Legalisasi Lokalisasi Judi


Kita Tak Bisa Berdiam Diri!!!
(Legalisasi Lokalisasi Judi)

Bangsa ini sepertinya tidak sadar-sadar juga dengan banyaknya ujian yang menimpa. Tsunami yang meluluhlantakkan negeri Serambi Mekkah—salah satu contohnya—sebagai suatu peringatan yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh anak cucu, hanya menggugah hati sesaat. Setelah itu dilupakan begitu saja tanpa mengambil ibroh dari peristiwa itu.
Ketidaksadaran itu diwakili oleh adanya para wakil rakyat yang pergi secara diam-diam melakukan studi banding tentang pemberlakuan judi yang berlaku di Negeri Pharaoh, Mesir. Memang sampai saat ini, Malaysia dan Mesir—mayoritas penduduknya Islam—terbilang cukup sukses mengelola perjudian di suatu wilayah khusus.
Ditilik pada masalah perjalanannya saja sudah menuai kontroversi. Di saat jutaan rakyat miskin masih bersusah payah memikirkan bagaimana bisa hidup atau tidak di keesokan harinya, di saat yang sama dengan ongkos yang dibiayai oleh pajak rakyat, rombongan anggota DPR sejumlah kurang lebih dua puluh orang—ikut pula di dalamnya anggota keluarga—pergi ke luar negeri tanpa memikirkan psikologis dari rakyat.
Dengan biaya akomodasi masing-masing sebesar empat puluh juta rupiah, belum termasuk tiket pesawat, perjalanan ini terasa seperti sia-sia, karena dilihat dari jadwal kunjungan yang dibuat hanya setengah hari saja benar-benar dilakukan untuk mengunjungi parlemen Mesir. Selebihnya hanya untuk pergi berwisata dan berbelanja.
Lagi pula kalau ditinjau dari agenda studi banding yakni mencari tahu tentang kesuksesan dalam pengelolaan judi, ini benar-benar keterlaluan sekali. Bagaimana tidak, karena sangat kontras dengan kebijakan dan komitmen yang dibuat oleh Kapolri Baru, Jenderal Sutanto dalam pemberantasan judi di tanah air ini. Pula hal ini— setelah isu terorisme kemarin—kembali menyakitkan hati umat Islam, karena ditinjau dari syariat yang dipeluk oleh mayoritas negeri ini tentu masalah judi ini sudah jelas keharamannya.
Pertanyaannya adalah mengapa perjalanan ini seperti dipaksakan? Dari apa yang diungkap oleh salah satu wakil dari Fraksi Partai Amanat Rakyat yang ikut serta dalam studi banding itu, bahwa perjalanan ini bermula dari adanya proposal yang diajukan oleh Lippo dan Djarum untuk bersedia mengelola perjudian di wilayah khusus. Proposal tersebut juga memberikan banyak jaminan yang menggiurkan, antara lain keuntungan judi itu untuk membangun gedung Sekolah Dasar di seluruh Indonesia dan menjamin kestabilan perekonomian nasional.
Namun semuanya ditepis oleh Jusuf Kalla saat di tanya oleh wartawan tentang hal ini. Ia membantah adanya proposal yang masuk dari Lippo dan Sampoerna (bukan Djarum). Hal senada diaminkan pula oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang langsung menyatakan ketidaksetujuannya.
Memang, di saat pemerintah belum mampu menganggarkan 20% dari APBN untuk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional yang baru, maka tawaran rehabilitasi gedung SD itu menggiurkan sekali. Bahkan sangat membantu program pemerintah. Apalagi ditambah jaminan dapat menstabilkan perekonomian nasional.
Namun hendaknya pemerintah perlu memahami akibat buruk yang akan terjadi bila memaksakan diri membebek ”kesuksesan” dari Malaysia dan Mesir itu. Walaupun dua negara tersebut mayoritas beragama Islam—seringkali ini dijadikan argumen para pendukung judi—hal ini tidak bisa dijadikan alasan kehalalan dalam mengelola perjudian. Siapapun ia, entah pejabat atau kyai, tidak bisa mengubah status hukum dalam agama yang sudah jelas dan terang ini seterang matahari di siang bolong.
Mengapa bangsa ini tidak mencari kesuksesan-kesuksesan yang ada di negara lain tanpa melanggar ketentuan yang Allah gariskan? Terkecuali kalau memang sebagian besar bangsa ini mau menjadi teman Ali Sadikin yang rela untuk masuk neraka. Na’udzubillah.
Betul sekali di dalam judi ada manfaatnya, mungkin salah satunya di atas tadi. Tapi sungguh Allah telah menyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada manfaatnya itu. Para ulama, ustadz, kyai, bapak guru sudah berbusa mulutnya menyitir ayat ini:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan Judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
Atau dengan ayat ini:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al-maa’idah:90)
Dan ini pula:
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al-maa’idah:91)
Tidak ada yang didapat dari para penjudi kecuali 5 perkara yakni gelar sebagai pendosa, pengikut perbuatan syaitan, orang yang sial (tidak beruntung), penyebar permusuhan dan kebencian, dan orang yang lalai dari mengingat Allah dan Sholat.
Satu lagi adalah timbulnya kerusakan di muka bumi yang tidak hanya dirasakan oleh para penjudi atau pendosa itu tapi dirasakan pula oleh orang-orang yang berbuat kebaikan. Tidakkah mereka sadar dengan firman Allah ini:
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.(Arrum:41)
Ibnu Qoyyim al-Jauza’i dalam kitab ad-Da’u wad-Dawa’ (Indonesia: Therapi Penyakit Hati) menulis:
”Suatu ketika Rasulullah saw bersama para sahabat melewati perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang mereka memasuki perkampungan tersebut, sehingga mereka meminta diizinkan sambil menangis. Rasulullah juga melarang meminum air mereka. Sehingga beliau memerintahkan agar roti (adonan) yang diadon dengan air mereka diberikan kepada onta-onta kandang, yang tidak digembala. Karena air pada kaum Tsamud terdapat bekas maksiat, dan juga pengaruh keburukan dosa-dosa yang nampak dalam berkurangnya buah dan segala sesuatu yang dapat dilihat dengan berbagai kejelekan dan kerusakan.” (p:120).
Akahkah kita belum sadar atas semua akibat yang akan ditanggung?
Kemudian apa jadinya dengan generasi penerus bangsa ini yang pendidikannya dibiayai dari uang judi? Kecuali yang akan muncul adalah kerusakan yang semakin parah melanda bangsa ini. Tiada ’nyala api’ keberkahan karena ia sudah dipadamkan dengan banyaknya ’air’ dosa yang disiramkan.
Pula mengapa para wakil rakyat kita menuruti keinginan dari segelintir orang yang hanya berkeinginan mengeruk keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan perasaaan mayoritas bangsa ini. Bila hal ini dipaksakan maka senyatanya adalah tirani minoritas. Dan kita tentu sudah tahu siapa di balik dua konsorsium besar itu.
Jikalau benar salah satu konsorsium itu adalah kelompok yang menjual saham perusahaan rokoknya kepada asing dan mendapat dana triyunan rupiah, maka sudah pasti banyak yang akan tergoda dengan iming-iming besarnya rupiah itu sebagai upaya menggolkan investasi barunya.
Di zaman dan di dalam negeri dimana duit sudah berbicara banyak maka ini benar-benar suatu perjuangan berat bagi para anak bangsa yang masih menginginkan negeri ini menjadi ’baldatun toyyibatun warobbun ghoffur’, untuk melakukan penentangan keras terhadap ide setan ini.
Pembentukan opini, demonstrasi, lobi-lobi, memperkuat jaringan antarindividu, ormas, dan partai Islam menjadi suatu hal yang niscaya untuk dilakukan sebagai wujud penentangan keras itu. Pula dengan pemantauan terhadap gerak-gerik para selebritis senayan perlu dilakukan agar tidak ada yang disembunyikan, disamarkan, dan supaya tidak kecolongan.
Jika semua berdiam diri, maka jangan pernah salahkan FPI dan sebagian dari komponen bangsa ini untuk turun tangan memberantas perjudian ini hatta berhadapan dengan laras panjang dan stigma teroris yang akan melekat padanya. Karena sesungguhnya mereka adalah yang membuat gentar, yang membuat takut, yang membuat gemetar para pecinta kebatilan dan kemaksyiatan.
Kita tidak bisa berdiam diri!!!
Tidak…!!!
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’: – Berita pagi dan siang SCTV, 17 Desember 2005
– Therapi Penyakit Hati; Pustaka Mantiq, 1996

dedaunan di ranting cemara
sedang menantikan tobatnya anggota DPR RI.
12:24 17Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Tumpukan Arsip Berdebu


