Keranda di Balik Kabut I


14.10.2005 – NEW TEMPLATO EDITION: Keranda di Balik Kabut I

Untaian manusia menggiring pagi,
mentari tertutup awan gelap,
dingin menggeliati waktu,
tapi tetap bergerak deretan itu di pinggir jalan ke puncak,
Dzikir terlafal bibir,
sebagian air membasahi mata,
tak dapat membangkitkan insan berjumpa takdir,
membuahkan keranda terusung disebagian pundak,
tersapu kabut pekat
tapi tetap bergerak deretan itu di pinggir jalan ke puncak,
menuju ke tempat keabadian.
dedaunan di ranting cemara
Pabuaran, Januari 8th, 2003

Ramadhankan Hatiku…


Alangkah sayangnya Ramadhan tersia-sia. Alangkah sayangnya Ramadhan merana ditinggalkan. Bila dunia masih saja memecut punggung engkau untuk segera meraih kenikmatannya. Hingga malamnya masih saja tak terisi dengan berdiri tarawih. Masih saja tak terisi dengan ayat-ayatnya barang satu atau dua juz. Masih saja syahwat merajalela di hati. Masih saja mulut menyemprotkan bisanya kemana-mana. Buruk sangka, hasad, dengki, riya’ dan segala macam penggelap hati masih saja dijadikan penghias diri. Duhai diri insyaflah…
Satu hiasan indah di malam-malam Ramadhan adalah tarawih. Berusahalah untuk tak ditinggalkan. Jikalau tak sempat pergi berbondong-bondong ke masjid terdekat karena sibuk di kantor, macet dalam perjalanan pulang, atau urusan lainnya, tetaplah jangan engkau tinggalkan ia karena waktu masih lapang hingga imsak.
Jikalau engkau mampu menegakkannya bersama-sama di masjid penuh barakah, maka bersiaplah engkau akan menerima banyak nilai kebaikan. Setiap langkah yang kau gerakkan menuju masjid itu akan dihitung dengan berlipat ganjaran. Setiap senyum yang engkau sunggingkan kepada saudaramu adalah sedekah yang berlipat ganjarannya. Setiap satu jabat tangan kepada saudaramu akan merontokkan dosa-dosa engkau dan saudara-saudaramu sampai engkau lepaskan kembali jabat tanganmu.
Setiap rakaat penghormatan kepada masjidmu dengan tahiyatul masjid akan dihitung dengan berlipat ganjaran. Setiap rakaat rawatibmu—yang seringnya engkau tinggalkan, akan dihitung dengan berlipat ganjaran. Setiap rakaat shalat wajibmu dengan berjama’ah akan dihitung berlipat ganda ganjarannya.Bahkan setiap rakaat tarawih dan witirmu akan dihitung berlipat ganjarannya. Pula engkau akan dapatkan siraman yang menyegarkan qolbu dari para ustadz. Hingga seperak dua perak yang engkau masukkan ke kotak amal akan dihitung berlipat ganjarannya. Bahkan bila bertekad kuat maka engkau akan dapatkan malam dinanti, malam seribu bulan. Subhanallah…
Maka kebaikan mana lagi yang akan dapat menandinginya sebagai hiasan indahmu duhai diri, duhai kawan? Itu baru satu penghias saja yakni tarawih. Masih banyak yang dapat kau jadikan penghias indahmu di sepanjang ramadhan kali ini.
Wahai diri, wahai kawan, jangan engkau sia-siakan malam-malam ramadhanmu sampai engkau merasa hatimu, dirimu telah diramadhankan oleh-Nya.

dedaunan di ranting cemara
putih
08:47 12 Oktober 2005

Dirimu Memang Bermakna?


