SAAT TEPAT BACA ULANG: M E L


MEL

(Oleh: Riza Almanfaluthi)

 

Rambu dilarang stop terlihat tampak mencolok. Tetapi betapa banyak, pagi itu, metromini yang masih bertahan untuk menaikkan calon penumpang. Padahal tidak jauh dari sana terdapat beberapa petugas polisi yang membiarkan begitu saja praktik itu.

Setelah penuh terisi, metromini segera melaju dan sang supir berteriak ke arah kenek untuk menyiapkan mel. Besarnya lima ribu rupiah yang diserahkan kepada timer yang berada di ujung jalan. Sudah tahu sama tahu kalau mel itu akan mengalir kepada para petugas.

Teriakan kata mel itu mengingatkan pada peristiwa 22 tahun lampau, cerita tentang para pedagang asongan di Stasiun Jatibarang, Indramayu, yang menjajakan jualan mereka di kereta api jarak jauh dari stasiun ke stasiun.

Mereka tidak dapat naik kereta api sembarangan, karena tidak semuanya berhenti di Stasiun Jatibarang. Kereta api jarak jauh ini hanya berhenti di stasiun tertentu. Jarang ada pedagangnya. Ini berarti tidak ada pesaing. Peluang dagangan laris begitu besar.

Para pedagang asongan punya cara tersendiri untuk dapat naik kereta api tersebut. Jelas, mereka tidak bisa naik dari tempat biasa. Mereka harus menghentikan kereta api itu jauh dari stasiun. Tepatnya di persinyalan yang jaraknya lebih dari 500 meter.

Kereta api tidak selalu berhenti di persinyalan. Maka untuk memastikan kereta api itu berhenti, mereka patungan uang untuk membeli beberapa bungkus rokok. Lalu lima sampai enam bungkus rokok itu diikatkan di patahan ranting pohon. Ketika sebatas pandangan bentuk kereta itu mulai muncul dari kejauhan, mereka segera melambai-lambaikan rantingnya. Galibnya masinis sudah tahu apa maksud mereka.

Kereta itu berhenti, lalu koordinator menyerahkan ranting berbalut beberapa bungkus rokok kepada masinis. Dan sang masinis memberikan kesempatan mereka untuk naik. Dahsyat, kereta baja itu bisa berhenti hanya dengan sebuah ranting. Benar, pada akhirnya mereka pun bisa mendapatkan omzet berlipat-lipat. Itulah mel.

Satu Substansi

Mel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring berarti memberitahukan; menyebutkan (nama, alamat); melaporkan diri. Secara bebas mel dapat diartikan pemberian uang atau natura kepada pihak yang berwenang sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya atau agar tidak dikenakan harga/tarif atau denda semestinya. Tidak ditentukan besar kecil atau banyak sedikitnya pemberian.

Sampai sekarang, mel masih saja terjadi seperti telah diceritakan di awal. Namun ada perubahan istilah. Kalau pemberian itu sedikit, hanya berkisar ribuan hingga ratusan ribu rupiah dan rutin, masih tetap disebut sebagai mel. Tetapi kalau sudah jutaan hingga milyaran rupiah itu bukan mel lagi, ada istilah lainnya seperti uang dengar, uang rokok, uang damai dan lain sebagainya. Beda nama tapi tetap satu substansi yaitu suap.

Walau zaman telah berubah mel senantiasa ada pada setiap lembaga atau badan usaha. Hanya yang mau berubah saja yang dapat mengikisnya. Perubahan status dan manajemen di badan usaha perkeretapian menjadi contoh kalau ranting pada saat ini tidak akan pernah bisa lagi menghentikan laju kereta api. Sulit ditemui para pedagang mengasong di kereta api yang punya strata kelas ini. Lalu bagaimana dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP)?

Sebagai pengumpul uang pajak, lembaga ini begitu disorot oleh masyarakat. Apalagi saat mel masih menjadi budaya yang mendarah daging dan begitu berpola untuk setiap level pelayanan yang diberikan. Mulai dari pelayanan di hulu seperti pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak, pencairan restitusi pajak, sampai penyelesaian keberatan. Semuanya tidak lepas dari perlunya uang terima kasih untuk memperlancar segala urusan perpajakan Wajib Pajak. Saat itu tidak pernah terpikirkan sistem yang membudaya tersebut bisa hilang dari DJP. Memangnya mampu?

Tetapi arah angin berubah. Reformasi bergulir. Rezim berganti. Dari sana Indonesia baru lahir. Sebuah pemahaman sama tercipta dengan elok di masyarakat kalau korupsi adalah sebuah virus yang menjadi musuh bersama dan telah membangkrutkan negeri ini. Virus ini begitu akut merusak aparatur pemerintah sebagai kru kapal besar bernama Indonesia. Maka reformasi birokrasi menjadi salah satu gagasan utama penghancurannya. Bahkan menjadi praktik. Tak layu melulu sekadar ide.

Kementerian Keuangan dalam hal ini DJP menjadi pilot project. Sejak tahun 2002 sebagai awal modernisasi hingga akhir 2008 yang mengikat seluruh kantor pelayanan DJP untuk ikut dalam gerbong perubahan itu, maka banyak perubahan yang terus menerus dilakukan. Kaizen! Hingga kini.

Aib Menerima Mel

Perubahan itu melalui banyak cara. Salah satunya dengan membangun kultur organisasi terutama budaya aib untuk menerima mel. Ternyata ini bisa dilakukan. Karena seiring itu pula struktur dan sistem organisasi diubah, kode etik dan nilai-nilai organisasi mulai dikenalkan dan diterapkan, keteladanan melalui para pimpinan disuguhkan, internalisasi terus menerus dilakukan, utama lagi adalah sistem imbalan kerja mulai diperbaiki dan ditingkatkan.

Nurani tak bisa dikelabui, mendapatkan sesuatu yang halal plus ketenangan esoteris lebih dipilih daripada segala ketakjelasan pendapatan ditambah kegelisahan raga dan jiwa. Maka banyak cerita terketengahkan dari budaya aib menerima mel ini. Mulai dari menampik suguhan natura sekecil apapun sampai menolak uang sebegitu besarnya yang “ikhlas” diberikan Wajib Pajak.

Tidak bisa dibayangkan, ketika mel di DJP masyhur diketahui sebagai gerak mekanik masif sebuah mesin organisasi lalu kemudian tiba-tiba lumpuh. Mel menjadi lian. Asing. Memalukan. Sangat individual. Tak lagi menjadi sistem, budaya, bahkan ideologi.

Betapa tidak, andaikan pada saat ini mel masih diterima oleh oknum—pelaku yang muncul sebagai konsekuensi perubahan, ada yang tidak mau menerima nilai-nilai organisasi—maka laku itu dilakukan sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi. Organisasi tidak tutup mata dan tidak lagi menjadi bungker yang merawat para penghuninya dengan alasan semangat korps yang terbentuk karena ikatan semu berupa pembagian prosentase dari besaran mel yang diterima.

