Gamay di antara Microsoft dan Google


GAMAY DI ANTARA MICROSOFT DAN GOOGLE

Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana.
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif…sangat cerdas.”
Di sini saya cuma ingin mengungkapkan sebuah kisah atau beberapa kisah tentang pergaulan saya dengan Google—sebuah ikon tentang citarasa gaya surfing masa kini yang membuat Bill Gates panik karena banyak sekali para lulusan tercerdas dari kampus-kampus ternama Amerika Serikat berusaha bergabung dengan Google alih-alih bergabung dengan Microsoft.
Ya, kisah yang dimulai dari sebuah keputusasaan saya mencari arsip-arsip penting di komputer desktop saya. Dengan mengklik tombol start di Windows bawaan komputer, lalu menekan tombol Search dengan ikon sebuah kaca pembesar maka muncul tampilan search result dengan balloon yang diungkapkan seekor anjing berwarna coklat.
”What do you want to search for?” tanya anjing itu. Maka saya ketikkan keywords dari file yang saya cari itu. Setelah saya memilih salah satu menu yang ada di sana lalu menekan tombol search, maka mulailah pencarian itu dimulai dengan si Anjing berdiri pura-pura sibuk membuka halaman-halaman buku tebal itu. Satu atau dua kemungkinan yang muncul pada search result. “Search is complete. There are no results to display.” Itu kemungkinan yang pertama. Selanjutnya adalah kalau file itu ada maka hasil pencarian memakan waktu yang cukup lama. Bermenit-menit bahkan. Sungguh lama sekali. Saya frustasi dengan hal ini.
Tetapi setelah saya mengenal Google di awal pengenalan saya dengan internet di tahun 2002, apalagi setelah Google mengeluarkan perangkat lunak canggihnya yaitu Google Desktop walaupun masih dalam versi beta, membuat persepsi saya tentang sebuah pencarian di komputer rumahan menjadi berubah, dari semula mengerikan, mimpi buruk menjadi mengasyikkan dan saya sungguh menikmatinya.
Google Desktop memberikan kepuasan manusiawi dalam hitungan detik dari pencarian ribuan file yang bersemayam dalam komputer kita. Sekarang saya tak lagi pusing-pusing lagi menemui file yang lupa disimpan di mana karena tidak suksesnya saya dalam penertiban administrasi file.
Software kecil tersebut juga memberikan fasilitas kotak pencarian kecil di taskbar—letaknya biasanya di sudut kanan bawah. Dengan ini saya tak perlu membuka halaman browser untuk pencarian sebuah file. Dengan mengetikkan satu huruf depan dari keywords maka akan tampil di atas taskbar tersebut indeks dari file-file yang dicari. Microsoft pernah sesumbar untuk membuat search engine desktop yang mampu mencari file dalam setiap bit di pc, tapi MSN Search (mesin pencari buatan Microsft) pun masih tak sanggup menandingi kehebatan PageRank—sistem Google dalam pencarian di dunia maya.
Luar biasa. Dulu hingga kini saya sangat terbantu dengan fasilitas ini. Oleh karena itu di saat saya pindah kantor dan menjumpai personal computer (pc) baru di hadapan saya, yang pertama kali saya lakukan adalah menginstalasi program bagus tersebut. Saya merasa seperti orang buta tanpa tongkat dengan tiadanya fasilitas itu.
Satu lagi bantuan yang membuat saya terpuaskan dari sistem pencarian ini adalah kemampuannya mengorganisir apa yang saya mau saat mencari data jurnal dan tesis. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada fasilitas ini, kemungkinan besar saya tidak bisa menyelesaikan tesis dalam waktu dua bulan penuh. Karena saya harus kemana-mana mencari data primer ataupun sekunder. Ke lokasi perusahaan, perpustakaan, ataupun ke Bursa Efek Jakarta.
Tapi dengan Google saya cuma cukup dengan memelototinya dan melihat bagaimana ia menginventarisir web-web mana saja yang harus saya kunjungi dan menyediakan data tersebut. Mulai dari Jakarta Stock Exchange, Yahoo! Finance, Reuters, Bloomberg, Republika Online, Kompas Online, dan situs-situs keuangan lainnya. Alhasil saya tak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman berbagai referensi di perpustakaan atapun tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.
Saya perlu menyatakan pula, dengan Google itulah saya menemukan satu tesis lengkap—mulai halaman pertama sampai akhir—yang menarik saya dan memberikan ide awal untuk membuat tesis. Menurut saya tesis si fulan ini cukup bagus, mudah dimengerti, dan satu yang pasti adalah sarannya yang memberikan ruang gerak kepada penelitian lanjutan. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan penelitiannya.
Tapi secara moral saya perlu legitimasi untuk ini, oleh karena itu saya perlu meminta izin secara informal dari penulis tesis. Lalu menghubungi siapa? Saya tak tahu kemana saya harus melakukan kontak dengan sang penulis. Tapi saya berpikir cepat, insting saya berjalan, karena dalam kata pengantar tesisnya ia adalah termasuk orang yang tidak gamay (gagap dunia maya) dan juga seorang blogger, saya langsung ketikkan nama si fulan di Google, Jreng….!!! Di layar, tampak alamat dan nomor telepon genggamnya. Saya sukses besar meminta kepadanya untuk mengizinkan saya melanjutkan penelitiannya dengan mengganti variabel-variabel penelitian dan menambah time frame penelitian sesuai apa yang disarankan pada bab terakhir tesisnya itu.
Berkaitan dengan penelitian saya kutip satu paragraf dalam buku tersebut:
Pelajar dan mahasiswa, berapa pun usia mereka, adalah pengguna Google kelas berat, walaupun ada guru dan dosen yang terus menyuruh mereka menggunakan mesin pencari akademik yang lebih khusus, selain mendorong pemanfaatan perpustakaan, pertemuan tatap muka, dan sejumlah cara lain yang tradisional dan telah teruji untuk mendapatkan informasi penting. Tokoh pendidikan masih belum satu pendapat soal manfaat Google. Banyak yang mengatakan Google menjadikan mahasiswa malas, mendorong plagiarisme, dan mengganggu proses belajar dengan memungkinkan pengambilan data secara cepat, alih-alih memaksa mereka melakukan penggalian yang didorong oleh hasrat untuk tahu lebih banyak mengenai suatu bidang. Namun yang lain memujinya, mengatakan bahwa kemudahan dalam penggunaannya mendorong orang mengeksplorasi dan menganalisis dokumen-dokumen penting kapan pun, entah siang atau malam. Mereka juga berpendapat bahwa Google meminimalkan perbedaan yang dihadapi oleh mahasiswa, entah sekolah atau universitas mereka besar atau kecil, entah mereka kaya atau miskin, dan entah mereka mempunyai akses ke perpsutakaan yang lengkap atau tidak sama sekali. Pendek kata, mereka mendukung tujuan Google untuk mendemokrasikan akses ke informasi, termasuk hasil penelitian ilmiah yang terus bertambah.(Vise: 2006).
Bagi saya, manfaat Google adalah menurut pendapat yang kedua. Ya, setidaknya untuk mengimbangi gap intelektualisme dan mencegah diskriminasi penyebaran informasi antara negara maju dan berkembang.
Begitu banyak manfaat yang didapat dari Google yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Dan terakhir saya cuma berpikir tentang kalimat di bawah ini saat memakai Google: ”Al-hikmatu dhaallatul mu’min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa”. Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya.” (Kalimat ini pun saya temukan dengan searching via Google).
Saya tidak tahu bagaimana kontribusi mereka terhadap Israel, saya cuma tahu mereka pernah berkunjung ke Israel untuk memotivasi para murid di satu sekolah khusus para jenius agar tetap eksis dengan ditemani oleh Mikhail Gorbachev dan Shimon Perez (pembantai rakyat Palestina).
Oleh karena itu untuk tetap memelihara semangat dan dukungan perjuangan kepada rakyat Palestina dan berhati-hati terhadap dana yang bisa disumbangkan kepada Israel, saya cuma bertekad untuk tidak mengklik teks iklan yang disediakan oleh Google di sebelah kanan situsnya, karena dari sanalah jutaan bahkan milyaran dollar pemasukan Google di dapat. Berhati-hati tidak mengapa bukan…?
So, sila ber-google-ria, tentunya dengan cerdas.
Allohua’lam bishshowab.