07.10.2005 – dirimu memang bermakna?

ketika diri kembali punya makna,
betapa miskinnya aku dengan perbendaharaan-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa fananya aku dengan keabadian-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa kotornya aku dengan kesucian-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa lemahnya aku dengan kemaharajaan-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa bodohnya aku dengan kemahapintaran-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa ruginya aku dengan segala waktu-Nya;
ketika diri kembali punya makna,
betapa riya’nya aku dengan kemahabaikan sifat-Nya;
maka akankah aku tidak mengambil pelajaran?
dedaunan di ranting cemara
orange 2003

Ramadhanku Adalah…


Ramadhanku adalah saat di mana aku kembali mengenang masa-masa indahku di ramadhan-ramadhan yang lalu.

Saat aku kecil, di sebuah kota kecamatan di Indramayu, ramadhanku adalah saat di mana aku bisa makan sepuasnya kue yang diperebutkan bersama teman-temanku setelah sholat tarawih yang dibagikan oleh pengurus musholla. Setelah itu Ramadhanku adalah saat aku asyik menikmati “krupuk sambel” atau bakso yang sengaja dibeli oleh ibuku. Makan rajungan, nasi jamblang dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ramadhanku di saat pagi adalah saat aku jalan-jalan setelah sholat dan kuliah shubuhnya yang aku lalui dengan enak tertidur di masjid. Jalan-jalan bersama sambil bermain detektif-detektifan layaknya lima sekawan yang sedang terkenal di masa itu. Dan sambil hiking, susuri pinggiran sungai cimanuk sampai menyeberangi “jembatan abang” bekas peninggalan belanda yang rusak parah dengan ketinggian kurang lebih 25 meter di atas permukaan kali Cimanuk. Hampir saja terjatuh tapi Alhamdulillah selamat juga.

Ramadhanku di saat siang adalah saat aku banyak membaca komik di tempat persewaan. Dan sore hari menjelang maghrib adalah saat yang paling mendebarkan hati sambil memutar “tuning” gelombang radio mencari stasiun mana yang lebih cepat mengumandangkan adzan.

Ramadhanku di saat SMP adalah ramadhan yang hampir penuh dengan aktivitas mendengarkan radio di saat siang hari sambil menunggu kalau-kalau ada dari teman-temanku menitipkan salam buatku dari kartupos yang dibaca oleh penyiar Radio Cinderella, dan diselingi dengan banyak lagu yang dilantunkan oleh penyanyi-penyanyi negeri jiran yang saat itu dipastikan menguasai blantika musik pop Indonesia, mulai dari Ami Search, Swing, dan lain sebagainya (ingat suci dalam debu? tayamum dong).

Ramadhanku di saat aku SMA, di sudut desa di barat Cirebon, adalah ramadhanku yang agak berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Karena sekolahku terletak jauh dari rumahku—kurang lebih tiga puluh kilometer—aku tinggal bersama pamanku yang keras dalam menjagaku. Aku diharuskan ikut tahsin dan tahfidz setiap harinya dengan berguru pada anaknya yang hafal Alqur’an 30 juz. Jadi ramadhanku saat itu adalah ramadhanku yang sorenya aku harus mengikuti tasmi’ satu juz oleh saudara sepupuku itu sampai menjelang buka.

Dan malamnya adalah saatnya tarawih di musholla yang hanya diterangi lampu bohlam 10 watt saja, lagi dengan Imam yang membaca satu juz selesai dengan terburu-buru. Sesekali aku bercanda di tengah sholat sambil injak-injakan kaki dan dorong-dorongan dengan teman-temanku, Masya Alloh. Ohya, saat itu Merry Andani dan Jeffry Bule amat terkenal. Ada Dinding Pemisah, Amayadori, Mas Joko dan lain-lain.

Ramadhanku di Jurangmangu, Tangerang, adalah ramadhan di kampus yang amat dan sangat berbeza (dengan huruf z: bahasa malaysia). Kutemukan sesuatu yang lain. Saat ramadhan dengan paradigma tentang Islam yang sangat baru bagiku. Saat itulah aku sangat menikmati ayat-ayat yang dibacakan oleh sang imam. Saat itulah aku tahu tentang ukhuwah, Qiyamullail bermakna, banyaknya hafalan, godhul bashor, Jihad Palestina, ifthor dengan nasi kotakan gratis dari masjid kampus, Al-Matrud, Nada Murni, The Zikr, Najmuddin, zuhud, itsar, ikhlas, dan yang tak tersentuh, tak terlihat, tak terbayangkan: The Akhwat.

