My Brothers and My Sisters: I Love You All


Wednesday, April 19, 2006 – Brothers & Sisters: I Love You All

My Brothers and My Sisters: I Love You All

Tepat dengan keriangan dua buah hati yang menyambut saya sepulang kantor, terdengar sayup-sayup dari kamar terdepan rumah kami sebuah nasyid yang sangat familiar di telinga saya dua tahun belakangan ini.
Alunan nasyid itu keluar dari sebuah speaker komputer rumah yang sepertinya sedari tadi dinyalakan oleh anak sulung kami: Haqi.
“Haqi, …siapa yang menyalakan nasyid ini, sayang…?” langsung saja saya bertanya. Tidak ada jawaban, cuma isyarat dengan jempol yang ditunjukkan pada dadanya.
”Memang kenapa setel nasyid ini…?” tanyaku lebih lanjut.
”Soalnya enak lagunya,” jawab dia cengengesan. Weks…, anak kecil kayak gini sudah punya apresiasi pada nasyid seperti ini.
Terus terang saja saya kurang menyukai nasyid, walaupun sering juga dulu saya membeli kaset nasyid hanya untuk mendengar sepintas lalu. Apalagi zaman sekarang banyak jenis nasyid yang sudah sangat susah dibedakan dengan lagu-lagu ruhani lainnya. (seperti qasidahan, gambus, apalagi dengan salam min ba’id-nya, dan sebagainya).
Tapi entah kenapa, saya sepakat dengan penilaian anak yang baru menginjak enam tahun ini. Lirik syairnya menggugah urat-urat keindahan kata pada diri saya. Membongkar gudang ingatan pada banyak teman di timur, di utara, di barat, ataupun di selatan, dan pada empat penjuru arah mata angin yang tersisa.
Dan hal ini bertepatan pula dengan hati saya yang lagi melow banget gitu loh pada banyak teman saya sedari kemarin. Maka saya kontak mereka, di kebayoran baru dua, kantor pusat, di pulau seberang sana, di parkiran motor, atau di tempat lainnya. Masih saja belum menuntaskan kerinduan ini. Di tambah lagi dengan nasyid yang mengalun sendu, lengkap sudah ke-melow-an ini.
Doa Perpisahan judul nasyid itu. Disenandungkan oleh Brothers salah satu grup nasyid negeri jiran. Ada kata-kata indah di sana: menitikkan ukhuwah yang sejati, kan kuutuskan salam ingatanku dalam doa kudusku sepanjang waktu, senyuman yang tersirat di bibirmu menjadi ingatan setiap waktu. Subhanallah…
Lalu saya membaca bukunya Abbas As-Siisiy, dan mengetahui hal ini:
“Dari Anas ra.bahwa ada seorang laki-laki berada di dekat rasulullah saw., lalu ada seorang laki-laki lain lewat di depannya. Orang (yang berada di dekat Rasulullah) itu berkata, “Ya Rasul, sungguh saya mencintai orang itu.” Rasulullah bertanya, “Apakah kamu sudah memberitahunya?” Ia berkata, “Belum.” Rasulullah bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Kemudian ia mendekati orang itu dan berkata, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah swt.” Laki-laki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah—yang karena-Nya engkau mencintai aku—mencintamu.” (Era Intermedia, 03/2005)
Maka di saat ini, agar Allah mencintai saya, saya akan menyatakan kepada Anda semua dan khususnya ikhwatifillah yang teringat di benak saya atas kenangan-kenangan masa lalu di perjuangan kampus dan setelahnya, bahwa aku mencintai kalian karena Allah swt.
Sungguh ikhwatifillah—mengutip Abbas As-Siisiy pula—persaudaraan karena Allah adalah curahan perasaan, berjuang untuk membantu saudaranya demi peningkatan potensi diri secara bersama-sama, dengan tarbiyah dan takwiniyah, ”penyemaian biji”, ”pencabutan rumput”, dorongan semangat dan hasrat, penyebaran dakwah melalui persaudaraan yang tulus, ibadah yang khusyuk, serta kontinuitas dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang baik. (p 212).
Ikhwatifillah, maka dengarkanlah betapa banyak syair duniawi yang berkata demikian:
-kenapa harus bertemu jika akhirnya berpisah-
-kau yang memulai kau yang mengakhiri-
-kau yang berjanji kau yang mengingkari-
(halaah, dangdut banget).
Tapi ada bedanya ikhwatifillah, bahwa di dalam setiap keberpisahan kita yang dibatasi dengan ruang dan waktu, ada doa diantaranya, sebagai penghubungnya, sebagai jalinannya.
Maka tiada hati yang tersakiti, tiada dukun yang bertindak, tiada seutas tali menghias di leher atau pisau belati yang tertancap di dada dan membelah nadi di tangan seperti kebanyakan para penikmat cinta negeri ala Romeo dan Juliet, Sampek dan Engtay, Qais dan Laila, Mark Antony dan Cleopatra, atau cinta lokal seperti Kamajaya dan Kamaratih, Baridin dan Titin pada sandiwara Kemat Jaran Guyang.
Lalu Ikhwatifillah, seperti pada bait-bait terakhir syair doa perpisahan itu, maka saya berharap kalian mengenang saya dalam doa kalian, agar Allah senantiasa meridhoi persahabatan dan perpisahan ini. Dan semoga pula kita adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang dengan muka berseri-seri, tertawa, dan bergembira ria pada hari saat tiupan sangkakala kedua terdengar memekakkan telinga, tidak dengan muka yang tertutup debu dan ditutup lagi oleh kegelapan (semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian).
Ikhwatifillah, sekali lagi: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala”.
Ikhwatifillah, sila untuk menikmati syair yang saya nikmati tadi malam.

Doa Perpisahan
By Brothers

Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukurku ke hadirat Ilahi
Di atas jalinan yang suci
Namun kini perpisahan yang terjadi
Dukaan yg menimpa diri ini
Bersama lagi atas suratan
Kutetap pergi jua

Kan kuutuskan salam ingatanku
dalam doa kudusku sepanjang waktu
Ya Allah bantulah hamba-Mu
Mencari hidayah dari pada-mu
Dalam mendirikan kesabaranku
Ya Allah tabahkan hati hamba-Mu
di atas perpisahan ini

[Teman, betapa pilunya hati ini
Menghadapi perpisahan ini
Pahit manis perjuangan
Telah kita rasa bersama
Semoga Allah meridhoi
Persahabatan dan perpisahan ini
Teruskan perjuangan]

Kan kuutus kan salam ingatanku
Dalam doa qudusku sepanjang waktu
Ya Allah bantulah hambamu
Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu
Semoga Tuhan berkatimu
***

Untuk yang saya sebut namanya di sini:
Mas Eko (Ketum UMMP 1994),
Mas Emil Fadli Sulthan (pengantar saya mengenal Qaulan Sadiida),
Mas Rudi Hartaseptiadi dan Mbak Farrah (baru teringat kemarin dari kang Awe),
Mas Trisna (yang mengenalkan saya pertama kali pada jama’ah ini),
Mas Anang dan Mas Anang Anggarjito yang satunya lagi.
Lukman Bisri Hidayat, Ramli, Ujang Sobari, Bambang Najmuddin, Agus, Faisal Alami (foto kita berdua memang sedang lucu-lucunya), Totok dan kembarannya, Wisnu, Yulianto (masih jadi jurusita?), Sofa, Supriyatno yang di Mataram, Abbas Hs, Rino Siwi, Duet Siti Nur’aini dan Siti Shobiroh, Murdiana, Alkhayatun Widiastuti, Ita (afwan saya lupa nama kepanjangannya), Anandanov, juga Fardi Parawansa di Palangkaraya.
Saksikanlah: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala.”
Dan juga kepada yang belum saya sebutkan namanya satu persatu dan telah menorehkan, memahat, dan merelief banyak bahkan berjuta kebaikan di hati saya: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala.”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
semoga bukan basa-basi belaka
masih dengan brothers yang terus di rewind.
21:54 18 April 2006

