DEINDIVIDUASI BIKERS MOGE


DEINDIVIDUASI BIKERS MOGE

Dua pekan terakhir dunia milis dan media elektronik tanah air diwarnai dengan berita seputar tingkah laku menyebalkan dari para pengendara motor gede )Moge) berkelir Harley Davidson (HD). Ini diawali dari imel yang dikirim oleh Sarie Fabriane yang disebar melalui milis dan mengungkapkan kejengkelannya sebagai korban tingkah laku urakan gerombolan tersebut.
Seperti yang diungkap oleh tabloid Otomotif (edisi 43:XV), sebagian isi imel itu adalah sebagai berikut: “…masih sulit akal saya untuk menolerir aksi gagahan mereka yang mentang-mentang itu. Pikiran kotor saya hanya sempat mengira, mereka hanyalah kumpulan begundal-begundal impoten yang mencari kompensasi dengan mengangkangi moge. Sehingga tercapailah ilusi kegagahan diri!!…”
Dari situlah Otomotif berusaha menjawab pertanyaan apakah benar bahwa perilaku kasar yang ditunjukkan itu adalah kompensasi untuk menutupi kekurangan dan kelemahan diri?
Seorang pengajar Psikologi Sosial Universitas Indonesia bernama Cicilia Yeti Prawasti MSi, berhasil dimintai pendapat tentang ini oleh tabloid mingguan ini. Beberapa pendapatnya tentang kelakuan bikers moger tersebut adalah dapat dirangkum sebagai berikut:
Bahwa Tidak semua kompensasi itu bernilai negatif, tetap ada kompensasi bernilai positif. Kompensasi negatif bisa saja terjadi namun dengan prosentase kecil berupa aktualisasi diri yakni keinginan untuk mengatasi inferioritas atau perasaan diri seseorang.
Sedangkan perilaku arogan dalam kasus ini hendaknya ditinjau dari sisi psikologi social bukan ditinjau dari sisi kompensasi. Secara psikologi sosial, dalam kelompok telah terjadi deindividuasi. Yakni indentitas diri seseorang berkurang, melebur, dan digantikan dengan identitas kelompok.
Cicilia melanjutkan: ”Di dalam kelompok seseorang cenderung tidak ada yang memperhatikan secara individual. Sehingga ia berani melakukan hal-hal yang belum tentu dia berani lakukan saat sendiri. Apalagi dengan menggunakan pakaian dan motor gede, perasaannya menjadi berubah.” Kesimpulannya adalah perilaku kasar tidak semata-mata berarti kompensasi seseorang untuk menutupi kelemahannya. Demikian Otomotif.
Nah, itulah sedikit pandangan psikologis terhadap para pengendara moge. Namun demikian jika kita melihat adanya deindividuasi maka perubahan perangai (kalau bisa disebut demikian) itu tidak hanya dimonopoli oleh pengendara moge seperti HD belaka.
Perangai itu pun bisa dilakukan pula oleh pengendara motor lainnya walaupun tidak tergabung dalam suatu kelompok atau klub berdasarkan kesamaan merek. Apalagi di Jakarta ini yang jumlah motornya setiap hari bisa mencapai jutaan unit mengarungi jalanan di pagi atau sore harinya.
Contoh deindividuasi ini seringkali terjadi dengan perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan secara berjama’ah berupa dengan berhenti melewati tanda batas zebra cross, melawan arus, menyelonong pintu perlintasan kereta api, melewati trotoar, selap-selip, dan lain sebagainya.
Perlu ditekankan di sini sekali lagi adalah perilaku itu dilakukan dengan berjama’ah, bersama-sama, berkelompok, bareng-bareng. Sama dengan yang dilakukan oleh para pengendara moge. Namun ada perbedaan yang mencolok di sini.
Deindividuasi yang dilakukan oleh masing-masing individu dari bikers moge ini dilandasi dari semangat eksklusivitas yang tinggi. Merasa bahwa motor yang mereka naiki tidak sembarang orang bisa memilikinya, mahal, barang impor, dan berkelas. Walaupun disadari atau tidak banyak dari motor tersebut adalah barang-barang gelap yang sengaja diselundupkan tanpa membayar PPnBM dan Bea Masuk ke kas Negara dan surat-suratnya bodong hanya mengandalkan surat sakti dari klub.
Ditambah dengan banyaknya pejabat (contoh salah satunya Fahmi Idris) dan artis (Indro Warkop) yang karena hobi atau sengaja direkrut menjadi petinggi dan pengurus klub, dan dijadikan sebagai pelindung atau humas bahkan pelegitimasi (untuk tidak disebut sebagai bemper) atas segala aktivitas mereka.
Apalagi privilege yang mereka dapatkan sangat-sangat terkesan eksklusif seperti pengawalan yang dilakukan oleh voreijder, melenggang kangkung di jalan tol, dan menyetop seenaknya pengguna jalan lain yang dirasa mengganggu perjalanan. Maka lengkap sudah kesombongan itu, dan pada akhirnya dari semua itu mudah saja terjadi deindividuasi pada kelompok itu. Poinnya adalah bahwa ada ego berjama’ah yang timbul akibat keserbaadaan yang mereka miliki.
Sedangkan untuk deindividuasi yang dilakukan oleh para pengendara motor lainnya dengan tingkah laku berlalu lintas yang kacau dan berantakan itu ada banyak penyebabnya, ini dilihat dari kacamata saya yang tentunya juga adalah pelaju minimal 50km lebih setiap harinya dengan motor kecil (mocil MegaPro)—kalau dibandingkan dengan HD, dan ini yang menyebabkan perbedaan mencolok.
Bahwa yang pasti mocil ini (dalam kasus Jakarta) bukan karena mereka tergabung dalam satu klub. Mereka membawa motor yang kebanyakan dibeli secara kredit di showroom-showroom atau tenda-tenda. Ada rasa senasib sepenanggungan yang disadari atau tidak seringkali muncul tiba-tiba. Bahwa mereka kepanasan, kehujanan, dan dengan resiko besar mengalami kecelakaan yang berakibat fatal bila motor itu jatuh.
Ditambah pula dengan seringkali mandi asap knalpot dari kendaraan lain. Sungguh kontras sekali dengan kenyamanan yang diperoleh dari mereka yang mengendarai mobil pribadi. Dengan kesenjangan kenyamanan dan yang paling penting adalah adanya kesenjangan keselamatan yang begitu mencolok maka wajar pula rasa senasib dan sepenanggungan itu muncul.
Dari rasa itu seringkali kita melihat bagaimana solidaritas muncul di saat salah satu dari mereka mengalami kecelakaan, apalagi kalau kecelakaan itu disebabkan karena ditabrak oleh kendaraan pribadi. Maka selain memberikan pertolongan pertama kepada korban juga ada tindakan deindividuasi yang dilakukan dengan sama-sama menonton, mengerumuni, atau yang lebih buruk adalah mengeroyok supirnya.
Seringkali pula mereka berhenti tanpa bersalah di bawah jembatan layang di saat hujan turun dengan derasnya. Maka terjadilah kemacetan panjang yang disebabkan oleh itu. Gerutuan dari para pemilik mobil pun berhamburan, tanpa mereka sadari bahwa kalau motor itu punya kap seperti mobil tentu tidak akan berhenti di tempat itu. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Jadi, walaupun kita sama-sama sepakat bahwa tingkah laku buruk dari akibat deindividuasi pada kelompok moge HD dengan kelompok pengendara mocil tidak bisa dibiarkan begitu saja, tapi tentu ada perbedaan yang mencolok di antaranya. Yakni untuk yang pertama bahwa deindividuasi terjadi karena ada semangat ekslusivitas yang tinggi dan berakhir pada kesombongan. Sedangkan pada yang kedua deindividuasi terjadi karena adanya rasa senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan ketertindasan.
Pertanyaan yang tak perlu dijawab sekarang adalah: adakah deindividuasi yang terjadi pada para fordiser DSHNet?

