pertolongan pertama segera. Peran kosong itulah yang diisi oleh teman saya ini. Dengan sigap ia memberikan yang ia bawa itu kepada korban. Peran kecil tapi sungguh membantu.
Itulah mengapa ia selalu berangkat lebih pagi. Karena dengan berangkat lebih pagi, ia tidak perlu terburu-buru mengejar absen, dan ia masih sempat untuk berhenti menolong orang lain. Jika tidak, jiwanya seringkali berkecamuk, berperang batin antara berhenti untuk menolong atau terus melaju demi rupiah di awal bulan yang utuh tidak terpotong. Dan ia seringkali memilih yang terakhir. Untuk itu ia cuma bisa beristighfar dengan air mata yang membasahi pipi menyesali ketidakmampuannya. Menyesali ada suatu kesempatan besar yang hilang begitu saja dari dirinya.
“Apa untungnya kamu menolong mereka?” tanya saya penasaran.
“Duniawi? Tidak ada!” akunya. “Saya cuma mengharap dari-Nya,” Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas. Ia merasa ia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu sebelum ia memberikan sesuatu. Ia tidak akan ditolong orang sebelum ia menolong orang. Ia percaya, sesungguhnya setiap kebaikan sekecil apapun akan diberikan balasan kebaikan yang sama atau yang lebih besar lagi.
“Percayalah, seseorang tidak akan pernah menerima saat ia tidak pernah memberi. Percayalah, saat ia mengedepankan penolakan implisit dan eksplisit terhadap suatu kata bernama “tolong”, ia tidak akan pernah mendapatkan anugerah besar berupa upaya baik dari orang lain. Saat itu juga atau suatu saat kelak,” jelasnya panjang lebar.
Dalam sekali apa yang dikatakan teman saya ini. Sebuah pembelajaran yang membuat saya merenung sepanjang perjalanan menyusuri Margonda sore ini. Hingga di suatu pertigaan…
“Pak, minta uang dong Pak…” seorang bocah kecil berbaju kumal menyodorkan tangannya kepada saya yang sedang menunggu lampu hijau menyala.
Saat saya menoleh kepadanya, lampu kuning sudah menyala.
Duh, memberi atau…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
jelang perjuangan nomor 1
21:57 07 Juli 2007