***
”Pak, kok di situs pajak saya tidak mendapatkan peraturan yang saya cari ya?” tanya seorang Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Tiga.
”Ah, yang benar, masak sih Bu…?” tanya saya menyangsikannya.
”Betul Pak, saya sudah lama nyari tapi tetap gak ketemu,” jawabnya dengan dialek jawa yang kental.
”Ya sudah ibu cari di Google saja,” saya memberikan solusi.
“Google? Situs apaan tuh Pak?
“What the…?” pikir saya dalam hati. Wajib Pajak PMA, lokasi di Surabaya, sering pakai email, kejadian ini benar adanya kurang lebih sebulan yang lalu. Gap?

***

Maraji’: Vise, David A. dan Malseed, Mark. (2006). Kisah Sukses Goggle, Cetakan Kedua, Jakarta: PT GPU

Riza Almanfaluthi
(seorang gamay juga)
dedaunan di ranting cemara
malam ramai di gelapnya mendung berhias sabit

05:27 24 Januari 2007

Pointer Penghalang Maksiat


Thanks Jhon, atas email pagi itu. Ya, Marjono3 Jum’at itu (19/1) mengirim email yang menurut saya sangat bermanfaat sekali buat saya. Dan saya pikir bermanfaat pula bagi orang lain. Dalam emailnya itu ia melampirkan attachment-nya berupa program pointer yang bila kita simpan di komputer kita, maka default pointer berupa panah putih yang membosankan itu akan tergantikan dengan pointer yang berwarna kuning dengan lafaz zikir yang bergantian muncul di bawah pointer tersebut.
Zikirnya adalah: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illa Allah, Wallahu Akbar.
Oleh karena asas manfaatnya yang sungguh luar biasa yaitu sebagai pengingat Allah di waktu kita bekerja juga tentunya yang terpenting adalah menghindari kita melihat-lihat situs-situs atau gambar-gambar yang tidak senonoh, maka saya langsung menyebarkannya di portal DJP dan DSHNet. Sambutannya luar biasa. Mereka yang sudah berhasil memanfaatkannya merespon dengan baik sekali. Syukurlah. Saya berpikir orang yang membuat program kecil ini mendapatkan pahala yang terus mengalir dari perbuatan baiknya itu yang dipakai oleh banyak orang. Dan tidak lupa bagi orang yang turut menyebarkannya. Terimakasih John…

Tetapi, ini semua tergantung siapa pemakai pointer ini, kalau tidak peduli ya tetap saja nekad menggunakan pointer ini untuk berkunjung ke situs antah berantah tersebut. Jadinya aneh dan menurut saya ia memakai pointer ini tidak pada tempatnya. Nambahin dosa aja…
Oh ya, saya tunjukkan di mana Anda mendapatkan file ini. Silakan berkunjung ke halaman web ini dengan mengkliknya, lalu akan saya tunjukkan cara bagaimana Anda bisa menggunakan pointer ini:

1. http://10.11.5.215/filesharing/file//Allah.ani

2. Simpan file tersebut di tempat penyimpanan favorit di komputer Anda;
3. Lalu ke control panel;
4. Klik ikon mouse;
5. Lalu tekan Tab Pointer;
6. Klik tombol browse;
7. Cari file tersebut, dan Apply;
8. Lalu OK.

Selesai sudah. Kini di layar komputer Anda sudah terpampang pointer yang sedang berzikir. Anda pun setidaknya ikut berzikir juga bukan…?
Semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi
jiwa centang perenang
dedaunan di ranting cemara
08:51 24 Januari 2007

TINGIPOKNYAR: MEMENEJ CONTACT


Monday, August 7, 2006 – TINGIPOKNYAR: MEMENEJ CONTACT

Judul TINGIPOKNYAR di atas tidak ada kaitannya dengan tema yang saya tulis untuk antum semua. Ini hanyalah eye cathching tapi tetap ada mengenai ini di bagian paling bawah.

MEMENEJ CONTACT

Satu pekan lamanya saya tidak menulis. Entah kenapa beberapa pekan ini saya selalu hampa dari kebaruan tema. Sepertinya waktu libur benar-benar saya manfaatkan untuk beristirahat setelah lima hari lamanya bekerja di bawah tekanan lalu lintas Jakarta. Otomatis tuts-tuts keyboard komputer rumah seringkali menganggur dari tekanan jari-jari saya. Bahkan seringnya komputer cuma dipakai dalam rangka menyalurkan semangat jihad qital yang terpendam karena tidak mampu secara fisik pergi ke Libanon dan Palestina untuk bertempur dengan Israel dengan memainkan War Craft III: Frozen Throne.

Saya berusaha membatasi untuk menyentuh game ini, karena masih banyak yang harus saya lakukan. So, saya bertekad bahwa ini cuma sebagai pembuang waktu setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya. Soale, tentunya kita tahu, kita tidak boleh langsung tidur setelah makan bukan?

Nah, omong-omong soal tulis menulis ini, tiba-tiba pagi hari ini saya tergugah untuk mengunjungi situs yang sudah lama tidak pernah saya buka. Situs yang beralamatkan di http://www.penulislepas.com memang dikhususkan untuk pengembangan dunia kepenulisan entah di dunia yang sebenarnya atau di dunia maya seperti di internet ini. Saya harap di saat saya mengunjunginya saya mendapatkan inspirasi untuk menulis dan ternyata benar.

Mata saya terpaku pada sebuah tulisan di kategori Kiat/Ilmu Kepenulisan yang berjudul: Mengapa Kita Menulis? Penulis, Ibn Ibrahim, menjelaskan alasan-alasan yang menjawab pertanyaan itu. Ada lima alasan:

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian;

2. Menulis Berarti Menata Pikiran;

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas;

4. Menulis itu Menyehatkan;

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru;

6. Meniru Tradisi Para Ulama.

Saya tertarik pada alasan pertama yang diajukannya yakni menulis adalah salah satu menuju langkah ke keabadian. Apa maksudnya, sih? Tidak usah berpanjang lebar, saya langsung kutip saja tulisannya.

Pada subjudul ini penulis menggunakan kata keabadian, karena merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholih yang senantiasa mendoakannya. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Perlu ditekankan di sini, perbuatan baik bukanlah semata mengerjakan ibadah-ibadah mahdloh. Ilustrasinya begini. Misalnya Anda menulis artikel tentang penggunaan CVS dan mengirimkannya ke situs http://www.ilmukomputer.com Kemudian artikel tersebut dimanfaatkan oleh seorang programmer dalam membuat repository untuk suatu aplikasi. Programmer tersebut memperoleh upah dari aplikasi yang dia buat. Upah tersebut, katakanlah, dipergunakannya untuk modal menikah. Nah, menikah adalah suatu perbuatan baik, dan bernilai ibadah jika diniatkan demikian. Programmer tadi memperoleh pahala atas ibadahnya, dan Anda, si pengirim artikel, yang mungkin tidak kenal sama sekali dengan programmer yang berbahagia tadi, dengan izin Allah akan memperoleh pahala juga. Indah sekali bukan?

