DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT


DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

(Dimuat di Situs Kitsda)

Apresiasi perlu disematkan kepada semua pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang naskahnya terpilih dalam buku Berkah, Berbagi Kisah & Harapan, Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak. Karena tak semua mampu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam kepala dan menuangkannya dalam bentuk tulisan tentang apa yang setidaknya menjadi cita-cita bersama kita semua yakni menjadi pegawai DJP yang mempunyai integritas, profesionalitas, inovasi, dan mampu bekerja sama.

Pertanyaannya adalah apakah cukup sampai di situ? Seharusnya para penulis buku itu akan mampu berteriak tidak dengan lantang. Ya, karena capaian itu adalah baru capaian yang seharusnya disikapi dengan biasa saja. Tak perlu euforia karena terbuai dengan ucapan selamat bertubi-tubi.

Sejatinya dua hal yang akan menumpulkan pena dan mematikan sebuah kreativitas dalam kepenulisan adalah mabuk pujian dan cepat berpuas diri. Selayaknya pujian adalah obat atau multivitamin yang apabila diminum secara overdosis bukannya menyembuhkan tapi sebaliknya, bahkan ia akan menjadi racun.

Terjebak dalam pujian hanya akan membuat punggung terbungkuk-bungkuk ke tanah karena beban yang berat agar bisa menulis sebuah tulisan yang minimal sama dengan yang sudah diberikan penghargaan tersebut. Padahal tak selamanya penulis mampu dalam keadaan prima serta menghasilkan sebuah karya yang bagus. Pada akhirnya, karena terbebani ia tidak menulis dengan hati tapi menulis sesuai apa kata orang. Sejak saat itu matilah sebuah kreativitas.

Lalu bagaimana dengan berpuas diri? Sama saja. Kalau itu yang dilakukan cukuplah kita menjadi kutu anjing yang seharusnya dalam keadaan normal mampu untuk meloncat setinggi 2 meter tapi karena ia dimasukkan ke dalam kotak korek api selama dua pekan maka ia cuma akan bisa meloncat setinggi kotak korek api saja. Sungguh akan ada potensi luar biasa yang tercerabut dan lenyap. Mengerikan.

Maka momen Berkah bukan momen narsis sambil mematut-matut diri di cermin. Tapi titik awal agar mampu menulis lebih baik lagi, kontinyu, dan mencerahkan. Bagaimana caranya? Tiada hari tanpa pengamatan, mencerna dan menuliskannya dengan menggunakan otak kanan—otak yang menyukai kebebasan dan tidak suka yang berbau urut dan tata tertib—dan biarkan ia mengalir apa adanya, lalu menyuntingnya dengan menggunakan otak kiri. Selanjutnya terserah kita.

Publikasi pun menjadi titik penting lainnya. Karena siapa yang akan tercerahkan kalau apa yang Anda tulis tidak diketahui dan bukan untuk siapa-siapa? Koran, majalah, blog, forum diskusi internet, facebook bisa jadi tempat yang tepat untuk itu. Bahkan situs Kepegawaian DJP selayaknya pula menyediakan tautan terbuka untuk menyalurkan kreatifitas kepenulisan ini.

Berhenti? Lagi-lagi tidak! Selesai suatu urusan maka kerjalanlah urusan yang lain. Menulislah lagi. Jangan berhenti. Setelah itu tawadhu’lah, berrendahhatilah, karena di luar masih banyak penulis-penulis yang lebih hebat dan lebih jago. Pun, ada kredo nan elok dan tak akan pernah mati: di atas langit masih ada langit.

Ayuk, tetap Semangat menulis.

***

sekadar curahan hati malam mingguan

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13:12 11 November 2009

Pelajaran Berharga dari Trackback


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Hari ini saya mendapatkan sebuah kejutan sesaat melihat ada incoming links di blog stat WP.

___________________________________

Incoming Links

* Yang hilang di era informasi itu telah kembali

* PINDAH BLOG

More »
___________________________________

Saya bingung incoming links itu apaan?

Dari kemarin yang ada di situ cuma satu link saja yaitu link dari blog saya yang lama yang ada di blogspot. Jadi karena tahu itu link saya jadi saya tidak begitu peduli. Tetapi  pada pagi hari ini ada satu tambahan lagi yaitu: Yang hilang di era informasi itu telah kembali.

Sejak saat itu saya berusaha mencari tahu apa itu incoming link. Setelah saya mencari tahu via Google akhirnya saya jadi tahu, incoming link itu apa. Intinya adalah ada sebuah blog yang dalam postingannya telah memasukkan atau menautkan alamat blog kita.

Maka setelah saya sudah tahu apa itu incoming link, saya masuk ke blog yang telah menautkan blog saya: Yang hilang di era informasi itu telah kembali

Setelah saya berkunjung ke sana, saya coba baca dan mencari tahu di bagian mana dia telah menautkan blog saya. Karena pakai fasilitas snap yang rapat saya jadi tidak tahu. Tetapi saya coba mencarinya dalam source postingan tersebut. Barulah saya tahu dan memastikan di bagian itu dia telah menautkan alamat blog saya.  Di paragraf ini:

Karena demikian hebatnya hubungan antara aktivitas menulis dan intelektualisme, maka kita semua, para blogger, hendaknya bersukur dengan teramat sangat dengan adanya teknologi blog ini dengan segala kekuatannya. Terkait dengan kekuatan ini, bahkan sebuah buku mengatakan bahwa ngeblog bisa mengubah dunia. Toh telah begitu banyak orang baik yang secara ikhlas memberikan dorongan untuk menulis, terutama melalui blog yang murah meriah dan efektif ini.

Saya ditautkan di kata “yang”. Sedangkan dua kata sebelumnya yaitu “orang baik” ditautkannya ke sebuah blog yang sudah lama dari dulu terkenal sebagai blog tutorial. Kepunyaannya Mas Fatih.

Dan di saat saya mengklik blognya Mas Fatih itu, saya mendapatkan pelajaran berharga bertemakan trackback. Dengan membaca dan praktik langsung akhirnya saya dapat memahami secara nyata tentang apa itu trackback karena sejak saya mulai ngeblog saya tidak pernah berusaha tahu dan tentunya kebingungan mengartikan dan memanfaatkan tool-tool yang ada di WP misalnya. Untuk mengetahui secara langsung tentang apa itu trackback dan kegunaannya sila untuk mengklik link di atas. Insya Allah bermanfaat sekali.

Dan dengan saya menulis tentang ini pada akhirnya saya bisa memahami pula bahwa menulis blog dengan mudah adalah dengan memberikan tanggapan terhadap tulisan atau catatan di blog tetangga atau teman-teman kita.

Terimakasih kepada Mas Fatih Syuhud, bermanfaat!

