Antara AGIVA, AGV, dan INK


07.02.2006 – Antara AGIVA, AGV, dan INK

Kemarin sore saya membeli helm bermerek Agiva di sebuah toko kecil di bilangan Lenteng Agung. Toko aksesoris itu memang telah menjadi tempat favorit saya untuk membeli pernak-pernik motor. Selain pelayanannya yang ramah juga harga yang ditawarkan sepertinya bersaing juga.
Sebelum membeli helm itu saya sempat surfing di internet untuk mencari helm apa yang bagus mutunya dan direkomendasikan kepada para pengguna motor. Dan saya menemukannya pada sebuah forum diskusi yang dikelola oleh Honda Tiger Mailing List. Kebanyakan dari mereka setuju bahwa helm bermutu dengan harga yang ekonomis adalah helm bermerek Agiva itu. Harganya pun berkisar 350 ribuan ke atas. Wow…
Nah dari hasil surfing itulah saya berkeinginan untuk membelinya, tapi dalam masalah harga sempat mikir juga sih. Semula saya mau berburu di sepanjang jalan Otista untuk membelinya, karena di sana sudah terkenal dengan harganya yang miring. Tapi berhubung saya tak mempunyai waktu banyak karena pekerjaan yang menumpuk, juga karena saya tak bisa menundanya terlalu lama.
Saya tidak leluasa membonceng Qaulan Sadiidan tanpa ia memakai helm. Maklum helm catoknya yang nonstandar itu ketinggalan. Ia pun tak sempat untuk kembali untuk mengambilnya dan sudah pasti hilang. Jadi ini kesempatan saya untuk dapat membeli helm yang standar untuknya.
Saya bersikeras untuk tidak membeli helm catok yang dihargai cuma dengan dua lembar uang sepuluh ribuan, karena harga kepala kita tidak semurah itu. Nilainya sungguh tiada dapat dibandingkan dengan segala apapun isi bumi dan langit.
Akhirnya dalam perjalanan pulang sore kemarin, saya sempatkan mampir di toko kecil itu. Di sana saya disodori helm bermerek INK dengan harga 350 ribu rupiah. Sedangkan Agiva malah dihargai cuma 165 ribu perak. Loh kok beda banget dengan harga yang saya ketahui di forum diskusi itu. Malah lebih mahal helm bermerek AGV daripada Agiva. Dan kata si penjaga toko itu kualitas AGV jauh di atas Agiva.
Yang jadi pertanyaan adalah helm merek Agiva itu memang bertanda AGIVA di bagian belakang dan atasnya, tapi kenapa plastik pembungkus kaca pelanginya itu bertanda WTC? Apakah Agiva itu memang buatan WTC seperti yang dikatakan sang penjaga atau kaca helmnya saja yang memang buatan WTC? Dan kenapa harganya murah daripada harga yang direkomendasikan di internet?
“Jangan-jangan palsu lagi?” terbersit pertanyaan itu. Tapi berhubung hari sudah menjelang maghrib dan memang saya membutuhkannya segera, ditambah harganya yang tidak mahal-mahal amat, jadi juga saya membelinya.
Saat memakainya saya merasakan suasana yang berbeda dengan waktu memakai helm putih bawaan pabrik motor. Kaca pelanginya lumayan tidak membuat pandangan saya menjadi terhalang. Dan seperti benar-benar tanpa kaca, bening. Cahaya yang masuk pun dapat dikurangi. Juga dengan kerapatannya membuat suara sekeliling yang masuk ke telinga berkurang banyak. Ini memungkinkan saya lebih berkonsentrasi dalam berkendara. (Benar nggak sih, atau ini cuma karena masih baru?)
Untuk membuktikannya tinggal tunggu saja waktunya. Dengan itu saya bisa menilai Agiva yang saya pakai ini bermutu atau tidak. Juga apakah ia asli atau palsu. Dan apakah pameo kuno “ada harga ada rupa” berlaku juga pada merek ini. Atau dari pembaca ada yang lebih tahu tentang Agiva?

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:32 07 Februari 2006

Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams


06.02.2006 – Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams
Dulu seorang kawan berlama-lama berpisah dengan sang bidadari tercinta hingga tak sanggup memendam kerinduan di antara waktu-waktu sepinya, sunyinya, sendirinya. Hingga ia tak sanggup mendengar hujan yang merintih di atas genting, kabut yang menguap di setiap paginya, embun-embun yang mengelopak di setiap tangkai rumput, air sungai yang menggelorakan hasrat, dan pada lagu-lagu yang khusus dibuat untuk para pecinta.
Tak perlu memintanya padaku untuk membuatkan syair, karena aku pun pasti mau membuatkannya dan memberikannya pada sahabat terbaikku ini. Sempat tersentak sudah dua purnama tak mengukir kata, maka kembali kureliefkan ia pada waktu yang terus berjalan. Dan inilah:
JEJAK LALU
siapa yang tak merindu jejak lalu
terpatri pada hamparan pasir
berbuih ombak dan
berselendang angin
hingga terhapus oleh masa
siapa yang tak merindu jejak lalu
tersusun pada bait-bait
cinta terakhir
dan selamat tinggal kekasih
hingga aku bisa terbang
siapa yang tak merindu jejak lalu
terdenting pada dawai-dawai
sang buluh perindu
berseruling malam
hingga degung penuh magis
bahkan aku merintih perih
pada saat yang tak berhenti menghinaku
pada bulan yang tega menyabitku
pada matahari yang tersenyum sinis malu-malu
jika engkau masih tetap bertanya
di mana hatiku bila masih penuh dengan bunga
jika engkau bersikeras bertanya
di mana otakku berada
hanya kerana aku masih saja mengais-ngais
tanah naifmu
hingga aku nanar
dan terkapar
cuma nafas tertahan satu-satu
meraup sedetik
hingga tak sempat bertanya:
siapa yang tak pernah merindu?
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
(Boulevard of Broken Dream)
21:10 05 Pebruari 2006