16.12. 2005 – Tumpukan Arsip Berdebu

Halaman ini memudahkan saya untuk mencari arsip di blog saya sendiri. Karena melihat arsip pada menu yang disediakan oleh template blog kurang mendukung. Saya harus terlebih dahulu mengetahui di bulan mana arsip yang hendak saya buka itu berada. Padahal saya sudah lupa arsip itu di posting di bulan apa.
Oleh karena itu saya membuatnya dalam satu halaman penuh tanpa dibatasi pilihan bulan. Tentu dengan adanya ini saya perlu bersusah payah untuk membuat kategori tersendiri, sehingga memudahkan saya dan pembaca lainnya untuk mengakses arsip ini. Yang paling penting adalah saya harus selalu mengupdatenya secara rutin, minimal setiap akhir bulan, agar kebaruan arsip selalu terjaga.
Itu saja dari saya, dan Anda tinggal menikmati saja halaman ini.
Arsip Desember 2005
Friday, December 16, 2005: Prajurit-prajurit Peradaban
Thursday, December 15, 2005: scramblezone@halaqoh
Wednesday, December 14, 2005: Cuma Kisah Sederhana 3: Sang Syekh
Tuesday, December 13, 2005: Cuma Kisah Sederhana (2)
Monday, December 12, 2005: Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat (Norak Banget sih elo)
Monday, December 12, 2005: Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users (Fenomena User Bodong)
Monday, December 12, 2005: Sedia Payung Sebelum Hujan (Pujian)
Monday, December 12, 2005: Cara Jitu Menjadi Top1 Active Blogs
Friday, December 9, 2005: Ma’rifatul Maydan (Journey to Palangkaraya)
Friday, December 9, 2005: The Real Bloggers
Friday, December 9, 2005: POEM: Abang Jampang, di antara Batavia dan Jakarta
Wednesday, December 7, 2005: POEM: Peluru Penghias Jantung
Wednesday, December 7, 2005: Kutunggu Jandamu
Tuesday, December 6, 2005: POEM: detik berlalu
Tuesday, December 6, 2005: Saya akan Menikah! Segera!
Tuesday, December 6, 2005: Poem: Hidup itu Masalah
Tuesday, December 6, 2005: Unlimited Inspiration: Looking Themes For
Tuesday, December 6, 2005: akhir dari penantian panjang?
Arsip November 2005
Wednesday, November 30, 2005: rinduku jatuh ke bulan
Wednesday, November 30, 2005: RALAT: Ada Pajak di antara Penulis dan Penerbit
Monday, November 28, 2005: pajak di antara penulis dan penerbit
Monday, November 28, 2005: Kisah Sederhana
Thursday, November 24, 2005: Bersegeralah Menikah… (Berita Baik)
Thursday, November 24, 2005: jig…
Monday, November 14, 2005: Hari ini, Saatnya Mencicipi Panganan Khas

Arsip Oktober 2005
Tuesday, October 25, 2005: 100th: Keranda di Balik Kabut II
Monday, October 24, 2005: Berbuka Puasa Bersama dengan DIRJEN: ada keabadian yang lebih kekal
Thursday, October 20, 2005: Para Ustadz Pelayan TPT
Thursday, October 20, 2005: Mencoba Hidup Tanpa HP
Friday, October 14, 2005: NEW TEMPLATO EDITION: Keranda di Balik Kabut I
Wednesday, October 12, 2005: ramadhankan hatiku*)
Friday, October 7, 2005: dirimu memang bermakna?
Friday, October 7, 2005: ramadhanku adalah…
Thursday, October 6, 2005: jangan lagi kau genggam diam itu
Arsip September 2005
Thursday, September 29, 2005: Hah, Haqi Ranking Dua?
Tuesday, September 27, 2005: Belanja Buku di Semarang dan Perang Eropa (plus satu foto)
Tuesday, September 27, 2005: Kantor Pos Besar Semarang, Kota Lama, dan Dugderan
Tuesday, September 27, 2005: Sebuah Foto: dua bocah dan dua lilin
Friday, September 16, 2005: Rehat Sejenak…
Friday, September 16, 2005: sesaat dengan pesona Jepang
Wednesday, September 14, 2005: semua yang terindah
Tuesday, September 13, 2005: Belanja Buku Bekas
Tuesday, September 13, 2005: Kisah Klan Otori
Monday, September 12, 2005: Bhre Nurmahmudi: Adipati Depok?
Monday, September 12, 2005: aku merinduimu
Monday, September 12, 2005: Tan Tjuan Tay
Friday, September 9, 2005: kita ini bermoral atau tidak sih…?
Friday, September 9, 2005: Gus, jangan kau katakan “walanaa a’maalunaa walakum a’malukum” kepadaku
Thursday, September 8, 2005: DEMOKRASI BERMUKA DUA vis a vis SYURA
Monday, September 5, 2005: dua perempuan dengan puisi
Monday, September 5, 2005: Kemana Pajak Penerangan Jalan Kami?
Thursday, September 1, 2005: Gempita Allah Akbar
Arsip Agustus 2005
Monday, August 29, 2005: menulislah dengan hati
Monday, August 29, 2005: rangkullah matahari
Monday, August 29, 2005: purnama di sudut jiwa*)
Monday, August 29, 2005: pahlawan pencicil rumah
Monday, August 29, 2005: mengenangmu
Monday, August 29, 2005: sekumpulan bangau
Friday, August 26, 2005: uzurnya raja
Friday, August 26, 2005: hamba dari malam hingga pagi
Tuesday, August 23, 2005: Tutorial Hacking: Short Message Box Kanwil Jakarta Khusus Lemah
Monday, August 22, 2005: Here I am?
Monday, August 22, 2005: ada jauh setelah nun
Friday, August 19, 2005: akhirnya saya pindah ke KPP PMA Empat (fenomenal)
Friday, August 19, 2005: I’m not a bird
Friday, August 19, 2005: Mencari ID untuk Merubah Display Name di FORDIS
Thursday, August 18, 2005: sms ini membuatmu menangis
Tuesday, August 16, 2005: hidup itu bukan sebait lagu
Monday, August 15, 2005: merdeka pun aku tetap mati…
Friday, August 12, 2005: dedaunan itu…
Wednesday, August 10, 2005: ukhuwah islamiyah for moslem brotherhood
Tuesday, August 9, 2005: satu hilang tumbuh seribu
Monday, August 8, 2005: lontar dari Kadipaten Depok
Monday, August 8, 2005: Nurmahmudi…(antara Majapahit dan Pajajaran)
Friday, August 5, 2005: pecinta kata-kata
Thursday, August 4, 2005: semakin menghijau
Thursday, August 4, 2005: sepenggalah suluh untuk kawan
Wednesday, August 3, 2005: aku cinta pelangimu
Wednesday, August 3, 2005: kia tak selalu berakhir dengan mat
Tuesday, August 2, 2005: @–tadi malam–@
Tuesday, August 2, 2005: kepada kawan yang mau selingkuh (tak selamanya bisa something must have left untold)
Monday, August 1, 2005: kau adalah ia
Monday, August 1, 2005: Memotret SBY dan berpose dengan Nurmahmudi Ismail, Anggota DPR RI, dan Menteri Pertanian
Monday, August 1, 2005: Provinsi Bogor Raya (Bogor, Bekasi, Depok, Cianjur, dan Sukabumi)
Monday, August 1, 2005: Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)
Arsip Juli 2005
Friday, July 29, 2005: ~~~~ menulis itu gampang*) ~~~~
Thursday, July 28, 2005: @-HARI INI AKU TERPUKUL TELAK-@ (doakan saya….)
Wednesday, July 27, 2005: hanya sebuah: BUKU TAMU
Wednesday, July 27, 2005: both sides perspective (kasus lupa absen)
Tuesday, July 26, 2005: @-;—-our mosque—-;-@
Tuesday, July 26, 2005: selembar daun mulai menguning
Monday, July 25, 2005: aku takut mati
Monday, July 25, 2005: ceri, monyet, dan tukang ojek
Monday, July 25, 2005: puisi yang muda yang naif
Friday, July 22, 2005: ~~~kamar-kamar hati~~~
Thursday, July 21, 2005: Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)
Wednesday, July 20, 2005: ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Tuesday, July 19, 2005: *~~~~SELAKSA HARAP SEKEPING HARU~~~~*
Monday, July 18, 2005: ~~~mengemis~~~
Monday, July 18, 2005: 5 dasawarsa 12 purnama
Thursday, July 14, 2005: resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem
Tuesday, July 12, 2005: 1000 dan 1 Malam (Alfu Lailah Wa Lailah)
Monday, July 11, 2005: Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?
Friday, July 8, 2005: almari penuh buku: (kuwariskan ini padamu, nak…)
Thursday, July 7, 2005: teruntuk azimah: hari ini aku balas emailmu (memburu buku di kwitang)
Wednesday, July 6, 2005: pelajaran hari ini: ATM saya tertelan
Tuesday, July 5, 2005: biarkan aku menulis hari ini
Monday, July 4, 2005: dua kertas dan satu kamboja
Friday, July 1, 2005: Sakury dan PT Newmont Minahasa Raya, 13th Salary
Arsip Juni 2005
Wednesday, June 29, 2005: senyum sore
Tuesday, June 28, 2005: Guru Kehidupan Dan Sebuah Kenangan
Monday, June 27, 2005: sehelai nasehat dalam sepucuk surat untuk kalian
Monday, June 27, 2005: malam ahad: we are never too old to learn
Friday, June 24, 2005: tercerabut dari akarnya
Monday, June 20, 2005: menoreh di kacanya, die…(2)
Monday, June 20, 2005: trial by the press
Thursday, June 16, 2005: ruqyah kemarin, ghanimah, akhirat itu kekal.
Wednesday, June 15, 2005: seminggu lebih…nb: Ust. Rahmat Abdullah, dan Ruqyah
Arsip Mei 2005
Monday, May 30, 2005: Melatiku di Sabtu Malam
Friday, May 27, 2005: kenapa harus FPI gitcu loh…
Wednesday, May 25, 2005: A Comme Amour
Monday, May 23, 2005: the black heroes
Friday, May 20, 2005: semboerat tempo doeloe:
Friday, May 20, 2005: preambule
Friday, May 20, 2005: KINGDOM OF HEAVEN

