TELAN OBAT ITU, MAKA ANDA BAHAGIA


TELAN OBAT ITU, MAKA ANDA BAHAGIA

Anda stres hari ini? Atau Anda bangun dengan kemarahan masih menggumpal di dada? Masih ada semangat kesumat yang menggelora dan butuh pelampiasan sebagai obatnya? Anda masih bertengkar dengan istri dan anak Anda? Ada kesedihan dan beban hidup yang amat berat yang kiranya sulit untuk dihapuskan segera? Sepertinya semua kesulitan hidup ada pada diri Anda hari ini? Dan Anda tidak bahagia?
Saya ingin berbagi pada Anda obatnya yang Insya Allah akan menghapus semua itu dengan segera, minimal menjadi awal dari runtuhnya bukit ketidakbahagiaan Anda itu. Anda mau tahu? Ya, saya yakin Anda ingin tahu sekali tentang itu.
Saya beritahu Anda sekarang: Berbuat baiklah. Anda mestinya bertanya: “Kapan saya harus melakukan perbuatan baik itu?” Sekarang juga, jangan ditunda-tunda. Anda ketika sakit tentunya ingin menghilangkan rasa sakit itu dengan segera entah dengan meminum obat penghilang rasa sakit, atau antibiotiknya. Kini semua ketidakhbahagian Anda itu adalah rasa sakit yang diderita oleh jiwa Anda. Maka kalau Anda ingin sembuh dari ketidakbahagiaan Anda sekarang, minum obat itu, berbuat baik.
Bukankah berbuat baik itu adalah paradigma memberi? Ya, dan paradigma Anda tentang Anda sakit maka Anda berhak untuk menerima segala pemberian kiranya perlu diubah. Yakinlah Anda tidak akan pernah “take” ketika Anda tidak pernah “give”. Kini perilaku “give” menjadi motor dalam menggerakkan Anda untuk menelan obat yang bermerek berbuat baik itu. Anda akan “take” berupa energi positif penyembuhan ketidakbahagiaan Anda. Kata seorang penulis buku terkenal, memberi itu sama saja artinya dengan memberikan kehidupan bukan saja kepada orang lain melainkan kepada diri Anda sendiri.
Dan Anda tidak perlu berpikir bahwa Anda harus terlebih dahulu melakukan sesuatu yang besar-besar dalam berbuat baik itu? Memang betul perbuatan baik yang besar setidaknya akan memberikan energi positif yang amat besar pula. Tetapi ketika Anda dalam keadaan darurat, dan belum bisa melakukan perbuatan baik yang amat besar itu, semisal sholat, puasa, zakat, dan haji—entah karena waktunya belum tiba dan hal lainnya—maka apa yang Anda harus lakukan sekarang juga?
Anda harus melakukan perbuatan baik yang kecil-kecil saja dahulu. Ya, kecil-kecil saja dulu. Apa contohnya? Tegakkan kepala Anda yang tertunduk seperti pecundang itu. Lengkungkan bibir Anda yang tertekuk ke bawah itu ke atas. Dan tebarkan kepada siapa saja yang Anda jumpai. Ya, tersenyumlah Anda. Sekarang juga. Dan Anda sudah menelan obat anti ketidakbahagiaan itu. Tidak keluar uang sedikit pun.
Obat yang bernama berbuat baik itu tidak seperti obat-obat yang lain. Ia tidak ada batas dosis maksimal seperti obat-obat materi yang lainnya, yang kudu Anda telan dua kapsul tiga kali sehari misalnya. Tidak, tidak seperti itu. Semakin sering obat bernama berbuat baik itu Anda telan, semakin sembuhlah Anda segera dan semakin sehatlah jiwa Anda. Itu baru obat berbuat baik yang kecil-kecil sahaja apalagi Anda menelan obat berbuat baik yang besar-besar?
Lalu, obat berbuat baik yang kecil-kecil apalagi yang harus Anda telan segera agar Anda mendapatkan kesembuhan supercepat lagi? Sebenarnya sangat banyak, semisal mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang membantu Anda dengan bantuan kecil sekalipun, membayar makan pagi teman Anda, membayar tiket tol mobil yang ada di belakang Anda, membayar semangkuk bakso yang sedang dimakan oleh Bapak Polantas di pinggir jalan, atau sedekah dengan uang recehan kepada pengamen, pemulung, dan anak-anak jalanan.
Juga menyapa SATPAM kantor Anda yang sampai detik ini masih tetap setia duduk dan menjaga di lobby kantor Anda, ucapkan permisi dan maaf ketika ada office boy atau cleaning service yang saat itu sedang mengepel lantai kantor Anda, dan masih banyak lagi lainnya. Tanggalkan segala baju ego dan telanjangkan diri Anda dari jas gengsi yang segitu mahalnya buat orang lain.
