ORANG BAIK ORANG KUAT


ORANG BAIK ORANG KUAT

Orang baik adalah orang yang senantiasa meninggalkan kenangan yang tak mudah dilupakan buat orang yang ditinggalkannya. Orang baik adalah orang yang ketidakberadaannya adalah sebuah kehilangan buat orang yang berat melepas kepergiannya. Dan tentu orang baik adalah pahlawan bagi sebagian orang, hingga Benyamin Disraeli (Perdana Menteri Inggris) mengatakan, “The legacy of heroes is the memory of a great name and the inheritance of a great example.” Warisan dari para pahlawan adalah kenangan sebuah nama besar dan peninggalan dari keteladanan yang hebat.

Di suatu hari, seorang kepala kantor memimpin rapat bersama kepala seksi teknis dan para bawahannya membahas pencapaian-pencapaian, kinerja dan target yang akan diraih di waktu mendatang. Sedang asyik-asiiknya rapat datang kabar mendadak bahwa di ruang tamu telah tiba atasan kepala kantor yang lebih senior. Lalu sang atasan tersebut tanpa membuang waktu ikut pula dalam rapat tersebut dan ia yang bertubuh besar, berkumis, serta dikenal dengan temperamennya yang keras langsung memberondong kepada seluruh peserta rapat dengan pertanyaan ini dan itu. Kedatangannya sudah barang tentu membuat suasana rapat yang semula cair menjadi tegang.

Tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan seputar kinerja kantor dari para bawahan, sang atasan dari kantor pusat menegur kepala kantor dan menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukannya tidak beres, tidak becus, dan kepala kantor dianggap tidak bisa memimpin. Tentu, semua yang meluncur dari mulutnya membuat yang mendengarnya pun menjadi risih. Apatah lagi dengan yang ditegur mukanya menjadi merah dan terlihat kikuk.

Setelah memberikan beberapa pengarahan yang disertai ancaman mutasi sang atasan pergi untuk melakukan peninjauan ke kantor cabang lainnya. Dengan kepergiannya para peserta rapat menjadi lega bercampur khawatir bahwa kepala kantor akan marah-marah dan menekan mereka sebagai pelampiasan dari dirinya yang dipermalukannya di hadapan banyak orang.

Tapi kekhawatiran itu ternyata sia-sia dan tidak menjadi wujud. Kepala kantor dengan tenangnya mengatakan bahwa atasan marah itu biasa. “Dimarahi olehnya pun biasa dan saya memahami karakter beliau karena saya pernah bertugas bersama beliau. Jadi dimaklumi saja.”

“Cessss…!” Perkataannya seperti air yang mampu mendinginkan bara api. Biasa saja. Tanpa panik. Tanpa mengumbar dan membalas kepada yang lemah dengan kemarahan yang berlipat-lipat padahal ia mampu untuk melakukannya jika mau. Tanpa ada ancaman. Pantaslah suasana rapat pun kembali menjadi cair dengan segera.

Lebih dari sebuah pelajaran terbentang di hadapan mata. Pelajaran sebuah kesabaran. Pelajaran menahan diri dari kemarahan dan pembalasan. Pelajaran sebuah ketenangan. Pelajaran tidak merasa dihina dan dilecehkan.

ah,

sosok itu meneguhkanku akan sebuah kesabaran

waktu itu,

sang radang datang kepadanya

kepadaku

lalu sang radang menyemburkan

segala kekesalan pada sosok itu

di hadapanku

tapi sosok itu dengan teduh bersikap

menjadi tembok raksasa dari sebuah pembalasan

mengabaikan malu

mengabaikan harga diri yang terperosokkan

tapi tidak bagiku

harga dirinya menjulang ke langit

kokoh bercahaya

Suatu saat, ketika ia ditanya mengapa tidak mudah atau bahkan tidak pernah marah, ia menjawab: “Saya adalah manusia biasa, punya rasa marah juga. Tetapi ketika marah itu butuh pelampiasan, kesadaran saya muncul bahwa buat apa saya marah jikalau marah itu ternyata membuat diri kita sendiri menjadi rugi.”

Betullah apa yang dikatakannya, dalam sebuah artikel dikatakan bahwa marah buruk bagi kesehatan karena marah bisa menyebabkan serangan jantung atau stroke. Hasil penelitian Harvard Medical School menunjukkan hal tersebut. Orang yang paling mudah marah berpeluang tiga kali lipat untuk memiliki penyakit jantung. Marah-marah pada usia muda merupakan prediktor yang baik terhadap terjadinya serangan jantung hari tua. Semakin tinggi marahnya maka semakin tinggi resikonya. 1)

Prosesnya adalah sebagai berikut, bahwa ketika marah datang maka ia dapat memengaruhi saraf dan mengeluarkan hormon adrenalin. Hormon ini merupakan sari dari gundukan lemak yang ada di pinggang bagian atas, dan berfungsi sebagai jaringan adaptasi tubuh, serta menyiapkannya untuk menerima pengaruh-pengaruh goncangan saraf, di antaranya ketika marah.

Hormon tersebut bergerak menuju ke saluran pankreas untuk menghentikan insulin, dan akan menambah kadar gula dalam darah, sehingga akan menaikkan produktivitas gula dalam organ produksi minyak dalam tubuh juga protein. Kemudian akan berpengaruh terhadap jantung, bahkan bisa mengakibatkan berhentinya detak jantung, hingga terjadilah kematian. Ia juga dapat menjadikan detak jantung bertambah cepat dan kuat, memompa lebih banyak darah, mengeluarkan banyak cairan keringat, dan mempercepat denyut nadi serta meninggikan tensi darah.2)

Itu baru dampak secara fisik belum secara nonfisik yang memang bekasnya seringkali akan membuat orang jatuh ke dalam jurang kesombongan, kekotoran hati, bahkan sampai pada kekufuran.

Sang kepala kantor menegaskan kepada kita semua, walaupun secara fisik tubuhnya kecil dan terma ini lekat konotasinya dengan golongan orang-orang yang lemah, tapi sejatinya ia adalah orang yang kuat yang kekuatannya bahkan melebihi dari orang yang secara fisik kuat tapi tak mampu menahan kemarahannya. Bukankah Rasulullah SAW pernah bilang: “orang yang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat, hanya saja orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan kemarahannya.” 3)

Pantas saja dengan sifat yang seperti ini banyak orang yang mengiringi kepergian sang kepala kantor saat ia meninggalkan kantor lama untuk pindah ke kantor cabang yang lain. Dan masih banyak yang mengajaknya bersalaman walaupun itu sudah dilakukan pada saat acara perpisahan.