Potong Saja Jempol Saya Ini


Potong Saja Jempol Saya Ini

Dengan paniknya saya kembali mencari Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) Mega Pro di album dokumen saya. Sudah tiga kali saya obok-obok album itu hasilnya nihil. Kemana gerangan dokumen itu berada? Padahal niatnya, besok saya harus ke kantor samsat untuk membayar pajak yang akan jatuh tempo pada tanggal 07 Pebruari nanti.
Setelah merunut-runut kembali ke satu tahun yang lampau akhirnya saya menyadari bahwa BPKB itu masih ada di dealer. Saya benar-benar lupa untuk mengambilnya. Deg…, wah bisa gawat kalau urusannya begini. Pikiran buruk langsung bekerja, jangan-jangan BPKB itu sudah digadaikan sama dealer.
Soalnya delaer itu—dari berita di Koran—pernah ditipu milyaran rupiah gara-gara banyak subdealernya ngemplang. Jadi pada jaman di mana kejujuran sudah menjadi barang langka, bisa saja dealer menggadaikan BPKB milik konsumennya untuk menambah modal. Tapi saya langsung menepis pikiran itu, “masak dealer sebesar itu, masih mau menipu konsumennya”.
Berangkat dini hari dari rumah sekitar pukul 05.30 pagi, saya langsung menuju ke kantor untuk absen terlebih dahulu dan mengerjakan pekerjaan yang harus selesai hari ini. Setelah secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan itu, saya berenecana untuk menanyakan dan mengambil BPKB di dealer yang berlokasi di Jl. Arief Rachman Hakim Depok.
Berarti saya harus menempuh perjalanan bolak-balik, soalnya kalau berangkat ke kantor saya pasti melewati Depok. Ya bagaimana lagi, soalnya sudah setahun ini absennya sudah memakai finger print. Jadi tak bisa diabsenkan atau diwakilkan kecuali saya meminta kepada teman: “Potong saja jempol kiri saya ini”, lalu dikeringkan pakai formalin, dan menitipkannya kepada teman saya itu. Emang mau?
Sampai di dealer, jam sudah menunjukkan waktu 08.30 pagi. Masih sangat pagi untuk ukuran kantor mereka. Masih banyak pegawai yang belum datang sehingga saya harus menunggu sekitar setengah jam untuk mendapatkan BPKB itu.
Akhirnya orang yang bertanggung jawab masalah BPKB itu datang dan melayani saya. Kekhwatiran saya pada hilangnya BPKB terhapus sudah setelah ia memastikan bahwa semua BPKB milik konsumen yang ada di sini aman-aman saja.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit agar BPKB itu sudah berada di tangan saya. Setelah mengucapkan terimakasih banyak kepada sang petugas, saya segera pergi ke kantor samsat untuk membayar pajak, mumpung masih pagi.
Sampai di sana, puluhan orang sudah berjubel di depan loket. Map yang saya serahkan kepada petugas berpakaian dinas polisi ditolak mentah-mentah. “Pakai map biasa saja, jangan yang seperti ini!” suruh petugas polisi itu sambil menyerahkan map saya yang berwarna hijau telor asin dengan logo program pascasarjana magister manajemen.
Setelah membeli map kuning yang harganya seribu perak, saya kembali ke loket dan menyerahkan berkas-berkas pembayaran pajak dan perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
Biasanya saya membayar pajak pada hari libur kantor yaitu pada hari sabtu. Di mana pada hari itu kantor samsat depok tetap membuka pelayanannya. Pada hari itu orang yang dating ke loket tidak sebanyak pada hari Jumat ini.
Dan saya cuma menunggu satu jam saja di sana. Namun di hari ini saya harus menunggu dua jam lebih sedikit sambil terkantuk-kantuk menunggu panggilan. Sembari pula menyaksikan orang-orang yang datangnya lebih akhir daripada saya bisa langsung dipanggil dan cepat pulang.
Saya tetap bertahan, tapi saya was-was, bisa enggak saya sholat jumat di kantor? Jam setengah dua belas, nama saya dipanggil. Segera setelah itu saya sudah memacu kuda besi susuri jalanan menuju kantor. Dan sepertinya tidak mungkin untuk bisa sholat di sana.
Akhirnya saya putuskan untuk sholat di masjid Rawajati Barat setelah saya mendengar pengumuman-pengumunan dari takmir masjid, padahal jaraknya sudah dekat dengan kantor. Tak mengapalah daripada saya ketinggalan khutbah dan sholatnya.
Setengah jam kemudian, saya sudah dalam perjalanan kembali. Dan sempat terpikir, kalau absennya tidak memakai finger print alangkah nikmatnya saya bisa pulang langsung dari kantor samsat menuju rumah yang jaraknya tak seberapa jauhnya. Daripada bolak-balik ke kantor.
Tapi inilah resiko kerja sebagai pegawai di kantor pajak moderen. Selain masalah potongan tunjangan jika saya tidak absen sore, dan banyaknya pekerjaan yang harus saya lakukan, juga sepertinya saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja.
Karena ini pun menyangkut moral hazard saya sebagai pegawai yang telah menandatangani kode etik. Ini pun menyangkut keinginan saya untuk ikut berperan—entah sebagai batu bata tersembunyi di balik cat dinding yang indah warnanya atau batu pondasi yang tersembunyi di balik tanah—dalam pembentukan kantor pajak yang ideal. Serta dalam mewujudkan peradaban ummat yang kokoh, kuat, dan bersih dari segala bentuk kecurangan.
Jika semua cita dan asa itu sudah mendarah daging dalam diri, maka tak perlulah saya berseru lagi kepada teman: ”Potong saja jempol saya ini”, ketika saya mengeluh harus kembali ngantor.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:32 03 Februari 2006

