Hidup Itu Masalah


keterlenaan diri
melesat ke ujung langit
menghunjam ke dasar bumi
dan melupakan semuanya

setitik masalah datang
mengendap-endap
ke sekelumit kehidupan
sampai ke jantungnya
terasa dahsyatnya beliung
dan terpaan badai itu

tersadar
telah melupakan Sang Pemberi Kehidupan
pulanglah diri dalam kekhusuan
agar hilang penestapa diri

sampai saat itu
akankah tetes-tetes
kesyukuran terucap dan
termaktub dalam kehidupan
jika tidak…
tunggulah yang lebih perih sakitnya
karena
hidup itu penuh masalah
dan hanya Dialah pemilik segala kehidupan
mengapa tak kembali….?
dedaunan di ranting cemara
cuma begini saja
awal 2003

Rinduku Jatuh ke Bulan


rinduku jatuh ke bulan

lembayung senja bergulat
tepikan gulungan hitam
lembaran-lembaran awan
menyurut
memakan dirinya sendiri
hingga jepitan malam
kian menelannya sampai tuntas

bulan jadi hiasan sabit
tak kalah sinarnya dengan purnama
menyentuhku
sampaikan salam kerinduan
utuh tiada terpisah
bahkan tanpa goresan sedikitpun

saatnya kini
jika engkau sudi, bulanku…
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa membiru
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa luka menganga
rinduku biarlah tersungkur
jatuh tanpa akhir masa
rinduku biarkan apa adanya
untukmu, bulanku

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 106
11:26 30 September 2005

Bersegeralah Menikah


Berita ini selayaknya untuk ditanggapi dengan gembira. Betapa tidak seorang Azimah Rahayu—penulis muda alumnus STAN—akan mengakhiri kesendiriannya yang telah lama di usia tiga dasawarsanya itu.
Sebuah surat elektronik pagi ini telah memenuhi bilik surat saya. Ya, surat itu dari Azimah, dengan di awali puisi cantiknya, ia memberitakan kabar baik itu. Inilah puisinya:
Telah jauh kutempuh, jalan panjang membentang
Telah lama kulalui, nyaris semua jalan kehidupan
Telah pernah kujalani, bakti di berbagai lahan
Faidza faraghta fanshab, Sang Pencipta berfirman
Maka tiada lagi rasa enggan,
Ketika masanya telah datang
Maka tak lagi ada keraguan
ketika waktu telah menjelang
Kini kuterima sebuah amanah di hadapan
dengan sebuah niatan sederhana
dan kesiapan sederhana
Untuk penuhi sunnah rasulNya
dengan sebuah upaya bersahaja
Untuk tetapi SabdaNya
Mengambil mitsaqan ghalidza
insya Allah empat desember dua ribu lima
Padamu kupinta doa restu
karena kutahu jalan ini akan berliku
salam
azi (21/11/05, 10.25)

Subhanallah, jelek-jelek begini, saya setidaknya dapat membedakan sebuah puisi yang menyentuh qalb dengan yang tidak. Yang menyentuh sekat-sekat nurani keindahan dengan yang tidak. Maka puisi Azimah ini benar-benar menembus sekat-sekat itu. Benar-benar lolos dari berlikunya labirin kata menuju keindahan itu.
Selamat Azimah, mitsaqan ghalidza itu memang berat, tetapi yakinilah Allah senantiasa menolong hamba-hambanya yang berbuat kebaikan, yang senantiasa ingin memenuhi sunnah-sunnah Rasulullah tercinta, yang ingin menggenapkan setengah din-nya.
Empat Desember dua ribu lima pun tinggal beberapa hari lagi. Saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya ’arsy berguncang karena ada ucapan yang berat itu. Karena ada akad dan janji terucap untuk sepasang manusia. Forever…
Bagi saya saat akad adalah saat paling mengharukan dan mengesankan, apalagi diucapkan oleh sahabat-sahabat terdekat dan saudara-saudara saya. Hingga terkadang mata ini berkaca dan bulir kebahagiaan jatuh tak terasa. Bagi saya, saat itu adalah saat yang tak boleh terlewatkan, tapi sayangnya banyak juga yang melewatkannya begitu saja. Hingga anaknya mengucapkan akad, seorang ibu masih saja di dalam kamar, sibuk berdandan ria untuk acara resepsinya. Ah…
Selamat Azimah, engkau tinggal menghitung hari. Restuku tak selayaknya engkau pinta dariku. Karena restu dari banyak orang yang telah engkau berikan sejuta kebaikan, itu sudah lebih dari cukup menjadi bekal untuk tempuhi jalan yang berliku. Jalan yang engkau tinggal cari setengahnya lagi.
Oh ya satu lagi, engkau punya niatan sederhana, kesiapan sederhana, pun jangan lupa dengan cinta yang sederhana. Ingatkan dengan ayat ini:
”…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (2:216).
Selamat azimah, Barakallahulaka, wabaraka’alaika, wajama’a bainakuma fil khoir.

