SA’ATUSH SHADR: BERSYUKUR ATAS MUSIBAH


SA’ATUSH SHADR

Sahabat saya bercerita lagi kali ini. Sekarang ia menceritakan pengalamannya saat naik Kereta Rel Listrik (KRL) Jakarta Bogor. Seperti sudah kita ketahui bersama kalau sore hari KRL jurusan itu tentu penuh sesak. Bahkan lantai duanya—sebutan untuk atap kereta—penuh juga dengan orang walaupun berresiko terkena sengatan listrik tegangan tinggi.

Sahabat saya itu ditegur oleh seorang laki-laki separuh baya, “Pak, handphone-nya hilang ya Pak… ” Langsung dengan reflek sahabat saya merogoh saku celananya. Dan betul, telepon genggamnya sudah tidak ada lagi.

“Sewaktu di stasiun tadi saya melihat ada yang merogoh saku Bapak. Kayaknya gerombolan tuh yang nyopet, soalnya cepat sekali lenyapnya,” imbuh lelaki itu.

“Alhamdulillaah…” sahut teman saya.

“Loh kok malah ngomong begitu?” lelaki itu terheran-heran dengan ucapan teman saya.

“Iya…mungkin handphone itu saya dapatkan dengan cara yang tidak baik. Mungkin saya juga pelit sehingga harus dipaksa infak dengan cara itu.”

Lelaki itu terdiam. Kemudian ia mengambil dompetnya yang ia taruh di suatu tempat yang aman di tubuhnya. Lalu mengambil uang sebesar Rp300.000,00 dan menyerahkannya kepada teman saya.

“Ini tambahan buat beli handphone baru lagi. Terima saja. Soalnya saya baru pertama kali bertemu dengan orang seperti Bapak.”

Tentu teman saya yang sedang tertimpa musibah itu menerimanya dengan senang hati.

***

Saya terus terang saja terperangah dengan cerita teman saya itu. Belum tentu saya bisa melakukan apa yang dilakukannya apabila saya berada dalam posisi yang sama dengan dirinya. Dan inilah tingkatan sabar yang tertinggi.

Ada yang menguraikan tingkat kesabaran dalam beberapa hal. Yang pertama dan paling bawah adalah ketika seseorang diberi ujian musibah ia marah-marah kepada Allah swt. Yang kedua ia dapat menjaga lisannya dari mengeluarkan perkataan yang tidak baik walaupun hatinya masih mengomel. Yang ketiga ia ridha dan menerima dengan lapang dada terhadap ketentuan Allah tersebut. Dan yang tertinggi ia mengucapkan syukur atas musibah yang menimpanya.

Ada perbedaan dari dua tingkatan pertama dengan dua tingkatan terakhir. Yang kedua sudah tentu tidak melakukan kegiatan yang pertama. Namun tingkatan yang keempat sudah pasti ia melakukan tingkatan yang ketiga, yakni berlapang dada.

Rasa syukur adalah tingkatan sabar dan lapang dada yang tertinggi. Karena sejatinya sabar dalam menghadapi salah satu bencana yang mengguncangkan disebut lapang dada (sa’atush shadr).

Allahu’alam saya mampu tidak untuk dapat sa’atush shadr seperti teman saya itu. Sabar saya mungkin cuma berada di level kedua. Tapi saya selalu berharap untuk bisa naik level kesabaran itu. Tentu salah satunya dengan belajar dari pengalaman teman-teman saya. Teman saya dan Anda Pembaca adalah guru kehidupan saya.

Semoga saya bisa menjadi murid yang baik bagi Anda.

***

Maraji’: Tazkiatun Nafs, Said Hawa hal: 372

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.15 29 April 2010

ditulis untuk taujih forum tarbiyah

CARA ALAMIAH DJP LEBIH BERSIH LAGI


CARA ALAMIAH DJP UNTUK BERSIH-BERSIH

Sabtu, pukul 10.34 WIB, saya bersama istri sudah berada di Puskesmas Bojonggede. Niatnya kami ingin meminta surat rujukan Askes untuk periksa di rumah sakit di Jakarta. Ternyata ketika sampai di loket kami ditolak dengan alasan Kartu Askes kami yang baru belum bisa diaplikasikan di sistem administrasi Puskesmas. Jadi kami harus pakai kartu Askes kami yang lama. Padahal kami tidak membawanya.

Terpaksa saya harus pulang kembali ke rumah dalam jangka waktu 20 menit, karena pendaftaran Puskesmas ditutup pada pukul sebelas siang. Istri bersama Kinan saya tinggal di Puskesmas. Saya langsung ngebut. Alhamdulillah, ketika sampai di Puskesmas, masih ada waktu dua menit lagi menurut jam HP saya. Tapi loket pendaftaran sudah ditutup dengan tirai. Petugas langsung mengerti bahwa saya adalah warga yang tadi sudah datang sebelum jam sebelas. Akhirnya kami dapat diterima.

Ketika mulai pemeriksaan, kami di panggil masuk oleh dua orang dokter yang ada di dalam suatu ruangan. Lalu kami ditanyai tentang problem kesehatan kami. Sampai suatu saat, wanita dokter yang memeriksa istri saya bertanya, “Ibu dari instansi mana?”

“Kementrian Keuangan,” jawab istri saya.

“Dari pajak, Bu?”