Allohua’alm bishshowab.

Ps. Pada tahun 2000 (kalau saya tidak lupa), saya sempat bertemu dengan Fahmi Idris di lift salah satu hotel di Yogyakarta. Bersamanya banyak anggota kelompok HD yang sedang touring.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:31 01 Maret 2006

Saat Kau Tolak Cintaku


27.02.2006 – Saat Kau Tolak Cintaku

matamu itu nduk…
:bening
gigimu itu nduk…
:putih
kulitmu itu nduk…
:kuning
wajahmu itu nduk…
:pesona indo
sentuhanmu itu nduk…
:lembut
panggilanmu itu nduk…
:syahdu
gurauanmu itu nduk…
:manja
jalanmu itu nduk…
:indah
belaianmu itu nduk…
:gak nahan
wah, wah, wah,
tak ada ruginya membawamu nduk
tapi saat kukatakan cinta padamu
kenapa kau melukaiku
dan kau menjerit berteriak
sorry: aku menginjak buntutmu
cepat sembunyikan cakarmu
cepat tutup mulutmu,
malu atuh, masa secantikmu ada taring
nduk, nduk…
ah,
kau cuma bisa berkata:
meong…
meong…

dedaunan di ranting cemara
10:08 27 Pebruari 2006

Cintanya Tak Semurni Bensinku


20.02.2006 – Cintanya Tak Semurni Bensinku (Kado buat Hizbiyoon)

Berbeda dengan debat yang dilakukan di alam nyata, debat di dunia maya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan suatu tema diskusi. Karena di sana komunikasi yang terjadi antara penyampai dan penerima informasi tergantung dari kualitas jejaring masing-masing peserta diskusi juga perlu digarisbawahi bahwa dalam komunikasi tersebut tidak disertai dengan bahasa tubuh.

Maka terbentanglah jurang di antara mereka, sehingga dengan adanya gap itu kesalahpahaman seringkali terjadi bahkan berujung dengan caci maki, walaupun sudah dibantu dengan visualisasi bahasa tubuh (wajah) melalui ikon Smiley, yang terkadang ternyata digunakan untuk menutupi maksud hati yang sebenarnya.

Maka saya yang merasa jago debat, pandai bersilat tangan (maaf di sini saya tidak memakai lidah karena sama sekali tidak digunakan) dan tidak memakai hati memanfaatkan benar untuk bisa menjatuhkan lawan diskusi, apalagi didukung dengan teman seperjuangan yang satu ide.

Bila perlu celaan dan hinaan harus disampaikan agar benar-benar lawan diskusi dibuat tidak berkutik. Dengan alasan pembenaran bahwa Rasulullah pun seringkali mencela orang-orang jahil. Bahkan tidak hanya lawan diskusi yang perlu dicela, hatta ulama lokal, ulama asal Mesir yang kini tinggal di Doha Qatar dan berkaliber dunia serta telah diakui kapasitas ilmu dan amalnya pun tak luput dari celaan saya hingga sampai pada penyetaraannya sebagai ulama Syaitan. Tak lupa bukunya pun wajib dibakar.

Tanpa disadari (atau memang sadar dengan sesadar-sadarnya) dengan pelabelan itu telah melanggar batasan yang dipegang oleh saya sendiri (tentu juga oleh lawan diskusi saya) untuk tidak mengafirkan sesama muslim. Karena tidak dapat disangsikan lagi dan semua tahu manalagi selain makhluk durhaka bernama syaitan yang berjuluk sebagai penghulu kekafiran. Namun batasan itu tak perlu jika memang saya menganggap ulama tersebut telah keluar dari Islam. Dan saya tak perlu minta maaf.

Selain itu di suatu waktu jika saya telah kehabisan kata-kata yang harus disampaikan kepada lawan diskusi yang menurut anggapan saya mereka masih ngeyel terhadap puluhan hujjah, maka tak dapat disangsikan segala cara dan upaya ditempuh untuk mengambil puluhan sumber hujjah sebagai penguat.

Bahkan jika tidak ada hujjah dalam bentuk softcopy, kalau perlu semalaman saya tidak tidur untuk menyalinnya ke dalam program pengolah kata. Yah, biasanya sholat malam terlewatkan, bahkan shubuh pun kesiangan, tapi ’Alhamdulillah’ di kantor belum ada finger print sehingga kesiangan pun tidak apa-apa, dan yang penting tak ada potongan gaji.

Setelah sampai di kantor, kiranya saya tak perlu memikirkan kerja dululah. Kan ada yang lebih penting lagi yakni menyampaikan kebenaran, amar ma’ruf nahy munkar, sampaikanlah satu ayat walaupun pahit, apalagi untuk melawan para ahlul bid’ah dan hizby yang setiap harinya mereka menulis dan menyebarkan pemikirannya di ” partisipasi”, dan tak pernah memberikan kesempatan kepada saya untuk membanting hujjah mereka yang ringkih seperti sarang laba-laba. Apa karena ada penyensoran?

Tapi tak apalah, saya masih punya kesempatan untuk melawan pemikiran mereka di forum diskusi. Perlu diketahui lawan saya banyak sekali, selain hizby, ada juga dari tahriry, tablighy, dan surury.

