Tips Hentikan Cegukan


Tips Hentikan Cegukan

Kemarin pagi saya mendapatkan sesuatu yang jarang sekali saya rasakan. Sesuatu itu adalah bernama cegukan. Ya, sehabis mandi pagi, tiba-tiba keluar dari mulut ini suara keras dan beritme: ceguk…ceguk….ceguk…
Walhasil sepanjang perjalanan berangkat ke kantor itu, badan saya naik turun mengikuti iramanya. Kebiasaan baru saya berupa murojaah hafalan pun terganggu. Bagaimana mau mengulang hafalan kalau suara kita selalu ditingkahi dengan bunyi: ceguk…ceguk…ceguk…
Sesampainya di kantor saya minum banyak-banyak, Alhamdulillah beberapa saat kemudian cegukan saya ini sudah hilang.
Tapi kemudian ketika hari sudah beranjak siang, setelah saya memakan sepotong roti dan bubur kacang ijo yang sudah tersedia di meja, tiba-tiba cegukan itu hinggap lagi. Minum air banyak-banyak dengan menutup hidung pun tidak sanggup memulihkan kerongkongan saya ini.
Karena cara itu tidak mempan lagi saya membiarkannya hingga kemudian terdengar suara adzan. Bergegas saya pergi ke masjid. Saya tidak lagi menghiraukan cegukan ini karena asyiknya mengobrol dengan teman-teman di sepanjang perjalanan menuju tempat sholat.
Nah, yang sangat mengganggu adalah pada saat sholat berjamaah, ternyata cegukan itu semakin menjadi dan terdengar lebih keras lagi. Maklum bukan, yang lain sedang khusu’ dan ruangan masjid sedang hening, tiba-tiba ada suara ceguk…ceguk…ceguk…Saya benar-benar malu sekali. Apalagi tangan saya yang sedang bersedekap, berulang kali terlihat terangkat seiring naiknya dada saya karena cegukan itu. Saya berusaha menahan nafas dan mengatur nafas sebaik-baiknya. Tapi ya tetap saja. tidak berhasil. So, di sepanjang sholat itu, cegukan ini sudah tidak terhitung berapa kali terdengar.
Di saat saya mengangkat tangan untuk berdoa, cegukan lebih keras terdengar lagi. Sampai-sampai ada jamaah masjid yang menolehkan kepalanya ke belakang untuk mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara seperti itu. Malu saya…..
Segera saya mengakhiri doa yang di dalamnya ada doa pendek yang saya hafal betul:
Allohumma ‘afini fi badani, Allohumma ‘afini fi sam’i, Allohumma ‘afini fi bashori, Laa ilaaha Illa Anta.
Setelah sholat saya tidak langsung kembali ke kantor. Saya mengunjungi beberapa teman lama di kantor-kantor lain. Membicarakan banyak hal dan sekalian bersilaturahim. Tahu-tahu satu jam tidak terasa keberadaan saya bersama mereka. Dan paling mengejutkan adalah cegukan yang sangat menggangu saya ini tiba-tiba hilang begitu saja. Entah saya tidak tahu kapan hilangnya. Apakah di saat saya berbicara dengan si A atau si B, atau si C. Tapi saya tetap bersyukur Allah telah mengabulkan doa saya.
Nah, pagi ini di saat saya baru tiba di kantor dan membuka inbox email. Saya mendapatkan surat elektronik dari salah satu sahabat baik saya: Kang Awe. Email itu kiranya sangat bermanfaat sekali, karena di sana ada tips untuk menghentikan cegukan. “Wah, Kang Awe peduli juga,”pikir saya.
Oleh karena cegukan itu tidak hanya menimpa pada anak-anak yang sedang tumbuh maka saya menganggap tips ini layak untuk disebarkan kepada Anda sekalian. Selamat menikmati dan semoga Anda tidak mengalami kejadian seperti yang dialami saya di atas. 

Tips Hentikan Cegukan
Yulia Dian – detikHot

Jakarta, Dalam acara makan malam penting Anda mengalami cegukan? Segera ambil tindakan pertama dengan tips sederhana ini! Cegukan hilang, acara makan pun kembali nyaman.

Dari mana sebenarnya cegukan itu bisa muncul. Biasanya cegukan terjadi ketika seseorang baru selesai makan. Ini akibat diafragma di kerongkongan yang berkedut tanpa dikehendaki.

Acara makan Anda pastinya akan terganggu dengan cegukan bukan! Di tengah perjamuan besar, bersama calon mertua atau untuk urusan bisnis. Wah bisa kacau nih!

1. Tahan nafas Anda selama 15 detik. Setelah itu lepaskan secara perlahan. Ini bisa mujarab untuk mengobati cegukan.

2. Jika cegukan belum juga mereda, minum 10 teguk air putih pelan-pelan. Lakukan sambil menahan nafas. Ini ditujukan untuk menetralisasi diafragma di kerongkongan Anda.

3. Cara ketiga Anda bisa menggunakan kantung kertas dan bernafas dengan itu. Jika tak juga berhasil sebaiknya Anda bersabar. Cegukan jangan dirasa-rasa. Tanpa Anda sadari cegukan akan hilang begitu saja. Intinya jangan panik dulu ya 🙂 (yla)

RIZA ALMAN

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:59 24 Mei 2006

Cuma Kisah Sederhana 5: Saya yang akan Menanggung Semua


Musala Al Barkah, persis di sebelah utara empang kampus STAN, menjadi tempat yang tidak bisa dilupakan oleh saya hingga saat ini. Musala yang kini telah berubah menjadi masjid itu memang persis di samping tempat indekos saya selama tiga tahun menuntut ilmu di STAN. Lima kali dalam sehari azan yang diperdengarkan memenuhi ruang keseharian saya di sana.

Tempatnya yang strategis karena dekat pintu alternatif keluar masuk kampus dan di tengah-tengah kos-kosan para mahasiswa membuatnya tidak pernah sepi dari jemaah lima waktu salat itu. Bahkan sampai harus meluber ke bangunan tambahan yang didirikan di pelataran depannya bila tiba waktunya salat.

Pernah dalam suatu periode kepengurusan remaja musala, saya ditunjuk dan diberi amanah untuk memimpin organisasi kecil ini. Mulai dari memikirkan dan mengatur strategi pengumpulan infak demi terselenggaranya kegiatan kajian keislaman yang diisi oleh ustaz-ustaz ma’had, membuat majalah dinding, melengkapi isi perpustakaan dan mengatur sistem peminjamannya, sampai kepada terselenggaranya pengajaran baca tulis Al-Qur’an untuk anak-anak dan remaja.

Setelah salat Magrib, aktivitas di musala sangatlah ramai. Beberapa mahasiswa yang tempat indekosnya tidak jauh dari musala meluangkan waktu dari kesibukan dan ketatnya sistem perkuliahan untuk mengajar baca tulis Al-Qur’an (Taman Pendidikan Al-Qur’an/TPA).  Tentunya tidak hanya itu, nilai-nilai Islam dan sirah diajarkan pula kepada anak-anak dan remaja itu agar senantiasa ada akhlak indah, wawasan yang bertambah, dan kukuhnya benteng akidah di era modern sekarang ini. Itulah harapan kami dari pengajar dan pengurus terhadap mereka.

Salah satu pengajar itu—sebut saja Abdullah—adalah tetangga kos, teman satu angkatan di kampus, dan teman akrab saya. Kesabaran dan kedekatannya pada anak-anak membuatnya cukup dikenal di kalangan mahasiswa lain. Dan dengan bermodalkan itu saya memercayainya untuk mengambil amanah sebagai ketua bidang pengajaran TPA . Akhirnya dengan dibantu oleh teman-teman yang lain, ia sanggup untuk memegang amanah itu.

Beberapa bulan kemudian ada usulan dari anak-anak TPA untuk mengadakan piknik bersama. Usulan itu pun disampaikan kepada saya oleh Abdullah. Saya cukup menghargai usulan tersebut. Dan saya pikir ini adalah suatu hal yang pantas bagi anak-anak untuk dapat menghilangkan kejenuhan belajar. Sekaligus untuk dapat merekatkan ukhuwah di antara mereka dan nanti pada akhirnya dapat membangkitkan semangat belajar lagi.

Bersama saya, akh Abdullah dan beberapa teman yang lain merumuskan rencana piknik persama itu. Mulai dari kepanitiaan, tempat yang dituju, waktu penyelenggaraannya, hingga dana yang dibutuhkan.

Semua telah selesai direncanakan, kecuali faktor klise yakni ketidaktersediaan dana. Apalagi kami membutuhkan bus besar sebagai sarana transportasi menuju lokasi karena ada banyak peserta yang akan ikut serta. Tentunya ini membutuhkan biaya yang lebih besar lagi.

Untuk itu saya ditugaskan dalam rapat terebut untuk mengecek seberapa besar biaya yang diperlukan untuk menyewa bus. Esoknya saya pergi ke daerah Blok M—tempat di mana kantor bus pariwisata terkenal itu berada.

Saya terkejut mendengar harga sewanya. Jumlah sebesar 350 ribu rupiah hanya untuk pemakaian sehari saja adalah jumlah yang besar sekali di tahun 1996. Saya pun kembali ke kampus dengan membawa beban berat. Akan didapat darimana lagi uang untuk menutupi ongkos transportasi ini.