“Bukan, noh…dia yang dari pajak,” kata istri sambil menunjuk saya.

Dua wanita dokter itu langsung tertawa, sambil menyindir-nyindir saya.

“Bapak dapat berapa milyar dari Bahasyim?” tanya salah satu dari mereka.

“Rumahnya mewah dong Pak.”

Istri saya langsung jawab, “Bu, tergantung orangnya. Kalau benar ada uang milyaran sih, kami enggak mungkin tinggal di CItayam.”

“Kan bisa tinggal disini. Untuk kamuflase gitu…”

“Bu, kalau benar dugaan itu, tentu kami tidak akan datang ke sini untuk meminta surat rujukan Askes. Ngapain kami datang capek-capek kemari,” kata saya menambahkan.

Tapi memang semua itu saya anggap sebagai guyonan belaka. Saya tanggapi dengan senyuman. Karena mau apalagi, sudah jelas-jelas Bahasyim Asyifii itu adalah orang pajak yang punya banyak harta. Walaupun dia tidak bekerja lagi di pajak sejak tahun 2007.

Saya enggak kenal dengan Bahasyim. Saya tidak dapat apa-apa dari Bahasyim. Tapi getahnya kami-kami ini juga yang merasakan. Sabar saja deh saya menanggapinya. Percuma saya tanggapi karena mereka lebih percaya kepada media. Mungkin ini juga pengaruh dari suasana saat itu. Coba kalau tidak dalam suasana dikejar-kejar oleh waktu, saya mungkin akan memberikan penjelasan panjang lebar.

Seperti pada saat hari Ahad pekan yang lalu (4/4), dalam sebuah seminar yang saya ikuti, saya berteriak lantang ketika pembicaranya menyerempet-nyerempet masalah Gayus Tambunan. Katanya Gayus itu ketahuan karena apes, tertangkap cuma satu padahal masih banyak yang lainnya.

Sungguh saya tersinggung kali ini. Saya bilang di hadapan ratusan peserta seminar itu, “Perkataan Anda membuat saya tersinggung. Tidak betul apa yang Anda katakan itu. Berikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya agar tidak terjadi generalisasi yang semena-mena.”

Pada sesi tanya jawab itulah saya menerangkan dengan panjang lebar tentang permasalahan Gayus. Bahkan saya menantang kepada siapapun peserta seminar ini kalau memang ada dari instansi Bea dan Cukai, lebih bersih mana antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) atau Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)? Saya meyakinkan kepada para peserta seminar bahwa DJP setidaknya lebih bersih daripada DJBC pada saat ini. Saya minta maaf kepada teman-teman dari BC, ini fakta loh. Tapi saya juga tidak menggeneralisir semua orang dari Instansi Anda. Saya yakin ini juga oknum.

Ya, saya berani mengungkapkan itu karena saya yakin DJP itu tidak sebejat yang mereka pikirkan. Permainan Gayus bukan permainan sebuah sistem tetapi permainan yang dilakukan oleh orang per orang untuk mengumpulkan harta tidak halal sebanyak-banyaknya.

Tetapi entah kenapa Allah kemudian menunjukkan kepada saya tentang masih banyaknya permainan yang dilakukan oleh oknum pegawai DJP selain Gayus. Oh… memang ternyata masih ada juga pegawai yang seperti itu. Tetapi tetap dengan sebuah keyakinan bahwa itu hanyalah sebagian kecil saja. Bukan kebanyakan dari pegawai pajak. Tetapi tetap saja kelakuan mereka seperti tusukan dari belakang. Sakit sekali. Kita berusaha menciptakan citra DJP yang bersih ternyata saudara-saudara kita yang ada di DJP masih melakukan itu. Sungguh mengecewakan. Tapi itu harus diakui, karena mereka eksis.

Lalu dengan pemikiran itu saya pun bersikap defensif saja. Hujatan dan makian saya terima walaupun dengan hati yang gondok. Manusiawi bukan?

Saya berharap bahwa ini adalah upaya Allah untuk membersihkan DJP dari oknum-oknum seperti itu. Saya terima saja. Ibarat kata ketika seorang pendulang emas ingin menemukan bongkahan emas, maka apa yang ia lakukan coba? Ia mengayak tanah yang mengandung emas itu dengan keras. Lalu menyortir dan menelitinya, lagi dan lagi. Ketika tidak diketemukan, segera ia kemudian mencelupkan tanah itu dengan air dan mengayaknya lagi. Apatah lagi ditambah dengan campuran zat kimia air raksa yang menyakitkan itu. Keras dan keras.

Lalu apa yang ditemukan oleh pendulang emas itu pada akhirnya? Mendapatkan emas yang ia cari lama-lama dengan sekuat tenaga itu, menyisihkannya dari tanah yang tidak punya arti itu. Lalu mengumpulkan emas itu dengan emas-emas yang lainnya. Dan apa yang terjadi dengan sisa tanah yang ada? Dibuang jauh-jauh. Karena ia tidak berguna, tak berarti apa-apa.

Ibarat itulah. Saya selalu berbaik sangka, bahwa semua hujatan, kecaman, dan kritikan yang masyarakat berikan kepada kami adalah dalam rangka memilih emas yang berharga dan mengubur dalam-dalam tanah yang tak bernilai itu. Mengumpulkan yang bersih-bersih agar yang kotor-kotor itu tidak ikut dalam sistem lagi. Sekali lagi walaupun pahit untuk dirasa oleh kita. Selama kita sendiri yakin kalau kita idealis, silahkan diobok-obok.