(http://www.penulislepas.com/more.php?id=2111_0_1_0_M13)

Apa yang diilustrasikan oleh Ibn Ibrahim benar-benar menggugah saya. Amal yang tiada putusnya. That is the point!. So, dengan sedikit ilmu yang saya punyai saya berkeinginan untuk menyebarkan sedikit pula kebaikan yang saya miliki. Contohnya ilmu baru yang saya dapatkan dari seorang teman pada penggunaan media kirim terima surat elektronik Outlook Ekspress.

Ya, saya harapkan sedikitnya ilmu ini berguna bagi pembaca sekalian. Tentunya ini bukan ditujukan kepada pembaca yang memang sehari-hari sudah berkutat dan familiar sekali dengan program bawaan Microsoft Windows ini. Jadinya khusus untuk pembaca yang memang kesulitan waktu untuk mengeksplor atau mendalami program ini dan bisanya cuma terima apa adanya.

Tentunya pula harapan saya adalah ini akan memudahkan pembaca untuk mengirimkan email kepada yang lain. Jika dirasa mudah maka pembaca pun tidak akan malas mengirim berita-berita atau artikel-artikel yang memuat kebaikan kepada orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh penulisnya lagi:

Bayangkan ‘keuntungan’ yang dapat Anda peroleh, apabila satu persen saja dari pembaca Anda memperoleh hidayah (baca: terinspirasi berbuat kebaikan) setelah membaca tulisan yang Anda buat. Barangkali, seperti kata hadits, hal itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

Bila ini terjadi maka pembaca dan saya Insya Allah akan mendapatkan kebaikan yang lebih baik daripada dunia dan seiisinya. Indah bukan. Semoga. Okelah tidak usah berlama-lama saya langsung saja, berikan ilmu ini. Sekali lagi ini khusus untuk yang belum tahu saja, yah… .

Saking banyaknya nama di Contact, seringkali ini membuat kita menjadi kebingungan sendiri. Soalnya nama yang tercantum di Contact adalah displayname. Yaitu nama singkat yang bukan nama lengkap dan disertai dengan nama server emailnya. Nama ini biasanya given dari sang pengirim email. Atau nama yang biasanya diciptakan sendiri oleh kita untuk lebih mudah mengenalnya atau berupa nickname.

Contohnya nama pengirim email dalam Contact saya adalah Awe Tea. Nama Awe Tea ini adalah nama yang diset oleh teman saya di setting emailnya. Ini langsung masuk ke dalam Contact saat saya mau me-reply email dari Awe Tea. Atau saat meng-klik kanan nama di inbox lalu klik add sender to address book.

Jadi nama yang tecantum itu tidak disertai nama lengkap dari server emailnya seperti nama awe tea tadi. Baru kalau kita klik kanan nama di contact lalu klik properties maka akan terlihat bahwa aklamat email lengkap dari awe tea adalah asep.nugraha@pajak.go.id.

Dengan demikian, kesulitan akan muncul di saat kita akan mengirim email khusus dan tertentu kepada teman-teman yang lain bila di dalam Contact sudah ada ratusan nama. Karena tentunya kita terkadang lupa teman kita ini dari komunitas mana. Kita tentunya tidak mau bukan kalau email rahasia kelompok kita bisa tersebar ke orang yang bukan anggota komunitas kita sendiri hanya gara-gara kita salah menganggap orang lain adalah bagian dari komunitas tertentu kita.

Contohnya, kita kirim email tentang kekejaman Israel kepada teman kita yang pro Israel misalnya. Atau artikel keagamaan dari Manajemen Qalbu yang kita kirimkan pula kepada sahabat kita yang berbeda keyakinan. Atau di saat kita menerima email dari komunitas pajak yang menanyakan objek ini dipotong pajak atau tidak lalu kita menjawabnya dengan pesan singkat: Potong saja. Dan ternyata email itu pun kita kirimkan kepada teman yang lain yang ternyata anggota dari komunitas hobi terjun payung, dan pas saat itu di komunitas itu sedang di bahas mengenai simpul parasut, maka ini bisa gawat tentunya bukan…? Oleh karena itu kita harus tepat sasaran untuk mengirimnya.

Dan dengan banyaknya nama ini pun kesulitannya adalah di saat kita ingin mengirimkan email kepada banyak orang misalnya kepada lima puluh teman kita. Tentunya kita merasa bete sekali kalau kita klik satu persatu . Dan selama ini saya yang berkecimpung selama satu tahun lebih dalam dunia Outlook Ekspress ini melakukan hal yang demikian. Maka seringkali saya malas untuk mengirimkan kepada teman-teman yang lain karena harus klik satu persatu nama-nama teman saya. Jadinya memang saya termasuk orang yang seirng menerima tapi tidak pernah memberi. Otomatis, kebaikan yang saya sebarkan pun terlalu sedikit.

Jadinya kita memang kudu menej ulang Contact kita supaya bisa memudahkan kita. Caranya kita mengelompokkan nama-nama teman kita yang satu kelompok dalam sebuah grup khusus.

Misalnya kita mau kelompokkan kedalam empat grup.

1. Grup pertama, adalah teman-teman yang bisa dikirimkan dan merasa nyaman menerima email ruhani, maka kita buat misalnya: Penerima Kebenaran;

2. Grup kedua misalnya dikhususkan untuk teman-teman eks KPP PMA Tiga, maka saya namai grup ini dengan ex PMA Tiga;

3. Grup ketiga misalnya khusus untuk milis-milis yang kita ikuti, maka kita namai grup ini dengan milis saya;

4. Grup keempat untuk teman-teman dari wajib pajak. Misalnya untuk ajang pengiriman peraturan terbaru dan konsultasi. Dengan nama grup adalah Wajib Pajak.

Lalu coba setelah kita membuka outlook ekspress, kita klik ikon bergambar buku yang terbuka atau ikon yng bernama addresses di toolbar. Setelah kita klik akan muncul display: Address Book – Main Identity.

Klik ¬File lalu klik New Group. Sebenarnya kita bisa langsung dengan menekan Ctrl dan G. Dan muncul display: Properties.

Pada tab Group kita isi nama grup yang kita inginkan. Misalnya kita isi dengan Penerima Kebaikan. Lalu kita klik tombol Select Member untuk memilih nama-nama teman kita yang ingin kita masukkan ke dalam grup ini.

Muncul display Select Group Members, kita pilih nama-nama itu lalu klik tombol select. Lalu setelah cukup lengkap dengan daftar nama yang kita kehendaki, klik tombol OK. Lalu kita bisa menambah detil grup kita dengan meng-klik tab Group Details. Tapi biasanya tidak saya lakukan karena informasi nama saja sudah cukup bagi saya. Kalau sudah kita bisa melanjutkan dengan membuat grup-grup yang lainnya. Dan bila sudah membuatnya kita keluar dengan menutup semua display yang ada.

Sekarang di Contact kita sudah muncul nama-nama grup kita tanpa menghilangkan nama-nama dari teman kita yang dimasukkan ke dalam masing-masing grup tersebut. Oke kita langsung mencobanya dengan mengirimkan email percobaan.

