PAGAR GAIB ANTISIREP


PAGAR GAIB ANTISIREP

Pencuri itu cuma menyisakan uang seratus ribu di dompet teman saya, Taufik.  Sekitar satu juta lebih simpanannya digondol maling yang menyantroni rumahnya di tengah malam. Masuk dari pintu samping yang cuma digerendel dengan selot kayu lalu sempat-sempatnya maling itu di tengah aksinya makan tape yang tersedia di meja makan. Kemudian masuk kamar pribadinya dan mengacak-acak isi lemarinya.

Selain uang, dua telepon genggamnya raib disabet maling. Semua aksinya tanpa sedikitpun diketahui oleh penghuni rumah yang  terlelap begitu rupa. Keesokan pagi, Taufik  baru mengetahui rumahnya kecolongan dan ada sandal yang ditengarai milik si maling tertinggal di rumahnya.

Malamnya lagi, sekitar pukul setengah tiga pagi, si maling menyantroni rumah tetangga Taufik yang berada persis di depan rumahnya. Benar-benar berani si maling ini. Tapi aksinya sudah diketahui warga saat ia berusaha merusak jendela rumah itu. Diteriaki dan dikejar oleh warga, si maling tetap bisa lolos.

Gagal di malam itu, malam selanjutnya, ia kembali melakukan aksinya. Masih di sekitar dekat rumah Taufik. Kini ia berhasil dengan gemilang, tanpa diketahui oleh pemilik rumah bahkan warga sekitar.  Tiga malam berturut-turut maling beraksi di sekitar  kampung Taufik. Semuanya mengulang apa yang terjadi di komplek tetangga beberapa bulan sebelumnya. Yang diambil “cuma” uang dan barang-barang yang bisa langsung dijual, telepon genggam misalnya, dan tidak sampai kendaraan seperti motor atau mobil.

“Disirep!” kata Pak Ronggo (bukan nama sebenarnya) salah seorang jama’ah Masjid Al-Ikhwan dengan yakin. “Dan mengatasi sirep itu gampang, asal tahu triknya,” lanjutnya.

“Bagaimana Pak?” tanya jama’ah lain yang ikut dalam perbincangan santai selepas sholat isya itu.

“Kalau tidur kepalanya jangan sama-sama menghadap satu arah.  Harus ada yang berlawanan arah. Misalnya suami tidur kepalanya menghadap ke selatan, berarti si istri kepalanya harus menghadap ke utara. Dijamin sirepnya tidak mempan. Soalnya sebelum taubat saya dulu kejawen. Saya tahu banyak yang kayak begituan. Dulu saya bisa menerbangkan pisau beberapa meter. Kalau diseriuskan lagi  bahkan saya bisa memerintahkan pisau itu terbang untuk pergi ke mana.”

Salah seorang jama’ah lain melirik kepada saya dan bertanya, “Bagaimana Pak?”

“Kita ambil saja pelajaran dari apa yang diterangkan dalam Alqur’an dan assunnah menghadapi hal semacam itu,” kata saya. Dan kemudian saya menerangkan dengan detil bagaimana Islam mengajarkan pemeluknya dalam menghadapi sihir-sihir termasuk sirep didalamnya.

Pembaca yang dirahmati Allah, saya berusaha membaginya kepada Anda semua apa yang saya tahu tentang hal ini. Minimal sebagai bekal buat saya dan Anda semua. Kiranya Anda tak perlu untuk memanggil para dukun—atau mereka yang sering dipanggil dengan sebutan ustadz tapi pada praktiknya sama—yang sekarang gemar dan gencar beriklan di media massa dan elektronik untuk membuat pagar gaib dan perlindungan ampuh di rumah Anda agar Anda tidak terganggu dengan segala macam sihir. Karena semuanya itu adalah sebuah kesia-siaan. Semuanya itu perlindungan bikinan manusia dan teramat rapuh.  Tidak ada kekuatannya sama sekali. Kalaupun berhasil itu adalah tipuan setan semata untuk menjerumuskan kita semua dalam jurang kesyirikan besar.

Ya, sihir itu memang ada, dan sirep itu adalah sihir. Dan sekali-kali mereka tidak memberikan mudharat dengan sihirnya, kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah [2:102]. Sufyan Ats–Tsaury mengatakan, “kecuali dengan qadha Allah.” Hasan Al Bashri berkata, “Benar barangsiapa yang dikehendaki-Nya, maka ia dikuasai setan. Dan siapa yang tidak dikehendaki-nya, maka tidak dikuasai setan.”

Dan Anda tidak perlu mengeluarkan duit sama sekali untuk membuat perlindungan yang paling ampuh itu. Anda cuma butuh modal menghapalkannya saja. Dan saya yakin Anda sebenarnya sudah hapal karena apa yang dihapal itu sudah biasa dihapal sejak kecil. Percayalah perlindungan ini adalah perlindungan terkuat yang sirep dan sihir sehebat apapun tak akan sanggup menembusnya. Pagar gaib antisihir paling syar’i. Insya Allah.

Inilah pagar atau perlindungan terkuat ala Rasulullah saw:

1.       Baca ta’awudz:  A’uudzubillaahi minassysyaithoonirrojiim”Aku berlindung dengan Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan Syaithan yang terkutuk.” [1] 

2.       Baca: A’uudzu bikalimaatillaahittaammaati  min syarri maa kholaq

Aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan apa-apa yang diciptakan.”[2] 

3.       Membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan Annaas tiga kali di waktu pagi dan sore. [3]

 

4.       Baca Al-Baqarah ayat 1-5 [4]

 

(Petunjuk pemakaian lebih lanjut bisa dilihat di bagian bawah tulisan ini.)

 

Anda bisa memilih satu atau dua dari apa yang saya ungkap di atas yang menurut Anda paling mudah untuk dilakukan. Lebih banyak lebih bagus karena tidak ada ruginya kita senantiasa berdzikir. Bahkan banyak berdzikir membuat hati kita tenang bukan? Sebenarnya masih banyak lagi macam-macam perlindungan syar’i yang diajarkan rasulullah kepada kita semua namun tidak saya ungkap semuanya di sini mengingat keterbatasan saya. Baca saja dzikir al-ma’tsurat wadzifah shugra atau qubra yang di dalamnya terdapat kumpulan dzikir-dzikir ma’tsur dari Rasulullah SAW..

Selamat mengamalkan. Semoga nanti malam Anda semua bisa tidur nyenyak karena dilindungi suatu pagar perlindungan yang teramat kuat dari-Nya. Semoga.