Ramadhanku di Jurangmangu adalah saat aku pertama melihat sosok lekat dan erat di hati:
– Ustadz Musyaffa Lc: tilawah dalam kesendirian di sebuah musholla;
– Ustadz Sudarman, Lc: sosok pendekar: pendek tapi kekar, saat itu rumahnya masih rumah petak kontrakan;
– Ustadz Imam Agus Lc: Almarhum, sakit dan meninggal dalam sebuah bus malam dalam perjalanan pulang kampung;
– Ustadz Jazuli Zuwaini, Lc: yang pernah sakit typhus karena terlalu sering naik vespa tanpa pelindung dada;
– Ustadz Ainur Rafiq, Lc: Almarhum, semoga Alloh meridhoinya, sosok tinggi dengan wajah teduh, ahli tifan;
– Ustadz Daud Rosyid: jenggotnya yang lebat dan berwibawa;
– Ustadz Salim Segaf Al-Jufri;
– Ustadz Muzammil Yusuf, dan lain sebagainya.
Kini sebagian dari mereka menjadi sosok-sosok yang membuatku haru ketika melihat mereka mengambil suara dalam pertarungan perebutan kursi Ketua DPR di senayan dulu.

Ramadhanku di Kalibata adalah saat-saat sendiri dan sepi, karena teman kosku sering sakit dan selalu pulang ke rumahnya, (kumaha atuh kang Ujang?) Ramadhan yang berbukanya hanya dengan krupuk dan lauk seadanya, kadang makan enak di kantor. Pula ramadhanku adalah saat-saat mencari sembako dengan harga murah sampai menjelang sahur untuk kegiatan baksos di keesokan harinya, sambil menancapkan panji-panji “Keadilan”. Ramadhanku saat itu adalah saat-saat terindah di Cilember (Forum Cilember masih adakah?). Masih dengan semangat membara ala fresh graduate adik-adik kelas. Dan tidak lupa, ramadhanku adalah saat membuka biodatanya.

Ramadhanku di awal 2000 adalah ramadhanku menanti sang penerus cita-cita, dan asyik masyuk dalam 10 hari terakhir di Al-Hikmah, Bangka.

Dan kini ramadhanku adalah ramadhan yang penuh hadiah: kemenangan yang Alloh berikan kepada saudara-saudaraku. Tentang tiga buah kemenangan yakni: 1. kemenangan da’wah dalam pemilu legislatif kemarin; 2. kemenangan da’wah dalam pemilu presiden tahap dua; 3. kemenangan da’wah dalam meraih kursi Ketua MPR (nasru minnallohu only, kata Ustadz Muzammil).

Ya, itulah ramadhanku. Tak sekadar mengenang masa lalu saja, pada akhirnya ada a big question mark, dua puluh delapan ramadhan berlalu, apakah predikat “itu” telah ada pada diriku? Allohua’lam. Aku harap sih iya. Aku tidak mau menjadi orang merugi, tentu pula kau.

*)hanya sekadar episode kecil ramadhan
Dedaunan di ranting cemara
Ba’da tarawih dan shubuh.
dulu sekali 2004
edited 2005

Hah…Haqi Rangking 2?


