The Real Blogger


Setiap berdiskusi dengan teman saya yang satu ini, seringkali saya mendapat banyak pencerahan. Tentang Both Sides Perspective misalnya, istilah ini saya dapatkan darinya. Hari ini pun dia memberikan sesuatu yang menarik, yang membuat wawasan saya terbuka tentang hal yang menjadi fenomena para Blogger’s pada hari ini. Yaitu untuk menjadikan dunia maya sebagai tempat mencurahkan apa yang dia rasakan dan miliki untuk dibagi dengan yang lain.
Menurutnya, dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi yang cukup pesat ini membuat semua pakem masa lalu menjadi berubah 180 derajat dan hampir-hampir tak berlaku pada saat ini. Contoh gampangnya adalah, dulu setiap orang yang mempunyai kesenangan mengungkapkan perasaannya dalam tulisan selalu menumpahkannya ke dalam buku diarynya. Entah perasaan sebal, senang, bahagia, benci, cinta etc. Semuanya tumplek blek di buku itu. Terkunci rapat, digembok pula, tidak ada yang boleh mengetahuinya. Hanya Allah dan dirinya saja yang tahu. Maka, setiap ada orang yang tanpa sengaja membaca buku diarynya atau bahkan menyentuhnya saja, bisa membuat ia marah luar biasa.
Tapi zaman telah berubah, kini orang dengan mudahnya menuliskan perasaannya sehari-hari, baik benci, sebal, senang, bahagia, derita, cinta semuanya ia ungkapkan dalam sebuah wadah yang bernama Weblog atau disingkat menjadi blog saja. Ia tulis agar semua orang mengetahui apa yang ia alami pada hari itu. Ia ikut membagi kesedihannya, kegembiraannya, dan semua perasaan itu kepada semua orang. Ia mempunyai satu tujuan bahwa apa yang ia tulis diharapkan memberikan sesuatu yang baru, pencerahan, pengalaman baru bagi orang lain.Orang yang membacanya diharapkan memiliki respon peka terhadap apa yang ia tulis, sedikit komentar saja bisa membuat ia bahagia.
Di dalam wadah itu ia pun mendapatkan sesuatu yang baru dari teman-temannya. Ia akan mencari para blogger yang dapat memberikan kepada dirinya sesuatu yang baru, sesuatu yang berguna, sesuatu yang membawa dirinya pada cinta, ketergugahan diri untuk selalu semangat memperbaiki diri sendiri. Dimanapun mereka berada walaupun mereka tidak ada dalam daftar top active blogs, top commented blogs, top commenters, top popular users, ataupun new blogs. Inilah blogger sejati. The real bloggers. Give and Take more new experiences.
And then, float to the surface a big question mark. Sudahkah kita menjadi the real blogger, blogger yang dapat memberikan kepada semua orang banyak inspirasi baru, blogger yang sering mencari sesuatu yang baru dari orang lain pula? Jika belum, yuk kita sama-sama belajar untuk menjadi the real blogger. Tiada waktu lain lagi, kecuali sekarang juga.
Allohua’lam.
###
thanks to my best friend: abi attaya
dedaunan di ranting cemara
endeavor to be the real blogger
16:09 09 September 2005

Kutunggu Jandamu


Kalimat ini seringkali diungkapkan oleh mereka yang menjadi ‘pecundang’ dalam pertarungan memperebutkan sang kekasih tercinta. Karena begitu ngebetnya, akal sehat pun tidak dipergunakan lagi. Logika orang kebanyakan seperti “masih banyak wanita lain yang lebih segalanya daripada dia” terabaikan. Bahkan kalau perlu sampai tua pun tidak akan menikah kecuali dengan si dia.

Yang lebih parah adalah si ‘pecundang’ ini sampai-sampai berkonsultasi dengan paranormal hanya karena untuk memenuhi pakem kedua dari para pecundang; ”cinta ditolak dukun bertindak”. Aduh, secantik Zulaikha-kah si dia? Sekaya Khadijah-kah si dia? Senasab Fatimah-kah si dia? Setaat Aisyah-kah si dia? Sampai-sampai kau jual akhiratmu demi duniamu.

Bukan. Kali ini saya bukan mau membahas tingkah menyebalkanmu itu.