Terakhir, orang baik adalah orang yang mampu mengendalikan kemarahannya. Orang baik adalah orang yang saat dihina, dilecehkan tidaklah menyebabkan ia merasa jatuh harga dirinya di mata manusia 4) karena sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan di mata Allah-lah yang menjadi tujuan.

Saya masih perlu banyak belajar darinya.

Catatan kaki:

1.

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/11/seputar-emosi-marah.html;

2) Syaikh Fauzi Said dan Dr. Nayif Al-Hamd, Jangan Mudah Marah!, Penerbit Aqwam, Cet.I, Agustus 2006, Solo;

3) Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

4)AA Gym, Menikmati Kritik dan Celaan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:22 11 November 2008

HABYARIMANA, CARLOS D’ AMATO, DAN ‘ABDEL ‘AZIZ


HABYARIMANA, CARLOS D’ AMATO, DAN ‘ABDEL ‘AZIZ

Habyarimana adalah seorang budak yang berasal dari daerah tengah Afrika. Ia teramat takut dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki majikannya yang berkulit putih itu. Ada lecutan cambuk yang sering mendera punggungnya bila setiap kata yang keluar dari mulut majikannya tidak ia ikuti dengan lengkingan “daulat paduka”. Oleh karenanya ia menjadi seorang budak yang teramat patuh atas segala perintah majikannya. Disuruh ini ia mau. Disuruh itu ia taat. Pergi kesana ia pergi. Disuruh ikut ke sana ia pun kesana. Cuma satu alasannya karena ia tidak punya kemerdekaan. Ia seorang budak. Ia takut akan cambuk majikannya.

Carlos d’ Amato adalah majikan Habyarimana. Ia adalah seorang lelaki pedagang. Yang ada dalam otaknya hanyalah bagaimana dengan sumber daya yang ia miliki ia mendapatkan banyak keuntungan yang berlipat ganda. Ia akan melakukan sesuatu bisnis bila benar-benar akan menambah pundi-pundi kekayaannya. Bila tidak ia tetap bergeming seperti tokek menunggu serangga masuk dalam area jangkauan lidahnya. Ia jelas sekali tipe seorang kapitalis sejati. Untung rugi, dua kata itu adalah kata-kata paling sucinya.

Satu lagi, ‘Abdel ‘Aziz, perantau dari Yaman yang tubuhnya terjerembab di salah satu kota pusat perbudakan di Brazil, Pelourinho. Jiwanya yang merdeka dan menyenangi petualangan telah membawanya ke kota tua itu. Apa kata hatinya telah membawanya meninggalkan kota kelahirannya, Hadramaut. Telah banyak pengalaman ia timba sepanjang perjalanannya keliling dunia. Oleh karenanya ia tahu betul dua tipe yang dimiliki dari dua orang yang ia jumpai di pasar kota Pelourinho saat ia mau diminta menjual Khanjer-nya oleh Carlos d’Amato yang didampingi budaknya, Habyarimana.

Walaupun sudah dihargai tinggi menurut ukuran Carlos, ia tetap bersikukuh untuk tidak menjual pisau unik peninggalan kakeknya itu. Karena ia tahu selain pisau itu benda yang membuatnya terkenang-kenang pada masa lalunya, pun ia tahu Carlos hanyalah seorang pembual tentang masalah harga. Semua orang telah memberitahu dirinya saat pertama kali kakinya turun dari kapal laut, sebuah desas-desus tentang Carlos d’ Amato.

Dan ia menolak tawaran Carlos walaupun Carlos sudah menawarkan Habyarimana sebagai harga matinya. Pun ia tak takut dengan ancaman Carlos yang akan mengerahkan anak buah dari kenalannya seorang pejabat di kongsi kolonial kota itu untuk mengejar dirinya jika ia berani-beraninya meninggalkan kota dengan tetap membawa Khanjar itu, yang tak diketahui oleh ‘Abdel ‘Aziz sendiri bahwa pisau itu adalah petunjuk awal letak Harta Sulaiman.

***

Suatu siang, di Kalibata, di lantai atas Masjid Shalahuddin, di antara jejeran orang-orang bermartabat yang sedang kelelahan melawan kantuk, sayup-sayup terdengar suara seorang ustadzah menjelaskan kepada para jamaahnya tentang tiga tipe orang yang beribadah kepada Allah. Tipe pertama orang yang beribadah seperti budak, yang ia beribadah hanya (kata ini ditebalkan) karena ia takut pada siksanya Allah yang Mahakuat. Seorang pendengar di ruang bawah masjid bertanya pada dirinya sendiri: “Salah? Tentunya tidak karena Allah-lah satu-satunya yang wajib ditakuti oleh hambaNya yang merasa beriman.

Tipe kedua adalah orang yang beribadah kepada Allah layaknya seorang pedagang. Ia beribadah melihat untung rugi dari dikerjakan atau tidak dikerjakannya amal ibadahnya itu. Ia beribadah dengan tekun saat melihat adanya keuntungan yang Allah berikan baik di dunia apatah lagi di akhirat. Seorang pendengar di ruang bawah masjid bertanya lagi pada dirinya sendiri: “Salah? Tentunya tidak karena Allah melalui Alqur’an dan petunjuk RasulNya berupa sunnah sarat dengan pujian, penjelasan ganjaran moral, ganjaran material dan sosial, ganjaran duniawi dan ukhrawi pada hamba-hambaNya yang gemar melakukan amal kebaikan.”

Tipe terakhir adalah tipe orang yang beribadah kepada Allah layaknya seorang yang mendapatkan kemerdekaan. Ia bebas. Ia tidak terkungkung kerana adanya suatu keinginan. Ia beribadah kepada Allah tidak sekadar takut, pula tidak sekadar penuh harapan semata. Ia mampu menggabungkannya dengan cinta lalu ketiganya bersenyawa dalam jiwa dan ia serahkan sepenuhnya kepada Allah semua takutnya, semua harapnya, semua cintanya. Dan insya Allah inilah yang terbaik. Alamak…

Seorang pendengar di ruang bawah masjid bertanya lagi pada dirinya sendiri atau bahkan pada semuanya: “Ane, ente adalah Habyarimana, Carlos d’ Amato atau ‘Abdel ‘Aziz?”