Biarlah yang kotor itu tersingkir dengan proses yang alamiah. Mungkin beginilah seleksi alam yang harus dialami oleh DJP, cara halus tidak bisa sehingga harus diobok-obok dulu agar senantiasa bersih sebagaimana harapan masyarakat.

Ya, saya senantiasa berharap bahwa prahara yang dialami oleh DJP ini segera cepat berakhir. DJP lebih bisa berbenah lagi. Mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi. Lalu saya pun tak perlu disindir-sindir lagi oleh yang lain.

Saya berdoa pada Allah semoga dijauhkan dari segala fitnah. Allahumma inni a’udzubika minal fitani. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.15 11 April 2010

Kepada semua kawan di DJP,

tunjukkan kepada masyarakat

bahwa kita masih punya

integritas yang tinggi.


PEJABAT SOK KUASA


PEJABAT SOK KUASA

Seperti biasa, saat menunggu kereta rel listrik (KRL) tiba adalah waktu yang asyik untuk mengobrol apa saja. Nah kali ini teman seperjalanan pulang kantor saya ini bercerita tentang pertemuannya dengan seorang mantan pejabat. Mulanya karena sama-sama menunggu antrian di sebuah rumah sakit. Lalu kemudian saling menegur dan berlanjut kepada perkenalan.

“Kerja di mana Mas?” tanya mantan pejabat yang sudah terlihat banyak rambut putih di kepalanya itu.

“Di kantor pajak Pak,” jawab teman saya itu.

“Loh saya juga dulu kerja di kantor pajak,” sahut orang tua itu. Ternyata ia mantan kepala kantor. Obrolan pun tambah seru dengan pernak-pernik pengalaman kerja dan ingatan dengan teman-teman yang mungkin dikenal.

Sampai suatu ketika orang tua itu berpesan pada teman saya itu, “kalau sudah jadi pejabat jangan sering-sering marah, ojo dumeh, jangan sok kuasa, jangan mentang-mentang. ”

“Emang kenapa Pak?”

“Yang sering seperti itu baru akan merasakan akibatnya setelah pensiun nanti. Saya yang tidak seperti itu saja merasa diasingkan apalagi yang sering sewenang-wenang di kantor. Coba Mas rasakan sendiri saja nanti saat pensiun. Enggak ada lagi yang akan berkunjung ke rumah. Enggak ada lagi yang akan menjenguk kita saat sakit. Sekadar menelepon pun tidak akan ada lagi,” tutur bapak itu panjang. Teman saya terdiam dengan seksama, mendengarkan penuh perhatian.

“Bahkan ternyata yang menengok saya di rumah sakit dan memberikan perhatian lebih kepada saya adalah tetangga-tetangga satu RT saya. Bukan orang-orang pajak itu. Makanya baik-baiklah dengan tetangga kita di rumah . Artinya begini Mas bukannya saya menyalahkan teman-teman satu korps kita itu, tetapi selayaknya memang persaudaraan itu janganlah persaudaraan semu yang hanya dibatasi dengan strata atasan dan bawahan.”

“Jadilah juga atasan yang baik dan ramah kepada bawahan kalau di kantor. Ada yang bilang, kelakuan kita di kantor juga berbanding lurus dengan pergaulan kita di masyarakat. Khawatirnya adalah kalau di kantor saja sudah sewenang-wenang dan kemudian diasingkan oleh teman sejawat saat pensiun bagaimana pula dengan pergaulannya di tengah masyarakat. Jangan-jangan tetangga pun akan mengasingkan kita. Maka jangan jadi atasan yang dibenci sama bawahan, yang kehadirannya hanya ada untuk ditakuti bukan disegani. Yang kabar kematiannya hanya layak untuk disyukuri dan tidak untuk dilayat.”

***

Kata orang saya adalah tipe pendengar yang baik. Mendengar teman saya bercerita itu saya meresapinya dalam-dalam sampai kepala mengangguk-angguk dan mulut saya mengeluarkan bunyi, “iya…iya…iya”. Sambil merenung. Sambil memikirkan bagaimana nanti keadaan saya pada saat pensiun?

Kalau menyandarkan sesuatu pada jabatan dan kekuasaan hingga menyebabkannya menjadi sok kuasa, sewenang-wenang, bertindak tidak adil, sering marah-marah, maka ketika jabatan dan kekuasaan itu hilang kepada siapa lagi ia akan menyandarkan dirinya itu. Yang ada adalah ia akan menuai hasil dari benih yang ia tanam.

Kalau menyandarkannya hanya pada Sang Pemilik Sejati Kekuasaan di Muka Bumi dan Langit, ia tak takut untuk kehilangan apapun. Ia akan menyadari hakikat dirinya untuk menjadi manusia yang baik di mata manusia dan mata-Nya. Tidak berada pada kutub ekstrim di antara itu. Menjadi manusia paling baik di mata manusia hingga menomorduakan penghambaan dirinya pada Sang Kuasa. Atau menjadi pribadi sholih yang teramat luar biasa tetapi minus tak terhingga pada kesholihan sosialnya.