scramblezone@halaqoh


15.12.2005 – scramblezone@halaqoh

Tidak biasanya saya begitu bersemangat dengan chatting kali ini. Dan sudah lama saya tidak antusias dengan mIRc sejak tahun 2003. Script-script yang saya punyai dan saya kuasai dulu hilang dan tidak saya kuasai lagi. Hingga untuk mengucapkan dan menjawab salam saja harus ketik panjang dan tentu ditambah kesalahan ketik. Namun kali ini setelah jaringan di kantor lebih cepat daripada tiga minggu kemarin, saya mencoba mengikuti dunia perchatingan, tentu disela-sela pekerjaan yang kini semakin menepis persediannya untuk diselesaikan.
Awalnya biasa saja, setelah itu–tepatnya kemarin–saya begitu bersemangat. Ada game baru di #halaqoh, scramblezone namanya. Menjawab pertanyaan yang diajukan si bandar dengan jawaban berupa huruf yang sudah diacak sedemikian rupa. Yang berhasil menjawabnya maka akan mendapatkan nilai 1. Semakin banyak dia berhasil menjawab maka ia akan memperoleh nilai 1 yang lebih banyak.
Saya pernah mengenal permainan ini, dulu, tapi swear, saya tidak tertarik. Namun ada bedanya kali ini di #halaqoh. Pertanyaannya berkisar di dunia Islam, mulai nama-nama kota negara Islam sampai urusan fikih. Jawaban yang terkadang konyol sampai-sampai membuat saya tertawa, lucu banget. Permainan ini terkadang tidak melihat soalnya terlebih dahulu asal ia ingat susunan huruf apa yang diacak, bisa langsung dijawab tapi kalau begini terkadang ngaco.
Contohnya ini:
» Petunjuk : merk
» Huruf : qomcap preorsai
Saya jawab: capgomeh barongsai, ternyata salah. Memang kagak nyambung. Yang benar adalah compaq presario.
Ada juga yang protes, dilayarnya dia yang pertama menjawab tapi ternyata ia tidak mendapat point 1, keduluan sama yang lain. Tapi memang ini semua tergantung siapa yang masuk terlebih dahulu ke komputer si bandar. Berarti kualitas jaringan berpengaruh terhadap kecepatan menajwab. Bisa saja ia duluan menjawab tapi jaringannya sedang jelek, maka-siap-siap saja jawabannya didahului sama yang lain. Yang parah, banyak juga yang sudah dapat nilai banyak tapi jaringannya juga jelek dan tiba-tiba ia terputus dari koneksi atau disconnected, maka disaat ia kembali lagi ia harus mengumpulkan nilai dari nol lagi. Sungguh malang…But, the game is the game. Namanya juga permainan, terima sajalah. (hehehehe, maaf yah).
Terkadang juga koma di atas (tuts sebelah angka 1) yang diinginkan si Bandar tidak sama dengan koma di atas (tuts dekat enter) yang dimaksud oleh para peserta, maka kalaupun ngetik sampai benjut juga ya tetap salah. Juga kalau si bandar kehabisan pertanyaan, maka ia kasih soal yang kayak gini:
» Petunjuk : bandar kentekan soal
» Huruf : temmu
Bagi orang Jawa, soal seperti ini gampang banget. Jawab saja: mumet, selesai. Saya dapat poin satu. Tapi bagi yang bukan orang Jawa, waduh…ini yang susah. Makanya saya sarankan kepada si Bandar supaya beli atau pinjam buku ensklopedia dunia Islam yang ada 6 jilid itu untuk bisa membuat soal yang bermutu gitu (bukan begitu enigma???:-)
Betewe, untuk permulaan permainan ini asyik banget buat mengisi waktu luang. Tapi jangan sampai lupa pekerjaan yah…
Allohua’lam bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
salam buat mas squall, mbak al1f1a, enigma, dll dah…
15:36 15 November 2005

Cuma Kisah Sederhana (3)


Cuma Kisah Sederhana (3)