***

Kita masing-masing yang bisa menjawabnya.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

3:30 04 November 2008

senjakalaning jagat

 

 

BUKA MS OFFICE 2007 DENGAN MS OFFICE 2003


TAK PERLU GUNDAH LAGI

Alkisah, di inbox kita ada email dari atasan. Seperti biasa surat elektronik itu dilampirkan dengan lampiran berkas berformat Excel atau Word yang kudu diisi atau dibaca. Tapi sayangnya berkas itu tidak bisa dibuka atau dibaca oleh komputer kita. Ternyata itu dikarenakan berkas Excel atau Wordnya spesifisikasinya sudah tinggi yaitu Microsoft Office 2007. Sedangkan di komputer kita masing-masing hanya terinstalasi dengan Microsoft Office 2003. Sudah barang tentu, enggak mecing lah yau.

Kita-kita yang memang di komputernya belum terinstalasi dengan Microsoft Office 2007 dengan alasan tertentu biasanya cuma meminta kepada teman kita yang sudah ada Microsoft Office 2007 untuk menyimpan ulang dokumen tersebut ke dalam format Microsoft Office 2003. Ribet deh.

Ada banyak alasan kenapa komputer kita belum terinstalasi dengan Microsoft Office 2007 antara lain kita sudah familiar banget dengan Microsoft Office 2003. Butuh penyesuaian yang lama sekali kalau mau menggunakan Microsoft Office 2007. Tapi alasan yang utama adalah dikarenakan spesifikasi perangkat keras komputer kita yang belum mendukung Microsoft Office 2007. Kalau dipaksakan maka apa yang terjadi? Komputer kita menjadi sangat lambat dan tentunya itu sangat mengganggu kinerja kita sehari-sehari.

Tapi jangan khawatir teman-teman karena permasalahan ini ada solusinya nih. Teman-teman tinggal instalasi software yang ternyata sudah disediakan oleh Microsoft. Teman-teman bisa cari di internet FileFormatConverters.exe atau klik halaman langsung atau buka saja di http://10.7.4.28. Saya sudah membagi file tersebut. Perangkat lunak yang ukuran unduhannya cuma sebesar 28,2 MB itu enggak berat seperti Microsoft Office 2007.

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah tentunya dengan menginstalasi perangkat lunak tersebut. Mudah sekali dan tidak lama. Tinggal ikuti perintah yang sudah ada. Cuma tekan dan tekan saja.

Setelah semuanya selesai. Buka deh Windows Explorer lalu cari berkas Microsoft Office 2007 yang kita inginkan. Dulu sebelum perangkat lunak ini terinstalasi maka ikon dari berkas yang ingin kita buka berbentuk ikon tak dikenal, tapi setelah komputer kita sudah terinstalasi maka ikonnya sudah tampak seperti biasanya ada ikon Excel atau Word. Lalu silakan klik ganda untuk membuka berkas tersebut. Berkas itu akan terbuka seperti biasanya untuk berkas Word. Sedangkan untuk Excel maka berkas itu terbuka Read-Only dan untuk bisa mengedit dan menyimpannya maka pilih saja save-as.

Nah, sekarang teman-teman sudah ndak gundah lagi bukan? Instalasi saja segera perangkat lunak ini. Dan jikalau menurut teman-teman program ini sudah tidak berguna (karena mungkin Microsoft Office 2007 sudah ada di computer) uninstall-nya gampang kok. Ikuti langkah ini:

· On the Windows Start menu, click Control Panel.

· Select Add/Remove Programs.

· In the list of currently installed programs, select Compatibility Pack for the 2007 Office system and then click Remove or Add/Remove. If a dialog box appears, follow the instructions to remove the program.

· Click Yes or OK to confirm that you want to remove the program.

Selesai.

Semoga bermanfaat buat Anda semua.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

8:22 03 November 2008

Technorati Tags: , , , ,

LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH


LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH

 

Saya mungkin termasuk orang-orang yang tidak terpengaruh pada eforia kemunculan sebuah buku baru yang menghebohkan. Heboh di milis atau forum diskusi atau di perbincangan ala warung kopi. Karena saya berpikir bisa jadi itu hanyalah taktik pemasaran dari para penerbit untuk membuat laris dagangannya. Dan itu wajar saja.

    Oleh karenanya saya memang terlambat untuk membaca novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Padahal teman sudah mau meminjamkan buku itu atau versi ebooknya sudah tersimpan dalam komputer. Tapi itu tidak menggoda saya untuk membacanya segera. Baru saya baca buku itu saat filmnya sudah mulai diputar di bioskop-bioskop, saat orang mulai histeria dengan segala yang berbau AAC. Setelah menyelesaikannya saya cukup berkomentar dengan satu kata tulus, “bagus”.

Tetapi tetap saja buku itu kembali tergeletak bersama tumpukan buku yang lain. Mudah dilupakan. Tidak ada yang membekas. Bahkan tak mampu menggerakkan hati dan kaki saya melangkahkan kaki ke bioskop. Pun saat filmnya diputar di televisi beberapa waktu lalu tak mampu menahan saya untuk tetap menonton film itu dan tak mampu menahan saya untuk tidak menekan tombol remote untuk mencari saluran lain. “Tidak bagus”, itu kata tulus dari saya.

Begitu pula dengan Laskar Pelangi. Tak menggerakkan hati saya untuk segera membacanya saat pertama kali kemunculannya atau lagi hangat-hangatnya diperbincangkan di mana saja, atau saat muncul dalam salah satu acara talk show, atau saat teman menawarkan bukunya untuk dibaca oleh saya setahun lalu, atau ketika ebooknya sudah bertebaran di dunia maya bahkan dengan dua novel lanjutannya yang sudah tersimpan dalam komputer atau dengan filmnya yang membuat orang harus antri hingga bapak Presiden yang terhormat sempat-sempatnya menonton di tengah riak-riak tsunami ekonomi global yang mulai menerpa republik ini. Tidak, ia tidak mampu menggerakkan hati saya.