Betul, Pak Ustadz di masjid saya sering bilang kalau kita kudu betul-betul menghormati tetangga kita. Saudara dekat itu sebenarnya tetangga kita itu. Yang sering direpotkan dengan bisingnya suara dari rumah kita. Yang sering dibuat repot saat mobilnya dipinjam tengah-tengah malam untuk mengantarkan anak kita yang sedang sakit. Yang sering diutangin.

Yang halamannya sering dibuat kotor karena ayam yang tak tahu adat itu buang kotoran sembarangan tanpa minta izin terlebih dahulu boleh enggak eek di sana. Yang rumahnya jadi dapur umum saat rumah kita hajatan. Bahkan yang garasinya
jadi tempat
buat mandiin jenazah kerabat kita karena rumah kita sempit tak memungkinkan untuk itu.

Saya jadi bertanya-tanya tentang penilaian tetangga terhadap saya. Saya sudah memberikan rasa hormat buat mereka tidak yah? Memberi rasa aman dari lidah dan tangan saya tidak yah? Banyak lagi pertanyaan lainnya.

Tapi saya sekarang cuma berpikir, ingin jadi tetangga yang baik buat tetangga saya. Dan baik pada semuanya kalaulah ada kekuasaan di genggaman. Supaya enggak kualat saat pensiun. Itu saja.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:10 18 Maret 2010

 

 

TENGGELAM ATAU MENYELAM


TENGGELAM ATAU MENYELAM

Ada lagi nasehat dari ustadz lain.

“Apa nasehatnya, Dek Riza?”

“Nih ceritanya Pak…”

Apa yang harus dipersiapkan oleh Anda untuk bisa tenggelam? Tidak perlu persiapan adalah jawabannya. Bisa jadi karena kecelakaan atau karena Anda menyengaja dengan menceburkan diri ke dalam kolam berkedalaman lebih dari tiga meter misalnya kemudian tinggal menunggu sentuhan dari malaikat maut. Itu pun jika tidak ada orang lain yang menolong Anda.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dipersiapkan oleh Anda untuk bisa menyelam? Banyak tentunya. Misalnya adalah mencari tempat untuk menyelam, teknik menyelam yang harus Anda kuasai, memakai peralatan khusus menyelam seperti tabung oksigen, regulator, sarung tangan, pakaian selam, masker, snorkel, fin (sepatu katak), speargun jika Anda ingin berburu, dan lain-lainnya. Setelah itu Anda akan bisa menikmati keindahan alam bawah laut dengan segala sensasinya.

Tenggelam dan menyelam. Dua-duanya berada dalam media yang sama yaitu air. Tapi yang pertama tak perlu persiapan dan yang kedua sebaliknya butuh persiapan yang matang betul. Begitu pula dengan keberadaan kita di dunia ini untuk bisa eksis di kehidupan selanjutnya yaitu akhirat.

Bagi yang menginginkan sebuah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan yaitu surga dan bertemu dengan Allah, maka perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Bagi yang tidak mau—maunya cuma tenggelam—ya sudah nikmati kehidupan dunia ini tanpa ada batas tentang halal dan haram. Resikonya adalah bagaimana mau menikmati keindahan alam sedangkan memikirkan bagaimana ia agar tetap selamat saja susah. Hanya itu saja.

Saya mengangguk-angguk lagi.

Terimakasih atas nasehatnya, Tadz. Semoga terkantuk-kantuknya saya dan ngilernya saya mendengar nasehat ustadz di majelis ‘ilmu menjadi bekal kebaikan saya di sana. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

banyak nasehat yang saya dapatkan ketika bergaul dengan orang-orang masjid

dedaunan di ranting cemara

17:40 10 Januari 2010

PENJARA BUAT TIGA MENTERI


PENJARA BUAT TIGA MENTERI

Seorang ustadz pernah bercerita. Begini ceritanya:

Ada seorang raja memerintahkan kepada tiga menteri utamanya untuk mencari buah-buahan. Dengan syarat mereka harus mencari sendiri tanpa menyuruh lagi bawahan mereka. Maka mendengar titah raja, tiga menteri utama itu segera pergi mencari buah-buahan tersebut.

Menteri pertama dengan senang dan gembira mencari buah-buahan yang terbaik, segar-segar, merah-merah, dan manis-manis untuk dipersembahkan kepada rajanya yang ia cintai betul. Sedangkan menteri kedua dengan setengah bersungut mencari buah-buahan itu. Ia pikir tugas mencari buah itu bukanlah tugas buat dirinya yang memiliki jabatan terhormat di seantero negeri itu. Maka menteri itu mendapatkan buah dengan asal-asalan. Yang kuning ataupun merah, yang segar ataupun sudah setengah busuk, yang matang ataupun belum, yang manis ataupun asam bahkan pahit ia kumpulkan jadi satu.

Sedangkan menteri ketiga sebelum mencari saja sudah marah-marah. Ia pikir pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang masuk akal. Bukan level dirinya. Seorang menteri harus berjalan panas-panas dan keluar masuk pasar sendiri hanya untuk mencari buah-buahan. Mengganggu kenikmatannya saja yang selama ini ia dapatkan dari jabatannya itu. Maka dengan penuh kejengkelan bukannya buah-buahan yang akan ia serahkan kepada rajanya itu tapi rumput-rumputan yang ia masukkan ke dalam keranjang.

