Tujuh Tahun Berpacaran


Tujuh tahun sudah mereka berpacaran. Banyak kisah sedih, banyak kisah gembira membungkusnya. Di setiap hari, di setiap pekan, di setiap bulan, hingga di setiap tahun yang mereka lalui, selalu berusaha untuk bisa memahami diri masing-masing.
Tentunya selalu ada konflik mengiringi, dan di lain pihak ada pula solusi sebagai klimaksnya. Seperti seorang teman mereka selalu katakan: “setiap hari adalah waktu untuk bisa memahami”.
Dari kesepahaman yang dipilin pelan-pelan di setiap detiknya, selalu ada keinginan membentuk jalinan tambang yang kuat. Hingga akhirnya ada saja keberkahan yang diberikan Allah muncul di dalamnya.
Mulai dari hanya sekadar memiliki rumah yang dicicil hingga lima belas tahun. Pemberian kipas angin, televisi bekas, rak plastik, kompor, talenan, magic jar dari banyak kawan yang bersimpati kepada mereka. Lalu perlahan-lahan memiliki alat transportasi yang membuat mereka sedikit berhemat dan dapat lebih mobil ke sana kemari.
Ditambah dengan lahirnya dua prajurit yang mengisi hari-hari mereka dengan keriangan. Lalu dengan sedikit tabungan merenovasi rumah agar bisa menambah kamar tidur untuk anak-anak mereka.
Dan begitu banyak rezeki lainnya yang tak pernah sempat mereka bayangkan sebelumnya. Tak sempat terlintas seumur hidup mereka. Tak berani mereka impikan karena bagaikan pungguk merindukan bulan. Tapi Allah selalu membuka jalan. Dan mereka berkesimpulan inilah berkah yang Allah berikan kepada mereka selama tujuh tahun pacaran, tentunya setelah menikah.
Ya, karena mereka malah tidak mengenal satu sama lain sebelum ikatan sah itu terjalin. Karena mereka lebih menginginkan proses ta’aruf (pengenalan) dan tafahum (pemahaman) berjalan setelah sahnya hubungan mereka secara agama dan negara, maka mereka rela untuk tidak mengenal terlebih dahulu. Biarlah waktu yang akan membuktikan proses ta’aruf dan tafahum itu.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Lebih dari tujuh tahun lalu. Di saat krisis moneter melanda negeri indah ini, dengan azzam yang tak terkira dan tak terbendung oleh manusia di muka bumi pada saat itu, lelaki muda yang baru setahun setengah lulus dari kampus tercintanya ini, melangkahkan kaki dan mengetuk pintu rumah sang murabbi hanya untuk mengatakan: “Insya Allah, saya siap.”
Setelah itu, sepucuk amplop putih tidak terlalu tebal telah berpindah tangan. Dan menjadi pemikirannya di sepanjang perjalanan pulangnya, di pinggiran jendela Kopaja 613. Ia sudah memahami apa yang ada di dalamnya. Gambaran diri seseorang yang kelak akan memenuhi hari-harinya di masa mendatang.
Tapi ia tak mengetahui siapa. Dari sedikit informasi yang diberikan sang murabbi, ia hanya mengetahui di mana ia bekerja. Lalu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, sosok wajah yang baru dikenalnya dalam sebuah kepanitiaan yang belum lama dibentuk. ”Ia kah…?” Sejuta tanya menggelayut di benak.
Ini adalah sebuah konsekuensi. Kesiapannya yang telah ia katakan belum lama telah membentuk sebuah dinding tebal yang tak mudah untuk diruntuhkan. Yang mudah dan sulitnya harus ia bebankan di pundaknya sendiri.
Sudah dua hari ia tak menyentuh amplop putih yang ia taruh di laci meja kantornya. Ia memasrahkan pada Allah apa yang akan ditunjukkanNya kepada dirinya. Hanya harap yang terbaik yang diberikan kepadanya, sambil mengingat dialognya dulu.
”Kriterianya apa?”tanya sang murabbi.