Untunglah suasana kantor mendukung sekali karena saya ada di seksi nonteknis jadi lumayan tidak banyak pekerjaan. Bahkan kalaupun berada di seksi teknis pun saya harus berjuang untuk menyisihkan waktu agar perjuangan ini tetap berlanjut.

Andaikan tak ada waktu pun maka saya tetap harus mementingkan perjuangan memberantas kemungkaran yang disebarkan para hizbiyun dan jahiliyun itu. Iya sih, kadang-kadang saya seharian tak pernah menyentuh pekerjaan karena asyik banget melihat mereka kabakaran jenggot dan jilbabnya.

Ada satu tuh akhwat dari mereka kalau kebakaran jilbabnya, nesu-nesu tak karuan. Bahkan menantang untuk datang ke daerahnya. Emang saya cowok apaan. Cowok panggilan? Saya tak peduli. Cintanya tak semurni bensinku. Loh kok nggak nyambung…

Ohya, sebenarnya gampang sekali mematahkan argumen mereka, karena mereka sama sekali tidak mempunyai dalil dan hujjahnya. Jika mereka nyerocos tanpa referensi gampang saja tanyakan kepada mereka: ”mana dalilnya?”. Biasanya mereka langsung terdiam begitu rupa.

Atau dengan menampilkan copy paste-an saya yang bisa berlembar-lembar halaman, mereka langsung keok. Padahal copy paste-an saya ini juga terkadang tidak sempat saya baca seluruhnya tapi saya sih sangat, sangat, sangat tsiqoh sekali kepada ustadz-ustadz dan ulama-ulama saya karena mereka adalah para ahli hadits dan anti hizbiyun. Ohya, saya juga heran mereka kok tak pernah menghujat ulama saya, ”ah pasti karena mereka tidak mempunyai celah untuk menghujat atau karena mereka takut hujjah mereka dibanting atau takut karena Allah? Ah sabodolah.

Tapi ada juga dari mereka yang seringkali mempunyai argumentasi yang kuat bahkan mantap, dan tidak bisa dijawab oleh saya ataupun teman-teman pendukung saya.. Menghadapi hizby seperti ini gampang bilang saja mereka jahil, dasar khawarij, tutup mulutmu, atau sedikit-dikit dengan makian mantap seperti ”embahmu…”.

Walaupun demikian mereka tetap bergeming, ini yang membuatku marah, dongkol, serta sakit hati. Bahkan setiap saat saya selalu memikirkan perkataan mereka. Lagi istirahat, lagi sholat, mau tidur, mau makan, ataupun dalam perjalanan pulang. Dan memikirkan balasan apa yang setimpal untuk mereka. Saya tak peduli mereka sakit hati atau tidak. Jadi memang sakit hati harus dibayar dengan sakit hati pula.

Tapi ada yang bilang dari para hizbiyun itu, ”awas loh penyakit hati.” Ah, saya bilang saja kepada mereka: ”sok menjaga hati lu”. Eh, ngomong-ngomong masalah hati kemarin saya mendapat tugas dari kantor pusat untuk mengikuti diklat manajemen qolbu di pesantren Daruttauhid pimpinan Aa Gym itu. Padahal Aa Gym itu kan sudah diberi raport merah oleh ustadz kami.

Ikut tidak yah…? Ah, ikut sajalah, inikan tugas kantor, nanti kalau tidak ikut saya akan di black list untuk tidak mengikuti diklat apapun. Yang rugi saya juga dong. Ohya, raport merahnya perlu saya sampaikan enggak yah kepada Aa Gym. Ini juga untuk kebaikan dia sendiri agar tidak terjerumus terlalu lama dalam kebid’ahan. Kalau dia tidak terima, ya sudah tugas saya selesai.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Kalau mereka tak puas dengan hujjah saya, saya siap menerima tantangan mereka, ini nih nomor telepon genggam saya 0817-6969-xxx.

Telepon itu saya buka 24 jam setiap harinya, tujuh hari dalam seminggu. Kalau perlu kopi darat juga boleh, ingat saya juga pandai bersilat lidah. Saya pun akan bawa kitab-kitab rujukan, tidak hanya terjemahan, asli Arab gundul juga akan saya bawa. Ini pasti akan membuat mereka gentar dan berkeringat dingin. Tenang saja saya akan membawa termomoter untuk mengukur suhu keringatnya benar-benar telah mencapai titik terendah.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Apa? Saya anti ukhuwah? Heii, hizby. Lebih baik saya menjadi pendosa daripada menjadi ahlul bid’ah seperti kalian.

Ah, sudah. Pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati.

****

Teettttttttttt…tettt…!!! Suara rentetan klakson kendaraan di belakang mengagetkan saya yang kiranya sedang berada di dekat pintu lintasan kereta api. Pintu itu sudah terbuka setelah hampir tiada mau membuka karena memberikan kesempatan lewat terlebih dahulu kepada enam kereta rel listrik Jakarta Bogor.

Melihat forum diskusi di ANTAHBERANTAHnet seharian tadi membuat saya melamun begitu panjangnya. Memikirkan si jago dan ahli debat yang menganggap saya ahlul bid’ah dan hizbiyyun yang tak pantas untuk mencium wanginya surga.

Memikirkan mereka dan apa yang dilakukannya malah menguras energi saya untuk beramal. Menguras energi saya untuk memikirkan para tetangga yang setiap malamnya masih bertanya-tanya makan apa besok harinya. Menguras energi saya untuk menghidupkan sholat berjamaah di masjid yang sudah lima tahun lamanya tak kunjung selesai dibangun.

Memikirkan mereka menguras energi saya untuk mendidik dan mempersiapkan generasi rabbani dengan tali ukhuwah yang kuat, yang di malamnya bagaikan rahib dan di siangnya bagaikan singa mengaum membela Islam dari segala rongrongan. Yang dari mulut mereka tak terluncur celaan dan hinaan melainkan penggugah dan penyejuk hati, penyegar pemikiran dan pecerahan menuju ridhonya Allah.

Memikirkan mereka menghalangi diri saya untuk selalu bermuhasabah menghitung dosa-dosa yang menggunung. Malah membuat hati saya yang sudah kotor semakin kotor memikirkan membalas cacian mereka.

Memikirkan mereka menambah penyakit hati dengan adanya kesombongan jikalau sukses menjatuhkan mereka para ahli debat itu. Membuat kebenaran yang sudah tampak di depan mata semakin buram karena tak mau mengalah dan kesombongan.

Alhamdulillah ternyata saya tidak jago debat. Saya tidak pandai mengolah kata. Saya tidak lincah mencela. Saya gagap untuk menyakiti banyak hati. Saya tak bisa membandingkan ilmu dan amalku dengan milik para ulama yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk perjuangan Islam, bahkan untuk menyamakan mereka dengan para syetan.