Ohya ada sedikit tambahan: kalau ingin tidak hanya satu link yang akan kita trackback-kan, maka jangan sungkan-sungkan untuk memasukkan semua link trackback  itu ke dalam kotak yang tersedia di bawah kotak postingan, dan jangan lupa pisahkan banyak link tersebut dengan spasi. Seperti petunjuk di kotak trackback tersebut: (Separate multiple URLs with spaces). Tips ini bagi yang tidak mengerti sama sekali bahasa Inggris seperti saya ini 🙂

Walhamdulillah

Itu saja.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:11 25 Januari  2008

Ebook Tips-tips Menulis: Writing 1.0


W
R
I
T
I
N
G
1.0

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Semoga kita
dimasukkan Allah ke dalam hamba-hambaNya yang shalih, yang tidak berlebih-lebihan dalam beragama, dan dimasukkan ke
dalam pengikut sunnah Rasulullah yang mulia.

Saudara-saudaraku
yang dimuliakan Allah, banyak yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menulis yang baik dan menumpahkan isi yang
ada di kepala dalam bentuk sebuah tulisan. Karena seringkali ide begitu banyak namun senantiasa gagal membuat
jejaknya dalam sebuah tulisan. Banyak hal yang membuat tulisan itu tidak pernah muncul. Semua ini adalah hal yang
pernah saya alami. Namun dengan berjalannya waktu dan tidak malu untuk belajar kepada yang lain akhirnya saya juga
bisa menulis. Dan apa yang saya yakini adalah siapa saja bisa untuk menulis tetapi karena tiada latihan untuk menulis
itulah, mimpi untuk menjadi penulis tiada kunjung datang.

Dari latar
belakang tersebut, kiranya perkenankanlah saya menyampaikan risalah kecil dalam format CHM ini untuk membagi apa yang
saya dapatkan selama menjalani proses kepenulisan saya. Tentunya perlu saya garis bawahi bahwa saya ini bukanlah
siapa-siapa, saya bukan penulis jempolan, saya bukanlah penulis yang punya buku, saya bukanlah penulis yang memenangi
banyak lomba kepenulisan, saya bukanlah penulis yang cerita pendeknya memenuhi halaman-halaman media massa, maka apa
yang Anda akan dapatkan pada risalah kecil ini adalah tip-tip seadanya dari saya. Tip-tip yang menurut saya telah
saya terapkan dan saya anggap berhasil pada diri saya.

Untuk mendapatkan
hasil yang lebih baik lagi maka sudah barang tentu tidak hanya menerapkan pada apa yang saya sampaikan, karena ada
begitu banyak di luar sana para penulis yang mempunyai tip-tip menulis yang canggih dan mau berbagi kepada Anda
semua. Poinnya adalah belajar kepada siapapun sesuai dengan kaidah “janganlah melihat siapa yang
mengatakan tapi dengarkanlah apa yang dikatakannya
“.

Saudaraku inilah
yang bisa saya sampaikan dan karena kewajiban saya kepada Anda semua dari sedikit apa yang saya punya sesuai dengan
apa yang dikatakan Baginda Rasulullah SAW: “barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, lalu dia menyembunyikannya,
maka pada hari kiamat dia akan dipasangi kendali dengan api.” (Hadits yang diriwayatkan dari berbagai
jalan).

Selain tips-tips
menulis dari saya juga akan ditampilkan seputar tips-tips menulis dari rubrik Bengkel Pena Eramuslim yang dikelola
oleh Forum Lingkar Pena DKI, dan dari para blogger atau penulis lainnya yang saya ambil dari berbagai situs di
internet.

Tentunya tip-tip
menulis yang saya beri judul Writing version 1.0 akan senantiasa saya perbaharui, insya Allah, jika saya diberikan
waktu oleh Allah untuk melengkapinya. Semoga ini menjadi amal ibadah saya, dan semoga Allah meridhai apa yang saya
lakukan. Wahai saudaraku, menulislah dengan mencerahkan.

Anda semua bisa mengunduhnya dengan mengklik alamat ini:

writing 1.0

Atau jika tidak bisa, Anda tinggal kopi alamat tersebut lalu tempelkan alamat itu ke
penjelajah jaringan Anda semisal Internet Explorer, Opera, dan Mozilla Firefox.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Citayam yang
dingin,