Ketika kita klik Create Mail, dan muncul display new message lalu di To: kita tulis nama grup kita yang akan menerima email kita dengan cukup menulis satu atau sampai tiga huruf depan dari nama grup kita. Misalnya pen atau ex atau mil atau waj. Maka otomatis akan langsung muncul nama grup yang kita kehendaki.

Dan di saat kita kirim email tersebut maka email itu hanya akan muncul kepada nama anggota dari grup tersebut. Memudahkan bukan? So, selamat tinggal gaya manual dengan meng-klik satu persatu nama email teman kita di To:, Cc:, atau BCc:.

Semoga bermanfaat. Tentunya saya yang pertama kali merasankan manfaat ini. Walaupun terlambat karena gagap teknologi tapi tidak mengapa daripada tidak sama sekali. Percayalah ini sangat membantu sekali. Dan menambah semangat saya untuk selalu menyebarkan kebaikan. Tentunya anda tidak mau kalah dengan saya bukan…?

***

Maaf tiada terkira. Segala caci maki, hinaan, ejekan, dan kutukan sila untuk dikirim kepada saya di riza.almanfaluthi@pajak.go.id.

Intermezo:

“Namamu siapa jeng?” tanya Bokir.

”Tingipoknyar” jawab perempuan bermuka pucat, berbaju putih, dan berambut panjang.

”Apaan tuh neng,” tanya Bokir lagi, penasaran.

”Ma…Ti…Wi…Ngi…Ka…Pok-e…A…Nyar…” jawab perempuan itu pelan sambil tertawa ngikik.

Membalikkan punggungnya, terlihat lubang penuh darah dan belatung.

Hi….hi….hi….

Bokir pucat lalu pingsan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10:27 07 Agustus 2006

Tingipoknyar: Mati Kemarin Kapuknya Masih Baru.

DIGITAX 2006


20.01.2006 – DIGITAX 2006 di Komputerisasi: Mari Berbagi…

Tak dinyana Forum Diskusi di Portal DJP tidak hanya menampilkan postingan tidak bermutu bahkan menjurus ekspolitasi pornografi. Tak disangka, di sana ada tempat untuk berbagi ilmu. Tentu bukan di kategori umum, tapi di komputerisasi.
Itu yang saya rasakan sejak beberapa hari ini mengikuti diskusi yang berkembang di sana. Mulai dari yang sekadar pertanyaan yang diulang-ulang, permintaan bantuan, juga sampai pada berbagi program berguna, tangguh, dan Free lagi. Apalagi dengan kerelaan dari sebagian ahli dalam pembuatan program, semisal DIGITAX.
Dulu saya memang mempunyai software database pajak. Tapi karena virus Brontok yang meng-KO-kan komputer saya sehingga terpaksa harus diintal ulang. Software peraturan pajak itu pun hilang jadinya dan saya tidak punya cd-instalasinya. Jadinya sudah beberapa minggu ini saya kerepotan dalam mencari peraturan-peraturan pajak. Tidak enak juga kalau numpang sama teman untuk melihat itu.
Syukurnya kahadiran DIGITAX ini menghilangkan kegalauan saya. Walaupun belum sempat dicoba seberapa canggihnya ia mampu untuk menampilkan peraturan-peraturan perpajakan yang diinginkan oleh user. Tapi yang pasti kehadirannya bagi saya–walaupun masih dalam versi beta–sudah cukup untuk menjadi solusi di tengah kebutuhan akan software bermutu dan gratis.
Tentunya, para user termasuk saya menginginkan, bahwa software ini harus dikembangkan lagi. Dengan update-update terbaru peraturan perpajakannya misalnya. Juga pengembangan softwarenya yang tidak sekadar berhenti pada versi beta-nya saja.
Kemudian diupayakan pula bagaimana cara instalasi yang gampang atau user friendly. Seperti kalau kita jalankan program-program yang branded itu loh. Tinggal pencet tombol next, next, next, and Finish.
Oh ya, satu lagi adalah perlunya lebih banyak lagi server mirror untuk memudahkan para newbie mengunduhnya.
Kepada programmer DIGITAX maafkan saya yang sudah diberi gratis masih saja menuntut terlalu banyak. Ini semua karena saya peduli dengan Digitax lho. Soalnya kalau sudah canggih kan, bisa saja menjadi pilot project bagi DJP dalam pengembangan software gratis buat Wajib Pajak. Daripada bayar mahal-mahal buat konsultan program, lebih baik honornya buat kesejahteraan pegawai DJP sendiri terutama programmernya. Betul begitu?
By The Way, salut buat Mas Fakhrurrozi karena telah sharing. Tentunya ini adalah ilmu yang bermanfaat. Tahu sendiri kan kalau ilmu bermanfaat itu pahalanya tiada akan putus-putus sampai di sana. Dan sungguh luar biasa besar sekali pahalanya.
Tentunya pula kepada yang lain, jangan lupa untuk selalu berbagi hal-hal yang bermutu dan bermanfaat. Sekali lagi sungguh, tiada ruginya menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Itu saja.
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

Sedia Payung Sebelum Hujan (Pujian)


Dalam sebuah bab dari sebuah buku tua yang dimiliki oleh Bapak dan telah dibaca oleh saya pada saat kelas tiga SD diuraikan tentang bagaimana cara seseorang menghadapi kritik. Buku yang ditulis oleh Dale Carnegie ini menggambarkan dengan cantiknya bagaimana perasaan orang yang dikritik dengan berbagai macam kritikan Mulai dari rasa marah, tersinggung, cemas, hingga efek yang ditimbulkannya berupa stress hingga munculnya berbagai macam penyakit.

Kemudian diuraikan pula bagaimana sikap orang yang berpikiran positif dalam menghadapi segala kritikan tersebut. Pada intinya ia bilang ”Siapkan payung dari hujan kritikan”. Siapkan payung disini adalah siapkan mental sekuatnya atas apa saja yang kita lakukan yang akan mengundang banyak kritikan dari orang lain. Banyak contoh diuraikan oleh Carnegie bagaimana cara mempersiapkan payung itu.

Ada satu hal yang kurang dan tidak dibahas dalam buku tersebut. Hal biasa namun ternyata dapat memberikan efek negatif cukup besar bagi mental manusia. Yakni bagaimana setiap orang seharusnya dapat juga mempersiapkan payung dari hujan pujian. Tentu kita maklumi bahwa Dale Carnegie hidup di masyarakat yang menjunjung tinggi materialisme dan kapitalisme. Sehingga penyikapan mereka terhadap pujian pun berbeda dengan penyikapan umat Islam terhadap pujian.

Bagaimana tidak, dalam materialisme, pujian adalah satu paket dengan ketenaran dan pencitraan diri. Sudah menjadi konsekuensi logis bahwa mereka yang tenar dan sukses dalam bidang tertentu mendapat pujian sebanyak mungkin dan dari mana saja. Karena ini berkaitan dengan–sekali lagi—pencitraan dirinya. Semakin dipuji semakin memberikan value added pada dirinya di mata orang lain. Sehingga pada akhirnya ia dapat diterima di komunitas masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Berbeda dengan nilai-nilai yang dianut dalam Islam. Agama suci ini mengajarkan kepada umatnya berhati-hati terhadap pujian. Karena ini menyangkut hati yang akan terkotori. Mengapa demikian? Karena pujian yang berlebihan akan mengakibatkan melencengnya niat awal bagi yang dipuji. Bila terjadi hal yang demikian maka syirik kecil yakni riya’akan muncul.