Biarkan saya akhiri jenak-jenak kata dengan nasehat yang diucapkan Ibnu Taimiyah kepada muridnya, Ibnul Qayyim:

Akhi Da’iyah:

Jangan jadikan hatimu mudah dihanyutkan syubhat, seperti bunga karang di tepi laut yang kian ternoda manakala diterpa gelombang air. Jadilah bak cermin yang tetap kokoh. Berbagai isu dan tuduhan hanya lewat di hadapannya, dan tidak menetap padanya. Cermin menolak semua itu dengan kekokohannya. Bila tidak demikian, bila hatimu mengharap semua syubhat yang melewatinya, niscaya ia akan menjadi sarang segala tuduhan dan isu yang tak jelas.

Ketahuilah, di antara kaidah syari’at dan hikmah menyebutkan, bahwa siapa yang banyak dan besar kebaikannya, dan telah menanam pengaruh nyata dalam Islam, mungkin saja melakukan kekeliruan yang bisa jadi tidak dilakukan orang selainnya. Orang seperti itu dapat dimaafkan. Maaf yang tidak diberikan pada selainnya. Sesungguhnya kema’syiatan itu adalah kotoran, dan air bila mencapai dua kulah, tidak membawa kekotoran.

(Jasim Muhalhil, 1418 H)

Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ba’da maghrib dingin

19:03 19 Pebruari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

riza.almanfaluthi@pajak.go.id

Antara Umar dan Khalid


20.02.2006 – Antara Umar dan Khalid

Saya tertarik dengan apa yang diungkapkan Saudari saya ini pada tulisannya yang berjudul ”Ketika Saya Berkuasa”. Tepatnya pada paragraf sebagai berikut:

Khalid ketika menjadi gubernur Armenia terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya. Yang akhirnya membuat Umar bin Khattab gregetan sehingga menarik kembali Khalid ke Madinah.

Tapi..itu bukan berarti Umar menghinakan Khalid..tapi beliau menyelamatkan Khalid dari ketergelinciran godaan dunia. Buktinya ketika Khalid meninggal..Umar menangis dan mengatakan penyesalannya tidak sempat mengembalikan kedudukan Khalid di tempat yang semestinya.

Kalimat ”terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya” mengguncang kotak memori saya. Dan betulkah pada saat itu beliau sudah menjadi gubernur Armenia? Dari buku yang pernah saya baca sahabat yang berjuluk Pedang Allah ini tidak demikian kiranya. Sehingga dengan kepenasaran ini kembali saya bongkar-bongkar buku sejarah lama.

Dari beberapa referensi tersebut, hanya satu yang benar-benar detil menceritakan tentang pemecatan panglima Khalid bin Walid oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra yakni di buku yang ditulis oleh Muhammad Husin Haekal yang berjudul Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu (penerbit Litera AntarNusa, 2002).

Sebelumnya saya tidak akan menceritakan siapa sahabat Khalid bin Walid ini karena sudah banyak kitab dan tulisan yang menulis biografi beliau. Dan saya pun tidak akan menyalin tulisan pada buku di atas karena akan membutuhkan banyak halaman untuk hanya menginformasikan tentang peristiwa pemecatan ini.

Setelah saya membacanya perlahan-perlahan, saya sedikit banyak kembali mendapatkan gambarannya yang sempat terlupa. Berikut gambarannya secara ringkas:

Pada saat Baitulmukaddas atau Yerusalem telah ditakhlukkan, para panglima perang kembali menuju tugasnya masing-masing untuk mengatur adminsitrasi pemerintahan wilayahnya masing-masing. Abu Ubaidah menuju Hims, Yazid bin Abi Sufyan tinggal di Damsyik, dan Khalid bin Walid menuju Kinnasrin (Bukan Armenia).

Namun kembali ada pemberontakan di utara Syams, pasukan muslimin pun kembali dikirim dan berhasil meredakannya. Tidak berhenti di situ mereka kembali bergerak terus ke arah utara menuju Armenia. Dan Khalid bin Walid dikirim ke Armenia untuk menanamkan rasa gentar dalam hati musuh. Dalam ekspedisi itulah Khalid bin Walid membebaskan banyak tempat dan memperoleh rampasan perang yang sangat banyak.

Sesudah itu ia kembali ke Kinnasrin dengan membawa ghanimah. Dan mendengar kedatangannya yang membawa harta benda itu banyak sekali orang dari sana- sini meminta bantuan berupa hadiah dan Khalid pun cukup bermurah hati kepada mereka. Salah satunya kepada Al-Asy’as bin Qais sebesar sepuluh ribu dirham. Inilah pokok permasalahannya.

Berita itu didengarnya oleh Umar Ra, dan ia marah besar karena sebelumnya ia mendengar sebelumnya tentang kabar Khalid yang menggosok badannya dengan khamar saat di Armenia. Khalid menjawab bahwa pada saat itu tidak ada bahan pembersih selain khamar.

Dalam masalah harta yang diberikan kepada Ibnu Qais ini, Umar ra menulis surat kepada Abu Ubdaidah supaya memanggil Khalid dan mengikatkannya dengan serban serta melepaskan topi kebesarannya sampai terungkap pemberiannya kepada Ibnu Qais: dari hartanya sendiri atau dari harta rampasan perang yang seharusnya disimpan untuk kaum dhuafa Muhajirin.

Sebenarnya kekhawatiran umar selain itu adalah pesona Khalid yang terlalu kuat di hampir sebagian besar prajurit sehingga dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam puncak kesombongan dan kezaliman serta timbulnya pengkultusan diri Khalid.

Khalid pun datang, kemudian kurir yang diutus Khalifah bertanya kepadanya sampai tiga kali yang tidak dijawab oleh Khalid. Bilal pun mengambil topi dan merangkul kedua tangan Khalid ke belakang punggungnya dan mengikat dengan serbannya sambil bertanya: “Bagaimana? Dari harta Anda atau dari harta perolehan perang?”

Khalid terdiam dan Bilal pun mendesaknya, pada akhirnya Khalid berbicara bahwa harta yang diberikan kepada Ibnu Qais itu adalah harta pribadinya. Khalid bertanya-tanya kenapa Umar memperlakukannya seperti ini. Sehingga Khalid memutuskan untuk pergi menemui Umar di Madinah. Padahal tanpa sepengetahuan Khalid bahwa dirinya telah dipecat oleh Umar namun belum diberitahukan Abu Ubaidah karena kehalusan budi pekertinya yang tidak mau menyakiti hati sang Pedang Allah ini.