”Terserah antum, Ustadz. Bekerja atau tidak, bukan masalah. Lebih tua atau muda, bukan masalah. Kaya atau miskin, bukan masalah. Sekalipun janda itu pun bukan masalah bagi saya. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Ustadz, Insya Allah, siapapun yang antum tawarkan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir. Sehingga tidak perlu mengulang proses semuanya dari awal,”jawab lelaki itu panjang, bernas.
Lalu hari ketiga, setelah dhuha yang cerah, saatnya ia menguatkan hati untuk membuka amplop putih itu. Bismillah. Secarik kertas dengan satu lembar pasfoto hitam putih ukuran 4 x 6 telah di genggaman tangannya.
Ternyata bukan yang pernah terlintas dalam pikirannya. Tidak pernah ia kenal. Dan ia pun baru tahu namanya saat itu walaupun perempuan ini adalah adik kelasnya juga. Yang paling mengejutkan bagi dirinya adalah perempuan ini pun menjadi ketua keputrian dalam acara forum silaturahim itu.
Maka ajang rapat final menjadi saat tepat untuk melihat calon pendamping dari dekat. Secukupnya tentu. Lelaki ini pun yakin sang perempuan belum mengetahui bahwa data dirinya ada padanya.
Lalu acara yang diselenggarakan di daerah pegunungan tersebut pun lagi-lagi menjadi saat tepat bagi lelaki muda ini untuk melihat perempuan itu lagi. Tentunya dengan mencuri-curi pandang.
”Ah, inikah yang Allah tunjukkan untukku…?”tanyanya dalam hati.
Lalu setelah acara itu selesai, tanpa menunggu lebih lama lagi lelaki ini langsung meneruskan perjalanan menuju tempat sang murabbi, hanya untuk mengatakan: ”Insya Allah, ya.”
Lagi, di sepanjang perjalanan pulang dengan Kopaja 613, semuanya menjadi bahan perenungannya. Jatidirinya telah ia serahkan kepada sang murabbi untuk diteruskan kepada perempuan itu dengan foto berwarna seukuran kartu pos. Lelaki dalam foto itu bersetelan jas dan dasi pemberian saat menjadi anggota kepanitian wisuda, tentunya dengan senyum sedikit yang tersungging di wajah.
Kini bola ada di tangan perempuan itu yang akan memutuskan menerimanya atau tidak.Dan ia akan sabar menunggu. Entah sampai kapan. Ia cuma berharap akan adanya sebuah kepastian di genggaman tangannya, agar bisa melanjutkan proses selanjutnya perkenalan atau melihat jatidiri orang lain lagi.
Dua minggu setelah itu, tepatnya pada pergantian tahun, kabar kepastian itu datang pada lelaki muda itu.
”Bagaimana ustadz?”
”Insya Allah tidak menolak.”
”Alhamdulillah, lalu kapan kita akan ta’aruf, ustadz?”
”Tidak usah, langsung saja tanya, kapan antum bisa pergi ke orang tuanya untuk menentukan tanggal khitbah dan akadnya.”
Lelaki ini memaklumi tidak ada proses ta’aruf dengan perempuan itu dikarenakan perempuan ini binaan dari istri ustadz itu sendiri. Berarti sudah tahu betul tentang perilakunya. Pun ini agar prosesnya tidak bertele-tele sesuai keinginan lelaki muda itu sendiri.
Akhirnya satu bulan kemudian dengan seorang sahabat terdekatnya, lelaki itu memberanikan diri pergi bersilaturahim dengan keluarga pihak perempuan. Dengan niat baik agar tidak ada zinah hati di antara mereka, maka lelaki itu meminta agar proses khitbah bisa dipercepat.
Satu bulan berikutnya setelah kedatangan pertamanya, maka lelaki itu kembali dengan rombongan kecilnya untuk mengkhitbah sang perempuan. Tanggal pelaksanaan akad nikah pun ditentukan satu bulan setelah khitbah ini.