WO AI NI


Thursday, April 13, 2006 – WO AI NI

Tanggal 13 April enam tahun yang lalu, dini hari, seorang perempuan berjuang sendirian antara hidup dan mati untuk melahirkan jabang bayinya yang pertama, di sebuah rumah sakit swasta milik gereja di Semarang. Berjam-jam tidak kunjung keluar walaupun sudah diberikan berbagai macam perangsang, akhirnya diputuskan proses persalinan itu dibantu dengan alat vakum. Allah masih memberikan kepadanya kesempatan untuk hidup dan mendidik anaknya.
Lalu kemana sang suami…? Ternyata ia masih ada di Jakarta. Ia sedang mengikuti hari terakhir Acara Pengenalan Kampus di sebuah perguruan tinggi khusus untuk Pegawai Negeri Sipil, yang wajib ia ikuti sebagai salah satu syarat mengikuti pembelajaran di kampus tersebut.
Malam harinya di saat ada api unggun di tengah lingkaran besar sebagai acara penutupan, hatinya merasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang telah terjadi. Dan ia teringat akan istri tercintanya itu, sedang apakah gerangan…? Sudahkah perjuangan itu selesai? Ah, yang ia tahu cuma beberapa hari lagi dirinya akan mempunyai jabang bayi. Tapi saat ini ia tak kuasa untuk berbuat apapun, selain acaranya padat juga pada saat itu telepon genggam adalah masih barang langka dan bukanlah barang murah yang bisa ia miliki.
Setelah acara itu selesai, segera ia bergegas ke wartel, untuk menanyakan perkembangan sang istri kepada keluarga besarnya. Berita yang mengejutkan dan menggembirakan, bahwa ia telah menjadi seorang bapak dari seorang bayi laki-laki. Ah, ia tidak menyangka, umurnya pun baru 23 tahun. Benarkah ia kini telah menjadi seorang bapak…?
Petang keesokan harinya, setelah seharian mempersiapkan perbekalan, segera ia bergegas ke stasiun Jatinegara untuk mengejar kereta api terakhir menuju Semarang. Di tengah senja Jakarta, di tambah suasana mendung, lengkap sudah hiruk pikuk dan kemacetannya.
Persis saat ia menurunkan kakinya dari angkot, baru saja terdengar pengumuman bahwa kereta api akan siap untuk diberangkatkan. Segera dengan terburu-buru ia menuju ke loket, antri sebentar, lalu menyerahkan uang, menerima tiket dan uang kembalian, bersamaan itu terdengar peluti panjang, Pritttttttttttttttttttttt……………! Serta deram dari benda yang bergerak semakin cepat.
Semua yang melihat lelaki muda ini berlarian menuju pintu kereta yang masih terbuka itu, menyemangatinya untuk segera mengejar kereta dan meraih pegangan pintu. Cepat…!Cepat…! Huph…dengan satu lompatan panjang dan terakhir mampulah ia meraih besi itu. Meninggalkan tatapan dan senyuman banyak orang dibelakang, pula Jakarta yang kian pekat, malam.
Pfhhhh…ia menghela nafas, mengelap cairan yang membasahi dahinya. Dan angin yang menerobos dari jendela kereta mampu membantu mengeringkan lebih cepat bekas-bekas usaha kerasnya. Tak hanya itu, mampu membuatnya beristirahat panjang, tertidur, dan menganyam mimpi.
Pukul tiga pagi, kereta api itu akhirnya mengakhiri perjalanannya di Stasiun Tawang. Dengan diantar tukang becak, sang suami menuju rumah sakit yang letaknya tidak sampai satu kilometer dari stasiun. Semarang dini hari masih lelap dan belumlah menggeliat.
Halaman depan rumah sakit kecil itu sepi, yang ada hanyalah seorang lelaki berumur yang berjaga-jaga di pintu gerbang. Setelah berbasa-basi sebentar, sang suami mulai mengutarakan maksud kedatangannya untuk menjenguk istrinya yang baru melahirkan.
Tapi apa lacur, penjaga itu tidak memperbolehkannya masuk dikarenakan bukan waktunya untuk membesuk. Tapi setelah diketahui bahwa kedatangannya jauh-jauh dari Jakarta, penjaga itu akhirnya mengizinkan sang suami untuk menemui istrinya, itupun setelah berdiskusi sebentar dengan suster (berkerudung suster gereja). Namun tetap tidak diperbolehkan masuk ke kamar, dan hanya dipersilakan untuk menunggu di bangku panjang khas rumah sakit yang ada di ruang tunggu itu.
Tiba-tiba di saat ia sedang melihat-lihat suasana yang baru saja diakrabinya. Keluar dari kamar paling ujung, sesosok perempuan berjalan di sepanjang lorong. Tertatih-tatih. Perlahan. Dengan salah satu tangannya masih tetap berpegangan pada dinding.
Sosok yang amat dikenalnya setahun belakangan ini menyembulkan senyumnya kepada sang suami yang bersegera meraih tubuhnya dan menuntunnya pada bangku. Namun terlihat oleh sang suami kegelisahan pada wajah istrinya saat ia duduk. Jahitan yang masih baru, terasa mengganggu dan membuatnya tidak betah untuk duduk berlama-lama.
Melihat penderitaan istrinya, yang perlahan dan tertatih-tatih saat berjalan dan wajah masih berhias ringisan, membuat keteguhan sang suami goyah. Matanya mulai berkunang-kunang dan gelap, perutnya terasa mual dan ingin muntah. Ia segera berlari ke toilet dan menumpahkan semua yang ada diperutnya. Ah, kenapa ia bisa jadi begini…? Empati berlebihan atau ketidaktegaan…?
Beberapa menit kemudian…
“Di mana anak kita…?”tanya sang suami.
“Di ruangan khusus bayi, berkumpul dengan bayi yang lainnya,” jawab istrinya.
“Bisa dilihat sekarang, Dek?”
“Sepertinya tidak bisa, Mas. Soalnya sudah peraturan di sini, bayi bisa dikeluarkan kalau saatnya menyusui memakai ASI. Mungkin mas besok lagi kesini. Sekarang pulang saja dulu ke ibu. Istirahat dulu ya, Mas.”
“Ya, sudah kalau begitu. Tidak ketukar kan dengan yang lain?” sedikit cemas, apalagi di rumah sakit seperti ini.
“Insya Allah, tidak.”
“Maafkan Mas ya Dek…tidak bisa menemani Adek kemarin.” Sang istri mengangguk sambil tersenyum.
Pergilah sang suami menuju pintu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dari istrinya. Tiba-tiba ia berbalik, “Dek…mirip siapa dia?”
“Mirip bapaknya.”

Malam pun pupus, kerana shubuh mulai bangun.
####

Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa memandang dengan kecintaan dan kerinduan pada wajah lelap anaknya itu. Berdoa agar ia menjadi anak yang shalih, dan tidak hanya itu, menjadi pejuang bagi addin-nya.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa introspeksi diri, betapa banyak waktu yang terbuang karena dunia, dan menyia-nyiakan golden age serta kebersamaan dengan anaknya yang sudah mulai tumbuh dengan segala keriangan dan kepolosannya.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa menyadari bahwa buah hatinya itu adalah asetnya yang paling berharga dan bukan beban. Pula ini adalah amanah yang tiada terkira hitungan bilangannya, bahkan senilai dengan jaminan dikeluarkan diri dari siksa api neraka.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa bersabar atas segala perilaku, menjawab sebisa mungkin segala tanya, dan untuk menjadi yang senantiasa dirindukan dan dicarinya saat membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Walaupun tidak seaman dan seabadi perlindungan dan kasih sayang Allah.
Ah, ingatan enam tahun lalu membuatnya berusaha mencari apa yang diminta anaknya pada ibunya tadi pagi sebelum berangkat kantor. “Bu…hadiahnya buku ya Bu. Buku yang ada jamnya itu loh. Soalnya Iz mau belajar jam-jaman, Bu” pintanya.
Ah, ingatan enam tahun lalu membuatnya berusaha untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan setiap momen-momen penting anaknya—yang bisa jadi tidak bermakna buat yang lain—hanya agar kelak anaknya tahu betapa ia mencintai dirinya.
Ah, ingatan enam tahun lalu dan ingatan pagi ini, membuatnya ia teringat sepenggal ayat ini:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (AlKahfi:46)
Ah, ingatan enam tahun lalu dan pagi ini, membuat harapnya membuncah ke angkasa. Tidak hanya satu tapi berjuta harap untuk kebaikan diri dan anaknya pada SangPengabulHarap.
Ah, saat ini ia berkata: “aku mencintaimu, istriku…”
Dan ia pun berkata lagi: “aku mencintaimu, anakku…”

CERAIKAN SAJA AKU…!!!


CERAIKAN SAJA AKU…!!!

Ada hal yang sangat menggembirakan bagi saya hari-hari ini, yakni kegembiraan mendengar dan membaca berita tentang adanya pemberlakuan secara efektif larangan merokok di tempat yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Dilarang Merokok (KDM) pada hari Kamis kemarin (06/04).
Dari berita yang saya dapat bahwa menurut pasal 13 Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PPU), ada lima areal publik yang dikategorikan bebas asap rokok. Artinya, tidak ada seorang pun boleh kebal-kebul di kawasan itu, baik di ruangannya atau pun di tempat terbukanya, misalnya di halaman atau lahan parkir. Tidak ada smoking area di lima tempat ini. (detik.com/06/04)
Salah satunya adalah tempat publik berupa tempat kerja atau kantor swasta dan pemerintah, di mana pengelola tempat publik tersebut harus menyediakan suatu tempat khusus bagi perokok.
Pelarangan merokok di tempat publik berupa tempat kerja atau kantor pemerintah inilah yang membuat saya bergembira. Tanya kenapa? Soalnya walaupun baru berlaku efektif kemarin—dengan adanya penindakan tegas terhadap yang melanggarnya—namun di tempat saya sudah berlaku efektif jauh-jauh hari sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Raya bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI mensyahkan perda tersebut. Tentunya karena mendengar adanya sanksi berat berupa denda maksimal Rp50 juta.
Di tempat saya bekerja terutama di seksi di mana saya berada, dari sepuluh orang pegawai—dimana di dalamnya ada dua wanita—ada 40% pegawainya yang merokok. Maka bisa dibayangkan bukan jika mereka bersama-sama merokok apalagi pada jam-jam istirahat, asapnya berhamburan kemana. Dan dikarenakan ruangannya berpendingin maka jelas ruangan tersebut tertutup rapat sehingga asapnya pun tidak kemana-mana. Belum lagi kalau ada teman-teman sesama perokok yang ikut nimbrung mengobrol.
Yang dirugikan otomatis adalah perokok pasif seperti saya ini. Perlu diketahui perokok pasif adalah orang yang tidak merokok namun menghirup gas buangan dari rokok yang dihisap oleh si perokok. Bahkan berdasarkan penelitian lama disebutkan resiko terburuk dan terbesar diderita oleh perokok pasif bukan perokok aktif tersebut. Mulai dari kanker paru-paru, kelainan jantung, dan impotensinya itu loh…
Saya jelas tidak bisa menegur, pertama karena tidak enak saja. Tapi ada kok teman wanita yang keras kalau dalam masalah ini, ia langsung menegur pada orang yang merokok di dalam ruangan. Hebat euy…
Yang kedua karena ketika sudah saya tegur, eh malah saya yang kena damprat. Kalau sudah begitu, saya bisanya cuma diam saja. Sambil kadang menggerutu dan berkata dalam hati: “Awas loh entar di akhirat nanti, saya minta pertanggungjawaban ente-ente pade.” Sadis nian…
Dengan berjalannya waktu dan dengan pernafasan yang tercemar dengan asap rokok, serta kesabaran yang tiada habis-habisnya, akhirnya keluar juga peraturan yang melarang merokok di tempat umum tersebut. Saya menyambut gembira peraturan ini.
Efeknya memang tidak langsung dapat dirasakan. Karena kebanyakan ketika teman-teman di sini ditakut-takuti dengan ancaman hukuman itu, mereka malah ngelunjak dan malah balik bertanya: “memang kantor sudah menyediakan tempat untuk kami. Inikan hak asasi kami juga?” Wah…wah…
Tapi lama-kelamaan, sepertinya mereka merasa tidak enak juga karena setiap hari diberitakan dengan gencarnya di media massa ataupun media elektronik tentang sosialisasi yang dilakukan pemprov terhadap para perokok di tempat publik. Akhirnya dengan kesadaran sendiri mereka mengalah dan mencari tempat merokok yang aman dari gangguan—minimal cemberutan—teman-teman yang tidak merokok.
Tempatnya sekarang adalah ruangan dapur berukuran 2 x 1,5 meter, yang dipintunya ditempel secarik kertas bertuliskan:

SMOKING AREA
Kapasitas Terbatas: 3 Orang
Antri……….Bozzzzzzz
—No Drugs—

Tapi kapasitas maksimal itu tidak bisa ditaati oleh mereka, karena sudah kebelet dan mulut sudah terasa asamnya, lima orang dalam ruangan sempit seperti itu sepertinya tidak jadi masalah. Biarlah, yang rugikan mereka sendiri…
Sebenarnya secara tidak langsung adanya peraturan ini untuk mengurangi masyarakat akan ketergantungan terhadap rokok. Karena dengan tidak bebas lagi merokok dan mencari tempat untuk merokok pun susah, masyarakat lama kelamaan akan mengurangi jatah merokok dalam seharinya.
Karena hal ini pernah dirasakan oleh saya, maka saya menyadari susah memang untuk berhenti merokok kecuali dengan adanya tekad yang kuat dan adanya teman-teman yang mendukung usaha itu.
Tapi sudah hampir dua belas tahun saya enjoy dan menikmati sekali hidup tanpa rokok di mulut, menikmati sekali bangun pagi tanpa merasakan tenggorokan sakit, mulut asam sehabis makan, hidup sumpek dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan yang lain. (Untuk lebih jelasnya tentang proses kreatif saya berhenti dari merokok, baca: Berhenti Merokok itu Gampang di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/13743 ).
Kerinduan itu pasti ada, tapi sewaktu di awal memulai perjuangan untuk tidak merokok. Sekarang kerinduan itu tidak ada lagi, bahkan hawa kebencian saja adanya. Tapi sering kugoda Qaulan Sadiida, “Ummu Maulvi, bagaimanakah jikalau jiwa merana ini kembali untuk merasakan kenikmatan semu duniawi. Berenang di lautan api dan pelangi asap yang melangit ke angkasa dengan indahnya?”
Apa coba jawabnya: “Ya Abu Muhammad, jikalau jiwa merana yang engkau miliki berhasrat untuk menikmati debu api neraka seperti itu lagi, maka ceraikan saja aku…”sambil cemberut dan melengos. Weks….Kagak kuat…Mantap nian ketegasan untuk tidak kembali kepada keburukan. Itulah ia.
By the way, saya perlu mengucapkan terimakasih kepada Anggota DPRD DKI Jaya dan Pemprov DKI yang telah mengeluarkan peraturan daerah yang sangat bermanfaat sekali bagi kesehatan masyarakat banyak dan juga sebagai modal pembentukan bangsa yang sehat dan kuat ke depan.
Sekarang, Alhamdulillah ruangan saya bersih dari asap rokok. Pagi terasa nikmatnya dengan udara segar, siangnya pun tidak terasa semakin panas dan pengap. Di saat kerja pun tiada lagi gangguan asap dari teman-teman yang merokok yang mampir di meja saya.. Semoga saya bisa merasakan nikmatnya udara segar ini selamanya.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di saat pagi indah dengan cerahnya sinar mentari pagi
09:29 07 April 2006

Tujuh Tahun Berpacaran


Tujuh tahun sudah mereka berpacaran. Banyak kisah sedih, banyak kisah gembira membungkusnya. Di setiap hari, di setiap pekan, di setiap bulan, hingga di setiap tahun yang mereka lalui, selalu berusaha untuk bisa memahami diri masing-masing.
Tentunya selalu ada konflik mengiringi, dan di lain pihak ada pula solusi sebagai klimaksnya. Seperti seorang teman mereka selalu katakan: “setiap hari adalah waktu untuk bisa memahami”.
Dari kesepahaman yang dipilin pelan-pelan di setiap detiknya, selalu ada keinginan membentuk jalinan tambang yang kuat. Hingga akhirnya ada saja keberkahan yang diberikan Allah muncul di dalamnya.
Mulai dari hanya sekadar memiliki rumah yang dicicil hingga lima belas tahun. Pemberian kipas angin, televisi bekas, rak plastik, kompor, talenan, magic jar dari banyak kawan yang bersimpati kepada mereka. Lalu perlahan-lahan memiliki alat transportasi yang membuat mereka sedikit berhemat dan dapat lebih mobil ke sana kemari.
Ditambah dengan lahirnya dua prajurit yang mengisi hari-hari mereka dengan keriangan. Lalu dengan sedikit tabungan merenovasi rumah agar bisa menambah kamar tidur untuk anak-anak mereka.
Dan begitu banyak rezeki lainnya yang tak pernah sempat mereka bayangkan sebelumnya. Tak sempat terlintas seumur hidup mereka. Tak berani mereka impikan karena bagaikan pungguk merindukan bulan. Tapi Allah selalu membuka jalan. Dan mereka berkesimpulan inilah berkah yang Allah berikan kepada mereka selama tujuh tahun pacaran, tentunya setelah menikah.
Ya, karena mereka malah tidak mengenal satu sama lain sebelum ikatan sah itu terjalin. Karena mereka lebih menginginkan proses ta’aruf (pengenalan) dan tafahum (pemahaman) berjalan setelah sahnya hubungan mereka secara agama dan negara, maka mereka rela untuk tidak mengenal terlebih dahulu. Biarlah waktu yang akan membuktikan proses ta’aruf dan tafahum itu.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Lebih dari tujuh tahun lalu. Di saat krisis moneter melanda negeri indah ini, dengan azzam yang tak terkira dan tak terbendung oleh manusia di muka bumi pada saat itu, lelaki muda yang baru setahun setengah lulus dari kampus tercintanya ini, melangkahkan kaki dan mengetuk pintu rumah sang murabbi hanya untuk mengatakan: “Insya Allah, saya siap.”
Setelah itu, sepucuk amplop putih tidak terlalu tebal telah berpindah tangan. Dan menjadi pemikirannya di sepanjang perjalanan pulangnya, di pinggiran jendela Kopaja 613. Ia sudah memahami apa yang ada di dalamnya. Gambaran diri seseorang yang kelak akan memenuhi hari-harinya di masa mendatang.
Tapi ia tak mengetahui siapa. Dari sedikit informasi yang diberikan sang murabbi, ia hanya mengetahui di mana ia bekerja. Lalu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, sosok wajah yang baru dikenalnya dalam sebuah kepanitiaan yang belum lama dibentuk. ”Ia kah…?” Sejuta tanya menggelayut di benak.
Ini adalah sebuah konsekuensi. Kesiapannya yang telah ia katakan belum lama telah membentuk sebuah dinding tebal yang tak mudah untuk diruntuhkan. Yang mudah dan sulitnya harus ia bebankan di pundaknya sendiri.
Sudah dua hari ia tak menyentuh amplop putih yang ia taruh di laci meja kantornya. Ia memasrahkan pada Allah apa yang akan ditunjukkanNya kepada dirinya. Hanya harap yang terbaik yang diberikan kepadanya, sambil mengingat dialognya dulu.
”Kriterianya apa?”tanya sang murabbi.
”Terserah antum, Ustadz. Bekerja atau tidak, bukan masalah. Lebih tua atau muda, bukan masalah. Kaya atau miskin, bukan masalah. Sekalipun janda itu pun bukan masalah bagi saya. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Ustadz, Insya Allah, siapapun yang antum tawarkan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir. Sehingga tidak perlu mengulang proses semuanya dari awal,”jawab lelaki itu panjang, bernas.
Lalu hari ketiga, setelah dhuha yang cerah, saatnya ia menguatkan hati untuk membuka amplop putih itu. Bismillah. Secarik kertas dengan satu lembar pasfoto hitam putih ukuran 4 x 6 telah di genggaman tangannya.
Ternyata bukan yang pernah terlintas dalam pikirannya. Tidak pernah ia kenal. Dan ia pun baru tahu namanya saat itu walaupun perempuan ini adalah adik kelasnya juga. Yang paling mengejutkan bagi dirinya adalah perempuan ini pun menjadi ketua keputrian dalam acara forum silaturahim itu.
Maka ajang rapat final menjadi saat tepat untuk melihat calon pendamping dari dekat. Secukupnya tentu. Lelaki ini pun yakin sang perempuan belum mengetahui bahwa data dirinya ada padanya.
Lalu acara yang diselenggarakan di daerah pegunungan tersebut pun lagi-lagi menjadi saat tepat bagi lelaki muda ini untuk melihat perempuan itu lagi. Tentunya dengan mencuri-curi pandang.
”Ah, inikah yang Allah tunjukkan untukku…?”tanyanya dalam hati.
Lalu setelah acara itu selesai, tanpa menunggu lebih lama lagi lelaki ini langsung meneruskan perjalanan menuju tempat sang murabbi, hanya untuk mengatakan: ”Insya Allah, ya.”
Lagi, di sepanjang perjalanan pulang dengan Kopaja 613, semuanya menjadi bahan perenungannya. Jatidirinya telah ia serahkan kepada sang murabbi untuk diteruskan kepada perempuan itu dengan foto berwarna seukuran kartu pos. Lelaki dalam foto itu bersetelan jas dan dasi pemberian saat menjadi anggota kepanitian wisuda, tentunya dengan senyum sedikit yang tersungging di wajah.
Kini bola ada di tangan perempuan itu yang akan memutuskan menerimanya atau tidak.Dan ia akan sabar menunggu. Entah sampai kapan. Ia cuma berharap akan adanya sebuah kepastian di genggaman tangannya, agar bisa melanjutkan proses selanjutnya perkenalan atau melihat jatidiri orang lain lagi.
Dua minggu setelah itu, tepatnya pada pergantian tahun, kabar kepastian itu datang pada lelaki muda itu.
”Bagaimana ustadz?”
”Insya Allah tidak menolak.”
”Alhamdulillah, lalu kapan kita akan ta’aruf, ustadz?”
”Tidak usah, langsung saja tanya, kapan antum bisa pergi ke orang tuanya untuk menentukan tanggal khitbah dan akadnya.”
Lelaki ini memaklumi tidak ada proses ta’aruf dengan perempuan itu dikarenakan perempuan ini binaan dari istri ustadz itu sendiri. Berarti sudah tahu betul tentang perilakunya. Pun ini agar prosesnya tidak bertele-tele sesuai keinginan lelaki muda itu sendiri.
Akhirnya satu bulan kemudian dengan seorang sahabat terdekatnya, lelaki itu memberanikan diri pergi bersilaturahim dengan keluarga pihak perempuan. Dengan niat baik agar tidak ada zinah hati di antara mereka, maka lelaki itu meminta agar proses khitbah bisa dipercepat.
Satu bulan berikutnya setelah kedatangan pertamanya, maka lelaki itu kembali dengan rombongan kecilnya untuk mengkhitbah sang perempuan. Tanggal pelaksanaan akad nikah pun ditentukan satu bulan setelah khitbah ini.
Suatu waktu yang diluar harapan sang lelaki. Tidak perlu berlama-lama dan cuma mengucapkan akad di depan penghulu, itu sudah lebih dari cukup. Namun pihak keluarga perempuan memandang lain, bahwa ini adalah kesempatan pertama menikahkan anak perempuannya, maka sudah selayaknya ada suatu walimatul ’urusy.
Akhirnya, tiba saat itu, saat di mana sesuatu yang haram menjadi halal, sesuatu yang dilarang menjadi diperbolehkan, sesuatu yang penuh shubhat menjadi ladang amalan sunnah. Walimatul ’urusy yang menjadi puncak penantian selama kurang lebih empat bulan lamanya terlaksana dengan lancar, tentu dengan syarat bahwa ada pemisahan antara tamu pria dan wanita, tidak ada kemubadziran, mengundang tanpa membedakan status seseorang, dan semua ini membuat mata-mata itu memandang heran kepada pasangan baru tersebut.
Sejak saat itulah, proses pacaran itu dimulai untuk bisa saling memahami, mengerti, dan mencintai apa adanya karena Allah ta’ala. Di sana ada tarik ulur, mengalah, diam, marah, sedih, negosiasi, proses komunikasi verbal, bahasa tarbawi dan dakwah, bahkan ssst…dengan bahasa cinta.
Tentu ada saja riak gelombang yang mengguncang perahu yang berlabuh di dermaga. Kadang besar, kadang kecil, membuat perahu itu semakin berkeyakinan ini adalah bentuk ujian untuk bisa menuju kesempurnaan bahkan paripurna dari suatu pemahaman. Lelaki itu cuma bisa berharap agar Allah menguatkan dirinya untuk dapat melindungi dirinya dan perempuan yang telah menjadi istrinya itu dari panasnya siksa api neraka.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Ah, lelaki itu masih saja membuka album pernikahannya. Memandang sosok-sosok yang telah membantu mereka agar proses itu cepat selesai, tetap pada koridor Islami, dengan doa, kerja keras tak mengenal lelah, dan jauh dari keluarga. Sungguh tiada balasan yang lebih baik daripada balasan yang Allah berikan kepada mereka.
Senja itu sama seperti senja tujuh tahun lalu, yang masih saja menguning dengan matahari yang membulat. Tiba-tiba anginnya menelusup sejuk melalui sela-sela jendela, membuai, dan menyadarkan masih ada kenangan yang tersisa di antara selaput otaknya yang sudah mulai kehilangan sebagian memorinya. Ah tidak, tidak hilang untuk memori tentang sebagian dari mereka.
Senja itu masih sama seperti senja tujuh tahun lalu…
****