Organisasi yang diam inilah ditengarai oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam bukunya yang berjudul Strategi Pemberantasan Korupsi, sebagai penyebab korupsi. Ialah manajemen yang cenderung menutupi terjadinya korupsi yang dilakukan segelintir oknum dalam organisasi. Pada akhirnya karena sifat tertutup tersebut pelanggaran etika ini justru membelah dirinya menjadi mel dalam berbagai wujud.

DJP tidak tinggal diam, mekanisme pengawasan internal diciptakan. Pengawasan eksternal disusun sedemikian rupa sistemnya bersama pihak ketiga, dengan Komisi Pemberantasan Korupsi misalnya. Pula, capaian yang laik diindahkan adalah kreasi whistleblowing system. Bukankah ini semua realitas faktual yang harus diterima seiring dengan remunerasi yang diperoleh?

Yakinlah, tak akan pernah ada lagi ranting yang bisa menghentikan laju kereta api perubahan di DJP selama budaya aib menerima mel terus menerus dipertahankan dan para pimpinan senantiasa mempertontonkan keteladanannya.

Ini berarti ada marwah diri yang hendak diunggah oleh para pegawai DJP sebagai bagian dari anak negeri kalau mereka tidak mau kalah sama sekali dengan mel.

***

Artikel Juara Pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak 2012

Bisa diunduh di e-magazine Pajak http://www.pajak.go.id/mts_emagazine

Sumber gambar: dari sini

SEPEDA DAN IBNU ‘ABBAS


SEPEDA DAN IBNU ‘ABBAS

 

Hari ini Jum’at awal dari long long weekend. Tak kemana-mana ternyata. Tapi ada agenda yang sudah disiapkan sebelumnya. Benerin bingkai cermin yang rusak, benerin antena internet, ke bengkel sepeda untuk benerin sepedanya Ayyasy dan Kinan, beli kertas lem buat jebak tikus, ke tukang jahit untuk benerin resleting dua jaket Boss, dan panggil reparator mesin cuci. Sampai malam ini yang belum kelakon adalah yang pertama.

Kinan seneng banget sepedanya dibenerin. Ban depan dan belakangnya kempes, dus dua roda plastik kanan kirinya juga sudah tinggal besi penyangganya saja. Makanya kita ke bengkel. Kinan masih belum bisa bersepeda dengan dua roda, harus ditambah dengan roda cadangan. Maka roda cadangannya yang rusak itu kudu diganti dengan yang baru.

Kalau sepeda Ayyasy—sebenarnya itu sepeda Mas Haqi yang sudah lama tak terpakai—rusaknya di pedal dan bannya yang kempes. “Bi, sekalian beli spakbor belakang ya,” pintanya. Tapi saya bilang kepadanya kalau untuk itu nanti saja di bulan depan. Sekalian dengan jok yang kayaknya perlu diganti saking kerasnya kalau diduduki, insya Allah.

Setelah sepeda itu diperbaiki, Ayyasy dan Kinan langsung sepeda-sepedaan sore itu di jalanan depan rumah. Saking senengnya main sepeda dengan roda barunya itu Kinan sampai menangis tak mau balik rumah, padahal adzan maghrib sudah mau tiba. Sampai saya harus membujuk dia dan berjanji agar pagi-pagi nanti saya yang akan nemenin Kinan main sepeda.

Kinan dan Ayyas sore ini (29/03/2013)

    Saya cuma beri pesan kepada mereka berdua. Jaga dan rawat sepeda itu. Kalau habis main langsung masukin ke dalam rumah. Jangan sampai kejadian dulu terulang kembali. Dua sepeda milik Mas Haqi dan Ayyasy lenyap tak tahu “ditelan” siapa. Padahal itu sepeda sudah ada di dalam pagar rumah.

    ‘Ala kulli hal sepeda yang hilang belumlah seberapa tinimbang anggota tubuh yang hilang. Bahkan kalaupun ada anggota tubuh yang hilang sesungguhnya masih ada anggota tubuh lain yang masih dipergunakan. Waduh…ini mah qaul (perkataan) orang-orang sufi banget dan amalan orang yang beriman. Contohnya Ibnu Abbas ra yang pernah berkata, “jika Allah mencabut cahaya dari kedua mataku, maka lisan dan telingaku masih memiliki cahaya.”

    Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang sedemikian rupa.     Cukup untuk hari ini.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23:24 29 Maret 2013

KITAB WARISAN NABI


KITAB WARISAN NABI

Jika Anda berkesempatan untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad saw di Masjid Nabawi, Madinah, entah pada saat umrah ataupun di musim haji, maka saya berpesan kepada Anda untuk bisa mendapatkan buku bagus yang satu ini.

    Banyak sekali memang buku yang dibagikan secara gratis di sana oleh pengelola Masjid Nabawi. Sebagian besar buku itu diterbitkan dengan tema-tema mazhab resmi Kerajaan Saudi Arabia. Dan menurut saya buku inilah yang terbagus. Saya rekomendasikan kepada Anda buku yang berjudul Miiraatsun Nabiy: Bi Lughatil Indunaysiyah ini. Artinya:
Warisan Nabi: Dalam Bahasa Indonesia.

    Kitab itu ditulis oleh ‘Ubaid As-Sindi, diterjemahkan oleh Abu Yusuf, dengan penyunting Abu Sulaiman. Judul terjemahannya adalah Fadhailul A’mal Menurut Sunnah Nabi. Ya, memang buku ini merupakan kumpulan hadits-hadit Nabi Saw bertemakan fadhailul a’mal dengan derajat shahih, minimal hasan.

    Buku dengan jumlah halaman 104 ini terbagi dalam 149 subbab ringkas. Beberapa subbabnya adalah tentang pahala sakit, pahala minum air zam-zam, pahala sabar atas bencana walau sedikit, pahala penduduk madinah, pahala sedekah kepada suami dan kerabat, pahala sifat malu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Jika bisa dikatakan kitab ini adalah miniatur dari Kitab Riyadhus Shalihin atau Kitab Targhib wa Tarhib Imam Al Mundzir. Kitab yang berisikan hadits-hadits anjuran dan larangan. Dan memang kitab tulisan Imam Nawawi adalah kitab yang harus ada dan menjadi bacaan di setiap rumah kaum Muslimin. Cuma bedanya, Kitab Warisan Nabi ini hanya bertemakan bab-bab anjuran (targhib), tidak ada tema tentang peringatan (tarhib). Maka jangan heran, tak akan ditemukan di sana kata-kata bid’ah itu sesat, sesat itu neraka seperti biasa terlontar.

Hadits-hadits yang ada di sana pun sudah diseleksi atau disaring dan diperas sedemikian rupa sehingga yang ada hanya hadits berderajat sebagaimana telah disebutkan di atas. Namun tetap saja ada kekurangan dari buku ini. Bukan pada isinya yang sudah jelas bagus-bagus itu, melainkan pada alat bantu yang seharusnya ada pada buku ini: daftar isi. Ketiadaannya memang menyulitkan buat pembaca dalam pencarian cepat hadits-hadits yang dikehendaki.