Untuk meminta kepada peserta jelas tidak mungkin. Karena jelas kalau akan dipungut biaya mereka tidak akan berangkat. Untuk meminta patungan lagi kepada para panitia terasa segan karena mereka telah banyak mengeluarkan uang untuk membiayai terselenggaranya acara ini. Meminta infak kepada para mahasiswa sekitar…? Wah, bisa diusahakan, tetapi berat dan lama uey… Kepada pengurus musala? Jelas tidak mungkin, ada banyak kebutuhan yang harus ditunaikan seperti melanjutkan penambahan teras depan. So

Akhirnya di rapat selanjutnya, saya meminta kepada teman-teman berusaha mencari dana untuk menutupi sisanya. Padahal waktu yang telah dijanjikan kepada para peserta telah mepet dan kami harus segera memesan bus tersebut sepekan sebelumnya. Setelah itu saya cuma bisa berharap kepada Allah agar Ia selalu memudahkan langkah-langkah kami.
Tidak berapa lama, Akh Abdullah mendatangi saya untuk menanyakan perkembangan masalah ini. Saya hanya menggeleng saja. Yang mengejutkan adalah reaksi dari akh Abdullah ini.

“Kalau memang demikian, biar saya saja yang akan menanggung semua ongkos sewa bus ini,” katanya mantap.

“Akhi, benar nih…?” setengah tidak percaya.

“Insya Allah, sekarang tinggal mematangkan acara kita,” ujarnya meyakinkan.


Subhanallah… Allah telah memberikan kepada kami seorang al-akh yang berguna di saat–saat kami membutuhkan pertolongan. Padahal kami tahu, beliau tidaklah kaya-kaya amat, sama keadaannya seperti mahasiswa lainnya, bahkan terlalu sederhana malah. Namun jiwa sosialnya itulah yang mengesankan saya. Dan saya melihat tidak kali itu saja ia berbuat demikian.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah kami ke Kebun Binatang Ragunan. Terlihat begitu gembiranya anak-anak melakukan rihlah ini. Sepanjang perjalanan, nasyid penyemangat pun didendangkan entah dari tape bus ataupun dari mulut-mulut kecil mereka.

Selain jalan-jalan melihat beraneka ragam hewan, di sana kami juga mengadakan berbagai macam permainan yang menarik sampai menjelang Ashar. Lalu setelah itu kami bersiap-siap pulang.

Di tengah perjalanan pulang itulah saya bersyukur kepada Allah karena telah diberikan kelancaran pada jalannya acara. Bersyukur pula saya mempunyai teman baik seperti al-akh Abdullah ini. Yang mampu berinfak di kala senggang ataupun sulit. Yang begitu supel dan luar biasa perhatiannya terhadap anak-anak.

Sepuluh tahun berlalu kebaikan yang dilakukannya masih saja teringat oleh saya. Dan saya berharap untuk tidak pernah melupakan kebaikannya itu. Sungguh saya malu pada diri saya sendiri yang belum mampu melaksanakan banyak amal nyata seperti dia. Sungguh dari satu bibit kesederhanaan akan tumbuh sejuta pohon kebaikan. Saya bertekad untuk mencontoh dan meneladani ini. Insya Allah.

***

Untuk Akh Suprayitno di Lombok, Saya tak akan pernah melupakan kebaikan Anda. Semoga Allah membalas dengan balasan yang lebih baik. Tetap di jalan ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
sekadar ingatan belaka dari memori lapuk
15:05 16 Mei 2006