###

Seringkali dalam perjalanan mengendarai kendaraan bermotor, para pengguna jalan menemukan hal-hal yang menarik untuk membunuh rasa bosan dan kantuk. Mulai dari tingkah selap-selip pengendara motor, ugal-ugalan angkutan umum, ego dari para pengguna mobil dengan modifikasi yang luar biasa wah-nya, tawuran, kecelakaan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang tak kalah menariknya adalah tulisan yang berada di bagian belakang kendaraan. Mulai yang ditulis besar-besar dengan warna mencolok sampai yang hanya seukuran stiker yang ditempel di bagian ekor motor. Dengan beragam tema pula, mulai dari tema suci ajakan berjihad di tanah Palestina sampai yang mengandung kata-kata jorok plus gambarnya lagi.

Seperti kalimat kutunggu jandamu, yang ditemukan di bagian belakang sebuah truk pasir dengan lembaran karet penahan air hujan dekat ban belakang bergambar dua wanita berpakaian ala kadarnya sedang melamun.

Ada lagi gambar hati merah yang retak dan terbelah bukan dengan panah seperti biasanya tapi dengan kapak 212 Wiro Sableng. Di bawahnya tertulis cinta di tolak dukun bertindak. Di sampingnya ada tulisan lain penggambaran alat-alat yang dipakai dukun seperti ’pelet, santet, teluh, gendam, semar mesem atau apapun namanya’. Mengerikan, semua penghancur hubungan dua manusia itu bak mainan saja dipertontonkan.

Masih banyak lagi gambar dan tulisan lainnya di pintu belakang penutup truk itu. Kalau menyengaja mencarinya, gampang, misalnya datang saja ke pangkalan pasir di sepanjang pantura. Kelak akan ditemukan kelucuan dan kengerian itu.

Ada lagi yang menulis di moda angkutan umum seperti angkot, metromini, atau bajaj yang jumlahnya ribuan di Jakarta ini. Tentang kerinduan terhadap kampung halaman dengan tulisan berlatar belakang alam pedesaan: takana juo. Atau tentang identitas daerah, walaupun ditulis dengan bahasa Inggris ala kadarnya seperti: Far For Sea Nowly. Maksudnya adalah Par Porsea Nauli. Maklum kebanyakan pengemudi berasal dari seberang. Sedangkan bagi orang betawi rangkaian huruf ini sudah cukup mewakili: AP KT NT AJ.

Yang lebih parah dan dapat membuat pembaca tersenyum dikulum, ada yang menulis ungkapan umum ’tidak ada waktu untuk bercinta’ dengan memakai bahasa Inggris tapi salah menuliskannya menjadi No Tame For Love. Atau jangan-jangan maksudnya memang ingin mengungkapkan bahwa dalam bercinta perlu keliaran (tame=jinak), ih…

Bagi kendaraan pribadi biasanya tulisan tercetak dalam bentuk stiker. Ada stiker dari wahana wisata yang langsung ditempel begitu saja tanpa peduli si pemilik mau atau tidak. Ada yang menempelkan stiker bertuliskan awas jangan nabrak, belum lunas di mobil mulusnya. Ada stiker partai kesayangan peserta pemilu tahun 2004 yang masih saja tertempel. Atau yang lebih ’parno’ adalah stiker barcode penanda mobil masih baru walaupun sudah dibeli setahun yang lalu.

Sedangkan untuk di motor ragam stikernya amat bervariasi. Ada stiker yang dibuat agar orang segan, seperti stiker berlambang Bareskrim, Gegana, Brimob, Marinir, Kopassus, atau Kostrad. Ada pula stiker yang menonjolkan arogansi otot dengan tulisan Nabrak Tonjok!, atau Nyenggol Benjut!.

Banyak juga yang menampilkan kelompok eksklusifnya seperti kampus biru, kampus kuning, atau apapun warnanya lengkap dengan jurusannya. Klub bermotor terkenal tak mau kalah untuk lebih tenar lagi seperti Harley Davidson, HTML, dan pendatang baru Mio Club Depok disingkat McD (maksain?).

Stiker lucu juga banyak: awas anak Kapolsek, yang ngerasa cantik boleh ngebonceng, jangan dicolong masih nyicil, otot kawat balung thok. Sampai berisi ejekan pun ada, seperti stiker bertuliskan ’yang membaca g*****’ (maaf saya tak tega menulisnya), juga stiker kartun yang sedang mengacungkan jari tengahnya (maaf)–di closeup lagi. Dan masih banyak lagi ragam dari stiker-stiker tersebut.

***

Satu hal penting dari apa yang diungkapkan di atas adalah bahwa informasi yang disajikan secara mobil akan dilihat oleh banyak orang, dibaca, dan diendapkan dalam memorinya untuk dijadikan informasi lanjutan kelak. Maka akan terlihat betapa efektifnya penyebaran informasi atau opini melalui media tersebut.