Di mana Anda bisa mendapatkannya? Saya lupa mencatat di pintu nomor berapa. Tetapi seingat saya mengaksesnya melalui pintu sisi kiri Masjid Nabawi. Ruangannya berada di lantai atas tepatnya di lantai tiga, naik via tangga dan bukan eskalator. Atau tanya saja kepada para penjaga masjid keberadaan maktabah. Ruangannya
sempit dan banyak buku serta cd audio dan video yang bertebaran di banyak meja yang ada di sana. Minta kepada penjaga perpustakaannya: miiratsun nabiy, insya Allah dikasih. Minta
yang banyak buat dibagikan di tanah air sebagai oleh-oleh.

Sekadar catatan, Masjid Nabawi itu ada tiga perpustakaan. Pertama Maktabah Masjid Nabawi yang berada di Babul Umar dan Babul Utsman, kedua: Maktabah Shauthiyah, dan ketiga: perpustakaan khusus untuk wanita yang berada di pintu nomor 24*). Nah, saya kurang mengetahui yang saya kunjungi itu perpustakaan yang pertama atau yang kedua. Jangan putus asa untuk mencari jika belum ketemu, pakai bahasa tarzan dengan bilang kepada penjaga masjid: Miiratsun Nabiy. Semoga ditunjukkan oleh Allah tempat itu.

 

***

*) Sedikit catatan diikutip dari blog: pustakakita.wordpress.com

Foto koleksi pribadi

 

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

12:17 23 Maret 2013    

diunggah pertama kali di http://Islamedia.web.id

    

Mental Feodal – Mental Inlander


Mental Feodal – Mental Inlander

clip_image001

Di zaman ini feodalisme itu masih melekat pada jiwa-jiwa anak negeri. Plus inferiority complex. Sempurna sudah. Hasil dari penjajahan Belanda selama ratusan tahun dengan salah satu metodenya: pemisahan dan pembedaan kelas masyarakat. Maka yang terbentuk dalam alam bawah sadarnya adalah mereka yang punya jabatan tinggi dan berwajah bule adalah simbol paling layak untuk mendapatkan segala penghormatan dari mereka dengan status yang berada di level terbawah.

Seorang satpam berkali-kali bilang kepada para pegawai kementerian tanpa tanda pengenal yang berada di gedung itu untuk memakai ID Card. Kartu itu sekaligus sebagai kartu akses melewati berbagai pintu masuk lobi dan pintu ruangan kerja. Jangan pernah merasa tersinggung mendapatkan teguran seperti itu, karena memang tugas mereka.

Tapi sayang tugas itu terasa diskriminatif karena teguran itu tak pernah ditujukan kepada para pejabat kementerian yang tidak memakai kartu tanda pengenal. Maka yang terjadi adalah satpam itu membuka pintu akses dengan wajah penuh senyum dan rasa hormat ditulus-tuluskan. Padahal sesuai aturan yang berlaku memakai kartu tanda pengenal adalah kewajiban untuk setiap pegawai.

Ada argumentasi yang mengemuka bahwa satpam tidak menegur karena pastinya sudah mengenal wajah segelintir petinggi kementerian yang wajib dihormati itu. Jika menganut asas kesetaraan maka sudah selayaknya pula satpam itu harus mampu untuk mengenali ribuan wajah pegawai kementerian yang berada di dalam gedung itu. Mustahil.

Maka kerja satpam yang paling realistis adalah cukup dengan ketegasan yang diberikan kepada semua pegawai tak ber-ID Card tanpa memandang status kepegawaiannya. Tanpa bersusah payah menghapal ribuan wajah. Ini namanya profesional.

Tapi akan ada saja yang tidak setuju dan ingin ada pengkhususan—untuk tidak mengatatakan priviledge—kepada para pejabat itu. Mengingat kita hidup dengan budaya timur yang kental dengan rasa penghormatan, tapi sebenarnya itu hanya eufeumisme dari feodalisme yang masih tertinggal.

Dus, ada lagi yang akan berpendapat: satpam memberikan pengecualian itu wajar karena para pejabatlah yang membayar gaji mereka. Tapi ini sudah jelas kelirunya karena dari dana APBN gaji para satpam itu dibayarkan. Uang rakyat. Uang yang dikumpulkan dari para pembayar pajak.

Kita akan temukan lagi gestur berbeda jika para satpam itu kedatangan para bule. Perlakuan ini akan lebih-lebih bedanya. Tanpa ada pemeriksaan pemindai ke dalam tas mereka, tanpa ada ID Card buat tamu, dan memakai lift khusus. Penghormatannya bahkan lebih dari yang didapat para bule melayu itu.

Miris. Tapi inilah Indonesia sejatinya, saat aturan dibuat untuk dilanggar, saat para pemimpin miskin akan keteladanan, saat hukum hanya tajam ke bawah tetapi majal ke atas. Skeptis? Ah, harapan itu masih ada. Biarlah mimpi-mimpi datangnya sosok pemimpin yang kaya keteladanan menghiasi malam-malam. Karena mimpi dan harapan itulah yang selalu membuat kita hidup. Tanpa mental feodal. Tanpa mental inlander.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.59 20 Maret 2013

Gambar diambil dari sini.

SANGKUR DAN PAJAK


SANGKUR DAN PAJAK

    Saat rakyat membeli pasta gigi di warung-warung kecil ada pajak yang mereka harus bayar. Mereka berhak juga untuk disebut sebagai pembayar pajak. Uang itu dikumpulkan oleh petugas pajak dengan kerja-kerja mereka—baik dipuji ataupun dicaci-maki—selama ini untuk digunakan membiayai pembangunan, tapi apa daya aset negara yang dibeli dari uang pajak dihancurkan sendiri oleh aparat penjaga republik ini.

    Kejadian di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, menegaskan demikian. Mapolres OKU dibakar puluhan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Artileri Medan (Armed) 15/105 Kodam II Sriwijaya pada Kamis (7/3) pagi. Sebabnya ada anggota TNI yang tewas ditembak oleh anggota Polres OKU sebulan sebelumnya.

    Para prajurit TNI datang ke Mapolres OKU untuk menanyakan perkembangan kasus itu. Aparat polisi menjelaskan bahwa kasus penembakan itu sudah tinggal dilimpahkan, namun diduga saat dialog terjadi kesalahpahaman sehingga terjadi aksi pengrusakan. Mapolres hancur total. Tak hanya sampai disitu, aksi buas itu berlanjut dengan pengrusakan terhadap mobil patroli dan dua pos polisi yang berada di OKU. Dua anggota polres terluka cukup serius.

    Saat pengrusakan itu terjadi 95 anggota TNI membawa sangkur dan senjata lengkap. Itu alat utama sistem senjata (alutsista) yang dibiayai dari pajak dan dibayar oleh rakyat serta dikumpulkan petugas pajak. Miris.

Anggaran Polri-TNI

    Di tahun 2013 ini ada rencana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp1.529,67 triliun. Sekitar 68,14%-nya akan dikumpulkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Ini setara Rp1.042,32 triliun. Lalu berapa bagian untuk Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan TNI dalam struktur APBN 2013?