Singkat cerita ketiganya menghadap raja. Sang raja memperhatikan persembahan ketiga menteri utamanya itu. Tanpa basa-basi sang raja memerintahkan kepada pengawalnya untuk memenjarakan ketiga menteri utama itu dalam penjara yang terpisah selama satu bulan tanpa diberi makanan kecuali dengan apa yang ada dalam keranjang mereka masing-masing.

Walhasil, selama satu bulan menteri pertama itu makan dengan menikmati buah-buahan manis dan matang yang ia peroleh. Sedangkan menteri kedua setengah sengsara memakan buah-buahan yang terkadang manis dan terkadang pahit. Lebih sengsara lagi menteri ketiga selama satu bulan makannya rumput doang. Mbeeekk….

Cerita ini mengajarkan kepada kita untuk menaati perintah—yang enak ataupun buruk—dari Allah sebagai Raja Alam Semesta dengan mencari bekal yang sebaik-baiknya sebagai persiapan untuk akhirat kita. Amal kebaikan yang kita lakukan dan kumpulkan di dunia adalah ibarat buah-buahan yang akan kita nikmati di akhirat. Tentu kita tidak ingin mencontoh perbuatan menteri kedua yang setengah-setengah dalam beramal atau seperti menteri ketiga itu yang telah banyak diberikan kenikmatan di dunia namun menjadi kufur nikmat.

Saya mengangguk-angguk.

Jazaakallah atas nasehat besarnya, Tadz…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17:45 10 Januari 2010

SEBELUM PERTEMPURAN SELESAI


SEBELUM PERTEMPURAN SELESAI

Ahad pagi yang lalu teman saya yang sedang mencalonkan diri jadi Ketua RW di komplek kami menelepon saya untuk menyiapkan dokumen yang hendak disampaikan dalam pidato kekalahannya. Padahal penghitungan suaranya saja belum dilakukan. Rencananya jam sepuluh siang nanti akan dibuka kartu suara yang terkumpul.

Saya mencoba memaklumi suasana kebatinan yang ada pada dirinya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menjadi Ketua RW. Karena saya dorong untuk maju membawa misi menyelamatkan kepentingan masjid,  barulah ia mau.  Formulir pendaftarannya itu pun baru ia serahkan beberapa jam sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Dia hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan diri melawan satu calon lain yang sudah dikenal oleh warga.

Yang menjadi beban berat baginya adalah fitnah ataupun kampanye hitam yang bersileweran tentang dirinya.   Seperti isu tentang dirinya yang menjadi anggota ataupun pengurus sebuah partai politik. Padahal ia adalah seorang Pegawai Negeri Sipil Departemen Keuangan yang dalam kode etiknya disebutkan tentang pelarangan untuk menjadi anggota ataupun simpatisan aktif partai politik.

Kemudian saya mencoba mengirim pesan singkat untuknya. “Sebelum pertempuran benar-benar selesai pantang untuk berbicara kekalahan. Insya Allah Anda yang menang.”

Jam setengah dua belas siang sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak surat telepon genggam saya. “Alhamdulillah, dengan kekuasaan Allah ikhwan kita terpilih menjadi ketua RW. Wassalamu’alaikum.” Selisih suaranya  lima puluh suara. Cukup signifikan  dan cukup untuk sebuah legitimasi kepemimpinan selama tiga tahun ke depan.

Saya mengirim nasihat untuk teman saya itu. “Pak Haji Sholeh, amanah berat sudah menghadang Anda. Saya berpesan kepada Anda jadilah pemimpin yang adil dan amanah. Pemimpin yang menjauhi forum ghibah dan fitnah. Senantiasa menyayangi rakyat,  mustadh’afin, dan anak yatim. Selalu memudahkan urusan orang lain hingga Allah pun akan memudahkan urusan Anda. Ketika pemimpinnya bertaqwa maka RW.17 pun akan diberikan keberkahan Allah. Semoga anda masuk surga. Amin. Wassalam. Riza.”

**

Ya, saya ulang. Sebelum pertempuran benar-benar selesai pantang bicara tentang kekalahan. Karena ketika kita berbicara kekalahan maka pikiran akan mengondisikan seluruh tubuh untuk menerima aura kekalahan, kekalahan, dan kekalahan. Maka kita pun akan kalah. Dan Allah pun hanya berdasarkan prasangka hamba-Nya.

Apa yang saya dapatkan dari komik  Naruto mulai Chapter 1 hingga 477 hanya sebuah pesan besar tentang SEMANGAT PANTANG MENYERAH. Semangat untuk tidak berputus asa ketika nyawa masih ada di badan. Semangat untuk tidak menyerah pada keadaan, semangat untuk senantiasa berbuat baik, semangat untuk merubah keadaan, semangat untuk senantiasa menjadi pemenang.

Yaa Ayyuhal ikhwah, semangat itulah yang seharusnya menjadi milik kita! Bukan mereka! Karena kita punya Allah. Dan tidaklah sebuah kemenangan melainkan di sisi Allah. Pun janji-janji-Nya tak pernah diingkari: sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

Kepada Anda yang hari ini sedang berputus asa. Kepada Anda yang hari ini menyerah pada suatu kondisi. Kepada Anda yang hari ini cuma menjadi pecundang saya berkata:

“Karena Anda masih punya nyawa pada saat ini, karena Anda bukanlah bangkai, karena pertempuran belum selesai! maka BANGKITLAH! HIDUPLAH! SEMANGATLAH! Raih harapan Anda. Allah menyertai kita semua. Yakinilah.”