TALK SHOW MUHARRAM 1427 H


TALK SHOW MUHARAM 1427 H

MUHARAM SEBAGAI TITIK AWAL PERBAIKAN DIRI DAN KEBANGKITAN UMMAT

PEMBICARA: UST. SUBKHI AL-BUGHURI
MODERATOR: AGUS IDWAR

Senin, 13 Februari 2006
14 Muharam 1427

Masjid Shalahuddin Komplek Ditjen Pajak Kalibata

Pemuda Islam Kalibata

KUBURAN BAGI PARA KECOA


01.02.2006 – KUBURAN BAGI PARA KECOA
(Hancurnya Lemari Kami)
Lemari buku yang terbuat dari partikel kayu itu sudah tidak bisa menahan berat isi di dalamnya. Betapa tidak ratusan judul buku kepunyaan saya, Haqi, dan Ayyasy semuanya dimasukkan jadi satu.
Tentu saja lemari yang saya beli sekitar dua tahun lalu itu tidak bisa memuat semuanya. Sedangkan masih banyak lagi buku yang tercecer di sekitar rumah. Di buffet kamar utama, di meja komputer, di ranjang, di atas televisi, dan dimana-mana.
Dan sepertinya saya sudah benar-benar putus asa dalam mengelola perpustakaan pribadi ini. Dulu saya pernah menyusunnya dengan rapih, membuat database , dan membuat penomoran, tapi usaha itu tidak dilanjutkan lagi karena semakin banyaknya jumlah buku yang saya beli.
Di tengah kesibukan saya pun, akhirnya buku-buku perpustakaan yang ada di lemari itu terabaikan begitu saja oleh saya. Jarang dibersihkan dan jarang ditata lagi supaya apik dipandang mata, tidak semrawut seperti sekarang ini.
Ternyata dengan ketidakteraturan dalam penataan perpustakaan ini menyebabkan saya harus berpikir dua kali untuk membeli buku. Nah, padahal banyak sekali buku yang ingin saya beli. Dan saya pun tidak ingin hanya karena itu hobbi berburu dan membaca buku terhalang karena masalah ini belaka.
Jadi sudah saatnya saya harus kembali menata buku-buku itu. Kembali menata dan memperbaiki lemari itu supaya tidak rusak parah. Pintunya yang sudah berteriak kencang kalau dibuka perlu diolesi dengan minyak agar tidak bunyi lagi. Baut penyangga papan pun harus di pasang kembali agar bisa menahan beban buku di atasnya. Papan triplek sebagai penutup bagian belakang lemari pun sudah jebol sehingga perlu dipaku kembali.
Bila tidak diperbaiki segera, saya khawatir rayap-rayap dengan mudahnya merusak harta benda saya itu. Sedangkan di saat sekarang para kecoa sudah beranak pinak di sana, bahkan kadang sampai menjadi bangkai kering dan lemari itu pun menjadi tempat yang cocok untuk kuburan para kecoa.
Dan yang penting saya harus mendisiplinkan diri saya dan seluruh penghuni rumah untuk tidak menaruh benda-benda selain buku di dalam lemari itu. Karena pada kenyataannya banyak sekali barang-barang yang tidak ada kaitannya dengan dunia membaca ada di sana. Seperti mainannya dua prajurit kecil, bahkan palu, gunting asyik saja bertengger.
Juga saya harus menyediakan tempat khusus buat buku-buku milik Haqi dan Ayyasy sehingga tidak tercampur dengan buku saya. Setidaknya dengan ini dapat mengurangi beban yang ada.
Nah, yang jadi masalah selanjutnya adalah bila setelah lemari itu diperbaiki, dan isinya ditata kembali, kemudian ternyata masih banyak buku yang tercecer di luar, apakah saya harus membeli lemari buku satu lagi? Sedangkan rumah saya yang sempit sudah penuh dengan banyak barang.
Belum lagi harga lemari barunya yang sekarang sudah pasti jauh sekali dengan harga dulu sebelum kenaikan bahan bakar minyak sebanyak tiga kali itu. Atau apakah perlu solusi untuk memperluas rumah? Wah, tambah mahal lagi biayanya, tahu sendiri kan harga bahan bangunan sekarang ini melonjak hampir lebih dari 50% dari harga semula. Atau dengan cara lain?
Setelah dipikir-pikir ternyata biaya yang dikeluarkan supaya lemari buku tidak hancur dan tidak dijadikan kuburan bagi para kecoa mahal juga. Tapi kembali pada niat semula menjadikan buku-buku saya sebagai warisan tak ternilai buat para prajurit kecil, maka harga yang dibayar pun sepertinya tidak seberapa. Betul begitu?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:33 01 Februari 2006