***

  

  

[1] Anas RA. dari Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang membaca “A’udzubillahi…….” waktu pagi maka ia dilindungi dari syaithan hingga petang. (HR Ibn Sunni) [2] Dari Abu Hurairah RA bahawa Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang baca di waktu petang tiga kali “A’udzu bikalimaati……” nescaya tidak akan memudharatkannya oleh sesuatu yang berbisa. (HR Muslim)[3] Dari Abdullah bin Khubaib RA berkata: Pada suatu malam yang sangat gelap dan hujan, kami keluar mencari Rasullulah SAW agar berdoa untuk kami. Maka kamipun bertemu dengannya. Lalu baginda bersabda: “Katakanlah !”, tapi aku tidak berkata apa-apa. Kemudian baginda bersabda, “Katakanlahl”, tapi aku tidak berkata. Kemudian baginda bersabda, “Katakanlahl”, maka aku bertanya, “Kata apa wahai Rasulullah ?” Baginda menjawab, “Qul Huwallahu Ahad  dan dua mu’awizatain waktu pagi dan petang 3 kali, nescaya mendindingmu dari segala sesuatu.”(HR Abu Daud, Tirmizi dan Nasai)[4] Hadits riwayat Darani dan Baihaqi dari Ibn Mas’ud RA dari Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah di pagi hari nescaya ia tidak didekati Syaithan hingga petang. Jika dibacanya di waktu petang, nescaya ia tidak didekati Syaitan hingga pagi.Dari Ibn Mas’ud dari Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat dari awal surah Al Baqarah  dan Ayatul Kursi dan dua ayat selepasnya dan penutup surah Al Baqarah nescaya Syaithan tidak akan masuk dalam rumahnya hingga pagi.Allohua’lam bishshowab.Salam takzim buat 223 User Aktif online, 108 Guest(s) and 115 Member(s) pukul 14:20
Member(s) online: 
Orang_Kampung, afifah, d.day, smiling_sheva, ruud, nailal_husna, buih, Azmi, happy2, suff, A-HA, Dzakirah, kang Ase, dee_lova, abu 3an, koorma, alwafi, ALIFkecil, @yoe, nur fajar, alwaysIZUL, Skywalker, OK!!!, mr X al-klateny, must_yayam, Abu Rofiq, candle, sepi, nabilla, arelu, nasywa, mahiya, wong_ndeso, Ummi!, DisTio, efen, van mboden, Yukiji, Ahmadinejad, AdMarJun, watakushi, AbuFath, fit2, zidan, banjar_oey, the interpreter, shalehah, Hifa, yayak, za&ki, fidza, pegasus, Ibnu_Affanie, ibnu ‘umar, Lampu, seti, mas_pria, Ayah Yasmin, sajadah biru, durra, Najma, ben1maru_2000, izzydiharo, Duwet, julianti, kugelfang, kaito kid, UCUK2, lilah_abie, hamdi, inas, sarah, salman_alfarisi, Abu Hafizh, halman, must_NSP, bumblebee, Al ayyubi, pelangi senja, as-tsauri, ano she, white_rose, Tulip, delphy boreLan, NISRINA, chubby, aneuk_nanggroe, ditya, Aliya, Yurist, Corsa, ekaoke, irfan, farin, Salsabila_d7, ”B”, Ibnu Chaeruddin, DiDan, at taufik, dpk-bgr, street_learner, Look-M, BAWOR, camat, prabu, siantar, abu miqdad, MaieV, A-tebe,   Riza Almanfaluthidedaunan di ranting cemara14:18 14 Pebruari 2008  

Telan Obat Itu, Maka Anda Bahagia


Anda stres hari ini? Atau Anda bangun dengan kemarahan masih menggumpal di dada? Masih ada semangat kesumat yang menggelora dan butuh pelampiasan sebagai obatnya? Anda masih bertengkar dengan istri dan anak Anda? Ada kesedihan dan beban hidup yang amat berat yang kiranya sulit untuk dihapuskan segera? Sepertinya semua kesulitan hidup ada pada diri Anda hari ini? Dan Anda tidak bahagia?

Saya ingin berbagi pada Anda obatnya yang Insya Allah akan menghapus semua itu dengan segera, minimal menjadi awal dari runtuhnya bukit ketidakbahagiaan Anda itu. Anda mau tahu? Ya, saya yakin Anda ingin tahu sekali tentang itu.

Saya beritahu Anda sekarang: Berbuat baiklah. Anda mestinya bertanya: “Kapan saya harus melakukan perbuatan baik itu?” Sekarang juga, jangan ditunda-tunda. Anda ketika sakit tentunya ingin menghilangkan rasa sakit itu dengan segera entah dengan meminum obat penghilang rasa sakit, atau antibiotiknya. Kini semua ketidakhbahagian Anda itu adalah rasa sakit yang diderita oleh jiwa Anda. Maka kalau Anda ingin sembuh dari ketidakbahagiaan Anda sekarang, minum obat itu, berbuat baik.

Bukankah berbuat baik itu adalah paradigma memberi? Ya, dan paradigma Anda tentang Anda sakit maka Anda berhak untuk menerima segala pemberian kiranya perlu diubah. Yakinlah Anda tidak akan pernah “take” ketika Anda tidak pernah “give”. Kini perilaku “give” menjadi motor dalam menggerakkan Anda untuk menelan obat yang bermerek berbuat baik itu. Anda akan “take” berupa energi positif penyembuhan ketidakbahagiaan Anda. Kata seorang penulis buku terkenal, memberi itu sama saja artinya dengan memberikan kehidupan bukan saja kepada orang lain melainkan kepada diri Anda sendiri.

Dan Anda tidak perlu berpikir bahwa Anda harus terlebih dahulu melakukan sesuatu yang besar-besar dalam berbuat baik itu? Memang betul perbuatan baik yang besar setidaknya akan memberikan energi positif yang amat besar pula. Tetapi ketika Anda dalam keadaan darurat, dan belum bisa melakukan perbuatan baik yang amat besar itu, semisal sholat, puasa, zakat, dan haji—entah karena waktunya belum tiba dan hal lainnya—maka apa yang Anda harus lakukan sekarang juga?

Anda harus melakukan perbuatan baik yang kecil-kecil saja dahulu. Ya, kecil-kecil saja dulu. Apa contohnya? Tegakkan kepala Anda yang tertunduk seperti pecundang itu. Lengkungkan bibir Anda yang tertekuk ke bawah itu ke atas. Dan tebarkan kepada siapa saja yang Anda jumpai. Ya, tersenyumlah Anda. Sekarang juga. Dan Anda sudah menelan obat anti ketidakbahagiaan itu. Tidak keluar uang sedikit pun.

Obat yang bernama berbuat baik itu tidak seperti obat-obat yang lain. Ia tidak ada batas dosis maksimal seperti obat-obat materi yang lainnya, yang kudu Anda telan dua kapsul tiga kali sehari misalnya. Tidak, tidak seperti itu. Semakin sering obat bernama berbuat baik itu Anda telan, semakin sembuhlah Anda segera dan semakin sehatlah jiwa Anda. Itu baru obat berbuat baik yang kecil-kecil sahaja apalagi Anda menelan obat berbuat baik yang besar-besar?