MUKA BANDIT


Sabtu pagi pukul 10.00 tepat saya meninggalkan halaman masjid tempat pertemuan pekanan dilakukan untuk menuju bandara Soekarno Hatta menjemput paman saya yang akan tiba dari Arab Saudi. Menurut SMS yang saya terima dari rombongan keluarga paman saya yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara, rencananya pesawat yang membawa paman saya itu akan mendarat pukul 13.00 WIB.
Perjalanan yang biasa saya tempuh ke sana adalah dengan naik KRL di stasiun Citayam lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus Damri yang biasa mangkal di Terminal Pasar Minggu. Sampai di bandara, di terminal 2, jam satu siang kurang sedikit. Ternyata berdasarkan jadwal yang terpampang di layar pengumuman pendaratan, pesawat Saudi Airlines itu baru tiba di Indonesia pukul 13.54 WIB.
Dan baru pada jam setengah empat sore, saya benar-benar dapat melihat paman saya keluar dari pintu kedatangan. Setelah berbasa-basi sebentar dia bilang, “Besok kita ke PRJ, antar yah…”
Siap…!
Pekan Raya Jakarta
Perjalanan kemarin amat melelahkan menurut saya. Selain karena harus mampir di rumah teman paman saya di daerah Ciledug, kapasitas angkut yang berlebih sehingga kami harus berdesakan, juga perjalanan pulang ke tempat saya yang memakan waktu lama. Kini esoknya, di hari ahad ini, saya pun harus menemani paman saya yang ingin berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Rencananya pula sehabis dari PRJ kami akan mengunjungi Masjid Kubah Emas. “Mumpung di Jakarta, ” kata bibi saya.
Oke deh…walaupun lelah dari kemarin belum juga kunjung hilang, saya menyanggupi untuk mengantar mereka. Dalam hati saya berkata “kepada keluarga siapa lagi saya akan berbakti setelah ibu saya meninggal?”
Perjalanan di mulai dari pintu tol Cieutereup lalu keluar di pintu tol Ancol-Mangga Dua. Tidak berapa lama kami pun sampai di arena PRJ. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas untuk memasuki tempat pameran. Tiket masuk per kepala sebesar Rp20.000,00 di hari libu. Anak umur 3 tahun ke atas diharuskan memiliki tiket pula.
Terus terang saja, saya termasuk orang yang tidak menyukai keramaian pasar atau mal. Selain karena bisa menaikkan syahwat belanja juga bisa meliarkan hasrat hedonisme manusia—dan untuk mengatasi ini saya cuma membawa uang tunai seratus ribu saja agar saya menyadari saat “ingin” sesuatu, uang saya hanya segitunya saja.
Semakin siang semakin banyak pula pengunjung yang datang. Dan tidak terasa saat saya berkunjung di stand daerah dan UKM, saya telah berpisah dari rombongan utama. Saya raba saku saya, hp saya masih ada ditempatnya. Tapi ada yang aneh, kok selama ini tidak ada aktivitas getar dari hp itu. Alamak, ternyata hp saya sudah mati. Lalu bagaimana saya harus mencari mereka di antara puluhan ribu orang yang berada di tempat itu.
Saya lakoni cara manual, berkeliling ke berbagai tempat utama pameran. Dari hall ke hall, dari stand ke stand, dari counter ke counter. Tidak ketemu…! Kaki saya sampai pegal-pegal. Istirahat deh di salah satu sudut counter penjual makanan ringan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kali aja ada yang bisa meminjamkan charger atau hp—ingat loh saya tidak meminta pulsa kepada mereka.
“Pak, bapak punya charger enggak Pak? Saya mau menghubungi saudara saya di sini, tapi hp saya mati” tanya saya pada sekelompok orang penjaga stand yang saat itu lagi sepi.
“Chargernya ketinggalan di rumah,” jawab salah satu dari mereka. Saya pun meninggalkan tempat itu.
Saya kembali melihat seorang bapak tua yang sedang duduk-duduk dengan hp berada di pinggangnya.
“Pak bisa bantu saya enggak Pak? Saya mau kontak saudara saya di sini. Tapi baterai saya habis. Jadi saya mau pinjam hpnya bapak, nanti saya telponnya pakai kartu saya Pak,” pinta saya setengah memelas.
