Potong Saja Jempol Saya Ini


Potong Saja Jempol Saya Ini

Dengan paniknya saya kembali mencari Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) Mega Pro di album dokumen saya. Sudah tiga kali saya obok-obok album itu hasilnya nihil. Kemana gerangan dokumen itu berada? Padahal niatnya, besok saya harus ke kantor samsat untuk membayar pajak yang akan jatuh tempo pada tanggal 07 Pebruari nanti.
Setelah merunut-runut kembali ke satu tahun yang lampau akhirnya saya menyadari bahwa BPKB itu masih ada di dealer. Saya benar-benar lupa untuk mengambilnya. Deg…, wah bisa gawat kalau urusannya begini. Pikiran buruk langsung bekerja, jangan-jangan BPKB itu sudah digadaikan sama dealer.
Soalnya delaer itu—dari berita di Koran—pernah ditipu milyaran rupiah gara-gara banyak subdealernya ngemplang. Jadi pada jaman di mana kejujuran sudah menjadi barang langka, bisa saja dealer menggadaikan BPKB milik konsumennya untuk menambah modal. Tapi saya langsung menepis pikiran itu, “masak dealer sebesar itu, masih mau menipu konsumennya”.
Berangkat dini hari dari rumah sekitar pukul 05.30 pagi, saya langsung menuju ke kantor untuk absen terlebih dahulu dan mengerjakan pekerjaan yang harus selesai hari ini. Setelah secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan itu, saya berenecana untuk menanyakan dan mengambil BPKB di dealer yang berlokasi di Jl. Arief Rachman Hakim Depok.
Berarti saya harus menempuh perjalanan bolak-balik, soalnya kalau berangkat ke kantor saya pasti melewati Depok. Ya bagaimana lagi, soalnya sudah setahun ini absennya sudah memakai finger print. Jadi tak bisa diabsenkan atau diwakilkan kecuali saya meminta kepada teman: “Potong saja jempol kiri saya ini”, lalu dikeringkan pakai formalin, dan menitipkannya kepada teman saya itu. Emang mau?
Sampai di dealer, jam sudah menunjukkan waktu 08.30 pagi. Masih sangat pagi untuk ukuran kantor mereka. Masih banyak pegawai yang belum datang sehingga saya harus menunggu sekitar setengah jam untuk mendapatkan BPKB itu.
Akhirnya orang yang bertanggung jawab masalah BPKB itu datang dan melayani saya. Kekhwatiran saya pada hilangnya BPKB terhapus sudah setelah ia memastikan bahwa semua BPKB milik konsumen yang ada di sini aman-aman saja.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit agar BPKB itu sudah berada di tangan saya. Setelah mengucapkan terimakasih banyak kepada sang petugas, saya segera pergi ke kantor samsat untuk membayar pajak, mumpung masih pagi.
Sampai di sana, puluhan orang sudah berjubel di depan loket. Map yang saya serahkan kepada petugas berpakaian dinas polisi ditolak mentah-mentah. “Pakai map biasa saja, jangan yang seperti ini!” suruh petugas polisi itu sambil menyerahkan map saya yang berwarna hijau telor asin dengan logo program pascasarjana magister manajemen.
Setelah membeli map kuning yang harganya seribu perak, saya kembali ke loket dan menyerahkan berkas-berkas pembayaran pajak dan perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
Biasanya saya membayar pajak pada hari libur kantor yaitu pada hari sabtu. Di mana pada hari itu kantor samsat depok tetap membuka pelayanannya. Pada hari itu orang yang dating ke loket tidak sebanyak pada hari Jumat ini.
Dan saya cuma menunggu satu jam saja di sana. Namun di hari ini saya harus menunggu dua jam lebih sedikit sambil terkantuk-kantuk menunggu panggilan. Sembari pula menyaksikan orang-orang yang datangnya lebih akhir daripada saya bisa langsung dipanggil dan cepat pulang.
Saya tetap bertahan, tapi saya was-was, bisa enggak saya sholat jumat di kantor? Jam setengah dua belas, nama saya dipanggil. Segera setelah itu saya sudah memacu kuda besi susuri jalanan menuju kantor. Dan sepertinya tidak mungkin untuk bisa sholat di sana.
Akhirnya saya putuskan untuk sholat di masjid Rawajati Barat setelah saya mendengar pengumuman-pengumunan dari takmir masjid, padahal jaraknya sudah dekat dengan kantor. Tak mengapalah daripada saya ketinggalan khutbah dan sholatnya.
Setengah jam kemudian, saya sudah dalam perjalanan kembali. Dan sempat terpikir, kalau absennya tidak memakai finger print alangkah nikmatnya saya bisa pulang langsung dari kantor samsat menuju rumah yang jaraknya tak seberapa jauhnya. Daripada bolak-balik ke kantor.
Tapi inilah resiko kerja sebagai pegawai di kantor pajak moderen. Selain masalah potongan tunjangan jika saya tidak absen sore, dan banyaknya pekerjaan yang harus saya lakukan, juga sepertinya saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja.
Karena ini pun menyangkut moral hazard saya sebagai pegawai yang telah menandatangani kode etik. Ini pun menyangkut keinginan saya untuk ikut berperan—entah sebagai batu bata tersembunyi di balik cat dinding yang indah warnanya atau batu pondasi yang tersembunyi di balik tanah—dalam pembentukan kantor pajak yang ideal. Serta dalam mewujudkan peradaban ummat yang kokoh, kuat, dan bersih dari segala bentuk kecurangan.
Jika semua cita dan asa itu sudah mendarah daging dalam diri, maka tak perlulah saya berseru lagi kepada teman: ”Potong saja jempol saya ini”, ketika saya mengeluh harus kembali ngantor.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:32 03 Februari 2006

Advertisements

3 thoughts on “Potong Saja Jempol Saya Ini

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s