Tapi kali ini dam kecuekan saya terhadap novel lascar Pelangi itu runtuh di suatu hari. Ya, di suatu hari, ba’da dzuhur di suatu masjid, di syawal yang masih sepi, saat teman saya terpercaya bilang mengomentari film itu, “luar biasa bagus buat anak-anak.” Ia bercerita film itu membuat anak sulungnya menangis. Dan sinyal alarm dalam diri saya langsung berdering, pekak, kalau berkaitan dengan masalah anak. Bagus buat anak-anak, empat kata itu terngiang-ngiang di telinga saya. Ah, masak?

Saya tidak bersegera untuk mengakuinya sebelum membaca bukunya terlebih dahulu—ah ini cuma alasan karena tidak dapat tiket menonton film itu selama berminggu-minggu. Tapi saya tetap menjumput buku itu. Mengamatinya perlahan dari sampulnya kemudian membaca endorsement dari berbagai orang, lalu membacanya pelan halaman demi halaman.

Biasa saja.

Tapi tidak…tunggu dulu. Menarik. Ya menarik sekali buku ini.

Tapi tidak…tunggu dulu. Imajinasi itu mulai tumbuh membawa saya tersedot ke Belitong, di masa itu.

Aih. Saya tak dapat menghentikan keinginan membacanya walaupun cuma sejenak. Tidak saya tak sanggup. Saya terus menerus membacanya. Tertawa terkekeh-kekeh hingga air mata yang mengucur dan terbanting-banting dalam alunan metaforanya. Kurang dari 24 jam saya membacanya. Dan saya jujur mengakui novel ini dengan tulus, “dahsyat man.” Inspiratif. Hasil metamorphosis dari hati. Memberi banyak perenungan.

Saya mengalami trance. Segala sesuatu yang berbau Laskar Pelangi saya cari dan tanyakan kepada Jeng Google. Tentang Belitong, Andrea Hirata, tentang Ibu Muslimah. Tayangan talk shownya saya putar ulang. Tidak berhenti sampai di situ, Sang Pemimpi (novel lanjutan Laskar Pelangi) saya libas. Apatah lagi Edensor (novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi). Maryamah Karpov pun saya tunggu-tunggu kedatangannya. Dan kalau saya bisa memberi peringkat dari tiga novelnya yang sudah ada itu maka yang terbaik adalah Laskar pelangi, Edensor kedua, dan Sang pemimpi menduduki peringkat ketiga. Pelajaran moral pertama dari ketiga novel itu: Man Jadda wa Jadaa. Siapa bersungguh-sungguh ia mendapatkannya.

Cukup di situ? Tidak, ianya membuat saya rakus membaca fiksi. Selesai trilogy itu saya baca novel lain, Kisah 47 Ronin, hingga sekarang Hafalan Shalat Delisa. Jelas sudah seminggu ini saya tidak henti-hentinya membaca sebagai sebuah kegiatan yang amat serius. Dan saya bertekad untuk terus membaca di setiap harinya (sebuah kegiatan yang sudah berbulan-bulan saya tinggalkan karena kesibukan). Pelajaran moral kedua yang bisa diambil: baca novel ini untuk bisa kesurupan dalam membaca. Halah…

Dan pada akhirnya malam itu, kami menginjakkan kaki ke tempat yang biasanya saya hindari, bioskop. Tapi lagi-lagi ini karena saya terjerambab pada empat kata di atas yang sudah saya sebutkan di awal dan dikatakan oleh teman saya itu: bagus buat anak-anak. Pula karena Andrea Hirata—penulisnya sendiri yang mengakui betapa bagusnya film itu. Lalu film Laskar Pelangi itu kami tonton.

Betul, istri saya terisak-isak saat melihat Lintang yang duduk termangu menanti ayahnya yang tak kunjung tiba dari melaut. Anak saya, Haqi pun demikian. Menangis saat Lintang pergi dari sekolah untuk selama-selamanya dengan diiringi tatapan mata sembab Bu Mus dan teman-temannya dan dari kejaran Ikal yang sia-sia untuk menahan Lintang. Lintang tidak sekolah untuk menggantikan peran ayahnya memberi makan adik-adiknya.

Tapi saya, sepanjang film itu diputar, hanya menggeleng-geleng kepala dan menyeringai sahaja. Ya, seringai kekecewaan. Kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan. Tidak seperti yang saya bayangkan. Filmnya tak mampu menyamakan imajinasi yang ada dalam benak. Filmnya hanya mampu digambarkan dengan jempol yang menunjuk tidak ke atas tapi ke bawah. Filmnya tak sebagaimana yang digembar-gemborkan banyak orang walaupun sarat pesan moral dan mampu membuat istri, anak sulung saya menangis. Pula mampu membuat anak kedua saya tertidur melingkar di kursi bioskop. Entah karena ngantuk atau kedinginan.

Semua subjektifitas ini saya katakan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah bersusah payah membuat film itu eksis di muka bumi. Pelajaran moral ketiga: kalau tidak mau kecewa menonton film adaptasi dari novel, jangan baca dulu bukunya.

Dan sampai saat ini cukup saya katakan trilogy Lord of the Ring, JRR Tolkien-lah yang mampu mendahsyatkan dua-duanya, novel dan filmnya.

Pak dan Mak Cik semua, itu saja dari saya. Boleh bukan kalau saya berbeda pandangan dengan kalian tentang ini. Yang pasti saya katakan novelnya amat bagus tapi tidak untuk filmnya. Kini saya masih menunggu Maryamah Karpov, menunggu jandanya kedatangannya.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10.24 24 Oktober 2008

LOVE IS BLUE


L’AMOUR EST BLEU

CINTA ITU BIRU

 

Salah satu kenangan ramadhan yang paling saya ingat adalah sekitar 20 tahunan yang lampau. Waktu masih SD, masih jadi anak kecil. Di siang itu, sambil menunggu sore yang rasanya lambat sekali datangnya, dan sambil mencium aroma masakan yang ibu tebarkan melalui keahlian memasaknya, kami mendengarkan sandiwara radio yang saat itu lagi terkenal-kenalnya, SAUR SEPUH. Maklum era 80-an adalah era miskin hiburan, yang ada hanya tayangan TVRI yang teramat membosankan. Apatah lagi di keluarga saya, kotak ajaib berupa TV memang tidak kami punyai, sudah dijual. Otomatis hiburan satu-satunya hanya berasal dari radio butut kami itu.

