Bersegeralah Menikah


Berita ini selayaknya untuk ditanggapi dengan gembira. Betapa tidak seorang Azimah Rahayu—penulis muda alumnus STAN—akan mengakhiri kesendiriannya yang telah lama di usia tiga dasawarsanya itu.
Sebuah surat elektronik pagi ini telah memenuhi bilik surat saya. Ya, surat itu dari Azimah, dengan di awali puisi cantiknya, ia memberitakan kabar baik itu. Inilah puisinya:
Telah jauh kutempuh, jalan panjang membentang
Telah lama kulalui, nyaris semua jalan kehidupan
Telah pernah kujalani, bakti di berbagai lahan
Faidza faraghta fanshab, Sang Pencipta berfirman
Maka tiada lagi rasa enggan,
Ketika masanya telah datang
Maka tak lagi ada keraguan
ketika waktu telah menjelang
Kini kuterima sebuah amanah di hadapan
dengan sebuah niatan sederhana
dan kesiapan sederhana
Untuk penuhi sunnah rasulNya
dengan sebuah upaya bersahaja
Untuk tetapi SabdaNya
Mengambil mitsaqan ghalidza
insya Allah empat desember dua ribu lima
Padamu kupinta doa restu
karena kutahu jalan ini akan berliku
salam
azi (21/11/05, 10.25)

Subhanallah, jelek-jelek begini, saya setidaknya dapat membedakan sebuah puisi yang menyentuh qalb dengan yang tidak. Yang menyentuh sekat-sekat nurani keindahan dengan yang tidak. Maka puisi Azimah ini benar-benar menembus sekat-sekat itu. Benar-benar lolos dari berlikunya labirin kata menuju keindahan itu.
Selamat Azimah, mitsaqan ghalidza itu memang berat, tetapi yakinilah Allah senantiasa menolong hamba-hambanya yang berbuat kebaikan, yang senantiasa ingin memenuhi sunnah-sunnah Rasulullah tercinta, yang ingin menggenapkan setengah din-nya.
Empat Desember dua ribu lima pun tinggal beberapa hari lagi. Saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya ’arsy berguncang karena ada ucapan yang berat itu. Karena ada akad dan janji terucap untuk sepasang manusia. Forever…
Bagi saya saat akad adalah saat paling mengharukan dan mengesankan, apalagi diucapkan oleh sahabat-sahabat terdekat dan saudara-saudara saya. Hingga terkadang mata ini berkaca dan bulir kebahagiaan jatuh tak terasa. Bagi saya, saat itu adalah saat yang tak boleh terlewatkan, tapi sayangnya banyak juga yang melewatkannya begitu saja. Hingga anaknya mengucapkan akad, seorang ibu masih saja di dalam kamar, sibuk berdandan ria untuk acara resepsinya. Ah…
Selamat Azimah, engkau tinggal menghitung hari. Restuku tak selayaknya engkau pinta dariku. Karena restu dari banyak orang yang telah engkau berikan sejuta kebaikan, itu sudah lebih dari cukup menjadi bekal untuk tempuhi jalan yang berliku. Jalan yang engkau tinggal cari setengahnya lagi.
Oh ya satu lagi, engkau punya niatan sederhana, kesiapan sederhana, pun jangan lupa dengan cinta yang sederhana. Ingatkan dengan ayat ini:
”…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (2:216).
Selamat azimah, Barakallahulaka, wabaraka’alaika, wajama’a bainakuma fil khoir.

dedaunan di ranting cemara

”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh sungguh (urusan) yang lain[1586],” (94:7)
13:10 24 November 2005

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s