Sebenarnya saya ingin menulis tentang tema ini sejak di akhir Juni 2005 yang lalu. Namun entahlah “ngeh”nya baru saat ini, setelah hampir tiga bulan lamanya terpendam dalam pikiran dan hanya dijadikan daftar tema yang harus ditulis dalam file computer saya. Ada apa sih di akhir Juni 2005?
Oh ya, perkenalkan terlebih dahulu anak saya yang pertama ini. Namanya Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Panggil saja ia Haqi. Tahun ini umurnya genap lima tahun. Sekarang ia naik ke kelas B di TKIT Adilla. Kelas A baru saja selesai di pertengahan Juni 2005 yang lalu. Dan seperti biasa di setiap akhir tahun ajaran diadakan acara perpisahan kelas B yang akan masuk SD dan acara pentas seni serta pemberian hadiah.
Haqi begitu bersemangat sekali mempersiapkan diri untuk ikut serta menyumbangkan diri bersama teman-temannya dalam acara itu. Mulai dari nyanyi-nyanyian, tari-tarian, dan pembacaan hafalan doa, surat, ataupun hadits.
Nah, pada saat acara itulah—yang tidak dapat saya hadiri, saya mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Apa coba? Haqi ranking dua. Hah…!
“Yang benar?” tanyaku memastikan.
“Swear…”kata Qoulan Syadiida di ujung sana.
“Wah hebat dong, Bagaimana ceritanya kok dia bisa?”
“Entar di rumah saja ceritanya.”
“Oke, deh.” Sambil sedikit kecewa karena hari itu aku harus kuliah dan ini berarti sampai rumah nanti berkisar pukul setengah sepuluh malam. Sebelum telepon di tutup, ia memberitahu pula bahwa di acara itu Haqi mendapatkan banyak hadiah. Syukurlah…Tapi mengapa saya terkejut dengan berita itu?
Saya mungkin adalah termasuk ke dalam golongan suami yang menyerahkan segala urusan rumah tangga dan pendidikan anak pada istri. Dan suami “pure” mencari nafkah semata. Apalagi bekerja di belantara kota Jakarta, di mana setiap pagi sebelum matahari terbit sudah harus berangkat, dan pulang setelah matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Sedangkan setiba di rumah, kelelahan becampur baur dengan peluh yang membasahi tubuh. Sehingga sisa waktu dipergunakan untuk langsung beristirahat. Jadi, sepertinya tidak ada waktu untuk sekadar menanyakan kegiatan sekolah anak.
Sedangkan hari Sabtu dan Minggu, adalah waktunya saya memulihkan diri dengan istirahat penuh, sehingga perasaan malaslah yang mendominasi kalau diajak bepergian ke Depok ataupun Jakarta untuk sekadar piknik atau mencari jajanan bersama keluarga.
Sehingga saya benar-benar tidak memerhatikan apa yang dilakukan Haqi di sekolahnya. Sesekali memang bersama-sama mengerjakan PR, tapi kebanyakan bersama umminya. Mewarnai? Jarang juga. Mengisi buku penghubung, apalagi. Oh ya, saya cuma membawakan majalah anak-anak dua mingguan untuknya. Itu saja. Kata umminya, Haqi susah sekali untuk diajak belajar dan ia sering sekali bermain bersama teman-temannya. Ah biarlah, saya pikir masa TK-nya Haqi adalah masa bermain-mainnya, baru kalau sudah di SD, saya turun tangan untuk berlaku ketat dalam memantaunya.
Tapi berita itu memang mengejutkan saya. Haqi yang jarang belajar. Haqi yang hobinya malah bermain, dan saya yang sama sekali kurang memerdulikan dan memerhatikan belajarnya, saya yang asyik dengan dunianya sendiri. Kok bisa, Haqi rangking dua.
Ya, betul Haqi rangking dua. Dan parameter yang saya tentukan dalam penentuan rangking yakni dengan prosentase yang besar hanya dalam belajar adalah salah. Ternyata setelah mendapatkan informasi dari guru pembimbingnya diketahui bahwa Haqi mempunyai prestasi non belajarnya yang menonjol daripada yang anak lain yakni keberanian, mempunyai emotional quotion yang baik, dan inisiatif. Walaupun prestasi belajarnya seperti hafalan dan membaca yang bagus. Wow…Haqi yang underestimate di mata saya dan saya anggap biasa-biasa saja, ternyata mempunyai kemampuan—yang menurut saya—luar biasa pada umurnya. Haqi, Abi minta maaf yah…
Ternyata kini saya paham. Saya memahami bagaimana perasaan seorang ayah terhadap keberhasilan anaknya. Saya membayangkan dulu ayah saya pun akan merasa seperti ini saat saya memenangkan perlombaan MTQ, membaca puisi, juara di kelas, ataupun saat saya dapat masuk ke STAN Prodip dan lulus di tahun 1997. Inilah perasaan seorang ayah. Inilah perasaan orang tua pada anaknya.
Saya hanya berharap, tidak hanya dengan kebanggaan itu Haqi akan tumbuh. Saya berharap Haqi tumbuh dengan kecerdasannya, keberaniannya, emosionalnya dengan apa adanya. Tidak dipaksakan dan tentu dengan sedikit arahan dari saya. Hingga ia menempuhi jalan yang benar.
Saya berharap Haqi tumbuh pula dengan kemampuan yang disunnahkan oleh Rosulullah kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan tiga hal keahlian yakni berenang, berkuda, dan memanah. Saya berharap Haqi akan tumbuh dengan itu sehingga menjadi pejuang-pejuang Islam yang handal dan kuat. Dengan kejujuran seperti Abu Bakar Asshidiq, ketegasan seperti Umar bin Khaththab, kelembutan seperti Utsman bin ‘Affan, kecerdasan seperti Ali bin Abi Tholib, keberanian seperti Khalid bin Walid, kewaraan seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga dengan ketasawufan seperti Hasan Albanna. Itu saja.
Kini, saya katakan pada Haqi, Abi bangga padamu nak, dan maafkan Abi dengan banyaknya harap ini. Abi pun tetap mencintaimu apa adanya.