Sebelum maksudnya pergi ke madinah terlaksana, telah tiba terlebih dahulu surat dari Khalifah tentang pemanggilannya, baru saat itulah ia tahu bahwa dirinya dipecat oleh Khalifah. Ia kemudian memberitahukan kepada pasukannya tentang hal ini dan berpidato tanpa menjelek-jelekkan sedikitpun tentang Umar.

Setelah tiba di Madinah, di depan Umar ia menjelaskan darimana kekayaan itu. “Dari barang rampasan perang dan dari saham-saham. Yang selebihnya dari enam puluh ribu itu untuk Anda.” Umar menaksir barang-barang Khalid senilai delapan puluh ribu dirham, disisakan buat dia enam puluh ribu dan yang dua puluh selebihnya diambilnya dan dimasukkan ke dalam baitulmal.

Setelah itu Khalifah mengumumkan ke seluruh kota tentang pemecatan Khalid: “Saya tidak memecat Khalid karena benci atau karena pengkhiatan. Tetapi karena orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya akan percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuk dia. Maka saya ingin mereka tahu bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah.”

Demikianlah kisah Khalid yang digambarkan melalui tiga puluh halaman di buku tersebut, alangkah lebih fahamnya jikalau pembaca membacanya langsung daripada membaca ringkasan saya ini yang bisa saja menjadi bias terhadap sikap Umar dan Khalid, karena pada senyatanya banyak juga yang berbeda penyikapan terhadap peristiwa itu berdasarkan kefanatikan mereka terhadap Umar atau Khalid.

Namun seperti yang diungkap oleh Haekal semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid dan Umar, karena keduanya merupakan dua kekuatan yang paling tangguh. Semenanjung Arab terbuka luas bagi kedua kekuatan yang tadinya terpencil.

Dapat ditarik kesimpulan di sini bahwa Khalid pada saat itu bukanlah dalam keadaan menjabat sebagai Gubernur di Armenia melainkan Administrator di Kinnasrin (sebuah distrik di Damsyik—sekarang Damaskus). Namun benar Khalid mempunyai kaitan dengan Armenia karena pernah melakukan ekspedisi ke sana.

Terhadap masalah penggunaan hartanya Khalid telah menjelaskan terhadap Umar seperti telah disebutkan di atas yakni dengan menggunakan uang dari bagian rampasan perangnya (ghanimah) dan memberikannya kepada Asy’as bin Qais adalah dalam rangka memberikan penghargaan kepada seorang amir—pemimpin Kindah dan orang yang telah menghadapi cobaan berat dalam hal membebaskan Irak dan Syam. Berapa seringnya orang seperti Asy’as dan orang semacam dia terjun dalam beberapa peristiwa dan berjuang mati-matian menghadapi bahaya (h338).

Demikian sedikit apa yang saya temukan di buku tersebut. Mungkin ada referensi lain yang lebih baik lagi dan dapat dipertanggungjawabkan. Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah semata. Dan Allahlah Mahatahu segalanya.

Maraji’ cuma satu (terjemahan lagi):

Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu; Muhammad Husin Haekal, Litera AntarNusa, 2002

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20:21 17 Pebruari 2006

Merekalah Penggoda Syahwatku


14.02.2006 – Merekalah Penggoda Syahwatku (no risk no gain)

Tidak terasa sudah hampir enam bulan lamanya saya hidup tanpa handphone (HP) di tangan, tanpa deringnya yang mengganggu sepanjang perjalanan pulang, tanpa rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, tanpa debar jantung saat ada panggilan dari kantor dan Wajib Pajak, dan tanpa-tanpa lainnya. Saya merasa nyaman, itu saja.

Walaupun kadangkala ada saja saat di mana saya benar-benar membutuhkannya. Untuk hal yang demikian terpaksa HP Qaulan Sadiida saya pinjam barang satu sampai tiga hari, itu pun cuma sekali saja waktu saya pergi melancong ke Palangkaraya. Selebihnya saya benar-benar belum (untuk tidak mengatakan TIDAK) membutuhkannya.

Nah, kenyamanan yang saya rasakan itu sepertinya mulai terusik sejak sepekan ini. Pertama, saya teringat bahwa salah satu alasan kenapa saya tidak memakai HP adalah nomor HP lama yang telah saya cabut masih bisa saya pakai kembali sebelum enam bulan lewat sejak dilaporkan hilang. Jadi karena belum genap enam bulan itulah yang memperlama keinginan saya untuk tidak memakai HP.

Satu pekan ke depan adalah batas waktu bagi saya untuk kembali mengaktifkan nomor itu. Jika tidak maka nomor itu bisa dipakai kembali dengan mengeluarkan ongkos cukup besar dibandingkan dengan mendaftar sebagai user baru, karena dianggap sebagai nomor pesanan.

Wah, inilah godaan pertamanya, tetap pada nomor itu atau ganti dengan nomor baru, atau bahkan ganti dengan operator lain yang lebih murah dan banyak menawarkan fitur menarik dengan ditambah handset–nya lagi.

Kenyamanan saya juga terusik dengan yang kedua ini yaitu adanya tawaran bisnis penjualan pulsa elektronik berbagai macam operator dari teman saya. Saya cukup menyediakan uang 300 ribu rupiah sebagai jaminan dan bisa dikembalikan ketika saya memutuskan untuk tidak berjualan lagi.

Praktis modal saya cuma dengan satu buah HP dan lima jari untuk mengirimkan sms (gratis) kepada agen besar itu agar mengirimkan pulsa kepada pelanggan saya. Itu saja. Menarik bukan? Sekalian belajar mengasah kepekaan berwirausaha. Inilah godaan keduanya.

Lagi-lagi kenyamanan saya terusik dengan adanya yang ketiga ini yakni teman saya yang satu lagi tiba-tiba menawarkan HP miliknya kepada saya, berhubung dia telah memiliki HP baru. Tentunya tawaran itu tidak gratis. Jikalau saya mau saya cukup membayarnya di bawah harga pasaran.

Inilah godaan ketiga itu, walaupun secara fisik HP seken itu jauh dibandingkan HP saya yang hilang. Tidak ada kameranya, tidak ada fitur-fitur menarik layaknya HP berbasis symbian lainnya. Apalagi bentuknya yang sudah ketinggalan zaman karena belum mungil seperti kebanyakan wujud HP saat ini.

Tapi saya tidak peduli dengan semua itu. Karena saat ini saya menyadari bahwa secanggih-canggihnya fitur dan semahal-mahalnya HP yang saya miliki dulu ternyata kebanyakan tidak berguna. Yang biasa saya pakai cuma fasilitas calling dan sms-nya saja. Dan dengan HP seken ini kebutuhan dasar saya sudah cukup terpenuhi. Jadi mau apalagi? Mau gaya-gayaan? Tidak lah yau…Dan kini HP seken itu telah menjadi penggoda ketiga bagi saya.