Lalu, obat berbuat baik yang kecil-kecil apalagi yang harus Anda telan segera agar Anda mendapatkan kesembuhan supercepat lagi? Sebenarnya sangat banyak, semisal mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang membantu Anda dengan bantuan kecil sekalipun, membayar makan pagi teman Anda, membayar tiket tol mobil yang ada di belakang Anda, membayar semangkuk bakso yang sedang dimakan oleh Bapak Polantas di pinggir jalan, atau sedekah dengan uang recehan kepada pengamen, pemulung, dan anak-anak jalanan.

Juga menyapa SATPAM kantor Anda yang sampai detik ini masih tetap setia duduk dan menjaga di lobby kantor Anda, ucapkan permisi dan maaf ketika ada office boy atau cleaning service yang saat itu sedang mengepel lantai kantor Anda, dan masih banyak lagi lainnya. Tanggalkan segala baju ego dan telanjangkan diri Anda dari jas gengsi yang segitu mahalnya buat orang lain.

Setelah itu, setelah Anda melakukan semua perbuatan baik itu, rasakan obat itu beraksi dengan cepat, mengalir lewat pembuluh darah ke segala arah dan memacu hormon serotonin, hormon kebahagiaan Anda. Alhamdulillah.

Tapi bagi seorang muslim ada lagi yang lebih dari sekadar itu. Agar kebahagiaan itu terasa juga tidak hanya di dunia atau berorientasi akhirat, mau tidak mau Anda harus berniat melakukan karena Allah semata, tidak boleh melenceng sedikitpun, dan luruskan segera bila sudah melenceng bukan karena-Nya. Karena bila tidak di akhirat cuma mendapatkan debu dari obat berbuat baik itu. Tidak ada hasilnya sama sekali. Cuma kebahagiaan di dunia saja yang Anda dapatkan.

Percayalah, keikhlasan Anda ibarat air yang melancarkan jalannya obat untuk masuk ke dalam pencernaan Anda. Bahkan obat berbuat baik yang Anda masukkan ke dalam jiwa Anda dengan sebuah keikhlasan itu selain menimbulkan kebahagiaan, serta merta ia akan menjadi cadangan bantuan darurat untuk Anda. Tidak percaya? Dengarkanlah cerita berikut ini.

Andi, sebut saja namanya demikian, berangkat ke kantor dengan perasaan gundah gulana. Tadi pagi sebelum berangkat ia harus bertengkar dulu dengan istrinya. Ketidaksalingmengertian memahami persoalan membuat mereka tidak bisa menuntaskannya segera. Akibatnya Andi pergi dengan segumpal marah masih teronggok di dadanya.

Di sepanjang perjalanan ia masih memikirkan hal itu. Ia sadar ia harus keluar dari kemarahannya ini. Kemarahannya hanya membuatnya semakin tidak bahagia. Solusi yang sering ia lakukan saat mengalami hal ini adalah dengan melakukan sedekah. Ia percaya betul bahwa sedekah akan membuatnya terlepas dari segala persoalan dunia. Dan ia bertekad untuk sedekah pagi itu.

Lalu di tempat ia biasa membeli nasi bungkus sebagai bekal sarapannya, ia berhenti. Di sana sudah ada kawan lamanya yang sudah tidak sekantor lagi dengannya sedang membeli nasi bungkus itu. Dan binggo, sebuah kesempatan untuk bersedekah terbuka dihadapannya. Ia mengambil uang temannya yang sudah digeletakkan di meja penjual nasi itu dan menyerahkannya kembali kepada temannya.

“Tidak perlu, biar saya yang bayar saja,” ucapnya. Temannya menerima uang goceng itu dengan ucapan terima kasih lalu pergi meninggalkan si Andi yang masih menunggu nasinya dibungkus. Andi merasa bahagia dan sedikit demi sedikit kemarahan yang ia rasakan tadi pagi berangsur-angsur hilang. Energi positif itu mengalir ke seluruh tubuhnya. Selesai? Fragmen kehidupan Andi tidak berhenti di situ.

Beberapa saat meninggalkan warung itu, motor yang ia naiki tersendat-sendat jalannya. Ia tidak tahu mesin, ia mengira bahwa motornya itu cuma karena kehabisan bensin. Sedangkan tidak ada penjual bensin di sekitar tempat itu. SPBU pun masih jauh letaknya. Dan ia harus mengejar absen paginya agar nanti di awal bulan gajinya tidak terpotong. Ia sudah berpikir akan terlambat. Beberapa puluh meter dengan keadaan motor yang buruk itu, ia bertawasul dengan perbuatan baik yang ia baru saja lakukan. “Ya Allah jikalau saja perbuatan menolong teman saya itu ikhlas karenaMu maka tolonglah saya Ya Allah dan berilah aku jalan keluar atas semua masalah ini.”

Apa yang terjadi? Allah mengabulkan doanya lagi setelah permintaannya tentang kesempatan untuk bersedekah dikabulkan. Usai ia bertawasul ia mencoba untuk melihat ke bawah, ke bagian pengapian yang benar-benar belum ia lihat sedari tadi. Dan betul sekali, selang pengapian ke businya ternyata lepas! Ia pasang, dan motor itu bisa berjalan normal kembali. Andi bahagia, Andi ditolong, dan keluar dari masalahnya.

Sahabat, telan obat berbuat baik itu, Anda bisa lakukan sekarang juga, ikhlaskan ia, rasakan energi postif itu mengalir dalam jiwa Anda, Anda bahagia, dan jadikanlah ia cadangan Anda di dunia dan akhirat. Semoga.

Karena Andi dan saya telah merasakannya. Anda kapan kalau tidak melakukannya sekarang?

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:20 06 Pebruari 2008

AMATEUR MASSEUR


AMATEUR
MASSEUR

Suasana masjid yang biasa disinggahi saat pulang kerja terlihat sepi ketika saya menyelesaikan sholat maghrib di sana. Ada marbot yang tergeletak tertidur di
bagian belakang, sedangkan di dekat mihrab ada seorang tua yang saya tahu ia adalah imam yang biasa memimpin sholat
berjama'ah di sana. Dari mulutnya terdengar dzikir tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Seperti sebuah senandung
yang meritmis ke seantero ruangan masjid.

Saat saya menyelesaikan doa
dan beristirahat sejenak sambil memandang ke seluruh penjuru ruangan, mata saya terantuk lagi pada orang tua itu.
Yang kini ia telah melepas kopiahnya lalu merebahkan dirinya ke lantai masjid yang berkarpet. Ah, ia kini telah
berbaring, tetap dengan dzikir dan tangan yang senantiasa menghitung-hitung biji tasbihnya. "Subhanallah,
walhamdulillah, Allohuakbar, walaahaulaa walaaquwwata illa billah…"

Saat ia berbaring itulah
entah kenapa hati saya trenyuh. Saya jadi teringat mendiang ibu saya. Lalu tiba-tiba muncul keinginan untuk
memijat kakinya. Ah, tapi kan ia
tidak kenal saya. Saya cuma musafir yang hanya singgah sebentar untuk sholat dan setelah selesai langsung cabut untuk
melanjutkan perjalanan lagi. Bagaimana tanggapan dia? Ah biarkan saja. Saya, Insya Allah, berniat baik. Dan saya
tetap bulatkan tekad untuk menghampirinya.