dedaunan di ranting cemara
di jelang keberangkatan ke Stasiun Jatinegara
13:07 17 September 2005

Belanja Buku dan Perang Eropa


Dengan berbekal dua buku untuk dibaca ternyata tidak cukup untuk menghabiskan cuti. Buku pertama yang berjudul Perang Pasifik habis dibaca saat perjalanan dengan Kereta Api Bisnis Senja Utama jurusan Jakarta Semarang. Buku kedua berupa kumpulan cerpen terjemahan yang berjudul Peluru Ini Untuk Siapa habis dibaca pada hari ketiga tiba di Semarang.
Esok malamnya bersama Qoulan Syadiida, Haqi dan Ayyasy, saya pergi belanja buku di Mal Ciputra, Simpang Lima. Awalnya saya bersikeras bahwa di Mal Ciputra itu ada toko buku Gramedia, karena di akhir Maret lalu saya pernah membeli buku di sana. Qoulan Syadiida mengatakan bahwa Gramedia itu bukan ada di sana, tapi ada di Jalan Pandanaran. Tapi saya tetap ngotot untuk ke sana. Akhirnya saya akui, saya salah besar. Di sana tidak ada toko buku Gramedia yang ada toko buku Gunung Agung. Karena beranggapan pula bahwa Gramedia letaknya jauh dari Simpang Lima maka niat belanja buku tetap diteruskan di Gunung Agung.
Buku yang saya cari yakni Perang Eropa Jilid I tidak diketemukan. Saya tidak jadi membeli buku. Koleksi buku di Gunung Agung tidak selengkap di Gramedia. Hanya Haqi dan Ayyasy sajalah yang menikmati belanja buku di sana. Masing-masing mendapatkan sebuah puzzle, dua buku mewarnai, dan dua buku bacaan serta satu vcd produksi NCR.
Esok siangnya setelah sholat Jum’at, kami kembali mencari buku. Tidak lagi dengan Qoulan Syadiida, tapi tetap berempat, saya, Haqi, Ayyasy, dan Hendri, adik Qoulan Syadiida. Sekarang kami langsung menuju ke Gramedia yang berada di Jalan Pandanaran. Dan saya baru tahu ternyata Gramedia dekat juga dengan Simpang Lima dan bersebelahan dengan Masjid Baiturrahman. Kalau tahu begitu, kenapa tadi malam tidak langsung saja ke sana.
Di Gramedia banyak sekali buku-buku bagus, yang sayangnya saya harus dapat menahan diri karena budget untuk belanja buku bulan ini telah terlampaui. Buku-buku tentang fotografi hanya saya lirik sebentar tapi bertekad dalam hati suatu saat saya dapat membelinya. Buku kedua dari trilogy Kisah Klan Otori belum juga muncul. Sedangkan buku-buku bagus tentang perang dunia kedua banyak juga. Selain yang ditulis oleh P.K. Ojong—Perang Pasifik, Perang Eropa Jilid 1 dan 2—ada juga buku terjemahan yang lebih tebal dan lebih murah daripadanya. Namun saya berkeputusan untuk melanjutkan serial perang yang ditulis oleh P.K. Ojong terlebih dahulu setelah itu baru yang lain. Kali ini Perang Eropa Jilid 1 telah ada di tangan, mungkin yang jilid 2-nya saya beli di bulan depan.