10 Negara Terbesar Penduduknya


01.02.2006 – Tanya pada Peta Dunia: 10 Negara Terbesar Penduduknya
Sempat berlangganan majalah National Geographic hanya beberapa edisi, saya mendapatkan banyak sekali manfaatnya, terutama dalam penambahan wawasan tentang kajian-kajian penelitian kepurbakalaan, petualangan, dan masih banyak lagi lainnya. Tapi sayang dengan harga majalah yang cukup tinggi dibandingkan dengan yang lain, membuat saya berpikir dua kali untuk melanjutkan berlangganan lagi.
Namun setidaknya ada hadiah kecil yang diberikan pada edisi perdananya membuat saya mendapatkan banyak sekali manfaat. Yaitu berupa lembaran poster berukuran panjang lebar kurang lebih 100 cm x 80 cm. Masing-masing sisi berupa peta dunia dan citra planet bumi di waktu malam hari dilihat atau dipotret dari angkasa.
Poster itu saya tempel di dinding samping kiri dekat meja komputer rumah dengan peta dunia menghadap ke arah pembaca. Sedangkan citra bumi di malam hari, walaupun gambarnya indah tapi tidak terlalu penting untuk diperhatikan, sehingga saya korbankan untuk menghadap ke arah tembok.
Dalam peta itu terkandung banyak informasi tentang rumpun bahasa utama yang digunakan manusia di muka bumi, kepadatan penduduk dan negara-negara terbesar berdasarkan jumlah penduduk.
Berikut rumpun bahasa utama yang ada di dunia:
– Afro-Asiatik;
– Altaik;
– Austro-Asiatik;
– Austronesia;
– Dravidia;
– Indo-Eropa;
– Jepang/Korea;
– Kam-Tai;
– Nigeria-Kongo;
– Nilo-Sahara;
– Sino-Tibet;
– Uralik;
– Lainnya
Sedangkan di bawah ini adalah negara-negara terbesar berdasarkan jumlah penduduknya (2004):
– Cina : 1.306.314.000
– India : 1.080.264.000
– Amerika Serikat : 295.734.000
– Indonesia : 241.974.000
– Brazil : 186.113.000
– Pakistan : 162.420.000
– Bangladesh : 144.320.000
– Rusia : 143.155.000
– Nigeria : 140.602.000
– Jepang : 127.417.000
Dengan adanya peta dunia ini, saya benar-benar memahami letak geografis suatu negara atau wilayah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Saya jadi tahu negara-negara apa saja yang mendiami bumi Afrika, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika.
Saya juga tahu dengan cepat dan mudahnya kota-kota kecil di sudut-sudut terpencil dari bumi, seperti di ujung Kanada atau di ujung Selandia Baru. Bahkan pada saat acara televisi menayangkan suatu daerah yang tidak saya kenal saya segera mencari tahu di negara mana lokasi itu berada.
Peta dunia itu pun membantu saya untuk mengenal lebih jauh tentang samudera, selat, teluk, danau, laut, kepulauan, tanjung, semenanjung, gunung, pegunungan, punggungan yang ada di planet bumi ini.
Bahkan di saat saya suntuk menghadapi komputer, saya meingistirahatkan mata dengan memandang peta dunia. Dan kadangkala ia menjadi sumber inspirasi dan menjadikannya setting cerita pendek yang pernah saya buat dulu.
Peta dunia ini mengingatkan saya pada saat di kelas dua SMP. Saya begitu menyukai pelajaran geografi. Sang guru selalu mengajukan pertanyaan di tengah-tengah ia mengajar. Dan saya selalu yang pertama kali mengangkat tangan untuk menjawabnya. Kalau Anda mengenal karakter Hermione—sosok cerdas di novel Harry Potter itu yang selalu mengangkat tangan dan tetap diacuhkan oleh Profesor Snape—maka itulah saya. Tidak mirip-mirip amatlah, dia perempuan saya laki-laki, cuma itu bedanya, narsis.
Sang guru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat saya. Beliau pun bertanya apakah ada selain saya yang bisa menjawabnya. Ruangan kelas sunyi tiada menjawab, akhirnya tetap saja beliau menunjuk saya.
Asal tahu saja saya tahu banyak tentang geografi karena di rumah Sang Bapak berjualan majalah bekas yang di dapat dari Pasar Senen Jakarta. Dari sanalah saya banyak membaca dan banyak mendapatkan ilmu yang belum didapat oleh kebanyakan teman-teman seumuran saya.
Dari pengalaman itulah, saya juga mengharapkan bahwa peta dunia ini menjadi wadah pembelajaran geografi sejak dini bagi Haqi dan Ayyasy. Sehingga mereka sudah tahu lebih dahulu daripada kawan-kawannya yang lain. Mereka akan lebih dahulu tahu di mana letak Tolanaro, Tocopilla, Sokhumi, dan Pulau Mafia berada. Bahkan bisa jadi mereka akan tahu dimana letaknya Kepulauan Cayman yang sampai saat ini pun saya masih belum juga dapat menemukannya. Mungkin bukan?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00:14 30 Januari 2006