Sekarang HP itu masih di tangan saya untuk sekadar dilihat-lihat dan dipertimbangkan sematang-matangnya, walaupun proses negosiasi masih terus berlangsung karena belum ada titik temu masalah harga di antara kami.

Yah, jika Allah berkehendak dalam waktu dekat tiga godaan itu sepertinya cukup kuat untuk mendobrak benteng kekukuhan dan kenyamanan saya. Tentunya dengan paradigma berbeda bahwa HP saya nanti bukanlah untuk memenuhi syahwat gaya saya tapi penuh muatan dan niat untuk menambah penghasilan halal. Itu saja.

Tidak lupa mental kembali harus dipersiapkan, karena akan ada lagi deringnya yang mengganggu di sepanjang perjalanan pulang, akan ada pula rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, dan juga debar di jantung saat ada panggilan dari kantor ataupun Wajib Pajak. Tapi inilah resiko bisnisnya. No risk no gain.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 11 Pebruari 2006

Prajurit di atas Kuda Trengginas


14.02.2006 – Prajurit di atas Kuda Trengginas

Peluang menyebarkan kebaikan selalu ada kapan saja, di mana saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan dirinya menjadi prajurit-prajurit kebenaran demi tegaknya panji-panji Islam dimuka bumi ini. Mereka hanya meyakini bahwa Allah lah tujuannya, Muhammad teladannya, Alqur’an hukumnya, Jihad jalannya, syahid cita-cita tertingginya.

Mereka rela berpeluh debu, berkeringat darah, berhias sayatan pedang. Mereka berbaris rapih dengan kuda-kuda trengginas yang siap berlari kencang dengan terengah-engah di padang pertempuran melawan para perintang sejatinya. Karena hakikinya pertempuran itu adalah pertempuran abadi dengan akhir berupa kibaran kebenaran.

Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”. Dengan shalat hanya sekadar penunai kewajiban. Dengan dzikir hanya pemanis mulut. Dengan doa kering tanpa ruh. Dengan malam-malam tetap berselimut tebal. Dengan subuh yang telah menjadi peneman mentari.

Dengan harta dan kemewahan tanpa pembersih. Dengan senyum yang sulit tersungging. Dengan mata penuh kerinduan birahi tak halal. Dengan amarah menjadi desahan nafas. Dengan lisan penuh tuba menoreh luka. Dengan dengki pewarna hati. Dengan haji hanya sebagai pelengkap nama. Dengan kekuasaan penuh tangan-tangan terzalimi meminta ampun. Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”.

Jika tidak, akan menjadi apa diri ini sedangkan engkau kelak akan berkeluh kesah: ”Oh nikmatnya menjadi binatang kerana tak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di mahkamah yang paling agung di mahsyar sana.”

Tiada kata terlambat jika sadari bahwa nafasmu belumlah satu-satu. Kakimu masih kuat untuk dilangkahkan. Tanganmu ringan selalu di atas. Mulut masih bisa digerakkan seimbang. Dan mata lengkap tiada tara nikmatnya.

Maka sekecil kebaikan yang engkau lakukan adalah mulanya kuncup yang akan bermekaran. Mulanya tetesan air untuk menjadi gelombang. Mulanya pisau tumpul untuk menjadi pedang tajam mengilat. Mulanya prajurit kecil tak bernama untuk menjadi jenderal gagah tawadlu’.

Maka tekadkan diri mulai desah nafas yang engkau hembuskan saat ini untuk tetap menjadi penyebar kebaikan hatta sebesar dzarrah. Karena sekecil apapun kebaikan yang engkau berikan kepada yang lain ia akan memantulkan kembali kebaikan itu kepadamu.

”Siapa saja yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun….” (HR Muslim)

Maka peluang itu telah ada dihadapanmu, di halaman ini, di forum diskusi ini, engkau telah menjadi satu dari sekian para prajurit kebenaran. Yang selalu mengisinya dengan nasihat dan yang selalu memberi sesuatu yang berguna.

Maka tak masalah jika engkau sekadar berkomentar asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyapa asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menulis asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyalin asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar melampirkan asalkan ia adalah kebaikan.

Maka tak terhitungnya pahala yang engkau akan dapatkan dengan memberi AlQur’an Digital, Shollu pengingat waktu sholat, Alquran Ms Word, kumpulan fatwa ulama sholih, murattal merdu para ustadz, nasyid penyemangat ruh, ebook ilmu Islam, kabar gembira dari tanah jihad, artikel pencerahan, antivirus, dan lainnya.

Maka seberapa pahala yang engkau akan dapatkan jika engkau menjadi penyebar kebaikan. Pahala itu akan mengalir dari banyak orang yang telah engkau beri kebaikan. Bahkan dari orang lain yang telah diberikan kebaikan dari orang pertama yang engkau beri kebaikan itu, hingga seterusnya. Maka seberapa lama pahala itu akan mengalir kepadamu hatta engkau telah menjadi penunggu kubur kerana ilmu bermanfaat yang engkau sebarkan.

Sebaliknya…
”…Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun. (HR Muslim).

Cacian, makian, hasutan, kesia-siaan, pornografi, dan penentanganmu pada alHaq yang engkau sebarkan kepada orang lain, sudah sepantasnya gunungan dosa menjadi pemberat pada timbangan sebelah kirimu, tak ada yang bisa merubahnya kecuali dengan rahmat TuhanMu. Itupun kalau engkau pantas menerimanya.

Tak berpanjang lebar, akankah engkau menjadi salah satu prajurit kecil pengusung dan pembawa kemasalahatan pada yang lain atau sebaliknya? Terserah padamu neraca itu berat ke kanan atau sebaliknya? Atau terserah padamu, kitab itu diserahkan padamu dari sebelah kanan atau dari arah belakangmu sembari dilempar?

Kalau engkau pilih yang pertama, sebaik-baiknya tempat adalah untukmu. Jika yang engkau pilih adalah yang terakhir maka tak perlu engkau hidup saat ini juga (aku berlindung pada Mu ya Allah dari semua ini).
Kini peluang itu ada dihadapanmu. Kini pilihan itu ada ditanganmu…

###dialog antara aku dan aku
sebuah introspeksi diri

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
teh manis terhidang di meja
21:52 13 Pebruari 2006

siapa lagi kalau bukan engkau?