Sandiwara itu disiarkan oleh radio AM terkenal di daerah kami, Indramayu. Namanya Cindelaras. Nah, radio itu kami pantengin terus dari waktu ke waktu, alhasil kami harus sedia banyak batu baterai cadangan untuk menghidupkan radio tersebut. Yang kalau sudah habis dayanya, sebagai upaya penghematan sering batu baterai merek ABC itu dijemur. Sekarang ini kalau saya pikir apakah memang ada hasilnya cara mencharge ulang tersebut? Allohua’lam.

Kali ini, bukan soal sandiwara radionya yang ingin saya ceritakan. Tetapi pada sebuah jingle khas yang menjadi trademark radio tersebut. Jingle yang berupa instrumentalia belaka. Jingle tersebut diputar terus menerus menjadi penyeling acara utama. Misalnya kalau sang penyiarnya lagi cuap-cuap menyapa pendengar suara jinglenya dikecilkan, tapi kalau ia lagi diam atau menghela nafas sebentar suara jinglenya dibesarkan.

Karena terus menerus diperdengarkan , jingle tersebut sampai melekat kuat dibenak saya. Tapi anehnya saya tidak tahu judulnya apa atau iringan dari sebuah lagu apa. Karena sang penyiarnya tak pernah memberitahukannya kepada para pendengar. Dan setelah puluhan tahun tidak lagi mendengarkan radio tersebut karena saya hijrah ke Jakarta, saya pelan-pelan mulai melupakannya.

Eh…suatu hari di bulan Ramadhan 1429 H ini, saya tersentak. Telepon genggam teman saya tiba-tiba mengalunkan nada dering yang amat saya kenal betul. Dan saya seperti dilempar ke masa lalu tersebut, di suatu siang, di suatu sore, bersama ibu—Allahyarham—yang saya cintai, di suatu hari di ramadhan, di antara aroma menggiurkan masakan dan kolak.

Akhirnya saya meminta pada teman saya semua informasi tentang jingle atau instrumentalia itu. Cuma sedikit yang didapat, tapi teman saya malah memberikan mp3nya. Ini sudah lebih dari cukup, yang lain tinggal tanya ke ajengan Google.

Dan betul, saya banyak sekali mendapatkan cerita tentang jingle itu. Ternyata instrumentalia itu dibuat oleh Paul Mauriat, untuk lengkapnya bisa dicari informasinya di Wikipedia dengan mengetikkan love is blue atau Paul Mauriat sebagai kata kuncinya.

Berikut, saya temukan liriknya:

 

Blue, blue, my world is blue

Blue is my world now I’m without you

Gray, gray, my life is gray

Cold is my heart since you went away

 

Red, red, my eyes are red

Crying for you alone in my bed

Green, green, my jealous heart

I doubted you and now we’re apart

 

When we met how the bright sun shone

Then love died, now the rainbow is gone

 

Black, black, the nights I’ve known

Longing for you so lost and alone

 

***

Sekarang saya tidak tahu apakah radio tersebut masih memutar jingle itu atau tidak? Bahkan saya tidak tahu apakah radio tersebut juga masih eksis atau bahkan sebaliknya? Kalau saya cari di Google ternyata radio tersebut masih ada sampai sekarang (Penyiarnya mungkin sudah pada tua-tua yah…)

Pfhhh…Saya masih mengingat sesuatu yang begini-begini bae, instrumentalia tentang cinta. Cinta yang membiru. Tapi kok mengapa saya tidak ingat sama sekali tentang sebuah memori pengambilan sumpah oleh Yang Mahakuasa kepada ruh saya, dulu sebelum saya terlahir ke dunia ini? Padahal pengambilan sumpah itu dahsyat banget
Beib. Harusnya terekam kuat di benak, tertanam dalam memori terdalam dan terpencil, terindukan, dan terkenang-kenang. Tapi nyatanya tidak.

Saya masih mengais-ngais cintaNya. Tak jarang yang saya temukan hanya serpihan belaka. Bahkan tak berwarna. Pantas saja saya juga begini-begini bae. Masih ada cemas pada hidup yang akan datang. Masih berenang dalam kubangan lumpur dosa. Masih terlena pada sesuatu yang mubah. Entah warna cinta apalagi yang akan saya temukan setelah ini. Biru? Jingga? Hijau? Atau seberkas pelangi?

Blue, blue, my world is blue

Blue is my world now I’m without YOU

Gray, gray, my life is gray

Cold is my heart since YOU went away

Beib, saya masih menengadahkan tangan agar IA sudi membagi cintaNya pada saya. Yang kelak bila cinta itu terbagi yang kudengar nanti bukan syair-syair cinta di atas, tapi sebuah seruan panggilan memasuki surgaNya, wahai jiwa-jiwa yang tenang.

Duh…

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:24 06 Oktober 2008

Mohon maaf pada semua atas segala salah, semoga saya dikumpulkan bersama Ibu-ibu, dan bapak-bapak, serta saudara-saudara sekalian di surga-nya Allah.

TANGIS ‘ID


TANGIS ‘ID

Ba’da magrib malam ‘id. Saya terpekur di hadapan jama’ah masjid Al-Ikhwan, setelah shalat maghrib yang baru saja saya pimpin. Saya kumandangkan takbir dengan lambat-lambat. Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar. Walillaahil hamd. Suara saya bergetar menahan tangis yang sebisa mungkin saya tahan. Dan ternyata memang tak bisa. Air mata pun menetes. Syahdu sekali suasana saat itu.

    Allah Rabbi, semoga ramadhan itu menjadi ramadhan terindah. Ramadhan yang membuat saya meraih kemuliaan malam lailatul qadr. Ramadhan yang membuat saya sadar bahwa saya adalah manusia biasa, seorang riza (dengan huruf r kecil) yang tak berdaya sama sekali di hadapan-Nya. Ramadhan yang membuat saya menihilkan nafsu syahwat saya.

Alhamdulillah di ramadhan ini ada banyak kesan yang saya dapatkan. Yang mungkin saja berbeda dengan ramadhan tahun lalu. Di ramadhan ini, Insya Allah saya jalani puasa dengan penuh ketenangan, tarawihnya pula. Suasana Masjid Al-Ikhwan yang penuh kegiatan bisa jadi yang membuatnya demikian. Ceramah setiap hari yang saya dengarkan di sana, tadarusannya, ukhuwahnya apatah lagi i’tikafnya sungguh teramat menenangkan sekali.