21 Desember
2007

Riza
Almanfaluthi

Anggota Batre V
FLP Depok

DUA YANG MEMATIKAN


Menurut kamu, kecemasan apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Ada banyak jawaban yang akan kamu berikan kepada saya. Dan akan saya katakan kepada kamu, itulah manusia, tidak lepas dari sebuah rasa yang bernama cemas. Lalu jika kamu bertanya hal yang sama kepada saya, maka saya akan jawab salah satu dari sekian rasa kecemasan saya, “tidak menulis selama beberapa hari.”
Bagi saya, yang patut dicemasi pada diri saya adalah hilangnya kemampuan menulis saya. Karena saya merasa bukan orang yang berbakat menulis. Karena tidak adanya bakat itulah saya berusaha untuk latihan dan latihan menulis terus menerus. Menulis bagi saya adalah sebuah latihan untuk menutupi ketiadaan bakat itu. Menulis adalah proses latihan bagi diri saya. Sebagus apapun tulisan yang saya hasilkan itu adalah proses bagi pembelajaran saya.
Maka bolehlah saya akan cemas ketika sudah berminggu-minggu tiada tulisan yang saya hasilkan. Saya akan merasa bahwa kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada saya ini akan hilang selamanya. Dan saya tidak mau. Maka saya harus memaksakan diri untuk menulis. Menulis apa saja. Tak peduli apa yang orang akan bilang saat membaca tulisan saya.
Saya pun senantiasa berpikir mengapa saya tidak produktif dalam menulis. Dan saya akan iri kalau melihat betapa teman-teman saya begitu produktifnya menghasilkan sebuah karya. Saya pikir rasa iri ini tentunya masih dalam lingkup yang bisa ditolerir. Sebuah keirian agar saya bisa menghasilkan karya, bukan sebuah keirian yang ingin agar teman-teman saya tidak bisa menulis lagi. Naif sekali kalau yang terakhir itu yang saya irikan. Sungguh iri itu adalah tanda ketidakmampuan.
Setelah saya berpikir lama mencari jawaban dari sebuah pertanyaan tentang ketidakproduktifan saya—yang sebenarnya bisa saja saya mencari beribu alasan untuk melegitimasinya, maka saya menemukannya.
Pujian. Bagi saya sebenarnya ia adalah racun yang sangat mematikan kreatifitas saya. Maka sedari awal sejak saya mulai belajar menulis bertahun-tahun lalu, saya sudah siapkan payung agar tiada ribuan tetesan pujian yang akan membasahi tubuh saya. Tapi terkadang payung antipujian yang saya pakai seringkali tidak mampu untuk menahan derasnya. Sehingga membuat saya terkapar dalam sebuah keterlenaan. Dan pada akhirnya saya tidak mampu menulis segera.
Apa kaitannya dengan kreatifitas yang mati? Konkritnya begini. Jika saya dipuji, dan sangat menikmati sekali pujian itu, ketika akan menulis lagi dalam benak saya akan dipenuhi sebuah keinginan agar dapat membuat sebuah karya yang bisa menghasilkan pujian. Agar karya saya bisa memuaskan para pembacanya seperti kepuasan yang diperoleh saat membaca tulisan saya terdahulu.
Nah, pada saat itulah saya terjebak untuk melawan idealisme yang saya buat buat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa idealisme kepenulisan saya saat membuat sebuah tulisan adalah TIDAK PERLU PEDULI APA KATA ORANG. Biasanya dengan idealisme itu saya—syukurnya—bisa membuat sebuah tulisan berhalaman-halaman dengan lancar tanpa beban tanpa hambatan.
Sudah barang tentu saat saya mengabaikan idealisme ini dan hanya menurutkan sebuah nafsu hanya untuk dipuji maka sudah dapat dipastikan saya tidak bisa menulis. Ada saja hambatannya, seperti takut salah atau adanya pikiran: “jangan yang ini, orang pasti tidak suka nantinya.” Seperti ada beban di pundak. Sejak itulah sebuah kreativitas mati.
Dan yang selanjutnya adalah cepat berpuas diri. Ini pun bagi saya adalah racun yang sama dahsyatnya dengan racun pujian di atas. Karena merasa bahwa tulisan sudah bagus maka biasanya saya akan terlena dengan tulisan itu, berhenti sejenak yang kebablasan dan tidak dapat dihentikan. Mengagumi diri sendiri. Narsisme yang sudah sangat keterlaluan.
Merasa diri besar dan hebat, pasti disitulah saya lengah. Karena sudah merasa hebat saya merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras. Kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.
Di situlah sebuah kreativitas akan mati. Karena sesungguhnya walaupun menulis itu gampang tapi ia adalah sebuah kerja yang harus dilakukan dengan keras, telaten, dan penuh pemikiran. Tidak bisa dengan hanya berpuas diri.
Berpuas diri hanya akan memuarakan diri saya pada ‘ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri) yang sangat membinasakan bahkan menghancurkan agama. Bukankah saya dan kamu juga pernah ingat tentang Nabi kita tercinta yang menegaskan ‘ujub ini digolongkan sebagai perusak agama? Ia disebut pertama kali dari dua hal lainnya yang merusak agama, yaitu kikir dan hawa nafsu yang diikuti.
Ternyata betul sekali. ‘Ujub menjadi unsur pertama pemusnah agama timbul karena saya akan merasa segala nikmat yang diberikan Allah SWT itu hadir atas usaha saya sendiri. Saya yang sudah memiliki sifat seperti ini akan merasa bangga dengan diri saya sendiri, melebihi rasa bangganya terhadap kebesaran Allah.
Lalu pada tahap selanjutnya, sifat ‘ujub ini bisa berkembang menjadi riya. Saya yang memiliki sifat riya selalu ingin agar kebaikan-kebaikan saya ini dilihat orang lain. Dari sifat riya itu akan muncul pula sikap takabur. Jika sifat ini sudah ada pada diri saya maka musnahlah kehidupan beragama saya. Saya berlindung pada Allah atas sifat-sifat yang sedemikian rupa ini.
Jadi, jikalau kamu-kamu yang sudah mulai berkomitmen diri untuk menjadikan menulis sebagai jalan untuk dapat mencerahkan orang lain, selain dibutuhkan keuletan dan kesabaran untuk terus melatih dan mengasah kemampuan itu, dibutuhkan pula kesiapan mental menghadapi pujian dan rasa cepat berpuas diri.
Introspeksi atau muhasabah diri adalah jalan terbaik untuk memiliki kesiapan mental itu. Dengan muhasabah diri, saya dan kamu akan merasa bahwa semua pujian itu hanyalah milik Allah semata. Juga karena mereka yang memberikan pujian itu tidak mengetahui betapa banyak aib yang telah saya dan kamu perbuat selama hidup ini. Jikalau mereka mengetahui tentu mereka tidak akan pernah memuji saya dan kamu.
Akhirnya jikalau muhasabah itu menjadi keseharian saya dan kamu, kreatifitas itu akan senantiasa hidup dalam diri. Karena ide senantiasa ada dan mengalir mengisi pena-pena kita di setiap harinya. Menghitamkan layar putih komputer itu dengan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat yang tersusun lancar dan enak dinikmati. Lalu kita tidak perlu cemas. Dan kita, saya dan kamu, pada akhirnya bisa tidur nyenyak. Insya Allah.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’:
1. A. Ilyas Ismail, Bahaya Pujian, Republika, 18 Juni 2005;
2. Suprianto, Pemusnah Agama, Republika, 09 September 2005.

***
sekadar tips untuk menulis
jelang ramadhan ini sudikan saya untuk memberi salam hormat buat mas danang sh, mas Isa, masker, maswin, ustadz andi harsono, mbak anis, mbak atik, mierza imoet, deedee, mbak listya, eko anakitebet dan atifah, salsabila, jund1, mas ekonov, abu amru, ibnu umar, binanto, budi utomo, mentari pagi, suprayitno, anggun, azzam mas budi, abu dhaby, brazkie, abu salma, abu fauzan, gaza, java, andri tasik makassar, viviet di ciblog, sajadah biru, abu miqdad, joen dan kafanputih, lumpur kering, kuswedi, alkhoir, firdaus, fathur, tri satya hadi, seseorang di bogor, dan lain-lainnya yang saya tak bisa sebut namanya satu persatu. Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. ini cita besar kita semua.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:54 10 September 2007

MENOLAK SI TITIN


MENOLAK SI TITIN
(Sebuah Kiat)