    Polri telah mengusulkan anggaran ideal untuk institusinya sebesar Rp51,761 triliun. Namun dalam APBN 2013 hanya terpenuhi 88,14% sebesar 45,622 triliun. Dari dana sebesar itu dialokasikan untuk belanja modal sebesar Rp6,821 triliun. Jelas jumlahnya akan berkurang untuk belanja modal yang baru dan telah direncanakan sebelumnya karena sebagiannya digunakan untuk mendirikan bangunan Mapolres OKU yang rusak.

    Sedangkan untuk TNI, pemerintah telah mengalokasikan sebesar 77 triliun. Anggaran terbesar yang melebihi anggaran pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Sebagian besar untuk TNI Angkatan Darat sebanyak 40% (artileri.org).

    Anggaran besar untuk TNI tentu mengisyaratkan kepada dunia bahwa kekuatan persenjataan Indonesia tidak bisa lagi dipandang remeh. Tentu hal ini perlu didukung agar pemenuhan alutsista sampai pada taraf yang ideal di tahun 2024 bisa tercapai. Agar alutsista itu dipergunakan sebaik mungkin untuk melawan musuh-musuh dari luar yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bukan untuk menembaki anak bangsa sendiri.

Sangkur dan Pajak

    Tapi sampai saat ini sepertinya jauh panggang dari api karena esprit de corps yang kebablasan. Kasus bentrokan antara Polri dan TNI selalu berulang. Menurut data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), sejak 2005 hingga 2012, telah terjadi 26 kali bentrok TNI-Polri yang menewaskan 11 orang, tujuh dari polisi dan empat dari TNI tewas. Korban luka mencapai 47 aparat (Republika, 8/3).

    Ini sangat memprihatinkan. Akar permasalahan harus segera diketahui untuk dicari solusinya. Selain dengan menjalin komunikasi intensif di kedua belah pihak, membuat anggaran yang pro-prajurit sehingga tidak terjadi kecemburuan dari pihak internal dan eksternal, peningkatan kedisiplinan, dan penegakan hukum yang tidak pandang bulu.

    Rakyat akan melihat dan menilai apa yang akan dilakukan kedua institusi pascakejadian tersebut. Rakyat tidak mau mendengar lagi bahwa pajak yang dibayarnya digunakan untuk membeli alat yang akan membunuh sesama anak bangsa, bahkan untuk menghancurkan aset negara. Di saat negeri ini butuh pembangunan infrastruktur secara besar-besaran untuk meningkatkan perekonomian, di sisi lain ada aparat yang dengan mudah dan ego tingginya menghancurkan infrastruktur. Sayang sekali uang pajak itu. Sayang sekali kerja keras para pegawai pajak. Dan sayang sekali rakyat disuruh membayar pajak untuk sebuah kesia-siaan. Untuk kali ini sangkur dan pajak tidak bisa disatukan.

***

Riza Almanfaluthi

Pegawai Pajak

Pendapat ini hanyalah pendapat pribadi, bukan cerminan dan pendapat resmi dari institusi tempat penulis bekerja.

08:51 10 Maret 2013

MBUH…


MBUH…

     Sudah dua paragraf tulisan yang saya buat, tetapi akhirnya terhapus juga. Mau nulis ini mau nulis itu, kena blok lagi. Inilah kalau menulis sambil mengedit. Mikirnya bagus enggak, sesuai aturan enggak. Padahal sudah diajarin tentang freewriting. Ternyata saya juga sering kena writer’s block.

    Padahal tiga hari diklat banyak banget ilmu yang didapet. Tapi atasi mental itu yang rada-rada susah. Padahal sudah banyak banget pengalaman yang dicapai selama berkecimpung dalam hobi menulis ini, masih tetap kena penyakit buat para penulis. Lagi-lagi karena kena beban menulis itu: harus bagus, harus enak, dan lebih baik daripada tulisan-tulisan yang lampau. Tapi kalau banyak mikirin begini, kagak jadi nulis-nulis. Typo mulu.

    Sekarang saya lagi belajar freewriting lagi aja. Gak mikir sesuai ejaan apa kagak. Yang penting malam ini kudu nulis. Sebab ilmu yang diperoleh selama tiga hari ini kudu cepet-cepet dipraktekin supaya jangan hilang.

    Dua hari yang lalu saya nulis tentang diklat di hari pertama, sekarang saya ingin melanjutkan sedikit tentang belajar apa saja yang pada hari ini. Yang pasti saya hari ini dapat ilmu tentang teknik menulis deskriptif, pengenalan media massa, belajar lagi tentang bahasa Indonesia. Terakhir tentang penulisan esai dan opini.

    Sesuai jadwal di hari kedua harus ada editor Kompas yang mau ngasih ceramah tetapi enggak jadi. Diundur di hari ketiga kata panitia. Tetapi sampai hari ketiga pun dia tak sanggup datang karena kepentingan yang mendesak. Tapi tak mengapa, dari Pak Harri Sujadi saja saya sudah banyak dapat ilmu. Di hari ketiga, hari Kamis (28/2,) kami diajari tentang cara revisi dan editing, terus sama-sama kita mencari topik yang bisa ditulis dan dimuat di media massa.

    Bener-bener deh males banget ngelanjutin ini tulisan. Lemes. Gak nafsu. Apa karena tadi juga waktu istirahat siang maksain ngedit tulisan yang mau dikirim. Tapi mau tidak mau malam ini kudu maksa buat freewriting. Freewriting itu nulis apa aja, bebas, cepet tanpa dihalang-halangi oleh apapun. Keinginan typo kudu dijauhin bener. Katanya kalau freewriting selama dua kali sehari dan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan niscaya akan jadi penulis terampil. Karena sesungguhnya seperti yang sudah saya katakan di tulisan pertama: menulis itu adalah keterampilan. Dan keterampilan harus senantiasa diasah. Itu aja kali yah.

    Patut diketahui juga kalau freewriting itu adalah cuma metode atau cara latihan menulis bebas menggunakan otak kanan. Karena pada kenyataannya menulis itu harus baik sehingga perlu revisi dan edit. So, freewriting adalah sekadar latihan.

    Ohya dua tahun saya meninggalkan Pusdiklat Keuangan Umum ini banyak sekali perubahan terutama dari segi pelayanan panitia kepada kami. Sekarang untuk registrasi diklat gak perlu lagi ngisi kertas, sudah paperless, tinggal ngisi profil yang sudah disiapkan di intranet Pusdiklat.

    Fasilitas komputer yang tersambung dengan internet pun sudah tersedia. Ditambah hotspot wifi di setiap lantainya. Sertifikat pun sudah bisa didapat langsung selesai diklat. Beda banget dengan dua tahun yang lampau yang kagak tahu kapan jadinya dan tahu-tahu sudah dikirim ke kantor masing-masing. Ketersediaan makanan juga selalu terjamin. Ah…sudah ya. Tulisan mbuh iki (Gak tau, gak jelas).