Lelaki yang kini sudah tidak muda lagi itu dan tentunya kini sudah dengan dua prajurit kecilnya, menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawan seperjuangannya yang telah membantu banyak di waktu tujuh tahun lalu itu.
Kepada akh Lukman Bisri Hidayat: sang pendamping setia dan sang saksi, akh Ujang Sobari, akh Ramli, akh Bambang (munsyid Najmuddin), akh Binhadi (MC berbahasa Jawa) akh Henjang, akh Anang Anggarjito, semoga Allah merekatkan ukhuwah dan mengumpulkannya kembali kelak di surga-Nya.
Sang Perempuan menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawannya pula: yakni untuk ukht Ira Melati (seseorang yang sempat terlintas di benak lelaki muda itudan menduga data di amplolp itu adalah data dirinya), Kwatri, Dini, Tari, Azimah Rahayu (yang tak sempat untuk menjadi ketua panitia), Mela, Fitri, Mbak Erna, dan lain sebagainya.
Kata kedua pasangan itu kepada saya, ”maaf untuk yang belum disebut namanya, sesungguhnya Allah Mahamengetahui, dan Mahapembalaskebajikan.”

Jika malam masih meracau dengan kesunyiannya,
maka terlelaplah engkau segera, karena dunia belumlah kiamat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:14 02 April 2005

Whenever, Whereever


21.03.2006 – Whenever, Whereever

Terpikir tidak sih bahwa dosa-dosa yang telah dan sering kita lakukan begitu banyaknya sehingga tidak bisa dihitung. Mungkin dosa-dosa besar memang tidak kita lakukan (amit-amit yee, dan semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian), tapi dosa-dosa kecilnya itu loh. Yang sedikit demi sedikit, disadari atau memang sengaja dilakukan, tahu-tahu bertumpuk dan sudah setinggi gunung, sedalam samudra.

Mulai dari kedengkian kepada teman atau tetangga, dendam tiada berkesudahan, mulut yang tidak bisa diredam untuk tidak menyakiti hati orang lain, mencela, mengoleksi kata-kata hinaan, menggunakan mata, tangan, dan kaki kita untuk melakukan keburukan-keburukan kepada sesama, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lalu terpikir tidak sih pada sedikitnya kebaikan yang telah kita lakukan karena kita susah sekali untuk membuat wajah kita enak dipandang mata dengan senyum yang terindah tersungging di wajah. Atau menyapa saudaranya dengan salam rahmat dan perdamaian padahal seringkali mulut terasa kaku dan kelu.

Pula karena kita tidak pernah mengikhlaskan hati untuk memaafkan, berinfak dengan harta yang kita punyai di waktu lapang atau sempit, mendoakan orang tua dan keluarga, mengasihi yang lebih muda, menghormati yang labih tua, persangkaan yang baik, menyingkirkan duri, dan berjuta-juta kebaikan lainnya.

Maka terpikir tidak sih ketika mizan kebaikan dan keburukan di pertontonkan kepada kita kelak, kita akan terkejut bahwa sejuta kebaikan yang pernah kita lakukan dan persangkakan menjadi pemberat timbangan ternyata nihil dan terangkat pada sisi lainnya karena lebih banyak keburukan yang kita lakukan. Dan kita akan diberikan kitabnya dari belakang, sehingga kita akan berteriak: “celakalah aku”.

Lalu kita hanya mengandalkan dan berharap pada rahmat Allah, syafaat Rasulullah, dan orang-orang yang mati berperang di jalan Allah? Itu pun dengan izin Allah yang seringkali kewajibanNya yang diperintahkan kepada kita diabaikan begitu saja di dunia. Penyesalan pun sia-sia.

Masya Allah, selagi belum terlambat, semasa nafas masih menghela, sesaat waktu yang kian cepat berlari, begitu banyak ladang kebajikan terhampar di depan kita. Tidak perlu yang besar-besar dengan memberikan banyak hadiah kepada teman dan berinfak dengan seluruh harta kita, jikalau engkau belum mampu untuk melakukannya. Tidak memulainya terlebih dahuku dengan berjihad berperang di jalan Allah, selagi di dalam hati kita masih saja punya cinta dunia dan takut mati.

Yang kecil, saat ini, begitu banyak kebaikan yang telah ranum dan siap untuk dipetik oleh kita. Meluruskan niat salah satu contohnya saja sudah membongkar perangkap syirik yang siap memenjarakan kita. Yang kecil, saat ini juga.

Atau seperti teman saya ini, kerana menyadari bahwa masih sedikitnya kebaikan yang ia lakukan dan betapa banyaknya sarana atau wasilah yang ia miliki. Ia tidak segan-segan untuk selalu membagi-bagikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena ia ingat:

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong[353] dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (Annisa:123)

Ia mengerti betul bahwa ketika ia membagi-bagikan kebaikan maka ada energi kebaikan yang ia akan dapatkan. Dan ia mengerti betul di kala keburukan yang ia sebarkan, maka ada energi keburukan yang akan memantul pada dirinya. Sehingga dengan ini ia akan berhati-hati dan berpikir dua kali untuk menyebarkan keburukan. Sehingga dengan ini pula ia bersegera dan bersemangat untuk melakukan kebaikan kerana pahalanya itu akan mengalir pada dirinya entah sampai kapan.

Maka contohlah ia yang selalu di setiap paginya, sesaat akan berangkat ke kantor, ia membersihkan jalan depan rumahnya dari segala sesuatu yang mengakibatkan orang lain sengsara, seperti batu-batu jalanan dan benda-benda tajam. Maka contohlah ia yang selalu membagi-bagikan peraturan perpajakan yang terbaru kepada para peserta milis yang membutuhkannya.

Contohlah ia—karena ketidakpunyaan yang dirasakannya—mengazamkan diri untuk tidak datang terlambat pada pertemuan di setiap pekannya, dan mengisi di tempat-tempat lain dengan hanya menaiki sepeda kayuh.