Cerita pendek (cerpen) saya yang berjudul TITIN BARIDIN ditolak oleh Harian Umum Kompas untuk dimuat di kolom sastranya. Suatu hal yang biasa sebenarnya dan sudah dipahami betul bagi saya sebagai penulis pemula. Hal yang paling saya kagumi dari redaktur Kompas adalah profesionalitas mereka. Yaitu pemberitahuan penolakan tersebut kepada si penulis yang tidak memakan waktu lama. Dalam kasus saya cuma dalam waktu dua minggu saya sudah tahu keputusannya.
Pemberitahuan ini jarang sekali dilakukan oleh redaktur harian yang lainnya. Sehingga terkadang penulis harus menunggu berminggu-minggu bahkan sampai tiga bulan untuk mengetahui karyanya dimuat atau tidak. Bahkan sama sekali tidak diberitahu. Walaupun ditolak, sebenarnya pemberitahuan itu penting agar penulis bisa mengirimkannya ke media lainnya dengan cepat tanpa lebih lama menunggu.
Sebagaimana saya mengirimkan cerpen di atas kepada Kompas melalui surat elektronik (email) Kompas memberitahukan penolakan pemuatan itu juga melalui media yang sama. Isinya adalah: “Maaf cerpen Anda tidak sesuai dengan Kompas.”
Sempat terpengaruh juga dengan penolakan tersebut. Tapi saya tepis segera kemasygulan itu dan menghibur diri saya sendiri. Masih banyak media lain yang bisa saya kirimi. Pun, kalaupun tidak bisa tembus juga, karya saya yang sudah dibaca banyak orang di kalangan internal sudah patut untuk disyukuri. Tinggal membuat karya-karya lain yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Tidak berputus asa di sana. Saya mengirimkan cerpen tersebut untuk mengikuti seleksi cerpen yang akan dibahas di diskusi bulanan Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat, Ahad, 26 Agustus 2007. Dari banyak cabang seperti DKI Jakarta, Depok, Ciputat, dan Bekasi mengirimkan masing-masing cerpen unggulannya. Alhamdulillah, cerpen saya yang ditolak Kompas itu masuk nominasi untuk diikutkan di diskusi tersebut. Cerpen saya itu adalah salah satu dari lima cerpen unggulan yang mewakili FLP Depok.
Total cerpen yang dibahas sebanyak dua puluh cerpen. Salah satu judul cerpen menjadi kaver dari kumpulan cerpen yang akan dibahas—biasanya yang dianggap terbaik oleh penyusun kumpulan tersebut. Judulnya adalah Perempuan yang Digoda Malam. Milik salah satu cerpenis dari FLP Depok.
Aturan main dalam pembahasan tersebut adalah pembahas akan mengulas satu persatu cerpen tersebut, mengulas bagus dan jeleknya karya itu. Lalu pada sesi terakhir akan diumumkan cerpen siapa yang dianggap terbaik oleh pembahas mulai nomor urut satu sampai terakhir. Tentu dengan penilaian yang subyektif dan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Kali ini sebagai pembahas adalah Irfan Hidayatullah, Dosen Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, kolumnis majalah Annida, dan mantan Ketua FLP Pusat.
Saat, Kang Irfan—biasa dipanggil demikian—membahas cerpen TITIN BARIDIN, ia memberi judul pembahasannya sebagai berikut: “Lokalitas dan Logika Kalimat”. Tentu banyak kritikan yang saya dapatkan, terutama masalah fokus cerita dan tidak detil dalam penggambaran kemelaratan keluarga Baridin. Kritikan itu saya terima dengan lapang dada.
Singkat cerita, setelah membahas kumpulan cerpen tersebut, Kang Irfan dengan parameter penilaian berupa “keahlian penulis cerita pendek untuk mengubah atau meramu teks menjadi konteks” maka menobatkan cerpen saya TITIN BARIDIN sebagai cerpen terbaik pada diskusi karya hari itu. Mengalahkan cerpen Perempuan yang Digoda Malam dan cerpen berjudul Bukan Dongeng Biasa yang diunggulkan sekali oleh teman-teman di FLP Depok.
“Lokalitasnya kental,” komentar Kang Irfan, “yang benar-benar cerpen,” lanjutnya lagi. Hasil ini, kata Koko Nata, mantan Ketua FLP Depok, menegaskan lagi bahwa daya lokalitas seringkali memberikan penilaian lebih terhadap suatu cerpen. Karena cerpen terbaik di diskusi bulan Juli lalu dengan pembahas Mbak Helvy Tiana Rosa adalah juga cerpen yang mempunyai lokalitas kental, berjudul: Membasuh Megatruh.
Penobatan ini bagi saya adalah sebuah apresiasi yang patut saya syukuri. Tentunya saya tidak bisa untuk cepat berpuas diri. Lalu tenggelam dalam lautan pujian yang seringkali melenakan dan mematikan kreativitas. Masih banyak yang harus saya lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik.
Lalu ada pelajaran yang bisa saya petik dari sebuah kegagalan yang bermula dari Kompas yang menolak si “Titin”, yaitu Sebuah kegagalan akan menjadi kesuksesan ketika kita tidak mudah untuk berputus asa. Ini, bagi saya, adalah sebuah kiat untuk mengatasi keterpurukan mental dari sebuah penolakan. Pula semuanya bermula dari membaca, membaca, membaca, dan berkarya.
Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
setelah dimarahin boss besar
11:09 27 Agustus 2007

YULIA HASANAH


YULIA HASANAH
MENULIS ADALAH HIDUPNYA

Perawakan gadis ini biasa saja. Tingginya pun seukuran tinggi kebanyakan perempuan Indonesia. Kulitnya hitam manis. Dengan wajah dan matanya yang membulat. Menghasilkan sebuah karya yang fenomenal melebihi J.K. Rowling adalah obsesi terpendam gadis berjilbab bernama Yulia Hasanah ini. Oleh karena itu penyuka komik ini berusaha mewujudkannya dengan mengikuti Batre (Basic Writing Training for Beginner) Angkatan V yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Depok.
Tidak berhenti di sana, ia senantiasa berusaha menulis di setiap harinya agar kemampuan menulisnya semakin terasah. Dan terbukti seluruh tugas yang diberikan oleh tutor dalam pelatihan itu selalu dikerjakannya. Misalnya tugas merekonstruksi sebuah dongeng dunia yang bila dibaca ternyata terasa amat memukau.
Bagi anak terakhir dari lima bersaudara ini menulis adalah hobinya, menulis adalah hidupnya. Agar ia dapat hidup maka ia perlu membaca. Maka tak heran tas punggungnya yang selalu ia bawa kemana-mana itu berisi banyak buku untuk menyalurkan hobinya membaca.
Walaupun dirasa pendiam dan pemalu oleh temannya dalam pelatihan itu, juga pemalasnya yang ampun-ampunan dan suka menggampangkan persoalan seperti yang diakuinya sendiri, Yulia punya cita-cita luhur yaitu menjadi orang yang berguna di dunia dan akhirat. Ya, sebuah cita-cita yang amat mulia bagi perempuan yang teramat sangat untuk kuliah ini. Tapi sayang sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi karena alasan klasik yang dialami sebagian besar pelajar Indonesia, yaitu masalah biaya. Jika saja masalah ini teratasi ia berkeinginan untuk masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Namun pada dasarnya inilah bentuk pengorbanannya kepada orang tuanya sebagai sebuah realisasi nyata dari cita-cita luhurnya itu, yaitu menjadi orang berguna. Bukan menjadi orang yang tidak berguna karena memaksakan diri dan orang tuanya untuk menguliahkan dirinya. Sungguh sebuah akhlak terpuji yang perlu ditiru bagi remaja Indonesia lainnya yang saat ini diserbu oleh hedonisme dan konsumerisme.
Semoga tetap istiqomah.