"Assalaamu'alaikum…" sapa saya.

"Wa'alaikum
salam," jawabnya sambil berusaha bangkit dari rebahannya itu.

"Pak, saya pijit kaki
Bapak yah?

"Memang situ tukang
pijat?

"Enggak sih Pak, cuma
ingin memijat kaki bapak saja. Ayo Pak, Bapak rebahan saja, teruskan dzikirnya." Saya melihat ada tanda tanya di
matanya, yang saya balas dengan sebuah permohonan dari mata saya.

"Situ mau kemana?
" tanyanya sambil merebahkan badannya kembali.

"Saya dari kantor mau
pulang pak."

Setelah itu ia tidak
bertanya-tanya lagi dan meneruskan kembali dzikirnya. "Subhanallah, walhamdulillah…" Dzikir yang terlantun
dengan nafas terengah-engah dari seorang kakek.

Tubuhnya kurus dan ringkih. Rambutnya telah memutih. Wajahnya penuh keriput dengan
satu mata yang tertutup sebelah karena keriputnya itu. Dan betis yang saya pijit pun adalah betis seorang tua yang
kecil dengan daging yang sudah melunak. Karenanya pelan-pelan saya memijatnya. Mulai bawah lutut hingga telapak
kakinya yang terasa dingin. Dengan teknik memijat seadanya yang saya tiru dari tukang pijat langganan.

Setelah beberapa saat saya memijat kakinya ia tiba-tiba menelungkupkan badannya.
Ia masih tetap berdzikir. Sepertinya ia merasakan keenakan dan nyaman. Dan saya tahu maksudnya. Kini sisi bawah
betisnya yang saya pijat dengan pelan, pelan, dan pelan.

Lalu setelah dirasa cukup lama olehnya, ia pun bangkit.

"Cukup, anak saya juga
tukang pijat. Sering dipanggil-panggil. Ia sering ke Jakarta untuk memijat. Makanya kalau saya lagi enggak enakan
badan, saya panggil dia," uajrnya.

"Bapak sehat kan sekarang?" tanya saya.

"Banyak penyakit,
namanya juga orang tua."

"Memang Bapak sekarang
umurnya berapa sih," tanya saya dengan polos.

"Sekitar delapan
puluhan lebih."

"Subhanallah… Bagaimana
supaya saya bisa seperti Bapak, berumur panjang?"

"Banyak bersyukur
saja," tukasnya. Jawaban yang amat berharga bagi saya.

Di tengah perbincangan
hangat saya dengan kakek itu, saya melihat di pelataran masjid seseorang telah menunggu saya dengan sabar.

"Pak, saya pamit dulu
yah. Istri saya sudah menunggu di luar."

"Oh iya, ya…" Ia
melongokkan kepalanya keluar mencari-cari sosok yang disebut saya itu.

Saya genggam tangannya dan
menciumnya. "Pak saya minta doanya."

"Ya, ya semoga selamat
sampai di rumah."

Saat itu saya melangkahkan
kaki keluar masjid dengan hati yang damai. Tenang sekali. Dan…indah nian.

***

Semenjak Ibu saya meninggal,
selalu ada pelajaran yang tumbuh setelahnya yang didapat oleh saya. Terutama kecintaan dan penghormatan saya kepada
orang-orang yang berusia lanjut. Dari sanalah saya sering mengambil sari pati kehidupan agar lebih bermakna. Mereka
mempunyai sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan, yaitu pengalaman
menjadi tua
. Mereka sudah berpengalaman menjadi muda, saya juga. Tetapi untuk menjadi tua, saya belum. Hanya
sedikit tandanya saja yang mulai terlihat di rambut saya.

Dan maghrib itu, dari
sekadar menjadi tukang pijat amatir saya mendapatkan satu nasehat. Banyak bersyukur adalah kunci berumur panjang.
Bukankah bersyukur adalah suatu amal kebaikan. Benarlah apa yang dikatakan teladan kita rasulullah SAW kepada umatnya
yang ingin mempunyai umur yang panjang. Menyambung tali silaturahim dan memperbanyak
amal kebaikan.

Walaupun entah
dipanjangkannya umur kita itu adalah dalam bentuk kualitatif berupa penambahan taufik dan hidayah Allah untuk selalu
berbuat baik atau benar-benar secara kuantitatif. Dua-duanya tidak menjadi persoalan, asalkan diperpanjangkannya umur
kita itu adalah bukan sebagai bentuk istidraj [3].

Ikhwatifillah, akhir semua
ini saya mau berbagi kepada Anda semua. Buka hati dan sikap kita. Perbanyaklah silaturrahim, karena silaturrahim itu
mengenyangkan [4]. Mengenyangkan batin kita. Percayalah.

Allohua'lam
bishshowab.

***

"Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi," kata Rasulullah
SAW [1]. Di lain waktu beliau juga pernah berkata: "Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan
tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan.
Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya." [2]

1.
Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693

2.
HR. Attirmidzi dan Al Hakim

3.
Berupa pemberian nikmat Allah kepada manusia yang mana pemberian itu tidak
diridhai oleh Nya karena digunakan untuk perbuatan maksiat kepada-Nya.

4.
Mengutip tagline blogger Edittag:
Mengedit itu Mengenyangkan.

Maraji' (bahan bacaan):

Resensi Buku Republika: Irfan Afandi; Resep Panjang Umur; 07 Desember 2003.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10:52 10:55

Pelajaran Berharga dari Trackback


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Hari ini saya mendapatkan sebuah kejutan sesaat melihat ada incoming links di blog stat WP.

___________________________________

Incoming Links

* Yang hilang di era informasi itu telah kembali

* PINDAH BLOG

More »
___________________________________

Saya bingung incoming links itu apaan?

Dari kemarin yang ada di situ cuma satu link saja yaitu link dari blog saya yang lama yang ada di blogspot. Jadi karena tahu itu link saya jadi saya tidak begitu peduli. Tetapi  pada pagi hari ini ada satu tambahan lagi yaitu: Yang hilang di era informasi itu telah kembali.

Sejak saat itu saya berusaha mencari tahu apa itu incoming link. Setelah saya mencari tahu via Google akhirnya saya jadi tahu, incoming link itu apa. Intinya adalah ada sebuah blog yang dalam postingannya telah memasukkan atau menautkan alamat blog kita.

Maka setelah saya sudah tahu apa itu incoming link, saya masuk ke blog yang telah menautkan blog saya: Yang hilang di era informasi itu telah kembali

Setelah saya berkunjung ke sana, saya coba baca dan mencari tahu di bagian mana dia telah menautkan blog saya. Karena pakai fasilitas snap yang rapat saya jadi tidak tahu. Tetapi saya coba mencarinya dalam source postingan tersebut. Barulah saya tahu dan memastikan di bagian itu dia telah menautkan alamat blog saya.  Di paragraf ini:

Karena demikian hebatnya hubungan antara aktivitas menulis dan intelektualisme, maka kita semua, para blogger, hendaknya bersukur dengan teramat sangat dengan adanya teknologi blog ini dengan segala kekuatannya. Terkait dengan kekuatan ini, bahkan sebuah buku mengatakan bahwa ngeblog bisa mengubah dunia. Toh telah begitu banyak orang baik yang secara ikhlas memberikan dorongan untuk menulis, terutama melalui blog yang murah meriah dan efektif ini.