AKU BUKANLAH JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB


AKU BUKANLAH JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB

Buku kecil itu terjejer rapih di alas yang digelar oleh pedagang di trotoar seberang jalan Kedutaan Besar (kedubes) Amerika Serikat (AS). Beberapa saat kemudian buku seharga lima ribu perak kini telah berpindah tangan. Dan siap untuk saya baca. Sempat kulirik beberapa aparat kepolisian mengambil buku itu. Entah mereka cuma melihat-lihat saja atau membelinya karena segera kutinggalkan tempat itu untuk mencari posisi yang strategis menanti kedatangan rombongan besar pendemo yang sedang bergerak dari Bunderan Hotel Indonesia menuju kedubes.
Hari itu massa dari Partai Keadilan Sejahtera mengadakan demo besar-besaran sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan bangsa Palestina menghadapi aksi boikot Amerika Serikat dan sekutunya yang menyetop bantuan dananya. Slogan yang dikumandangkan Organisasi Konferensi Islam One Man One Dollar, To Save Palestina menjadi tema sentral dalam kegiatan akbar ini.
Kali ini, saya bersama rombongan kecil dari Bogor, menyempatkan diri untuk berpartisipasi sebagai wujud kecil dari ukhuwah lintas bangsa dan negara. Karena terlambat berangkat, kami putuskan untuk langsung menuju kedubes AS. Dari informasi yang diperoleh tempat itu menjadi titik terakhir dari aksi ini.
Belumlah begitu ramai ketika kami sampai di sana. Namun banyak aparat kepolisian yang sudah berjaga-jaga di sekitar kedubes. Dan sudah dipastikan banyak pula pedagang yang menggelar beraneka ragam macam barang dagangan. Mulai dari sekadar minuman penghilang haus dan dahaga hingga pernak-pernik, aksesoris, jilbab, dan pakaian.
Sembari menunggu itulah saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat keramaian kecil di sekitar. Sampai akhirnya saya menemukan buku kecil itu, lalu menjadi barang kedua yang saya beli setelah sebuah kaset muhasabah jadul berjudul Rihlatulillah.
Buku saku berkaver hitam ini berjudul Manhaj Harakah & Dakwah Menurut Sayyid Quthb. Judul dalam bahasa aslinya adalah Manhaj Sayyid Quthb Fid Da’wah. Ditulis oleh Jamaluddin Syabib—ia memperoleh gelar tertinggi dengan nilai Cum Laude pada perguruan Tinggi Dakwah Islamiyyah Madinnah Al Munawarrah Saudi Arabia. Dan diterjemahkan oleh Aminudin Khozin, alumni Pondok Moderen Gontor, Ponorogo dan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Buku yang pertama kali diterbitkan oleh Pilar Press di tahun 2001 ini menarik perhatian saya karena di dalamnya dijelaskan apa dan bagaimana manhaj dakwah Islam menurut Sayyid Quthb, dasar-dasar, keutamaan, pilar-pilar, dan dampak-dampak manhajnya baik dalam pergumulan pemikiran keislaman dan dalam dunia dakwah islamiyyah. Pelan-pelan saya baca buku itu dan berusaha untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Sayyid Quthb dengan manhaj dakwahnya itu.
Baru pertama kali saya memiliki buku yang benar-benar dari awal sampai akhir memuat buah pikirannya. Di rumah tidak ada satu pun buku yang saya miliki membahas tentang Sayyid Quthb. Kalaupun ada itu pun hanya memuat sebagian kecil tentang pemikirannya, biografinya, dan kisah-kisah di penjara yang dialaminya.
Hatta buku sekaliber Ma’alim fith-thariq dan sefenomenal Fii Dzilaalil-Qur’an yang ditulis oleh Sayyid Quthb—keduanya bisa dikatakan sebagai buku referensi utama bagi para aktivis pergerakan—sampai detik ini pun belum saya punyai.
Walaupun ada keinginan kuat untuk membelinya pada saat terjemahan Fii Dzilaalil-Qur’an ini pertama kali muncul, namun tidak sampai menggerakkan hati saya untuk membeli dan memilikinya. Bahkan di saat Wakil Presiden Republik ini pernah memerintahkan aparatnya untuk meneliti buku-buku yang ditulis oleh Sayyid Quthb—karena menurut dia menjadi pemicu pemikiran radikal para pengebom Bali dan Kedubes Australia—tidak membuat saya tergugah untuk mendalami lebih lanjut apa yang disebarkan oleh Sayyid Quthb melalui buah pemikirannya itu.
Yang saya kenal darinya pun sebatas riwayat hidupnya belaka. Sebagai seorang pemikir kedua setelah Hasan AlBanna pada jama’ah pergerakan terbesar di Mesir yakni Ikhwanul Muslimin. Sebagai seorang yang dituduh membuat makar oleh Jamal Abdun Nashir—seorang yang diterima oleh Ikhwanul Muslimin sebagai bagian dari jama’ah kemudian membelot hingga sampai pada tindakan menawan, menyiksa, membantai, dan menggantung para anggota jama’ah ini.
Sayyid Quthb yang saya tahu pun hanya sekadar sesosok ringkih yang dibawa ke tiang gantungan sebelum terbit fajar hari Senin, 29 Agustus 1966. Namun walaupun jasadnya telah menjadi tanah namun pemikirannya tetap hidup hingga kini dan menyebar ke belahan dunia lain. Membuatnya sebagai ikon penentangan terhadap ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Dan bersamaan dengan itu pula dijadikan sansak caci maki pada dirinya dari segolongan lain yang dialamatkan juga kepada jama’ah yang membesarkannya.
Saya anggap hal itu sebagai suatu kewajaran. Hatta seorang Nabi Besar Muhammad saw sebagai penghulu dari umat ini pun tidak lepas dari orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh kasih sayang dan orang-orang yang menghinanya sewaktu ia masih hidup hingga 14 abad kemudian setelah kematiannya—yang terbaru adalah karikatur penghinaan dirinya yang dimuat oleh media Denmark. Jadi biasa sajalah.
Sampai suatu hari saya menemukan sebuah situs di internet, yang secara detail membahas tentang bagaimana supaya ummat ini kembali kepada aqidah yang lurus sesuai dengan pemahaman ahlussunah wal jama’ah. Tapi dalam situs tersebut juga terdapat banyak perkataan caci maki dan membid’ahkan pada banyak nama. Bahkan yang mencolok—karena diletakkan di halaman depan—mereka membuat sebuah artikel yang khusus memuat kesalahan-kesalahan dari Sayyid Quthb. “Apa pula ini?” pertanyaan itu menggantung sampai akhirnya saya menyelesaikan bacaan itu.
Saya merenung, dan saya baru teringat bahwa saya mempunyai sebuah buku yang membahas tentang hal ini. Buku yang ditulis oleh Jasim Muhalhil dan saya beli di tahun 1997 ini berjudul Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan. Memberikan penjelasan detil terhadap tuduhan-tuduhan yang ditudingkan kepada Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan khususnya kepada Sayyid Quthb.
Buku lain dengan tema yang hampir sama pun telah saya punyai di tahun 2003. Kali ini ditulis oleh penulis lokal bernama Farid Nu’man. Buku ini berjudul Al Ikhwanul Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi: Sebuah koreksi Bijak dan Tuntas atas Tuduhan, Fitnah, dan Celaan tak Pantas Terhadap Manhaj dan Tokoh-tokohnya.
Setelah saya baca dua buku tersebut, semua itu ternyata tuduhan-tuduhan lawas dan bukan sesuatu yang baru. Yang memang sudah berkembang sejak dulu dan tidak bermulai dari sini. Mulai tuduhan ia dianggap sebagai seorang Mu’tazilah, Wihdatul Wujud, Asy’ariyyah, mengafirkan kaum muslimin, mencela Mu’awiyyah. ‘Amr bin ‘Ash, dan ‘Utsman bin ‘Affan, serta masih banyak lagi tuduhan yang lainnya.
Walaupun tidak membacanya dengan pelan-pelan dan teliti, saya merasakan cukup dengan segala jawaban yang diberikan dalam kedua buku itu. Tapi sudah membuat kepenasaran saya terobati. Sampai akhirnya…
Pada suatu hari saya bergabung dan terlibat dalam suatu forum diskusi di sebuah situs intranet di kantor kami yang tersebar di pelosok negeri ini. Dan saya terkejut. Baru kali inilah dalam seumur hidup saya, saya menemukan sebuah komunitas yang menjadi penyalur dan corong suara dari situs internet yang telah saya jelaskan di awal—karena sebelumnya dalam kehidupan kampus dan keseharian saya di masyarakat tidak pernah menjumpai dan bergaul secara langsung dengan mereka.
Keterkejutan saya adalah dengan kegarangan mereka dalam tuduhan, hinaan, dan celaan yang dilontarkan kepada siapa saja yang tidak sepaham dan tidak sependapat dengan pandangan mereka dan para masyaikh mereka dalam keberislaman. Apalagi pandangan mereka terhadap jama’ah pergerakan, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qaradhawy. Bisa dikatakan setiap hari tidak ada yang terlewatkan dengan caci maki terhadapnya.
Tentunya saya sebagai newbie (pendatang baru) dalam forum tersebut dan melihat terlalu berlebihannya mereka saya merasa terpanggil untuk membalas setiap tuduhan dan celaan itu. Akhirnya saya pun terlibat dalam pertarungan argumen dengan mereka.
Berhari-hari saya ikut serta dalam perdebatan itu. Hingga saya menemukan kesadaran adanya kesia-siaan, kekerasan hati, berhentinya amal, jumud dalam tsaqofah, pengenalan lebih dalam dan pemahaman terhadap karakter mereka. Bahkan bisa dikatakan lengkap. Runut sedari awal mereka eksis bermula di gurun Nejd.
Setelah itu saya cukup diam. Berusaha meredam hawa nafsu dalam setiap perkataan. Karena terhadap mereka tetaplah ada hak-hak yang wajib ditunaikan oleh saya sebagai saudara dalam aqidah yang kokoh ini.
Bahkan dengan diamnya saya ini, membuat tekad saya bertambah untuk membeli buku Ma’alim Fith-Thoriq atau pun Fii Dzilaalil-Qur’an. Dan memberikan sebuah kesempatan emas kepada saya membaca lebih teliti dan mempelajari lebih lanjut tokoh Ikhwanul Muslimin yang paling dibenci oleh mereka, Sayyid Quthb.
Biografinya saya baca kembali pelan-pelan di suatu malam. Perjalanan hidupnya yang ditulis dalam buku: Mereka yang Telah Pergi (ditulis oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil) menurut saya belumlah memuaskan rasa keingintahuan saya terhadap dirinya. Namun mampu membuat mata dan hati ini berbening kaca dan mengharu biru. Apalagi di sana ada visualisasi dirinya dengan didampingi dua pengawal menuju tiang gantungan. Saya berhenti cukup lama di halaman tersebut, merenungi detik-detik mendebarkan yang akan memisahkan dunia yang telah membuatnya terzalimi dengan pertemuannya kepada Sang Pemilik Jiwanya.
Ada ketegaran dan kemuliaan diri dalam tubuh tua dan kurusnya. Tali gantungan pun dengan Izin Allah tak mampu membelenggu dan mengubur pemikirannya bersama jasadnya di dalam tanah sedalam-dalamnya. Bahkan akhlak dan izzah-nya di tiang gantungan itu mampu menjadi jalan turunnya hidayah Allah bagi dua algojo yang mengeksekusinya. Subhanallah…Semoga engkau menjadi syahid, ya akhi…
Sebuah syair yang dibuatnya di balik jeruji penjara berjudul akhi menggema di dunia Arab hingga penyair Arab ternama dari Yordania dan Irak membuat syair balasannya. Begitu pula malam itu, setelah membacanya saya pun membuat syair sebagai balasannya:
Memoar Agustus 1966
Saudaraku,
pada baju penjara dan kopiah putih lusuh
yang kau pakai pada hari itu
pada tubuh kurus
yang menopang seonggok jiwa lurusmu
pada setiap langkah tegar
yang kau gerakkan dari kakimu
menuju tiang gantungan
di apit dua algojo
dengan tali besar menghias di leher
lalu jenak batas memisahkan
sungguh
ada jejak tertinggal bagi dunia
bagi manusia
untuk bernaung di bawah KalamNya.
***

Tapi saya menyadari sesungguhnya ia adalah manusia biasa, tak luput dari kelalaian dan kesalahan. Dan sebagaimana kaidah yang berlaku umum orang baik adalah orang yg kebaikannya jauh lebih banyak dari kesalahannya. Sungguh ia adalah orang yang baik. Tak pantaslah ia dicaci maki dan di hina dengan serendah-rendahnya dan sejelek-jeleknya julukan.
Cukuplah saya mengambil apa yang dikutip oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil dari Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab: “ Kita tidak mengatakan Sayyid Quthb orang maksum. Begitu juga ulama dan da’i lain. Setiap orang perkataannya boleh diambil atau ditolak kecuali Nabi saw yang maksum. Kita tidak mengultuskan Asy-Syahid Sayyid Quthb, tapi semata-mata memuliakan dan memenuhi hak-haknya. Kita tidak boleh mendiskreditkan dan menghujatnya. Alangkah celakanya umat yang tidak tahu hak-hak ulama yang berjuang dan syuhada yang telah berjihad. Allah berfirman tentang mereka, “dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (Muhammad:4)”.
Atau seperti yang dikatakan oleh Jasim Muhalhil: “Selain itu kami ingin menegaskan kepada kaum jufat (penghujat) bahwa serendah-rendah apapun Anda mencela Sayyid dan karya-karyanya, semua itu tidak akan mengubah kedudukan beliau yang telah terlanjur istimewa di dada mayoritas umat. Tidak akan ada yang mengingkari beliau kecuali orang-orang yang buta mata hatinya.”
Lebih lanjut ia mengatakan: “Adapun bagi kaum ghullat (pemuja) Sayyid, setinggi apapun Anda menyanjung-nyanjung Sayyid bahkan hingga ke langit tujuh tidaklah mengubah kedudukan Anda dan tidak pula membuat orang lupa terhadap kekeliruan Asy-Syahid Sayyid Quthb seperti apa yang telah diteliti para muhaqqiq. Itulah manhaj yang seimbang dalam menilai kekeliruan dan kebaikan manusia, yaitu manhaj wasathiyah (pertengahan). Semoga Allah Swt mengampuni dosa Sayyid Quthb dan memberikan petunjuk bagi kita yang hidup untuk selalu berada dalam jalan yang haq dan ridha-Nya.”
***
Belumlah sampai setengah saya membaca buku kecil itu, tiba-tiba terdengar suara dan derap dari kejauhan. Rupanya rombongan besar pendemo itu mulai mendekat. Hati saya tergetar mendengar takbir dikumandangkan, melihat panji-panji berkibar dan barisan coklat rapi dan gagah dari para kepanduan yang berada di depan. Hal sama dirasakan oleh seorang polisi yang sedang berbicara melalui handy talky dengan temannya di ujung: “Saya merinding melihat ini.”
Mereka semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Saya pun lalu berteriak: Allohuakbar!!! One Man One Dollar, To Save Palestina…!