“Masnya pinjam saja charger di counter hp di sana, ” tunjuk dia pada sebuah stand merek hp ternama.
“Terimakasih Pak.” Dua kali saya di tolak. Kali ini episode acara televisi TOLONG benar-benar terjadi pada diri saya.
Saya pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Bapak itu. Tapi saya lihat stand itu dipenuhi banyak orang, semua pelayannya sibuk, dan jelas saya tidak banyak berharap meminta pertolongan dari mereka.
Lalu saya kembali mencari orang yang dari gayanya bisa membantu saya keluar dari kesulitan. Dua orang yang sedang berbincang-bincang di depan toilet yang saya tanyai, menjawab dengan jawaban singkat, “saya tidak punya hp.” Dan orang terakhir—penjaga stand minuman—pun tidak bisa menolong saya.
Saat itulah saya merasakan menjadi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Saat itulah saya merasa menjadi tokoh utama dari program variety show televisi. Saat itulah saya merasa menjadi orang yang kesendirian. Mengapa mereka tidak mau memberikan pertolongan yah? Apa karena muka saya muka bandit hingga menjadi parameter tersendiri layak atau tidaknya seseorang untuk ditolong? Saya merasakan sekali nada kecurigaan dari tatapan bapak yang menyuruh saya meminjam charger di counter hp dan juga dari dua pemuda yang sedang ngobrol di depan toilet. Wajarlah mereka curiga, ini Jakarta Bung! Di mana banyak kepalsuan dijajakan dan diobral ke mana-mana. Di saat kejujuran menjadi barang paling langka pada saat ini. Dan pada akhirnya saat itulah saya bertekad kalau saya dimintakan pertolongan dalam masalah ini Insya Allah akan saya bantu sekuat tenaga.
Tekad saya itu ternyata diberikan jalan oleh Allah untuk direalisasikan pembuktiannya. Senin pagi ini, ada kecelakaan di jalan antara Tanjung Barat dan Pasar Minggu. Pengendara sepeda motor menabrak motor yang berada di depannya. Yang menabrak jatuh dan ditabrak dari belakang oleh motor lain. Yang ditabrak malah tidak apa-apa bahkan langsung melanjutkan perjalanan lagi. Sedangkan dua orang ini luka-luka lecet di kaki, tangan, dan juga di dagu.
Saya sempatkan untuk menuntun salah satu motor mereka. “Bagaimana, ada yang luka parah enggak? tanya saya pada penabrak kedua yang tidak bisa menghindari penabrak pertama . “Dagu dan kaki ini masih keluar darah,” jawabnya. Benar, cairan berwarna merah membasahi tangannya yang mengusap-usap dagunya.
Si penabrak pertama menghampiri saya sambil berjalan tertatih-tatih dan wajah meringis kesakitan dan berkata: “Bapak punya pulsa banyak enggak? Saya mau menghubungi orang Jepang atasan saya, pulsa saya mau habis nih” pintanya. Jelas saya langsung memberikan hp saya padanya. Peristiwa hari Ahad kemarin benar-benar membekas pada sanubari saya. Berikan pertolongan…apalagi sekadar pulsa ini. Ada banyak yang dihubunginya, saya pun menunggu lama. Berkali-kali ia meminta izin untuk menghubungi yang lain. “Silakan pakai saja.”
Barulah setelah saya memastikan mereka tidak membutuhkan hp ini, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali, absen pagi sudah terasa memanggil-manggil di telinga. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi, kata teman satu seksi saya saat saya menceritakan hal ini padanya. Tentang sebuah pelajaran dan pembuktian realita atas sebuah tekad agar tidak menjadi omong kosong belaka.
Syukurnya Allah memberikan pelajaran atau tes ini segera, agar saya merasakan hikmah di balik semua itu. Agar saya selalu belajar untuk menjadikan tangan ini selalu di atas. Agar saya tidak menggunakan parameter layak tidaknya seseorang itu perlu ditolong hanya di lihat dari mukanya, muka bandit atau muka Kyai. Enggak enaklah dinilai seperti itu. Bisa jadi muka saya muka bandit tapi hati ini boo, hati Ebiet (halah…). Kawan, hari ini dan kemarin saya mendapat banyak pelajaran loh.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:16 02 Juli 2007

