Surat dari Larantuka


Komik Ganes Th banyak memengaruhi saya sampai sekarang.

Saya hobi membaca buku sejak kecil. Ini barangkali karena banyak hal. Pertama, bapak saya juga penjual majalah bekas dan penyuka buku. Kedua, kakak-kakak ibu saya juga penulis buku. Setiap saya datang ke rumah mereka, buku adalah hadiah mereka untuk saya.

Ketiga, sebelah rumahku adalah toko buku yang menjual peralatan sekolah, buku tulis, buku-buku pelajaran, dan penyewaan komik. Sepulang sekolah, saya sering main ke sebelah untuk membaca buku sekaligus melayani pembeli buku.

Banyak buku yang saya baca, terutama komik. Gambar komik zaman dulu tentunya tidak semeriah komik zaman sekarang yang penuh warna. Komik zaman dulu dengan kertas seadanya dan hanya dengan dua warna hitam putih.

Setiap seri bukunya tipis-tipis. Untuk menuntaskan satu episode harus mengumpulkan banyak buku. Toko Buku Kembar mengumpulkan komik tipis itu jadi satu, dibundel, lalu disewakan.

Komik yang digambar oleh Ganes Th sangat memengaruhi pikiran saya sampai sekarang. Terutama komik yang berjudul Taufan, Tuan Tanah Kedawung, dan Serial Si Buta dari Gua Hantu.

Petualangan dan jalan cerita Si Buta sangat seru. Pengelanaan Si Buta ke daerah-daerah di nusantara ini yang membuat saya tahu nama-nama berikut di nusantara seperti: Bone, Donggala, Gunung Tambora, Pantai Sanur, Tinombala, dan Larantuka.

Itu berpuluh-puluh tahun lampau. Jadi kalau ada yang menyebut nama-nama di atas saya jadi ingat Ganes Th dan komiknya.

Nah, ternyata saya terhubung kembali dengan salah satu daerah tersebut, yaitu Larantuka. Begini ceritanya:

Salah satu jurnalis yang kami undang untuk memberikan pelatihan di Direktorat Jenderal Pajak adalah Kak Hermien Y Kleden. Ia mantan wartawan Tempo. Kami sering bersilaturahmi secara daring.

Pada hari Ahad (14/2/2021) sebelum menjalani misa paginya, ia memberikan testimoni terhadap dua buku yang saya kirim kepadanya: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini dan Dari Tanzania ke Tapaktuan.

Saya sangat berterima kasih kepadanya karena sudah sudi membaca buku saya itu di tengah waktunya yang sempit.

Kemudian saya iseng bertanya kepadanya apakah Kak Hermien ini berkerabat dengan Ignas Kleden, penulis yang akrab ditelinga saya sejak dulu. Ternyata betul, Ignas Kleden ini adalah kakak kandung dari Kak Hermien. Mereka 13 bersaudara. Ignas Kleden nomor 4 sedangkan Kak Hermien nomor 12.

Mereka lahir di kampung pesisir yang indah bernama Waibalun, Kecamatan Larantuka. Jeng…jeng…jeng…

Ketika Larantuka itu disebut, saya langsung ingat Ganes Th dan komiknya. Saya ingat pernah menjaga toko buku sehabis pulang sekolah di SMP Negeri 1 Jatibarang, Indramayu.

Ternyata saya dan Kak Hermien ini punya irisan yang sama, dipertemukan dengan satu nama yang tidak beda: Larantuka.

Dan berikut testimoni dari Kak Hermien terhadap dua buku saya itu. Saya sebut saja testimoni itu sebagai surat dari Larantuka. Tak mengapa saya menyebutnya demikian, kan?

 

*

Dear Dik Riza,

Selamat pagi dan selamat akhir pekan.

Terimakasih untuk dua bukumu: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini  &  -Dari Tanzania ke Tapaktuan.

Kakak baru tiba di rumah lumayan larut dan satpam memberikan paket yang baru Kakak buka dan check pagi ini. Kakak quick reading beberapa cerita secara random dari kedua buku.

Both are fine writings — tapi Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini adalah hasil karya yang impresif: genuine writing, ditulis “tanpa berpikir panjang – macam Riza ngobrol dengan kawan dekat, tapi ini naik jadi tulisan” — itu membuat elemen originalitasnya tinggi. Beberapa item endingnya indah & suprising.

Buku ini juga mencerminkan betul Riza punya kekuatan sebagai “penulis natural” dengan kekayaan diksi yang “mengejutkan sebagai pegawai pajak”1😀😅.

Tanzania, terlihat “lebih direncanakan outline-nya” — dan bisa jadi semacam non-technical tips u mereka yang ingin membuat baby steps sampai quantum leap di dunia lari — sebuah dunia yang sesungguhnya sunyi, solemn, (kita harus tetap mengambil waktu untuk inner-support, inner-talking, self-encouraging bahkan di tengah ribuan orang yang turut marathon, misalnya) hingga artifisial (karna alasan berlari adalah pergaulan sosial belaka, in my humble opinion)

Kakak rasa yang amat berjasa dalam bakat penulisanmu adalah Ayahanda (yang menjual buku bekas — dugaan Kakak beliau bukan hanya menjual buku, tapi juga pembaca dan pencinta buku) dan paman yang penulis.

Keep writing good stories, and let’s nurture the beauty of running — we run for the fun of running itself — to enrich the joy of life🏃🏾‍😁🏃‍️.

Best/Hermien

**

 

Terima kasih banyak Kak Hermien. Oh ya, Kak Hermien ini pelari juga loh. Ahad pagi itu ia sudah lari sejauh 15 km. Saya malah tidak lari pagi. Sehat terus, Kak.

Toko Buku Kembar itu sekarang sudah tidak ada lagi di Jatibarang. Buat Pak Syafi’i, pemilik Toko Buku Kembar, terima kasih banyak telah mengizinkan saya menyentuh komik-komik itu tanpa membayar sama sekali. Ini membuat saya menjadi sebaik-baiknya pengenang masa lalu, pejalan kiwari, dan pemimpi masa nan akan datang. 

Tak tepermanai.

 

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
16 Februari 2021

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.