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:49 15 Mei 2006

MEMOAR AGUSTUS 1966


Wednesday, May 10, 2006 – MEMOAR AGUSTUS 1966

Memoar Agustus 1966

Saudaraku,
pada baju penjara dan kopiah putih lusuh
yang kau pakai pada hari itu
pada tubuh kurus
yang menopang seonggok jiwa lurusmu
pada setiap langkah tegar
yang kau gerakkan dari kakimu
menuju tiang gantungan
di apit dua algojo
dengan tali besar menghias di leher
lalu jenak batas memisahkan
sungguh
ada jejak tertinggal bagi dunia
bagi manusia
untuk bernaung di bawah KalamNya.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:19 09 Mei 2006

***
Syair di atas adalah balasan sebuah puisi di bawah ini yang ditulis seorang al-akh. Pula sekadar memuliakan dan memenuhi hak-hak seorang ulama yang berjuang dan syuhada yang telah berjihad.

Akhi

Saudaraku engkau merdeka, meski berada di balik jeruji penjara
Saudaraku, engkau merdeka meski diborgol dan dibelenggu
Bila engkau pada Allah berpegang teguh
Maka tipu daya musuh tidak membahayakanmu
Wahai saudaraku, pasukan kegelapan akan binasa
Dan fajar baru akan menyingsing di alam semesta
Lepaskan kerinduan jiwamu
Engkau akan melihat fajar dari jauh telah bersinar
Saudaraku, engkau jangan jenuh berjuang
Engkau lemparkan senjata dari kedua pundakmu
Siapakah yang akan mengobati luka-luka para korban
Dan meninggikan kembali panji-panji jihad?
((Asy-Syahid Sayyid Quthb)
[maraji: mereka yang telah pergi]

Antara Atik, Aisah, dan Jojok


Situs DSHNet di alamat http://10.254.60.60 selain banyak debatnya sehingga banyak menjulukinya sebagai situs Debat Sepanjang Hayat, pun begitu banyak kebaikan-kebaikan yang didapat di sana, seperti informasi dan berita tentang dunia Islam. Di sana tersedia pula ruang untuk berpartisipasi bagi pengunjungnya, seperti komentar pada setiap berita atau mengirim ucapan kepada sesama pengunjung lain.
Tak kalah menariknya di sana juga tersedia tempat bagi pengunjung untuk menuangkan buah pikirannya yakni di kolom Partispasi. Kolom ini selain berfungi sebagai tempat copy paste artikel dari luar juga bisa sebagai tempat untuk menumbuhkan kreativitas pengunjung untuk menulis.
Asalkan sesuai dengan misi yang dibawa oleh DSH, maka artikel dengan kualitas apapun bisa di muat di sana. Bisa jadi tempat ini adalah tempat terbaik untuk berlatih dalam menulis. Apalagi tidak ada kolom komentar sehingga dengan demikian ini tidak membuat kecut nyali pengunjung untuk menulis. Karena terkadang banyak dari kita yang pemula sebagai penulis langsung down di saat melihat komentar yang tak berkenan.
Kalau dilihat secara seksama maka sudah 72 halaman sejak tanggal 10 Januari 2003 ruang Partispasi ini dipenuhi dengan banyak artikel. Kalau di setiap halamannya berisi 20 artikel maka kalau ditotal sampai detik ini sudah ada artikel kurang lebih 1440 buah. Jumlah yang banyak sekali bukan…?
Tentunya kalau kita hitung karya yang ditulis dengan tangan sendiri jumlahnya tidak sebegitu banyaknya. Tapi saya terus terang sangat menghargai sekali artikel yang tidak sekadar copy paste. Walaupun cuma sekadar menumpahkan uneg-uneg belaka.
Dari sejumlah artikel itu saya melihat sangat banyak sekali artikel berbobot yang ditulis sendiri oleh para pengunjung entah dari segi temanya, pencerahannya, tata bahasanya, penuturannya, dan lainnya.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya meluangkan waktu untuk menilai artikel-artikel bagus tersebut. Saya kira ini adalah bentuk apresiasi saya terhadap mereka.
Penilaian ini bukan kritik terhadap tulisan. Hanya sebagai suatu ekspresi bahwa tulisan itu sangat bernas bagi saya, entah pada pilihan katanya atau makna yang cukup mendalam yang dibawa dalam tulisan tersebut (kiranya kalau kritik cukup private messenger atau email saja).
Satu pengecualian dan ini dikarenakan adalah ekspresi saya–maka saya tidak akan memberikan penilaian pada tulisan saya sendiri, karena sungguh akan sangat subyektif sekali.
Dan ini bukan berarti bahwa disaat saya memberikan penilaian kebagusan pada satu artikel saja, maka bukan berarti yang lainnya kurang bagus. Saya berpikir tidak ada yang tidak bagus dalam proses kreatif kepenulisan. Karena ini membutuhkan kerja keras dari penulis.
Sungguh saya salut kepada para pengunjung DSH semua yang telah mengekpresikan isi di kepalanya dalam bentuk tulisan tersebut. Sungguh setiap orang mempunyai penilaian sendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Penilaian saya belumlah tentu sama dengan penilaian para pembaca. Dan yang terpenting “sesungguhnya penilaian paling utama adalah hanya penilaian Allah semata.”
Untuk lebih lengkapnya tentang penilaian saya dan teman-teman (saya libatkan mereka agar ada feedback bagus tidak hanya dari saya) terhadap banyak artikel di Partisipasi maka Anda dapat mengujungi alamat ini: http://10.254.60.60/dshforum/forum_posts.asp?TID=5837&PN=1
Dan untuk hari ini (Selasa, 09 Mei 2006), ada banyak tulisan bagus di sana. Saya menyeleksinya dan mendapatkan tiga artikel ini:
1. Ikhwan Makhluk Pencemburu (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5128) oleh ATIK;
2. Nuwun Sewu Mbah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5127) oleh Aisha;
3. Dunia Masih Terlalu Indah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5121) oleh jo2k.

Penulis pertama dengan gaya hebohnya dan apalagi yang akan dialaminya membuat tulisan ini menjadi menarik dan up to date, apalagi ini menjadi sesuatu penegasan dari seseuatu yang tersirat, tersembunyi, dan tak tersentuh, ini dia:
“Pasalnya..dari lima diantara kami..dua diantaranya dah jadi ummahat berputra satu. Dan tiga sisanya..secara kebetulan akan menggenapkan setengah diennya bulan ini. Akhirnya..Murobbiyahku pun jadi ikutan heboh sharing masalah ini. Tentu full kekonyolan, ketidak mengertian dan pembelajaran awal-awal pernikahan.”
Anda-anda semua yang masih meragukannya, maka sudah saatnya meyakini kebenaran berita ini. Bersiap-siaplah banyak hati yang akan cemburu dan terluka (wah…wah…)
Artikel yang kedua, cerita nyata ini dituturkan dengan sangat apik sekali. Lancar, mengalir, tiada tersendat. Saya terus terang mengagumi—sekali lagi–cara bertuturnya.
Artikel yang ketiga, INI GUE BANJET, banyak kata-kata indah di sana.
So, saya harus memilih di antara ketiga ini. Dan Insya Allah saya putuskan Artikel Bagus hari ini adalah:

Nuwun Sewu Mbah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5127)
oleh Aisha;

Tetap menulis tetap semangat

Allohua’lam bishshowab.

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA


Monday, May 8, 2006 – SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA

Bismillaahirrohmaanirrohiim

SILAKAN TINGGALKAN BOLIVIA…!