    Satu lagi, kayaknya emang enak ya kalau berangkat ke kantornya jam tujuh pagi dari rumah. Lalu naik KRL Commuter Line yang rada longgar setelah KRL ekonomi. Turun tak berdesak-desakkan dan masih rapih. Pulangnya jam setengah lima dari kantor dan pergi ke stasiun yang masih belum ramai dengan para penumpang. KRLnya juga tak penuh-penuh amat. Sampai rumah belum maghrib. Wuih idaman sekali. So, inilah yang terjadi pada hari ini. Nikmat yang sungguh tak boleh diingkari.

    Done.

***

Riza Almanfaluthi

21.01 28 Februari 2013.

gak diedit lagi, jangan protes.

BUANG OTAK KIRIMU


BUANG OTAK KIRIMU

 

Dua tahun yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) penulisan ilmiah populer yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Umum Kementerian Keuangan, mulai hari ini, selasa (26/2) selama tiga hari saya diikutkan kembali diklat menulis yang diberi titel Diklat Menulis untuk Media Massa.

    Tempat penyelenggaraannya juga sama, di Pancoran. Jadi saya harus turun di Stasiun Cawang untuk kemudian berjalan kaki menuju ke sana. Dan itu butuh waktu 25 menit berjalan santai.

    Pengajarnya juga ternyata sama, Pak Harri Sujadi, mantan wartawan Kompas yang sekarang jadi freelancer-journalist. Materinya juga sama. Tapi tak mengapa, karena ternyata saya merasa mendapatkan “tenaga baru” untuk menulis. Dengan mengikuti diklat ini materi yang dulu pernah saya terima dan masih sulit dimengerti jadi lebih dapat dipahami lagi.

    Seharian ini saya bersama 20 peserta diklat yang lain se-Kementerian Keuangan—dan hanya tiga orang dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP)—diajarkan bagaimana cara melepaskan diri dari belenggu otak kiri di saat menulis. Menulis itu, katanya, adalah proses kreatifitas. Bagaimana cara memunculkan dan mengasah kreatifitas itu? Tentu dengan memaksimalkan fungsi otak kanan. Otak kanan itulah yang bertanggung jawab atas munculnya ide dan proses kreatifnya.

Jadi sedari pagi sampai sore tadi kita disuruh dan dilatih melepaskan diri dari otak kiri di saat menulis. Caranya? Kita dilatih freewriting, clustering, re-creation, Inner-eye. Detil dari empat itu nanti saja saya terangkan di lain kesempatan kalau ada waktu. Pelatihan yang terakhir itu kita diajarkan bagaimana caranya otak kiri benar-benar harus tak mampu menjadi raja dalam otak kita. Otak kanan yang harus berperan besar. Caranya? Menerjemahkan puisinya Guiseppe Ungaretti yang berbahasa Spanyol itu dengan sebebas-bebasnya. Cukup dengan menangkap nuansanya lalu tulis. Itu saja.

Dan ternyata masih saja ada yang tidak bisa, masih bertanya-tanya apa arti kata-kata dari bahasa yang tidak pernah dipakainya itu, dan cuma bisa terpaku. Sampai waktu selesai tak ada satu kata pun tertulis. Kata Pak Harry, itu berarti otak kiri masih dipergunakan.

‘Ala kulli hal, hari ini pokoknya saya dapat ilmu banyak. Contohnya tips-tips menulis seperti berikut ini:

  • Tips yang salah dari menulis adalah menulis sambil mengedit.
  • Menulislah terlebih dahulu. Edit belakangan.
  • Tuliskan apa yang ada dalam pikiran.
  • Menulis itu harus tahu siapa pembaca tulisan kita.
  • Dengan inner eye, jangan hambat momen yang ada.

     

Acara besok lebih seru lagi, akan ada ceramah tentang editing media dari editor Kompas yang menangani desk-opini. Semoga besok dan besoknya lagi saya dapat mengikuti kelas dengan baik tanpa mengantuk (tadi juga sebanrnya mengantuknya cuma sedikit kok) dan gangguan gadget (masak terus-terusan melihat timeline di Twitter).

    Terima kasih kepada pihak-pihak di Kantor Pusat yang memercayakan saya untuk mengikuti kembali diklat ini. Sangat bermanfaat dan Insya Allah bisa ditularkan kepada yang lain kalau diberi kesempatan untuk menularkannya.

    ***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dua tahun itu tak terasa lewatnya

tulisan ini hasil dari freewriting

20.40 26 Februari 2013

 

Tags: tips menulis, harri sujadi, kompas, djp, direktorat jenderal pajak, kementerian keuangan, pusdiklat keuangan umum, diklat, Penulisan Media Massa, menulis untuk media massa, pancoran, freewriting

                                                    

DIBA INGIN SUSU


DIBA INGIN SUSU

 


 

“Mi…Diba ingin susu,” kata anaknya. Permintaan yang diterimanya dengan hati trenyuh. Bagaimana tidak, sedangkan persediaan susu anaknya sudah habis tak bersisa. Ia pun tak punya uang cukup untuk membeli sekotak susu.

    “Ya sudah Diba ambil kertas dan tulis di kertas itu: Ya Allah, Diba ingin susu. Berikanlah Diba susu ya Allah,” perintah ibu dua orang anak ini kepada anak pertamanya yang baru berumur tujuh tahun. “Setelah itu tempel di dinding ya.”

    Ia pun segera membuatkan Diba segelas air teh dengan sisa gula pasir yang ada di toples. Semata sebagai pengganti susu. Lalu ia pergi ke warung tetangga sebelah untuk membeli susu kental manis kemasan yang seharga seribu perak buat anak keduanya yang duduk di bangku TK. Suaminya hanya seorang penjaga keamanan yang gaji bulanannya habis buat kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk membayar rumah kontrakan.

    Tak lama setelah ia berhasil menidurkan kedua anaknya itu suaminya pulang. Raut mukanya yang tergambar lelah membuatnya tak tega untuk menceritakan tentang susu anak mereka yang sudah habis. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan teh tawar hangat lalu menghidangkannya.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya kecuali tatapan matanya yang tertuju pada secarik kertas yang tertempel di dinding sana. Sang Suami mengikuti arah tatapan istrinya. Menghampiri kertas itu dan membacanya. Yang ada cuma helaan nafas panjang. “Insya Allah kita dapat rezeki yang banyak,” hanya kalimat itu yang terucap.

Waktu sesaat dihiasi hening. Tapi tak lama, karena dering telepon genggam suaminya meramaikan suasana kembali. Ia hanya bisa melihat suaminya sedang berbicara dengan orang yang berada di ujung sana. Siapa lagi malam-malam begini yang menelepon?

Kata-kata seperti siap, segera ke sana, sekarang juga, dan ucapan terima kasih terdengar dari mulut suaminya. Tetapi yang membedakan kali ini dengan keadaan sebelum menelepon adalah sesungging senyum di wajah itu.

“Alhamdulillah, Allah dengar doa kita. Abi diminta datang ke rumah teman sekarang juga. Teman Abi habis pulang dari Turki. Ada sedikit oleh-oleh. Ternyata dia masih ingat sama Abi,” jelas suaminya panjang. Ia cuma bisa mengucap syukur atas rezeki yang datang tiba-tiba ini. Insya Allah pagi ini akan ada segelas susu untuk diberikan kepada Diba dan bungsunya.