BUKAN TENTANG KUCING GARONG


Salah satu tips agar tulisan yang kita buat dapat menarik pembaca untuk membacanya sampai akhir adalah pemilihan judul yang bagus. Helvy Tiana Rosa, Ahad 15 Juli kemarin, memberikan tips-tipsnya kepada para peserta diskusi cerita pendek (cerpen) Forum Lingkar Pena se-Jabodetabek.
Diskusi dua mingguan yang diselenggarakan FLP Depok ini memang dikhususkan untuk membedah cerpen-cerpen yang layak untuk dibedah. Setelah mengundang Ratno Fadillah pada pertemuan pertama dengan format baru, maka pekan kemarin mengundang Helvy Tiana Rosa untuk membedah tuntas 19 cerpen yang masuk.
Format baru pembedahan cerpen ini adalah dengan membuat kumpulan cerpen itu dalam sebuah buku. Waktu bedah pertama judul yang diambil sebagai judul kaver adalah Bulan Redup (Bojo Loro)—ada gambar ilustrasinya lagi, di bagian belakangnya ada puisi yang berjudul Rajah Cinta (Ananda di Palembang pasti ingat sekali puisi ini ). Untuk kali yang kedua judul yang diambil sebagai kaver adalah judul cerpennya Ratno Fadillah “Menanti Paman Izrail”. Menurut saya ciamik sekali cerpen ini memainkan emosi pembaca.
Pantas kalau Helvy memasukkan cerpen ini sebagai cerpen yang mempunyai judul yang menarik. Lebih menarik daripada judul cerpen yang dinobatkan menjadi jawara pada pekan itu yang berjudul: Terbasuh Megatruh karya dari Indarpati. (Untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya coba search di Paman Google, maaf soalnya saya lupa nama blognya). Tidak hanya itu cerpen Ratno juga termasuk dua cerpen terpilih oleh Helvy yang mempunyai pembukaan menarik selain cerpennya Denni Prabowo yang dimuat di Jawa Pos berjudul: Mayra.
Kembali kepada masalah judul cerpen—ini menurut Helvy, tapi bagi saya tidak hanya untuk cerpen, semua karya tulis pun senantiasa harus memiliki judul yang bagus—maka untuk bisa membuat judul yang menarik ia harus punya kriteria-kriteria seperti di bawah ini. (Kriteria dari Helvy, Penjelasan singkat dari saya).
1. Judul menggambarkan cerita
Terkadang penulis terjebak untuk menggadaikan isi cerita demi judul. Contohnya sebuah tulisan yang berjudul Kucing Garong misalnya. Judulnya memang menarik. Tapi ternyata isi tulisan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kucing Garong baik secara tersurat ataupun tersirat. Ini hanya gara-gara lagu dangdut cerbonan itu lagi ngetrend diputar di sembarang tempat. Di bis AKAP, warung remang-remang sepanjang pantura, televisi, radio, kafe dangdut, pasar malam, dan lain sebagainya. Yeah…!
Menanti Paman Izrail, adalah judul cerpen yang menggambarkan isi cerita. Diinspirasi peristiwa bunuh diri ibu dengan tiga orang anaknya, cerpen ini dimulai dengan bujukan seorang ibu kepada anak-anaknya untuk menanti pamannya yang akan datang esok hari. Dan untuk menemui paman yang baik hati itu tentunya sang Ibu harus membunuh tiga anaknya itu. Karena Paman Izrail itu sebenarnya adalah malaikat maut.

2. Enak diucapkan
Salah satu kritik yang dilontarkan Helvy pada cerpennya Indarpati yaitu pada judulnya, yang walaupun ber-rima karena berakhiran uh di setiap katanya, tapi bagi Helvy judul ini tidak menarik. “Kenapa tidak Megatruh saja?” tanya Helvy. “Apa karena takut meniru judul cerpennya Danarto yang berjudul sama?” cecar Helvy. Boleh-boleh saja kok kita punya cerpen dengan judul sama,“ kata Helvy tegas. Indarpati cuma berkomentar ”Mbak Helvy tidak merasakan ruh Jawa dari cerpen saya ini”. Maklum cerpen Indarpati ini budaya lokalnya kental banget. Njawani, beda dengan kultur dari Mbak Helvy yang orang Medan- Aceh.
Lalu judul yang enak diucapkan itu seperti apa? Ini masalah subyektifitas. Dan setiap orang punya nilai subyektifitas yang berbeda. Enak diucapkan bagi saya yah seperti ini: Kucing Garong, Bojo Loro, Mayra, dan lain-lain. Minimal tidak membuat lidah kepleset karena sulit untuk diucapkan, contohnya Entrepreneur yang Keblinger, Jamahiriah Trap. (Untuk Pak Ekonov, maafkan saya karena telah berani-beraninya mengkritik judul topik Anda di forum diskusi kita)

3. Boleh puitis tapi tak berlebihan
Bulan Redup, Malam Selalu Gelap bisa jadi adalah cerpen-cerpen yang judulnya puitis tapi berlebihan. Sudah tahu malam itu gelap dan bulan itu selalu redup tak seterang mentari di siang bolong, lalu mengapa tetap dipaksakan untuk ditulis? Semua orang tahu kok. Tapi untuk judul sebuah puisi, sah-sah saja. Tapi ini prosa bo…bukan puisi.
Juga yang termasuk berlebihan adalah seperti ini “Meraup Rembulan Menakar Malam Mencumbu Derita”. Terlalu panjang dan seperti nama jurus di cerita silat Kho Ping Hoo. Sekalian saja ditambahkan “Menggedor Bumi, mencengkram Naga.” Persis bukan?
Yang puitis tapi tidak berlebihan seperti apa? Banyak sekali. Contohnya judul tulisan yang dibuat oleh Rifki (Key-key), Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Atau dari Bayu Gawtama, Cinta yang takkan Mampu Terbayar.

4. Pakai Kalimat Negasi
Maksudnya adalah judul hendaknya memakai kata atau kalimat penyangkalan, pembatalan, peniadaan, berlawanan dengan kodrat alam. Misalnya Bukan di Negeri Dongeng, Perempuan yang Membelai Luka, Perempuan yang Mencabik Luka, Menari di atas Luka, Tak Harus Menjadi Miss Universe.
Tapi sayangnya banyak juga penulis terjebak di sini. Alih-alih ingin membuat judul yang bernegasi tapi ia membuat judul yang membuat kontroversi dan melanggar aturan masyarakat atau agama yang suci. Karena bagi yang berkecimpung di dunia kepenulisan, syahwat seperti ini begitu rawan untuk meledak. Seperti judul yang memanusiakan Tuhan, yang menuhankan Rasulullah (saya sampai tak enak untuk menuliskannya, Nau’dzubillah), atau alat kelamin wanita.
Menurut saya alangkah lebih baik saat penulis menggunakan kalimat yang bernegasi ia menghindari segala sesuatu kontroversial atau tabu di masyarakat. Soalnya kita tidak bisa berlindung dibalik kebebasan berkreasi seperti yang didengung-dengungkan penulis barat. Tetap syariat yang menjadi utama agar tulisan itu tidak kehilangan sesuatu yang mencerahkan buat yang lain.
Nah itulah tips-tips membuat judul yang bagus yang diberikan oleh Helvy. Judul yang bagus harus berkaitan erat dengan isi. Isi yang menarik dengan judul yang bagus seperti sayur dengan garam. Tidak bisa terpisahkan. Tapi tips-tips ini mungkin tidak berlaku untuk dan pada semua orang, karena seorang penulis sekaliber Putu Wijaya terbiasa untuk menggunakan judul yang di luar pakem seperti di atas, judul yang aneh, dan tidak menarik sama sekali. Tapi masalahnya apakah kita sekaliber Putu Wijaya?
Itu saja. Semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:48 16 Juli 2007