Contohlah ia yang berusaha untuk tetap memberikan senyuman yang terindah kepada istrinya setelah tiba di rumah walaupun di tengah lelah yang menghimpit kerana berdesak-desakan di atas kereta api sore hari. Contohlah ia yang tak pernah tega untuk mengucapkan kata-kata keras kepada anak-anaknya.

Contohlah ia yang tidak pernah memaki, menghina, ataupun mengeluarkan persangkaan buruk kepada saudara seimannya. Contohlah ia yang di dalam setiap doanya selalu meminta agar para tetangganya mendapatkan kebaikan dan rahmat dari Allah Yang Mahakaya. Contohlah ia yang tak pernah menuduh orang lain berbuat curang sebelum ia telah menunjukkan keempat jarinya pada dirinya sendiri lalu ia menasehatinya.

Ah…begitu banyak kebaikan yang bisa dilakukan teman-teman saya ini. Sungguh saya ingin meniru mereka, dengan menyebar banyak kebaikan. Kapan saja, di mana saja. Apa saya bisa? Mereka bisa, kenapa saya tidak?

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih saja seperti ini

10:45 21 Januari 2006

Memilih di Antara Dua Wanita


Memilih di Antara Dua Wanita

Perempuan yang satu ini memang luar biasa, dengan kegesitannya ia berhasil mengumpulkan premi dari nasabah sebesar lebih dari 800 juta rupiah tahun lalu. Padahal ia baru saja dua tahun bergabung
Keberhasilannya itu membuat dirinya meraih penghargaan sebagai agen terbaik Takaful—perusahaan asuransi syariah pertama di Indonesia, dan perusahaan berniat mengganjarnya dengan mencalonkannya sebagai anggota klub elit agen peraih premi jutaan dollar, Million Dollar Round Table (MDRT). Dengan pencalonan ini, jika disetujui, maka PT Asuransi Takaful Keluarga akan menjadi perusahaan syariah pertama yang memiliki perwakilan di MDRT. (Republika, 01 Maret 2006).
Untuk itu kinerjanya akan dipantau sampai dengan bulan Juli nanti, jika sesuai dengan target yang diemban—sejak menjadi agen terbaik tersebut targetnya terus dinaikkan—maka kunjungan ke San Diego, Amerika Serikat dan ke salah satu kota di Australia akan terlaksana.
“Saya harus lebih kerja keras, lagi nih,” katanya sambil menunjukkan harian nasional itu kepada saya.
”Tapi ingat loh, mbak ini sudah punya anak. Jadi biasanya neracanya seringkali akan tidak seimbang. Ada dua kaki yang dipijak antara dunia kerja dengan dunia pengasuhan anak-anak. Jika tidak hati-hati, anak sebagai harta tak ternilai seringkali terlupa dan terlantar.” kata saya panjang sok menggurui. Ia cuma manggut-manggut saja.
”Jadi bagaimana mas, mau ikut kan? Kalau ikut berarti turut serta berjasa mengantarkan saya loh mas,”desaknya.
”Ya nanti dulu, saya diskusikan dengan yang di rumah.”
”Oke nanti kamis besok saya kemari, menerima jawabannya, yah…”desaknya lagi.
”Ohya, masih liqo kan?”tanya saya tak menghiraukan jurus marketingnya yang hampir-hampir ampuh untuk menaklukkan saya.
”Alhamdulillah masih. Barusan minggu kemarin ikutan dauroh murabbi.”
”Wah mantap, nih…?”
”Ah tidak, saya cuma aktif kecil-kecilan saja di DPRa. Kalau suami memang aktifnya di DPC.”
”Baguslah, memang mbak ini sudah liqo sejak tahun kapan sih?”setengah penasaran.
”1993…”
”Luar biasa, senior nih,” pikir saya. Walaupun lama atau tidaknya seseorang bukan menjadi parameter untuk menilai keberhasilan dalam berdakwah dan penataan ruhiyah, tapi seringkali kesenioran dan pengalaman bisa diambil menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi ke depan.
Pertanyaan serupa pun saya ajukan kepada salah satu perempuan agen asuransi takaful yang lainnya, yang telah mendapatkan dua premi dari saya untuk asuransi pendidikan anak.
Tapi sayang, sejak kepindahannya dan ikut bersama dengan suaminya tinggal di tempat yang baru, ditambah dengan kehamilan pertamanya membuat jalan transfer pertemuan tidak berjalan mulus. Entah karena kesibukannya mengurus anak dan suami atau karena hal lainnya. Sehingga berbulan-bulan sampai menginjak tahun pertama tidak ada aktivitas jama’i yang dilakukan, suaminya pun sibuk dengan urusan bisnis.
”Mbak, Cobalah bergabung kembali, hubungi saja DPRa terdekat, Insya Allah mereka siap menerima, kok,” saran saya.
”Insya Allah, Mas.” jawabnya pelan. ”Tapi mas jadi bukan untuk mengambil produk yang ini?” Wajahnya memelas begitu. Memang beda sekali perempuan yang terakhir ini dengan yang pertama.
Kalau yang pertama terlihat gesit sekali, cepat, ulet, dan luwes bahkan kuat—coba bayangkan naik motor keliling Jakarta yang panas untuk menjumpai dan mencari customer di tengah hukum rimba belantara lalu lintas ibukota.
Sedangkan yang kedua terlihat lemah lembut, pelan dalam perkataan namun tidak mengurangi kepintarannya dalam menjelaskan semua jenis produk asuransinya. Satu lagi adalah ia benar-benar seperti akhwat yang saya kenal di kampus dulu, dari cara berpakaiannya yang rapih dan ghodul bashor-nya itu loh.
”Mbak, nanti dulu yah, saya bicarakan dengan yang di rumah. Insya Allah ketika kami sudah sepakat saya akan menghubungi mbak.” Lagi-lagi alasan ini yang menjadi andalan saya untuk berkelit, walaupun memang kami sedang membutuhkan salah satu produknya tapi melihat kondisi keuangan yang ada, kami butuh waktu lagi untuk memutuskan ikut atau tidaknya.
Sekarang saya mempunyai dua penawaran yang diberikan oleh orang-orang yang dekat dengan kami. Walaupun tidak dekat-dekat amat sih terutama untuk perempuan yang pertama. Qaulan Sadiida pun belum mengenalnya.
Tapi setidaknya dengan menjatuhkan pilihan padanya, turut membantu dirinya lebih berprestasi lagi. Bisa ke luar negeri, Boo. Bahkan katanya kalau prestasinya bisa dipertahankan, hadiah pergi umroh ke tanah suci sudah menanti. Wow…Lagipula dia masih liqo loh…Soalnya banyak sekali wanita aktifis (dan pria-nya juga) yang semula bersemangat sewaktu di kampus, namun 180 derajat berubah setelah berada di lingkungan kerja yang lebih mementingkan hasil daripada proses.
Mungkin bila pilihan itu jatuh pada dirinya, sebagian besar karena kami salut padanya yang tetap semangat dan berpegang teguh pada jalan yang ia pilih. Kerja iya, dakwah juga iya. Two thumbs up.
Tapi untuk perempuan yang kedua ini, kami sudah cukup erat dan lama berhubungan dengannya sejak tahun 2000. Di awali dengan memilih asuransi kesehatan yang ia tawarkan tapi kami tarik lagi setahun kemudian untuk biaya persalinan, juga berlanjut dengan dua tawaran asuransi pendidikan yang kami ambil dan pertahankan sampai sekarang. Mungkin jika pilihan itu jatuh pada dirinya, satu yang pasti adalah karena kedekatannya dengan kami, itu saja. Duanya adalah membantunya untuk membeli baang satu atau dua kotak susu untuk anak pertamanya itu.
Ah, pilihan sulit. Tapi kiranya tidak ada salahnya mereka menghubungi Qaulan Sadiidan yang kantornya cuma satu kali naik angkutan kota dari sini. Biarlah mereka berbicara dengan hati yang cuma dimiliki oleh wanita. Lalu biarlah Qaulan Sadiidan yang memberikan kata vonis. Soalnya terkadang saya—pria—seringkali malah menggunakan perasaan secara berlebih, tidak dengan nalar secukupnya. Pada akhirnya: memilih di antara dua wanita memang bukan keahlianku.

Ah, pilihan sulit juga. Tapi kiranya tidak, bila dua upaya telah dilaksanakan: istikharah dan musyawarah. Pembaca pasti tahu tentang istikharah ini bukan? Apalagi bagi Anda yang masih menjomblo dan berniat mendapatkan pasangan yang sholih atau sholihah. Masya Allah, Anda kiranya sampai mencucurkan air mata untuk menentukan pilihan pada siapa perahu cinta ini akan berlabuh? Si diakah yang telah membuat hati menjadi tertambat? Atau kepada si diakah yang dengan akhlaknya dan ke-isitiqamah-annya membuat cintamu bertambah pada-Nya. Subhanallah.
Ah, untuk memilih saja, Islam telah mengajarkan dengan begitu indahnya.

”Dari jabir bin Abdullah ra, ia berkata:
Rasulullah saw mengajari kami istikharah dalam semua urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepada kami, beliau bersabda:
Apabila salah seorang di antara kalian menghadapi suatu urusan maka hendaklah ia ruku’ (shalat) dua raka’at bukan fardhu kemudian hendaklah ia mengucapkan:

”Ya Allah,
Sesungguhnya aku meminta dipilihkan kepada-Mu dengan ilmu-Mu,
Dan aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuatan-Mu,
Dan aku meminta kepada-Mu dari keutamaan-Mu yang Maha Agung,
Karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedangkan aku tidak kuasa,
Dan Engkau mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,
Dan Engkau maha Mengetahui yang Ghaib.
Ya Allah,
Jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku
—atau beliau mengucapkan: urusanku yang segera dan yang kemudian hari—
Maka taqdirkanlah ia untukku
Dan mudahkanlah ia untukku
kemudian berkatilah ia untukku,
tetapi jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah buruk bagiku
didalam agamaku,
kehidupanku, dan akhir urusanku
—atau beliau mengatakan: urusanku yang segera dan yang kemudian hari—
Maka palingkanlah ia dariku
Dan palingkanlah aku darinya,
Dan taqdirkanlah kebaikan untukku apapun adanya,
Kemudian ridhailah aku dengannya”.