Haqi dan Ayyasy hanya dapat bermain dan berlari-larian di lorong-lorong buku saja. Saya sudah mewanti-wanti pada mereka untuk tidak minta buku kali ini, karena semalamnya mereka sudah membeli banyak buku. Mereka menurut, walaupun pada akhirnya Haqi tetap saja merajuk dan sedikit memaksa untuk membeli satu buku bacaan lagi. Tapi saya bergeming.
***
Berbicara tentang ketiga buku pengisi perjalanan cuti kali ini, saya merasa enjoy banget saat membaca buku Perang Pasifik walaupun terkadang dengan hati gemas dan berhenti sejenak untuk membaca kemenangan-kemenangan sekutu dan kekalahan-kekalahan Jepang di pertengahan 1945. Kali ini, saat ini saya memang membenci sekutu yang dengan perang melawan terorisnya telah memakan puluhan ribu nyawa di Afghanistan, Irak, dan belahan dunia lainnya. Mungkin perasaan saya akan berlainan saat saya benar-benar hidup di zaman itu, karena dengan kemenangan sekutu tersebut akhirnya membawa akibat tidak langsung pada kemerdekaan bangsa Indonesia.
Membaca buku Peluru Ini untuk Siapa yang ditulis oleh Jihad Rajbi, membuat dahi saya berkerut. Ini bukan bacaan ringan seperti cerpen-cerpen Annida dan Forum Lingkar Pena. Banyak sekali metafora yang tidak bisa dimengerti dengan sekali membaca. Bahkan saat buku ini habis dibaca, saya merasa aneh dan tidak membawa saya pada kesan yang mendalam. Apakah karena cerpen ini adalah cerpen terjemahan—penerjemahnya Ustadz Anis Matta, Lc., atau memang karena keterbatasan saya? Saya salah bawa buku.
Pada saat saya menulis ini, buku Perang Eropa Jilid 1 sudah habis terbaca setengahnya. Mungkin pada saat perjalanan pulang kembali ke Jakarta nanti malam saya dapat menyelesaikan setengahnya lagi. Buku ini memang bagus dan enak dibaca seperti buku Perang Pasifik yang terdahulu. Wajar saja mengingat buku ini adalah merupakan kumpulan tulisan P.K. Ojong—seorang keturunan asal Bukit Tinggi dan meninggal pada Mei 1980—di majalah mingguan Star Weekly yang sangat popular saat itu.
Tidak seperti di Perang Pasifik, hampir di sebagian halamannya dijelaskan secara rinci tentang awal dimulainya Perang Dunia II di belahan barat yakni di Eropa. Tentang penyerbuan Blitzkrieg Jerman ke Polandia pada 1 September 1939 hingga kemenangan-kemenangan Jerman yang fantastic baik di medan Eropa maupun Afrika. Itu diungkapkan lebih detil dibandingkan penyerangan-penyerangan pada Perang Dunia II di belahan Timur yakni di Pasifik yang dilakukan oleh Jepang ke Pearl Harbor. Entah karena referensi buku-buku yang ditulis tentang perang pasifik ini lebih sedikit atau karena masalah ideologi.
Tapi pada intinya buku ini bagus walaupun lagi-lagi saya gemas saat sekutu sudah meraih kemenangan dimana-mana. Dan lagi-lagi saya membaca dengan ideologi saya. Sekali lagi buku ini bagus pula untuk dibaca sebagai pengantar tidur di perjalanan.