Menulis Sebagai Terapi


Sampai saat ini tugas yang diberikan kepadaku untuk menulis sebuah cerita pendek belum juga selesai. Entah kenapa, istilah cerpen menjadi momok menakutkan bagi saya. Ketakutan-ketakutan yang tidak pernah saya jumpai saat menulis nonfiksi terasa sekali menghantui. Entah ketidakdalaman cerita, entah ketidakkuatan karakter, entah kesalahan setting, entah takut dianggap jelek, entah dianggap tidak piawai dan entah-entah lainnya yang membuatku tidak bisa menulis cerpen.
Tapi ternyata saya kudu diterapi juga, bahwa saya sudah tidak menulis entah fiksi dan nonfiksi sudah hampir setengah bulan lamanya. Waktu yang membuatku khawatir saya tidak bisa menulis lagi. Benar-benar tidak ada gejolak dari dalam untuk bisa menggerakkan jari saya menuliskan sesuatu. Maka untuk menepis kekhawatiran itu saya menuliskan apa saja di blog ini.
Tentang saya yang penuh dengan kecemasan tidak bisa menulis lagi. Tentang saya yang takut saya kembali mutung di tengah jalan dan berhenti dari belajar menulis di FLP karena banyak tugas-tugas yang belum saya kerjakan. Tentang saya yang lagi sakit. Sakit hati. Maksudnya adalah hati saya yang lagi penuh dengan penyakit hati saat ini. Tentang saya yang lagi merindukan suasana. Tentang saya yang mengenang jalan-jalan kota Bogor yang sempat saya susuri kemarin dari Gadog Puncak. Hingga tentang saya yang mencoba mencari jati diri agar tidak kehilangan orientasi. Hidup ini mau dibawa kemana?
Sabtu dan Minggu kemarin memang benar-benar penuh dengan pertarungan antara kehidupan dunia dan akhirat. Antara orientasi mengejar dunia atau mengejar akhirat. Dan pada akhirnya saya memang kalah. Orientasi dunia begitu mendominasi. Hingga lupa ada kehidupan akhirat. Kelelahan mengatur waktu atau kemalasan yang timbul dari banyaknya waktu luang membuat saya berpikir, “oh enaknya kalau hidup tidak memikirkan umat”.
Enak bisa mancing, bisa jalan-jalan, bisa piknik, bisa santai, bisa main game seharian, bisa tidur siang, bisa berkumpul dengan keluarga, dan bisa menikmati kesenangan duniawi lainnya. Pada akhirnya dari kenikmatan berangan-angan “seandainya aku” itu malah membuatku lupa akan banyak amanah. Walhasil saya benar-benar terlena. Saya banyak melanggar amanah yang saya pegang. So, saya beri nilai sabtu dan ahadku kemarin dengan nilai D, tidak lulus.
Biasanya kesadaran tentang penilaian jelek dari hari-hariku adalah bila pagi telah jelang. Saya merasa ada energi kebaruan yang membuatku bertekad untuk memperbaiki hari ini menjadi lebih baik dari kemarin. Saat shubuh tiba, bergegas ke masjid, sholat berjama’ah, berzikir, dan berdoa, membuat saya merasakan ada semangat baru. Semangat yang menghilangkan keburukan hari-hari kemarin. Semangat agar hari ini lebih baik. Semangat untuk membantu sesama. Semangat untuk menghapus keburukan-keburukan dengan kebaikan-kebaikan. Semangat agar saya tetap hidup. Hidup dengan membawa makna: “bermanfaat buat yang lain”. Walaupun terkadang itu cuma bertahan sampai dhuhur menjelang. Tapi tak mengapa yang penting ada suatu upaya menuju perbaikan tersebut.
Alhamdulillah, sampai saya menulis paragraf ini, saya merasakan sebuah kepuasan tersendiri. ada energi positif mengalir dalam jiwa saya. Ini berarti terapi menulisku lumayan berhasil melawan kehampaan jiwa. Saya berharap energi itu tidak menjadi kecil lalu meredup tapi semakin membesar untuk menjadi bola salju yang membawa manfaat buat orang lain. Saya bisa menjadikan menulis adalah terapi terbaik bagi saya.
Dan saya yakin terapi ini pun baik bagi Anda. Tulislah apa yang Anda ingin tulis. Jangan takut untuk memulai. Walalupun ketakutan saya dalam menulis cerpen belumlah terobati tetapi dengan menulis apa saja bisa mengusir ketakutan-ketakutan yang lain. Jadikan menulis sebagai obat buat diri Anda. ceritakan semuanya. ceritakan semuanya. Jangan malu. Jangan takut. Sekarang juga. Tulis apa adanya. Biarkan jiwamu menilai tulisanmu sendiri. Bukan orang lain. Maka akan kau rasakan terapi menulis ini berguna untuk dirimu.

Petaka Asmara
Jika jiwa tersesat pada labirin kenangan
maka terkadang asmara-asmara masa lalu
timbul tenggelam dengan tangan yang menggapai-gapai
tolong aku tolong aku
jangan biarkan aku terjebak dalam waktu
mengenangmu selalu
bahkan mendengar namaku saja engkau tak sudi
karena itu adalah masa lalumu
tolong aku tolong aku
sampai kapan aku akan berteriak demikian
jika sekadar berita tentang aku
pun membuatmu mual
mual pada segalanya
mabuk pada kerontang jiwa
ah andai waktu tak pernah menemukan diriku
aku tak akan mungkin berteriak:
tolong aku tolong aku
sampai kapan????!!!!

Riza Almanfaluthi
13.00 18 Juni 2007.