Dan saya mencetak rekor di bulan ramadhan kali ini yaitu puasa dengan menjalani sahur di setiap harinya. Tidak ada puasa yang dilewati tanpa sahur. Anak-anakpun demikian. Mereka ikut sahur dan berpuasa. Walaupun saya sempat memergoki Haqi sedang membuka kulkas dan memegang botol berisi air dingin yang memang menggiurkan baginya di pagi itu setelah ia berlari-larian dan bermain dengan teman-temannya.

    Masjid Al-Ikhwan Insya Allah menjadi masjid satu-satunya di Pabuaran yang mengadakan progam i’tikaf. Dan memang para pengurusnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang mulai terlupakan oleh masyarakat itu. Dua tahun lalu hanya diikuti oleh remaja saja, tapi Subhanallah pada tahun ini diikuti oleh jama’ah dari luar komplek atau desa kami. Bahkan yang amat mengharukan adalah keikutsertaan dari bapak-bapak sekitar masjid yang di ramadhan tahun –tahun sebelumnya tak pernah ikut i’tikaf. Dan praktis sahur yang kami adakan dan kami sediakan seringnya dikuti minimal 25 orang atau lebih dari empat puluh jika jatuh pada malam ganjil.

    Proses pengumpulan dan pembagian zakat yang kami adalan di sana pun Insya Allah berjalan lancar walaupun masih banyak kekurangannya. Dan agar kekurangan itu tidak terjadi lagi di tahun depan, saya sudah membuat evaluasinya. Semoga lembaran evaluasinya itu bisa dipahami dengan seksama untuk panitia zakat nanti.

    Yang paling membuat nelangsa adalah dua hari menjelang lebaran. Saya yang tidak mudik merasakan kesepian sekali. Jama’ah masjid pun sudah mulai sedikit. Tapi program tarawih di malam terakhir tetap kami lakukan walaupun diiringi dengan hujan yang teramat lebat. Pun program I’tikafnya tetap kami jalankan walaupun dengan sedikit peserta—ada belasan orang sih. Qiyamullail-nya hanya diikuti enam orang. Tapi tak mengapa, show must go on.

    Ta’jil yang kami adakan pun diikuti dengan sedikit orang pula, kebanyakan anak-anak. Tapi tidak mengapa juga, malah membuat doa yang saya panjatkan saat berbuka puasa dapat lebih khusyu lagi insya Allah. Itu adalah buka puasa terakhir di ramadhan ini. Jadi karena khawatir saya tidak berjumpa ramadhan tahun depan saya berusaha memohon pada Allah di saat mustajab itu. Memohon segalanya.

    Malam takbiran, kami pun bertakbiran di masjid. Saya menuliskan di atas kertas teks takbiran yang panjang dengan huruf latin tidak dengan huruf arab. Alasannya belum sempat karena ada jama’ah masjid yang meminta segera. Insya Allah nanti akan kutuliskan dalam huruf arab, dan akan saya laminating agar bisa awet. Dengan kertas itu akhirnya para jama’ah yang dulu tidak tahu teks takbir panjang akhirnya menjadi tahu dan mempraktikannya langsung. Memang ilmu itu harus dibagi bukan untuk diri sendiri. Selain saya memang ada yang bisa melantunkan takbir dengan teks panjang itu. Tapi bapak-bapak mungkin nyamannya dengan saya sehingga meminta saya untuk menuliskannya di atas kertas. Tak mengapa.

    Pagi ‘Id. Tanpa baju baru, hanya baju koko tahun-tahun sebelumnya yang dilapis dengan jas hitam bekas akad nikah 9 tahun lalu saya bersimpuh di Masjid Al-Ikhwan untuk mengikuti pelaksanaan Sholat ‘id. Kembali, takbiran itu membuat saya meneteskan air mata. Teringat dosa-dosa, teringat almarhumah ibu, teringat bapak yang untuk tahun ini berlebaran di Padang dengan adik saya, teringat ramadhan yang sudah meninggalkan saya, dan teringat segalanya.

    Yah…akhirnya saya banyak berharap sekali pada ramadhan ini. Semoga mengembalikan saya pada titik nol lagi. Lalu menanjak ke arah yang positif tidak anjlok lagi turun ke negatif. Ya Allah, ya Rabb pertemukan aku kembali dengan ramadhan yang akan datang.

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:59, 06 Oktober 2008

 

 

    

    

MENJADI DASAR TELAGAMU


MENJADI DASAR TELAGAMU

 

Qobla shubuh. Aku melihatnya menangis saat ia mencuci piring. Ada air mata menetes di pipinya. Mungkin ini adalah imbas dari dialog—tepatnya sih monolog—antara aku dan istriku ini. Ketika dia mengeluh waktu sahur tadi tentang keberadaanku yang malah tidak menenteramkan dirinya. Dan aku, seperti biasa, saat ia mengeluh sedemikian rupa maka saatnya aku berada di posisi menjadi pendengar yang baik. Aku tak berbicara sepatah kata pun. Dan karena waktu shubuh kian dekat aku bergegas mempersiapkan diri ke masjid walaupun pada saat itu ia belum sempat menuntaskan segala kesahnya. Inilah kesalahan fatal itu.

Pekan-pekan ini memang terasa sekali ketidakseimbanganku antara waktu yang diberikan untuk rumah, dua masjid, dan wajihah amal lainnya. Sering tidak berada di rumah dan sering tidak di dekatnya saat ia mebutuhkan saya. Entah mungkin sekadar peran dariku menjadi pendengar yang baik bagi setiap ceritanya atau peneman anak-anak saat mereka belajar atau membantu membereskan pekerjaaan rumah tangga.

Maunya ingin saya ceritakan di sini semuanya, namun waktu kiranya tidak memungkinkan aku untuk menuliskannya. Tapi cukuplah kiranya aku menggores puisi pada bebatuan untuknya, di tengah kerinduan di siang hari ini yang begitu membuncah di dalam dada.