Dalam sebuah halaqoh (pertemuan) di sebuah masjid di bilangan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang Syekh berasal dari Timur Tengah yang juga veteran perang Afghanistan sedang memberikan taushiyah kepada sekelompok anak muda yang dengan tekun menyimak semua perkataannya dengan bantuan seorang penerjemah.
Pada saat mereka asyik mendengarkan, tiba-tiba Sang Syekh terdiam saat melihat kedatangan seorang tua yang memasuki masjid tersebut. Ini membuat yang lainnya terheran-heran. Ditambah pula Sang Syekh tidak lagi melanjutkan taushiyahnya. Bahkan beliau meminta semua hadirin yang ada dalam halaqoh tersebut untuk diam sejenak.
Sang Syekh tampaknya tertegun dan terus memandangi orang tua yang saat itu sedang melakukan shalat. Beberapa saat, orang tua itu sudah menyelesaikan shalatnya. Setelah berdzikir dan berdoa, ia pun melangkahkan kakinya keluar masjid sambil tak lupa mengucapkan salam kepada peserta halaqoh.
”Subhanallah,” seru Sang Syekh.
”Ada apa Ustadz?” seorang hadirin bertanya keheranan.
”Masya Allah,” ucap Sang Syekh tidak menjawab.
”Memang ada apa Ustadz?” tanya hadirin yang lain.
Terlihat Sang Syekh masih melantunkan dzikirnya lagi nyaris tanpa terdengar. Hening sejenak.
”Tahukah kalian apa yang sedang aku rasakan,” tanya Sang Syekh dibantu oleh penerjemah.
”Tidak Ustadz!,” jawab hadirin hampir serentak.
”Saat aku melihat orang tua yang memasuki masjid tadi, hatiku langsung tergetar. Aku merasakan keteduhan yang sungguh luar biasa saat melihatnya. Aku merasakan seperti ada cahaya yang memancar darinya. Cahaya ketenangan. Cahaya yang hanya dimiliki oleh para orang sholih. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bangun di sepertiga malam terakhir. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Mahasuci Allah dan Segala Puji hanya untuk Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang tua sepertinya,” tutur Sang Syekh panjang.
”Oleh karena itu aku meminta kalian untuk diam sejenak sampai orang tua itu selesai melaksanakan hajatnya. Sambil aku menikmati apa yang Allah berikan kepadaku. Nikmat merasakan ketenangan, kekhusyu’an, dan keteduhan dari orang tua itu. Sungguh, sungguh, sungguh luar biasa orang tua itu,” lanjutnya lagi. “Aku harus belajar banyak kepada dirinya, kepada kalian aku sarankan pula untuk menggali ilmu padanya.”
”Tahukah kalian siapakah dia?” tanya Sang Syekh kepada para hadirin.
”Ia adalah pemilik yayasan pendidikan Islam di sebelah Masjid ini Ustadz, ”jawab salah satu hadirin. ”Masjid ini pun dikelola oleh yayasan tersebut.”
”Ustadz Hasib namanya.”
***
Natijah (buah) dari keimanan seseorang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya, yang tentunya pula memiliki kadar keimanan yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan dalam tataran orang biasa pun natijah itu dapat dirasakan. Dengan tutur katanya yang halus, keteduhan yang terpancar dari wajahnya, sikapnya yang lemah lembut, pancaran mata yang menyejukkan, tiada yang keluar dari mulutnya kecuali kebaikan dan hujjah yang kuat.
Dengan keteguhan, kesabaran, dan kesalihan yang ia miliki maka siapa yang tidak mengenal Ustadz Hasib, seorang yang menjadi ’awwalun’ dalam pergerakan dakwah kontemporer di bumi Indonesia ini. Yang kemudian pergerakan tersebut memasuki dan menempuh salah satu dari sekian banyak wasilah (sarana) dalam berdakwah, menjadi sebuah partai Islam berlambang dua bulan sabit yang mengapit padi menguning.
Saatnya semua itu tidak hanya dirasakan oleh Sang Syekh, tapi seluruh umat di penjuru tanah air ini, bahkan kepada semua golongan. Karena sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil’alamiin.
Allohua’lam bishshowab.

dedaunan di ranting cemara
masih mencari kisah-kisah pencerahan lainnya
22:42 12 Desember 2005

Kisah Sederhana (2)


Cuma Kisah Sederhana (2)
Lagi, dengan Indra, setelah di kisah sebelumnya ia menceritakan tentang ban motornya yang ditambal oleh orang yang tak dikenal dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka pada ramadhan yang lalu, kita akan mendengarkan kisah tentang kemudahan-kemudahan yang ia dapatkan, tentang pertolongan yang Allah berikan kepadanya.
Kali ini, saat istrinya mengalami kehamilan yang ketiga kalinya, Indra mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam masalah finansial. Sedari awal ditemukannya tanda-tanda kehamilan istrinya itu, ia sudah mulai menabung sedikit demi sedikit. Mulai dari biaya persalinan sampai biaya untuk melestarikan sunnah rasul dengan menyelenggarakan walimatul’aqiqah.
Tiga minggu menjelang hari kelahiran anak ketiganya ini ia didatangi saudara pembantunya, sebut saja Pak Hasan. Karena sedang ditimpa kesulitan, Pak Hasan meminta dengan sangat kepada Indra untuk dapat meminjamkan uangnya. Indra tidak bisa berbohong. Ia mengakui bahwa ia memang mempunyai uang. Tapi sesungguhnya uang itu untuk dipergunakan sebagai persiapan biaya persalinan dan aqiqah.
Pak Hasan mendesak dan memohon kepada Indra untuk dapat membantunya. Ia berkali-kali menegaskan bahwa ia sanggup untuk melunasi utangnya segera. Hati Indra pun luluh. Ia bersedia meminjamkan uang tersebut asal pada saat ia akan melaksanakan aqiqah uang itu sudah ada pada dirinya. Pak Hasan pun menyanggupi.
Kemudian pada hari H, persalinan istrinya tidak begitu berjalan lancar. Setelah beberapa jam dilahirkan kelainan mulai diderita si bayi perempuan ini, kulitnya mulai menguning. Ibu bidan yang membantu proses persalinan sudah angkat tangan dan menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Alhasil bayi perempuannya diinap di sebuah rumah sakit ibu dan anak di kawasan Depok. Dengan tabungan yang sudah berkurang ditambah asuransi dari perusahaannya ia memperkirakan dapat menutupi seluruh biaya pengobatan dan rawat inap. Terkecuali untuk biaya aqiqah.
Selagi dia ditimpa kesusahan itu, ia tetap bertekad untuk menyelenggarakan aqiqah pada hari ketujuh. Dan apa yang dijanjikan oleh Pak Hasan untuk mengembalikan uangnya pada saat itu tidak terlihat tanda-tandanya. Indra pun segera mendatangi rumah Pak Hasan. Hasilnya nihil, Pak Hasan tidak sanggup melunasi utangnya pada saat itu, malah menyarankan kepada Indra untuk mengambil harta bendanya sebagai biaya pelunasan utangnya. Apa mau dikata, Indra tidak tega dan tidak mampu untuk melakukan itu. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Citanya untuk ber-’ittiba kepada rasul tercinta bakal tidak terlaksana. Cuma satu yang ia yakini sampai detik itu dan detik-detik ke depan, bahwa sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
Keesokan harinya, selagi ia bersiap-siap untuk pergi menggantikan istrinya menjaga bayinya. Indra didatangi Pak Hasan. Ia mangaku bahwa semalam tidak bisa tidur karena memikirkan utang yang tidak dibayarnya itu. Pak Hasan menawarkan kepada Indra untuk bersama-sama pergi ke kakaknya di kampung sebelah. Di sana kakaknya Pak Hasan akan membayar semua utangnya itu.
Kakaknya Pak Hasan menyambut dengan hormat sekali kepada Indra—yang menurutnya terlalu berlebihan. Sepertinya kakaknya Pak Hasan ini sangat berterima kasih sekali kepada Indra karena telah sudi membantu adiknya itu. Kakaknya menawarkan kepada Indra untuk mengambil dua ekor kambing paling besar yang ada di kandang belakang rumahnya. Katanya ini adalah sebagai pelunasan utang adiknya.
Kalau dihitung dengan uang yang Indra pinjamkan kepada Pak Hasan, dua ekor kambing itu benar-benar melebihi jumlah utangnya. Akhirnya ia membawa kambing-kambing itu ke rumahnya. Satu kambing ia niatkan untuk aqiqah anak perempuannya, sedangkan satunya lagi ia niatkan untuk memberikannya kepada fakir miskin.
Keesokan harinya, setelah beberapa hari di rawat, bayinya mengalami kemajuan kesehatan dan diperbolehkan untuk pulang. Acara aqiqah itu pun segera dilangsungkan dan berlangsung lancar dengan mengundang sanak saudaranya, tetangga-tetangganya, serta fakir miskin.
***
Subhanallah, kesabarannya membuahkan hasil berupa ketaatannya kepada Rasululloh SAW, kemampuannya berinfaq, kesehatan anaknya, serta satu lagi adalah hatinya yang semakin kaya, karena ia sanggup menolong pada saat dirinya dalam keadaan sulit.
Manusia sudah wajar dapat membantu sesama pada saat lapang, walapun demikian masih banyak juga orang yang pada saat lapang tidak berkemampuan untuk membantu sesama, apalagi pada saat dalam keadaan sempit. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita, untuk selalu bertekad dan bersabar dalam melaksanakan sunnah Rosulullah dalam keadaan sempit ataupun lapang, kecil ataupun besar. Setelah itu nantikan saja pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Allohu’alam.

