BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER


BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER

 

George Lucas tak akan pernah bisa membuat sekuel Star Wars dan trilogi Indiana Jones-nya serta tak akan pernah ada unit usaha pengembangan grafik komputer yang akan dibeli oleh Steve Jobs dan diubah namanya menjadi Pixar, jika ia tak punya mimpi. Maka Lucas pun berkata, “Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian.” Tapi ini belumlah selesai.

Semua orang pasti punya mimpi dalam kehidupannya. Mimpi bahagia, bukan mimpi buruk di tengah malam. Dan karena mimpi itu tak berbayar maka tak ada salahnya untuk selalu bermimpi dan menjaga mimpi-mimpi itu selalu ada. Bahkan pameo yang tercipta: “Jangan pernah takut untuk bermimpi karena mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Mimpi saja takut lalu bagaimana akan menghadapi realita dunia yang sebenarnya?

Maka mimpi tentang harta adalah suatu mimpi yang sangat manusiawi. Adalah muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga menjadi mimpi yang manusiawi juga. Dan itu mimpi siapa pun orangnya. Tak hanya saya. Tetapi takdir memang menjadi pembeda semua itu saat ini. Namun pula, bukankah ada takdir yang bisa diubah dengan kerja keras dan doa? Kali ini, untuk semua itu, izinkanlah pula saya prosakan mimpi-mimpi.

Tak ada yang menyita di benak saya selama ini kecuali bagaimana mempersiapkan masa depan itu sendiri. Masa depan dari saya sebagai seorang PNS, berumur hampir 37 tahun, beristri satu dengan tiga orang anak. Saat ini saya bekerja di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan dan tinggal di desa Pabuaran, kecamatan Bojonggede, kabupaten Bogor.

Di instansi saya ini adalah hal yang wajar jika ada mutasi atau promosi, pegawai ditempatkan di luar Jawa dan jauh dengan keluarga. Tentu bagi yang sudah berkeluarga ada dilema pada saat itu: membawa semua keluarga dengan konsekuensi tingginya biaya pindah rumah dan sekolah anak-anak atau keluarga ditinggal saja, cukup dengan berkorban pulang pergi dalam jangka waktu tertentu, sebulan atau dua minggu sekali. Satu hal adalah semuanya sama-sama menguras tabungan. Lalu bagaimana nanti kalau sudah pensiun? Adakah yang tersisa?

Mimpi-Mimpi Itu

Adalah sebuah ingatan yang tak pernah luput yakni pada saat saya ditakdirkan untuk dapat mengunjungi tanah suci untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2011. Dalam sebuah buku panduan doa-doa yang ada, saya menemukan doa yang baru pertama kali saya baca dan seumur hidup tak pernah terlintas di benak saya. Yaitu doa berupa: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari penderitaan masa tua.”

Dari doa ini ada makna yang tak bisa diabaikan bahwa dunia—setelah akhirat, pun tak hendak diluputkan dari pikir dan kerja kita. Maka ketika saya memimpikan segala pernak-pernik dunia ini, jangan dilepaskan bahwa itu semua adalah dalam rangka mempersiapkan yang terbaik untuk kehidupan setelah kehidupan dunia.

Lalu apa derita masa tua itu? Semua mafhum sepertinya. Semisal jatuh miskin, tidak ada tunjangan pensiun, sakit-sakitan, tidak mandiri sehingga bergantung kepada anak dan cucu, dana kesehatan yang tak pernah bisa mencukupi dan menutupi biaya pengobatan serta perawatan dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini mimpi buruk.

Semua itu tak akan pernah menjadi mimpi saya. Mimpi saya sekarang untuk saat itu adalah tua tetaplah berjaya, sehat selalu, pensiun mencukupi, tabungan berlimpah, terkaver perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan, mempunyai penghasilan yang terus mengalir dari passive income, hidup tenang menunggu ajal di atas tanah dan rumah luas yang dibelakangnya ada empang, dan mempunyai warisan berharga buat anak agar mereka menjadi keturunan yang kuat baik secara materi dan ruhani. Salah mimpi ini? Tidak.

Yang tak pantas adalah ketika saya mempunyai mimpi tetapi tak berniat mewujudkannya dan yang ada hanya laku diam. Maka bagaimana takdir akan bisa berubah? Dan inilah yang harus diselesaikan oleh mereka yang punya mimpi. Lucas pun melanjutkan kalimatnya yang sudah saya sebut pada paragraf paling atas dengan kalimat: “Kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan impian.” Ini antitesis dari tidak bergerak, diam, tak bekerja.

Cara Kuno

Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itulah tak ayal ada suatu kredo yang tak bisa dibantah oleh saya dan semua orang meyakininya: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Cara konvensional—tak perlu rumit—yang biasa saya lakukan sedari dulu adalah dengan cara menabung. Cerita bagaimana saya dan istri bisa menunaikan haji adalah bukti validnya.

Kami menabung sejak Oktober 2006 untuk bisa menutupi ongkos haji awal agar kami dapat masuk antrian pemberangkatan. Akhirnya pada tahun 2009 kami bisa mendaftar dengan menyetor uang sebesar Rp40 juta untuk dua orang. Tiga tahun kami menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilan kami. Dan tetap terus menabung sampai tahun 2011 ketika kami diharuskan melunasi sisa ongkos naik hajinya. Semuanya bisa dilakukan dengan cara kuno itu.