Saya ditautkan di kata “yang”. Sedangkan dua kata sebelumnya yaitu “orang baik” ditautkannya ke sebuah blog yang sudah lama dari dulu terkenal sebagai blog tutorial. Kepunyaannya Mas Fatih.

Dan di saat saya mengklik blognya Mas Fatih itu, saya mendapatkan pelajaran berharga bertemakan trackback. Dengan membaca dan praktik langsung akhirnya saya dapat memahami secara nyata tentang apa itu trackback karena sejak saya mulai ngeblog saya tidak pernah berusaha tahu dan tentunya kebingungan mengartikan dan memanfaatkan tool-tool yang ada di WP misalnya. Untuk mengetahui secara langsung tentang apa itu trackback dan kegunaannya sila untuk mengklik link di atas. Insya Allah bermanfaat sekali.

Dan dengan saya menulis tentang ini pada akhirnya saya bisa memahami pula bahwa menulis blog dengan mudah adalah dengan memberikan tanggapan terhadap tulisan atau catatan di blog tetangga atau teman-teman kita.

Terimakasih kepada Mas Fatih Syuhud, bermanfaat!

Ohya ada sedikit tambahan: kalau ingin tidak hanya satu link yang akan kita trackback-kan, maka jangan sungkan-sungkan untuk memasukkan semua link trackback  itu ke dalam kotak yang tersedia di bawah kotak postingan, dan jangan lupa pisahkan banyak link tersebut dengan spasi. Seperti petunjuk di kotak trackback tersebut: (Separate multiple URLs with spaces). Tips ini bagi yang tidak mengerti sama sekali bahasa Inggris seperti saya ini 🙂

Walhamdulillah

Itu saja.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:11 25 Januari  2008

TURUT BERDUKA CITA


Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,

telah berpulang ke rahmatullah Ny. Kastian Indriawati (Ummu Inayah) isteri dari Ketua MPR-RI, Dr. Hidayat Nurwahid, dini hari 22 Januari 2008 pada jam 00. 49 di Rumah Sakit Jogya International Hospital (RS JIH)

Kami dari keluarga dedaunan:

Abu Muhammad bin Munawir bin Hasan Albashri Almanfaluthi,

Ummu Haqi,

Maulvi Izzharulhaq Almanfaluthi,

Muhammad Yahya Ayyasy Almanfaluthi

mendoakan semoga ruh Ibunda kami diterima di sisi Allah, diampuni segala dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya, mendapatkan rahmat dari Mu ya Allah.  Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkannya.

Kabulkanlah doa-doa kami ini ya Allah.

 

 

EBOOK PERKEMBANGAN JANIN DALAM KANDUNGAN DAN 12 BULAN PERTAMA PASCA KELAHIRANNYA


fromzerotobaby1.0

EBOOK PERKEMBANGAN JANIN DALAM KANDUNGAN DAN 12 BULAN PERTAMA PASCA KELAHIRANNYA

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabaarakaatuh

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita semua Nabi Besar Muhammad SAW, para keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang istiqomah untuk berada di jalan yang lurus.

Saudara-saudaraku semua, Insya Allah ini adalah persembahan terbaik dari saya kepada para ibu dan calon ibu yang kiranya berupaya untuk melahirkan generasi terbaiknya. Generasi yang tumbuh dengan baik dan disayangi oleh ayah dan ibunya.

Ini adalah upaya kecil saya untuk mengompilasi catatan-catatan berharga sekitar tumbuh kembang bayi. Awalnya artikel-artikel ini akan saya salin dan tempelkan di forum diskusi DSH. Namun dikarenakan ramainya diskusi di forum keluarganya sehingga membuat artikel ini tertimpa oleh diskusi-diskusi baru, maka tercetus dalam benak saya untuk membuatnya ke dalam ebook dengan format chm.

Kiranya ini sangat bermanfaat untuk para calon ummahat, atau yang sudah menjadi ummahat dan kini sedang mengasuh putra-putrinya. Tentu juga berguna bagi calon ayah dan yang sudah menjadi ayah, agar tahu beginilah keadaan yang dialami oleh sang bayi dan ibunya saat kehamilan atau pasca kehamilannya.

Perlu saya beritahukan bahwa bukan saya yang menulis artikel ini. Saya mendapatkannya dari sebuah situs:
tanaya vidia maharani
(pustaka digital tumbuh kembang anakku tercinta)
yang beralamatkan di:
http://naya.web.id

Di situs tersebut saya melihatnya ada artikel-artikel yang diambil dari situs-situs lain dan adapula dari tulisan pemilik situs Tanaya ini.
Sampai ebook ini dibuat saya belum sempat meminta izin dikarenakan tidak ada alamat email yang bisa dihubungi dan dikarenakan pula fasilitas komentar di setiap artikel di situs tersebut ditutup.
Jadi tugas saya di sini bukanlah penulis tapi hanya sekadar pemulung artikel yang Insya Allah sangat berguna bagi kita semua.
Tentunya jika Allah mengizinkan maka saya akan terus meng-update-nya, dengan menambah artikel-artikel yang ada di sana yang keseluruhannya lebih dari 200 artikel tentang ibu dan anak. Waow…
Ebook ini dibagikan gratis dan saya beri nama ebook ini dengan nama: fromzerotobaby 1.0.
Demikian dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Filenya bisa diunduh di menu downloads di blog ini. Atau di sini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
https://dirantingcemara.wordpress.com