Pujian berlebihan juga akan mematikan kreativitas. Ia akan merasa bahwa apa yang ia perbuat nihil dari kesalahan padahal manusia adalah tempat dari lalai dan lupa. Ia tidak mengetahui kekurangan dirinya dan terlambat untuk memperbaiki. Kreativitas pun mandeg atau jalan di tempat.

Pujian yang berlebihan akan mengakibatkan ketidaksiapan yang dipuji untuk menerima hal-hal yang buruk tentang dirinya. Pujian yang berlebihan juga akan memunculkan rasa ’ujub (takjub dan bangga pada dirinya sendiri) atau bahasa gaulnya narsis gitu loh.

Nah, bicara tentang ’Ujub digambarkan secara jelas oleh Ustadz Said Hawwa dalam buku yang ditulisnya berjudul Intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali: Mensucikan Jiwa. Bahwa biasanya manusia akan ’ujub atas delapan hal. Yakni yang pertama adalah ’ujub dengan fisiknya. Kedua adalah ’ujub dengan kedigdayaan dan kekuatan. Yang ketiga ’ujub dengan intelektualitas, kecerdasan, dan kecermatan dalam menganalisa berbagai problematika agama dan dunia.

Yang keempat adalah ’ujub dengan nasab yang terhormat. Kelima ’ujub dengan nasab para penguasa yang zhalim dan para pendukung mereka. Keenam adalah ’ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, budak, keluarga, kerabat, pendukung dan pengikut. Ketujuh berupa ’ujub terhadap harta kekayaan. Dan yang terakhir adalah ’ujub dengan pendapat yang salah.

Berkaitan dengan dunia kepenulisan maka ’ujub yang seringkali menimpa adalah bentuk ’ujub yang ketiga yakni ’ujub dengan intelektualitas, kecerdasan, dan kecermatan dalam menganalisa berbagai problematika agama dan dunia, sehingga mengakibatkan sikap otoriter dengan pendapat sendiri, tidak mau bermusyawarah, menganggap bodoh orang-orang yang tidak sependapat dengannya dan kurang berminat mendengarkan para ahli ilmu karena berpaling dari mereka dan melecehkan pendapat mereka. (p:222)

Manusia normal mana sih yang tidak senang dipuji?

”Hei daun kering, tulisan elo bagus-bagus, yah. Bikin gue nangis mulu.” puji si fulan. “Mas Daun Jati, Bikinin gue puisi dong buat pacar gue. Elo kan paling hebat kalo bikin puisi. Gue aja ampe merinding kalo baca puisi elo.” puji si fulan yang lain. Gak kuat…!! Sampai limbung diri ini cari pegangan, supaya tidak jatuh saja sudah susah. Bagaimana tidak besar kepala? Bagaimana tidak akan tidak bergeming dari niat awal mencari ridhoNya kecuali ia memang benar-benar dilindungi Allah dari segala kekotoran hati. Bagaimana tidak akan ‘ujub dari hal itu?

Ustadz Said Hawwa memberikan terapi atas ‘ujub yang demikian yakni dengan bersyukur kepada Allah atas karunia intelektualitas yang telah diberikan kepadanya, dan merenungkan bahwa dengan penyakit paling ringan yang menimpa otaknya sudah bisa membuatnya berbicara melantur dan gila sehingga menjadi bahan tertawaan orang. Ia tidak aman dari ancaman kehilangan akal jika ia ujub dengan intelektualitas dan tidak mensyukurinya.

Beliau menambahkan bahwa hendaknya ia menyadari keterbatasan akal dan ilmunya. Hendaklah ia mengetahui bahwa ia tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit, sekalipun ilmu pengetahuannya luas. Apa yang tidak diketahuinya di antara apa yang diketahui manusia lebih banyak ketimbang yang diketahuinya, lalu bagaimana pula tentang apa yang tidak diketahui manusia dari ilmu Allah?

Hendaklah ia menuduh akalnya dan memperhatikan orang-orang dungu; bagaimana mereka ’ujub dengan akal mereka tetapi orang-orang menertawakan mereka? Hendaklah ia berhati-hati agar tidak menjadi seperti mereka, tanpa disadarinya. Orang cupek akal saja yang tidak mengetahui keterbatasan akalnya, sehingga ia harus mengetahui kadar akalnya dibandingkan dengan orang lain bukan dengan dirinya sendiri, atau dengan musuh-musuhnya bukan dengan kawan-kawannya, karena orang yang berbasa-basi selalu memujinya sehingga semakin ’ujub. Demikian Ustadz Said Hawwa (p:222).

Dalam sebuah tulisan yang berjudul Tawadhu di majalah Sabili, sebagai pembuka, penulisnya menceritakan gundahnya Helvy Tiana Rosa menyikapi fenomena penulis muda yang baru menulis satu atau dua buku sudah merasa paling hebat, merasa paling unggul. Padahal Taufik Ismail yang telah menulis banyak buku begitu tawadhunya dan tetap merasa belum apa-apa dengan segala karyanya itu. Sehingga beliaupun di usianya yang semakin bertambah tetap berkarya dan terus berkreativitas.

”Seharusnya mereka dapat menstabilkan emosinya,” tambah Helvy. Ya, betul perasaan paling unggul, paling hebat akan memandulkan kreativitas dan tidak mau belajar kepada orang lain. Membaca tulisan orang lain pun enggan, seakan usaha itu adalah upaya pengakuan bahwa orang lain lebih hebat daripada dirinya. Dan itu tidak diinginkannya. Dirinyalah yang lebih hebat. Dirinyalah yang pantas dipuji daripada orang lain. ”Ppeee…. betul begitu Mas Daun bersisik?” tanya sisi lain (bukan si Sisil lho).

Jadi bagaimana sih seharusnya kita memuji orang yang memang berhak kita puji dengan segala kecantikan kreativitasnya itu? Mungkin ini bisa menjadi jawaban: beri ia pujian sewajarnya dengan tambahan kritikan. Cara ini perlu agar ia pun bisa mawas diri.

Seperti etika dalam menegur bahwa segala koreksi dan kritikan tidak diungkapkan di depan forum, begitu pula dengan memberikan pujian. Kiranya tidak perlu diungkapkan kepadanya di depan khalayak ramai. Alangkah baiknya melalui surat, email, telepon, atau face to face. Atau kalau memang perlu diungkapkan di depan banyak orang, diusahakan untuk tidak diketahui orang yang dipuji. Ini adalah cara untuk menghindari penyakit hati yang akan timbul dari yang dipuji. Dan terakhir pujilah ia dengan tulus bukan dengan kedok diplomatis, agar ia dapat mensyukuri pujian itu dengan kesadaran bahwa segala pujian hanyalah milik Allah semata.

Tapi, ketakutan terhadap pujian yang berlebihan, ini pun akan mendatangkan sisi ekstrem dengan timbulnya penyakit hati yang lainnya yakni riya’, nah loh. Mengharapkan pujian salah, takut dengan pujian juga salah. Terus gimana dong? Ustadz Yusuf Qaradhawi pernah bilang: ”bersikaplah pertengahan”. Inilah sebaik-baiknya sikap.

So, sebelum kita siapkan payung dari hujan kritikan yang akan mengakibatkan kecemasan dan stress luar biasa, maka siapkan payung dari hujan pujian terlebih dahulu. Karena dengan itu kita akan siap untuk menerima hal-hal yang buruk tentang diri kita sendiri. Setelah itu tinggal nikmati saja badai kritikannya.

