Ibu dari Segala Kerinduan


Jakarta pagi ini sangatlah muram. Hujan menderasi apa yang menyudut di kota ini. Saya harus berangkat lebih awal untuk menyambut peserta Workshop Kontribusi Konten yang berdatangan dari seluruh penjuru tanah air.

Dari Stasiun Cawang saya jelas tidak akan pergi ke tempat mangkal bus APTB yang jauh itu. Saya tak bawa payung sama sekali. Ojek daring juga bukan pilihan karena ordernya yang lama sekali. Saya tahu dari percakapan yang ada di grup.


Pilihan ideal adalah ojek pangkalan dan saya memilih abang ojek yang jas hujannya paling lebar agar saya bisa berteduh dan tidak kebasahan.

Dan selama perjalanan ke kantor itu, saya tak melihat jalanan, saya hanya melihat punggung abang ojek berjaket merah itu. Tapi tetap saja, walaupun diselubungi jas hujan yang lebar itu sebagian saya basah. Basah?

Sebasah-basahnya tubuh yang dihujani rinainya, tak sebasah jiwa yang dihujani kenangan. Dan tahukah kamu apakah itu kenangan? Aku beritahu kepadamu, sesungguhnya kenangan adalah ibu dari segala kerinduan.

Maka di pagi ini, saya ucapkan kepada Anda sekalian, selamat datang di Jakarta, selamat berhujan-hujan, selamat mengenang-ngenang, selamat merindui, dan dirindui. 🙂

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 3, 27 September 2017

O, Nuh



O, Nuh…
Apakah badai di luar kapal ini sudah berhenti?
Kapan kapal ini akan bersandar ke tepi?
Minta kepada Tuhanmu agar kasihani kami
Agar bah-Nya taklah singgah di hati
kami yang hanya bertaring dan bergigi
hanya sepasang-sepasang hewani
tanpa mimpi, amarah, apalagi kendali.

O, Nuh…
Kami takut api Tuhanmu
dan apa yang bangkit dari masa lalu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
25 September 2017

 

Dua Pungguk


Kita dua pungguk, berteduh di bawah daun, saat penghujan. Mendekatlah ke sini, bahkan ketika barulah gerimis, bahkan saat mengalir di kedua matamu yang belum sempat memejam, bahkan ketika menyentuh jari-jari kakimu,  bahkan ketika ia akan meratap ke tanah, bahkan  ketika semua usai, bahkan ketika penghujan akan cuma sisa, bahkan kalau daun itu mulai mengering, bahkan ketika aku menjelma matamu, bahkan ketika aku menjadi hoo-hoo-hoo-hoo mu, bahkan ketika aku menjadi bulumu, bahkan ketika aku adalah sayapmu, bahkan saat waktu adalah aku yang rindu repetisi. Kita dua pungguk, berteduh di bawah daun, saat penghujan. Mendekatlah ke sini, bahkan…

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 24 September 2017

Seperti Gita yang Kau Sampaikan kepada Janardana



seperti gita
yang kau sampaikan
ada janardana
mendengarnya
di padang kuru,
semua berseteru
seluruh meluruh
o, janaka

seperti cerita
yang tak meledak,
ada gada batu
membuatku bisu
di sabana jiwaku,
semua mengguruh
menjelma lupaku
o, bisma

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 September 2019

Hati Merpati


Lelaki sendiri di senja piazza san marco
berbincang dengan merpati-merpati
matanya menelisik jauh ke balik dada
hati mereka, mana rumahnya untuk pulang

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 September 2017
Gambar dari: wikimedia

Lelaki yang Dimakan Kabut


Jangan menghilang
jangan pergi,
jangan jauh-jauh,
dekat-dekat saja,
cukup di sini,
di inti jantungku.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 22 September 2017

Tidak Hanya Malam yang Dekat Dengan Kejujuran


 

Tidak Hanya Malam yang Dekat Dengan Kejujuran

Oleh: Riza Almanfaluthi

Menghilang Bersama Ribuan Kupu-kupu


Seringkali aku lumpuh dalam kedigdayaan malam. Ia menghanyutkan kesendirian dengan kaki-kaki bulan yang meraba pelupuk jendela kamarmu dan masuk diam-diam tanpa permisi. Datang dan perginya menjejakkan purwaragam warna. Padamu. Padaku. Pada langit. Pada tanah. Pada keharuman. Pada rambutmu. Pada tawamu.

Kenyataan yang kutelan pahitnya adalah di setiap kangkangan malam itu, engkau menghilang pelan-pelan, mulai dari jemarimu yang pernah kusentuh dengan pandangan, membayang ribuan kupu-kupu, menjelma ribuan kupu-kupu. Terbang ke langit. Satu yang terakhir dari kupu-kupu itu menyempatkan diri menengok hitam mataku tanpa dasar.

Yang kubenci dari semua itu, pertanyaan siapa lagi yang akan meneduhi waktu tak bertepi, yang merindangi hari tanpa pori, yang memayungi melata di kemarau hati. Siapa? Maka huruf-huruf yang ingin abadi itu hanya punya satu musuh: tombol Delete yang kausentuh. Huruf itu tak akan bisa menjadi puisi, menjadi tentangmu, karena kau menghilang bersama ribuan kupu-kupu.

Di atas kertas sobekan kecil, dengan pinsil berujung tajam, ada yang tega melukai putihnya untuk sekadar berucap: aku satu kupu-kupu ketinggalan untuk mati.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
25 Agustus 2017
Gambar dari Pinterest.

Matahari Alasan


Engkau, matahari alasan
agar jarak menjelma sehasta
agar demam tak menjadi nestapa
agar sajak tercipta untuk dibaca
agar dekap mewujud di kereta baja
agar peron kerap memiliki cerita

Engkau, selalu menjadi kausa
di koma, jeda, dan titik Yogyakarta.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
10 September 2017

Baca Takdir


di depan pintu-Mu
aku baca takdir kehidupan
di mata jiwamu
aku buka tabir pengharapan

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Stasiun Cawang, 6 September 2017