PERGILAH KAU KARTU KREDIT


Saya ini orangnya enggak enakan sama orang lain. Makanya ketika salesman kartu kredit menghampiri saya, memelas, dan mendesak saya untuk membuat kartu kredit BNI, dengan terpaksa saya mengiyakan serta mengisi aplikasi pendaftaran.
Padahal dari dulu saya sangat berhati-hati sekali dengan kartu kredit. Karena sudah banyak saya dengar dan saya baca bagaimana akhir dari orang-orang yang tidak bijak memakai kartu kredit. Mulai dari diteror dan diintimidasi oleh para juru tagih, bunga yang mencekik tinggi, atau tagihan asal-asalan karena kelalaian administrasi dari penerbit kartu itu. Alasan satu lagi sebenarnya adalah saya sedang belajar untuk menghindari transaksi-transaksi ribawi.
Lalu pada kasus ini kenapa saya menerima dan mengisi aplikasi tersebut? Waktu itu saya berpikir karena tahun pertama tidak ada iuran gratisnya, juga beralasan bisa membeli barang-barang 0% bunga dengan cara mencicil, fasilitas gratis di eksekutif lounge dan banyak tempat lainnya. Itu saja sih.
Kejadiannya sudah setahun lalu di bulan November tahun 2006. Akhirnya saya dapat kartu kredit BNI VISA GOLD yang limit pengambilan tunainya bisa lebih dari 10 juta. Sesuatu yang diirikan oleh teman saya karena kenapa dirinya tidak mendapatkan limit yang tinggi seperti yang saya dapatkan. Dan apa yang terjadi teman-teman setelah saya mendapatkan kartu emas itu?
Saya kok merasa seperti memegang bara api. Takut-takut saya tergoda dan terjerumus dalam ketidakterkendalian pengelolaan keuangan saya. Walhasil saya cuma menaruhnya di laci lemari saya di rumah. Saya tidak pernah memakainya sama sekali. Dulu pernah mau saya pakai saat saya mau ke Surabaya. Di bandara saya mau memanfaatkan fasilitas executive lounge gratisnya. Tapi dilarang masuk karena fasilitas itu hanya boleh untuk satu orang saja, sedangkan saya membawa teman. Akhirnya tidak jadi deh saya masuk. Saya tentu tidak bisa meninggalkan teman seperjalanan saya ini sendirian.
Saya juga tidak pernah mengambil tunai karena biaya administrasinya lebih besar daripada saya mengambil tunai di ATM. Saya juga tidak pernah memesan barang dengan fasilitas 0% bunga itu karena khawatir ribet masalah pembayarannya, soalnya saya sudah tidak punya lagi rekening BNI-nya. Jadi benar-benar saya merasakan tidak ada manfaatnya bagi saya kartu kredit itu.
Lalu saya bertekad sebelum saya kena charge karena sudah memasuki tahun kedua, maka sebelum tahun pertama berakhir saya harus mengakhiri kepemilikan kartu kredit saya. Dan pada hari ini, Kamis tanggal 08 Nopember 2007 saya menutupnya dengan sebelumnya saya hubungi dulu BNI Call 24 Hour.
Saat ditanya pihak mereka kenapa saya mau menutup kartu kredit ini saya jawab karena tidak ada manfaatnya bagi saya dan kudu bayar iuran tahunan. Walaupun ditawarkan fasilitas pembayaran 50% iuran tahunan saya tidak mau. Pokoknya saya mau tutup. Saya tidak mau memegang kartu ini. Pergilah kau kartu kredit!.
Alhamdulillah, teman-teman kini saya sudah tidak memiliki kartu kredit lagi. Saya sudah lega. Plong banget rasanya. Tapi teman kalau ada yang menawarkan kepada saya kartu kredit berbasis syariah, kayaknya saya mau tuh. Kayaknya itu lebih nyaman dan lebih berkah bagi saya. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01.40 07 Nopember 2007

Mencari Kawan Lama


Pagi ini setelah tiba di kantor saya langsung membuka Ciblog, lalu login dan saya mengklik tombol Add New Entry. Bukannya langsung menuliskan apa yang ingin ditulis, saya cuma memandang layar komputer dengan lama. Bingung apa yang mau ditulis.

Karena lama tidak mendapatkan ide maka saya melakukan kegiatan lain yaitu membuka-buka email di inbox pajak. Membaca beberapa email dan pada saat saya membaca salah satu email itu mata saya tertumpu pada sebuah nama penerima email dari sekian banyak penerima email forward-an itu: Sulis. Saya tidak mengenalnya, tapi saya jadi teringat seorang teman saya yang juga ada nama-nama sulisnya. Tapi saya lupa nama lengkapnya.

Untuk itu saya membuka homepage browser saya: situs kepegawaian. Lalu mengetik nama sulis di kolom pencarian data kepegawaian. Byarrr…dari result-nya bisa banyak juga nama yang mengandung kata sulis didalamnya. Dan saya melihatnya satu persatu fotonya yang sudah lama tidak saya lihat. Yup, akhirnya ketemu juga. Foto itu dari zaman dulu belum diganti pula, masih dengan jilbab birunya.

Akhirnya saya ingin menghubunginya, dengan niat menjalin silaturahim yang sudah lama terputus. Dulu saya punya nomor telepon genggamnya, tapi hilang saat telepon genggam saya lenyap entah kemana. Setelah itu hubungan kami terputus begitu saja. Entah sudah berapa tahun yah…Kalau tidak salah dua tahun lebih kali.

Untuk memulai usaha saya menghubunginya itu, saya telepon kantor pelayanan pajak (KPP) tempat di mana ia bekerja sebagaimana tercantum dalam data kepegawaian tersebut. Tapi sebelumnya karena saya tidak punya nomor telepon KPP itu maka saya coba mencari alamat dan nomor teleponnya di portaldjp. Dan saya menemukannya. Lalu saya langsung menghubungi nomor telepon itu. Nomor pertama tidak ada yang mengangkat. Saya beralih ke nomor telepon yang kedua. Alhamdulillah ada yang mengangkat.

“Selamat Pagi Bu,” sapa saya.
“Pagi,” jawab suara perempuan di seberang sana.
“Bu saya mau tanya, apa Ibu Sri Sulityaningsih, korlak PPN, ada di sini?”
“Sri Sulistyaningsih…Sri Sulistyaningsih…. Kayaknya enggak ada deh. Sudah pindah kali.”
“Oh ya Bu, sebenarnya KPP Jakarta Cilandak ini sudah jadi KPP moderen belum sih Bu?”tanya saya lagi.
“Oh sudah…sudah…”jawabnya.

Saya mengakhiri pembicaraan dengannya setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih banyak atas informasi yang diberikannya kepada saya. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa data di kepegawaian belum ter-update. Iya soalnya mana ada korlak PPN Perdagangan di KPP moderen.

Ya, sampai saat ini saya belum mengetahui keberadaan kawan lama saya ini. Jadi dimohon kepada para blogger yang mengetahui keberadaannya, dimohon untuk memberitahu saya melalui email di riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau pesawat telepon saya di 0817 79 5050. Loh…loh…loh…kok kayak iklan mencari orang hilang di televisi, radio, dan koran saja sih. Namanya juga usaha.

Ngomong-ngomong tentang dia, saya mengenalnya dulu sekali di tahun 2003 saat heboh-hebohnya chating mirc ditrikpa di channel #pajak dan #halaqoh. Bersama dengan yang punya nickname Dandelion, Atik, Ananda, Wongkito dan nama-nama lainnya yang sudah tidak dapat saya ingat lagi. Mbak Sulis ini dulu punya nickname eyes.

Walaupun kami saat itu intens sekali mengelola #halaqoh, kami tidak pernah bertemu muka dan mengenal wajahnya sama sekali, terkecuali dandelion yang memang satu komplek perkantoran dengan saya. Atik, yang saat itu masih jejaka–dan ternyata kenal dengan sahabat karib saya waktu di SMP, karena temannya saya itu adalah teman SD-nya yang pindah ke daerah saya–pun sama, belum pernah bertatap muka dengan saya. Apalagi Mbak Sulis ini yang kantornya juga jauh dari kantor saya walaupun sama-sama di Jakarta, saya belum pernah ketemu dengannya. Saya cuma tahu wajahnya dari foto kepegawaian itu. An sich.