dedaunan di ranting cemara

”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh sungguh (urusan) yang lain[1586],” (94:7)
13:10 24 November 2005

jig


jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan dekati selimut ilalangku
ia ‘kan terbakar dengan amarahmu

jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan pernah lagi singgah di terminal hatiku
ia ’kan kerontang dengan mulutmu

jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan dekati sajadah maluku
ia’kan kotor hanya dengan sentuhanmu

jig…
ke sana saja kau,
jauhi aku
jangan pernah lagi singgah di gubuk jiwaku
ia ’kan roboh hanya dengan helaan nafasmu

tapi tunggu
ambil ini
jangan pernah kau tinggalkan jejak sayatanmu
pada kepingan cakram benakku
ia cuma sejarah, masa lalu,
yang akan berlalu dan terlupa


kau menjauh
aku…
masih saja dengan daun jatuh satu-satu
masih saja dengan angin menyemilir silir-silir
masih saja membaca koran ini:
seorang pemerkosa nenek-nenek didor petugas
karena melawan saat akan ditangkap

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 101
11:38 24 November 2005

Keranda di Balik Kabut II


25.10.2005 – 100th: Keranda di Balik Kabut II

puncak ini
bergerbang tempat keabadian
yang siangnya sering terlelap
di balik selimut mendung
yang dinginnya adalah bantal
bersulam benang kabut
yang mulai terurai
puncak ini
bermelodikan dengung dzikir
dari ritual sekumpulan raga
di sekeliling gerbang tanah merah
sedangkan di sudut sana
teronggok keranda menyendiri
berbisik dengan gundukan,
kayu-kayu lapuk,
batu marmer berlumut,
yang kesemuanya ber-ID Card
inilah dia
yang telah memuntahkan isinya
dan kini tersia-sia
menunggu
kembali terusung di sebagian pundak
kembali tersapu kabut pekat
di akhirnya ritual
meninggalkan penghuni baru dibelakang
bersiap menerima 2 tamu agung
setelah tujuh langkah tertera
pengusung terakhir
lalu entahlah…
puncak ini
berbalut sepi
usai keranda itu
kembali terusung di sebagian pundak
kembali tersapu kabut pekat

*****
deDAUNan di ranting cemara di shubuhnya Pabuaran, January 31st, 2003

Keranda di Balik Kabut I


14.10.2005 – NEW TEMPLATO EDITION: Keranda di Balik Kabut I

Untaian manusia menggiring pagi,
mentari tertutup awan gelap,
dingin menggeliati waktu,
tapi tetap bergerak deretan itu di pinggir jalan ke puncak,
Dzikir terlafal bibir,
sebagian air membasahi mata,
tak dapat membangkitkan insan berjumpa takdir,
membuahkan keranda terusung disebagian pundak,
tersapu kabut pekat
tapi tetap bergerak deretan itu di pinggir jalan ke puncak,
menuju ke tempat keabadian.
dedaunan di ranting cemara
Pabuaran, Januari 8th, 2003

Dirimu Memang Bermakna?


07.10.2005 – dirimu memang bermakna?

ketika diri kembali punya makna,
betapa miskinnya aku dengan perbendaharaan-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa fananya aku dengan keabadian-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa kotornya aku dengan kesucian-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa lemahnya aku dengan kemaharajaan-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa bodohnya aku dengan kemahapintaran-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa ruginya aku dengan segala waktu-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa riya’nya aku dengan kemahabaikan sifat-Nya;
maka akankah aku tidak mengambil pelajaran?
dedaunan di ranting cemara
orange 2003

Jangan Lagi Kau Genggam Diam Itu


26.10.2005 – jangan lagi kau genggam diam itu

diam
adalah wahana perenungan
adalah sepucuk pistol
adalah segenggam cita
yang siap menyepi, menyalak, dan mengalir
diam
bahkan hanya empat huruf tersembunyi
dari mulut-mulut liar penuh dusta
bahkan takkan bermakna
tatkala keindahan dibiarkan terenggut kegelapan
diam
bahkan tidak lagi menjadi emas
karena sudah menjadi milikku
bukan milikmu lagi
selamanya
maka
agar ia tetap menjadi emas
jangan lagi kau genggam diam itu
dedaunan di ranting cemara
13:32 02 ramadhan 1426 H 6 Oktober 2005
blank…