Setelah saya cukup mengakui keberanian Kuba menghadapi dan mengejek dominasi Amerika Serikat (AS) dengan menawarkan kekuatan medisnya yang terkenal di jagat raya untuk melakukan operasi mata terhadap rakyat miskin AS. Juga memutuskan ketergantungannya terhadap sektor pariwisata—suatu sektor yang rawan dan sensitif dengan isu keamanan dunia, juga sektor yang antikemandirian.
Pun setelah saya cukup mengangkat jempol terhadap Iran atas kemandiriannya dengan memajukan sektor perindustriannya berupa produksi besar-besaran mobil nasionalnya. Keberaniannya menentang barat dan PBB yang menolak Iran untuk mempunyai program nuklirnya sendiri. Dan juga gebrakan ekonominya yang mampu untuk mengurangi tingkat kemiskinan absolut di negara itu sehingga pemukiman kumuh dan peminta-minta sulitlah dijumpai di jalanan Teheran.
Kini, kembali saya mengakui keberanian untuk mandiri dari salah satu negara di Amerika Selatan ini, BOLIVIA. Negara yang berbatasan dengan Paraguay dan Argentina di sebelah selatan, Brazil di timur dan utara, serta Peru dan Chili di barat ini melalui presidennya mengeluarkan aturan baru untuk menasionalisasi sumber daya minyak dan gas (migas) yang kini banyak dikelola perusahaan asing.
Jelas aturan baru ini sangat-sangat tidak berpihak dan mengancam investor asing yang telah banyak menanamkan modal di negara yang memiliki cadangan gas terbesar kedua di Amerika Latin setelah Venezuela. Tapi Evo Morales—sang presiden terpilih—menyatakan dengan tegas bahwa upaya ini dilakukan demi mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi negaranya, demi kemakmuran agar Bolivia terlepas dari julukan sebagai negara termiskin di Amerika Selatan.
Morales—sebagaimana diberitakan Republika (03/05) mengatakan: ”Kami memulainya dengan nasionalisasi migas. Besok kami akan menambahnya dengan pertambangan, kehutanan dan semua sumber alam yang telah diperjuangkan nenek moyang kami.”
Dan Presiden dari negara yang 70% penduduknya miskin ini memberikan waktu sekitar 180 hari sejak tanggal 01 Mei 2006 kepada para investor asing untuk membuat kontrak bisnis baru dengan pemerintah Bolivia.
Jika tidak, sebagaimana ancamannya yang ia katakan kepada para investor asing—di antaranya Repsol Spanyol, Petrobras Brazil, BP Inggris, British Gas, ExxonMobil, Total Prancis: ”Silakan tinggalkan Bolivia.” (Republika, 05/05).
Untuk suksesnya menasionalisasi itu Morales memerintahkan Tentara Bolivia mengambil alih 56 ladang migas yang ada di negaranya dan meminta kepada rakyatnya bersama-sama membantu pemerintah mewaspadai sabotase yang akan menggagalkan upaya nasionalistik ini.
Morales belajar dari pengalaman dan keberhasilan dua negara latin lainnya yakni Ekuador dan Venezuela yang berani memperbaharui kontrak bisnis dengan negara asing. Bahkan, Venezuela menerapkan pajak yang tinggi untuk para eksportir minyaknya.
Langkah itu diharapkan bagi negara yang berpenduduk 8,8 juta jiwa ini (perkiraan 2005) adalah akan mendorong ekonomi dan menciptakan pekerjaan baru. Otomatis pengurangan keuntungan yang diperoleh negara asing akan meningkatkan pendapatan negara itu. Pendapatan tahun 2007 dari produksi gas diharapkan sebesar 780 juta dolar AS, sangat tinggi dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 460 juta dolar AS.
Luar biasa. Negara yang luasnya hanya sepersepuluh luas Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya cuma 1.098.580 km persegi saja dan dengan sumber kekayaan alam yang masih kalah jauh di bandingkan Indonesia, berani melakukan sesuatu yang anti ”pasar” (baca kapitalisme) atau antitrend menarik investor yang biasa dilakukan dari negara miskin identitas dan harga diri.
Sungguh lain sekali dengan apa yang dilakukan Indonesia yang tak berani merevisi sedikitpun ’kitab suci kapitalis’ berupa kontrak karya. Atau lemahnya Indonesia dalam kasus Freeport, Blok Cepu, BUMN, dan dalam berbagai kasus pertambangan emas, perak, dan batubara yang berada di kawasan hutan lindung.
Yang paling anyar adalah pada kasus rencana revisi undang-undang ketenagakerjaan sebagai salah satu paket ekonomi terbaru untuk menarik investor asing. Lagi-lagi di saat nasionalisme dan harga diri bangsa tidak dijadikan prioritas, masyarakat pun menjadi korban. Hatta dibungkus dengan janji-janji pemberian kepastian hukum dan kesejahteraan buruh.
Mampukah pemerintah melakukan negosiasi ulang dengan Freeport atau buyback saham-saham Indosat yang ternyata diketahui tidak ada pasal yang memudahkan pemerintah untuk melakukan itu dalam perjanjian kontrak?
Atau mampukah pemerintah untuk tidak takut dengan ancaman yang selalu dilontarkan asing dengan arbitrase internasionalnya atau forum WTC-nya. Bahkan dengan ancaman tidak akan diberikan paket pinjaman lanjutan oleh World Bank
Saya jawab: ”pesimis.” Di kala banyak dari kita yang selalu mengatakan ”Makan saja nasionalisme itu?”. Di kala banyak dari kita para alumni sekolah-sekolah barat itu masih saja mengagung-agungkan gelar MBA., MSc., PhD. atau gelar akademis lainnya tanpa kerja nyata, dan masih memikirkan enaknya untuk duduk di kursi empuk jabatan.
Saya masih tetap pesimis di kala masih banyak dari kita memandang dengan sebelah mata kepada sekelompok orang yang menyeru memboikot produk-produk kapitalisme dan imperalisme. Bahkan mencibir mereka sebagai sekelompok orang yang terlalu emosional, pencinta heroisme masa lalu, tak bernalar, kolot, dan anti pasar.
Jika masih banyak sebagian dari kita gemetar ketakutan dengan tindakan balasan negara-negara besar yang akan memboikot Indonesia di segala bidang dan takut untuk berkurang makannya sebanyak tiga kali sehari, padahal masih banyak di antara saudara-saudara mereka yang tetap bersyukur dengan makan dua kali, sekali sehari atau tidak makan apa-apa dalam seharinya.
Saya masih tetap pesimis entah sampai kapan. Jika Bolivia saja bisa, kenapa Indonesia tidak. Jika Iran saja bisa kenapa Indonesia tidak. Jika Kuba saja bisa kenapa Indonesia tidak.
Tapi, sungguh saya masih percaya bahwa Indonesia dengan segudang kekayaannya melebih tiga negara tersebut sebenarnya mampu untuk berbuat seperti mereka yang melepaskan diri dari ketergantungan asing dan tidak menjadikan dirinya budak-budak kapitalisme dan imperialisme moderen.
Kalaulah kita kembali membaca sejarah masa lalu, sungguh Indonesia dengan beraninya sanggup menantang dunia dengan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), International
Bank for Reconstruction and Development (IBRD) di tahun 1966. Yang menurut Soekarno badan-badan itu hanya diperalat oleh manipulasi politik
negara-negara imperialis.
Soekarno meyakini bahwa negara dan bangsa Indonesia dengan
bersenjatakan Panca Sila, Manipol dan Tri Sakti Tavip akan dapat
menjalankan politik Berdikari dengan konsekuen dan dengan itu akan
mencapai dunia baru yang penuh dengan keadilan, kemakmuran dan
kesentausaan. (Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1966).
Tentunya kita lebih yakin daripada Soekarno bahwa Indonesia bersenjatakan iman yang menghunjam di dada, berbeliung amal nyata untuk masyarakat mampu untuk menjalankan politik kemandirian itu.
Apalagi ditambah dengan keyakinan pada ayat Allah:
27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. [AlFathiir 35]
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [AlFathiir 35]
Maka sudah selayaknya bangsa Indonesia ini memiliki pemimpin yang benar-benar takut hanya pada Allah SWT. Tidak takut pada para thaghut besar ataupun thaghut kecil. Tidak takut pada negara asing. Yang berani berdiri gagah penuh izzah (kemuliaan) diri sebagai bangsa sederajat dan tidak seperti kerbau yang dicocok hidungnya menuruti perintah sang majikan pemberi dana.
Bangsa Indonesia perlu pemimpin yang tidak takut akan hinaan dan cercaan. Tidak takut untuk tidak terpilih lagi pada periode pemilihan mendatang, karena memandang jabatan adalah amanah bukan kebanggaan sehingga waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemakmuran bangsa.
Bangsa ini perlu pemimpin yang tidak takut kelaparan dan berani berkata lantang selantang seruan pemimpin Palestina kepada para penjajah dan pemboikotnya:
”Rakyat Palestina tak akan meninggalkan pemerintahnya meskipun ditekan dan diblokade. Kami akan tetap bertahan meskipun hanya dengan memakan garam dan buah zaitun. Keteguhan kami tak akan goyah karena kami setia terhadap prinsip-prinsip rakyat.” (Kompas, 16/04)
Dan saya yakin sebenarnya pemimpin kita adalah para pemberani yang akan berteriak lantang penuh jumawa kepada asing bila ada rakyat yang berdiri berbaris mendukung di belakang para pemimpin kita.
Namun rakyat yang dipimpin pun sudah sepantasnya menuntut keteladanan dari para pemimpin sehingga diharapkan dengan keteladanan itu rakyat akan bersama-sama membantu pemimpinnya dengan ikhlas dan dengan pengorbanan yang tak akan dapat dihargai oleh siapapun, sebagaimana rakyat Iran, Kuba, Venezuela, dan Bolivia mendukung para pemimpinnya.
Subhanallah…sungguh kita merindukan pemimpin bangsa ini selayaknya kita merindukan kepemimpinan dua Umar: Umar bin Khaththab atau Umar bin Abdulaziz. Entah kapan…?

Maraji’:
– Republika 03/05/2006
– Republika 05/05/2006
– Kompas 16/04/2006
– Wikipedia: Bolivia
– Ensiklopedi Keluarga A-Z
– Peta Dunia: National Geographic

dedaunan di ranting cemara
Ba’da Kedubes Panas Menyengat
20:32 07 Mei 2006

Kuyakin Engkau Akan Kembali


Sudah lama…
Sudah lama…
Rangkaian kata yang tak sempat tertulis di antara waktu yang membelenggu, membuat saya miskin kreativitas. Atau karena kini saya tak mudah lagi ber-melow-ria. Tak mudah untuk digugah kerinduan. Tak mudah lagi melalangbuanakan segala asa. Dan tak mudah tergiur disapa pujian. Sejak itu sudah pasti tidak ada lagi puisi yang mendayu-dayu. Tak ada lagi puisi yang adanya hanya merintih.