Tesis Lagi, Tesis Lagi


30.01.2006 – Tesis Lagi, Tesis Lagi (Ada yang mau membantu…?)
Saya terus terang saja selalu trauma kalau sudah memikirkan tugas akhir. Dulu waktu mau menyelesaikan skripsi di strata satu saja sudah pusingnya minta ampun. Sebenarnya bukan masalah pada pembuatannya namun susahnya ada pada saat mau memulainya. Benar-benar malasnya luar biasa. Malah keasyikan main game.
Lalu, baru terasa mood saat melihat kawan-kawan satu angkatan sudah pada lulus kuliah semua. Walaupun demikian tetap saja saya terlambat lulus selama satu semester dan wisudanya baru dilaksanakan satu tahun kemudian. Diklat Penyesuaian Ijazah pun ketinggalan juga. Yang berimbas pada keterlambatan saya untuk bisa naik pangkat secepatnya.
Walaupun demikian, saya masih bisa bersyukur dapat mengikuti ujian penerimaan account representative (ar) gelombang kedua. Yang pada akhirnya saya dapat diterima untuk menjadi salah satu AR di kantor yang lama.
Nah, seharusnya pengalaman itu tidak boleh terulang lagi. Setelah selama setahun penuh saya mengikuti kuliah strata dua, saya harus dihadapkan pada pemenuhan tugas akhir berupa pembuatan tesis. Kalau mau lulus dan diwisuda pada tahun ini, maka tesis itu harus diselesaikan paling lambat bulan September 2006. Karena acara wisudanya akan diselenggarakan pada Oktober 2006, dan hanya sekali dalam setahun.
Nah, kembali lagi hambatan psikologis saya yang terbesar adalah benar-benar belum ada mood. Yang kedua adalah tidak ada yang harus dikejar, karena kenaikan pangkat saya masih dua tahun lagi ke depan. Mungkin pada waktu pembuatan skripsi saya harus mengejar supaya bisa ikut DPI dan bisa naik pangkat serta ikut tes AR. Kali ini coba pikir apa yang harus saya kejar?
Hambatan yang ketiga, mungkin kesibukan sebagai AR. Alasan ini alasan klasik saja. Kalau benar-benar sibuk, kenapa masih sempat lihat-lihat blog, ikut forum di DSHNet atau Fordis Umum/Komputerisasi. Sebenarnya, saya masih bisa menangani seluruh pekerjaan itu. Tapi ya, itu tadi. Terkadang tidak ada pekerjaan yang rumit sama sekali. Namun sekali pekerjaan itu ada, datang dengan tumpukan berkas yang lumayan banyaknya di tambah ada batas waktu untuk menyelesaikannya.
Hambatan keempat adalah, saya benar-benar menemukan dunia di mana saya bisa menyalurkan hasrat yang terpendam dalam jiwa. Yakni menulis, menulis apa saja. Menulis di Ciblog yang baru saya temukan pada 20 Mei 2005. Atau ikut berpartisipasi di DSHNet sejak 06 Desember 2005 lalu. Sehingga banyak waktu saya disalurkan untuk itu.
Padahal kalau dipikir-pikir, saya bisa menyelesaikan minimal satu halaman dalam satu hari untuk menulis. Kenapa tidak untuk menulis tesis saja. Hentikan dulu hasrat yang ada pada hambatan keempat itu, lalu bertekad untuk membuat tesis. Tapi lagi-lagi ini menyangkut pada hambatan yang kelima. Apa coba?
Ya, saya ternyata masih blank dengan tema apa yang harus saya ambil. Dan saya juga masih blank dengan teori-teori kepenulisan tesis, yang sepertinya rada-rada ribet daripada saat membuat skripsi. Sebenarnya semua ada pada buku pedoman, namun lagi-lagi saya malas membacanya. Duh…
So, sekarang saya sudah mempunyai lima hambatan atau permasalahan yang menghalangi saya untuk bisa segera menyelesaikan tesis. Tinggal mencari solusinya. Tapi yang pasti saya harus mempunyai tekad yang amat sangat kuat (maaf, saya pergunakan kaidah bahasa hiperbola ini). Hanya dengan itu saya bisa memulainya. Tentu dibalik semuanya karena Allah menghendakinya.
Dan sampai saat ini solusi itu belum saya pikirkan masak-masak. Pula saya sudah cukup lelah untuk melanjutkan tulisan ini. Jadi pembahasan solusinya lain kali saja, ah…Atau kalau ada teman-teman punya solusi jitu, bisakah membantu saya? Sehingga tidak akan terdengar dari mulut saya keluhan: ”tesis lagi, tesis lagi.”
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:53 29 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Bukan Diariku


27.01.2006 – Mengapa Blogku Bukan Diariku?