***

Allahua’lam bishshowab

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:24 08 Januari 2010

HITAM DAN SERIBU PERAK


HITAM DAN SERIBU PERAK

Kalau kita sudah terlena oleh kenikmatan dunia maka nasehat bisa menjadi obat untuk menyadarkan kita kembali tentang kesejatian hidup di dunia. Nah, nasehat itu bisa datangnya dari siapa saja. Bisa manis ataupun pahit nasihat itu dirasa. Saya akan menceritakannya sedikit.

Di suatu siang yang amat terik, habis sholat dzuhur saya menyalami tetangga saya. Profesinya adalah tukang bangunan. Saat itu dia sedang mengerjakan pemlesteran dinding pagar masjid.

“Kang Asep, kerja siang hari begini kulitnya jadi hitam banget yah,” kata saya sambil melihat tangannya yang terbakar matahari tidak seperti biasanya

“Ia Pak, tapi enggak apa-apa sih. Lebih baik hitam di dunia
daripada hitam di akhirat.”

“Wah bagus…bagus,” puji saya tulus. Singkat tapi mantap. Benar loh, ini pernyataan yang luar biasa bagi saya di siang itu. Membuat saya berpikir tentang bekal apa yang harus saya persiapkan buat di sana. Memikirkan banyaknya dosa dan aib yang menumpuk dan menggelapkan hati saya. Pada akhirnya pernyataan Kang Asep membuat saya bisa introspeksi diri.

Itu indahnya sebuah nasihat.

Nah, selesai sudah cerita tentang nasihat ini. Tapi ada yang berkesan lagi di hari itu, di hari yang sama pada saat nasihat itu diberikan.

Baru saja tiba dari menjemput istri, saya tidak bersegera memasukkan motor ke dalam rumah. Tapi saya berteduh di bawah pohon rindang di seberang rumah. Kemudian saya melihat seorang pengamen muda dengan sebuah gitar yang talinya diselempangkan di bahunya sedang mengamen di rumah tetangga saya. Sebentar lagi giliran rumah saya didatanginya. Suaranya biasa saja. Lagu dan nada gitarnya tak selaras membentuk sebuah harmoni.

Tapi apapun yang terjadi saya memang sudah berniat untuk infak. Cuma seribu rupiah saja. Kata seorang ustadz dalam sebuah pengajian, “jangan membiarkan pengamen atau pengemis lewat dari rumah kita dengan tangan kosong, karena bisa jadi itu menjadi ladang amal dan awal dari banyaknya kebaikan yang akan datang kepada kita di hari itu.” Saya ingat betul nasihatnya.

Nah, pada saat ia menyumbangkan sebuah lagunya di depan rumah saya. Saya langsung memanggilnya dari seberang.

“A, di sini A!”

Ia kaget dari mana suara yang memanggilnya itu berasal. Tapi setelah ia tahu ia langsung menghampiri saya. Kemudian saya menyerahkan uang seribu rupiah itu.

“Terima kasih Pak Haji,” kata pengamen itu sambil tersenyum dan berlalu.

Saya surprise, ia memanggil saya dengan sebutan Pak Haji, mungkin karena saat itu saya sedang memakai kopiah, walaupun bukan warna putih. Bagi saya sebutan itu adalah sebuah do’a. Dan dalam hati, saya mengaminkan do’anya. Saya memang belum pergi ke Makkah, tapi saya senantiasa merindukan untuk datang tempat itu. Bisa jadi dari do’anya itu saya mampu untuk pergi ke sana. Allah yang berkehendak, seribu rupiah jadi wasilah untuk pergi naik haji. Amin. Siapa tahu bukan?

***

Siang Terik di Tengah Desember

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:11 19 Desember 2009

 

 

DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH


DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH, ALHAMDULILLAH…

Ahad itu, saya sedang membersihkan mobil untuk persiapan berangkat ke acara Silaturahim Du’at se- Kabupaten Bogor yang diselenggarakan oleh IKADI (Ikatan Da’I Indonesia). Tiba-tiba datang sepasang suami istri—tetangga saya namun beda RT—meminta bertamu dan berbincang-bincang sejenak karena ada suatu keperluan.

Saya mempersilakan mereka berdua untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang cuma dialasi dengan karpet plastik itu. Sang suami itu mulai bicara pada saya, “Pak saya mau menyerahkan uang INI sebagai nadzar kami atas kesembuhan anak kami.” Ia menyodorkan bungkusan plastik putih. Tebal.

“Memang Bapak bernadzar apa?” tanya saya lebih lanjut.

“Anak kami sakit ginjal. Di dalam ginjalnya itu terdapat cairan. Menurut medis anak kami ini harus dioperasi. Kami tidak mau. Lalu kami mencari pengaobatan alternatif yang Insya Allah sesuai syar’I dan Alhamdulillah sembuh. Kami sudah cek kembali ke dokter. Alhamdulillah, kata dokter sudah tidak ada cairannya dan tak perlu dioperasi lagi,” kata sang suami.

Istrinya menyela, “sebelumnya kami bernadzar, kalau anak kami sembuh kami akan berinfak.”

“Nah ini sebagai pemenuhan kewajiban kami. Uang ini untuk masjid Pak. Dua puluh tiga juta,” kata sang suami lagi.