http://10.9.4.215/blog/dedaunan
http://dirantingcemara/blogspot.com
almanfaluthi at gmail.com
riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Ri, yang cantik…


KE MANA?
(CATATAN PERJALANAN 1)

Selasa, 20 Juni 2007 WIB
Ri, tugas itu mendadak sekali diberikan kepadaku. Aku harus pergi ke Surabaya untuk membahas mengenai permasalahan PPN atas Jasa Maklon di Kawasan Berikat dengan Badan Penanaman Modal (BPM) Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Pihak Kanwil Khusus sepertinya meminta satu orang dari KPP PMA Empat untuk menemani pejabat Kanwil.
Ibu Kepala Seksi meminta kepada saya dan teman saya yang kebetulan sama-sama menangani Wajib Pajak yang mau dibahas permasalahannya di BPM. Saya sudah menawarkan kepada teman saya untuk dia saja yang pergi ke Surabaya, tapi karena ada berkas yang mau jatuh tempo maka dia menyerahkannya kepada saya. Alhasil saya yang ditunjuk untuk pergi.
Ri, saya bergegas untuk membuat surat tugas, SPPD, memesan tiket, mengontak pemeriksa untuk mengetahui permasalahan sebenarnya tentang Wajib Pajak tersebut, menyalin peraturan-peraturan perpajakan untuk amunisi saya saat ditanya oleh Wajib Pajak dan BPM di forum tersebut. Semuanya tidak ada masalah sampai sore hari saat tiket diantar oleh pihak travel.
Ternyata Ri, saya dipesankan tiga tiket. Tiket pertama atas nama saya untuk perjalanan ke Surabaya hari Rabu tanggal 20 Juni 2007 pukul 17.00 WIB. Tiket kedua adalah atas nama saya juga untuk perjalanan ke Surabaya hari Kamis 21 Juni 2007 pukul 06.00 WIB. Tiket ketiga untuk pejabat dari Kanwil yang berangkat hari kamis jam enam pagi.
Bagaimana mungkin saya bisa berangkat dalam jangka waktu tersebut. Saya menolak untuk membayarnya. Ibu Kepala Seksi pun ikut membantu saya. Ada kesalahan di operator penerima pemesanan tiket. Mereka tetap menyalahkan saya dan berusaha untuk menagihnya atau melakukan pembatalan dengan membayar Rp65.000,00. Semuanya ditolak mentah-mentah oleh Ibu Kepala Seksi saya. Dan akhirnya kurirnya bisa menerima walaupun diantara mereka sepertinya masih ada ganjalan. Pihak travel tetap menginginkan ada pembayaran pembatalan tersebut. Tapi selesai juga dengan kekukuhan kita.
Saya berharap perjalanan ini tidak akan terjadi lagi hal-hal lain yang menghambat seperti peristiwa ini Ri. Cukup sudah.

Rabu, 20 Juni 2007 08.00 Pagi.
Ri, saya berusaha belajar memahami persoalan tentang permasalahan Wajib Pajak yang mengadukan persoalan PPN Jasa Maklon ini kepada BPM. Insya Allah saya sudah siap menerima pertanyaan apapun atau permintaan penjelasan tentang hal ini. Ohya dinihari tadi saya sudah packing, cukup dengan satu stel pakaian saja dan dua dasi. Merah dan Biru. Satunya untuk cadangan saja.