Allohua’lam.

Maraji’:

1. Intisari Ihya’ Ulumuddin al Fhazali, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-nafs terpadu diseleksi dan disusun ulang oleh Said Hawwa; 2000; Robbani Press.

dedaunan di ranting cemara

Alhamdulillah

18:39 11 Desember 2005

Cara Jitu Menjadi Top 1 Active Blogs


Sebenarnya banyak cara untuk menjadi Top1 Active Blogs dan menggeser juara bertahan selama ini yang langgeng diduduki oleh abang kita–Abang Jampang–selama berbulan-bulan. Mulai cara yang cantik dan bermutu hingga cara pintas menghalalkan segala cara (emang ada yang haram? enggak tahulah).
Cara yang cantik dan bermutu adalah setiap hari melakukan posting atau entry data, mulai dari berupa artikel orang lain ataupun tulisan sendiri. Kalau mau cepat, minimal Anda harus posting data 50 entries atau lebih setiap harinya. Ini tentu bisa menyebalkan para blogger lain, karena bila entrinya dilakukan sekaligus maka ini membuat postingan dari blogger lain menjadi tertimpa.
Agar tidak mengganggu maka posting data dilakukan saat diluar jam kerja. Keuntungan yang di dapat adalah kecepatan transfer data yang amat cepat, yang biasanya saat-saat jam kerja menjadi lambat hingga blogger kesulitan untuk posting satu entri saja. dan yang pasti anda bisa melakukan entri data di luar jam kerja tersebut kalau Maseko tidak mematikan server Cicadasnya. Betul begitu om eh mas…?
Tapi bila orientasinya hanya untuk tampil agar nama blognya terpampang di active blogs, biasanya ada dilematis yang akan muncul yakni masalah kuantitas atau kualitas dari postingan tersebut. Mungkin tak akan jadi masalah kalau orientasinya adalah kuantitas, sedangkan dilematis itu muncul saat kita mengejar kualitas. Karena saat kita membuat entri yang berkualitas entah dari orang lain dalam bentuk artikel siap jadi atau membuat tulisan sendiri tentu butuh waktu. Sedangkan waktu tidak bisa berkompromi dengan kita, karena sekali kita terlambat maka blogger lain siap untuk merebut ‘tahta’ itu. Memang sungguh dilematis, tapi semua ini terserah kepada diri blogger masing-masing.
Tapi sayangnya ketika orientasi kuantitas menjadi utama dan Blogger tidak sabar untuk mendapatkan artikel atau menulis yang berkualitas, maka ada cara lain untuk menjadi Top1 Active Blogs dengan cara seenaknya saja tanpa ketahuan oleh blogger lain. Artinya Blogger lain tidak mengetahui ia memposting apa tapi tahu-tahu menduduki urutan 20 atau 10 besar. Blogger lain tidak mengetahui seberapa sih kualitas postingannya yang ternyata kalau kita tahu sangat menjengkelkan itu. Dengan cara apa?
Cukup Anda klik Add New Entry, tunggu halaman yang mau diisi, lalu isi dengan satu huruf saja misalnya “a”. Setelah menuliskannya jangan tekan tombol Add New Entry tapi simpan saja dengan mengklik tombol Save As Draft. Postingan tidak akan muncul sebagai entry baru di home atawa halaman utama blog, sehingga blogger lain tidak mengetahuinya, tapi jumlah postingan Anda akan berubah dan bertambah di menu TOP ACTIVE BLOGS. Mengapa ini bisa terjadi?
Ini terjadi karena jumlah yang menjadi dasar penghitungan Anda termasuk dalam active blog atau tidak, adalah jumlah berdasarkan postingan yang masuk melalui halaman http://10.9.4.215/blog/manager/add_entry.php, entah melalui klik tombol ADD NEW ENTRY atau SAVE AS DRAFT, dan tidak didasarkan dari postingan yang ditampilkan melalui halaman utama. Tidak percaya? Coba saja sekarang atau nanti saat semua sudah pulang dari kantor–saat kecepatan akses Ciblog dapat diperoleh secara maksimal. Tapi sekali lagi dalam masalah tutorial, penulis tidak bertanggung jawab terhadap hasil yang diperoleh dari apa yang dilakukan oleh pembaca. Semuanya ditulis dalam rangka pembelajaran saja.
Sehingga untuk mencapai nilai 100 postingan setiap harinya, Anda hanya cukup menulis satu huruf di setiap postingan dan langsung simpan saja, niscaya Anda akan menjadi Top 1 Active Blogs hanya dalam satu minggu saja atau lebih pendek lagi. Tergantung dari kemauan Anda.
Tapi cara itu menurut saya belumlah–kalau tidak mau disebut tidak–elegan. Dan jangan pernah khawatir bagi para blogger yang telah menduduki Top 5 atau Top 10, bila ada blogger yang menggunakan cara ini. Karena sesungguhnya blogger sejati adalah blogger yang bisa memberi dan mencari sesuatu yang baru/inspiratif kepada dan dari para blogger lainnya, sebagaimana yang pernah saya tulis di the real blogger.
Bagi Anda, jangan pernah khawatir untuk tergeser dari top active blogs, karena sesungguhnya secara naluri, para blogger tentu mencari blog yang mempunyai karakter kuat dan berisi. Juga ketertarikan mereka pada blog Anda tidak hanya terletak di sisi kiri halaman utama Ciblog, tapi ada di tangan mereka yang menekan Add to Favorites pada blog Anda di komputer mereka masing-masing. Sehingga mereka–para Blogger–tak perlu melihat sisi kiri Ciblog di setiap paginya, cukup melihat blog Anda di favorites. Karena Anda memang berkarakter dan berkualitas. Tetaplah berkarya.
Demikian tulisan saya, kurang lebihnya mohon maaf. Sesungguhnya Allah adalah Maha Sempurna.
Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara
suatu saat saya akan menulis tentang Blogger Berkarakter Kuat
20:07 09 Desember 2005

