TANGAN-TANGAN CINTA


by: Riza Almanfaluthi

 


 

jemarimu berkelindan pada masa,

memutar zaman,

memeluk derita pada fana,

akhirnya hanya jannah jadi asa

bisakah aku, kau, dan ia mencium wanginya

dari milyaran hasta jauhnya?

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:20 09 April 2008

purnama setengah


 
Aduhai bulan yang menari di batas awan

kapan sudinya engkau menyentuhku

pada buaian yang takkan membuatku terlelap

kerana sepanjang malam engkau selalu menjadi lautan nafasku

jikalau tidak, tentu pagi hanyalah sebuah kepastian.

 

 

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ritmis hati gerimis
16:28 07 April 2008

pukul 01.30 wib


pukul 01.30 WIB

***

masih mencari huruf demi huruf
dalam samudra kata
membingkainya dalam bait-bait
tanpa makna bagi dirimu
bagi diriku ini segalanya
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 01.30

MENCONGAK RINDU


mencongak rindu
***
satu biji

dua biji
  tiga biji
aku congak ribuan rindu di hati
bila kurang aku ambil
 sebiji dua biji rindu
bila lebih aku serahkan
 sebiji dua biji rindu
rindu dari siapa?
rindu untuk siapa?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.35 WIB
 

menyapa ramai di tepian kubur


menyapa ramai di tepian kubur
***

ada raga dingin di balik putihnya kain
menghela keramaian sekeliling
menghiba kala agar cepat menyingkir
maka aku bopong tubuhmu tanpa darah mengalir
kerandamu sudah menunggu
tikar pandan sudah menggulungmu
kini, tanah merah sudah menelanmu
lalu keraiaman apalagi yang kau tunggu
keramaian apa lagi yang kau sapa
kecuali dua yang datang padamu

setelah itu aku melihatmu
pada bayang-bayang malam
sepanjang malam…

*

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.30 WIB
janjian tawuran berujung nyawa,
duhai anak tetanggaku

Pesolek


bedakmu tak akan bisa
menghapus kecantikanmu
karena kamu adalah
mata air keelokan
***
Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13 Maret 2008 08:25

 Catatan:

Terinspirasi saat melihat seseorang di kantor yang sedang memulas bedak pada wajahnya.

SERAPAH UNTUK MEREKA


Aih…tanduk siapa yang menjelma pada si angkara murka,

Aih…ekor runcing siapa yang menjelma pada wajah-wajah bengis

dari keturunan para kera

hingga nyawa-nyawa berebutan keluar dari jasad

sungguh Surga untukmu Bur’i…

 

****

Syair kepedihan untuk Bayi-bayi Palestina yang jadi korban biadab Israel.

Riza Almanfaluthi 

16:32 4 Maret 2008

(Berita terkait di sini: Hafez)

Malam


Malam
***

Adalah ranah pendakian
tebing mimpi
terkadang basah
di pagi hari

dedaunan di ranting cemara 

Riza Almanfaluthi
08:30 03 Maret 2008

Pemandian Kata-kata


*pemandian kata-kata

ajaklah aku untuk menusuk subuh ini dengan kata-kata
biar tiada terasa pelukan dinginnya
bagiku saat itu citra ayumu
adalah suatu
mimpi

riza almanfaluthi

09.00 29 Februari 2008

Lantai 3 Kalibata

Menoreh di Kacanya…


MENOREH DI KACANYA…

Puisi ini adalah awal dari puisi dwilogi saya yang berjudul Menoreh di Kacanya 2, sempat hilang bertahun-tahun dari tumpukan arsip di komputer saya, dan saya sempat putus asa untuk menemukannya. Bahkan sempat terlintas dalam pikiran saya untuk mengumumkannya di khalayak ramai tentang pencarian saya ini agar mereka yang mungkin masih mendokumentasikannya bisa berbagi kembali dengan saya. Karena saya ingat dulu saya membagikannya kepada banyak orang.
Tetapi sebelum niat mengadakan sayembara itu terlaksana, pada hari Sabtu (22/12/2007) kemarin di saat saya sedang menata dokumen-dokumen di komputer, saya menemukannya tersembunyi di dalam folder lama yang jarang saya sentuh sebelumnya. Alhamdulillah. Bagi saya sebuah karya tulis walaupun cuma beberapa kata saja tertulis, itu adalah sebuah kenangan yang layak untuk diberikan penghormatan sebagai sebuah hasil kreativititas. Perlu dijaga dan didokumentasikan dengan sebaik-baiknya, sebagai sebuah penggambaran utuh dari diri saya.
Tak perlu untuk diberitahukan latar belakang mengapa puisi ini menjadi sangat berharga bagi saya, karena ini adalah awal sebuah tragedi di tahun 2005. Di buat sekitar akhir tahun 2002 atau awal tahun 2003. Sejak tahun 2005 itulah ada sedikit penyuntingan pada tiga hurufnya sehingga terhapus dari puisi itu. Tapi, Insya Allah, tidak mengurangi makna yang ada di dalamnya.
Inilah puisi yang saya temukan kembali:
menoreh di kacanya

sampaikan itu,
sampaikan pada angin yang selalu
berkata tidak pada cahaya bulan
dan awan hitam dalam setiap detiknya

hingga tak perlu lagi kau
tergugu di jendela bus itu
melautkan angan yang kau yakini benar
datangnya dan hilang sekejap lalu

atau kau tambatkan semuanya
dengan tonggak pena dan perahu kertas
yang akan mengayuh dan membawamu ke sana
tanpa ada luka dan sayatan air mata
yang terpaksa membelah di pipimu

kau kan juga selalu tegar
ketika bah sepi datang tiba-tiba merangkulmu
karena kau selalu ukir bekas sujud di sajadahmu
pada malam-malam yang kian kering terbaring
hingga pada lesatan panah-panah do’a
dari bayang-bayang wajah ibumu

satu lagi,
jendela bus itu terpaksa bergetar
saat derit rem menyalak keras
dan membuyarkan rangkaian batu bata azzammu
hingga kau sadari bahwa telah sampailah
diri di punggung tanah ini
dan meninggalkan catatan rekaman memorimu
yang terlanjur tertoreh di kacanya.
***
Akhir 2002, awal 2003

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:39 22 Desember 2007