Fungsi awal sebuah blog dari apa yang saya baca adalah tempat untuk mengemukakan semua perasaan–entah sedih, gembira, bahagia, duka lara, jatuh cinta, broken heart, bete, marah, kecewa, atau banyak lagi lainnya–yang kita alami dalam sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh dan dibagi kepada yang lain . Sehingga terkadang blog ini disebut juga sebagai diary online.
Nah, dari itu saya kemudian meninjau kembali, sebenarnya blog saya ini telah memenuhi kriteria itu belum yah? Wah, terlihat sekali ternyata saya belum bisa menjadikan blog ini untuk mengungkapkan segala perasaan saya kepada yang lain. Pengungkapan ini adalah pengungkapan yang eksplisit loh bukannya yang tersembunyi dibalik sebuah tulisan yang biasa saya buat.
Sehingga terkdang saya mengagumi juga, kepada teman-teman blogger yang lainnya yang bisa mengungkapkan perasaannya itu kepada yang lain. Dan menunjukkan kepada dunia, nih saya lagi bete, nih saya lagi kecewa, nih saya lagi jatuh cinta, nih saya yang lagi sakit, nih saya yang lagi empet sama tuh orang, etc. Semua curahan hati itu begitu mulusnya teman-teman upload tanpa mengindahkan kaidah-kaidah bahasa yang baku, dan kaidah lainnya, keluar begitu saja. Mengapa bisa, yah?
Setelah saya pikir-pikir, ternyata memang ada hambatan psikologis yang ada pada saya. Bahwasanya saya masih belum bisa terbuka seperti yang lain, mungkin ini dikarenakan identitas saya yang begitu nyata dihadapan teman-teman sekalian. Karena masih satu instansi misalnya. Atau karena tidak seperti di dunia maya yang sebenarnya, sehingga identitas asli seseorang tidak begitu ditutup rapat. Atau bahwa saya harus jaim, Teman-teman pasti tahu bukan makhluk yang satu ini apa?
Dan yang kedua adalah saya mempunyai keinginan bahwa apa yang saya tulis harus mematuhi kaidah bahasa yang baku. Sehingga dengan begitu, saya tidak bisa bebas untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada teman-teman sekalian. Kalaupun saya paksakan, jari saya ini berkali-kali menekan tombol Backspace dan Delete. Tanpa ada hasil apa-apa.
Dua sebab itu mungkin yang menyebabkan saya tidak bisa bebas seperti teman-teman sekalian. Yang menyebabkan blogku tidak menjadi diariku. Yang menjadikan blogku hanya sebagai kumpulan perasaan yang diungkapkan secara implisit, yang menjadikan blogku ini pantasnya adalah kumpulan pemikiranku. *Berat banget sih kaya filsuf saja)
Tapi saya pikir, tak mengapalah, karena memang kita diciptakan berbeda dari sananya. Dengan kemampuan dan keahlian yang berbeda. Dan dengan rasa yang berbeda bukan? Tapi kesamaan kita adalah: kita mempunyai rasa cinta. Cinta yang sederhana betul begitu, Mam? (Kagak nyambung).
Tapi pikir saya, tak mengapalah asal apa yang kita ungkap itu adalah sesuatu yang bernilai bagi teman-teman sekalian. Memberikan sesuatu yang berguna, yang baru, yang membuat gembira, yang membuat airmata ini menetes tanpa terasa karena kerinduan pada-Nya, dan membangkitkan semangat kita semua untuk bersama-sama berada di jalan-Nya sampai akhir nanti.
Jadi, ternyata kita memang berbeda. Jadi, ternyata blogku bukan diariku. Tak mengapa bukan?

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:11 27 Januari 2006

DIGITAX 2006


20.01.2006 – DIGITAX 2006 di Komputerisasi: Mari Berbagi…

Tak dinyana Forum Diskusi di Portal DJP tidak hanya menampilkan postingan tidak bermutu bahkan menjurus ekspolitasi pornografi. Tak disangka, di sana ada tempat untuk berbagi ilmu. Tentu bukan di kategori umum, tapi di komputerisasi.
Itu yang saya rasakan sejak beberapa hari ini mengikuti diskusi yang berkembang di sana. Mulai dari yang sekadar pertanyaan yang diulang-ulang, permintaan bantuan, juga sampai pada berbagi program berguna, tangguh, dan Free lagi. Apalagi dengan kerelaan dari sebagian ahli dalam pembuatan program, semisal DIGITAX.
Dulu saya memang mempunyai software database pajak. Tapi karena virus Brontok yang meng-KO-kan komputer saya sehingga terpaksa harus diintal ulang. Software peraturan pajak itu pun hilang jadinya dan saya tidak punya cd-instalasinya. Jadinya sudah beberapa minggu ini saya kerepotan dalam mencari peraturan-peraturan pajak. Tidak enak juga kalau numpang sama teman untuk melihat itu.
Syukurnya kahadiran DIGITAX ini menghilangkan kegalauan saya. Walaupun belum sempat dicoba seberapa canggihnya ia mampu untuk menampilkan peraturan-peraturan perpajakan yang diinginkan oleh user. Tapi yang pasti kehadirannya bagi saya–walaupun masih dalam versi beta–sudah cukup untuk menjadi solusi di tengah kebutuhan akan software bermutu dan gratis.
Tentunya, para user termasuk saya menginginkan, bahwa software ini harus dikembangkan lagi. Dengan update-update terbaru peraturan perpajakannya misalnya. Juga pengembangan softwarenya yang tidak sekadar berhenti pada versi beta-nya saja.
Kemudian diupayakan pula bagaimana cara instalasi yang gampang atau user friendly. Seperti kalau kita jalankan program-program yang branded itu loh. Tinggal pencet tombol next, next, next, and Finish.
Oh ya, satu lagi adalah perlunya lebih banyak lagi server mirror untuk memudahkan para newbie mengunduhnya.
Kepada programmer DIGITAX maafkan saya yang sudah diberi gratis masih saja menuntut terlalu banyak. Ini semua karena saya peduli dengan Digitax lho. Soalnya kalau sudah canggih kan, bisa saja menjadi pilot project bagi DJP dalam pengembangan software gratis buat Wajib Pajak. Daripada bayar mahal-mahal buat konsultan program, lebih baik honornya buat kesejahteraan pegawai DJP sendiri terutama programmernya. Betul begitu?
By The Way, salut buat Mas Fakhrurrozi karena telah sharing. Tentunya ini adalah ilmu yang bermanfaat. Tahu sendiri kan kalau ilmu bermanfaat itu pahalanya tiada akan putus-putus sampai di sana. Dan sungguh luar biasa besar sekali pahalanya.
Tentunya pula kepada yang lain, jangan lupa untuk selalu berbagi hal-hal yang bermutu dan bermanfaat. Sekali lagi sungguh, tiada ruginya menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Itu saja.
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