dedaunan di ranting cemara
l’histoire se repete
9:44 25 September 2005

Jangan Lagi Kau Genggam Diam Itu


26.10.2005 – jangan lagi kau genggam diam itu

diam
adalah wahana perenungan
adalah sepucuk pistol
adalah segenggam cita
yang siap menyepi, menyalak, dan mengalir
diam
bahkan hanya empat huruf tersembunyi
dari mulut-mulut liar penuh dusta
bahkan takkan bermakna
tatkala keindahan dibiarkan terenggut kegelapan
diam
bahkan tidak lagi menjadi emas
karena sudah menjadi milikku
bukan milikmu lagi
selamanya
maka
agar ia tetap menjadi emas
jangan lagi kau genggam diam itu
dedaunan di ranting cemara
13:32 02 ramadhan 1426 H 6 Oktober 2005
blank…

Kantor Pos Lama


Kota Lama

Kantor Pos Besar Semarang di Saat Senja


Biasanya bangunan-bangunan tua berada di daerah Pecinan seperti banyak terlihat di daerah Jamblang, Cirebon dan kota Indramayu, seperti yang pernah saya lihat sekitar lima belas tahun yang lampau. Tapi entah, masihkah keasilan dan keasriannya terjaga hingga saat ini. Sedangkan kota lama yang di Jakarta seperti di daerah Beos terlihat masih terawat.
Agar masyarakat bisa memahami sejarah itu penting maka hendaknya bangunan-bangunan dan jalan-jalan itu perlu dilestarikan. Darinya bisa saja ada nilai historis yang tak ternilai. Tapi sayangnya selain diperlukan kepedulian dari masyarakat juga perlu adanya goodwill dari pemerintah kota (pemkot) sendiri. Bagaimana pemkot juga dapat mengalokasikan anggarannya untuk memelihara semua itu, tanpa tergoda oleh kepentingan bisnis yang tampaknya lebih menggiurkan.
Agar pemkot juga tidak percuma untuk mengeluarkan dana maka perlu adanya program terencana dan terukur agar masyakarat dapat mengambil manfaat besar darinya, seperti adanya agenda pariwisata di daerah tersebut. Seperti apa yang diperlihatkan oleh Pemkot Jakarta dengan adanya museum Fatahillah, atau Pemkot Semarang yang mengadakan Festival Dugderan, festival yang diadakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Festival itu diadakan di bundaran air di depan stasiun Semarang Tawang. Selain adanya pasar malam juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang-barang gerabah seperti celengan, tempat makan, dan lainnya mulai dari yang kecil sampai yang besar. Festival ini akan berakhir bila esoknya adalah hari pertama berpuasa.
Selain itu, program peduli bangunan kuno perlu juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemkot dengan menyelenggarakan tur tahunan bagi anak-anak sekolah di daerah kota lama. Atau menyelenggarakan lomba penulisan dengan garis besar tema adalah penyelamatan dan pemeliharaan bangunan kuno, atau tema historisnya. Yang diharapkan dari semua itu timbul kecintaan terhadap kota lama yang dimulai dari diri kita sendiri hingga ke anak cucu.

dedaunan di ranting cemara
di antara—sekali lagi—ala kadarnya
10:41 19 September 2005

Dua Bocah dan Dua Lilin


27.09.2005 – Sebuah Foto: dua bocah dan dua lilin

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ba’da tahmid dan salam.