Jika begitu dan jika kita adalah seorang pecinta nilai-nilai kebenaran maka kenapa kita tidak mencoba cara itu dengan memuat kata-kata atau kalimat yang lebih dari sekadar kelucuan tanpa makna, kekasaran, ejekan, bahkan pornografi. Karena tidak banyak yang menyediakan sedikit ruang untuk menyampaikan nilai-nilai universal itu.

Tiada kerugian sedikit pun yang kita derita, bahkan jika kita ikhlas dan menjadi perantara turunnya hidayah Allah bagi orang-orang yang mendapatkan nilai-nilai itu maka sudah selayaknya pahala seisi langit dan bumi menjadi milik kita.

Jika kesadaran itu muncul, di banyak truk kita akan melihat sebuah gambar wanita berjilbab dengan tulisan dibawahnya: mar’atushsholihah, engkau adalah perhiasan terindah. Kita akan membaca tulisan di kaca belakang bus antar kota antar propinsi: Jihad is my way. Tak dapat dibandingkan dengan tulisan sebelumnya dangdut is my music.

Di angkot, kampung akhirat bahkan lebih dirindukan daripada kampung halaman dengan adanya kalimat ini: syahid, cita-cita kami tertinggi. Sedangkan di motor, kita akan mendapatkan tanda nasionalisme tanpa sekat-sekat geografis: Save Palestine.

Pula jika kesadaran itu muncul, kita mungkin tak akan pernah lagi menemukan kata-kata para pecundang, yang ada hanya harap: doakan aku dapatkan pendamping yang lebih baik darimu.

Lalu, kapan lagi kalau tidak sekarang?

Semoga.

dedaunan di ranting cemara

mushaf di antara kulit

23.30 06 Desember 2005

Abang Jampang


09.12.2005 – POEM: Abang Jampang, di antara Batavia dan Jakarta

Nih, puisi ane buat untuk menyambut kabar gembira si Jampang nyang mo’ nikah tanggal 17 Desember 2005:
setiap kakek datang
yang ada hanya kegembiraan
bagi Haqi tersayang
bahkan untuk Ayyasy
bersama-sama bernyanyi
dari dua generasi yang berbeda
tak peduli sumbang
tak peduli lirih
tak peduli tak sempurnanya kata
kau mau tahu apa yang mereka nyanyikan?
Abang Jampang lawan centeng
centeng ditenteng
hup hah… hup hah…
lemparin
nyangsang di genteng
husyah…husyah…husyah…
lalu bersama lagi:
cimpompak cimbomber
cimpompak cimbomber
duhai kakek cucu
jika kalian menyanyikan itu
bagaimana aku tidak kembali ke masa lalu
melihat sejarah betawi
dengan golok-golok putih mengilat
kumis panjang melintang
sarung terikat di pinggang
baju dan celana hitam
selampe penutup kepala
dengan ciliwung masih bening
mengundang hasrat mereguknya
atawa passerbaru dengan kerling si mata sipit
bahkan si keling merekejenehe
ah…
sst… itu jadi kuno
itu masa lalu
tapi jangan kau lupakan
karena Jakarta pernah jadi Batavia
maka menarilah bersama dua generasi itu
bernyanyilah lagi:
abang jampang lawan centeng
centeng di tenteng
hup hah… hup hah…
lemparin
nyangsang di genteng
husyah…husyah…husyah…
###
dedaunan di ranting cemara
08.08 09 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Peluru Penghias Jantung


07.12.2005 – POEM: Peluru Penghias Jantung

bidadariku yang cantik
datanglah padaku
tuntun aku
pada taman mewangi mawar
bergemericik syahdu air memancar
membasuh
torehan luka di sekujur tubuh
tanda abadi pedang, tombak, dan panah
dengan debu-debu tanah Palestina,
Afghanistan, bahkan Irak-ku sayang
atau tetesan salju kaukakus dan balkan
bidadariku yang cantik
datanglah padaku
tuntun aku
pada taman firdaus
hapus memori terakhir ini:
ada peluru menembus jantungku
cuma penghias agar aku
dapat menemui Penciptamu segera
sedang mewangi misik masih terasa harumnya.
dedaunan di ranting cemara
kalashnikov berkalang tanah
17:42 07 Desember 2005

Detik Berlalu


06.12.2005 – POEM: detik berlalu

III.
ketika detik berlalu
mengurai masa ke penghujungnya
mengurai benang ke penghabisannya
mengurai cahaya ke kegelapannya
mengurai suara ke keheningannya
mengurai relief ke perabaannya
mengurai hati ke penunggunya
maka sejak itu
harapan ada untukmu
dedaunan di ranting cemara
sepanjang ahad January 12th, 2003

Saya Akan Menikah! Segera!


