Nusakambangan: Arketipe dan Eskapisme di Suatu Hari


Nusakambangan yang saya tahu adalah masa lalu. Ketika seorang penjahat bernama Johanes Hubertus Eijkenboom berusaha melarikan diri dari Nusakambangan. Lalu setelahnya festivalisasi para pengebom dan gembong pengedar narkoba. Tak dinyana, pada akhirnya waktu jua yang mengantarkan saya menginjakkan kaki di nusa yang pernah ada badaknya di tahun 1890-an ini.

**

Senin siang itu tiba-tiba saya ditugaskan sekonyong-konyong untuk segera berangkat ke Cilacap. Besok Selasa, ada dua peristiwa yang mesti dikabarkan. Pertama, penandatanganan Memo of Understanding (MoU) antara Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah II dengan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Batu, Nusakambangan. Kedua, melihat penyerahan penunggak pajak yang disandera dan dipindahkan dari Lapas Mataram, Nusa Tenggara Barat ke Lapas Batu, Nusakambangan.

Meidiawan Cesarian Syah, kawan saya, di peliputan media sosial, segera memesan tiket kereta api untuk pemberangkatan malam. Syukurnya ini bukan akhir pekan, jadi masih banyak tiket yang tersisa. Pukul 17.30 saya berangkat dari rumah di Citayam. Sampai di Stasiun Gondangdia pukul 21.00. Saya naik bajaj untuk tiba di Stasiun Gambir. Menunggu sebentar di stasiun yang pada zaman Belanda bernama Stasiun Koningsplein ini, Meidiawan tiba sambil membawa dua tiket. Kami akan berangkat berdua.

Tidak menunggu lama di peron lantai atas Stasiun Gambir, Kereta Api Purwojaya tiba dari Cilacap. Kami langsung masuk ke lambung kereta api. Sekejap lagi pukul 22.15, saatnya kereta ini melata kembali ke Cilacap.

**

Subuh pagi pada pukul 05.05 kereta mengantarkan takdir kami di Stasiun Cilacap. Kami salat Subuh dulu di musala stasiun. Lalu kami naik becak menuju hotel untuk berjeda sejenak.

Jam sebelas siang waktunya kami bekerja. Kami berjalan kaki menuju Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Cilacap dari hotel. Jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 1,5 kilometer. Jalan kaki ini adalah arketipe terbaik untuk menceraikan kalori yang menumpuk. Bukan ala Carl Gustav Jung. Ala kami sendiri. Untuk ini kami setipe. Di sepanjang perjalanan, Meidiawan melahap banyak gambar dengan kamera entry level bermerek Fuji.

Kurang lebih dua puluh menit jalan santai kami tiba di KPP. Ternyata di sana sudah banyak orang yang bersiap menuju Pelabuhan Wijaya Pura, pelabuhan tempat kami akan menyeberang ke Nusakambangan. Setelah memperkenalkan diri, kami langsung diangkut menuju pelabuhan oleh kawan-kawan KPP.


Persiapan keberangkatan menuju Pelabuhan Wijaya Pura.

Pelabuhan Wijaya Pura ini dikelola oleh Kementerian Hukum dan HAM RI, begitupula dengan Nusakambangan sendiri. Secara administratif Nusakambangan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap namun pengelolaan pulau ini ada di bawah kementerian yang mengurusi hukum di negeri ini.

Pada saat kami sampai di pelabuhan, kapal sedang mengantarkan penumpang ke Nusakambangan. Kapal ini pun dimiliki dan dikelola oleh Kementerian Hukum dan HAM RI. Tugasnya mengantarkan pegawai lapas dan anggota keluarganya yang bertempat tinggal atau bersekolah di Cilacap.

Sebenarnya jarak daratan Pulau Jawa dengan Pulau Nusakambangan tidaklah begitu jauh. Sekira 100 meter sampai 600 meter. Dari Pelabuhan Wijaya Pura sampai ke pelabuhan seberang jaraknya mencapai 750 meter, karena letak Pelabuhan Sodong di Nusakambangan lebih jauh ke arah barat. Waktu tempuh menggunakan kapal bisa sampai 10 menit.


Bertemu dengan Ibu Arnita, Kepala Seksi Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah DJP Jawa Tengah II (Picture taken by Meidiawan).


Pelabuhan Sodong di kejauhan.


Bertemu dengan Pak Didik, Kepala Subseksi Pengelolaan Pembayaran Masa waktu di KPP Penanaman Modal Asing Tiga, tahun 1997-an.


Bertemu dengan DJP Runners, Bos Acip.

Ketika kapal itu tiba, nakhoda mempersilakan tim dari DJP untuk memasuki kapal melalui pelantang suara. Para pejabat DJP seperti Kepala Kanwil DJP Jawa Tengah II Rida Handanu, Kepala Kanwil DJP Jawa Barat I Yoyok Satiotomo, Kepala KPP Pratama Cilacap Sri Sutitiningsih segera menuju lantai dua kapal diikuti para pejabat lainnya.