Rabu, 20 Juni 2007 12.00 WIB.
Ri, sudah kucium pipi dan dahi mereka, Haqi dan Ayyasy. Dua hari ini tentunya saya akan merindukan mereka. “Selamat tinggal , Nak…”
Ri, entah kenapa hati saya masih saja tetap tidak enak. Apakah karena ketakutan saya bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal? Juga apakah karena akan dihadapkan dengan para pejabat-pejabat BPM sana? Entahlah, untuk mengatasi semua kecemasan ini saya memperbanyak sholawat dan doa Nabi Musa saat akan menghadapi Fir’aun Raja Durjana.
Kereta Rel Listrik jurusan Jakarta Kota tiba di Stasiun Citayam, saya menaikinya Ri untuk turun di Stasiun Pasar Minggu. Cukup dengan karcis seharga Rp1500.00. Nanti dari Stasiun Pasar Minggu saya jalan ke arah terminal Pasar Minggu untuk menaiki Bus Damri yang akan membawa saya ke Bandara Soekarno Hatta.
Rabu, 20 Juni 2007 14.30 WIB
Kakiku menuruni tangga Bus, kembali saya menginjakkan kaki di Bandara. Kini saya sudah tidak katro, tidak ndeso lagi seperti saat saya baru pertama kali dating ke tempat ini. Dulu di Desember 2005—seperti yang sudah pernah saya ceritakan kepadamu Ri, saya sempat berdiri cukup lama di depan loket maskapai untuk melakukan check in. Saya disadarkan calo tiket, katanya kalau mau check in harus masuk dulu melalui pintu utama lalu antri di depan loket check in yang berjajar memanjang dari berbagai perusahaan penerbangan dalam negeri. Ternyata tempat itu memang bukan tempat untuk check in, tempat itu adalah tempat untuk membeli tiket. Pantesan tidak ada orang yang mengantri di depannya. Kini saya tidak kampungan lagi Ri, Saya langsung menuju tempat check in.
Rabu, 20 Juni 2007 17.00 WIB
Menunggu memang pekerjaan yang membosankan Ri, sudah dua jam lebih saya menunggu untuk masuk ke pesawat. Tapi entah kenapa panggilan itu belum datang juga. Sore ini, hujan sudah tidak lebat lagi turunnya. Tapi langit masih tetap menghitam. Sepertinya akan mencurahkan isinya lagi. Sudah dua koran nasional saya baca. Dan sudah berkali-kali saya bolak-balikkan lembarannya untuk mencari berita menarik yang mungkin terlewati. Dan ternyata sudah semua saya baca. Kini saya tinggal memandang ke arah kejauhan melihat ruang kosong beraspal dan berumput tempat pesawat mendarat dan tinggal landas.
Ri, jadinya saya menulis puisi:

Ke mana?
ke arah mana engkau akan bertiup
selatan?
atau barat?
Ikuti aku
Ikuti jejakku
percayalah ada belahan sukma
yang menggapai-gapai asa
merinduimu
menaruh setengah cintanya untukmu
pada langit yang memerah selendangnya
pada bulan yang separuh cahayanya
lalu
masih saja kau ragu
ke arah mana engkau akan bertiup?
Ke mana?
****
Rabu, 20 Juni 2007 18.10
Ri-ku yang cantik, tadi di pesawat saya mengalami dua kali guncangan. Cuaca yang buruk membuat pesawat terbang yang saya naiki seperti roll coaster di dunia fantasi. Perut bagian bawahku seperti tertarik searah gravitasi bumi menuju pusatnya. Saya bertakbir Ri, pun saya bersholawat. Bayangan buruk tentang jatuh dari angkasa menghantui saya Ri. Tapi Alhamdulillah saya dan semua penumpang selamat. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa perjalanan udara hal itu adalah hal biasa. Tapi bagi saya tentunya beda, itu adalah sesuatu yang di luar biasa.
Bandara Juanda masih ramai Ri, terutama dari para penjemput yang sudah berdiri menunggu di depan pintu keluar. Saya bingung Ri, taksi mana yang harus saya tumpangi menuju Jalan Jagir Wonokromo. Saya sudah ditawari banyak calo taksi untuk menaiki kendaraannya. Cuma saya ingat pesan tetangga saya yang mewanti-wanti saya untuk memesan tiket di loket resmi saja. Awalnya saya tidak menemukannya. Tapi setelah berpura-pura menelpon seseorang agar tidak ditanyai terus oleh calo tersebut saya menemukan counter taksi itu. Ternyata tepat di sebelah kiri pintu keluar.
“Mau ke mana Pak?” tanya petugas wanita di counter tersebut.
“Jagir”
“Lima puluh lima ribu rupiah.”
Setelah menyerahkan uang yang diminta saya mendapatkan sebuah karcis. Dan saya bingung Ri, di mana taksi yang harus saya tumpangi. Seorang petugas di depan loket itu menyadari kebingungan saya dan menunjukkan kepada saya taksinya.
“Bapak tahu hotel yang ada di Jalan Jagir? tanya saya pada supir taksi. Bapak itu berpikir dan menjawab: “sepertinya tidak ada”.
“Ya sudah Pak ke Hotel Fortuna di Jalan Darmo Kali,” pinta saya sesuai sms dari tetangga saya yang sudah tahu seluk beluk Surabaya.
“Kalau begitu tarifnya beda Pak, kurang Rp10.000,00 lagi. Bagaimana?”
“Ya sudah tidak apa-apa,” jawab saya. Insya Allah SPPD saya cukup
Ri, Surabaya di malam hari ternyata sama saja dengan Jakarta. Jalan Ahmad Yani di Surabaya saya pikir ramainya sama dengan jalan Pasar Minggu Jakarta. Saya merenung di jendela taksi. Memandang temaram malam dengan lampu-lampu merkuri yang menyesakkannya. Ri, saya jadi ingat pusi yang saya buat beberapa tahun yang lalu. Tapi puisi itu sudah hilang Ri entah kemana. Suasana yang membangun puisi itu sama persis dengan melankolis malam ini Ri.