 

di suatu pagi

di musim yang lalu

aku melihat tetesan airmata jatuh

membentuk sekeping telaga

teduh, sepi,

kureguk setangkup airnya

dan kutemukan bingkai kegalauan

kiranya Widuri yang terlantun

tak mampu menjadi dirimu

menjadi lukisan terindah sepanjang hatiku

hapus airmatamu dengan jemariku

biarkan ia mengering dengan sendirinya di sana

tak perlu kau tepis

tak perlu kau tampik

karena hatiku adalah milikmu

menjadi dasar telaga itu

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:21 04 September 2009

 

 

 

KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KARTU AQIQAH


KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KARTU AQIQAH

Ini adalah selebaran yang saya buat untuk saya letakkan dalam kotak nasi (kalau di kampung mah disebutnya berkat atau besek) yang dibagikan kepada tetangga satu RT dalam rangka tasyakuran aqiqah anak saya yang ketiga. Saya melaksanakan aqiqah bisanya pada hari ke-21. Insya Allah diselenggarakan pada hari Jum’at tanggal 29 Agustus 2008. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebenarnya tidak ada ketentuan harus melaksanakan dengan mengumpulkan banyak orang di suatu rumah, tetapi setidaknya ini dilakukan adalah dalam rangka membuka pintu silaturahim dengan para tetangga sambil mendengarkan siraman ruhani dari seorang ustadzah—maklum yang kami kumpulkan adalah para ibu sahaja.

Alhamdulillah, Insya Allah telah banyak sunnah yang kami lakukan dalam kelahiran putri kami ini. Pertama, mengadzankannya dengan tidak mengiqomatkannya. Kedua, menyunatinya. Sekaligus mengimunisasinya sebagai hak buatnya untuk hidup lebih baik. Lalu saya beli anting-anting emas untuk anting di telinganya setelah ditindik sebagai tanda ia adalah seorang perempuan. Ketiga, mencukur rambutnya. Keempat, memberi nama padanya. Dan kelima insya Allah besok Jum’at yakni aqiqah.

Yang belum saya laksanakan adalah menimbang rambutnya dan diinfakkan harta senilai timbangan rambutnya itu dengan kadar perhiasan perak. Juga yang belum saya laksanakan adalah mentahniknya. Semoga saya diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat melaksanakan sunnah Rasulullah yang mulia. Ya, habib, ya rasul, saya rindu dan mencintaimu.

Ohya, berikut contoh dari kata-kata dalam kartu ucapan aqiqah. Semoga ini bermanfaat buat Anda semua, setidaknya menjadi referensi. Silahkan contek atau jiplak sepenuh hati. Tidak mengapa. Format demikian saya temui juga via Google. Dan berhasil saya temui di situs ini.

Kata-katanya saya karang sendiri. Mungkin pembaca punya kata yang lebih bagus daripada buatan saya ini, dipersilahkan untuk menggantinya. Saya buat format ini melalui MS Publisher dengan gambar kaki bayi yang telah disediakan di sana.

Sekali lagi semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:59 28 Agustus 2008

atau seperti ini:

Bila asa menjadi nyata, maka ucap syukur adalah semestinya
tiada yang dapat kami kehendaki, kecuali bapak dan ibu
berkenan mengirimkan sepucuk do’a untuk kelahiran buah hati kami:

Muhammad Yahya Asyyasy Almanfaluthi
Kamis, 19 September 2002

Jazakumullah Khairal Jazaa
Riza Almanfaluthi – Ria Dewi Ambarwati

 

***

Telah terbit buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59.jpeg

***

Baca juga:

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

KATA-KATA ATAU UCAPAN TASYAKURAN KHITANAN (SUNATAN)

KINAN FATHIYA


KINAN FATHIYA

Image069

00.55

Bayi itu akhirnya lahir juga. Aku menitikkan air mata. Ada perasaan bahagia menggumpal dalam dada. Tapi itu bukan anakku, dan bukan pula anak istriku. Bayi itu anak dari pasien lain yang sama –sama bersalin di rumah inap Bidan Rokhaniyah. Aku merasa lega mendengar tangisan bayi itu. Beberapa saat sebelumnya hanya terdengar teriakan ejan dari ibunya yang berusaha dengan keras mengeluarkan sang penerus kehidupan dari rahimnya.

Tapi di ranjang ini, istriku masih saja dengan rintihannya menahan rasa sakit dan mulas yang teramat luar biasa. Sudah empat jam lamanya proses induksi ini berjalan. Dan belum ada tanda-tanda kepala calon bayi sudah turun menuju mulut rahim. Pula belum ada tanda-tanda ejan sebagai awal dari sebuah persalinan. Masih bukaan tiga kata Ibu Bidan.

“Allohukariim, sakit banget, Bi…” kata istriku. Tetesan air mata itu jatuh.

“Sabar, ayuk shalawat. Abi sudah berdoa kepada Allah. Abi yakin IA tidak memberikan beban yang tidak sanggup Abi untuk memikulnya. Itu berarti semua itu bisa Umi lalui. Abi yakin Umi bisa. Sebentar lagi tidak akan lama,” ujarku panjang memberikan kata-kata positif. Walaupun dalam hati yang paling terdalam ada resah mengganjal dan kesedihan karena tak tega melihat penderitaannya.

Aku yakin Allah akan memudahkan semuanya ini. Karena selama ini aku telah meminta pada-Nya. Apatah lagi 50 menit sebelumnya aku telah mengirimkan sms kepada banyak orang sholeh untuk ikut serta mendoakan istriku. Beberapa diantaranya membalas dengan segera. Bahkan ada salah satunya memberikan saran kepadaku untuk membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali ditambah dengan surat Al-Fatihah. Lalu meniupkannya ke dalam segelas air, meminumnya dan mengusapkannya ke muka dan perut istriku. Semua SMS dan balasannya sudah cukup membuatku tenang. Tinggal Allah memilih dari jalan mana doa itu dikabulkan.

“Sabar ya Mi, istighfar, shalawat…” aku masih menenangkannya sambil mengusap-usap punggungnya. Kantuk beratku yang semula ada kini sudah lenyap.

02.00

Ibu Bidan sudah selesai membersihkan dan merapihkan ruang persalinan yang baru saja dipakai oleh pasien yang tadi. Kini tinggal memindahkan istriku dari ruang rawat inap ke ruang itu. Aku memapahnya sambil menggeser tiang infus ke dalam ruangan. Erangan bercampur dzikir semakin kencang keluar dari mulut istriku.

“Sudah bukaan delapan. Cepat sekali. Tapi jangan ngeden dulu yah,” pinta Ibu Bidan saat kembali memeriksa istriku.

“Aduh, Bi…sakit banget. Lama sekali sih. Enggak tahan sakitnya ya Allah,” erang istriku.

“Iya Mi tenang, sebentar lagi. Ayo nyebut. Umi bisa.”