Suasana dek lantai 2.

Di selat ini, tidak ada ombak yang menghantam pelabuhan dan kapal. Nusakambangan benar-benar melindungi Cilacap dari sergapan ombak besar Samudera Hindia. Sebenarnya kalau dilihat dari bentuknya di atlas, Nusakambangan ini merupakan pecahan dari pulau Jawa yang terjadi jutaan tahun yang lampau.

Sesampainya di seberang, bus yang akan mengantarkan kami ke Lapas Batu sudah menunggu. Dari Pelabuhan Sodong, perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai ke Lapas Batu sembari melewati Lapas Terbuka. Lapas terakhir ini adalah lapas untuk narapidana yang sedang menjalani masa asimilasi.


Tiba di seberang.


Di tugu itu.


Di sinilah aku sadar, kok tak ada foto berdua dengan Meidiawan (Picture taken by Meidiawan).


Di dalam bus bersama Ferry Pangaribuan, dari Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan DJP (Picture taken by Meidiawan).

Di Nusakambangan terdapat banyak Lapas. Selain Lapas Terbuka dan Lapas Batu, ada Lapas Besi, Lapas Narkotika, Lapas Kembang Kuning, Lapas Permisan, Lapas Pasir Putih yang dekat dengan Samudera Hindia, dan yang paling ujung serta terpencil adalah Lapas Karang Anyar yang pernah ditutup dan sedang dibangun kembali di tahun 2017 ini.

Di antara Pelabuhan Sodong dan Lapas Terbuka ada Pos Jaga II. Sedangkan Pos Jaga III letaknya di antara Lapas Kembang Kuning dan Lapas Permisan, lapas tertua yang dibangun sejak 1908.

***

Pada saat kunjungan untuk melihat ruangan penitipan sandera itu, kami memang harus melewati pintu-pintu besi tebal dan tergembok rapat. Lalu sampailah kami ke ruang tahanan untuk penunggak pajak yang disandera dan berukuran 1,5 x 4 meter persegi. Saya menghitung ada delapan pintu yang memberikan batas antara kebebasan dan keterkungkungan, mulai dari pintu terluar lapas sampai pintu sel.

Di dalamnya ada undakan yang lebih tinggi daripada lantai penjara, gunanya sebagai tempat tidur. Tidak ada alas tikar di atasnya. Di sana ada bak mandi kecil dengan toilet di dalamnya. Tembok setinggi satu meter didirikan sebagai pembatas agar proses pembuangan hasil akhir metabolisme tubuh manusia tidak terlihat. Itulah tempat yang nantinya akan menjadi tempat penitipan wajib pajak yang disandera karena menunggak pajak yang tidak segera dibayarnya.

Di sebelah ruangan itu, di sisi kanan dan kirinya, ada ruangan lain yang lebih luas dan terkunci. Di masing-masing ruangan ada lima sel tergembok pula tempat para pesakitan itu berada menjalani hari-hari penghukumannya. Tidak ada suara penghuni sel berbicara satu sama lain. Barangkali mereka sedang beristirahat. Ruangan sel kaya dengan sinar matahari yang bebas menerobos dari jendela dan langit-langit bangunan, membuat ruangan itu tidak membutuhkan lampu untuk mengusir kegelapan di siang hari.

Di situlah saya banyak merenung. Karena hanya satu hal saja bagi saya. Harga sebuah kebebasan itu mahal. Merenggut kebebasan itu seperti merenggut harapan. Maka pastikan kemerdekaan itu selalu ada. Ini sebuah nikmat luar biasa besarnya yang harus senantiasa disyukuri. Selalu ada impak saat norma yang berlaku di sebuah negara dilanggar. Perenggutan kebebasan itu menjadi arestasi yang diberikan kepada setiap pelanggar kesepakatan yang telah ada.

Johanes Hubertus Eijkenboom atau yang biasa dikenal sebagai Johny Indo itu juga melanggar norma lalu diinternir dan tidak sabar untuk dapat meraih privilesenya kembali hingga ia berusaha melarikan diri walau pada akhirnya kandas. Ke-11 teman pelariannya ditembak polisi, tersisa tiga yang selamat termasuk dirinya. Ia menyerah karena berhari-hari kelaparan.

Berbeda dengan Johny Indo, pelarian saya berhasil. Tidak di pulau itu. Tapi di Cilacap, di sebuah pagi, setelah berhasil menuntaskan lari sepanjang 10 kilometer dengan bersusah payah. Eskapisme yang patut disyukuri.


Pelarian yang kesiangan.


Selamat tinggal Cilacap.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Citayam, 1 April 2017


Advertisements

2 thoughts on “Nusakambangan: Arketipe dan Eskapisme di Suatu Hari

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s