dedaunan di rantig cemara
berusaha menjadi baik
10:02 13 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan02@telkom.net
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat


12.12.2005 – Pertama Kali Pegang Tiket Pesawat (Norak Banget sih elo)

Hari ini saya mendapatkan tiket pesawat terbang ke Palangkaraya, setelah hari jum’at kemarin booking tiket di salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Semula dengan harga normal tapi dengan trik yang jitu dari bagian marketing maskapai itu saya boleh dapat harga murah dengan syarat saya membayarnya hari itu juga. Selisihnya cuma empat puluh ribuan.
Setelah utang kesana-kemari, maklum SPPD belum juga turun, saya mendapatkan tiket murah yang bisa diambil pada hari Senin ini. Sekarang tiket ini ada di tangan saya. Ceritanya pertama kali nih saya berangkat bepergian dengan pesawat terbang, berarti pertama kali pula saya pegang tiket pesawat. Tidak ada bedanya dengan tiket bus eksekutif, tapi memang beda dengan tiket kereta api. Nggak ada keanehan apapun yang terjadi (emang apaan sampai nanyain yang kayak ginian?).
Saya memperhatikan dengan seksama apa yang ada dalam tiket itu. Tulisannya, gambarnya, pesan-pesannya, jadwal penerbangannya, dan peraturannya yang njlimet itu. Pakai bahasa Inggris lagi, eh nggak ding ada terjemahannya juga. Selain tiket itu ada juga invoice dari maskapainya entah gunanya apa saat di penerbangan nanti. Hehehehe…norak banget sih lo.
“Please, don’t laugh me. It’s my first experience,” gue yang ada di sono ngomong kayak gini.
“Ya, tapi jangan norak kayak gitu dong, malu-maluin gue aja lo sampe diliatin kayak gitu. Sekalian aja elo kekepin,” gue yang lain ngomong juga.
“Nggak kayak gitu-gitu amat lah” jawab gue lagi.
***
Seumur hidup, saya hanya bisa bermimpi untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Tapi kali ini Allah memberikan kesempatan emas kepada saya. Ditambah dengan regulasi penerbangan membuat harga tiket antarmaskapai penerbangan menjadi bersaing dan bisa terjangkau oleh semua kalangan. Sehingga ada salah satu maskapai penerbangan dengan harga tiket murahnya mempunyai motto “we make people fly”. Wow…
Dan walaupun masih ada tanda tanya tentang angkutan menuju bandara apa yang pas buat saya , juga dengan situasi di bandara Soekarno Hatta yang tidak saya ketahui, ditambah dengan suasana bandara di Palangkaraya, saya cuma bisa berdoa saja semoga Allah memberikan keselamatan atas perjalanan saya yang pertama kali begitu jauhnya ini.
Suatu saat saya akan menceritakan kepada Anda semua, betapa noraknya saya menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Soekarno Hatta dan Palangkaraya. Tunggu saja kenorakan saya ini.
dedaunan di ranting cemara
norce
17:25 12 Desember 2005

Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users


Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users (User Bodong)

Sampai detik ini masih saja ada yang tanya bagaimana penentuan blogger dikategorikan sebagai Top Popular Users? Kriterianya apa sih supaya bisa dimasukkan dalam daftar yang berada di sebelah kiri paling bawah halaman utama CiBlog itu?
Kalau Anda membuka sebuah blog, di sana disediakan menu membuka profil atau jatidiri dari yang mempunyai blog tersebut. Menunya adalah View my profile. Jika Anda mengklik menu itu, maka akan dimunculkan halaman User Profile. Contohnya di profile saya sendiri, halaman itu berjudul User Profile: dedaunan.
Pada halaman tersebut ditampilkan berbagai macam informasi, seperti info tentang weblog, name, gender, birthday, location, about me, interest, entries written, comments written, comments received, signup date, last login, my friends are, dan terakhir I’m a friend of.
Nah ini dia, yang disebut terakhir ini menjadi kriteria Anda masuk dalam daftar itu atau tidak. I’m friend of ditampilkan dengan jumlah yang berada di dalam tanda kurung. Ditampilkan pula nama teman-teman blogger yang memasukkan Anda sebagai teman mereka.
Jadi untuk bisa masuk dalam daftar Top Popular Users, teman-teman blogger Andalah yang menentukan. Anda bisa meminta terus terang kepada mereka untuk menjadi teman. Anda bisa meminta mereka untuk me- manage friends dan klik Add Friends. Dengan menghiba-hiba atau dengan kesukarelaan mereka karena Anda telah begitu banyak memberikan komentar atas segala postingannya. Mereka tentu tidak enak, masak Anda begitu perhatian, tapi mereka tetap juga tidak menjadikan Anda sebagai teman. Teganya, hiks…
Atau dengan memberikan postingan yang berkualitas sehingga memberikan kesadaran atau pencerahan kepada teman blogger yang lainnya. Dan tentu mereka pun akan sukarela menjadikan Anda sebagai teman mereka, karena Anda selalu memberikan yang terbaik buat mereka. Anda tampil dalam daftar Top 20 Popular Users berarti memang Anda layak dijadikan teman oleh blogger yang lain.
Tapi lagi-lagi ada cara pintas supaya minimal Anda masuk menjadi Top 20 Popular Users, bahkan menjadi Top 1 Popular Users. Cara ini lagi-lagi hanya dilakukan oleh para blogger yang hanya mencari popularitas. Mereka tidak memerdulikan cara sehat dan performance diri mereka lagi. Mereka tidak perlu menghiba-hiba kepada teman blogger atau pendatang baru agar dijadikan teman. Mereka tidak perlu memberikan postingan yang berkualitas kepada teman-teman blogger lain. Caranya?
Sebelumnya saya ingatkan bahwa apa yang saya tulis ini adalah dalam rangka pembelajaran belaka dan dalam rangka supaya Anda dapat mengetahui berbagai macam shorcut dalam mencapai tujuan jangka pendek ini. Selebihnya tidak. Apabila ada yang sampai berbuat di luar itu, maka semuanya diluar tanggung jawab saya (hehehe… enak saja).
Caranya adalah pertama Anda menentukan waktu yang tepat untuk melakukan ini. Mencari waktu supaya Anda dapat dengan cepatnya melakukan transfer data. Berarti waktu yang tepat adalah saat-saat di luar jam kerja. Saat itulah kecepatan akses dan transfer data bisa tercapai dengan maksimal.
Setelah Anda menentukan waktunya, Anda hanya cukup dengan membuat 30 user baru setiap harinya. Namanya bisa apa saja. Ini tentu butuh password. Supaya Anda tidak lupa, buat saja satu password yang sama untuk 30 user itu atau passwordnya samakan saja dengan nama usernya. Baru setelah itu di setiap user Anda cuma me-Manage Friends dan tinggal tulis nama user yang Anda inginkan menjadi Top 1 Popular Users, setelah itu klik Add Friends. Selesai.
Hal yang sama Anda lakukan terhadap 29 user bodong lainnya. Esoknya Anda lakukan hal yang sama dengan membuat 30 user bodong. Dalam jangka waktu 7 hari nama user Anda yang sebenarnya (asli) bisa menjadi Top 1 Popular Users. Melampaui Pj dan Maverick. Atau kalau memang Anda berambisi sekali dan tidak mau terlalu lama menunggu, Anda bisa membuat user bodong itu seharian, sebanyak-banyaknya—itu pun kalau Anda sabar dan mampu. Tapi sudah jelas Anda bukan The Real Blogger.
Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Sekali lagi ini cuma tutorial belaka. Correct me if I wrong.