06.12.2005 – Saya akan Menikah! Segera!

Malam sepertinya belumlah larut pada saat itu. Jarum pendek jam dinding hanya bergeser sedikit dari angka sembilan sedangkan yang panjangnya tetap berkutat menunjuk ke bawah. Segera saya buka jaket penahan angin dingin setelah berjasa menemani dalam perjalanan rutin setiap Ahad malam.
Tiba-tiba saya teringat hari ini adalah hari paling bersejarah bagi seorang teman. Hari di mana ia mengakhiri masa lajangnya dengan bersedia mendengarkan pasangan hidupnya mengucapkan kalimat yang berat pada walinya dengan disaksikan tatapan haru orang-orang tercinta.
Dengan jarak yang begitu jauh dari tempat tinggal, maka saya pun tidak bisa datang ke tempat walimatul’ursy, untuk turut merasakan dan merayakan kebahagiaan teman saya ini, yang tentunya ia adalah teman dari istri saya juga.
“Sudah di telepon, Mi…?” tanya saya pada istri tercinta.
“Oh iya belum, telepon saja sama Abi?” jawabnya sambil masih asyik bercanda dengan si bungsu.
“Lho, Abi kan sudah dari pagi nyuruhnya. Sebenarnya yang pantas untuk menelepon tuh ya Ummi bukan Abi,” tukas saya. ”Seharusnya ketika kita tidak bisa datang memenuhi undangan itu, minimal teleponlah untuk memberikan dukungan, penghargaan sebagai tanda kepedulian kita,” tambah saya panjang.
“Iya deh, Ummi minta maaf, tapi biar Abi saja deh yang menelepon, mumpung belum terlalu malam,” pintanya.
Tanpa menunggu terlalu lama saya angkat gagang telepon, menekan tutsnya, dan membiarkan dering di seberang sana lama terdengar. “Wah, sepertinya sudah tidur,” pikir saya. Selagi berpikir untuk segera menutup gagang telepon, tiba-tiba suara dari seberang terdengar.
“Halo, Assalaamu’laikum, siapa yah?”
“Wa’alaikumsalam, ini saya Abu Haqi,” jawab saya. “Selamat yah, barokallahulaka wabaroka’alaika wajama’a bainakuma fii khoir,” sambung saya dengan doa pendek.
Terdengar ucapan terimakasih yang bertubi-tubi. Terasa ada kegembiraan dari nada suaranya. Setelah berbincang sebentar menanyakan keadaannya, saya segera pamit undur diri agar tidak mengganggu malam pertamanya itu, dengan tak lupa menitipkan salam kami kepada suami tercinta.
***
Perempuan ini sesungguhnya adalah teman istri saya. Ialah yang turut membantu kelancaran jalannya perjodohan kami, sampai pesta walimahan kami terselenggara, walaupun karena kesibukannya dan jauhnya jarak akhirnya ia tetap tak bisa datang.
Walaupun satu angkatan di kampus, saya tidak begitu mengenalnya bahkan saya baru mengenalnya saat ia bersama-sama dengan Ummu Ayyasy menempuh diklat penyesuaian ijazah di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, di pertengahan 2005.
Ia pula yang menjadikan kami sebagai salah satu topik tulisan pada buku pertama yang ditulisnya. Ia adalah seorang penulis. Berbagai penghargaan atas prestasi dalam dunia kepenulisan telah diraihnya. Saat ini telah lima buku ia tulis dan beredar di pasaran.
Dengan segala kesibukannya sebagai PNS, penulis, relawan, dan pengurus pada sebuah jaringan kader penulis ia tak segan-segan untuk berbagi ilmu dan menyemangati saya untuk lebih concern pada dunia kepenulisan. Memang ia layak menjadi mentor bagi saya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah akhir dari sebuah penantian yang panjang. Ini adalah kado ulang tahunnya yang jatuh Agustus lalu bahkan menurut saya ini adalah kado besar ramadhan mubarak. Who knows?