Rehat Sejenak


16.09.2005 – Rehat Sejenak…

Sudah saatnya saya rehat, setelah hampir enam bulan lamanya tidak cuti. Sudah saatnya saya berhenti sejenak *) untuk melepas lelah, walaupun selama seminggu ini pekerjaan sudah tidak ada lagi di meja saya. Sudah saatnya saya menghirup nafas kelegaan setelah selama berminggu-minggu lamanya dihujani putusan pengadilan pajak yang kesemuanya itu dimenangkan oleh Wajib Pajak.
Maka tiada yang dapat saya ucapkan kepada kawan selain permohonan maaf jika selama ini ada kata dan perbuatan yang sengaja atau tidak sengaja telah menggores hati dengan rasa sakit. Telah membuat hari-hari kawan semakin bertambah ‘manyun’ dan menggelap laksana awan mendung di puncak sana. Dan telah membuat banyak mata tidak segera terpejam saat malam telah larut kerana–sekali lagi–ada hati yang tergores. Itu pun jika…
Maka, sudilah saya untuk menjura seribu kali untuk permintaan maaf tiada terkira. Kiranya saya berharap dengan rehat itu, saya mendapatkan kembali semangat untuk bekerja (beramal), bekerja (beramal), dan bekerja (beramal). Mendapatkan kembali semangat untuk menulis, menulis, dan menulis lagi serta berbagi, berbagi, dan berbagi apa saja kepada kawan. Bukan kesedihan dan lara (karena itu cukup buat saya saja) yang terbagi, tapi kegembiraan, kebahagiaan, dan suka ria.
Seperti apa yang disunnahkah oleh Rasulullah, untuk selalu berwasiat jika seorang muslim melakukan perjalanan, maka saya pun berwasiat untuk diri saya sendiri khususnya dan kepada kawan semua: “Yuk, kita sama-sama melakukan kebaikan, sedikit apa pun kebaikan itu. Karena kebaikan selalu membersihkan, mencerahkan, dan membuat bening di hati.” Terpenting pula, semuanya karena Allah Ta’ala.
Terakhir, izinkan saya berkata-kata:

Jikalau kebahagiaan itu bisa dibeli
maka aku akan membelinya dengan gunungan harta,
tapi banyaknya harta
tak mampu aku membeli kebahagiaan itu,
kerana kebahagiaan bukanlah kebahagiaan jasmani semata
tapi kebahagiaan batin pun menjadi suatu kemestian.
maka keseimbangan arruh, al’aql, aljasad menjadi sebuah kunci
tuk meraih kebahagiaan hakiki.

Wassalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

dedaunan di ranting cemara
untuk rehat sejenak di antara 19 hingga 26 September 2005
15:47 16 September 2005

*) mengutip judul buku terbaru Bayu Gawtama

Semua yang Terindah


14.09.2005 – semua yang terindah

Bu…
Pagi ini masih indah
dengan mentari yang masih tersenyum
dengan dedaunan yang masih menghijau
dengan embun yang masih terang kilaunya
maka, bilakah kami menjadi pagi untuk ibu?
Bu…
Dhuha ini masih indah
dengan rokaat-rokaat yang tersulam doa
dengan munajat sejenak yang menerbangkan jiwa
dengan nikmat-Nya yang masih tiada tertara
maka, bilakah kami menjadi dhuha untuk ibu?
Bu…
Siang ini masih indah
dengan angin yang masih terasa sepoinya
dengan cemara yang masih menari-nari kerananya
dengan rehat lama yang meringankan raga
maka, bilakah kami menjadi siang untuk ibu?
Bu…
senja ini masih indah
dengan kilau jingga yang meronakan cakrawala
dengan ombak yang masih mengejar-ngejar pantai
dengan pasir putihnya yang mengilat berkilau
maka, bilakah kami menjadi senja untuk Ibu?
Bu…
malam ini masih indah
dengan siluet merkuri yang masih tegak di sepanjang jalan
dengan purnama yang membulat di sudut jiwa
dengan bintang gemintang yang semarak di permadani gulita
maka, bilakah kami menjadi malam untuk ibu?

Bu…
saat semuanya berputar
saat warsa itu telah tiba menjadi 49
saat itulah kami berkata:
kami adalah
masa
cita
citra
yang terindah untuk Ibu

dedaunan di ranting cemara
di jelang 49 Ibu Kakanwil
11:11 14 September 2005