Rabu, 20 Juni 2007 19.15 WIB
Ri-ku yang menawan. Aku (kata gantinya kuganti saja) berjalan memasuki pintu hotel Fortuna. Bergegas menuju meja resepsionis. Dan memilih kamar yang yang tidak terlalu mewah. Tentunya seukuran SPPD-ku. Aku memilih yang harganya Rp209.000,00. Dengan harga yang sama kamar hotel ini masih kalah indah dengan kamar hotel di Pasuruan dulu. Harganya pun lebih murah daripada yang di sini.
Ri, ternyata perkiraanku salah. Dulu waktu pergi ke Pasuruan aku sengaja membawa perlengkapan mandi ternyata di sana sudah tersedia lengkap. Tapi saat aku berpikir bahwa untuk perjalanan ke Surabaya ini aku tak perlu perlengkapan mandi, aku salah Ri. Di sini aku tidak menemukan sikat gigi dan pastanya. Kiranya aku perlu ke luar hotel untuk mencarinya sekalian mencari pengisi perut yang sedari siang belum terisi. Di pesawat aku cuma diberi segelas air putih dalam kemasan 220 ml.

Rabu, 20 Juni 2007 21.00 WIB
Ri, kini malam semakin menjelang. Saatnya untuk istirahat Ri. Melepaskan penat setelah setengah harian tadi menempuh ratusan kilometer. Ohya Ri, saya (kiranya Ri, kata ganti saya lebih akrab di telinga daripada aku) kok merasakan “keanehan“ di luar biasanya, saat membeli nasi goreng di warung nasi di pertigaan jalan dekat hotel. Warnanya merah dan masalahnya kok seperti tidak ada rasanya yah… atau lidah saya yang belum bisa menerima “keanehan” ini. Nasi goreng kok warnanya merah. Saya tidak tahu apa nama nasi ini. Saya belum menanyakannya pada teman-teman dari Surabaya Ri.
Ri, saya tinggal dulu yah. Saya mau tidur. Saya sudah capek. Saya harus mempersiapkan sebaik mungkin untuk hari esok. Acara televisi sudah tidak menarik minatku lagi. Semoga engkau bermimpi indah malam ini. Lembaran putihmu saatnya untuk tidak kucoret malam ini. Tapi aku sendirian Ri….

To be Continued…

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:04 22 Juni 2007

DEAL GROUP BATRE V


Tuesday, May 8, 2007 – DEAL GROUP BATRE V

Yth. Kawan-kawan peserta Batre V
Kelompok I yang tidak hadir pada pertemuan tanggal 05 Mei 2007

Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam
Sabtu kemarin dari 11 anggota kelompok I yang hadir hanya 5 orang peserta, yaitu saya sendiri, Anindita Gayatri, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah, dan Amalia Hassan.
Pertemuan kemarin adalah pertemuan untuk menyepakati siapa yang menjadi ketua kelompok, sekretaris, dan bendahara. Juga untuk menentukan pertemuan lanjutan, serta kewajiban-kewajiban para peserta. Berikut hasil kesepakatan dari pertemuan tersebut:

1. Karena saya satu-satunya laki-laki di kelompok I yang hadir pada pertemuan itu, maka saya langsung didaulat untuk menjadi ketua kelompok. Selagi mampu saya terima saja amanah itu;
2. Sekretaris adalah Anindita Gayatri sedangkan Bendahara adalah Siti Azizah;
3. Iuran peserta sebesar Rp30.000,00 per bulan. Yang dikumpulkan di pertemuan terakhir dalam bulan tersebut. Biasanya di minggu keempat. Langsung disetorkan ke Bendahara.
4. Setiap anggota kelompok I wajib hadir untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan sekali dalam dua minggu. Apabila tidak bisa hadir maka diwajibkan untuk menemui Tutor pada hari esoknya atau pada hari yang telah disepakati. Apabila ternyata tidak bisa juga, maka ia harus berkewajiban untuk membuat sebuah tulisan dalam bentuk apa saja atau resensi sebuah buku. Di pertemuan selanjutnya akan ditagih atau apabila sudah dibuat maka tulisan tersebut dikumpulkan kepada Sekretaris.
5. Untuk pertemuan selanjutnya yaitu pertemuan perdana dari pelatihan BATRE V untuk kelompok 1 ini maka akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2007 pukul 09.00 pagi WIB.
6. Telah dibagikan Daftar Peserta BATRE V Kelompok I, Silabus Pertemuan, dan Materi Pertemuan I dengan judul: Menulis Cerpen oleh Denny Prabowo serta Dongeng Kancil oleh Sapardi Djoko Damono. Bagi yang belum mendapatkan materi tersebut bisa langsung kontak kepada
– Tutor kita yaitu Denny Prabowo di nomor 08881425763/081802901679
– Asisten Tutor yaitu Nurhadiansyah di nomor: 08881750920
7. Ada tugas yang harus dikumpulkan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2007 besok, yaitu mengumpulkan 3 dongeng (lokal ataupun internasional) terkenal dan dibuatkan sinopsisnya. Kita akan berusaha untuk merekonstruksi dongeng tersebut pada pertemuan I nanti;

Demikian hasil dari pertemuan kelompok I ini. Bila ada yang kurang jelas sila untuk menghubungi saya via telepon di nomor yang telah saya kirimkan via sms Sabtu kemarin. Kurang lebihnya mohon maaf. Billahittaufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
Riza Almanfaluthi

6 BULAN UJIAN SEBENARNYA


Wednesday, April 25, 2007 – 6 BULAN UJIAN SEBENARNYA

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ba’da tahmid dan salam.

Setelah diawali dengan sebuah pesimisme tentang bisakah saya lulus untuk mengikuti Basic Training for Beginner V (BATRE V) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Depok, akhirnya 20 April 2007 kemarin, sang Ketua FLP Depok, Koko Nata, memberikan sebuah woro-woro hasil seleksi tersebut dalam sebuah essaynya yang disebarkan melalui milis dan dimuat di blog komunitas penulis akhirat itu, http://flpdepok.multiply.com

Ternyata saya lulus, dan dikelompokkan dengan calon peserta BATRE V yang lainnya, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Berikut nama-nama peserta Batre V didasarkan keleompoknya–saya tidak tahu atas dasar apa pengelompokkan tersebut.

Kelompok I: Anindita Gayatri, Bhayu Mahendra H, Dunianti Hinda Maharani, Hermanu, Ihsan Maskuri, Riza Almanfaluthi, Ronald P. Putra, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah.

Kelompok II: Arya Fernandes, Danni Azzam, Diah Ayu Sekararum, Nadia Nurhaliati,

Neneng Tsani, Qurratuain, Riani Anggraeni, Ririk, Shahibah Yuliani, Tijih Andri

Kelompok III: Diah Ayu Sekararum, Fadila, Indriani Putri, Isti, Muhammad Erfan, Nurul M, Nur Hasanah, Sari Harum Melaty, Sidiq, Siti Mundasah.