*

Zakat, infak, dan shadaqah yang saya terima dari teman-teman sebagiannya untuk mereka para mustahik yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja mereka tak mampu. Salah satunya seperti cerita di atas. Sebagiannya untuk mereka yang sakit tak tertangani karena biaya masuk rumah sakit yang tinggi. Sebagiannya adalah untuk biaya pendidikan ketika memulai tahun ajaran baru.

Pangan, pendidikan, dan kesehatan menjadi kebutuhan yang sangat dasar dan harus terpenuhi segera. Oleh karena itulah bersama beberapa kawan saya berusaha menghimpun dana untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat seperti itu.

Saya memanfaatkan sebagian besar dana ZIS yang didapat untuk beasiswa. Karena masih banyak mereka yang ternyata masih tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP. Kawan-kawan LSM di Bojonggede mendirikan proyek Podium (Pos Peduli Ummat) yaitu sebuah proyek untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Bojonggede yang mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya bekerjasama dengan mereka dalam hal pendanaan. Alhamdulillah puluhan orang telah tertangani.

Kerja sendiri jelas tak mungkin. Ini diperlukan kerja besar dan kerja sama. Karena ini menyangkut daya jangkau dan kualitas dari cakupan bantuannya. Sebenarnya ini merupakan tugas pemerintah tapi apa daya pemerintah pun punya keterbatasan. Walau sudah harus diapresiasi dengan adanya fasilitas kesehatan gratis buat yang tidak mampu atau adanya pendidikan dasar seperti SD dan SMP yang gratis. Tapi untuk pemenuhan pangan? Belum kiranya.

Ke depan sepertinya pemenuhan kebutuhan pangan (gizi) akan menjadi prioritas juga. Minimal tidak akan ada lagi Diba-Diba yang lain. Sungguh banyak sekali anak yang tak bisa minum susu di Bojonggede. Ada sebuah ide: membuat daftar mustahik yang masih mempunyai balita dan anak SD dan tak mampu membeli susu. Kami akan berikan kepada mereka beberapa kotak susu dalam setiap bulannya. Yang akan menjadi prirotas adalah mereka yang bapaknya TIDAK MEROKOK.

Ya, kami punya komitmen dalam pemberantasan barang sia-sia itu. Agar para bapak-bapak itu memahami bahwa bagaimana mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya dan mendapatkan biaya kesehatan sedangkan mereka dengan sepenuh kesadaran membakar uang setiap hari yang sebenarnya bisa terkumpul banyak itu.

Terpenting pula adalah menyadarkan umat bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, zakat tidak sekadar di bulan ramadhan, serta Infak dan sedekah mesti setiap saat. Selayaknya jiwa filantropi itu harus ada di setiap dada kaum muslimin agar bisa mengentaskan saudara-saudaraya yang lain dari jurang kefakiran. Karena ia dekat dengan kekufuran.

**

“Kak, saya pengen cari kerjaan secepatnya agar tak terus bergantung sama kakak,” kata adik bungsunya itu di suatu malam.

“Sudah cari di mana saja?”

“Sudah banyak kirim lamaran, tinggal nunggu telepon.”

Tiba-tiba Diba menyahut, “Makanya Paman minta sama Allah saja. Paman ambil kertas lalu keinginan Paman ditulis di kertas. Jangan lupa ditempel di dinding. Supaya ingat terus Paman minta apa.”

Mendengar itu mereka hanya bisa tersenyum.

***

 

Riza Almanfaluthi

14:11 17 Februari 2013

Citayam di sebuah selasar gerimis yang membatu.

Gambar dari sini.

Thanks to Muzakkis 4 all your support: Herlin Sulismiyarti, Indah Pujiati, Irwan Wibandoko, dan mereka yang tak mau disebut namanya.

    
 

 


 

BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER


BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER

 

George Lucas tak akan pernah bisa membuat sekuel Star Wars dan trilogi Indiana Jones-nya serta tak akan pernah ada unit usaha pengembangan grafik komputer yang akan dibeli oleh Steve Jobs dan diubah namanya menjadi Pixar, jika ia tak punya mimpi. Maka Lucas pun berkata, “Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian.” Tapi ini belumlah selesai.

Semua orang pasti punya mimpi dalam kehidupannya. Mimpi bahagia, bukan mimpi buruk di tengah malam. Dan karena mimpi itu tak berbayar maka tak ada salahnya untuk selalu bermimpi dan menjaga mimpi-mimpi itu selalu ada. Bahkan pameo yang tercipta: “Jangan pernah takut untuk bermimpi karena mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Mimpi saja takut lalu bagaimana akan menghadapi realita dunia yang sebenarnya?

Maka mimpi tentang harta adalah suatu mimpi yang sangat manusiawi. Adalah muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga menjadi mimpi yang manusiawi juga. Dan itu mimpi siapa pun orangnya. Tak hanya saya. Tetapi takdir memang menjadi pembeda semua itu saat ini. Namun pula, bukankah ada takdir yang bisa diubah dengan kerja keras dan doa? Kali ini, untuk semua itu, izinkanlah pula saya prosakan mimpi-mimpi.

Tak ada yang menyita di benak saya selama ini kecuali bagaimana mempersiapkan masa depan itu sendiri. Masa depan dari saya sebagai seorang PNS, berumur hampir 37 tahun, beristri satu dengan tiga orang anak. Saat ini saya bekerja di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan dan tinggal di desa Pabuaran, kecamatan Bojonggede, kabupaten Bogor.

Di instansi saya ini adalah hal yang wajar jika ada mutasi atau promosi, pegawai ditempatkan di luar Jawa dan jauh dengan keluarga. Tentu bagi yang sudah berkeluarga ada dilema pada saat itu: membawa semua keluarga dengan konsekuensi tingginya biaya pindah rumah dan sekolah anak-anak atau keluarga ditinggal saja, cukup dengan berkorban pulang pergi dalam jangka waktu tertentu, sebulan atau dua minggu sekali. Satu hal adalah semuanya sama-sama menguras tabungan. Lalu bagaimana nanti kalau sudah pensiun? Adakah yang tersisa?

Mimpi-Mimpi Itu

Adalah sebuah ingatan yang tak pernah luput yakni pada saat saya ditakdirkan untuk dapat mengunjungi tanah suci untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2011. Dalam sebuah buku panduan doa-doa yang ada, saya menemukan doa yang baru pertama kali saya baca dan seumur hidup tak pernah terlintas di benak saya. Yaitu doa berupa: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari penderitaan masa tua.”

Dari doa ini ada makna yang tak bisa diabaikan bahwa dunia—setelah akhirat, pun tak hendak diluputkan dari pikir dan kerja kita. Maka ketika saya memimpikan segala pernak-pernik dunia ini, jangan dilepaskan bahwa itu semua adalah dalam rangka mempersiapkan yang terbaik untuk kehidupan setelah kehidupan dunia.