Mbak Sulis kesukaannya–kalau tidak salah–baca novel. Dan pada saat itu yang lagi marak novelnya Dewi Lestari–personel RSD yang berkarier solo di dunia kepenulisan–yang berjudul, kalau tidak salah, supernova.. Gara-gara dia suka baca novel dan menghebohkan bagusnya novel itu di #halaqoh, membuat saya ikut-ikutan tertarik untuk membelinya.

Mbak Sulis ini juga sering memosting hal-hal yang berbau tasawuf, sampai-sampai pada saat itu saya hapal betul kalimat-kalimat andalannya. Pula–kalau tidak salah–Mbak Sulis ini suka puisi. Punya kesukaan yang sama dengan saya. Makanya sering kali kami berbalas puisi di forum itu.

Ya itulah sedikit tentang Mbak Sulis ini. Tapi terus terang saja, saya terbata-bata mengingat semuanya itu. Ingatan di atas pun saya dapatkan dengan mengais-ngais memori lama itu. Maaf Mbak, bukannya saya mau melupakan Anda dan memutuskan silaturahim itu. Tapi semata-mata karena memori saya ini memang pendek sekali. Tidak hanya Mbak, tapi banyak kawan saya di #halaqoh. Insya Allah saya berusaha menyambung silaturahim ini. Tidak ada kata terlambat di dalamnya.

Mungkin saya cukupkan di sini saja semuanya.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:03 WIB 02 Nopember 2007

MENGELUHKU TENTANG HUJAN


Pagi itu cuaca mendung, langit hitam tidak membiarkan mentari pagi memberikan secercah sinarnya pada bumi. Saya sudah berpikir bahwa biasanya kalau Citayam sudah gelap, berarti di Jakarta juga sama akan turun hujan. Dan saya melihat ke langit utara, betul sama gelapnya. Saya sudah menyiapkan mantel yang kugantungkan di buntut motorku. Saya tidak ingin kehujanan masuk ke kantor seperti dulu saat saya meremehkan alam dengan mengatakan, “ah, paling hujannya sebentar.”
Saya sudah terlambat lima menit dari kebiasaan berangkatku setiap paginya. Apalagi tangki motorku kosong, maka saya harus mampir dulu ke kios penjual bensin untuk mengisi bensin barang satu atau dua liter. Sudah barang tentu ini akan memperlambat perjalanan lagi. Ditambah kalau benar-benar hujan dengan ban sudah hampir gundul dan jalanan Jakarta yang tidak bisa diprediksikan kemacetannya saya tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Hati saya sudah deg-degan. Khawatir terlambat.
Dan betul tidak lama kemudian, hujan turun walaupun baru rintik-rintiknya. Saya harus menepi untuk memakai mantel hujan. Ini pun memakan waktu. Setelah selesai memakainya, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya baru teringat bahwa walaupun saya memakai mantel tapi mantel ini belumlah mampu untuk menahan air hujan yang amat deras masuk membasahi pakaian saya. Kalau gerimis-gerimis saja sih Insya Allah mantel itu mampu melindungi saya dari kebasahan.
Dengan situasi seperti itu saya memasrahkan diri pada Allah dan cuma bisa berdoa pada-Nya, “Ya Allah, kalaulah engkau menghendaki bahwa pagi ini hujan, turunkanlah hujan. Namun sampaikanlah aku ke tempat tujuan tepat waktu, tidak terlambat, dan janganlah membuat pakaianku basah kuyup.” Saya tidak meminta-Nya untuk tidak menurunkan hujan, karena saya pikir hujan adalah rahmat Allah yang sangat dibutuhkan buat masyarakat yang air sumurnya tidak bisa dipompa karena sudah kering kerontang.
Sambil tetap fokus, berhati-hati mengendarai motor saya ini, dan memikirkan hal lain, tidak terasa perjalanan saya sudah sampai di Tanjung Barat. Saya baru sadar kalau saya sendiri yang memakai mantel hujan. Saya baru sadar juga kalau cuaca tidak semendung di Citayam. Tercetuslah dari mulut saya, ”Ya Allah kok tidak jadi turun hujan, kenapa enggak sekalian saja menurunkan hujannya. Saya kan sudah berhenti dan capek-capek pakai mantel hujan.” Saudara-saudara, saya ngedumel, mengeluh, dan kecewa pada-Nya hanya gara-gara saya sudah terlanjur memakai mantel hujan dan ternyata tidak jadi hujan.
Tidak lama kemudian saya tersadar dari kekhilafan saya. Saya ini harusnya sadar bahwa doa saya ternyata telah benar-benar dikabulkan Allah. Ya betul, doa saya benar-benar dikabulkan-Nya karena saya masih punya waktu yang cukup untuk sampai ke kantor dan yang paling penting lagi baju saya tidak kehujanan.
Saya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan saya ini, “dasar manusia, lupa kalau doanya dikabulkan, lupa kalau sudah diberi nikmat banyak, lupa pada yang memberi, bisanya cuma mengeluh doang. Oh my God, sungguh terlalu Anda.”
Sejenak saya merenung. Saya mengakui kelalaian saya, dan saya cuma bisa berharap Allah mengampuni saya dan memasukkan saya ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.
Seorang penyair Arab berkata:
betapa seringnya kita meminta kepada Allah
bila kita dirundung penderitaan
tapi kita segera melupakan-Nya, begitu derita itu hilang
bila berada di lautan, kita memohon agar Dia menyelamatkan kapal kita
bila kita kembali mendarat dengan selamat, ktia mengingkari-Nya
kita terbang di langit dengan aman dan nyaman
dan kita tidak jatuh karena pelindung kita adalah Allah.

Seorang teman menasehati saya ketika saya berjumpa dengannya saat menanti kumandang iqamat sholat Ashar dan menceritakan padanya tentang kebahagiaan saya di bulan ramadhan, dengan sebuah nasehat: “banyak-banyaklah bersyukur.”
Nasehat biasa dan pendek-pendek saja tapi subhanallah menghunjam sekali di hati saya hingga Ashar itu seperti Ashar di ramadhan lalu. Indah nian…
Teman, dan Anda para pembaca sekalian, ajaklah saya menjadi bagian dari Anda, bagian dari orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya. Ajaklah saya selalu.
***

Syair di atas bisa dibaca pula di: Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi, Dr. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA, hal. 473, Edisi Revisi, Maghfirah Pustaka

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lantai tiga kalibata
09:49 pagi 26 Oktober 2007