Setelah itu, setelah Anda melakukan semua perbuatan baik itu, rasakan obat itu beraksi dengan cepat, mengalir lewat pembuluh darah ke segala arah dan memacu hormon serotonin, hormon kebahagiaan Anda. Alhamdulillah.
Tapi bagi seorang muslim ada lagi yang lebih dari sekadar itu. Agar kebahagiaan itu terasa juga tidak hanya di dunia atau berorientasi akhirat, mau tidak mau Anda harus berniat melakukan karena Allah semata, tidak boleh melenceng sedikitpun, dan luruskan segera bila sudah melenceng bukan karena-Nya. Karena bila tidak di akhirat cuma mendapatkan debu dari obat berbuat baik itu. Tidak ada hasilnya sama sekali. Cuma kebahagiaan di dunia saja yang Anda dapatkan.
Percayalah, keikhlasan Anda ibarat air yang melancarkan jalannya obat untuk masuk ke dalam pencernaan Anda. Bahkan obat berbuat baik yang Anda masukkan ke dalam jiwa Anda dengan sebuah keikhlasan itu selain menimbulkan kebahagiaan, serta merta ia akan menjadi cadangan bantuan darurat untuk Anda. Tidak percaya? Dengarkanlah cerita berikut ini.
Andi, sebut saja namanya demikian, berangkat ke kantor dengan perasaan gundah gulana. Tadi pagi sebelum berangkat ia harus bertengkar dulu dengan istrinya. Ketidaksalingmengertian memahami persoalan membuat mereka tidak bisa menuntaskannya segera. Akibatnya Andi pergi dengan segumpal marah masih teronggok di dadanya.
Di sepanjang perjalanan ia masih memikirkan hal itu. Ia sadar ia harus keluar dari kemarahannya ini. Kemarahannya hanya membuatnya semakin tidak bahagia. Solusi yang sering ia lakukan saat mengalami hal ini adalah dengan melakukan sedekah. Ia percaya betul bahwa sedekah akan membuatnya terlepas dari segala persoalan dunia. Dan ia bertekad untuk sedekah pagi itu.
Lalu di tempat ia biasa membeli nasi bungkus sebagai bekal sarapannya, ia berhenti. Di sana sudah ada kawan lamanya yang sudah tidak sekantor lagi dengannya sedang membeli nasi bungkus itu. Dan binggo, sebuah kesempatan untuk bersedekah terbuka dihadapannya. Ia mengambil uang temannya yang sudah digeletakkan di meja penjual nasi itu dan menyerahkannya kembali kepada temannya.
“Tidak perlu, biar saya yang bayar saja,” ucapnya. Temannya menerima uang goceng itu dengan ucapan terima kasih lalu pergi meninggalkan si Andi yang masih menunggu nasinya dibungkus. Andi merasa bahagia dan sedikit demi sedikit kemarahan yang ia rasakan tadi pagi berangsur-angsur hilang. Energi positif itu mengalir ke seluruh tubuhnya. Selesai? Fragmen kehidupan Andi tidak berhenti di situ.
Beberapa saat meninggalkan warung itu, motor yang ia naiki tersendat-sendat jalannya. Ia tidak tahu mesin, ia mengira bahwa motornya itu cuma karena kehabisan bensin. Sedangkan tidak ada penjual bensin di sekitar tempat itu. SPBU pun masih jauh letaknya. Dan ia harus mengejar absen paginya agar nanti di awal bulan gajinya tidak terpotong. Ia sudah berpikir akan terlambat. Beberapa puluh meter dengan keadaan motor yang buruk itu, ia bertawasul dengan perbuatan baik yang ia baru saja lakukan. “Ya Allah jikalau saja perbuatan menolong teman saya itu ikhlas karenaMu maka tolonglah saya Ya Allah dan berilah aku jalan keluar atas semua masalah ini.”
Apa yang terjadi? Allah mengabulkan doanya lagi setelah permintaannya tentang kesempatan untuk bersedekah dikabulkan. Usai ia bertawasul ia mencoba untuk melihat ke bawah, ke bagian pengapian yang benar-benar belum ia lihat sedari tadi. Dan betul sekali, selang pengapian ke businya ternyata lepas! Ia pasang, dan motor itu bisa berjalan normal kembali.
Andi bahagia, Andi ditolong, dan keluar dari masalahnya.
Sahabat, telan obat berbuat baik itu, Anda bisa lakukan sekarang juga, ikhlaskan ia, rasakan energi postif itu mengalir dalam jiwa Anda, Anda bahagia, dan jadikanlah ia cadangan Anda di dunia dan akhirat. Semoga.
Karena Andi dan saya telah merasakannya. Anda kapan kalau tidak melakukannya sekarang?
***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:20 06 Pebruari 2008