BERHENTI MEROKOK ITU GAMPANG


16.01. 2006 – BERHENTI MEROKOK ITU GAMPANG

Ini merupakan pengalaman pribadi tentang kebiasaan merokok yang mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Semoga pengungkapan ini bukanlah pengungkapan aib yang telah ditutupi oleh Allah, tapi sekali lagi hanya sekadar berbagi pengalaman yang pernah saya alami pada zaman dahulu kala (zaman tatkala masih ada T-Rex dan Kingkong. Alah,…ini cuma guyon).

Seingat saya pertama kali merokok adalah pada saat saya duduk di kelas lima SD. Itu pun hanya sekadar ikut-ikutan teman, dan rokoknya pun hanya kertas buku yang digulung menjadi lintingan kemudian diisap. Itu saja.

Lalu tidak lama, gulungan kertas itu berganti menjadi klobot yang diisi dengan tembakau. Ini pun hanya sesekali saja. Menginjak SMP, karena bergaul dengan banyak teman dan karena bisa mencari duit sendiri dengan berjualan asongan rokok di Jalur Kereta Haurgeulis – Cirebon , serta didukung kehidupan kereta yang amat keras, serta pergaulan dengan para pecandu rokok maka kebiasaan merokok semakin menjadi dan merasa telah kecanduan ketika kelas tiga SMP.
Apalagi setelah SMA, di mana saya harus hidup berpisah dengan orang tua dan mulai kost di tempat bibi saya, di barat Cirebon. Merokok pun menjadi kebiasaan yang tak bisa dilepaskan lagi pada setiap harinya. Tiada hari tanpa asap rokok di kamar kost. Habis makan merokok, belajar matematika pun sambil merokok, jalan-jalan sambil merokok. Nonton bioskop tak nyaman kalau tanpa merokok (maklum bioskopnya masih berbangku kayu). Pokoknya hidup rokok.

Yang paling aneh adalah kebiasaan berganti rokok. Karena saya adalah anak kost yang diberi uang setiap minggunya, maka kalau hari senin adalah hari yang paling teristimewa. Sebabnya pada hari itu saya bisa merokok Djisamsoe, rokok paling mahal pada saat itu.

Tapi semakin lama semakin habis uangnya, maka hari sabtu adalah hari yang paling merana, karena pada hari itu saya benar-benar hanya sanggup membeli rokok yang harganya Rp50,- satu batang. Itu pun dihisap berdua dengan adik saya yang sekamar dengan saya dan sudah kecanduan pula.
Biasanya kalau saya tak punya uang, saya utang dulu pada adik saya, namun pas saat itu adik saya pun kehabisan duit, maka terpaksa rokok itu dihisap berdua sehabis makan siang. Merana banget. Pokoknya sampai saat itu masih ada motto: hidup rokok…..!Tiada hari tanpa rokok.

Oh ya, saya akan sedikit menggambarkan lingkungan di tempat kost karena berhubungan erat dengan masalah rokok ini. Tempat bibi saya ini termasuk dalam lingkungan yang dekat dengan pesantren. Di musholla dekat rumah bibi selalu ada pengajaran baca Al-quran setiap hari ba’da sholat maghrib. Ini khusus untuk anak laki-laki dan dikelola oleh anaknya yang sudah hafidz 30 juz. Setelah sholat Isya lalu ada pengajian kitab kuning yang diajar oleh paman saya. Lalu ba’da shubuh pengajaran baca Al-quran khusus untuk anak perempuan.
Dengan sistem pengajian baca Al-Qur’an disana, saya harus mulai menghafal dari al-fatihah sampai benar-benar fasih (inipun hampir memakan satu bulan lamanya) kemudian diteruskan sampai surat AnNaba. Dari surat itu harus balik lagi sampai ke surat Al-Fatihah. Lalu diadakan khataman, yang lulus baru boleh baca kitab Al-Qur’an yang besar itu mulai dari juz pertama.
Saya tak sanggup untuk mengkhatamkan hafalan juz 30 selama tiga tahun itu. Saya hanya bisa sampai ke surat Annaba dan tak bisa balik lagi. Selain saya fokus hanya untuk belajar di sekolah—yang menyebabkan saya selalu disindir oleh paman karena mementingkan belajar dunia saja—saya juga terlena oleh kehidupan remaja yang walaupun amat ketat penjagaan dari bibiku, namun bisa juga dirasakan oleh saya.