Suatu waktu yang diluar harapan sang lelaki. Tidak perlu berlama-lama dan cuma mengucapkan akad di depan penghulu, itu sudah lebih dari cukup. Namun pihak keluarga perempuan memandang lain, bahwa ini adalah kesempatan pertama menikahkan anak perempuannya, maka sudah selayaknya ada suatu walimatul ’urusy.
Akhirnya, tiba saat itu, saat di mana sesuatu yang haram menjadi halal, sesuatu yang dilarang menjadi diperbolehkan, sesuatu yang penuh shubhat menjadi ladang amalan sunnah. Walimatul ’urusy yang menjadi puncak penantian selama kurang lebih empat bulan lamanya terlaksana dengan lancar, tentu dengan syarat bahwa ada pemisahan antara tamu pria dan wanita, tidak ada kemubadziran, mengundang tanpa membedakan status seseorang, dan semua ini membuat mata-mata itu memandang heran kepada pasangan baru tersebut.
Sejak saat itulah, proses pacaran itu dimulai untuk bisa saling memahami, mengerti, dan mencintai apa adanya karena Allah ta’ala. Di sana ada tarik ulur, mengalah, diam, marah, sedih, negosiasi, proses komunikasi verbal, bahasa tarbawi dan dakwah, bahkan ssst…dengan bahasa cinta.
Tentu ada saja riak gelombang yang mengguncang perahu yang berlabuh di dermaga. Kadang besar, kadang kecil, membuat perahu itu semakin berkeyakinan ini adalah bentuk ujian untuk bisa menuju kesempurnaan bahkan paripurna dari suatu pemahaman. Lelaki itu cuma bisa berharap agar Allah menguatkan dirinya untuk dapat melindungi dirinya dan perempuan yang telah menjadi istrinya itu dari panasnya siksa api neraka.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Ah, lelaki itu masih saja membuka album pernikahannya. Memandang sosok-sosok yang telah membantu mereka agar proses itu cepat selesai, tetap pada koridor Islami, dengan doa, kerja keras tak mengenal lelah, dan jauh dari keluarga. Sungguh tiada balasan yang lebih baik daripada balasan yang Allah berikan kepada mereka.
Senja itu sama seperti senja tujuh tahun lalu, yang masih saja menguning dengan matahari yang membulat. Tiba-tiba anginnya menelusup sejuk melalui sela-sela jendela, membuai, dan menyadarkan masih ada kenangan yang tersisa di antara selaput otaknya yang sudah mulai kehilangan sebagian memorinya. Ah tidak, tidak hilang untuk memori tentang sebagian dari mereka.
Senja itu masih sama seperti senja tujuh tahun lalu…
****

Lelaki yang kini sudah tidak muda lagi itu dan tentunya kini sudah dengan dua prajurit kecilnya, menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawan seperjuangannya yang telah membantu banyak di waktu tujuh tahun lalu itu.
Kepada akh Lukman Bisri Hidayat: sang pendamping setia dan sang saksi, akh Ujang Sobari, akh Ramli, akh Bambang (munsyid Najmuddin), akh Binhadi (MC berbahasa Jawa) akh Henjang, akh Anang Anggarjito, semoga Allah merekatkan ukhuwah dan mengumpulkannya kembali kelak di surga-Nya.
Sang Perempuan menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawannya pula: yakni untuk ukht Ira Melati (seseorang yang sempat terlintas di benak lelaki muda itudan menduga data di amplolp itu adalah data dirinya), Kwatri, Dini, Tari, Azimah Rahayu (yang tak sempat untuk menjadi ketua panitia), Mela, Fitri, Mbak Erna, dan lain sebagainya.
Kata kedua pasangan itu kepada saya, ”maaf untuk yang belum disebut namanya, sesungguhnya Allah Mahamengetahui, dan Mahapembalaskebajikan.”

Jika malam masih meracau dengan kesunyiannya,
maka terlelaplah engkau segera, karena dunia belumlah kiamat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:14 02 April 2005

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s