Nabi saw bersabda: ”Dan ia menyebutkan keperluannya.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam Shohihut Targhib wat Tarhib 1/358, hadits ini shahih)

Maka saya ucapkan: ”Memilih, istikharahlah…”

Allohua’alam bishshowab

Maraji:
1. Republika, 01 Maret 2006;
2. Terjemahan dari kita: Al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wat-Tarhib lil Mundziri (Dr. Yusuf Qaradhawy).

Allohua’lam bishshowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Rabu, 01 Maret 2006

Takaful Daftarkan Wakil ke MDRT

JAKARTA — PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) berencana mengajukan salah seorang agennya, Sumaryanti (30), menjadi anggota klub elit agen peraih premi jutaan dolar, Million Dollar Round Table (MDRT) pada Senin, (28/2). Jika disetujui Takaful bakal jadi perusahaan syariah pertama yang memiliki perwakilan di MDRT.

”Takaful akan diakui secara internasional. Ini bagus sekali,” kata Presiden Direktur PT Syarikat Takaful Indonesia, Wan Zamri Wan Ismail, usai menghadiri seminar dan penghargaan agen terbaik Takaful, Senin, (28/2). Sumaryati dipromosikan karena tahun lalu menghimpun premi Rp 858 juta. Ia baru dua tahun bergabung dengan Takaful.

Menurut Wan Zamri, MDRT merupakan grup yang terdiri dari ribuan orang berprestasi dalam penjualan produk asuransi. Kata dia, ribuan orang berprestasi tersebut mewakili sedikitnya 74 negara. ”Setahu saya, hingga kini, MDRT memiliki 38.900 anggota sedunia,” katanya.

Ia juga menyebutkan, pengajuan perwakilan Takaful juga bertujuan untuk mempelajari sistem dan metode yang digunakan MDRT dalam mengembangkan industri asuransi konvensional di dunia. Ia berharap industri keuangan syariah di dunia juga memiliki MDRT terpisah. ”Menurut pemikiran saya, May mendatang sudah ada MDRT berbasis Syariah,” katanya.

Wan Zamri menyebutkan, saat ini, jumlah perusahaan asuransi syariah di dunia mencapai hampir 80 perusahaan. Jumlah agen diperkirakan sebanyak 10 ribu orang. Berdasarakan data tahun 2004, premi yang dikelola asuransi syariah di sejumlah negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) mencapai 30 miliar dolar AS.

Pengamat asuransi, Ida Kuraeny, menyatakan terdapat sejumlah keuntungan yang diperoleh Takaful usai bergabung dengan MDRT. Selain diakui secara internasional, Takaful juga akan diikutkan dalam sejumlah program asuransi internasional. ”Hal ini bagus untuk pengembangan Takaful ke depan,” kata wanita yang juga mantan anggota MDRT ini.

Siapakah Engkau Kiranya?


Duh,
kiranya tiada kegembiraan
selain melihat seorang sahabat bercahaya
dengan kata-kata mengalun bak buluh perindu.
Wahai saudaraku, wahai akhi…
Semoga Allah merahmati kami dengan satu Qaulan Sadiidan dan dua prajurit-Nya yang kudamba menjadi pejuang-pejuang Islam kelak dewasa nanti.
Sang mutaakhir, kuidamkan menjadi sosok-sosok cerdas dari kader Islam yang senantiasa detik demi detiknya berjuang untuk agamanya yang lurus.
Sang muhandis Yahya ‘Ayyasy kuidamkan menjadi seorang hafidz dan ‘ulama yang faqih dalam ilmunya, merendahkan diri, tidak suka berjidal namun tinggi didepan musuh-musuh Allah.
Wahai saudaraku,
kiranya nama-nama yang engkau sebutkan membuatku semakin bertambah keyakinan bahwa ukhuwah ini telah membuatku merindukan masa-masa lalu
faisal,wisnu,amran,maman,lukman,abas,anwar,agus,totok.. .
atun,yetty,titi,murdiana,sobiroh,ita,…….
tak kusebut nama yang ditebalkan karena ia tak layak dibandingkan dengan nama-nama di sisinya.
Wahai akhi, wahai saudaraku
siapa gerangan engkau yang telah membuat bambu hatiku terusik dengan suara berisik oleh angin perkataan syahdumu
ah…kiranya engkau sudi memperlihatkan wajah rembulanmu…
sekarang atau nanti?

— Previous Private Message —
Sent by : bercahaya
Sent : 16 March 2006 at 11:12am
wa ‘alaikum salaam
duh senangnya kau baca tulisanku
ingin rasanya ku belajar menulis darimu
dimanakah kau belajar?
gimana kabar keluargamu? sehat-sehat sajakah?
diriku mengenal dirimu
riza,faisal,wisnu,amran,maman,lukman,abas,anwar,agus,totok.. .
atun,yetty,ria,titi,murdiana,sobiroh,ita,…….
bukankah mereka sahabat fikrohmu
rasanya baru kemarin…
juniormupun akan sekolah dasar
ngomong-ngomong dah berapa ya putramu?
ah…

BENTENG TAKESI


BENTENG TAKESI

Maaf kali ini Anda salah duga, Benteng Takesi ini bukanlah benteng yang akan diperebutkan oleh para peserta dalam suatu acara permainan televisi asal negeri sakura yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.
Tapi Benteng Takesi ini adalah hanya salah satu Pokja dalam suatu tim sukses pemilihan kepala desa di suatu wilayah di Kabupaten Bogor. Ya, bulan Juli mendatang hajat besar pemilihan umum lokal akan diselenggarakan di sana.
Kali ini, sebut saja Pak Ade, alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-Program Diploma Tiga Perpajakan Departemen Keuangan angkatan tahun 1992 mencoba peruntungannya untuk menjadi kepala desa. Beliau yang telah keluar dari instansi Direktorat Jenderal Pajak dan kini masih bekerja sebagai pegawai salah satu asuransi syariah terkemuka di Indonesia diberikan amanah dakwah untuk mencalonkan diri dan berpartisipasi dalam suatu pesta lima tahunan yang aromanya sengit dengan politik uang.
Untuk itu dibentuklah tim sukses untuk mendukung beliau yang kebanyakan berasal dari kader-kader Partai Keadilan Sejahtera. Mungkin tim ini adalah salah satu tim yang benar-benar menyusun dirinya dengan manajemen yang paling rapih. Di sana ada Ketua Tim, sekretaris dan bendahara, serta Pokja-pokja yakni Pokja Mas Parto, Pokja Pusdok Dai, dan Pokja Benteng Takesi.
Pokja Mas Parto adalah Pokja silaturahim ormas, parpol, dan tokoh masyarakat, yang tugasnya antara lain melakukan silaturahim dengan segala macam elemen masyarakat yang ada di Desa Ragajaya.
Sedangkan Pokja Pusdok Dai adalah Pokja Pusat Dokumentasi Data dan Informasi yang tugasnya antara lain melakukan pendataan dan pemetaan wilayah kantong-kantong pendukung.
Dan Pokja Benteng Takesi adalah Pokja Bentuk Centeng Atasi Keamanan dan Situasi yang anggotanya bertugas antara lain untuk melakukan antisipasi dan koordinasi pengamanan dan situasi gawat darurat. Dibentuknya pokja ini krusial karena semua sudah mafhum bahwa pemilihan kepala desa rawan sekali bentrokan antarpendukung.
Oleh karena itu untuk memimpin pokja ini telah ditunjuk al-akh yang mempunyai Qawiyul Jismi yang mumpuni dan biasa menangani hal ini. Kebetulan sekali profesinya pun tidak jauh-jauh dari unsur kekerasan yakni tukang jagal hewan. Maka melihat darah bercucuran dari tenggorokan hal yang sudah biasa bagi beliau. (Untuk kepanitiaan ini beliau telah diwanti-wanti untuk tidak melihat tenggorokan orang, maaf ini cuma joke belaka).
Tapi sayangnya tim sukses ini baru dibentuk pekan-pekan ini saja. Sedangkan tim sukses dari kandidat lain—preman, mantan kepala desa periode lalu, dan kepala desa yang masih menjabat saat ini—sejak enam bulan yang lalu sudah melakukan banyak manuver. Contohnya yang dilakukan oleh salah satu kandidat–yang benar-benar berpofesi sebagai preman di sana—memberikan tiga ekor kambing pada salah satu komplek perumahan terbesar di sana untuk pesta tahun baruan.
Atau kepala desa saat ini yang akan mengakhiri jabatannya itu sedang melobi Anggota DPRD Pemerintah Kabupaten untuk mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur tentang syarat pendidikan minimal SMU bagi calon kepala desa. Bila benar-benar aturan ini dikeluarkan sudah pasti dua kandidat lain yakni preman dan mantan kepala desa akan tersingkir. Tapi tanpa diketahui—mungkin salah satu atau sedikit keuntungan dengan sosialisasi yang terlambat, adalah sebenarnya masih ada calon kuat bagi sang kepala desa, yakni Pak Ade ini. Karena dari segi intelektualitas beliau mengungguli dan telah dikenal sebagai ustadz.
Tim sukses ini juga mempunyai tugas berat berupa sosialisasi bakal calon kepada masyarakat desa. Walaupun sudah dikenal di dua komplek perumahan—40% suara ada di sini—ditambah banyak kader Partai Keadilan Sejahtera yang berada di dalamnya, tapi sosialisasi intens tetap diperlukan terutama kepada masyarakat kampung.
Tak kalah pentingnya adalah bagaimana tim sukses dengan dana terbatas memberikan pemahaman dan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Karena sekali lagi Pak Ade ini di dukung secara All Out (karena beliau juga adalah kader inti) oleh Partai Keadilan Sejahtera yang mengusung slogan Bersih dan Peduli pada masa kampanye pemilu lalu, maka sudah tentu politik uang menjadi sesuatu yang diharamkan.
Dan ini adalah suatu hal yang paradoksal dari pakem yang sudah terlanjur melekat di benak seluruh masyarakat desa di republik ini. Bahwa slogan Anda Jual Saya beli atau Anda Tawar Saya Kasih sudah mendarah daging dalam pesta besar itu. Maka sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, masyarakat pun berbondong-bondong pergi ke setiap calon kepala desa untuk meminta barang sepuluh atau dua puluh ribu untuk setiap suara yang akan diberi.
Calo-calo suara mengatasnamakan kelompok besar masyarakat pun bermunculan bak cendawan di musim hujan. Serangan fajar yang dilakukan banyak calon kepala desa pula menjadi harapan bagi sebagian masyarakat agar setidaknya ada tambahan untuk uang dapur.
Tidak lupa, banyak juga orang yang menawarkan diri untuk ikut bergabung dalam barisan tim sukses calon kepala desa. Karena sudah tentu banyak fasilitas yang akan didapat oleh anggota tim berupa minimal telepon genggam baru, sepeda motor, bahkan gaji dan mobil untuk keperluan sosialisasi.
Tokoh-tokoh pendekar dari gudang jawara seperti Banten, Betawi, dan Cirebon pun didatangkan sekadar untuk melakukan penjagaan di rumah-rumah dan di setiap aktivitas calon kepala desa. Maka sudah barang tentu ikutannya pun tidak mau ketinggalan, seperti perang bermacam-macam ilmu sihir: santet, teluh, dan pagar ghaib.
Pemenuhan semuanya itu membutuhkan uang yang tidak sedikit dan sang calon kepala desa pun tidak keberatan untuk mengeluarkannya. Jika hal demikian yang terjadi maka apa yang akan dipikirkan pertama kali oleh sang kepala desa terpilih adalah bagaimana dapat balik modal. Kembali masyarakat pula yang akan menjadi korban dan sudah banyak fakta yang membuktikannya.
Semua itu tidak bisa diatur dan disamakan dengan aturan pemilihan umum anggota dewan ataupun presiden, karena entah aturannya yang belum ada atau pun kalau ada tidak ketat dan jauh dari penegakkannya, hal seperti ini selalu tampak nyata dan berulang dalam setiap pemilihan kepala desa.
Semuanya itu menjadi tugas berat bagi tim sukses Pak Ade, selain tidak dibayar dan minim fasilitas, maka semua sumber daya yang ada dari para kader seperti kendaraan bermotor siap-siap untuk dipinjamkan demi kesuksesan dakwah yang dipantau dengan seksama oleh Dewan Pimpinan Daerah.
Walaupun sudah mempunyai modal berupa kemenangan Partai Keadilan Sejahtera di pemilu tahun 2004 kemarin, namun sedikit banyak ketokohan sang calon tetap perlu ditonjolkan. Melihat keberlangsungan pilkada di berbagai daerah tidak menjamin partai pemenang pemilu dapat memenangkan calon kepala daerah yang didukungnya.
Sungguh tugas berat bagi Pak Ade dan tim suksesnya untuk mendobrak tembok berupa politik uang dan pemahaman pragmatis dari masyarakat desa ini. Bisakah Pak Ade memenangkannya dengan mengandalkan intelektualitas dan ketokohan yang baik?
Dengan hanya mengandalkan dana-dana yang dikumpulkan dari para kader yang tak seberapa? Dengan hanya mengandalkan hubungan baik dan silaturahim intens? Tanpa ada iming-iming hepeng? Bisakah ia menjelaskan dengan penjelasan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat yang meminta uang darinya? Dan seribu pertanyaan lainnya. Cuma waktu yang bisa menjawabnya.
Dan Insya Allah pasti bisa, jika semuanya itu disandarkan pada Pemilik sandaran yang mahakokoh, pada Sang Pemilik hati yang dapat membolak-balikkan hati. Pada kedekatan tanpa hijab dengan-Nya di setiap malam. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21:53 12 Maret 2006