Di tahun 1994, di tahun kelulusan itu saya sempat bingung mau melanjutkan kemana? Sedangkan proposal PMDK ke IPB tidak ditandatangani oleh orang tua. Padahal kata kakak kelas yang di IPB, dilihat dari nilainya Insya Alloh saya pasti lulus PMDK. Dengan alasan tak sanggup membiayai kuliah di sana.
Akhirnya kebingungan menyeruak, kemana lagi saya harus belajar. Sampai suatu ketika teman-teman mengajak saya untuk ikut pendaftaran di STAN. Kalau tidak salah bersepuluh kami mendaftar ke Jakarta.
Sampai di sana disodori pilihan spesialisasi apa yang dikehendaki. Teman-teman memilih pajak. Saya pun ikut-ikutan memilih spesialisasi itu. Yang terbersit dari hati yang paling dalam, sebenarnya saya ingin masuk ke spesialisasi Bea Cukai (BC), namun dari syarat yang harus dipenuhi untuk diterima di sana, saya harus mundur, karena tinggi badan yang kurang memenuhi pada saat itu.
Kenapa dulu saya ingin memilih spesialisasi yang cocok untuk laki-laki ini? Karena saya berpikir selain gagah dengan seragamnya juga kalau saya jadi petugas BC maka saya setidaknya dapat satu televisi selundupan untuk saya miliki dari pada dibakar (pada saat itu saya sering melihat di televisi bibi saya, banyak barang selundupan di bakar oleh kepolisian dan petugas BC). Maklum sejak SD hingga SMA saya terobsesi untuk memiliki televisi, orang tua saya tak sanggup membeli kotak ajaib itu (Saat ini kalau terlintas kembali niat dan pilihan itu, saya cuma bisa istighfar).

Setelah mendaftar itu ada sedikit kesadaran timbul, bahwa saya harus berhenti dari merokok atau setidaknya sampai saya benar-benar diterima di STAN. Karena saya takut ditolak pada saat pendaftaran ulang—padahal belum pasti saya itu bisa lulus atau tidak dari ujian STAN, soalnya dalam pendaftaran ulang itu saya harus membawa rekomendasi dari dokter bahwa paru-paru saya sehat. Sehingga saya berusaha mengurangi rokok dan selalu minum soda susu yang katanya bisa menghilangkan flek hitam di paru-paru pada saat di rontgen.

Sampai ujian masuk STAN diselenggarakan di Senayan saya tetap bertahan untuk tidak merokok. Awalnya saya gemetaran dan bibir terasa asam sekali. Saya kelimpungan dan untuk mengatasi kerinduan pada rokok itu saya beli rokok hanya untuk diciumi aromanya saja. Untuk saat itu saya sudah cukup puas.

Lalu pengumuman STAN pun tiba. Dengan doa orang tua yang tak pernah mengenal kata putus akhirnya saya diterima. Dari kesepuluh orang yang ikut mendaftar hanya berdua saja dari sekolah kami diterima di STAN. Saya di terima di spesialisasi pajak sedangkan teman saya di spesialisasi lelang.

Saya bersama bapak saya mencari tempat kost dan akhirnya saya mendapatkannya di tempat Haji Sanian, di samping Mushola al-Barkah. Saya sudah hampir dua bulan lamanya tidak merokok. Ternyata teman-teman kost saya juga tidak ada yang merokok.
Sampai suatu hari, kakak kelas mengajak saya untuk ikut pengajiannya. Di sana saya mendapatkan sesuatu yang berbeda. Mendapatkan pencerahan dalam pemahaman keIslaman. Dan mengetahui mana yang seharusnya ditinggalkan seorang muslim. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayahnya kepada saya. Dan saya berharapa semoga IA selalu menetapkan hidayah itu sampai akhir hayat saya.

Akhirnya dengan pemahaman dan semangat keIslaman yang menggelora di qolbu, serta rasa malu saya kepada teman-teman sepengajian maka akhirnya saya bertekad untuk meninggalkan rokok selama-lamanya. Azzam yang kuat.

Setahun setelah itu, adik saya diterima juga di STAN spesialisasi akuntansi. Adik saya pun diajak untuk ikut pengajian yang saya ikuti. Ia yang semula kecanduan akhirnya bisa meninggalkan rokok untuk selama-lamanya. Saat ini ia bekerja di BPKP Padang dan tetap tidak merokok.

Sekarang tahun 2006, hampir dua belas tahun lamanya saya meninggalkan dunia rokok. Zaman dahulu kala, rokok adalah hidup mati saya. Saya lebih baik kelaparan daripada tidak merokok. Kalaupun saya terdampar di padang pasir luas dan harus memilih antara satu bungkus cigarillos dengan seteguk air, tetap saya memilih yang pertama. Tapi sekarang NO WAY untuk rokok. Slogan dulu: hidup rokok! telah berganti dengan: MATI ROKOK…..!!!! Sekarang mencium baunya saja, sudah menyesakkan dada.

So, meninggalkan kebiasaan dan kecanduan merokok itu mudah. Gampang. Bagaimana caranya? Inilah cara saya:
1. AZZAM (tekad), sekali lagi harus mempunyai AZZAM yang kuat;
2. Lingkungan yang mendukung tanpa rokok artinya jangan mendekati atau berteman dengan para perokok;
3. Harus punya rasa malu. Malu dong masa aktivis (kepada mereka yang mau jadi aktivis) merokok?;
4. Camkan ke dalam hati yang paling dalam bahwa rokok itu adalah awal dari gejala penyalahgunaan psikotropika;
5. Pasti ingat bahwa rokok itu penyebab kanker, penyakit jantung, impoten, keguguran, kerusakan pada janin?;
6. Jangan lupa berdoa.

Kalau saya bisa, mengapa anda tidak?
riza almanfaluthi, saat diajak teman untuk mengenang masa lalu
2003
Diedit 09:15 14 Januari 2006