14.02. 2006 – siapa lagi kalau bukan engkau?

jiwaku luruh pada ingatan
bersimbah kenangan menusuk-nusuk
tak sanggup mengurainya dengan pena
yang merintih pada secarik kertas putih kosong
tetap tak terisi dengan berjuta kata merayu

jiwaku luruh pada esok
yang menggenggam hati tiada keindahan
rapuh tanpa harapan
hanya bersandar pada ranting kecil dan dahan cemara
tetap tak peduli dengan halimun yang membekukan

jiwaku luruh pada untaian pemanis lidah
hingga doa perpisahan kudengarkan
“kan kuutuskan salam ingatanku
dalam doa kudusku sepanjang waktu
ya Allah bantulah hambaMu
mencari hidayah daripadaMu” (brothers)

maka siapa lagi kalau
bukan sahabat sejati
yang akan menggenapkan jiwamu
hatimu
bahkan hidupmu

maka siapa lagi kalau
bukan engkau air jernih yang mengalir
dari lembah penuhi danau-danau gelora
hingga memuara pada samudera bahagia
maka siapa lagi kalau bukan engkau?

dedaunan di ranting cemara
20:48 12 Pebruari 2006
malam-malam penuh doa

Gudang Ebook


08.02.2006 – GUDANG EBOOK (Ayo Diunduh…)

GUDANG E-BOOK

Dalam suatu perburuan buku di sebuah pameran kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, saya mendapatkan buku yang pernah saya idam-idamkan waktu di SMP dulu. Buku ini berjudul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart (1978) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H. Mahbub Djunaidi (1982).
Karena buku itu sudah habis terjual di seluruh toko buku di Jatibarang, tempat saya tinggal, saya akhirnya berusaha mencari di kota Cirebon, hasilnya sama NIHIL. Saya menyerah untuk mencari buku itu.
Baru setelah dua belas tahun kemudian, tanpa sengaja saya menemukannya di pameran buku tersebut. Dengan harga 50 ribu—kalau tidak lupa—saya dapat memiliki buku itu. Dan telah lama buku itu selesai dibaca.
Dalam buku tersebut diurutkan tokoh-tokoh yang paling berpengaruh terhadap jalannya sejarah dunia. Sang pengarang buku menempatkan Nabi Muhammad SAW pada rangking pertama (Coba bandingkan saat Arswendo menempatkannya pada urutan ke tujuh). Dan banyak lagi tokoh-tokoh lainnya, entah itu sang penemu, ilmuwan, filsuf, atheis, diktator, penakhluk dan lain sebagainya.
Menurut saya buku ini bagus sekali untuk dibaca dan dimiliki. Dengan membacanya Anda akan mempunyai wawasan luas tentang pertimbangan-pertimbangan apa tokoh-tokoh tersebut berpengaruh terhadap putaran sejarah manusia.
Apalagi di sana pun ada tokoh seperti Umar Bin Khaththab dengan banyak usahanya dan kebesarannya pada saat ia memerintah dunia Islam, ia mampu mengalahkan tokoh-tokoh lainnya. Pokoknya saya merekomendasikan pada Anda bahwa buku ini layak untuk Anda baca.
Jikalau Anda kesulitan untuk mencarinya, ternyata buku itu punya versi e-booknya. Dan itu baru saja saya temukan pada hari ini, yaitu saat saya mengobok-obok situs Kanwil Sidoarjo, tepatnya pada alamat:
http://kwlsidoarjo/download/Software/

Coba saja Anda mengunduhnya. Tampilannya sungguh menawan hati. Ditambah dengan gambar-gambar dari tokoh-tokoh itu. Tapi jangan berharap Anda akan menemukan gambar Baginda Mulia Nabi Muhammad SAW. Karena dalam Islam penggambaran beliau adalah sesuatu yang diharamkan. Apalagi dengan mengkarikaturkan beliau dengan berbagai penggambaran yang tercela. Na’udzubillah.
Setelah saya buka e-book itu, saya mendapatkan informasi lain bahwa sumber e-book itu diunduh dari situs :
http://www.pakdenono.com
Berhubung komputer saya ini terhubung dengan internet dan lagi bagus jaringannya walaupun melalui proxy, saya mencoba surfing ke sana. Dan hasilnya adalah di sana banyak Ebook Islam, Ebook Kristologi, Artikel Islam, Mp3 Ceramah Kristologi, Situs, Artikel & Buku Harun Yahya berbahasa Indonesia lengkap dengan gambar berformat file zip /chm.
Berikut link-link yang ada pada situs itu:
Download buku Islam / ebook Islam, buku kristologi & artikel Islam file chm:
HJ. Irena Handono,muallaf mantan biarawati : Islam Dihujat – (menjawab buku Robert Morey, The Islamic Invation).
Michael H. Hart : 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah.
Dr. Maurice Bucaille : Bibel, Quran & Sains Modern.
Prof. H.S. Tharick Chehab : Alkitab (Bible) / Sejarah Injil.
Prof. Dr. M.M. Al-A’zami : Sejarah Teks Alqur’an. Terjemahan dari buku : The History of The Qur’anic Text.
Professor James Barr : Alkitab di Dunia Modern
Ahmed Deedat : The Choice Islam & Christianity.
Hartono Ahmad Jaiz : Kumpulan buku karya Hartono Ahmad Jaiz.
DR Yusuf Al Qardhawi : Fatwa Fatwa DR Yusuf Al Qardhawi.
Adnin Armas, M.A : Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran.
Prof David Benjamin Keldani, bekas Uskup Kaldea : Muhammad SAW dalam Perjanjian Lama & Baru.
dll.

Download Web Site file chm lengkap dg gambar:
Seluruh situs Harun Yahya bahasa Indonesia:
http://www.yesusakankembali.com, http://www.bangsamusnah.com, http://www.keajaibanalquran.com,
http://www.dibalikperangdunia.com, http://www.tragedipalestina.com,
http://www.evolutiondeceit.com (keruntuhan teori evolusi) & http://www.insightmagazine.com
– Kumpulan Buku Harun Yahya –
– Kumpulan Artikel Harun Yahya dalam 1 file chm –
– MCB Swaramuslim / Swaramuslim Cyber Book –
– Artikel-artikel Mediaisnet –
Kebohongan Kristen, dari http://www.geocities.com/
dll.