Setelah enam hari rehat di kampung halaman qoulan syadiida, akhirnya saya kembali bergabung dengan kawan-kawan kembali. Banyak cerita dan pengalaman menarik yang menggelitik hati saya untuk menuliskannya dalam coretan-coretan. Mulai dari berburu foto di kota lama Semarang, berburu buku, mengunjungi dugderan, pengalaman pertama memakai beskap dalam seumur hidup saya, meruqyah orang yang kesurupan, sampai menjadi fotografer amatiran dalam pesta perkawainan.

Yang sudah jadi dalam bentuk tulisan hanya berburu foto dan buku dan dugderan. Yang lainnya menunggu mood, yang lagi-lagi hilang begitu saja. Tapi untuk sekadar pembukaan pada hari ini saya lampirkan foto dua bocah dan dua lilin yang saya ambil tadi malam, saat lampu mati selama hampir satu jam.

Haqi dan Ayyasy sedang memandang redupnya dua sinar lilin.

Itu saja. Kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Rehat Sejenak


16.09.2005 – Rehat Sejenak…

Sudah saatnya saya rehat, setelah hampir enam bulan lamanya tidak cuti. Sudah saatnya saya berhenti sejenak *) untuk melepas lelah, walaupun selama seminggu ini pekerjaan sudah tidak ada lagi di meja saya. Sudah saatnya saya menghirup nafas kelegaan setelah selama berminggu-minggu lamanya dihujani putusan pengadilan pajak yang kesemuanya itu dimenangkan oleh Wajib Pajak.
Maka tiada yang dapat saya ucapkan kepada kawan selain permohonan maaf jika selama ini ada kata dan perbuatan yang sengaja atau tidak sengaja telah menggores hati dengan rasa sakit. Telah membuat hari-hari kawan semakin bertambah ‘manyun’ dan menggelap laksana awan mendung di puncak sana. Dan telah membuat banyak mata tidak segera terpejam saat malam telah larut kerana–sekali lagi–ada hati yang tergores. Itu pun jika…
Maka, sudilah saya untuk menjura seribu kali untuk permintaan maaf tiada terkira. Kiranya saya berharap dengan rehat itu, saya mendapatkan kembali semangat untuk bekerja (beramal), bekerja (beramal), dan bekerja (beramal). Mendapatkan kembali semangat untuk menulis, menulis, dan menulis lagi serta berbagi, berbagi, dan berbagi apa saja kepada kawan. Bukan kesedihan dan lara (karena itu cukup buat saya saja) yang terbagi, tapi kegembiraan, kebahagiaan, dan suka ria.
Seperti apa yang disunnahkah oleh Rasulullah, untuk selalu berwasiat jika seorang muslim melakukan perjalanan, maka saya pun berwasiat untuk diri saya sendiri khususnya dan kepada kawan semua: “Yuk, kita sama-sama melakukan kebaikan, sedikit apa pun kebaikan itu. Karena kebaikan selalu membersihkan, mencerahkan, dan membuat bening di hati.” Terpenting pula, semuanya karena Allah Ta’ala.
Terakhir, izinkan saya berkata-kata:

Jikalau kebahagiaan itu bisa dibeli
maka aku akan membelinya dengan gunungan harta,
tapi banyaknya harta
tak mampu aku membeli kebahagiaan itu,
kerana kebahagiaan bukanlah kebahagiaan jasmani semata
tapi kebahagiaan batin pun menjadi suatu kemestian.
maka keseimbangan arruh, al’aql, aljasad menjadi sebuah kunci
tuk meraih kebahagiaan hakiki.

Wassalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

dedaunan di ranting cemara
untuk rehat sejenak di antara 19 hingga 26 September 2005
15:47 16 September 2005

*) mengutip judul buku terbaru Bayu Gawtama