(Saya tidak tahu apakah ini satu-satunya shortcut atau ada yang lain).

dedaunan di ranting cemara
good and bad
15:39 12 Desember 2005

Sedia Payung Sebelum Hujan (Pujian)


Dalam sebuah bab dari sebuah buku tua yang dimiliki oleh Bapak dan telah dibaca oleh saya pada saat kelas tiga SD diuraikan tentang bagaimana cara seseorang menghadapi kritik. Buku yang ditulis oleh Dale Carnegie ini menggambarkan dengan cantiknya bagaimana perasaan orang yang dikritik dengan berbagai macam kritikan Mulai dari rasa marah, tersinggung, cemas, hingga efek yang ditimbulkannya berupa stress hingga munculnya berbagai macam penyakit.

Kemudian diuraikan pula bagaimana sikap orang yang berpikiran positif dalam menghadapi segala kritikan tersebut. Pada intinya ia bilang ”Siapkan payung dari hujan kritikan”. Siapkan payung disini adalah siapkan mental sekuatnya atas apa saja yang kita lakukan yang akan mengundang banyak kritikan dari orang lain. Banyak contoh diuraikan oleh Carnegie bagaimana cara mempersiapkan payung itu.

Ada satu hal yang kurang dan tidak dibahas dalam buku tersebut. Hal biasa namun ternyata dapat memberikan efek negatif cukup besar bagi mental manusia. Yakni bagaimana setiap orang seharusnya dapat juga mempersiapkan payung dari hujan pujian. Tentu kita maklumi bahwa Dale Carnegie hidup di masyarakat yang menjunjung tinggi materialisme dan kapitalisme. Sehingga penyikapan mereka terhadap pujian pun berbeda dengan penyikapan umat Islam terhadap pujian.

Bagaimana tidak, dalam materialisme, pujian adalah satu paket dengan ketenaran dan pencitraan diri. Sudah menjadi konsekuensi logis bahwa mereka yang tenar dan sukses dalam bidang tertentu mendapat pujian sebanyak mungkin dan dari mana saja. Karena ini berkaitan dengan–sekali lagi—pencitraan dirinya. Semakin dipuji semakin memberikan value added pada dirinya di mata orang lain. Sehingga pada akhirnya ia dapat diterima di komunitas masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Berbeda dengan nilai-nilai yang dianut dalam Islam. Agama suci ini mengajarkan kepada umatnya berhati-hati terhadap pujian. Karena ini menyangkut hati yang akan terkotori. Mengapa demikian? Karena pujian yang berlebihan akan mengakibatkan melencengnya niat awal bagi yang dipuji. Bila terjadi hal yang demikian maka syirik kecil yakni riya’akan muncul.

Pujian berlebihan juga akan mematikan kreativitas. Ia akan merasa bahwa apa yang ia perbuat nihil dari kesalahan padahal manusia adalah tempat dari lalai dan lupa. Ia tidak mengetahui kekurangan dirinya dan terlambat untuk memperbaiki. Kreativitas pun mandeg atau jalan di tempat.

Pujian yang berlebihan akan mengakibatkan ketidaksiapan yang dipuji untuk menerima hal-hal yang buruk tentang dirinya. Pujian yang berlebihan juga akan memunculkan rasa ’ujub (takjub dan bangga pada dirinya sendiri) atau bahasa gaulnya narsis gitu loh.

Nah, bicara tentang ’Ujub digambarkan secara jelas oleh Ustadz Said Hawwa dalam buku yang ditulisnya berjudul Intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali: Mensucikan Jiwa. Bahwa biasanya manusia akan ’ujub atas delapan hal. Yakni yang pertama adalah ’ujub dengan fisiknya. Kedua adalah ’ujub dengan kedigdayaan dan kekuatan. Yang ketiga ’ujub dengan intelektualitas, kecerdasan, dan kecermatan dalam menganalisa berbagai problematika agama dan dunia.

Yang keempat adalah ’ujub dengan nasab yang terhormat. Kelima ’ujub dengan nasab para penguasa yang zhalim dan para pendukung mereka. Keenam adalah ’ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, budak, keluarga, kerabat, pendukung dan pengikut. Ketujuh berupa ’ujub terhadap harta kekayaan. Dan yang terakhir adalah ’ujub dengan pendapat yang salah.

Berkaitan dengan dunia kepenulisan maka ’ujub yang seringkali menimpa adalah bentuk ’ujub yang ketiga yakni ’ujub dengan intelektualitas, kecerdasan, dan kecermatan dalam menganalisa berbagai problematika agama dan dunia, sehingga mengakibatkan sikap otoriter dengan pendapat sendiri, tidak mau bermusyawarah, menganggap bodoh orang-orang yang tidak sependapat dengannya dan kurang berminat mendengarkan para ahli ilmu karena berpaling dari mereka dan melecehkan pendapat mereka. (p:222)

Manusia normal mana sih yang tidak senang dipuji?

”Hei daun kering, tulisan elo bagus-bagus, yah. Bikin gue nangis mulu.” puji si fulan. “Mas Daun Jati, Bikinin gue puisi dong buat pacar gue. Elo kan paling hebat kalo bikin puisi. Gue aja ampe merinding kalo baca puisi elo.” puji si fulan yang lain. Gak kuat…!! Sampai limbung diri ini cari pegangan, supaya tidak jatuh saja sudah susah. Bagaimana tidak besar kepala? Bagaimana tidak akan tidak bergeming dari niat awal mencari ridhoNya kecuali ia memang benar-benar dilindungi Allah dari segala kekotoran hati. Bagaimana tidak akan ‘ujub dari hal itu?

Ustadz Said Hawwa memberikan terapi atas ‘ujub yang demikian yakni dengan bersyukur kepada Allah atas karunia intelektualitas yang telah diberikan kepadanya, dan merenungkan bahwa dengan penyakit paling ringan yang menimpa otaknya sudah bisa membuatnya berbicara melantur dan gila sehingga menjadi bahan tertawaan orang. Ia tidak aman dari ancaman kehilangan akal jika ia ujub dengan intelektualitas dan tidak mensyukurinya.

Beliau menambahkan bahwa hendaknya ia menyadari keterbatasan akal dan ilmunya. Hendaklah ia mengetahui bahwa ia tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit, sekalipun ilmu pengetahuannya luas. Apa yang tidak diketahuinya di antara apa yang diketahui manusia lebih banyak ketimbang yang diketahuinya, lalu bagaimana pula tentang apa yang tidak diketahui manusia dari ilmu Allah?

Hendaklah ia menuduh akalnya dan memperhatikan orang-orang dungu; bagaimana mereka ’ujub dengan akal mereka tetapi orang-orang menertawakan mereka? Hendaklah ia berhati-hati agar tidak menjadi seperti mereka, tanpa disadarinya. Orang cupek akal saja yang tidak mengetahui keterbatasan akalnya, sehingga ia harus mengetahui kadar akalnya dibandingkan dengan orang lain bukan dengan dirinya sendiri, atau dengan musuh-musuhnya bukan dengan kawan-kawannya, karena orang yang berbasa-basi selalu memujinya sehingga semakin ’ujub. Demikian Ustadz Said Hawwa (p:222).

Dalam sebuah tulisan yang berjudul Tawadhu di majalah Sabili, sebagai pembuka, penulisnya menceritakan gundahnya Helvy Tiana Rosa menyikapi fenomena penulis muda yang baru menulis satu atau dua buku sudah merasa paling hebat, merasa paling unggul. Padahal Taufik Ismail yang telah menulis banyak buku begitu tawadhunya dan tetap merasa belum apa-apa dengan segala karyanya itu. Sehingga beliaupun di usianya yang semakin bertambah tetap berkarya dan terus berkreativitas.