Pernikahannya adalah ajang untuk membuktikan dirinya sanggup menjalankan seperti apa yang sudah lama ia tulis dulu yaitu “tugas mulia dan jihad utama seorang wanita muslimah adalah di rumah, menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Di sana pula saya memahami bahwa mendidik anak adalah satu kewajiban ibu muslimah yang tidak mungkin dilimpahkan pada pihak lain.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Lanjutnya lagi ia menulis “Menikah akan membuat saya matang. Menikah akan membuat saya lebih banyak belajar. Belajar lebih tegar dan dewasa. Belajar berbagi dan tidak egois lagi. Belajar menenggang perasaan orang lain. Belajar memahami orang lain. Belajar bekerja sama dan menyelesaikan masalah. Belajar menanggung permasalahan yang lebih besar. Belajar bertanggung jawab atas semua tindakan. Saya tahu, di balik kerasnya kehidupan yang harus saya jalani, Alloh akan memberi sarana untuk memudahkan, karena Alloh tidak membebani hambaNya melebihi kemampuannya. Seperti kata Miranda Risang Ayu dalam bukunya Cahaya Rumah Kita: Cakrawala selalu mengingatkan bahwa di atas bumi selalu ada ruang tak terbatas. Di atas prasangka-prasangka subjektif yang cengeng tentang ketidakmampuan seorang manusia, ada ketidakterbatasan yang menjanjikan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan lebih mampu. Syaratnya, hanya berusaha bersandar kepadaNya.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Setelah itu dalam kalimat penutupnya ia pun bertekad: “Kalau begitu, saya akan menikah! Segera!”. Walaupun tekad itu baru dapat terlaksana empat tahun setelahnya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah ajang pembuktiannya untuk menjadi apa yang dicita-citakannya dalam tulisannya yang lain: menjadi ibu. ”Duh, Ibu. Betapa kesederhanaanmu ternyata menyimpan samudera makna kehidupan yang dalam. Kini, jika saya mengisi lembar biodata lagi yang ada isian cita-cita, saya kembali mengisinya dengan mantap: Menjadi Ibu.” (AMR:Menjadi Ibu, 2002).
Dalam episode perjalanannya menuju titik akhir di Ahad indah itu, tahun lalu ia sempatkan membuat sebuah tulisan yang menyentuh sanubari saya, tidak hanya saya yang berbeda gender, tapi bagi begitu banyak perempuan lainnya. Tentang diamnya ia mendengarkan kesah seorang perempuan dalam penantian panjang mencari pendamping hidup. Diamnya ia bagi saya bahkan menjadi kekuatan menghentak qalbu pada tulisannya yang berjudul ”Semua adalah Pilihan”.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah akhir dari pupus dalam sebuah metáfora kaset. Sehingga tak akan pernah lagi untuk me-rewind-nya, setiap kali ia muncul dalam sebuah puisi. Tentu ini pula adalah sebuah pilihan baginya.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah mula bertukarnya kata-kata indah untuk satu orang saja, yang lebih berhak, dan lebih berkah. Tiada untuk yang lain. Tiada hanya pada malam-malam sepi sembari memandang purnama sedangkan ia sudah punya di sudut jiwanya.
Pernikahannya di Ahad kemarin tidak perlu membuat Anda bertanya-tanya. Anda. tentunya tahu siapa dia bukan?
Pernikahannya di Ahad kemarin, ah…sudahlah, sudah cukup, tidak banyak lagi kata-kata yang bisa ditulis, karena tercekat di ujung pena yang kian menipis bila terus menerus menggores kertas. Sarinya adalah selesai sudah penantian itu. Dan sungguh pertolongan Allah akan datang pada orang-orang yang menikah sebagaimana disabdakan al-musthofa dan diriwayatkan oleh Turmudzi, An-Nasa’I, Al-Hakim dan Daruquthni: “Tiga golongan orang yang pasti akan mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang berjihad di jalan Allah.” (Adhim:1998)
Cairan hangat tiba-tiba terasa di pangkuanku. Bukan, ini bukan airmata. Ini….