SANG MUTAAKHIR


SANG MUTAAKHIR
Oleh: Riza Almanfaluthi

Anak itu memandang dengan tatapan kosong ke dalam kelas dari balik pintu. Dari wajahnya tergurat kesedihan dan bekas airmata yang tertahan di pipinya. Ya, sedih karena ia terlambat dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti tes masuk Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Hikmah, padahal terlihat bahwa Ibu Penguji baru saja membagi-bagikan kertas soal ujian dan belum memulai memberikan waktu kepada anak-anak untuk mengerjakan soalnya.
Sang ayah menghampiri sang anak, “Sudahlah mas, nanti tunggu saja dulu yah. Mas boleh kok ikut ujian masuk, tapi nanti yah setelah semuanya selesai. Sesudah ujian tertulis ini nanti ada permainan yang akan dinilai, Mas bisa ikut gabung, dan sesudah permainan itu, baru Mas ikutan ujian susulan.”
Sang ayah dan ibu dari anak itu memang terlambat datang dari jadwal yang sudah ditentukan, yakni pukul delapan tepat. Dikarenakan ketidakjelasan informasi dari pihak pengelola, sampai pada hari H ada saja yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut, mulai dari si Dedek yang rewel, mengatur belanjaan yang harus dimasak untuk para tukang di rumahnya, hingga urusan bahan bangunan yang harus segera diperoleh. Jadilah pukul 08.30 pagi sang ayah berangkat dengan mobil butut tahun 91-an yang ia pun harus berjalan berlambat-lambat ria karena ia belum mahir mengendarai roda empat.
Pukul setengah sepuluh tiba di SDIT cabang Cipayung yang pusatnya di Bangka Mampang itu. Tatapan banyak orang tua atau wali calon murid mengiringi rombongan kecil memasuki tempat ujian. Celetukan dan sedikit perkataan bernada candaan terlontar dari mulut mereka yang sebenarnya adalah teman-teman sang ayah dan ibu. “Wah…akhi ente muta-akhir.”
Celetukan yang sebenarnya adalah sekadar nasehat itu bagi sang ayah bukanlah menjadi pelipur kegundahan dirinya karena telah datang terlambat, bahkan menjadi sesuatu yang telah menggores dan melukai hatinya. Bagi sang ayah nasehat yang diberikan bukan pada tempat dan waktunya bahkan menjadi sesuatu yang kontraproduktif dan sia-sia.
Tanpa memedulikan semua celetukan tersebut, sang ayah pun pergi ke ruang sekretariat panitia, itu pun tanpa ada teman yang membantu tanpa diminta untuk menunjukkan ruangan ataupun prosedur yang harus dijalani.
Sang ibu bersegera naik kelantai dua—setelah bertanya di mana tempat ujian berada. Ketergesaannya ternyata sia-sia, sang anak tidak diperbolehkan masuk walapun soal ujian baru saja dibagikan.
“Nanti saja, di gelombang berikutnya, kalau tidak hari ini berarti ya besok pagi,” kata sang penguji tegas tapi sedikit ketus. Sang ibu cuma bisa tertegun dan berpikir bahwa kemungkinan besar sang anak tidak akan bisa diterima di sekolah ini. Dus, pernyataan ini telah meluluhlantakan benteng keteguhan sang anak yang sempat mendengar semuanya. Isaknya mulai terdengar.
Dengan berjalannya waktu, ternyata tidak hanya satu anak saja yang terlambat, masih ada sekitar empat teman sebayanya yang mengalami hal yang sama, salah satunya adalah anak dari ustadz ternama. Dengan jumlah yang sedemikian maka peluang masih terbuka untuk mengadakan ujian susulan pada hari itu juga.
Setelah beberapa waktu lamanya, ujian calistung (baca tulis menghitung) itu pun selesai. Saatnya sang anak untuk bergabung dengan permainan keaktifan yang dinilai. Cuma setengah jam saja kiranya. Setelah itu bagi yang sudah selesai ujian permainan ini mereka diperbolehkan untuk mengukur baju seragam yang kelak akan dipakai nanti setelah pengumuman penerimaan.
Sedangkan sang anak kini saatnya untuk masuk kembali ke dalam kelas mengikuti ujian susulan yang akan menentukan ia dapat sekolah di sana atau tidak. Sang ayah dan ibu masih berdiskusi dan memikirkan untuk mengambil formulir pendaftaran di sekolah lain untuk antisipasi ketidaklulusan.
Tiba-tiba panggilan dari pengeras suara mengusik diskusi mereka. Sang ayah dan ibu memasuki ruang kelas di bawah untuk diwawancarai tentang perkembangan sang anak dari maslah kesehatan dan aktivitas kesehariannya. Tidak lupa mengisi formulir kontribusi yang dapat diberikan kepada sekolah ini. “Semoga lulus ya Pak,” kata pewawancara mengakhiri.
***
Matahari sudah meninggi dan mulai tergelincir ke bawah. Siang terasa terik tapi itu tidak lama karena sesaat kemudian mega mendung dari utara begitu cepatnya menutupi langit di atas. Bahkan tiada terasa rintik-rintik mulai turun satu-satu. Tidak deras, cuma rintik belaka.
Dalam perjalan pulang, sang ibu bertanya kepada sang anak, “bagaimana ujiannya sayang? bisakan?” Sang anak Cuma tertawa-tawa saja seperti melupakan apa yang baru saja ia tangisi dan kerjakan itu.
Sang ibu masih tetap bertanya sembari mendiamkan sang dedek yang mulai kambuh rewelnya, “Mas, tadi menuliskan nama di kertas soal, nama yang mana?”
“Nama panggilan,” jawabnya dengan enteng. Lengkap sudah jawaban itu melengkapi kegundahan mereka terhadap kelulusan sang anak. Karena nama panggilan tersebut jauh berbeda dengan nama lengkap yang ia punyai.
Sang ayah dan ibu saling berpandangan.

