Radio


 

Benarlah sudah kalaulah malam menjadi sekutu setia kita. Aku sering memboncengmu hampir di tengahnya. Jalanan waktu itu sepi. Tetapi tidaklah sesepi kuburan yang barusan kita lewati.

“Halo pendengar setia radio, selamat malam. Aku akan mendampingimu dengan lagu-lagu masa lalu sejam ke depan. Silakan kalau ada yang mengirim pesan dan salam buat sahabat atau kekasih.”

Saat kita berhenti di lampu merah, nyaringnya melesak dari radio di warung mi dan bubur kacang ijo itu. Aku tak perlu memesan lagu dan mengirim salam. Karena kekasihku ada di belakangku. “Bukan begitu?” Sebuah tanya yang tak perlu jawaban, karena engkau pandai menyelam di lubuk pikiranku.

Tak jarang aku tertawa, tapi engkau tak pernah tertawa. Aku menangis, tapi engkau tak pernah menangis. Lampu hijau telah menyala. Di atas motor, tanganmu yang melingkar di pinggangku semakin dingin. Dingin, lalu menjelma kabut.

“Pendengar setia radio, banyak sudah pesan yang masuk. Salah satunya dari perempuan kabut untuk lelaki gila. Tak perlu menunggu lama, aku putarkan dulu satu lagu yang sudah aku siapkan. What a wonderful world.”

Aku tertawa sekaligus menangis. Tukang becak di pinggir jalan terbangun dan memakiku, “Sedeng!

Malam dan bulan jatuh di sebuah ranjang.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citayam, 06 Januari 2018

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s