Tapi pagi ini cita rasa itu kembali akan meledak tak tertahankan lagi. Tak bisa terbendung. Tak bisa tertahankan. Maka sudah saatnya saya memulai lagi. Sekarang juga:

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
pada setiap memori indah
melihatmu
di antara burung merpati damai
mencari butir-butir jagung
yang engkau tebarkan
tanpa sinar di matamu
cuma senyum ayu yang terkuak

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
melihatmu
dengan berjuta ekspresi
menyentuh sekuntum bunga
mewangi semerbak

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
melihatmu
dengan serumpun tanya
ada secarik kertas
putih
di samping mawar
merah
bertuliskan:
hangat sekali pagi ini, bukan?

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
melihatmu
dengan semangat menuliskan
sesuatu di buku diarimu
ah, kudengar gumamanmu:
“aku akan menyusulmu”

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
melihatmu lagi
yang sejak kemarin tiada ke sini

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
melihatmu lagi
yang sejak seminggu kemarin tiada ke sini

Ku yakin engkau akan kembali
duduk di bangku taman ini
melihatmu lagi
yang sejak satu purnama lalu tiada ke sini

Ah, hari ini
Ku yakin engkau tak ‘kan pernah lagi kesini
saat buletin kampus lawas
terbang
dan menutupi sebagian tubuhku
“mahasiswi jurusan teknik sipil
tewas gantung diri di gedung E”
ada rupa dengan senyum yang kukenal

Ah, hari ini
Ku yakin engkau tak ‘kan pernah lagi ke sini
dan aku tak ‘kan bisa lagi menaungimu
dengan daun lebatku
di belakang bangku taman
karena
aku cuma bisa terdiam
karena
aku cuma beringin tua
….

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09.35 05 Mei 2006

KHALWAT: TIDAK SEKADAR MELIHAT SENJA


Friday, April 28, 2006 – KHALWAT: TIDAK SEKADAR MELIHAT SENJA

Bloggers tercinta, saya sudah menyusun barang satu atau dua paragraf untuk saya sampaikan kepada Anda semua tentang keinginan saya untuk menyepi dulu dari dunia kerja. Niatnya pakai bahasa yang mendayu-dayu, atau bahasa kerennya pengen nyastra gitu. Tapi apa lacur berjam-jam sudah saya lewati tetap dengan tiga paragraf itu. Akhirnya daripada niat itu tidak kesampaian dan ide saya menguap begitu saja, maka saya tulis saja langsung di sini. Tanpa basa-basi.
Ohya, maksud saya menyepi adalah saya kudu mengambil cuti yang sudah lama tidak saya ambil. Cuti ini cuti pribadi loh yah bukan cuti bersama. Walaupun sudah dikatakan sebagai cuti menurut saya cuti yang telah ditentukan oleh pemerintah itu terasa bukan seperti cuti gitu loh. Tetap saja terasa seperti libur panjang. Nah, kalau ambil cuti sendiri kan seperti gimana gitu. Ada nuansa sentuhan pribadinya. Kita yang menentukan, bukan mereka.
Nah, kembali pada masalah cuti tahunan, saya masih punya sisa 18 hari coy. Itu sudah dipotong dengan cuti bersama tahun 2005 dan tahun sekarang loh. Coba bayangkan, banyak sekali bukan…? Makanya rugi banget getu loh kalau cutinya tidak diambil.
Sisa cuti sebanyak itu pun seharusnya tidak sebanyak 18 hari kerja, bahkan bisa lebih karena kalau dihitung-hitung sedari tahun 1997–tahun dimana saya mulai masuk KPP PMA Tiga–banyak sekali cuti saya yang dipotong-potong karena dalam tahun berjalan tidak boleh sisa cutinya melebihi 24 hari kerja.
Dulu sering tidak cuti karena saya maniak kerja. Dan selalu saya simpan, simpan, dan simpan. Sekarang baru terasa sekali kalau tabungan cuti saya kini banyak manfaatnya. Waktu teman-teman di Bagian Umum melihat betapa saya masih banyak mempunyai sisa cuti, mereka terkejut banget. Hare gene, cutinya masih banyak…
Coba kenapa mereka terkejut. Ya menurut saya karena di kantor yang sudah bersistem moderen, hari libur atau cuti selalu dinanti oleh setiap pegawai. Karena dengan semua itu mereka bisa bersitirahat dengan tenang di rumah dan berkumpul dengan keluarganya masing-masing–pemikiran ini mungkin beda dengan Anda-Anda sekalian wahai para jomblo ….
Di sini tidak bisa terlambat dan pulang cepat. Masuk jam setengah delapan, berarti paling telat banget kudu berangkat dari rumah jam enam pagi. Pulang, teng, tepat jam lima. Sampai di rumah minimal jam enam sore. Benar-benar terasa sekali capeknya.
Inilah yang benar-benar saya rasakan sekarang. Capek lahir dan batin. Dan juga jenuh. Mungkin ini disebabkan tidak adanya lagi pekerjaan yang menumpuk dan menyita waktu saya sehari-hari. Sebagai pelariannya posting sana-sini. tapi ya tetap saja bosen dan jenuh. Apalagi–sekali lagi–capeknya itu loh kalau sampai di rumah–maklum rumah dipinggiran kota pinggiran Jakarta (mengerti kan maksudnya ). Perjalanannya pulang pergi harus ditempuh dengan menempuh 52 kilometer ditengah macet dan rusaknya jalanan Jakarta dan kota sekitarnya.
So…sepertinya pagi terasa cepat berganti dengan senja. Dan senja (Senja namamu selalu kusebut )pun terasa cepat berganti dengan pagi. Laksana tubuh yang tak sempat meluruhkan jerih. Berhari-hari saya merasa demikian. Kurang lebih sejak dua bulanan yang lalu. Puncaknya hari Rabu kemarin, saya menyodorkan secarik–eh bukan ding tujuh lembar–surat untuk ditandatangani Ibu Kepala Seksi yang saya hormati.
“Riza…kesini sebentar.” panggil beliau.
“Iya…bu,” dengan sigap saya menjauh dari kursi yang menemani saya dengan setianya berposting ria di DSHNet menuju ke ruangan beliau.
“Mau kemana cutinya, Za?” tanya beliau dengan lembut.
“Ndak kemana-mana bu. Saya di rumah saja. Saya mau berkhalwat dulu Bu…”
“Berkhalwat apaan tuh, Za.”
“Menjauhi keramaian dunia, menyepi, menyendiri. Seperti dulu Muhammad sebelum diangkat sebagai rasul sering menyendiri di gua Hira’.” jelas saya panjang lebar.
“Oke lah kalau gitu.”
Langsung seketika beliau mengabulkan permohonan cuti saya.
So, mulai senin depan ini tanggal 01 Mei 2006 sampai dengan tanggal 03 Mei 2006, saya mau cuti, saya mau berkhalwat, menyendiri, menyepi, istirahat dari dunia kerja, dari dunia Ciblog, dari dunia fordis-fordisan entah di portal DJP atawa di DSHNet, atawa lagi di #madiun (untuk dunia ini saya sudah tidak merindukannya lagi seperti dulu ).
Saya pun akan beres-beres rumah, beriistirahat dan membaca sepuasnya, bercanda dengan para prajurit kecil, berlama-lama memadu rindu dengan shubuh di masjid, menikmati indahnya cahaya pagi, mengantar menjemput Sang Muta’akhir, menikmati keindahan dhuha, menikmati lengangnya jalanan kompleks rumah karena semua pada kerja, menikmati deru deram air sungai, menikmati matahari senja, dan lain sebagainya.
Dengan berkhalwat itu saya harap akan mendapatkan sesuatu yang baru–eits yang pasti bukan wangsit loh–visi dan misi baru, kesegaran, semangat kerja baru, semangat menebarkan kebaikan yang baru, semangat perdamaian yang baru, semangat itsar yang baru, semangat mencintai yang baru, semangat menulis yang baru, semangat baru untuk selalu meluruskan niat, dan semangat-semangat baru lainnya.
Ini harapan besar saya dari berkhalwat. Tentu ini tidak sekadar harapan, karena ini menjadi suatu cita. Cita menjadi yang lebih baik lagi. Cita menjadi sebaik-baik manusia. Itu saja. Selamat tinggal untuk tiga hari saja kawan….

dedaunan di ranting cemara
riza almanfaluthi
14:21 28 April 2006
jika kata adalah pedang…

