LOVE IS BLUE


L’AMOUR EST BLEU

CINTA ITU BIRU

 

Salah satu kenangan ramadhan yang paling saya ingat adalah sekitar 20 tahunan yang lampau. Waktu masih SD, masih jadi anak kecil. Di siang itu, sambil menunggu sore yang rasanya lambat sekali datangnya, dan sambil mencium aroma masakan yang ibu tebarkan melalui keahlian memasaknya, kami mendengarkan sandiwara radio yang saat itu lagi terkenal-kenalnya, SAUR SEPUH. Maklum era 80-an adalah era miskin hiburan, yang ada hanya tayangan TVRI yang teramat membosankan. Apatah lagi di keluarga saya, kotak ajaib berupa TV memang tidak kami punyai, sudah dijual. Otomatis hiburan satu-satunya hanya berasal dari radio butut kami itu.

Sandiwara itu disiarkan oleh radio AM terkenal di daerah kami, Indramayu. Namanya Cindelaras. Nah, radio itu kami pantengin terus dari waktu ke waktu, alhasil kami harus sedia banyak batu baterai cadangan untuk menghidupkan radio tersebut. Yang kalau sudah habis dayanya, sebagai upaya penghematan sering batu baterai merek ABC itu dijemur. Sekarang ini kalau saya pikir apakah memang ada hasilnya cara mencharge ulang tersebut? Allohua’lam.

Kali ini, bukan soal sandiwara radionya yang ingin saya ceritakan. Tetapi pada sebuah jingle khas yang menjadi trademark radio tersebut. Jingle yang berupa instrumentalia belaka. Jingle tersebut diputar terus menerus menjadi penyeling acara utama. Misalnya kalau sang penyiarnya lagi cuap-cuap menyapa pendengar suara jinglenya dikecilkan, tapi kalau ia lagi diam atau menghela nafas sebentar suara jinglenya dibesarkan.

Karena terus menerus diperdengarkan , jingle tersebut sampai melekat kuat dibenak saya. Tapi anehnya saya tidak tahu judulnya apa atau iringan dari sebuah lagu apa. Karena sang penyiarnya tak pernah memberitahukannya kepada para pendengar. Dan setelah puluhan tahun tidak lagi mendengarkan radio tersebut karena saya hijrah ke Jakarta, saya pelan-pelan mulai melupakannya.

Eh…suatu hari di bulan Ramadhan 1429 H ini, saya tersentak. Telepon genggam teman saya tiba-tiba mengalunkan nada dering yang amat saya kenal betul. Dan saya seperti dilempar ke masa lalu tersebut, di suatu siang, di suatu sore, bersama ibu—Allahyarham—yang saya cintai, di suatu hari di ramadhan, di antara aroma menggiurkan masakan dan kolak.

Akhirnya saya meminta pada teman saya semua informasi tentang jingle atau instrumentalia itu. Cuma sedikit yang didapat, tapi teman saya malah memberikan mp3nya. Ini sudah lebih dari cukup, yang lain tinggal tanya ke ajengan Google.

Dan betul, saya banyak sekali mendapatkan cerita tentang jingle itu. Ternyata instrumentalia itu dibuat oleh Paul Mauriat, untuk lengkapnya bisa dicari informasinya di Wikipedia dengan mengetikkan love is blue atau Paul Mauriat sebagai kata kuncinya.

Berikut, saya temukan liriknya:

 

Blue, blue, my world is blue

Blue is my world now I’m without you

Gray, gray, my life is gray

Cold is my heart since you went away

 

Red, red, my eyes are red

Crying for you alone in my bed

Green, green, my jealous heart

I doubted you and now we’re apart

 

When we met how the bright sun shone

Then love died, now the rainbow is gone

 

Black, black, the nights I’ve known

Longing for you so lost and alone

 

***

Sekarang saya tidak tahu apakah radio tersebut masih memutar jingle itu atau tidak? Bahkan saya tidak tahu apakah radio tersebut juga masih eksis atau bahkan sebaliknya? Kalau saya cari di Google ternyata radio tersebut masih ada sampai sekarang (Penyiarnya mungkin sudah pada tua-tua yah…)

Pfhhh…Saya masih mengingat sesuatu yang begini-begini bae, instrumentalia tentang cinta. Cinta yang membiru. Tapi kok mengapa saya tidak ingat sama sekali tentang sebuah memori pengambilan sumpah oleh Yang Mahakuasa kepada ruh saya, dulu sebelum saya terlahir ke dunia ini? Padahal pengambilan sumpah itu dahsyat banget
Beib. Harusnya terekam kuat di benak, tertanam dalam memori terdalam dan terpencil, terindukan, dan terkenang-kenang. Tapi nyatanya tidak.

Saya masih mengais-ngais cintaNya. Tak jarang yang saya temukan hanya serpihan belaka. Bahkan tak berwarna. Pantas saja saya juga begini-begini bae. Masih ada cemas pada hidup yang akan datang. Masih berenang dalam kubangan lumpur dosa. Masih terlena pada sesuatu yang mubah. Entah warna cinta apalagi yang akan saya temukan setelah ini. Biru? Jingga? Hijau? Atau seberkas pelangi?

Blue, blue, my world is blue

Blue is my world now I’m without YOU

Gray, gray, my life is gray

Cold is my heart since YOU went away

Beib, saya masih menengadahkan tangan agar IA sudi membagi cintaNya pada saya. Yang kelak bila cinta itu terbagi yang kudengar nanti bukan syair-syair cinta di atas, tapi sebuah seruan panggilan memasuki surgaNya, wahai jiwa-jiwa yang tenang.

Duh…

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:24 06 Oktober 2008

Mohon maaf pada semua atas segala salah, semoga saya dikumpulkan bersama Ibu-ibu, dan bapak-bapak, serta saudara-saudara sekalian di surga-nya Allah.

Advertisements

5 thoughts on “LOVE IS BLUE

  1. Waktu bc di awal2 kirain mo nostalgia dg Saur Sepuh..
    soalnya q jg inget jadul saat radio masih mjd brg tersier
    freknya pun br am jrg yg fm
    suaranya kadang ngilang2
    smpe2 kuping ditempelin di radio 🙂

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s