“Ya Dedek, kalau mau pipis bilang dong, kan Abi sudah bilang, pipis itu di kamar mandi,” sambil mengangkat si bungsu ini yang dari tadi memaksa untuk ikut duduk di depan komputer melihat saya mengetik tulisan ini.
Pernikahan di Ahad kemarin, alaaah…
dedaunan di ranting cemara
mushaf di antara dua AK-47
22.30 – 05 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Hidup Itu Masalah


keterlenaan diri
melesat ke ujung langit
menghunjam ke dasar bumi
dan melupakan semuanya

setitik masalah datang
mengendap-endap
ke sekelumit kehidupan
sampai ke jantungnya
terasa dahsyatnya beliung
dan terpaan badai itu

tersadar
telah melupakan Sang Pemberi Kehidupan
pulanglah diri dalam kekhusuan
agar hilang penestapa diri

sampai saat itu
akankah tetes-tetes
kesyukuran terucap dan
termaktub dalam kehidupan
jika tidak…
tunggulah yang lebih perih sakitnya
karena
hidup itu penuh masalah
dan hanya Dialah pemilik segala kehidupan
mengapa tak kembali….?
dedaunan di ranting cemara
cuma begini saja
awal 2003

Rinduku Jatuh ke Bulan


rinduku jatuh ke bulan

lembayung senja bergulat
tepikan gulungan hitam
lembaran-lembaran awan
menyurut
memakan dirinya sendiri
hingga jepitan malam
kian menelannya sampai tuntas

bulan jadi hiasan sabit
tak kalah sinarnya dengan purnama
menyentuhku
sampaikan salam kerinduan
utuh tiada terpisah
bahkan tanpa goresan sedikitpun

saatnya kini
jika engkau sudi, bulanku…
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa membiru
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa luka menganga
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa akhir masa
rinduku biarkan apa adanya
untukmu, bulanku

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 106
11:26 30 September 2005