”Seharusnya mereka dapat menstabilkan emosinya,” tambah Helvy. Ya, betul perasaan paling unggul, paling hebat akan memandulkan kreativitas dan tidak mau belajar kepada orang lain. Membaca tulisan orang lain pun enggan, seakan usaha itu adalah upaya pengakuan bahwa orang lain lebih hebat daripada dirinya. Dan itu tidak diinginkannya. Dirinyalah yang lebih hebat. Dirinyalah yang pantas dipuji daripada orang lain. ”Ppeee…. betul begitu Mas Daun bersisik?” tanya sisi lain (bukan si Sisil lho).

Jadi bagaimana sih seharusnya kita memuji orang yang memang berhak kita puji dengan segala kecantikan kreativitasnya itu? Mungkin ini bisa menjadi jawaban: beri ia pujian sewajarnya dengan tambahan kritikan. Cara ini perlu agar ia pun bisa mawas diri.

Seperti etika dalam menegur bahwa segala koreksi dan kritikan tidak diungkapkan di depan forum, begitu pula dengan memberikan pujian. Kiranya tidak perlu diungkapkan kepadanya di depan khalayak ramai. Alangkah baiknya melalui surat, email, telepon, atau face to face. Atau kalau memang perlu diungkapkan di depan banyak orang, diusahakan untuk tidak diketahui orang yang dipuji. Ini adalah cara untuk menghindari penyakit hati yang akan timbul dari yang dipuji. Dan terakhir pujilah ia dengan tulus bukan dengan kedok diplomatis, agar ia dapat mensyukuri pujian itu dengan kesadaran bahwa segala pujian hanyalah milik Allah semata.

Tapi, ketakutan terhadap pujian yang berlebihan, ini pun akan mendatangkan sisi ekstrem dengan timbulnya penyakit hati yang lainnya yakni riya’, nah loh. Mengharapkan pujian salah, takut dengan pujian juga salah. Terus gimana dong? Ustadz Yusuf Qaradhawi pernah bilang: ”bersikaplah pertengahan”. Inilah sebaik-baiknya sikap.

So, sebelum kita siapkan payung dari hujan kritikan yang akan mengakibatkan kecemasan dan stress luar biasa, maka siapkan payung dari hujan pujian terlebih dahulu. Karena dengan itu kita akan siap untuk menerima hal-hal yang buruk tentang diri kita sendiri. Setelah itu tinggal nikmati saja badai kritikannya.

Allohua’lam.

Maraji’:

1. Intisari Ihya’ Ulumuddin al Fhazali, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-nafs terpadu diseleksi dan disusun ulang oleh Said Hawwa; 2000; Robbani Press.

dedaunan di ranting cemara

Alhamdulillah

18:39 11 Desember 2005

Cara Jitu Menjadi Top 1 Active Blogs


Sebenarnya banyak cara untuk menjadi Top1 Active Blogs dan menggeser juara bertahan selama ini yang langgeng diduduki oleh abang kita–Abang Jampang–selama berbulan-bulan. Mulai cara yang cantik dan bermutu hingga cara pintas menghalalkan segala cara (emang ada yang haram? enggak tahulah).
Cara yang cantik dan bermutu adalah setiap hari melakukan posting atau entry data, mulai dari berupa artikel orang lain ataupun tulisan sendiri. Kalau mau cepat, minimal Anda harus posting data 50 entries atau lebih setiap harinya. Ini tentu bisa menyebalkan para blogger lain, karena bila entrinya dilakukan sekaligus maka ini membuat postingan dari blogger lain menjadi tertimpa.
Agar tidak mengganggu maka posting data dilakukan saat diluar jam kerja. Keuntungan yang di dapat adalah kecepatan transfer data yang amat cepat, yang biasanya saat-saat jam kerja menjadi lambat hingga blogger kesulitan untuk posting satu entri saja. dan yang pasti anda bisa melakukan entri data di luar jam kerja tersebut kalau Maseko tidak mematikan server Cicadasnya. Betul begitu om eh mas…?
Tapi bila orientasinya hanya untuk tampil agar nama blognya terpampang di active blogs, biasanya ada dilematis yang akan muncul yakni masalah kuantitas atau kualitas dari postingan tersebut. Mungkin tak akan jadi masalah kalau orientasinya adalah kuantitas, sedangkan dilematis itu muncul saat kita mengejar kualitas. Karena saat kita membuat entri yang berkualitas entah dari orang lain dalam bentuk artikel siap jadi atau membuat tulisan sendiri tentu butuh waktu. Sedangkan waktu tidak bisa berkompromi dengan kita, karena sekali kita terlambat maka blogger lain siap untuk merebut ‘tahta’ itu. Memang sungguh dilematis, tapi semua ini terserah kepada diri blogger masing-masing.
Tapi sayangnya ketika orientasi kuantitas menjadi utama dan Blogger tidak sabar untuk mendapatkan artikel atau menulis yang berkualitas, maka ada cara lain untuk menjadi Top1 Active Blogs dengan cara seenaknya saja tanpa ketahuan oleh blogger lain. Artinya Blogger lain tidak mengetahui ia memposting apa tapi tahu-tahu menduduki urutan 20 atau 10 besar. Blogger lain tidak mengetahui seberapa sih kualitas postingannya yang ternyata kalau kita tahu sangat menjengkelkan itu. Dengan cara apa?
Cukup Anda klik Add New Entry, tunggu halaman yang mau diisi, lalu isi dengan satu huruf saja misalnya “a”. Setelah menuliskannya jangan tekan tombol Add New Entry tapi simpan saja dengan mengklik tombol Save As Draft. Postingan tidak akan muncul sebagai entry baru di home atawa halaman utama blog, sehingga blogger lain tidak mengetahuinya, tapi jumlah postingan Anda akan berubah dan bertambah di menu TOP ACTIVE BLOGS. Mengapa ini bisa terjadi?
Ini terjadi karena jumlah yang menjadi dasar penghitungan Anda termasuk dalam active blog atau tidak, adalah jumlah berdasarkan postingan yang masuk melalui halaman http://10.9.4.215/blog/manager/add_entry.php, entah melalui klik tombol ADD NEW ENTRY atau SAVE AS DRAFT, dan tidak didasarkan dari postingan yang ditampilkan melalui halaman utama. Tidak percaya? Coba saja sekarang atau nanti saat semua sudah pulang dari kantor–saat kecepatan akses Ciblog dapat diperoleh secara maksimal. Tapi sekali lagi dalam masalah tutorial, penulis tidak bertanggung jawab terhadap hasil yang diperoleh dari apa yang dilakukan oleh pembaca. Semuanya ditulis dalam rangka pembelajaran saja.
Sehingga untuk mencapai nilai 100 postingan setiap harinya, Anda hanya cukup menulis satu huruf di setiap postingan dan langsung simpan saja, niscaya Anda akan menjadi Top 1 Active Blogs hanya dalam satu minggu saja atau lebih pendek lagi. Tergantung dari kemauan Anda.
Tapi cara itu menurut saya belumlah–kalau tidak mau disebut tidak–elegan. Dan jangan pernah khawatir bagi para blogger yang telah menduduki Top 5 atau Top 10, bila ada blogger yang menggunakan cara ini. Karena sesungguhnya blogger sejati adalah blogger yang bisa memberi dan mencari sesuatu yang baru/inspiratif kepada dan dari para blogger lainnya, sebagaimana yang pernah saya tulis di the real blogger.
Bagi Anda, jangan pernah khawatir untuk tergeser dari top active blogs, karena sesungguhnya secara naluri, para blogger tentu mencari blog yang mempunyai karakter kuat dan berisi. Juga ketertarikan mereka pada blog Anda tidak hanya terletak di sisi kiri halaman utama Ciblog, tapi ada di tangan mereka yang menekan Add to Favorites pada blog Anda di komputer mereka masing-masing. Sehingga mereka–para Blogger–tak perlu melihat sisi kiri Ciblog di setiap paginya, cukup melihat blog Anda di favorites. Karena Anda memang berkarakter dan berkualitas. Tetaplah berkarya.
Demikian tulisan saya, kurang lebihnya mohon maaf. Sesungguhnya Allah adalah Maha Sempurna.
Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara
suatu saat saya akan menulis tentang Blogger Berkarakter Kuat
20:07 09 Desember 2005