KUHADIAHI DIA DENGAN CIUMAN GANASKU


Di saat pulang kerja, atau pulang dari mana saja, atau di saat apapun, dan di saat kerinduan saya merayap ke sekujur tubuh pada anak-anak saya, maka seringkali saya meminta pada anak-anak saya untuk berkumpul setelah mereka mencium tangan saya.
“Haqi, Ayyasy ke sini! Abi bawa hadiah nih,” teriakku kepada mereka berdua. Mereka kalau sudah mendengar kata ‘hadiah’ girangnya bukan main.
“Hadiah apaan Bi?” tanya si bungsu, Ayyasy, yang biasanya paling antusias. Iya, dia yang paling duluan merebut kantong plastik hitam yang biasa tergantung di stang motorku kalau saya pulang dari kantor. Kayaknya dia seneng banget kalau ada saja yang dibawaku.
Kali ini tidak ada kantong plastik hitam itu. “Hadiahnya adalah cium abi dong,” jawabku. Serempak mereka berdua berkata, “yahhhh….” Walaupun demikian mereka tetap menciumku. Caranya adalah saya menyodorkan pipi kanan saya kepada mereka lalu mereka mencium pipi saya itu. Lalu menyodorkan pipi kiri saya dan mereka melakukan hal yang sama. Terakhir saya akan mencium bibir mereka masing-masing. Tapi, sejak Haqi sudah kelas dua, Ia sudah tidak mau lagi dicium bibirnya oleh saya. Geli kali…Untuk Ayyasy kuhadiahi dia dengan bonus ciuman ganasku pada pipinya, karena pipinya yang tembem itu loh, menggemaskan.
Di saat saya memberikan hadiah yang sebenarnya kepada mereka atau membawa oleh-oleh untuk mereka, maka seringkali saya meminta kepada mereka untuk menciumku. Setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Dan tidak lupa pula saya selalu menanyakan sesuatu kepada mereka setelah kami saling berciuman, “Haqi, Ayyasy, sayang Abi enggak? Mereka akan menjawab serempak: “sayang.” Terkadang si Haqi menyeletuk dengan jawaban ini: “Enggak sayang.”
“Bener nih? Kalau enggak sayang Abi tak akan kasih uang jajan loh,” tanyaku. Dan biasanya Haqi akan menjawab: “Eh iya…iya Haqi sayang Abi.” Saya cuma tersenyum mendengar jawabannya itu.
Lagi-lagi setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Saya merasakan setidaknya ini menjadi pelipur dari ketidakdekatan kami secara kuantitas karena saya harus berangkat kerja sebelum mereka bangun tidur dan pulang ke rumah saat maghrib telah menjelang.
Ciuman untuk mereka menurut saya adalah hadiah immaterial terbaik dari saya untuk mereka. Sebenarnya tidak hanya ciuman bisa kita berikan kepada mereka sebagai hadiah immaterial-nya, bisa pula berupa pujian, dekapan, membacakan buku cerita, main game bersama, mendongeng, menjawab segala pertanyaannya, atau ke masjid bersama-sama.
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya menjalin kedekatan jiwa dengan anak melalui sentuhan kasih-sayang. Rasulullah Saw. biasa mencium putri dan cucunya. Bahkan terkadang Rasulullah Saw. turun sejenak dari mimbar untuk mencium cucunya Al-Hasan dan Al-Husain yang datang berlari kepadanya. Rasulullah Saw. juga pernah menggendong Umamah—cucunya dari Zainab binti Rasulullah Saw.—sedangkan beliau melakukan shalat.
Ciuman untuk mereka menurut saya, mengutip dari Muhammad Fauzil Adhim, adalah upaya kecil saya untuk bisa belajar—sekali lagi saya dalam proses belajar—menerapkan positive parenting. Apaan tuh? Intinya sih bagaimana menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Memangnya kita selama ini tidak baik kepada mereka? Memangnya ada orang tua yang jahat pada anaknya? Wuiihhh…di dunia yang sudah seperti daun kelor ini karena saking tidak ada batasnya, sudah sering kita mendengar kekejaman dan kebuasan yang dilakukan orang tua pada anak-anaknya. Tak perlu saya ceritakan di sini, cukup Anda, para pembaca, membaca dan mendengar dari media massa dan elektronik di setiap harinya.
Ciuman untuk mereka bisa juga menjadi sebuah kiat mengatasi kerewelan anak sebagaimana telah saya baca sebuah ceritanya dari Ibu Yana di Karet Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan berikut ini:
Saya kadang dibikin repot sama anak kedua saya, Himmah. Ia agak lain dari kakak dan adiknya. Mungkin karena ia anak tengah. Kata orang, anak tengah selalu ingin tampil beda. Bedanya, Himmah lebih bawel bin rewel dari kakak dan adiknya. Karena kerewelannya, sejak bayi hingga sekarang berusia empat tahun, Himmah tidak pernah jatuh dari tempat tidur. Tiap kali bangun tidur, ia selalu memberikan pengumuman. Bunyinya sederhana, tapi kencangnya luar biasa. “Huwaaaaaaaa!!!!”
Di usia empat tahun ini, saya seperti sudah terbiasa dengan Himmah. Ada kiat khusus buatnya, terutama kalau lagi rewel. Kalau rewelnya hampir mencapai maksimal, saya langsung memeluknya. Saya cium pipinya yang kiri, kemudian yang kanan. Setelah itu, saya cium juga dahinya. Setelah selesai, saya bilang sama Himmah, “Mah, Umi sudah cium kamu. Sekarang, kamu cium Umi, ya!” Nah, kalau Himmah mau membalas ciuman saya maka ia bisa menghentikan rewelnya untuk beberapa saat. Mana mungkin bisa nyium sambil rewel. Saya yakin, kerewelannya berbanding lurus dengan posisinya di tengah. Dan, cara itu memang efektif. Ngiri, kali!
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya agar Allah senantiasa mengekalkan rasa kasih sayang dari hati saya, sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari: Suatu saat Rasulullah saw mencium cucunya. Seorang pembesar bernama Aqra’ bin Habis At-Tamimi melihatnya, lalu berkomentar, ”Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang pernah kucium.” Rasulullah saw lalu menjawabnya dengan ungkapan yang fasih, ”Apa dayaku bila Allah telah mencabut kasih-sayang dari hatimu!”
Yah, sekali lagi ciuman adalah penuntasan kerinduan saya kepada mereka. Walaupun bagi orang lain bisa jadi hal itu merupakan hal yang biasa dan sepele, bagi saya, ia adalah hal yang amat luar biasa dan berkesan bagi saya.
Dan ungkapan sayang mereka ibarat alunan seruling yang mengalun meritmis di sela-sela bukit-bukit dan lembah-lembah di tatar Pasundan. Indah dan menghanyutkan.
Pembaca, ciumlah anak-anakmu, rasakan kebahagiaan itu sebagaimana kebahagiaan yang saya rasakan. Semoga keindahan itu pun akan dirasa…

Maraji’:
1. Dan Anak Kita Penulis: Tim Buah HatiSumber: alhikmah.com, Senin, 28 Oktober 2002;
2. Promoting Attachment (Mohammad Fauzil Adhim), keluargamuslim.com, Kamis, 23 Januari 2003;
3. Kiat Mengatasi Anak Rewel, Ummigroup, Rabu, 25 September 2002

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
03:35 24 Oktober 2007