Subhanallah walhamdulillah, mata saya langsung berkaca-kaca. Saya tahan saja airmata yang sepertinya ingin berlarian keluar dari pelupuk mata. Allah telah mengabulkan do’a para jama’ah masjid Al-Ikhwan.

Ya, jama’ah Masjid Al-Ikhwan berencana ingin membuat tangga ke bawah agar tempat wudhu yang berada di lantai atas (ruang utama masjid) bisa dipindahkan ke bawah dekat ruang TPA. Awalnya kami cuma punya uang kurang lebih enam juta rupiah saja. Sedangkan biaya pembangunan yang disodorkan oleh pemborong berkisar 38 juta rupiah, naik dari proposal awalnya yang hanya sebesar 27 juta rupiah.

Dengan berkah bulan ramadhan akhirnya kami bisa mengumpulkan infak sebesar 20 juta rupiah. Dengan modal awal itu kami bisa memulai pembangunan tangga. Pemborongnya yang merupakan langganan kami itu termasuk orang baik.

Ia rela memberikan nafas dan kesempatan kepada jama’ah Masjid Al-Ikhwan untuk mencicil sisanya sebesar dua juta rupiah per bulan selama sembilan bulan. Ia pun tahu kami tidak menunda-nunda dalam pembayarannya. Karena dari pengalaman lalu ketika kami menerapkan metode cicilan ini, kami selalu membayar cicilan lebih dari yang seharusnya kami setor. Dengan hal ini kami bisa lebih cepat dalam melunasi hutang masjid. Prinsip kami kalau ada uang segera bayar hutangnya.

Dan selama bulan ramadhan yang merupakan bulan penuh keberkahan, rahmat, dan terkabulnya banyak doa itu kami senantiasa memanjatkan do’a agar Allah memberikan kepada kami kepercayaan, kekuatan, dan kemampuan untuk membangun tangga tersebut. Karena selama ini kami hanya mengandalkan pada donator bulanan untuk membiayai operasional masjid. Tidak ada proposal yang dikirim kepada para warga. Kami hanya mengandalkan proposal yang dikirim ke Departemen Agama yang sampai dibuatnya tulisan ini sumbangannya belum juga didapat.

Kami yakin Allah mahakaya. Allah pemilik sejatinya masjid Al-Ikhwan itu. Allah yang akan membangun dan menjaga masjid kami itu. Dan Allah maha mendengar. Maka kami perbanyak do’a di bulan ramadhan apatah lagi di sepuluh hari terakhirnya agar Allah memenuhi segala kebutuhan Masjid Al-Ikhwan itu.

Sungguh Allah mendengar do’a kami. Belum habis bulan syawal 1430 H ini Allah memenuhi kebutuhan kami dengan jumlah yang pas dan mencukupi sehingga kami tidak perlu berhutang. Kami akan membayar dengan kontan. Allah mahabesar.

Dan dengan kedatangan suami istri itu, saya dipertontonkan sebuah bentuk keikhlasan. Sebuah bentuk proteksi dari terciderainya amal kebajikan. Mereka tidak mau dibuatkan kuitansi penerimaan uang, tidak mau ditulis namanya di laporan bulanan, dan tidak mau nama mereka disebut-sebut di pengumuman hari jum’at.

“Cukup hamba Allah saja,” kata mereka.

Untuk semua yang Allah pertunjukkan kepada saya, saya hanya berdoa semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada mereka dari apa yang mereka berikan kepada kami. Infak mereka adalah penjauh malapetaka dan penyembuh segala luka. Dan semoga Allah menyehatkan anak-anak mereka dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang sholih.

Dan menjadikan kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan. Terima kasih ya Allah.

Riza Almanfaluthi

Episode Ahad

dedaunan di ranting cemara

09.22 WIB 12 Oktober 2009.

THAGHUT ITU KECIL!!!


THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…” (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…” Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” *)

***

Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.

Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”

Sungguh inilah natijah (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap thoghut yang ingin menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. Na’udzubillah.

Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma’rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.

Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.

Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal Abdul–Nasser, Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.

Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.

Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!

***

*) Kutipan kisah diambil dari sebuah situs internet.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:47 30 Juli 2009

setelah sekian lama tidak menulis

JADILAH IKAN SEGAR!!!


JADILAH IKAN SEGAR!!!

Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.

Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.

Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.

Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.

Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)

Nah, Ki Dalang mau berada di tengah-tengah dari mereka berdua. Mampu untuk melahirkan karya dan laki-laki. Dan pada hari ini adalah hari di mana Ki Dalang menjadi sosok produktif ulama hadits tersebut. Dengan demikian beberapa paragraf di atas adalah baru pengantar, bukan isi dari lakon yang Ki Dalang mau mainkan. Sekarang dengarkanlah, atau bacalah, terserah Anda, cerita dari lakon ini.

Lagi, Ki dalang mendapatkan cerita hebat ini dari teman Ki Dalang yang mengirimkan surat elektroniknya kemarin. Cerita ini sebenarnya sudah banyak tersebar di dunia maya. Tetapi Ki Dalang mau membaginya kepada Anda yang sudah mengetahui ataupun yang belum mengetahuinya sama sekali. Oh ya, cerita yang dikirimkan oleh teman Ki Dalang itu cuma mengaitkannya dengan motivasi kita untuk mendahsyatkan potensi diri. Tapi Ki Dalang ingin semuanya dikatikan dengan nilai-nilai dakwah yang menjadi senyawa apik dari kehidupan kita di setiap hari dan malamnya.