Download mp3 Islam – Kristen:
Ceramah Kristologi:
– Yesus Ternyata Poligami – (DR. H. Sanihu Munir, Kristolog)
– Strategi Memurtadkan Ummat Islam – (HJ. Irena Handono, muallaf mantan biarawati)
– Perayaan Natal Antara Dogma & Toleransi – (HJ. Irena Handono, muallaf mantan biarawati)

dan puluhan eBook lainnya…
Halaman Download Gratis

wewewepakdenonodotkom

Akhirnya saya menemukan juga gudang e-book yang bermutu setelah lama mencari di mana situs yang menyediakan e-book tentang Islam secara gratis. Jadi kembali saya merekomendasikan kepada Anda untuk menjadikan situs itu sebagai situs favorit Anda.
Saya cuma bisa mendoakan semoga yang menyediakan situs itu mendapatkan pahala atas usahanya. Terutama pula kepada yang membuat program ebook-nya. Serta para penulisnya karena ini pun demi tersebarnya pengetahuan Islam agar peradaban Islam kembali jaya.

Allohua’lam.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Antara AGIVA, AGV, dan INK


07.02.2006 – Antara AGIVA, AGV, dan INK

Kemarin sore saya membeli helm bermerek Agiva di sebuah toko kecil di bilangan Lenteng Agung. Toko aksesoris itu memang telah menjadi tempat favorit saya untuk membeli pernak-pernik motor. Selain pelayanannya yang ramah juga harga yang ditawarkan sepertinya bersaing juga.
Sebelum membeli helm itu saya sempat surfing di internet untuk mencari helm apa yang bagus mutunya dan direkomendasikan kepada para pengguna motor. Dan saya menemukannya pada sebuah forum diskusi yang dikelola oleh Honda Tiger Mailing List. Kebanyakan dari mereka setuju bahwa helm bermutu dengan harga yang ekonomis adalah helm bermerek Agiva itu. Harganya pun berkisar 350 ribuan ke atas. Wow…
Nah dari hasil surfing itulah saya berkeinginan untuk membelinya, tapi dalam masalah harga sempat mikir juga sih. Semula saya mau berburu di sepanjang jalan Otista untuk membelinya, karena di sana sudah terkenal dengan harganya yang miring. Tapi berhubung saya tak mempunyai waktu banyak karena pekerjaan yang menumpuk, juga karena saya tak bisa menundanya terlalu lama.
Saya tidak leluasa membonceng Qaulan Sadiidan tanpa ia memakai helm. Maklum helm catoknya yang nonstandar itu ketinggalan. Ia pun tak sempat untuk kembali untuk mengambilnya dan sudah pasti hilang. Jadi ini kesempatan saya untuk dapat membeli helm yang standar untuknya.
Saya bersikeras untuk tidak membeli helm catok yang dihargai cuma dengan dua lembar uang sepuluh ribuan, karena harga kepala kita tidak semurah itu. Nilainya sungguh tiada dapat dibandingkan dengan segala apapun isi bumi dan langit.
Akhirnya dalam perjalanan pulang sore kemarin, saya sempatkan mampir di toko kecil itu. Di sana saya disodori helm bermerek INK dengan harga 350 ribu rupiah. Sedangkan Agiva malah dihargai cuma 165 ribu perak. Loh kok beda banget dengan harga yang saya ketahui di forum diskusi itu. Malah lebih mahal helm bermerek AGV daripada Agiva. Dan kata si penjaga toko itu kualitas AGV jauh di atas Agiva.
Yang jadi pertanyaan adalah helm merek Agiva itu memang bertanda AGIVA di bagian belakang dan atasnya, tapi kenapa plastik pembungkus kaca pelanginya itu bertanda WTC? Apakah Agiva itu memang buatan WTC seperti yang dikatakan sang penjaga atau kaca helmnya saja yang memang buatan WTC? Dan kenapa harganya murah daripada harga yang direkomendasikan di internet?
“Jangan-jangan palsu lagi?” terbersit pertanyaan itu. Tapi berhubung hari sudah menjelang maghrib dan memang saya membutuhkannya segera, ditambah harganya yang tidak mahal-mahal amat, jadi juga saya membelinya.
Saat memakainya saya merasakan suasana yang berbeda dengan waktu memakai helm putih bawaan pabrik motor. Kaca pelanginya lumayan tidak membuat pandangan saya menjadi terhalang. Dan seperti benar-benar tanpa kaca, bening. Cahaya yang masuk pun dapat dikurangi. Juga dengan kerapatannya membuat suara sekeliling yang masuk ke telinga berkurang banyak. Ini memungkinkan saya lebih berkonsentrasi dalam berkendara. (Benar nggak sih, atau ini cuma karena masih baru?)
Untuk membuktikannya tinggal tunggu saja waktunya. Dengan itu saya bisa menilai Agiva yang saya pakai ini bermutu atau tidak. Juga apakah ia asli atau palsu. Dan apakah pameo kuno “ada harga ada rupa” berlaku juga pada merek ini. Atau dari pembaca ada yang lebih tahu tentang Agiva?

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:32 07 Februari 2006

Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams


06.02.2006 – Jejak Lalu pada Boulevard of Broken Dreams
Dulu seorang kawan berlama-lama berpisah dengan sang bidadari tercinta hingga tak sanggup memendam kerinduan di antara waktu-waktu sepinya, sunyinya, sendirinya. Hingga ia tak sanggup mendengar hujan yang merintih di atas genting, kabut yang menguap di setiap paginya, embun-embun yang mengelopak di setiap tangkai rumput, air sungai yang menggelorakan hasrat, dan pada lagu-lagu yang khusus dibuat untuk para pecinta.
Tak perlu memintanya padaku untuk membuatkan syair, karena aku pun pasti mau membuatkannya dan memberikannya pada sahabat terbaikku ini. Sempat tersentak sudah dua purnama tak mengukir kata, maka kembali kureliefkan ia pada waktu yang terus berjalan. Dan inilah:
JEJAK LALU
siapa yang tak merindu jejak lalu
terpatri pada hamparan pasir
berbuih ombak dan
berselendang angin
hingga terhapus oleh masa
siapa yang tak merindu jejak lalu
tersusun pada bait-bait
cinta terakhir
dan selamat tinggal kekasih
hingga aku bisa terbang
siapa yang tak merindu jejak lalu
terdenting pada dawai-dawai
sang buluh perindu
berseruling malam
hingga degung penuh magis
bahkan aku merintih perih
pada saat yang tak berhenti menghinaku
pada bulan yang tega menyabitku
pada matahari yang tersenyum sinis malu-malu
jika engkau masih tetap bertanya
di mana hatiku bila masih penuh dengan bunga
jika engkau bersikeras bertanya
di mana otakku berada
hanya kerana aku masih saja mengais-ngais
tanah naifmu
hingga aku nanar
dan terkapar
cuma nafas tertahan satu-satu
meraup sedetik
hingga tak sempat bertanya:
siapa yang tak pernah merindu?
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
(Boulevard of Broken Dream)
21:10 05 Pebruari 2006