Nah, setelah itu ujian sebenarnya akan datang. Selama 6 bulan itu seluruh peserta akan diberikan pelatihan menulis. Loh kok ujian lagi. Yup, ujian atas sebuah ketekunan dalam kehadiran, ujian atas sebuah konsistensi, ujian atas sebuah pelurusan niat. Karena, sebagaimana Koko Nata telah tegaskan bahwa FLP Depok tak punya tongkat ajaib yang bisa menyulap seseorang menjadi penulis hebat.FLP Depok tak bisa memberikan apapun materi, anggotalah yang harus senantiasa memberi karena sesungguhnya ketika memberi maka kita akan menerima. Wow…berat juga yah. Enam bulan loh, Dua belas pertemuan. Dua jam dalam sekali pertemuan.

Hanya satu kendala bagi saya adalah lemahnya semangat. Mungkin di awal, semangat saya begitu menggebu-gebu untuk mengikuti pelatihan ini. Tapi biasanya di pertengahan, kebosanan sudah mulai merambati diri. Terbukti kegagalan saya dalam menekuni pelatihan bahasa Inggris di LIA, yang tidak pernah saya tuntaskan padahal sudah bayar mahal. Kiranya saya senantiasa butuh penyemangat agar tercapai target jangka pendek saya yaitu: selalu hadir dalam setiap pertemuan. Itu saja bagi saya adalah sebuah kesuksesan yang luar biasa.

Saya harap saya tidak lemah semangat.

Saya harap saya tidak malas.

Saya harap saya senantiasa tekun.

Saya harap saya dapat mengikutinya tanpa jeda.

Saya harap Allah menguatkan saya.

Itu saja harap saya.

Doakan.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:06 25 April 2007

Karena Kamu Cantik…


karena kamu cantik…

Kepekaan saya yang semakin menipis membuat saya gagap untuk menulis puisi. Tapi saya memang harus melawan kecenderungan yang biasanya membuat orang takut yaitu memulai untuk menulis. Jikalau semua kita memahami bahwa sesuatu yang indah tentunya diawali dari kesulitan-kesulitan maka tentunya tak akan ada keluhan karena akhirnya keindahan itu pasti datang pada akhirnya.
Maka saya tak akan pernah mengeluh bahwa keindahan itu tiada terasa pada puisi ini, karena hari ini saya kembali untuk memulai. Memulai untuk menulis. Menulis sebuah puisi.

***
Mengapa perempuan selalu dibahas dalam setiap diskusi? Karena kecantikannya? Atau karena apa?
Kata Dr. Najah Ahmad Azh Zhihar dan Ustad Cinta dalam “Ya Ma’syaru Ar-Rijaal, Rifqan bin An-nisaa, sesungguhnya:

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan
mata kaum laki-laki;
2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu
menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria;
3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya;
4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan
suaranya yang hangat;
5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah
kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya;
6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya;
7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia;
8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.

Sedangkan saya cuma bisa jawab:

karena…
by: Riza Almanfaluthi

karena perempuan itu 1001 misteri
karena perempuan itu ingin dimengerti
karena perempuan itu sejatinya adalah kawan sejati
karena perempuan itu adanya lelaki
karena perempuan itu mampu membuat warna hati
karena perempuan itu keindahan sebuah puisi
karena perempuan itu membuatku tak mudah patah hati
dan selaksa lainnya hanya
untukmu perempuanku…

Kalibata Biru
11:21, 12 Maret 2007

cinta…
selayaknya datang di senja
saat kau memandang buih lautan

tanyamu
adalah asa yang tak kunjung tiba
di selokan penuh embun
absurd

ah…

Kalibata Biru,
10:00, 12 Maret 2007