Lalu apa derita masa tua itu? Semua mafhum sepertinya. Semisal jatuh miskin, tidak ada tunjangan pensiun, sakit-sakitan, tidak mandiri sehingga bergantung kepada anak dan cucu, dana kesehatan yang tak pernah bisa mencukupi dan menutupi biaya pengobatan serta perawatan dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini mimpi buruk.

Semua itu tak akan pernah menjadi mimpi saya. Mimpi saya sekarang untuk saat itu adalah tua tetaplah berjaya, sehat selalu, pensiun mencukupi, tabungan berlimpah, terkaver perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan, mempunyai penghasilan yang terus mengalir dari passive income, hidup tenang menunggu ajal di atas tanah dan rumah luas yang dibelakangnya ada empang, dan mempunyai warisan berharga buat anak agar mereka menjadi keturunan yang kuat baik secara materi dan ruhani. Salah mimpi ini? Tidak.

Yang tak pantas adalah ketika saya mempunyai mimpi tetapi tak berniat mewujudkannya dan yang ada hanya laku diam. Maka bagaimana takdir akan bisa berubah? Dan inilah yang harus diselesaikan oleh mereka yang punya mimpi. Lucas pun melanjutkan kalimatnya yang sudah saya sebut pada paragraf paling atas dengan kalimat: “Kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan impian.” Ini antitesis dari tidak bergerak, diam, tak bekerja.

Cara Kuno

Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itulah tak ayal ada suatu kredo yang tak bisa dibantah oleh saya dan semua orang meyakininya: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Cara konvensional—tak perlu rumit—yang biasa saya lakukan sedari dulu adalah dengan cara menabung. Cerita bagaimana saya dan istri bisa menunaikan haji adalah bukti validnya.

Kami menabung sejak Oktober 2006 untuk bisa menutupi ongkos haji awal agar kami dapat masuk antrian pemberangkatan. Akhirnya pada tahun 2009 kami bisa mendaftar dengan menyetor uang sebesar Rp40 juta untuk dua orang. Tiga tahun kami menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilan kami. Dan tetap terus menabung sampai tahun 2011 ketika kami diharuskan melunasi sisa ongkos naik hajinya. Semuanya bisa dilakukan dengan cara kuno itu.

Menabung bagi saya adalah langkah terencana dalam mewujudkan mimpi, walau ini terasa menyakitkan, dengan menyingkirkan nafsu-nafsu besar saya untuk memiliki sesuatu—yang merupakan naluri purba, semata agar saya siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan.

Ini terus kami lakukan sampai sekarang. Yang paling anyar adalah kerja untuk mewujudkan mimpi menyekolahkan anak-anak di sekolah favorit. Dua tahun lagi, anak saya yang kedua dan ketiga masing-masing akan lulus SD dan TK. Ini membutuhkan dana yang besar. Dan mimpi saya sekarang adalah bagaimana nanti pada saatnya saya punya kemampuan dana mendaftarkan mereka dan tak kebingungan mencari dari mana serta tak membebani keuangan saat itu.

Akhirnya saya ikut program tabungan rencana mandiri di suatu bank. Saya harus menyetorkan sejumlah dana tertentu yang tidak boleh diambil sampai waktu yang telah ditentukan. Bagi saya inilah yang bisa saya lakukan untuk membentuk anak-anak saya menjadi generasi yang kuat. Semua yang kami keluarkan bukanlah biaya tetapi investasi jangka panjang. Suatu saat saya akan memetik hasilnya. Manis tentunya.

Oleh karenanya saya memperbanyak investasi itu. Selain dengan menabung, investasi untuk anak-anak adalah dengan mengikutkan mereka dalam program asuransi pendidikan dan kesehatan.

Sedangkan untuk saya sendiri, selain ikut dalam program asuransi kesehatan dari kantor, saya pun ikut program asuransi mandiri lainnya. Hal yang sama saat saya juga ikut program dana pensiun, walaupun sebagai PNS secara otomatis sudah terkaver program pensiunnya. Tetapi lagi-lagi hal ini semata-mata agar kami—istri saya juga seorang PNS—siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan di masa tua.

Yang Belum Terwujud

Tetapi masih ada mimpi yang belum bisa terwujud dengan kerja saya sekarang: mendapatkan passive income; memiliki satu kilogram emas batangan, dan mempunyai rumah minimal dua lagi untuk saya wariskan buat anak-anak. Walau ini terasa berlebihan. Tapi sekali lagi mengapa takut untuk bermimpi?

Tentang passive income itu semestinya saya harus memikirkan masak-masak karena harus terjun ke dunia yang tak berkaitan dengan kegiatan dan keahlian saya di bidang perpajakan. Jika itu berkaitan, tentu ada konflik kepentingan dan melanggar kode etik sebagai pegawai pajak.

Bila saya tetap bersikukuh masuk, maka sudah selayaknya saya mengundurkan diri sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kalau langkah ini yang diambil tentunya sudah bukan lagi mendapatkan penghasilan dari passive income.

Membuka warung soto—karena kebetulan keluarga besar istri berkecimpung di dunia kuliner persotoan, membuka warung waralaba ayam goreng tepung, dan menyewakan mobil yang jarang terpakai masih menjadi mimpi yang paling detil untuk mendapatkan passive income tersebut. Saya berusaha merealisasikan semuanya itu segera. Yang pasti bukan saya yang akan mengerjakannya. Saya cukup dengan menginvestasikan aset yang ada.

Untuk dua yang terakhir bukankah ada seorang pakar keuangan yang pernah mengatakan cara terbaik mempertahankan kekayaan adalah dengan memiliki emas dan rumah? Emas yang tidak akan terpengaruh dengan inflasi dan rumah (di dalamnya ada aset bernama tanah) yang nilainya selalu naik. Sepertinya saya akan kembali ke cara kuno untuk mendapatkannya atau bisa dengan mencicilnya.

Doa dan Berbagi

Dan itulah mimpi-mimpi saya. Saya yakin menjadi nyata. Karena ada laku yang tak boleh tertinggal: berdoa. Saya bukan agnostik. Saya yakin akan adanya campur tangan Allah SWT atas semua hidup saya. Kepada siapa lagi meminta kekayaan kecuali kepada Dia Yang Mahakaya dan Yang Maha Pemberi.

Dia memberikan tahta dan harta kepada orang yang dikehendaki. Begitu pula Ia akan mengambilnya dari siapa yang dikehendakiNya. Bagi saya, doa adalah senjata utama agar mimpi-mimpi itu mewujud.

Doa adalah laku mendapatkan kekayaan. Dan untuk mempertahankannya adalah dengan berbagi. Sebuah bentuk lain dari rasa syukur. Sebuah kerja filantropi yang akan melipatgandakan serta mempertahankan kekayaan. Agar tak seperti Qarun yang tertelan bumi karena tamak dan kikirnya, atau kaya tapi gila harta seperti karakter Scrooge McDuck (Paman Gober) dalam kartun Disney.

Semoga.

**

Artikel ini telah diikutkan dalam lomba menulis yang disenggarakan oleh Cerdas Keuangan  dan terpilih  sebagai 10 artikel terbaik pilihan Cerdas Keuangan (Februari 2013).