Unlimited Inspiration


Unlimited Inspiration
(looking themes for)
Saya berdiri terpaku, lama, di depan lemari buku perpustakaan pribadi yang dipenuhi sesak berbagai macam jenis judul buku. Niatnya untuk mencari tema yang pantas untuk ditulis di akhir pekan ini.
Saya ambil buku serial manajemen, ”Ah…terlalu berat”, pikir saya.
Saya melirik buku Abu Al-Ghifari dengan judul ’Muslimah yang Kehilangan Harga Diri’, ”Wah, gender nih”, pikir saya lagi.
Saya tiba-tiba tertarik dengan tema Janissary, pasukan khusus yang dibentuk di zaman kekhalifahan Ustmaniyyah, yang awalnya berasal dari anak-anak Kristen dari daerah takhlukan, yang kemudian dipelihara dan setelah besar dijadikan tentara pendukung utama. Pasukan ini menjadi pasukan yang paling ditakuti di seantero Eropa juga menjadi bumerang bagi Kekhalifahan itu sendiri hingga akhirnya dibubarkan.
Tema ini menarik karena ada di dalam pakem saya yang sangat menyukai sekali sejarah dunia. Tapi masalahnya adalah untuk mewujudkannya menjadi tulisan butuh membuka banyak referensi. That is a point, saya tidak punya waktu banyak untuk membuka, mencari, dan membacanya saat ini, walaupun buku dengan tema ini ada sepuluh lebih di depan saya. ”Pekan depan saja, lah”, kata saya dalam hati.
Akhirnya saya kembali menuju komputer yang sedari tadi sudah terbuka dengan halaman kosongnya masih setia menunggu untuk segera diisi. Kali ini, mungkin kebuntuan saya mencari tema bisa menjadi tema itu sendiri, ringan, dan instan. Tiba-tiba telepon berdering, seorang teman mengingatkan saya pada acara pagi, siang, dan malam ini. Jadilah tulisan ini terhenti untuk sementara. “Yah, tertunda lagi…”, keluh saya sambil beranjak pergi meninggalkan halaman yang setengah terisi ini, sambil menyuruh Haqi untuk men-save, close, dan silakan bermain game kesenangannya lagi.
***
Kebuntuan mencari tema seringkali menjadi penghalang bagi sebagian kita menulis. Tetapi bersyukurlah bila Anda mengalami hal ini, karena berarti Anda manusia normal. Tanda kebuntuan ini berarti tanda kemajuan bahwa Anda mempunyai kemampuan menulis. Terkadang bagi sebagian orang bukan masalah buntu atau tidak, tapi untuk membuat satu atau dua paragraf saja mengalami kesulitan yang sungguh luar biasa. Selain itu kebuntuan pun menjadi alat untuk mengasah ketajaman Anda dalam melatih diri menulis dan menulis.
Kebuntuan mencari tema bisa disebabkan karena beberapa hal yakni tidak adanya input yang masuk ke dalam otak kita. Input bisa berasal dari mana saja. Dari pengamatan kita terhadap sekeliling atau membaca.
Pengamatan terhadap sekeliling dapat diperoleh dari hasil perjalanan kita sehari-hari yang biasanya luput dari pengamatan orang umum saking menjadi hal yang terbiasa dilihat. Makanya ada sebagian penulis yang salah satu hobinya adalah melakukan travelling. Ini adalah caranya untuk mendapatkan tema-tema new and fresh. Seperti kegiatannya di sepanjang perjalanan menuju kampungnya, masakan khas daerah tertentu, objek wisata dan lain sebagainya, menjadi tema yang menarik untuk diungkap melalui tulisan.
Kegiatan membaca pun menjadi salah satu cara agar volume input menjadi besar. Bahkan bagi sebagian penulis rutinitas membaca menjadi salah satu keharusan untuk bisa tetap eksis di dunia kepenulisan. Dengan membaca ia akan mendapat banyak sesuatu yang baru seperti wawasan, ilmu pengetahuan, bahasa, bangsa, metode, dan masih banyak yang lainnya. Intinya dengan membaca akan memperkaya tulisan-tulisannya sendiri.
Saya tertarik dengan apa yang diungkapkan oleh Tim FLP dalam publikasinya di Bengkel Pena Eramuslim berkaitan dengan pertanyaan apakah penulis harus membaca? ”Kalau menurut kami asumsinya begini, ketika sebuah wadah diisi terus menerus, maka ketika penuh akan tumpah. Nah, demikian juga dengan penulis yang hobby membaca, kalau dia terus menerus membaca, maka akan lebih mudah menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan.”
That’s great. Penuh dan tumpah. Asumsi yang membuat saya meyakini bahwa dengan membaca, otak akan dapat dengan mudah menumpahkan segala isinya ke dalam bentuk tulisan.
Pertanyaan selanjutnya adalah kalau buku atau majalah saja jarang terbeli, bagaimana saya bisa banyak membaca? Sebagai muslim, Anda tentu punya mushaf Al-Qur’an tentunya. Itu saja sudah cukup. Betapa Al-Quran menjadi inspirasi bagi para penulis sedari zaman Rasulullah sehingga begitu banyak umat manusia mendapat hidayah Allah SWT.
Muhammad Fauzil Adhim—penulis buku best seller Kado Pernikahan—menulis sebuah artikel yang berjudul Belajar Menulis Pada Al-Qur’an. Di dalamnya ia mengungkapkan betapa Al-Qur’an memang tak akan pernah habis kalau kita mau menggali dan menggali terus.
Anda tentu mengenal keindahan kata dari para mufasirin seperti Jalaluddin Abdurrahman Assayuti, Jalaluddin Al Mahalli, Al-Baghdadi, Ibnu Katsir, Al Fakhrur Razi, Sayyid Quthb, Hamka, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sudah tentu, karena mereka begitu akrab dengan Al-Qur’an dan memiliki ilmu untuk menafsirkannya.
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi tiada batasnya, maka tiada yang muncul dari tulisan-tulisan itu kecuali berjuta nilai kebaikan dan kebenaran. Untuk itu sudah sepatutnyalah pula Al-Quran menjadi bahan bacaan harian, menjadi rutinitas yang mengoyak qalb, menghancurkan keegoan dan kesombongan, dan menjadi langkah awal kepenulisan.
Pada akhirnya setelah itu, Anda akan menemukan samudera tema yang tiada hentinya menghanyutkan pembaca dalam tulisan Anda. Anda akan menemukan gunungan emas yang tiada habisnya memberi kilauan cantiknya dalam tulisan Anda. Dan Anda tidak akan pernah mengalami hal yang pernah saya alami, lalu Anda akan cukup mengucapkan Goodbye pada kebuntuan mencari tema.
Insya Allah.

dedaunan di ranting cemara
ahad panjang gemilang
14.05 04 Desember 2005

Menulislah dengan Hati


“Menulislah dengan hati, maka kau akan dapatkan apa saja.” Kalimat itu meluncur dari mulut Qoulan Syadiida saat saya sudah tidak mempunyai ide apa pun di kepala ini. Saat saya sudah tak mampu menghiasi hari-hari ini dengan tulisan-tulisan. Saat saya hanya memandang halaman kosong putih di layar komputer beberapa lama dan menutupnya dengan masih tetap kosong.
Maka bersegeralah saya menulis ini untuk mengungkapkan kepada Anda semua Bahwa menulis dengan hati membuat saya menulis dengan jujur tanpa polesan dan pulasan yang menipu. Menulis dengan hati membuat saya menghasilkan sesuatu yang bermakna dan bernas. Menulis dengan hati membuat saya mendapatkan suatu kedalaman pada metafora, personifikasi, dan perumpamaan.
Lalu bersegeralah saya untuk memilah-milah semua tulisan saya untuk mengetahui dan menilainya secara jujur apakah ini dari hati atau tidak? Kalau itu pun dari hati, seberapa dalamkah ia? Maka saya pun mendapatkan daftar itu, salah satunya adalah pada artikel tentang nama dedaunan yang berjudul dedaunan itu… atau pada puisi kau adalah ia, lontar dari kadipaten depok, sms ini membuatmu menangis.
Ternyata sebagian besar karya dari hati itu adalah terungkap dalam bentuk puisi. Singkat, sekali duduk, tidak melelahkan, dan terakhir biarkan pembaca menilainya, mengapresiasikannya sendiri. Biarkan penulisnya, pengarangnya mati.
Akhirnya saya sampai bertanya, apakah saya hanya dapat menulis dari hati itu dengan puisi-puisi itu? Juga Anda? Tentu tidak, masing-masing orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Kali ini, saya hanya dapat mengungkapkannya puisi, suatu saat entah itu cerpen, essay, atau bakan novel kelak akan saya buat. Sudah pasti akan kubuat ia dari hati.
Maka menulislah dari hati, kau akan temukan bedanya.