Menabung bagi saya adalah langkah terencana dalam mewujudkan mimpi, walau ini terasa menyakitkan, dengan menyingkirkan nafsu-nafsu besar saya untuk memiliki sesuatu—yang merupakan naluri purba, semata agar saya siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan.

Ini terus kami lakukan sampai sekarang. Yang paling anyar adalah kerja untuk mewujudkan mimpi menyekolahkan anak-anak di sekolah favorit. Dua tahun lagi, anak saya yang kedua dan ketiga masing-masing akan lulus SD dan TK. Ini membutuhkan dana yang besar. Dan mimpi saya sekarang adalah bagaimana nanti pada saatnya saya punya kemampuan dana mendaftarkan mereka dan tak kebingungan mencari dari mana serta tak membebani keuangan saat itu.

Akhirnya saya ikut program tabungan rencana mandiri di suatu bank. Saya harus menyetorkan sejumlah dana tertentu yang tidak boleh diambil sampai waktu yang telah ditentukan. Bagi saya inilah yang bisa saya lakukan untuk membentuk anak-anak saya menjadi generasi yang kuat. Semua yang kami keluarkan bukanlah biaya tetapi investasi jangka panjang. Suatu saat saya akan memetik hasilnya. Manis tentunya.

Oleh karenanya saya memperbanyak investasi itu. Selain dengan menabung, investasi untuk anak-anak adalah dengan mengikutkan mereka dalam program asuransi pendidikan dan kesehatan.

Sedangkan untuk saya sendiri, selain ikut dalam program asuransi kesehatan dari kantor, saya pun ikut program asuransi mandiri lainnya. Hal yang sama saat saya juga ikut program dana pensiun, walaupun sebagai PNS secara otomatis sudah terkaver program pensiunnya. Tetapi lagi-lagi hal ini semata-mata agar kami—istri saya juga seorang PNS—siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan di masa tua.

Yang Belum Terwujud

Tetapi masih ada mimpi yang belum bisa terwujud dengan kerja saya sekarang: mendapatkan passive income; memiliki satu kilogram emas batangan, dan mempunyai rumah minimal dua lagi untuk saya wariskan buat anak-anak. Walau ini terasa berlebihan. Tapi sekali lagi mengapa takut untuk bermimpi?

Tentang passive income itu semestinya saya harus memikirkan masak-masak karena harus terjun ke dunia yang tak berkaitan dengan kegiatan dan keahlian saya di bidang perpajakan. Jika itu berkaitan, tentu ada konflik kepentingan dan melanggar kode etik sebagai pegawai pajak.

Bila saya tetap bersikukuh masuk, maka sudah selayaknya saya mengundurkan diri sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kalau langkah ini yang diambil tentunya sudah bukan lagi mendapatkan penghasilan dari passive income.

Membuka warung soto—karena kebetulan keluarga besar istri berkecimpung di dunia kuliner persotoan, membuka warung waralaba ayam goreng tepung, dan menyewakan mobil yang jarang terpakai masih menjadi mimpi yang paling detil untuk mendapatkan passive income tersebut. Saya berusaha merealisasikan semuanya itu segera. Yang pasti bukan saya yang akan mengerjakannya. Saya cukup dengan menginvestasikan aset yang ada.

Untuk dua yang terakhir bukankah ada seorang pakar keuangan yang pernah mengatakan cara terbaik mempertahankan kekayaan adalah dengan memiliki emas dan rumah? Emas yang tidak akan terpengaruh dengan inflasi dan rumah (di dalamnya ada aset bernama tanah) yang nilainya selalu naik. Sepertinya saya akan kembali ke cara kuno untuk mendapatkannya atau bisa dengan mencicilnya.

Doa dan Berbagi

Dan itulah mimpi-mimpi saya. Saya yakin menjadi nyata. Karena ada laku yang tak boleh tertinggal: berdoa. Saya bukan agnostik. Saya yakin akan adanya campur tangan Allah SWT atas semua hidup saya. Kepada siapa lagi meminta kekayaan kecuali kepada Dia Yang Mahakaya dan Yang Maha Pemberi.

Dia memberikan tahta dan harta kepada orang yang dikehendaki. Begitu pula Ia akan mengambilnya dari siapa yang dikehendakiNya. Bagi saya, doa adalah senjata utama agar mimpi-mimpi itu mewujud.

Doa adalah laku mendapatkan kekayaan. Dan untuk mempertahankannya adalah dengan berbagi. Sebuah bentuk lain dari rasa syukur. Sebuah kerja filantropi yang akan melipatgandakan serta mempertahankan kekayaan. Agar tak seperti Qarun yang tertelan bumi karena tamak dan kikirnya, atau kaya tapi gila harta seperti karakter Scrooge McDuck (Paman Gober) dalam kartun Disney.

Semoga.

**

Artikel ini telah diikutkan dalam lomba menulis yang disenggarakan oleh Cerdas Keuangan  dan terpilih  sebagai 10 artikel terbaik pilihan Cerdas Keuangan (Februari 2013).

 

Riza Almanfaluthi

11 Januari 2013

Advertisements

2 thoughts on “BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s