 

Riza Almanfaluthi

11 Januari 2013

BATIK YANG TERBAKAR


Baju batik itu terbungkus kertas kado yang cantik dan dimasukkan pada tas jinjing dari bahan karton yang tebal. Diserahkan oleh seorang teman kepada saya sebagai hadiah karena selama ini telah banyak membantunya. Ah, sebuah bantuan yang tak seberapa: membuat puisi-puisi untuk dibacakan di setiap acara kantornya. Sayang baju batik itu terbakar.

Suatu ketika dalam perjalanan dinas ke Pekalongan, kota yang terkenal dengan batiknya itu, saya sempatkan mampir ke sebuah butik batik yang ada di sana. Banyak pilihan bagus tidak membuat saya bingung, saya cukup dengan kriteria warna dan ukuran yang pas dengan saya. Dua baju batik lengan panjang dan pendek terbaik saya beli. Sayang semua itu juga ikut terbakar.

image

Saya bersama teman-teman kantor dalam suatu acara, berdiri paling kanan dengan salah satu baju batik yang terbakar.

 

Pertengahan tahun 2010, bagian atas belakang rumah saya kebakaran. Api membakar habis kamar tempat tumpukan pakaian sehabis dicuci, syukurnya tidak merembet ke bagian bawah dan rumah lain. Tidak ada korban jiwa dan kebakaran dapat ditangani segera karena sigapnya para tetangga dalam memadamkan api. Penyebabnya kami tidak tahu sampai sekarang, entah karena korsleting atau obat nyamuk bakar.

Setiap musibah baik besar ataupun kecil—sekadar kaki tersadung batu—selalu saya jadikan sarana kontemplasi. Apa yang sudah saya perbuat? Dari hasil perenungan itu saya mendapatkan banyak pelajaran. Salah satunya: jika ada sesuatu yang teramat dicintai maka bersiaplah untuk kehilangan. Kebetulan baju batik pemberian teman dan yang saya beli di Pekalongan itulah batik favorit yang biasa saya pakai ke kantor.

Kebakaran itu tidak melahap semua baju batik yang saya punya. Ini melegakan, karena ini berarti saya masih punya cadangan baju batik untuk pergi ke kantor. Memang, pada waktu itu kantor saya—yang juga merupakan instansi pemerintahan—mewajibkan berbatik pada hari Rabu dan Jumat. Kebijakan berbatik di hari Rabu ini bukan merupakan kebijakan kantor pusat kami. Kantor pusat hanya mewajibkan berbatik pada hari Jum’at saja.

Tambahan hari itu sebagai bukti komitmen dan kecintaan kantor kami kepada warisan budaya leluhur yang wajib dijaga. Itu tak masalah bagi saya. Apalagi saat ini—setelah era reformasi—pandangan masyarakat terhadap batik pun mengalami pergeseran.

Dulu saya merasakan sekali persepsi tentang batik yang ada pada masyarakat, antara lain bahwa batik itu hanya dipakai oleh aparat pemerintah, baju khusus untuk resepsi, sangat tidak modis, dan ortodok. Persepsi pertama bisa dikarenakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada saat itu, di hari-hari tertentu diwajibkan untuk memakai baju Korpri yang kebetulan bermotif batik warna biru.

Sekarang sudah berubah. Batik sudah menjadi milik bersama. PNS ataupun karyawan swasta memakai baju batik sebagai busana kantornya. Batik pun mengikuti tren. Warna yang tidak mainstream. Mode zaman dulu yang kaku sampai-sampai hampir tak bisa dibedakan mana baju batik pria dan wanita sudah tak ada lagi. Kini tak aneh pula melihat pemandangan wanita yang memakai rok batik, blus batik, blazer batik, kaos batik, gaun batik, busana muslim batik, ataupun pria yang memadupadankan batik dengan jeans.

Batik pun sudah menjadi ikon pencitraan. Ikon untuk mengirimkan pesan ke dalam pikiran bawah sadar—pikiran yang seringkali menjadi penentu pilihan—dari target komunikan. Pencitraan dari perusahaan layanan penerbangan, hotel, restoran, pasangan aspiran kepala daerah, sekolah, penggemar klub sepakbola dunia, dan masih banyak lagi lainnya.

Seiring perkembangan zaman, teknologi, gaya hidup masyarakat, serta hukum ekonomi permintaan dan penawaran yang berlaku maka batik pun menjadi komoditas yang terangkat harkatnya. Semula produk buatan tangan menjadi produk yang dihasilkan secara masif dari pabrik kain tanpa menurunkan kualitas kain dan corak motifnya. Semula hanya dijual di rumahan, toko batik berskala kecil, dan pasar tradisional, kini batik menjadi barang jualan yang laku dijual di rumah-rumah busana, ruang-ruang pamer, toko ritel modern, gerai-gerai, dan butik-butik batik ternama.

Metode penjualannya pun berkembang. Tak hanya secara offline, di era digital seperti saat ini situs-situs batik online pun bermunculan. Ini memberikan alternatif dan kemudahan cara berbelanja bagi para pembeli yang tak punya waktu luang di tengah-tengah kesibukannya. Apalagi ditengarai bahwa belanja secara online akan menjadi tren yang tak terelakkan. Karena ia memberikan sensasi belanja yang tak biasanya. Satu yang dibutuhkan untuk hal ini adalah kepercayaan.

Pembeli percaya bahwa situs batik online itu tidak pernah menipu dan selalu jujur antara deskripsi kualitas dari batik jualannya di dalam situs dengan kualitas batik dalam kenyataannya. Penjual pun percaya kalau pembeli juga tidak main-main dalam memesan dan cara pembayarannya. Kepercayaan mengikat semuanya, para pihak.

Dengan “mata uang” yang sama bernama kepercayaan itulah, pada September di tahun yang sama, saya pun dipindah ke kantor pusat. Tak lama kantor pusat juga menerapkan aturan berbatik buat seluruh pegawainya yang tersebar di seluruh Indonesia selama dua hari dalam sepekan yakni pada hari Selasa dan Jumat. Ini menyenangkan, karena bagi saya batik membuat tempat kerja semakin penuh warna. Tidak terlihat monokrom.

Sebagai hadiah perpisahan dari teman-teman di kantor lama, saya mendapatkan selembar kain batik warna biru. Saya jahit kain batik itu di penjahit langganan dan hanya saya pakai di momen-momen khusus.

image

Batik biru pada saat momen special, pertengahan Oktober 2012, bersama Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmani, Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak Dedi Rudaedi (Kanan), dan Direktur Transformasi Proses Bisnis Wahju Karya Tumakaka (Dokumentasi Direktorat P2Humas DJP).

 

Saya berharap batik hadiah ini tidak akan terbakar lagi. Bukan untuk apa-apa. Hanya sekadar sebagai pengingat kalau saya pernah punya teman-teman sebaik mereka; sebagai upaya kecil saya melestarikan warisan adiluhung bangsa; sebagai cara sederhana saya mencintai produk dalam negeri. Itu saja.

image

Teman-teman di kantor lama: Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat.

 

***

Riza Almanfaluthi

Januari 2013

image