Advertisements

7 thoughts on “TELAN OBAT ITU, MAKA ANDA BAHAGIA

  1. Jika ada tawaran cinta

    Jika umur ini bisa diulang, diputar lagi bagai roda kehidupan, aku ingin menjadikan diriku bagian yang indah, bahagia… dalam memaknai hidup, dalam berharap, berusaha dan mendekat padaNya.

    Jika aku boleh berharap, aku ingin selalu menjadikan Dia pada nomor satu kehidupanku, tak kan kubiarkan siapapun menjamah hatiku karena Dia begitu istimewa bagiku.

    Jika dunia ini bisa berbalik, yang menderita menjadi bahagia, yang bahagia menjadi menderita, aku tetap akan menjadi aku yang selalu merindukanNya. Aku tidak peduli aku ada dimana, aku dibawah, atau di atas di dalam kehidupan ini, karena yang aku inginkan adalah berada disisiNya. Menjadi bagian yang dikasihiNya.

    Jika banyak orang ketakutan akan kematian, atau tabu membicarakan kehidupan akhir, aku tidak akan mengikutinya, karena justru disanalah aku bisa berjumpa denganNya. Kekasih yang selama ini kurindukan, yang telah menjadikan aku sebahagia ini dalam hidupku dalam melampaui cobaan-cobaan, yang justru semakin mempertebal keyakinanku akan curahan kasih sayangNya. Aku sungguh merindukanNya.

    Jika aku boleh memilih, aku ingin membiarkan diriku tetap menjadi aku yang bersahaja, tanpa neko-neko, tanpa dusta dan kecewa, karena dusta dan kecewa hanya menjerumuskanku pada tempat yang berjauhan denganNya. Aku tahu itu hanya akan membuatku terluka. Aku tak bisa hidup tanpaNya. Karena Dialah yang menunjukkan jalanku, menjadi obor dalam hidupku. Dengan kecintaanNya Dia jadikan aku manusia yang penuh semangat untuk menjadi manusia yang berguna.

    Jika aku boleh berusaha, aku hanya ingin berlaku dengan petunjukNya dan diberi kekuatan olehNya dengan kebaikan dan RahmatNya yang pasti akan menjadikan aku lebih bercahaya dalam meniti kehidupan ini. Sungguh, tak ada satupun yang bisa menandingiNya karena Dia adalah segala-galanya.

    Jika ada tawaran cinta, aku tidak akan pernah menomorduakan Dia, karena Dia selalu berada pada tempat terindah dalam kehidupanku, karena cinta terhadap sesama hanya akan terjadi atas RidhoNya semata. Hanya Dia yang berhak menjadikan aku manusia penuh cinta kasih. Pada rasa yang senantiasa bergetar ketika mengingatNya, pada hati yang yang senantiasa mendoa, pada titik terang jalan hidupku, pada pasrah yang luluh lantak menghilangkan semua keakuan dan kesombongan, yang membuatku terpuruk luruh bersujud dikakiNya. Dia yang menguasai kehidupan dan kematian, Dia yang menguasai semua makhluk, Dia yang mencintaiku tanpa pamrih, Dia yang selalu menolongku penuh kasih, Dia yang selalu kurindukan dengan segenap jiwa ragaku…. Dia yang…. Aku tidak bisa meluapkannya, biarlah Dia sendiri yang tahu kalau aku sangat membutuhkan dan merindukanNya.

    (dan kisi-kisi malam yang selalu hening
    dan kebahagiaan tiada sirna
    pada rasa yang semakin kuat memaknai hidup
    berbagai rintangan sudah berlalu
    aku tahu Dia ada dalam setiap nadiku
    Ya Allah, cintailah aku
    sayangilah aku
    jangan pernah jauhi aku)

    Wallahu’alam wishawab

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s