Short Message Box Kanwil Jakarta Khusus Lemah


Tutorial Hacking: Short Message Box Kanwil Jakarta Khusus Lemah

Sekitar satu tahun yang lalu saya pernah mencoba untuk menyamarkan IP Address pada menu Short Message Box (SMB) Kanwil Jakarta Khusus dan bisa, saya pun telah memberikan semacam warning bahwa SMB ini rawan dimanipulasi. Entah ditindaklanjuti atau tidak oleh webmasternya.
Pagi ini saya teringat kembali dengan SMB Kanwil Jakarta Khusus dan saya coba kirim dengan IP Address yang tidak benar dan tetap saja bisa tampil, padahal IP Address saya adalah 10.7.3.192. Untuk lebih jelasnya coba Anda klik saja halaman ini: http://10.254.200.215/web7/daftarpesan.asp .
Sebenarnya gampang saja sih untuk merubah IP Address kalau Anda malas mempelajari tutorial ini. Caranya:
1. Anda klik dua kali icon computer di sudut kanan layar komputer Anda dan akan tampil Local Area Connection Status.
2. Lalu klik Properties;
3. Muncul tampilan Local Area Connection Properties;
4. Di tab General, coba Anda menuju area yang bertuliskan This connections uses the following items;
5. lalu pilih dengan klik dua kali Internet Protocol (TCP/IP);
6. akan muncul Internet Protocol (TCP/IP) Properties;
7. Ubah saja IP Address Anda, namun tentu saja yang Anda bisa ubah supaya bisa tetap konek ke jaringan dan intranet adalah dua atau tiga digit terakhir.
Keterbatasan cara ini adalah Anda tetap bisa diketahui berasal dari kantor mana Anda berasal walaupun tidak tahu siapa Anda dan keterbatasan lainnya adalah akan terjadi konflik karena IP Address tersebut telah dipakai oleh komputer yang lain. Sehingga anda masih harus tetap coba-coba IP address mana yang kosong atau tidak terpakai, kecuali anda punya software IP Scanner seperti Networkview dan lain-lain. Itu saja sih.
Nah, Pada tutorial kali ini saya akan memberikan sedikit banyak tentang bagaimana caranya kita dapat mengubah IP Address dalam SMB ini. Silahkan pelajari dan nikmati saja:
1. Kita Install terlebih dahulu HTML Editor—karena kita akan kirim SMB melalui MS Fp, contohnya buat yang amatir seperti saya Microsoft Frontpage (MS Fp) sudah cukup. Di Windows Office 2000 dan Office 2003 MS Fp tidak lagi dijadikan satu bundel dengan Program Windows Office konvensional seperti MS Word, Excel dan lain-lain. Jadi Anda harus beli terlebih dahulu program ini;
2. Setelah kita menginstal MS Fp, maka kita berkunjung ke situs Kanwil Jakarta Khusus di http://10.254.200.215/web7/ ;
Kita lihat-lihat, cukup baiklah. Di halaman utama ini tidak di blocking dengan script anti klik kanan. Coba saja Anda klik kanan, maka akan muncul beragam menu. Abaikan saja, kita tidak perlu klik kanan di sini;
3. Lalu kita coba mengirim pesan di SMB dengan klik kirim;
4. Akan muncul tampilan “Kirim Pesan Anda” di halaman http://10.254.200.215/web7/kirimpesan.asp . Nah, di sini coba Anda klik kanan, maka akan ada alert script pemblok klik kanan yang berbunyi: “Terimakasih, Anda telah mengklik kanan.” Script ini dibuat untuk agar pengunjung tidak boleh melihat source-nya. Jangan khawatir ini gampang sekali dilihat. Coba Anda klik View di atas dan pilih source, maka sourcenya bisa dilihat.
Di sana ada dua Javascript yang pertama untuk Fungsi buat memastikan bahwa semua field telah diisi dan Funsi Mematikan Klik Kanan. Abaikan saja, ini tidak perlu bagi kita.
5. Langkah selanjutnya coba buka File dan pilih Edit with Microsoft Office Frontpage. Editan ini akan tampil jika anda sudah menginstal MS Fp.
6. Di MS Fp pada sheet split akan terlihat kode HTML dan preview di bawahnya. Saya tampilkan kode yang penting di sini:

<form method=”POST” action=”/web7/kirimpesan.asp” name=”form1″ onSubmit=”return CheckForm(); “>
<table width=”400″ align=”center” class=”teksbiasa” height=”181″>

Pada tampilan di atas ada action=”/web7/kirimpesan.asp”, Anda harus jeli disini karena kalau Anda membiarkannya seperti ini Anda tidak dapat kirim pesan melalui MS Fp. Kode di atas adalah alamat tujuan pesan Anda akan di tulis dan ditampilkan. Alamat tersebut tidak sempurna oleh karena itu perlu ditambahkan dengan alamat yang sebenarnya pada tanda kutip di atas yakni dengan alamat Homepage Kanwil Khusus yakni http://10.254.200.215/.
Berikut tampilan alamat yang benar:

<form method=”POST” action=”http://10.254.200.215/web7/kirimpesan.asp&#8221; name=”form1″ onSubmit=”return CheckForm(); “>
<table width=”400″ align=”center” class=”teksbiasa” height=”181″>

7. Setelah itu, baru kita ubah IP Addressnya, saya tampilkan kodenya pentingnya masih di sheet split:

<input type=”hidden” name=”ip” value=”10.7.3.192″ size=”32″>
<input type=”hidden” name=”MM_insert” value=”form1″>

Nah, ternyata saat kita coba kirim SMB, asp langsung otomatis mencatat IP Address kita dan menampilkannya dalam source di atas. IP saya adalah 10.7.3.192, nah coba kita ganti dengan 10.11.3.254, tampilannya seperti ini:

<input type=”hidden” name=”ip” value=”10.11.3.254″ size=”32″>
<input type=”hidden” name=”MM_insert” value=”form1″>

8. Setelah Anda menulisnya di Split maka kita berpindah ke tab Preview di MS Fp. Maka akan muncul tampilan “Kirim Pesan Anda” persis seperti yang ada di alamat: http://10.254.200.215/web7/kirimpesan.asp .
9. Lalu kita coba isi formnya, contoh seperti ini:
Dari: dedaunan
Untuk: ar
Pesan: semoga di tempat baru lebih giat bekerja.
Lalu klik tombol kirim.
10. Dan Anda lihat hasilnya, bahwa IP saya bukan 10.7.3.192 tapi 10.11.3.254.
11. Berhasil, coba Anda cek di http://10.254.200.215/web7/daftarpesan.asp

Itulah, sedikit tutorial kali ini dari saya. Anda masih belum mengerti? Coba pelan-pelan saja. Untuk mudahnya, artikel ini Anda print terlebih dahulu supaya enak saja dibacanya agar tidak bolak-balik buka ini dan itu.
Dan sebagaimana biasa dalam dunia tutorial perhackingan, saya selalu katakan, “Kalau Anda merusak Anda semestinya jadi cracker saja. Anda akan dimintakan petanggungjawaban di akhirat kelak dan pasti ada balasan atas perbuatan merusak itu. Dan terakhir saya tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan atas posting artikel ini! Artikel ini dibuat hanya dalam rangka pembelajaran semata.”
Semoga bermanfaat.
Kepada Webmaster Homapage Kanwil Jakarta Khusus maaf selalu dari saya.

dedaunan di ranting cemara
di antara perubahan haluan dalam menulis
11:24 23 Agustus 2005