02.18

“Jangan ngeden dulu Bu, masih belum lengkap,” kata Bu Bidan sambil melepas sarung tangannya. “Coba miring ke kiri, supaya mempercepat turunnya kepala ke bawah.”

Istriku kembali memiringkan badannya ke kiri dibantu olehku. Tapi beberapa saat kemudian ia langsung merintih. “Enggak Bu…udah enggak kuat nih sakitnya,” katanya sambil berusaha untuk merubah posisinya menjadi terlentang. “Mau ngeden nih Bu, mau ngeden…!”

“Jangan, masih lama…”

“Enggak Bu. Sakit…!”

Bu Bidan segera melihatnya dan ternyata betul tanda-tanda kelahiran sudah terlihat sekali. Bu Bidan yang masih belum siap dibantu asistennya segera menyarungkan sarung tangan karet itu kembali. Sedang aku masih dalam posisi memegang tangan istriku.

“Eh iya betul nih, ayo coba ngeden. Ya…ya..ya….sebentar lagi. Tarik nafas,” teriak Bu Bidan menyuruh istriku. “Sekali lagi!”

Istriku berteriak. Kencang sekali. “Aaaaaaaaaaaaaa…..!!!”

02.20

Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat sosok makhluk kecil berambut hitam lebat keluar dari rahim istriku. Merah. Berlendir. Menangis.

“Aaaaaaaaaa….!!!” teriak Istriku walaupun bayinya sudah keluar. Ia merasa harus berteriak sekencang-kencangnya. Barulah ia terdiam ketika aku memberitahu padanya bahwa bayinya telah lahir.

“Perempuan,” kata Bu Bidan.

“Alhamdulillah. Bu Bidan maaf ya saya sampai berisik begini,” ujar istriku yang masih terengah-engah.

02.25

Allohuakbar…! Allohuakbar…!

Dengan tersedu-sedu kukumandangkan adzan pada telinga kanan anakku yang sedang berbaring di dada istriku. Allohukariim. Aku bahagia sekali atas nikmat yang Ia berikan kepada kami.

Syukurnya pula aku tidak pingsan pada saat itu. Padahal rekam jejak yang aku punya kalau melihat proses yang berdarah-darah seperti itu maunya pingsan melulu. Seminggu sebelumnya saat aku melihat proses menjahit luka di jari jempolku akibat cutter, tubuh sudah berkeringat dingin, perut mual, kepala pusing, mata berkunang-kunang, walaupun tidak sempat pingsan karena tindakan yang diambil dokter cepat sekali.

Ya, aku berusaha menguatkan diriku. Karena tidak ada siapa-siapa disamping istriku pada malam itu. Tumben juga Bu Bidan tidak menyuruh aku keluar sebagaimana ia pernah menyuruh aku pada saat persalinan anak keduaku enam tahun lalu.

***

Lalu kusebut ia bidadari kecilku itu:

Kinan Fathiya Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Riza Almanfaluthi

di antara 49 cm dan 3,5 kg.

09 08 2008

AKU DIKEHENDAKI ALLAH?


AKU DIKEHENDAKI ALLAH?

Telepon genggamku menjerit nyaring mengisi sisi kosong di lantai ruangan kantorku. Segera kuambil dan kusempatkan membaca nama yang tertera di sana. Aku mengenalnya sebagai sahabat lama yang terlupakan untuk aku sempatkan bersilaturahim dengannya. Tiba-tiba terdengar suara dari seberang.

“Halo Dek…” sapanya. Tumben nih ia memanggilku dengan sebutan akrab seperti itu. Kayak kakak beradek.

“Iya ada apa Mbak?” tanyaku.

“Ada dimana?”

“Di kantor.”

“Tolong antarkan ke Tiki Dong…”pintanya.

Aku terdiam lama, ia memanggilku dengan sebutan Dek, lalu ia menyuruhku untuk mengantar sesuatu ke Tiki. Padahal aku belum sempat berurusan apapun dengannya. Dan betul ada jeda di sana dengan jawaban aku selanjutnya.

“Wah…kayaknya Mbak salah sambung nih…” kataku.

Dan pada akhirnya kesadaran itu muncul. Mbak yang sudah naik haji ini salah pencet, niatnya mau menghubungi seseorang bernama “Dede” tetapi yang tertekan nomor dari sebuah nama “dedaunan riza”.

Walaupun demikian, salah sambung ini membawa berkah. Setidaknya ia ikhlas menginfakkan sebagian hartanya untuk pelaksanaan baksos yang kedua nanti di tanggal 9 Agustus 2008. Maklum pada pelaksanaan baksos tanggal 06 Juli 2008 lalu ia ketinggalan berpartisipasi. Katanya, dalam sebuah sms lanjutan, “iya, ini aq lg diingetin sama Allah, biar gak ktinggalan baksos kek kemarin..:-D”

Sejatinya, ladang amal terbuka buat siapapun yang dikehendaki oleh Allah. Jika tidak, maka betapapun ladang amal itu terbentang dihadapannya yang pada akhirnya akan menuai balasan berlipat ganda dari Allah, maka tetaplah ia tidak tergerak hatinya untuk menggarap ladang amal kebaikan itu. Sekali lagi karena Allah tidak menghendakinya.

Aku sering merenung dan memuhasabahi diri sendiri, jangan-jangan saya termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak dikehendaki Allah untuk berbuat kebaikan (Ya Allah aku berlindung dari semua itu). Ya, karena aku merasa sering terlambat untuk menekan tombol otomatis kebaikan. Gerakku tidak refleks ketika terbentang ladang amal di hadapan.

Tidak seperti para sahabat Rasulullah yang tanpa disuruh mau menginfakkan seluruh hartanya tanpa meninggalkan sesuatu buat dirinya sendiri dan keluarganya. Mau berpeluh-peluh dan berdarah-darah membela Rasulullah. Mau dan sigap bersegera menggarap ladang amal di hadapan mereka. Ya, karena mereka adalah golongan yang dikehendaki Allah. Mereka ridha terhadap Allah dan Allah pun ridha kepada mereka.

Sedang aku? Jauh…

Allah Rabbi, ampuni aku.

***

Terimakasih kepada Mbak Lis Rin (Liestya Rien) yang telah mengingatkan saya, di tengah kekhawatiran saya pada banyaknya kata-kata daripada aksi yang dilakukan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15.10 5 Agustus 2008