KAMAR


KAMAR

Aku masih saja terdiam di sudut. Di atas ranjang memandang sekeliling kamar yang sudah sekian tahun tidak berubah. Aksesorisnya belaka yang berubah seiring dengan mandala waktu.
Kalau engkau bayangkan sebuah kamar yang luas, dengan keharmonisan warna cat menyiratkan sebuah keseimbangan alam, ranjang yang besar, lemari-lemari tinggi, meja rias dengan kekokohan pohon jati, cermin yang bening, keramik Italia kualitas terbaik yang mempercantik lantai, tirai lebar berbordir penghalang sinaran mentari pagi dan hembusan angin yang masuk dari jendela, kamar mandi yang tak kalah indah, dan luasnya setengah darinya, maka bayangan itu cuma ada di sinetron-sinetron Indonesia. Jangan engkau bayangkan itu.
Kamar si pemilik rumah ini hanya cukup untuk memuat dua meja pingpong. Bercat hijau muda. Dengan satu jendela berkaca nako—tanpa tirai—yang mengemis-ngemis cahaya. Maklum saja kamar ini berada di bagian belakang, bersebelahan dengan dapur. Suara berisik pun dominan sekali di setiap pagi.
Karena tiada kecukupan dengan cahaya, maka lampu hemat energi 25 watt menjadi sumber penerangan yang ampuh untuk mengusir kegelapan selamanya, terkecuali kalau ia sudah kehilangan daya. Tapi cukup lama biasanya, berkisar dua warsa.
Lantainya hanya ditutup dengan keramik kelas dua. Hijau muda juga. Baru terlihat mengilat dan harumnya memenuhi ruangan jika dipel dengan cairan khusus pembersih lantai.
Pintu kamarnya cukup kokoh. Terbuat dari kayu yang dipelitur seadanya. Maunya sih nyeni, tapi apa lacur tukang bangunan yang memasangnya bukan tukang kayu ahli, jadinya masih terlihat kasar. Dan pintu ini pun harus didorong dengan kuat agar bisa menutup rapat.
Lemarinya cukup tinggi juga. Nah, ini baru bikinan tukang kayu asli. Kayunya dibuat halus dan dipelitur mengilat sekali. Sayang ada yang merusak keindahannya. Ada selot terpasang di bagian luar. Tentunya untuk menutup pintu lemari yang tidak bisa terkunci dari dalam.
Isinya? Ah, engkau pasti tahu apa yang ada di dalamnya. Sekadar tumpukan penutup aurat sebagai pembeda keberadaban manusia zaman batu dengan masa kini. Dan sekadar lembaran-lembaran kertas penanda keberadaan seseorang di dunia ini.
Ho…ho…ho…ada pula lembaran-lembaran lain yang lebih kecil ukurannya, bergambar, dan bernomor seri tertumpuk rapi. Biasanya setiap pagi si pemilik rumah ini membagi-bagikan itu kepada para penghuni rumah yang lain. Yang biasa kudengar mengiringi pembagian itu adalah celotehan dari si kecil: ”Mi, kok cuma seribu?”
Di sebelah lemari itu ada meja kecil setinggi lutut orang dewasa. Cukup untuk menaruh sebuah tape recorder. Lebih tepatnya lagi meja ini berguna untuk menaruh apa saja. Kaset-kaset yang bertumpuk tidak teratur, kunci sepeda motor, sobekan-sobekan kertas, brosur-brosur penawaran kredit bank, buku diary, majalah, makalah, pulpen, dan banyak lagi lainnya. Sepertinya meja ini tak layak muat untuk menerima segalanya. Yang pasti: berantakan sekali.
Tidak hanya itu. Di sisi lain dari lemari ada juga rak kecil berwarna biru laut terbuat dari plastik. Niatnya mungkin untuk menaruh peralatan sembahyang, tapi itu cuma di bagian atasnya.Lagi-lagi yang tampak adalah tumpukan kertas, buku dan majalah. Namun terlihat pula tiga buah tas kerja di sana.
Di sudut kamar yang lain teronggok meja rias dengan begitu banyak kosmetik di atasnya. Ada cermin besar di sana. Cukup untuk melihat setengah tubuh manusia. Tentu hanya fisik yang terlihat. Tidak ada isi hati yang tampak. Tapi memang jujur sekali sang cermin ini memantulkan bayangan.
Kulit yang menghitam, rambut yang memutih, kulit yang mengeriput, mata yang menyayu tanpa cahaya, tubuh yang membongkok karena tulang yang merapuh, senyum yang enggan bangkit dari sudut bibir, gigi yang tinggal satu dua ditampilkan apa adanya pula. Tidak dilebihkan atau dikurangkan sedikitpun. Jujur, jujur sekali. Terkecuali sumber bayangan itu memakai topeng. Pun saat ia benar-benar memakai topeng pada galibnya itu adalah sebuah bentuk kejujuran pula. Sebuah pantulan, sebuah penegasan: Ia memakai topeng!
Lalu persis di antara rak plastik dan meja rias itu ada sebuah pintu lagi. Pintu kamar mandi. Yup, kamar ini mempunyai kamar mandi di dalamnya. Kecil dan tidak luas. Sekilas aku melihat di sana ada kran, ember, gayung dan tentunya…ah, aku geli menceritakannya kepada engkau. Lain kali aku membisikkan segalanya padamu, tidak saat ini, dan hanya untuk kamu saja, tidak untuk yang lain.
Kini, saatnya membicarakan tempat di mana aku sedang memandang sekeliling kamar ini. Ranjang ini. Aku berdiri di tempat di mana biasanya sepasang pemilik rumah ini membaringkan kepalanya di ranjang ini. Terlihat sekali bayanganku ada di cermin meja rias di seberang sana.
Ranjang ini empuk sekali. Saking empuknya ketika seseorang menggeser tubuhnya terasa sekali goyangannya. Ini berarti, ranjang itu cuma spring bed murahan. Kalau yang benar-benar mewah, asli, dan mahal maka jalinan kawat spiral yang menyusunnya tidak konvensional tetapi dirancang khusus dengan per sejajar yang terpisah, tidak saling terkait, terbungkus kantong kain satu per satu dan tidak dikaitkan dengan kawat helical yang dapat mengurangi gunjangan. Ini jelas akan menambah kenyamanan bertidur. Saat orang bisa nyaman tidur maka sehatlah ia.
Engkau pasti bertanya, kenapa aku bisa tahu sejauh itu? Ah, aku ini bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Aku ini bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Aku ini bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya. Bahkan aku bisa kejam membunuh. Faktanya di setiap lenganku ada bercak-bercak—tidak cukup setetes atau sepercik—darah dari musuh-musuh mereka yang bergerilya di setiap malam.
Ohya, ada selimut di atas ranjang itu. Selimut yang biasa tak terpakai oleh mereka berdua—karena kamar tak berpendingin ini sudah cukup membuat mereka kepanasan– Hanya pada saat-saat tertentu saja selimut itu berfungsi. Tak perlu kuceritakan pula kepada engkau tentang semua yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Karena ini bukan cerita stensilan.
“Brak….!” suara pintu terbuka memecahkan perenunganku pada deskripsi kamar ini. Aku melirik. Sosok perempuan terlihat memasuki kamar. Memandang sebentar ke sekeliling kamar. Melangkah ke ranjang. Membereskan bantal dan selimut. Lalu memungutku.
Aku sadar kini waktunya untuk bertugas. Aku kencangkan otot-ototku. Energi kusalurkan pada setiap lenganku yang panjang, ramping, dan lurus. Persis saat ia menjerembabkan aku di permukaan kasur. Membersihkan segala macam debu dan tungau yang tidak bisa terlihat oleh mata biasa. Berkali-kali aku dipukulkan ke kasur dan menyapu bersih segala macam benda-benda kecil di atasnya. Aku sudah terbiasa. Paling cuma belasan kali.
Tidak berhenti sampai di situ. Ada tugas lain. Kini aku melayang-layang di seantero kamar. Mencari makhluk-makhluk kecil bersayap dan penghisap darah. Kamar yang lembab ini memangnya menjadi habitat terbaik untuk tumbuh kembang mereka. Perempuan itu melihat seekor terbang menghindari terjanganku yang digerakkan oleh tangan perempuan ini. ”Wusss…!” Masih menerpa angin. Dan aku masih waspada dengan tetap menyalurkan tenaga ke sekujur lenganku.
”Tap…” Aku merasakan momentum luar biasa. Saat lenganku menangkap dan menggencetnya. Ada cairan merah keluar dari tubuh nyamuk itu. Mungkin ia sempat menggigit penghuni rumah ini. Tidak lama aku dibiarkan menggeletak di atas meja rias. Kudengar perempuan itu berkata kepada lelaki yang baru saja memasuki kamar, ”Nanti belikan satu lagi sapu lidi untuk di kamar depan. Yang ini biar di sini saja.” Tiba-tiba kamar itu gelap.
Tapi jangan dikira aku ini buta karena aku bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Jangan dikira aku ini tuli karena aku bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Jangan dikira aku ini bisu karena aku bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Jangan dikira pula aku ini tidak perasa karena aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya.
Kegelapan ini tidak akan lama.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:14 05 Juni 2006

KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT MURAHAN]


Tuesday, April 3, 2007 – KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT MURAHAN]

Setelah menimbang-nimbang apa yang terjadi pada diri saya sampai menemukan suatu kebuntuan untuk berpikir dan juga menuangkannya dalam sebuah tulisan adalah karena saya salah pergaulan. Salahnya di mana? Dulu saya sampai sanggup untuk menulis dengan mudahnya apa yang saya rasakan saat ini. Cerita apa saja. Cerita tentang kesedihan dan kegembiraan. Dan cuek bebeknya saya tentang hasil apa yang didapat dari tulisan tersebut. Bagus buruk tidak dipedulikan lagi. Yang penting menulis. Kini ada suatu keengganan kalau saya belum menemukan mood di hati dan tema yang pantas untuk diungkap maka saya berhenti menulis. Maka apa yang terjadi. Saya gagap untuk menulis.
Bahkan untuk menulis inipun hampir-hampir tidak jadi karena saya pikir ini sebuah curhatan murahan yang gak pantas untuk ditaruh di blog saya. Tapi saya tepis semua itu. Saya berusaha mengingat motivasi awal dulu untuk menulis di blog ini. Belajar menulis. Yup, betul. Senantiasa untuk belajar menulis. Dengan itu kepekaan kita akan terasah. Dengan itu akan mudah kembali mencari mood yang sempat hilang. Dengan itu saya akan mudah menyusun paragraf demi paragraf pada kehidupan kita yang paling remeh temeh sekalipun.
Kembali kepada salah pergaulan itu adalah saya sering dan gemar memelototi setiap perdebatan dalam suatu diskusi. Alhasil sebagian waktu digunakan untuk mencari mencari argumen-argumen yang tepat untuk membalas argumen-argumen ayng diajukan oleh lawan diskusi. Otomatis tiada upgrade diri. Sampai-sampai saya merasa kelelahan sendiri. Puncaknya adalah sebuah kesimpulan: Saya salah bergaul.
Dulu sewaktu saya masih memantau dengan teliti tulisan-tulisan Azimah Rahayu, Bayu Gawtama, tulisan-tulisan di Eramuslim, tulisan-tulisan penuh perenungan maka saya bisa merasakan getaran hati yang tidak kasat. Saya mudah menulis sebuah kontemplasi diri. Menulis sebuah cerita sederhana dari seorang kawan, penuh hikmah dan penuh teladan. Menulis sebuah pencerahan. Menulis dengan hati.
Dan saya terkejut, apa yang saya tulis dengan benar-benar dari hati–yah menurut saya sih demikian–adalah JANGAN SEPERTI NIRINA. Di awal Januari 2007 yang lalu. Bahkan yang sebelumnya adalah di tulisan AKU BUKAN JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB sekitar Bulan Mei 2006 lalu. masya Allah sungguh lama sekali. Hampir satu tahun yang lalu.
Cuma satu penyebabnya. Muroqobatullah yang semakin terkikis dari diri saya. Astaghfirullahal’adzim. Ya, bagaimana bisa saya akan bisa memberikan sebuah pencerahan sedangkan diri saya sendiri bukan lagi sebagai sumber dari sebuah cahaya pencerahan. Gelap. Hitam.
Sungguh, betapa banyak saya mengemis pada-Nya agar sudi aku menggigit selandang kebesaran dan rahmat-Nya. Tapi senantiasa itu pula saya tak mampu menahannya lebih lama. Tergelincir lagi ke lubang yang sama. Duh, dosaku…Atau karena rintihan saya yang jarang terdengar di tengah malam. Untuk menghiba-hiba ampunannya. Karena Ia mengerti rintihan saya cuma rintihan palsu, tiada bermakna maka Ia biarkan saya menemukan jalan-Nya. Agar saya tersadar segera. Ah, kini saya berusaha mencari kembali jalan itu.
Maka upaya kecil untuk memulainya adalah dengan tidak salah bergaul mungkin adalah langkah tepat. Tidak mudah terpancing untuk berdebat karena itu akan mengeraskan hati. Tidak mudah mengeluarkan argumentasi-argumentasi yang cuma kesannya saja ilmiah tapi jauh dari sentuhan hati. Karena niat yang sudah salah bukan karena-Nya.
Lagi, kembali saya akan membaca banyak tulisan penuh perenungan diri, tulisan-tulisan yang jauh dari kontroversi dan perdebatan tiada henti. Kemudian sedikit demi sedikit merubah gaya blogku sebagai suatu catatan harian bukan semata tulisan yang ingin dianggap ilmiah atau sebagai cetak biru dari sebuah buku. Karena dua hal inilah yang senantiasa menghalangi saya menulis apa saja di blog ini. Apa saja tentang kehidupan yang saya temui setiap saatnya. Bahkan pada detik ini saat menulis huruf ini.
Ditambah meluangkan waktu untuk memberikan komentar pada postingan blogger di Cicadas ini mungkin bisa merampas waktuku agar tetap punya empati, peduli pada sesama. karena kalau diingat-ingat sebelum saya menemukan kembali DSH saya yang sempat hilang. Produktivitas menulis saya sangat tinggi. Tapi kalau dingat-ingat pula penurunan produktivitas itu dimulai sejak saya menjadi moderator di DSH. Memantau begitu banyak postingan agar sesuai dengan visi dan misi DSH. Ah, bagaimanapun jangan mencari kambing hitam untuk semua kelemahan saya ini.
So, saat ini saya punya komitmen untuk mengupayakan langkah-langkah kecil seperti di atas tadi agar terwujud, agar saya menemukan tulisan saya keluar dari hati, agar saya menemukan kembali jalan-Nya. Insya Allah. Terimakasih ya Allah.

ps: Alhamdulillah, saya bisa menulis ini. Setelah sempat ragu-ragu apakah saya bisa menulis dan berniat menghapusnya saat satu paragraf pertama tertulis.

dedaunan di ranting cemara
Riza Almanfaluthi
11:42 03 April 2007