Unlimited Inspiration


Unlimited Inspiration
(looking themes for)
Saya berdiri terpaku, lama, di depan lemari buku perpustakaan pribadi yang dipenuhi sesak berbagai macam jenis judul buku. Niatnya untuk mencari tema yang pantas untuk ditulis di akhir pekan ini.
Saya ambil buku serial manajemen, ”Ah…terlalu berat”, pikir saya.
Saya melirik buku Abu Al-Ghifari dengan judul ’Muslimah yang Kehilangan Harga Diri’, ”Wah, gender nih”, pikir saya lagi.
Saya tiba-tiba tertarik dengan tema Janissary, pasukan khusus yang dibentuk di zaman kekhalifahan Ustmaniyyah, yang awalnya berasal dari anak-anak Kristen dari daerah takhlukan, yang kemudian dipelihara dan setelah besar dijadikan tentara pendukung utama. Pasukan ini menjadi pasukan yang paling ditakuti di seantero Eropa juga menjadi bumerang bagi Kekhalifahan itu sendiri hingga akhirnya dibubarkan.
Tema ini menarik karena ada di dalam pakem saya yang sangat menyukai sekali sejarah dunia. Tapi masalahnya adalah untuk mewujudkannya menjadi tulisan butuh membuka banyak referensi. That is a point, saya tidak punya waktu banyak untuk membuka, mencari, dan membacanya saat ini, walaupun buku dengan tema ini ada sepuluh lebih di depan saya. ”Pekan depan saja, lah”, kata saya dalam hati.
Akhirnya saya kembali menuju komputer yang sedari tadi sudah terbuka dengan halaman kosongnya masih setia menunggu untuk segera diisi. Kali ini, mungkin kebuntuan saya mencari tema bisa menjadi tema itu sendiri, ringan, dan instan. Tiba-tiba telepon berdering, seorang teman mengingatkan saya pada acara pagi, siang, dan malam ini. Jadilah tulisan ini terhenti untuk sementara. “Yah, tertunda lagi…”, keluh saya sambil beranjak pergi meninggalkan halaman yang setengah terisi ini, sambil menyuruh Haqi untuk men-save, close, dan silakan bermain game kesenangannya lagi.
***
Kebuntuan mencari tema seringkali menjadi penghalang bagi sebagian kita menulis. Tetapi bersyukurlah bila Anda mengalami hal ini, karena berarti Anda manusia normal. Tanda kebuntuan ini berarti tanda kemajuan bahwa Anda mempunyai kemampuan menulis. Terkadang bagi sebagian orang bukan masalah buntu atau tidak, tapi untuk membuat satu atau dua paragraf saja mengalami kesulitan yang sungguh luar biasa. Selain itu kebuntuan pun menjadi alat untuk mengasah ketajaman Anda dalam melatih diri menulis dan menulis.
Kebuntuan mencari tema bisa disebabkan karena beberapa hal yakni tidak adanya input yang masuk ke dalam otak kita. Input bisa berasal dari mana saja. Dari pengamatan kita terhadap sekeliling atau membaca.
Pengamatan terhadap sekeliling dapat diperoleh dari hasil perjalanan kita sehari-hari yang biasanya luput dari pengamatan orang umum saking menjadi hal yang terbiasa dilihat. Makanya ada sebagian penulis yang salah satu hobinya adalah melakukan travelling. Ini adalah caranya untuk mendapatkan tema-tema new and fresh. Seperti kegiatannya di sepanjang perjalanan menuju kampungnya, masakan khas daerah tertentu, objek wisata dan lain sebagainya, menjadi tema yang menarik untuk diungkap melalui tulisan.
Kegiatan membaca pun menjadi salah satu cara agar volume input menjadi besar. Bahkan bagi sebagian penulis rutinitas membaca menjadi salah satu keharusan untuk bisa tetap eksis di dunia kepenulisan. Dengan membaca ia akan mendapat banyak sesuatu yang baru seperti wawasan, ilmu pengetahuan, bahasa, bangsa, metode, dan masih banyak yang lainnya. Intinya dengan membaca akan memperkaya tulisan-tulisannya sendiri.
Saya tertarik dengan apa yang diungkapkan oleh Tim FLP dalam publikasinya di Bengkel Pena Eramuslim berkaitan dengan pertanyaan apakah penulis harus membaca? ”Kalau menurut kami asumsinya begini, ketika sebuah wadah diisi terus menerus, maka ketika penuh akan tumpah. Nah, demikian juga dengan penulis yang hobby membaca, kalau dia terus menerus membaca, maka akan lebih mudah menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan.”
That’s great. Penuh dan tumpah. Asumsi yang membuat saya meyakini bahwa dengan membaca, otak akan dapat dengan mudah menumpahkan segala isinya ke dalam bentuk tulisan.
Pertanyaan selanjutnya adalah kalau buku atau majalah saja jarang terbeli, bagaimana saya bisa banyak membaca? Sebagai muslim, Anda tentu punya mushaf Al-Qur’an tentunya. Itu saja sudah cukup. Betapa Al-Quran menjadi inspirasi bagi para penulis sedari zaman Rasulullah sehingga begitu banyak umat manusia mendapat hidayah Allah SWT.
Muhammad Fauzil Adhim—penulis buku best seller Kado Pernikahan—menulis sebuah artikel yang berjudul Belajar Menulis Pada Al-Qur’an. Di dalamnya ia mengungkapkan betapa Al-Qur’an memang tak akan pernah habis kalau kita mau menggali dan menggali terus.
Anda tentu mengenal keindahan kata dari para mufasirin seperti Jalaluddin Abdurrahman Assayuti, Jalaluddin Al Mahalli, Al-Baghdadi, Ibnu Katsir, Al Fakhrur Razi, Sayyid Quthb, Hamka, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sudah tentu, karena mereka begitu akrab dengan Al-Qur’an dan memiliki ilmu untuk menafsirkannya.
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi tiada batasnya, maka tiada yang muncul dari tulisan-tulisan itu kecuali berjuta nilai kebaikan dan kebenaran. Untuk itu sudah sepatutnyalah pula Al-Quran menjadi bahan bacaan harian, menjadi rutinitas yang mengoyak qalb, menghancurkan keegoan dan kesombongan, dan menjadi langkah awal kepenulisan.
Pada akhirnya setelah itu, Anda akan menemukan samudera tema yang tiada hentinya menghanyutkan pembaca dalam tulisan Anda. Anda akan menemukan gunungan emas yang tiada habisnya memberi kilauan cantiknya dalam tulisan Anda. Dan Anda tidak akan pernah mengalami hal yang pernah saya alami, lalu Anda akan cukup mengucapkan Goodbye pada kebuntuan mencari tema.
Insya Allah.