Ma’rifatul Maydan


Ceritanya begini, di kantor saya ini sedang heboh-hebohnya melakukan persiapan perjalanan dinas. Saya pun ternyata ditugaskan oleh Kepala Kantor untuk melakukan perjalanan itu. Akhirnya ditetapkan bahwa saya harus pergi ke salah satu Wajib Pajak yang mempunyai lokasi pertambangan di daerah. Tepatnya di Desa Mangkahui, Kelurahan Beriwit, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Waow, ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang sangat baru bagi saya. Maklum saja, selama delapan tahun di KPP PMA Tiga saya tidak pernah melakukan perjalanan dinas. Sebagai Jurusita dulu, paling jauh ke barat Jakarta saya pernah pergi ke Karawaci. Ke timur Jakarta, saya hanya sampai di Cikarang. Ke selatan Jakarta, saya hanya sampai di Gunung Putri. Ataupun secara pribadi, bukan sebagai siapa-siapa, saya paling jauh ke luar Jawa hanya sampai di Lampung. Sedangkan kota yang pernah saya kunjungi di daerah timur adalah Madiun, itu pun di tahun 1999. Sudah lama sekali.
Jadi perjalanan ini adalah perjalanan pertama bagi saya, begitu jauh, dan asing. Saya tidak begitu kenal dengan daerah Kalimantan. Nol besar. Apalagi ini merupakan penerbangan pertama bagi saya. (Hare gini, belum pernah naik pesawat? ck…ck…ck…). Dan bayangan saya tentang Kalimantan adalah pulau di Indonesia yang sepi dan masih banyak hutannya. Saya kesana sendirian lagi, tanpa ditemani oleh siapapun. Sehingga saya benar-benar mengalami rasa takut, ngeri, atau apalah namanya.
Tapi saya sadar, saya takut karena saya asing dan tidak mengenal daerah itu. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, agar saya dapat mengatasi rasa takut itu, agar saya lebih mengenal daerah Kalimantan Tengah, saya pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin yang saya dapat. Istilah kata para da’i kita kudu ma’rifatulmaydan atau mengenal medan terlebih dahulu sebelum melakukan da’wah di suatu tempat.
Pertama saya buka internet, dan langsung mencari daerah Kalimantan Tengah melalui Paman Google. Akhirnya saya mendapat situs Pemprov Kalteng. dari situlah saya mengetahui bahwa Kalteng beribukota Palangkaraya. Maklum saya tak begitu hapal Kalimantan itu terbagi berapa provinsi dan apa saja ibukota provinsi di Kalimantan. Dari sana saya tidak mendapatkan keterangan tentang kabupaten Murung Raya.
Saya kemudian search lagi, dan mendapatkan hasilnya yakni situs Pemkab Murung Raya. Ternyata Murung Raya adalah kabupaten baru, sehingga belum tercantum dalam situs Pemprov. Atau situs Pemprovnya yang belum di update. Ibukota Kabupaten Murung Raya adalah Puruk Cahu. Perjalanan menuju kesana melalui jalan udara hanya dapat ditempuh oleh dua penerbangan saja yang dilakukan oleh DAS (Dirgantara Air Service) dari Palangkaraya, atau dari Banjarmasin (kalau tidak salah).
Untuk menuju ke sana dari Jakarta berarti saya harus naik pesawat ke Palangkaraya terlebih dahulu. Dan ini hanya bisa dilayani oleh dua maskapai penerbangan saja yakni Batavia air dan Sriwijaya Air. Batavia Air terbang dari Jakarta Pukul 12.15, sedangkan Sriwijaya air penerbangan pertama ada pada pukul 09.40.
Dari Palangkaraya saya harus memilih hari yang tepat, karena DAS dalam seminggu hanya melayani tiga hari perjalanan saja. Yakni hari selasa dengan satu kali penerbangan, hari kamis dengan dua kali penerbangan, dan hari sabtu satu kali penerbangan saja.
Dari informasi yang diperoleh dari Wajib Pajak, diketahui bahwa sebenarnya landasan di Puruk Cahu adalah landasan yang dipunyai oleh Wajib Pajak namun juga disewakan kepada DAS. Dan Wajib Pajak sebenarnya sudah menyediakan pesawat dari bandara Sepinggan, Balikpapan ke site. Namun saya bersikeras saya harus datang terlebih dahulu ke Palangkaraya karena ini menyangkut pencairan SPPD. Syarat SPPD cair adalah saya harus mendapatkan stempel dari KPP tempat lokasi kunjungan berada, sedangkan lokasi Wajib Pajak benar-benar berada di wilayah kerja KPP. Walaupun kalau dilihat efisiensi, lebih enak lewat Balikpapan, tapi apa mau dikata, kalau tidak ada legalisasi dari KPP setempat saya tidak akan mendapatkan pengganti atas pembiayaan perjalanan ini. Tapi saya sudah bilang kepada Wajib Pajak kalau pulangnya bisa deh saya ikutan pesawatnya.
Kemudian setelah saya mengetahui jadwal penerbangan ke lokasi, saya pun berusaha mencari tahu tentang suasana di kota Palangkaraya. Oleh karena itu saya bertanya kepada salah satu Kepala Seksi di KPP PMA Tiga yang pernah bertugas lama di daerah Kalimantan. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak informasi tambahan yang baru yakni kalau melakukan perjalanan dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu melalui jalan darat akan memakan waktu kurang lebih lima jam dan itu pun kalau tidak ditambah dengan banjir. Wah…lama juga.
Yang terpenting juga, beliau menawarkan bantuan untuk menghubungi temannya di KPP Palangkaraya agar setidaknya membantu saya di sana. Mulai dari fasilitas penginapan sampai pesan tiket DAS menuju Puruk Cahu. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada beliau, bahwa saya cuma bisa menginap di penginapan yang murahan saja agar saya dapat menghemat biaya perjalanan itu. Karena saya tidak tahu seberapa besar ongkos perjalanan pulang pergi Jakarta-Puruk Cahu termasuk akomodasinya. Atas hal ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas bantuannya.
Pada akhirnya semua ketakutan itu setidaknya berkurang apalagi nantinya saya akan ditemani oleh wakil dari Wajib pajak yang saya kenal akrab dengannya. Sehingga tidak begitu clingak-clingukan di lokasi yang masih asing bagi saya.
Poinnya adalah kita memang perlu melakukan upaya ma’rifatulmaydan dalam melakukan sesuatu perjalanan atau kegiatan apapun. Atau mungkin bahasa kerennya saat ini adalah to plan atau planning, merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Agar kita dapat mempersiapkan apa yang harus kita lakukan supaya tujuan yang diinginkan di awal dapat tercapai.
Oleh karena itu ketika kita akan menikah pun kita perlu ta’aruf terlebih dahulu.
“Lho apa hubungannya Palangkaraya dengan menikah. Jaka Sembung dong,” tanya sisi lain.
“Hehehe….nggak ini cuma intermezo saja Lho anda juga kenapa tanya-tanya segala masalah korelasi dan tidaknya? ” sisi lain balik bertanya.
“Tidak, soalnya masalah ini sensitive lho,” jawab sisi lain.
“Oh ya sudah, kalau gitu saya minta maaf, hehehehe…”pinta sisi lain.
So…ber-ma’rifatulmasydan-lah Anda agar semua rasa takut itu hilang. Setelahnya, biar Allah yang akan melindungi Anda. Insya Allah.
dedaunan di ranting cemara
di antara mimpi-mimpi bumi Kalimantan
18:55 09 Desember 2005