Thanks For Your Comment


Thursday, April 27, 2006 – Thanks For Your Comments

Terimakasih saya ucapkan kepada semua bloggers yang telah merelakan waktunya untuk sedikit banyak memberikan komentar di blog saya ini. Terimakasih pula kepada semua yang telah menjadikan saya sebagai temannya. Terimakasih pula kepada semua yang telah sudi untuk berkunjung di blog saya yang seperti rumah reot, kumuh, tak nyaman, dan tak indah dipandang mata.
Hanya Allah-lah yang akan membalas kebaikan Anda semua. Sungguh saya belumlah mampu untuk membalas semua kebaikan Anda, dengan tekad yang kuat sudi untuk berkunjung ke blog Anda misalnya, atau memberikan komentar balik, atau menambah Anda dalam daftar teman-teman saya dengan segera.
Kiranya di saat ada waktu dan kemauan yang menggebu-gebu pada diri saya untuk kembali bergabung dengan teman-teman di sini, ternyata Ciblog masih sama seperti yang dulu. Minta ampun lamanya untuk membuka satu atau dua halaman saja. Sehingga lagi-lagi saya putus asa untuk bergabung.
Atau karena saya sudah punya komunitas baru di forum diskusi DSHNet itu? Bisa jadi sih. Di sana kita bisa interaktif sekali dan kecepatan aksesnya sangat berbeda dengan di Ciblog. Atau karena debatnya…?
“Ah, tidak saya tidak ikut-ikutan kok.”
“Iya tapi kamu jadi penonton juga kan…?”tanya sisi lain.
“Iya juga”
“Ya berarti kamu menikmati juga dan asyik di sana berjam-jam sehingga melupakan blogmu yang malang itu, yang tak pernah tersentuh dengan background atau tampilan blog yang baru. Masih saja engkau mempertahankan kebiruanmu itu. sampai kapan kau akan demikian?” tuturnya panjang.
“Ya, sampai hari ini, buktinya saya menulis langsung di menu Add New Entry, suatu kebiasaan yang sudah lama saya tinggalkan.” Jawab saya mengelak.
“Oke, tapi jangan pernah engkau lupakan mereka–teman-teman kamu itu–yang ada di Ciblog ini. Coba sudilah kiranya engkau sedikit memberikan komentar atau membaca postingan-postingan mereka, ada banyak manfaat yang akan kau ambil, sehingga ini akan memberikan kamu pemikiran baru. Tidak sekadar otak di kepalamu itu dipenuhi dengan omongan kosong debat sepanjang hayat itu.”
“Di sini engkau akan melatih kembali sense-mu, untuk mengungkapkan semua apa yang ada di hatimu melalui tulisan, jangan kau pedulikan sejuta pujian yang kau harapkan, karena sesungguhnya pujian itu hanyalah milik Allah. Dan jangan biarkan kritik pun akan menyakitimu, malah seharusnya engkau jadikan kritikan itu sebagai energi positif yang akan merubah dirimu dan dunia dengan coretan-coretan hatimu itu.”
“Coba ketika engkau memalingkan sebentar saja wajahmu dan pikiranmu dari debat sepanjang hayat itu engkau telah menghasilkan begitu banyak karakter yang menghasilkan untaian kalimat, yang dari kalimat itu membentuk jalinan paragraf. Output yang kau hasilkan tidak Nihil. Bedakan dengan kata-kata yang kau tulis di sana, hanya menjadi pembangkit kemarahan dan kalaupun tidak, tak akan pernah membekas. Bekas yang tampak sekali adalah malah jejak-jejak permusuhan dan tambah sengitnya perdebatan. Arrgh…lupakan saja itu.” Panjang sekali sisi lain berpidato dalam relung qalbu.
“Cukup-cukup…saya sudah tahu semuanya. Oke…silakan pergi, saya mau berkontemplasi dulu dengan semua yang telah kau katakan. Tinggalkan saya, jangan sejenak, tapi berjenak-jenak agar saya–sekali lagi–bisa mengambil intinya.” pinta saya memelas.
“Oke…jangan lupakan dan sapalah mereka di sini, teman-temanmu itu.”
****
Pagi beranjak dhuha. Saya mengingat sebuah kata-kata bijak, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya.” Sungguh saya ingin menjadi sebaik-baik manusia dan setelah kontemplasi itu azzam saya semakin kuat. Dan untuk memulainya, pagi ini saya ingin mengucapkan sesuatu pada teman-teman di sini.
“Dari hati yang paling dalam dan tak bisa terukur kedalamannya, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman. Thanks for reading, thanks for your visiting, thanks for your comments.”

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:05 27 April 2006

ANGKA DAJJAL


ANGKA DAJJAL

Ahad senja, seperti biasanya sambil menunggu adzan maghrib memenuhi semesta dengan kumandang indahnya, saya menyempatkan diri untuk membaca buku barang beberapa halaman saja.
Kali ini di depan lemari buku, mata saya terantuk pada judul sebuah buku yang saya miliki sejak tujuh tahun silam. Buku lama yang saya pikir cukup bagus dan masih relevan sampai saat ini, berjudul: Dajal & Simbol Setan. Buku ini ditulis oleh Ustadz Toto Tasmara dan diterbitkan oleh salah satu penerbit buku Islam terkemuka.
Buku yang sudah lama saya baca ini, secara rinci membahas penafsiran tentang ”binatang melata besar yang keluar dari dalam bumi”—seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Naml—adalah suatu gerakan bawah tanah yang disebut zionisme, suatu gerakan kolaborasi rahasia yang ditata dengan rapi dan profesional, yang dimotori, disponsori, dan diaktorintelektuali oleh Dajal dan setan.
Target mereka khususnya adalah menjauhkan umat Islam menjadi kafi—yang merupakan umat mayoritas di dunia—juga umat agama lainnya pada umumnya. Dengan gerakan zionismenya, Dajal menyusupi tatanan nilai-nilaui kehidupan norma dengan ”baju” globalisasi, keterbukaan, demokarasi, HAM, dan sebagainya. Demikian sekilas Dajal seperti diterangkan pada bagian belakang kaver buku tersebut.
Dulu, setelah membaca buku ini dan buku tipis sebelumnya yang ditulis oleh Ridwan Saidi yang berjudul: Fakta dan Data Yahudi di Indonesia, saya meyakini bahwa Yahudi sebagai suatu bangsa senang terhadap simbol-simbol yang entah berbentuk gambar, angka-angka, ataupun kalimat.
Contoh paling mudah adalah penggunaan lambang yang tertera pada uang satu dollar Amerika Serikat. Di sana ada lambang piramida, satu mata, burung Phoniex, atau kalimat: Annuit Coeptis, In God We Trust ONE.
Sebagian dari penggunaan simbol-simbol di uang kertas satu dollar Amerika Serikat ini banyak digunakan sebagai lambang kebanggaan oleh salah satu grup musik ternama di Indonesia—yang salah satu pentolannya juga mengaku sangat berbangga mempunyai darah keturunan yahudi—di setiap jejak album yang dikeluarkannya.
Sedangkan penggunaan simbol yang tampak nyata sekali di depan mata kita adalah penggunaan lambang bintang segi enam pada sebuah perusahaan telekomunikasi milik pemerintah (Badan Usaha Milik Negara) yang sebagian besar sahamnya dikuasai perusahaan Singapura.
Yang terbaru—dan ini sudah beredar dari milis ke milis—adalah simbol baru dari sebuah perusahaan minyak milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak. Ditengarai bahwa logo itu tidak jauh-jauh sekali dari pengembangan bintang segi enam tersebut.
Nah, yang akan saya tekankan di sini dan juga berkaitan dengan cerita yang akan saya kemukakan adalah penggunaan angka 666 sebagai angka keramat bagi Gerakan freemason [1] dan Iluminasi [2] (sebagai pengejawantah gerakan zionisme). Tentunya selain itu ada lagi angka keramat dan mistis lainnya seperti angka 15, angka 33, dan angka 13 yang menurut mereka mempunyai kekuatan magis.
Angka 666 ini adalah angka yang tertulis pada sebuah lambang gerakan zionis di bidang agama (Jahbulon [3]). Lambang itu terdiri dari lingkaran; piramida; heksagram [4]; angka 33; angka 13; angka 666; dan matahari.
Angka 666 ini mempunyai arti sebagai angka yang mempresentasikan universal hexagram, dewa atau tuhan. (p 31).
Pengertian 666 juga terkait dengan nama lain setan sebagai malaikat sejati—kekuatan langit, penguasa bumi (the son of Baphomet, the child of Beast 666), sebagaimana David Cherubim [5] mengatakan:
”Lucifer akan menyeru umat manusia yang akan menjadikan umat manusia di muka bumi menyembah binatang yang mempunyai lambang ’666’ dan mengguncangkan agama Kristen, serta agama lainnya untuk menuju millenium baru yang bebas dari ajaran Kristen yang palsu.” (p 32)
Dalam Perjanjian Baru; Wahyu 13:18, disebutkan:
”yang penting di sini ialah hikmat barangsiapa yang bijaksana baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya adalah enam ratus enam puluh enam.”
Ayat tersebut tidak luput dari penafsiran Gerakan Iluminasi dan Freemasonry sebagai upaya mewujudkan impian Kerajaan Namrud (Nimrod) dan Menara Babil. Di mana menurut meraka upaya itu bukan hanya bersifat pasif menunggu nasib, melainkan harus diusahakan melalui pemikiran yang cerdas, terencana, dan merasionalkan seluruh lambang-lambang atau ayat-ayat mistik yang berada dalam kitab suci yang bersifat multiinterprestasi dan fleksibel. (p 40).
Angka 666 juga mempunyai kaitan dengan tanggal 01 Mei 1776, tanggal perayaan lahirnya komunis. Terbukti bahwa komponen bilangan dari tanggal, bulan dan tahun tersebut mengandung the Beast 666. Keterangan bukti yang digambarkan catatan kaki pada buku Ustadz Toto Tasmara ini adalah sebagai berikut:
1 Mei 1976 = 1 Mei (bulan ke-5) berati 1+5= 6; 177=1+7+7=15=1+5=6; dan 1776. (p 41).
Dan masih banyak lagi penjelasan tentang angka 666 sebagai representasi dari angka setan atau angka Dajjal ini yang intinya adalah sebagai angka kebijakan, kekuatan, dan ketangguhan atau tidak terkalahkannya setan.
Kemudian, saya beranjak ke halaman 109 di buku tersebut, di mana disana digambarkan tentang keyakinan kaum Freemason terhadap pendirian beberapa monumen dan gedung di Amerika Serikat sebagai simbo, dari kekuatan kerajaan mereka. Setiap titik antara satu gedung ke gedung yang lain membentuk simbol-simbol magis yang memberikan kekuatan keyakinan kepada para anggota mason bahwa Amerika adalah ”kerajaan” bagi kaum mason.
Bila ditarik sebuah garis dari Gedung Putih, Jefferson Memorial, Washington Monumen, dan House of the Temple [6], maka garis tersebut akan membentuk segi tiga, pentagram, dan lambang lainnya (Penggaris Siku dan Jangka Pengukur) yang diyakini mereka mempunyai kekuatan magis.
***
Tiba-tiba adzan maghrib berkumandang, sudah saatnya saya mengakhiri membaca buku ini dan pergi ke masjid yang baru seperempat jadi itu dan tidak jauh dari rumah ini.
Lalu iqomat mulai terdengar, seperti biasanya saya mengatur barisan anak-anak kecil dan remaja agar segera bangkit dari duduk, menyuruh mereka diam, mengatur dan merapatkan barisan dengan rapih, sehingga otomatis saya kebagian di barisan paling belakang.
Di saat itulah–kebetulan sekali–saya melihat tulisan besar-besar putih di bagian belakang kaos berwarna hitam pekat yang dipakai anak belasan tahun. Coba tebak apa tulisannya?