dedaunan di ranting cemara
ahad panjang gemilang
14.05 04 Desember 2005

Akhir dari Penantian Panjang


Penantian panjang berakhir sudah

Saya ingat betul, pertengahan Oktober tahun lalu, dua minggu menjelang Ramadhan 1425 H, saya dihadapkan pada situasi di mana saya tak bisa mengakses DSH Net. Seperti yang pernah saya ungkapkan pada tulisan saya sebelumnya dengan judul “tercerabut dari akarnya”, saya mengungkapkan kegalauan perasaaan saya dengan kalimat di bawah ini:
“Aku masih menyempatkan diri untuk menulis di sini. Walaupun timbunan pekerjaan menumpuk di meja dan membauiku. Sudah hampir sembilan bulan lamanya, aku tak pernah lagi melihat dan mengeksplor ditrikpa dan DSH Net. Waktu itu dua minggu menjelang ramadhan, seluruh komputer di kantor ini tak bisa mengakses dua situs itu. Aku yang biasanya mendownload banyak file dari rikpa files, saling berkirim email dengan rikpa mail, dan berdiskusi di DSH Net, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi itu langsung down dan hilfil.” (blog:24 Juni 2005)
Down dan hilang filing, ya begitulah perasaan saya. Betapa saya benar-benar tercerabut dari akarnya. Hingga beberapa lamanya dalam setiap kesempatan, saya berusaha untuk mengakses DSH, namun halaman yang selalu muncul, halaman itu-itu juga: The Page Cannot be Displayed.
Di situlah kerinduan itu muncul begitu saja. Kerinduan akan berita-berita Islamnya yang up to date dan menarik—walaupun sejak itu tergantikan dengan berita-berita dari Suara Islami Online . Diskusinya yang hangat walaupun juga kadang berakhir dengan kata-kata panas dan tidak mengenakkan untuk dibaca, namun semuanya membawa saya pada lompatan ilmu pengetahuan yang lebih dari semula. Ditambah dengan kerinduan menulis artikel di Menu Partisipasi, kerinduan akan menulis pesan di Menu Ucapan, dan lain sebagainya. Sekali lagi kehilangan semuanya yang ada di DSHNet membuat adrenalin kerinduan saya begitu memuncak. Hingga suatu hari…
Hari ini tepat tanggal 01 Desember 2005—hari gajian pula—saya dapat menuntaskan rasa rindu ini setelah mencoba untuk mengetik http://10.254.60.60/ di address Internet Explorer PC saya. Saya enter, dan tiba-tiba, jrengg…, bayangan hitam –ciri khas DSHNet—muncul!! Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bergabung kembali.
Upaya saya mencoba mengklik DSHNet hari ini diawali adanya berita kemarin tentang pengakhiran kontrak pemakaian radiolink—yang selama ini dipakai sebagai jaringan utama pendukung SIDJP KPP PMA Tiga—dan tentang pengalihan jaringannya ke Kabel Vision, yang kata teman-teman di Seksi PDI , jaringannya menggunakan serat optik sehingga kecepatan transfer datanya bisa 1 gigabyte per detik. Wow…Sehingga kelemahan yang selama ini terjadi pada pada radiolink diharapkan tidak akan muncul lagi, misalnya situs-situs intranet yang tak bisa diakses, kelambatan pengiriman data dari KPP ke Kantor pusat atau sebaliknya, dan lainnya. Entahlah terbukti atau tidak, waktu yang akan menentukan.
Dari berita tersebut, akhirnya saya berkesimpulan, ketidakmampuan jaringan di KPP PMA Tiga untuk mengakses DSHNet, juga Ditrikpa, memang bertepatan dengan mulai diterapkannya SIDJP di kantor saya. Sehingga bisa dikatakan penyebabnya adalah ketidakmampuan radiolink yang ringkih dengan situasi perubahan cuaca di Kalibata.
Dan dengan berakhirnya pemakaian radiolink serta dimulainya jaringan baru yang menggunakan Kabel Vision, saya berkesimpulan pula bahwa ketidakmampuan jaringan mengakses DSHNet tidak akan terjadi lagi.
Tapi anehnya, saat saya sedang menulis ini, saya mencoba untuk merefresh DSHNet, dan tidak bisa!! Saya coba buka situs yang lain, dan ternyata tidak bisa semua. Lho, katanya….
Ah, entahlah. Saya harap semua ini karena dalam masa transisi pergantian jaringan. Harapan ini muncul supaya saya bisa bergabung kembali dengan para ikhwah di DSHNet. Harapan yang mini dan tidak absurd, saya pikir. Kalau pun kembali lagi seperti setahun yang lalu. Tapi paling tidak, hari ini saya telah memunculkan pesan pertama itu di DSHNet:
Alhamdulillah, saya kembali bergabung dengan antum semua, setelah hampir satu tahun lamanya berpisah dengan DSHNet dikarenakan jaringan yang tak sanggup untuk mengakses DSH, semoga Allah mempererat tali silaturahim di antara kita. (1-12-2005)
Dikirim oleh dedaunan (10.7.3.192 ) untuk ikhwah fillah

Saya tidak tahu, akankah pesan itu akan menjadi pesan pertama saya atau yang, lagi-lagi, akan menjadi pesan terakhir sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Saya harap tidak untuk yang terakhir ini.
Oh, iya…judul tulisan ini sepertinya tidak tepat.Memang penantian saya sudah berakhir?

dedaunan di ranting cemara
hingga cahaya itu datang kembali
12:49 01 Desember 2005