***
Empat hari kemudian, pesan pendek dari teman sang ibu yang sekaligus juga adalah panitia penerimaan mampir. Isinya konfirmasi tentang soal ujian dari sang anak, karena ternyata nama sang tidak ada dalam daftar induk nama-nama calon siswa.
Siangnya telepon genggam sang ibu berdering. Melihat sepintas pada layar dan langsung menempelkan di telinganya.
“Ya, Bu…ada kabar buat saya?” tanya sang ibu.
“Iya tuh, bagaimana yah dengan anak ibu…” jawab di seberang sambil menghela nafas, memperlambat bahkan menghentikan suaranya.
Dengan adanya suasana itu membuat sang ibu sudah memasrahkan segalanya pada Sang Kuasa. “Ya, sudahlah, nggak apa-apa kok nggak lulus,” kata sang Ibu pelan.
“Ya sudahlah, yang sabar ya Bu. Tapi ngomong-ngomong kata siapa anak Ibu tidak lulus?”
“Ya Ibu tadi bukan…”
“Ah, saya tidak berkata demikian, malah saya mau mengabarkan kepada Ibu bahwa anak ibu itu lulus dan rangking satu di kelas Mangga. Nilainya mendapat 9,75 poin.”
“Masak…? Alhamdulillah…” puji sang ibu.
Ternyata semua itu cuma godaan dan candaan dari sang teman ibu.
Sang ibu segera membagi kebahagiaannya pada sang ayah. Sujud syukur dan dhuha menjadi penghias pagi dengan matahari yang sudah sepenggalah.

***
Nama sang anak itu memang berada di urutan pertama saat dilihat pada malam harinya oleh sang ayah sepulang dari tempat kerjanya. Ada deg-degan juga. Ini mengingatkan sang ayah dan sang ibu pada kenangan masa lampaunya saat setiap kali pengumuman semesteran di kampus dulu. Kenangan di kampus yang sering men-DO-kan mahasiswa yang indeks prestasinya di bawah standar yang ditetapkan.
Ah, ya nama sang anak itu berada di urutan pertama. Subhanallah, padahal mereka sering underestimate pada sang anak. Walaupun prestasi di taman kanak-kanak juga telah membuktikan kesalahan penilaian mereka pada sang anak, tapi itu belumlah cukup. Kini yakinlah mereka pada sang anak.
“Jangan pernah berpikir itu lagi,” tekad mereka. Dan jangan pula meremehkan dia. Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir, karena Abu Dzar pun mutaakhir, tapi ia tetap menyusul rombongan Rasulullah yang telah lama pergi untuk berjihad.
Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir. Perkataan yang juga layak ditujukan kepada teman sang ayah dan ibu.
Ah, ya nama anak itu cuma: Maulvi Izhharulhaq A.

*******


BIODATA

Nama : Riza Almanfaluthi, S.Sos. MM
Tempat/tanggal lahir : Jatibarang, 24 Juli 1976
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah dengan satu istri dua anak
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
NIP : 060089098
Pangkat/Gol. Ruang : Penata Muda/IIIa
Jabatan : Account Representative
Alamat Kantor : Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat
Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
12750
Alamat Rumah : Komplek Puri Bojong Lestari Blok HH No.23 RT. 11 RW.17
Pabuaran, Bojonggede, Bogor
Alamat email : almanfaluthi@gmail.com
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
URL : http://dirantingcemara.blogspot.com
Nomor Rekening : 0060005113679
Bank Mandiri Cabang Dewi Sartika
a.n. Riza Almanfaluthi

Riwayat Pendidikan:
– Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (lulus tahun 1988);
– Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (lulus tahun 1991);
– Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (lulus tahun 1994);
– Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan
Keuangan, Departemen Keuangan (lulus tahun 1997);
– Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik
Indonesia (STIA LAN RI) Jurusan Administrasi Bisnis (lulus tahun 2002);
– Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
(lulus tahun 2007).

ISTANBUL: TAHTA ISLAM


ISTANBUL: TAHTA ISLAM

Istanbul [Konstatinopel], 1922
Jabatan sultan pada Kekhalifahan Utsmani dihapus oleh Majelis Agung dibawah kepemimpinan Mustafa Kamal.

Istanbul [Konstantinopel], 29 Oktober 1923
Mustafa Kamal memproklamasikan Republik Turki dan menetapkan jabatan khalifah hanya sebagai pimpinan keagamaan.

Istanbul [Konstantinopel], 03 Maret 1924
Jabatan khalifah dihapus. Abdul Majid II, khalifah terakhir dinasti Utsmani diusir dari istananya dan diperintahkan untuk meninggalkan Turki.

***
Sudah 82 tahun lamanya umat Islam tidak merasakan manis dan pahitnya kekhalifahan. Semua telunjuk diarahkan pada khalifah yang ke-37 (dari dinasti Utsmani ini yakni: Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Kekhalifahan Turki sejak 1876 sampai 1909.
Para sejarawan sepakat bahwa dialah Sultan Turki yang terkenal, paling lama berkuasa, dan masa pemerintahannya berada dipersimpangan jalan. (Syalabi.:1988) Dialah yang berusaha untuk mengadakan perbaikan Turki yang sudah dijuluki sebagai The Sick Man of Europe (orang sakit dari Eropa) namun usahanya ituberakhir sia-sia.
Telunjuk yang diarahkan kepadanya adalah pada masalah kediktatorannya, pemerintahannya yang bersifat absolut dan penuh kekerasan. Sehingga dengan tipe kepemimpinannya yang demikian membuat banyak rakyat sipil dan militer yang tidak suka padanya dan menimbulkan gerakan oposisi yang menggoyahkan sendi-sendi kekuasaannya.
Namun keberimbangan pandangan kepada seseorang juga perlu dikemukakan di sini agar tidak ada pula sikap berlebihan hingga membuang kebaikan-kebaikan yang dipunyainya dan tidak bisa untuk dilupakan begitu saja.
Satu jasa dari Sultan Abdul Hamid II ini yang dicatat oleh sejarah adalah penolakan Sultan Abdul Hamid II terhadap permintaan Zionist Yahudi untuk menetap di Palestina.
Dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmad Syatibi diceritakan kisah penolakan ini: Dikisahkan bahwa sesudah dilaksanakan konferensi Belfore (1897) yang memutuskan bangsa Yahudi kembali ke Palestina, salah seorang pemimpin Zionist yang bernama Kurah So datang menghadap Sultan Abdul Hamid II menyampaikan permohonan kepada Sultan agar beliau mengizinkan bangsa Yahudi menetap di Palestina dan sebagai imbalannya gerakan Zionis bersedia meminjamkan uang sebesar 50 juta Junaih kepada pemerintah Turki Utsmani dan bersedia memberi hadiah sebesar itu kepada Sultan.
Mendengar pernyataan pemimpin Zionis tersebut bukan main tersinggungnya baliau, lantas dengan suara keras kepada pendampingnya beliau bertanya: ”Siapa yang telah mengizinkan babi tengik ini masuk menghadap kepadaku?”
Melihat Sultan begitu Murka kemudian pertugas mengusir dia dari wilayah Turki dan segera dikeluarkan undang-undang larangan bangsa Yahudi memasuki wilayah Palestina. (Hal. 98)
Kemudian jasa lainnya adalah upayanya untuk mendirikan Pan Islamisme (kebersatuan Islam) untuk mengimbangi gerakan kristenisasi dan zionis. Walaupun usahanya tersebut gagal karena tipu daya musuh-musuh Sultan yang mengampanyekan bahwa usaha tersebut adalah upayanya untuk menutupi kebobrokan dan niat yang sebenarnya, yakni untuk melanggengkan kekuasaannya.
Dua jasa Sultan Abdul Hamid II yang dapat dicatat tersebut adalah jasa yang kesekian kalinya dari jasa-jasa yang diberikan Kekhalifahan Utsmani terhadap peradaban Islam.
Jasa yang sangat menonjol dari Kekhalifahan Utsmani ini adalah direbutnya Konstatinopel oleh Muhammad II yang berjuluk al Fatih. Dan menjadikannya sebagai ibukota baru serta menggantikan nama kota kuno tersebut menjadi Istanbul (Tahta Islam).
Kejatuhan ini telah melengkapi ramalan Rasulullah terhadap hancurnya dua tahta imperium besar yakni Persia dan Romawi. Dan tidak bisa disangkal lagi bahwa kejatuhan kota ini pula menjadi pelipur lara dan obat bagi umat Islam saat itu karena luka akibat keruntuhan dan jatuhnya kekuasaan Islam di Andalusia.
Jasa lainnya—seperti yang diungkap lagi oleh Syatib—berhasilnya Turki Utsmani menghambat kolonial barat atas dunia Arab untuk beberapa lamanya hingga menjelang akhir kekuasaannya. Karena sejak kejatuhan Andalusia, bangsa-bangsa Eropa selalu mengincar wilayah Afrika Utara dan jazirah Arab.
Demikianlah jasa-jasa kekhalifahan Bani Utsmani bagi umat, sebagaimana banyak dicatat pula jasa-jasa kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah bagi tegaknya pondasi peradaban umat. Juga dengan demikian kita tidak bisa hanya ambil peduli terhadap salah satu kekhalifahan dan menafikan kebaikan-kebaikan yang muncul dari yang lainnya hanya karena misalnya Bani Umayyah fanatik dengan orang-orang Arab, atau Bani ’Abbasiyyah yang banyak didukung oleh orang-orang Syi’ah, ataupun Bani Utsmani yang selalu menoleh ke barat dan mengerdilkan peran bangsa Arab.
Keberimbangan ini diperlukan agar kita bisa mengambil pelajaran tentang bangkit dan jatuhnya suatu peradaban umat. Sikap pertengahan ini diperlukan agar kita bisa memberikan proporsi yang adil terhadap suatu peradaban sehingga kita tidak akan ditertawakan karena kejumudan dan pendapat kita yang tanpa dasar dan ilmu atau karena kita dianggap tidak pernah membaca buku-buku sejarah.
Allohua’lam.

Maraji’:
1. Prof. Dr. Ahmad Syalabi, [Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Utsmani], 1988
2. Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil, [Wajah Dunia Islam: Dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern] 1998;
3. Ensiklopedi Islam Jilid 4

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:21 05 Maret 2006