KHALWAT: TIDAK SEKADAR MELIHAT SENJA


Friday, April 28, 2006 – KHALWAT: TIDAK SEKADAR MELIHAT SENJA

Bloggers tercinta, saya sudah menyusun barang satu atau dua paragraf untuk saya sampaikan kepada Anda semua tentang keinginan saya untuk menyepi dulu dari dunia kerja. Niatnya pakai bahasa yang mendayu-dayu, atau bahasa kerennya pengen nyastra gitu. Tapi apa lacur berjam-jam sudah saya lewati tetap dengan tiga paragraf itu. Akhirnya daripada niat itu tidak kesampaian dan ide saya menguap begitu saja, maka saya tulis saja langsung di sini. Tanpa basa-basi.
Ohya, maksud saya menyepi adalah saya kudu mengambil cuti yang sudah lama tidak saya ambil. Cuti ini cuti pribadi loh yah bukan cuti bersama. Walaupun sudah dikatakan sebagai cuti menurut saya cuti yang telah ditentukan oleh pemerintah itu terasa bukan seperti cuti gitu loh. Tetap saja terasa seperti libur panjang. Nah, kalau ambil cuti sendiri kan seperti gimana gitu. Ada nuansa sentuhan pribadinya. Kita yang menentukan, bukan mereka.
Nah, kembali pada masalah cuti tahunan, saya masih punya sisa 18 hari coy. Itu sudah dipotong dengan cuti bersama tahun 2005 dan tahun sekarang loh. Coba bayangkan, banyak sekali bukan…? Makanya rugi banget getu loh kalau cutinya tidak diambil.
Sisa cuti sebanyak itu pun seharusnya tidak sebanyak 18 hari kerja, bahkan bisa lebih karena kalau dihitung-hitung sedari tahun 1997–tahun dimana saya mulai masuk KPP PMA Tiga–banyak sekali cuti saya yang dipotong-potong karena dalam tahun berjalan tidak boleh sisa cutinya melebihi 24 hari kerja.
Dulu sering tidak cuti karena saya maniak kerja. Dan selalu saya simpan, simpan, dan simpan. Sekarang baru terasa sekali kalau tabungan cuti saya kini banyak manfaatnya. Waktu teman-teman di Bagian Umum melihat betapa saya masih banyak mempunyai sisa cuti, mereka terkejut banget. Hare gene, cutinya masih banyak…
Coba kenapa mereka terkejut. Ya menurut saya karena di kantor yang sudah bersistem moderen, hari libur atau cuti selalu dinanti oleh setiap pegawai. Karena dengan semua itu mereka bisa bersitirahat dengan tenang di rumah dan berkumpul dengan keluarganya masing-masing–pemikiran ini mungkin beda dengan Anda-Anda sekalian wahai para jomblo ….
Di sini tidak bisa terlambat dan pulang cepat. Masuk jam setengah delapan, berarti paling telat banget kudu berangkat dari rumah jam enam pagi. Pulang, teng, tepat jam lima. Sampai di rumah minimal jam enam sore. Benar-benar terasa sekali capeknya.
Inilah yang benar-benar saya rasakan sekarang. Capek lahir dan batin. Dan juga jenuh. Mungkin ini disebabkan tidak adanya lagi pekerjaan yang menumpuk dan menyita waktu saya sehari-hari. Sebagai pelariannya posting sana-sini. tapi ya tetap saja bosen dan jenuh. Apalagi–sekali lagi–capeknya itu loh kalau sampai di rumah–maklum rumah dipinggiran kota pinggiran Jakarta (mengerti kan maksudnya ). Perjalanannya pulang pergi harus ditempuh dengan menempuh 52 kilometer ditengah macet dan rusaknya jalanan Jakarta dan kota sekitarnya.
So…sepertinya pagi terasa cepat berganti dengan senja. Dan senja (Senja namamu selalu kusebut )pun terasa cepat berganti dengan pagi. Laksana tubuh yang tak sempat meluruhkan jerih. Berhari-hari saya merasa demikian. Kurang lebih sejak dua bulanan yang lalu. Puncaknya hari Rabu kemarin, saya menyodorkan secarik–eh bukan ding tujuh lembar–surat untuk ditandatangani Ibu Kepala Seksi yang saya hormati.
“Riza…kesini sebentar.” panggil beliau.
“Iya…bu,” dengan sigap saya menjauh dari kursi yang menemani saya dengan setianya berposting ria di DSHNet menuju ke ruangan beliau.
“Mau kemana cutinya, Za?” tanya beliau dengan lembut.
“Ndak kemana-mana bu. Saya di rumah saja. Saya mau berkhalwat dulu Bu…”
“Berkhalwat apaan tuh, Za.”
“Menjauhi keramaian dunia, menyepi, menyendiri. Seperti dulu Muhammad sebelum diangkat sebagai rasul sering menyendiri di gua Hira’.” jelas saya panjang lebar.
“Oke lah kalau gitu.”
Langsung seketika beliau mengabulkan permohonan cuti saya.
So, mulai senin depan ini tanggal 01 Mei 2006 sampai dengan tanggal 03 Mei 2006, saya mau cuti, saya mau berkhalwat, menyendiri, menyepi, istirahat dari dunia kerja, dari dunia Ciblog, dari dunia fordis-fordisan entah di portal DJP atawa di DSHNet, atawa lagi di #madiun (untuk dunia ini saya sudah tidak merindukannya lagi seperti dulu ).
Saya pun akan beres-beres rumah, beriistirahat dan membaca sepuasnya, bercanda dengan para prajurit kecil, berlama-lama memadu rindu dengan shubuh di masjid, menikmati indahnya cahaya pagi, mengantar menjemput Sang Muta’akhir, menikmati keindahan dhuha, menikmati lengangnya jalanan kompleks rumah karena semua pada kerja, menikmati deru deram air sungai, menikmati matahari senja, dan lain sebagainya.
Dengan berkhalwat itu saya harap akan mendapatkan sesuatu yang baru–eits yang pasti bukan wangsit loh–visi dan misi baru, kesegaran, semangat kerja baru, semangat menebarkan kebaikan yang baru, semangat perdamaian yang baru, semangat itsar yang baru, semangat mencintai yang baru, semangat menulis yang baru, semangat baru untuk selalu meluruskan niat, dan semangat-semangat baru lainnya.
Ini harapan besar saya dari berkhalwat. Tentu ini tidak sekadar harapan, karena ini menjadi suatu cita. Cita menjadi yang lebih baik lagi. Cita menjadi sebaik-baik manusia. Itu saja. Selamat tinggal untuk tiga hari saja kawan….

dedaunan di ranting cemara
riza almanfaluthi
14:21 28 April 2006
jika kata adalah pedang…

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s