666
B-Bontang
U-Underground
S-Satanic
C-Community

Astaghfirullah, kok ya sholat pakai kaos itu. Jangan-jangan anak ini benar-benar tidak tahu arti dari tulisan itu dan tanpa merasa bersalah memakainya sebagai penutup aurat untuk beribadah kepada Allah. ”Ini harus diluruskan,” pikir saya.
Singkat cerita, setelah salam sebagaimana kebiasaan anak-anak dan remaja, tanpa berdzikir mereka langsung kabur keluar ke pintu masjid. Kali ini saya langsung tanggap dan bergegas untuk menyusul dan memanggilnya.
Anak itu menurut ketika saya ajak dia untuk mengobrol sebentar di pelataran masjid. Baru saat itulah saya mengetahui ada lambang lain di bagian depan kaos itu yakni lambang lingkaran bertuliskan singkatan BUSC dalam huruf yang lebih kecil dengan ada di tengah lingkaran tersebut lambang bintang pentagram, tanda salib, dan mahkota.
Waow, ini lebih parah lagi, tanda salib dan mahkota. Tanda ini adalah lambang The Knight Templar [7] yang tidak bisa dipisahkan dari Freemason sebagai organisasi rahasia, agama, sekaligus ideologi. Di atas kuburan anggota Freemason didirikan piramida dengan lambang tersebut.
”De, kamu tahu arti tulisan di kaosmu itu…?”
”Tidak, Pak…” jawabnya.
”Kamu beli atau dapat darimana?”
”Dibeliin sama ibu.”
”Masak, calon orang sholeh pakai kaos itu. Kalau kamu pakai itu berarti kamu termasuk dalam ’Kelompok Setan’. Apalagi ada angka 666 yang merupakan angka setan, ditambah di kaosmu itu ada lambang Tne Knight Templar. Jadi nanti-nanti tidak usah pakai kaos ini lagi kan, bila perlu jadiin keset aja yah.” tutur saya panjang. Anak yang baru duduk di bangku SMP itu tertawa sambil manggut-manggut.
Sejenak setelah anak itu pergi menghilang dari tatapan dan membawa pemikiran baru baginya, saya berpikir bahwa sungguh sangat luar biasa hasil perang pemikiran yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam ini.
Tanpa disadari dan dirasakan oleh para pemuda sebagai harapan bangsa dan agama, pemikiran-pemikiran baru itu merasuk dengan mudah dalam alam bawah sadar mereka melalui suatu gerakan yang disebut oleh Toto Tasmara ini sebagai ”gerakan 7F”.
Yaitu gerakan penghancuran kekuatan keuangan (finansial) umat Islam, merusak pola makan (food), menciptakan perpecahan di antara umat Islam (friction), menyebarkan cara berpikir bebas (freethought), menebarkan ideologi baru berupa membebaskan manusia dari agama (freedom of religion), menguasai film, tv, dan media massa (film), menumbuhkan dan menggoda masyarakat agar berbudaya dan bersikap mengikuti millah mereka (fashion of life style), membuat beberapa aliran mistik untuk menghancurkan agama (faith, sect, occultism), menumbuhkan rasa kecewa (frustasion), dan lain-lain.
Tentunya anak ini cuma ikut-ikutan dan tanpa disadari telah menjadi korban dari upaya fashion of life style. Bagaimana tidak semua ini tercermin pada sebuah komunitas anak muda yang berpakaian serba hitam, bersepatu boot, bertindik di sekujur tubuhnya, berhias rantai, serta bergaya rambut yang nyeleneh dan sudah menjadi trend di kota-kota besar Indonesia ini.
Kelompok ini pun rawan dengan kerusakan moral, pergaulan bebas, penyalahgunaan obat-obatan yang akan menghancurkan mentalitas dan menghilangkan nyawanya sendiri.
Tentunya tidak hanya pada komunitas ini tudingan juga harus terarah, tentunya pada setiap komunitas—entah kaya, ekskusif, atau profesional—yang menjadikan kebebasan hidup, ekspresi, dan syahwatnya sebagai tuhan barunya.
Toto Tasmara mengakhiri bukunya itu menyatakan bahwa sudah menjadi suatu kemutlakan untuk menyelamatkan generasi penerus dari ancaman halus ini adalah dengan memberikan suatu pola pendidikan moral agama sejak dini.
Saya setuju sekali dengan ini, karena diharapkan dengan pendidikan moral agama itu akan terbentuk suatu benteng iman yang tebal dan kokoh pada diri generasi baru sehingga mampu menahan segala godaan yang akan membelokkannya dari jalan yang lurus dan menjadikannya mujahid-mujahid muda yang akan mampu menegakkan dan mengibarkan panji-panji dinnullah di muka bumi ini dan mampu mengalahkan musuh utama manusia yakni syaitan yang terkutuk.
Ingat: sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi manusia. Sembilan kali Allah mengingatkan hal demikian dalam AlQur’an yang Agung.
Allohua’lam bishhsowab.

[1] Gerakan Freemasonry seringkali dikelompokkan sebagai sekte bid’ah yang menyempal dari ajaran Roma Katolik.
[2] Iluminasi: Pendirinya adalah Adam Weishaupt, seorang jesuit, profesor di bidang hukum, dan pendiri Lucifer Conspiracy dan The Synagogue of Satan. Penyusun buku doktrin The Novus Ordo Seclorum yang selesai pada tanggal 1 Mei 1776, sehingga sebagai penghormatan pada dirinya setiap tanggal 1 Mei dijadikan sebagai hari perayaan Komunis di seluruh dunia. Menurutnya setan adalah kekuatan yang melambangkan kejujuran, keberanian, dan kebebasan, serta satanisme adalah bentuk evolusi kemanusiaan.
[3] Jahbulon = Jah-Bu-Lon menurut mereka adalah bentuk lain dari tuhan dengan fungsinya seperti juga ”Trinitas”.
[4] Heksagram: hexa ’enam, gramma ’tulisan atau gambar’ yang merupakan dua piramida terbalik sebagai simbol Kerajaan Sulaiman dan Bintang david dan simbol pemerintahan dunia baru.
[5] David Cherubim seorang pendeta dari ordo anti-Kristus.
[6] House of The Temple yang merupakan “kantor pusat” Freemason di mana di dalam gedung tersebut berkumpul semua anggota dari pelosok dunia untuk menerima pengukuhan atau wisuda anggota mason yang memasuki tingkat 33.
[7] The Knight Templar: legiun pasukan perang, intelejen, pengawal kepercayaan raja yang ikut serta secara aktif menjadi pasukan salib, terutama mendampingi panglima Aliansi Kerajaan Kristen Eropa melawan para mujahiddin Salahudin. Beragama mistik dan salah satu sesembahannya adalah Baphomet.
Setelah usai perang salib mereka pulang kembali ke Eropa dan menjadi rentenir, bahkan memegang kunci keuangan kerajaan. Dan pusat dari pengembangan berbagai gagasan pemikiran baru dan ilmu pengetahuan baru. Dengan banyaknya kekuasaan di tangan mereka, membuat Paus dan raja mulai merasa terganggu. Pada akhirnya seluruh veteran perang tentara salib itu ditangkap, disiksa, dibunuh, dibakar hidup-hidup. Sejak saat itulah dimulailah gerakan rahasia yang berlangsung secara turun temurun dan menjadi awal dari munculnya gerakan Freemason.
Sumber catatan kaki adalah dari bukuDajal & Simbol Setan.

Maroji’: – Dajal & Simbol Setan, TotoTasmara;1999; GIP
– Fakta & Data Yahudi di Indonesia Jilid II; Ridwan Saidi; 1994; LSIP

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
semoga tidak sekadar menjadi cerita yang terungkap kemudian sirna (rda)
23:18 23 April 2006