Begini ceritanya…

KISAH NELAYAN JEPANG 2)

Ada sebuah cerita tentang nelayan Jepang yang insaya Allah bisa kita ambil hikmahnya. Orang Jepang sejak lama menyukai Ikan yang segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan sekitar Jepan dalam beberapa dekade ini.

Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh nelayan pergi, maka waktu yang dibutuhkan pun semakin lama untuk membawa hasil tangkapannya ke daratan. Jadi, ikan yang dibawanya tersebut sudah tidak lagi segar. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi permasalahan ini, perusahaan memasang freezerdalam kapal mereka.

Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi senakin jauh dan lama, namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan beku dan ikan segar, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Kemudian sebuah gagasan baru kembali dipakai oleh perusahaan penangkap ikan, yaitu dengan cara memasang tangki-tangki penyimpan ikan dalam kapal mereka. Setelah menangkap ikan para nelayan langsung memasukkan ikan tersebut ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan.

Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas kendatipun tetap hidup. Namun orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa segar ikannya. Orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Selanjutnya cara apa lagi yang dilakukan oleh para nelayan untuk menjaga agar ikannya tetap segar, sehingga diminati oleh masyarakat Jepang? Solusi terbaiknya ternyata sederhana, sangat sederhana!

Perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan tersebut di dalam tangki, tetapi kini mereka memasukkan ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi hidup dan sangat segar. Ikan-ikan tersebut ternyata tertantang untuk bertahan hidup dari ancaman.

***

Ya Ayyuhal Ikhwah, dari cerita ini Ki Dalang tidak membahas pada kreatifitas nelayan-nelayan Jepang tapi menitikberatkan pada kalimat ini: orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Artinya apa wahai saudara-saudaraku? Orang segar membutuhkan ikan yang segar, ikan yang masih aktif bergerak. Sehingga ketika tiba waktunya untuk disayat dengan pisau masih terasa kesegarannya, masih terasa kaya nutrisinya, dan sudah barang tentu rendah kalorinya.

Orang segar tidak butuh dengan ikan yang tidak segar, lemas, atau mati bahkan busuk.

Begitupula dengan masyarakat kita. Masyarakat yang segar butuh kader-kader dakwah yang segar. Bukan untuk disembelih ataupun disayat dengan pisau. Tapi untuk memberikan tambahan kesegaran yang lebih kepada mereka. Mereka butuh kader-kader dakwah yang senantiasa enerjik, yang tetap semangat dalam kondisi apapun, dan tentunya mampu memberikan kesegaran kepada mereka di tengah himpitan hidup yang membelenggu. Kesegaran yang bagaimana?

Kesegaran yang berupa semangat membina yang tak pernah padam, keluasan ilmu, tawadhu’, jujur, dermawan, bersih, peduli, itqon (profesional), dan terus menerus beramal nyata yang benar-benar dirasakan oleh mereka. Kedatangan kita ditunggu sampai-sampai mereka bernyanyi seperti lirik lagu ini: datanglah, kedatanganmu kutunggu, telah lama, telah lama ‘ku menunggu…3)

Setiap pekannya kesegaran kita ditunggu oleh mereka. Koreksi kita pada tilawah mereka, ilmu tajwid yang menuntun mereka, hadits-hadits Arba’in yang kita bacakan kepada mereka, taujih yang kita sampaikan kepada mereka, bahkan telinga tebal dan kesediaan kita untuk mendengarkan keluhan mereka.

Ayyuhal ikhwah, itu semua butuh kreatifitas kita sebagai refleksi kesegaran itu. Jangan sampai kreatifitas itu baru muncul pada saat kita memang terdesak atau ketika malaikat maut sudah muncul di depan hidung kita. Selagi masih ada suasana kondusif di negeri kita tercinta ini yang memungkinkan kita dengan nyaman dan aman untuk melakukan syiar-syiar kebaikan maka manfaatkanlah itu. Mumpung kesempatan itu masih ada. Suasana aman kiranya lebih baik daripada suasana chaos.

Dus, ketika suasana politik sudah akan menurun desibel hiruk pikuknya, maka sudah saatnya Anda semua sebagai kader dakwah mengasah kembali pedangnya yang tumpul, tapal kudanya yang sudah aus, rentangan busur panahnya yang sudah kendor untuk kembali dibina dan membina, untuk kembali memikirkan sejatinya asholah dakwah itu. “Kembali ke barak!!!”, kata teman Ki Dalang.

Teruslah bergerak, teruslah beramal, karena itu membuat Anda semua para kader dakwah senantiasa segar.

Bergeraklah, sungguh air yang diam itu akan menjadi bibit penyakit. Jadilah air yang mengalir yang senantiasa memberikan manfaat pada jalan yang dilewatinya.

Bergeraklah, karena diam berarti kematian. 4)

Bergeraklah, karena diam itu adalah busuk.

Bergeraklah, maka Allah akan menggerakkan hati manusia. Taharaku wallahu sayuhariku qulubannas.

Bergeraklah engkau.

Jadilah ikan segar!

Wallahua’lam bishshowab.

Catatan Kaki:

  1. Email motivator Febriya Fajri
  2. Ridho Rhoma feat Sonet 2 Band

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9:12 03 Mei 2009