Whenever, Whereever


21.03.2006 – Whenever, Whereever

Terpikir tidak sih bahwa dosa-dosa yang telah dan sering kita lakukan begitu banyaknya sehingga tidak bisa dihitung. Mungkin dosa-dosa besar memang tidak kita lakukan (amit-amit yee, dan semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian), tapi dosa-dosa kecilnya itu loh. Yang sedikit demi sedikit, disadari atau memang sengaja dilakukan, tahu-tahu bertumpuk dan sudah setinggi gunung, sedalam samudra.

Mulai dari kedengkian kepada teman atau tetangga, dendam tiada berkesudahan, mulut yang tidak bisa diredam untuk tidak menyakiti hati orang lain, mencela, mengoleksi kata-kata hinaan, menggunakan mata, tangan, dan kaki kita untuk melakukan keburukan-keburukan kepada sesama, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lalu terpikir tidak sih pada sedikitnya kebaikan yang telah kita lakukan karena kita susah sekali untuk membuat wajah kita enak dipandang mata dengan senyum yang terindah tersungging di wajah. Atau menyapa saudaranya dengan salam rahmat dan perdamaian padahal seringkali mulut terasa kaku dan kelu.

Pula karena kita tidak pernah mengikhlaskan hati untuk memaafkan, berinfak dengan harta yang kita punyai di waktu lapang atau sempit, mendoakan orang tua dan keluarga, mengasihi yang lebih muda, menghormati yang labih tua, persangkaan yang baik, menyingkirkan duri, dan berjuta-juta kebaikan lainnya.

Maka terpikir tidak sih ketika mizan kebaikan dan keburukan di pertontonkan kepada kita kelak, kita akan terkejut bahwa sejuta kebaikan yang pernah kita lakukan dan persangkakan menjadi pemberat timbangan ternyata nihil dan terangkat pada sisi lainnya karena lebih banyak keburukan yang kita lakukan. Dan kita akan diberikan kitabnya dari belakang, sehingga kita akan berteriak: “celakalah aku”.

Lalu kita hanya mengandalkan dan berharap pada rahmat Allah, syafaat Rasulullah, dan orang-orang yang mati berperang di jalan Allah? Itu pun dengan izin Allah yang seringkali kewajibanNya yang diperintahkan kepada kita diabaikan begitu saja di dunia. Penyesalan pun sia-sia.

Masya Allah, selagi belum terlambat, semasa nafas masih menghela, sesaat waktu yang kian cepat berlari, begitu banyak ladang kebajikan terhampar di depan kita. Tidak perlu yang besar-besar dengan memberikan banyak hadiah kepada teman dan berinfak dengan seluruh harta kita, jikalau engkau belum mampu untuk melakukannya. Tidak memulainya terlebih dahuku dengan berjihad berperang di jalan Allah, selagi di dalam hati kita masih saja punya cinta dunia dan takut mati.

Yang kecil, saat ini, begitu banyak kebaikan yang telah ranum dan siap untuk dipetik oleh kita. Meluruskan niat salah satu contohnya saja sudah membongkar perangkap syirik yang siap memenjarakan kita. Yang kecil, saat ini juga.

Atau seperti teman saya ini, kerana menyadari bahwa masih sedikitnya kebaikan yang ia lakukan dan betapa banyaknya sarana atau wasilah yang ia miliki. Ia tidak segan-segan untuk selalu membagi-bagikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena ia ingat:

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong[353] dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (Annisa:123)

Ia mengerti betul bahwa ketika ia membagi-bagikan kebaikan maka ada energi kebaikan yang ia akan dapatkan. Dan ia mengerti betul di kala keburukan yang ia sebarkan, maka ada energi keburukan yang akan memantul pada dirinya. Sehingga dengan ini ia akan berhati-hati dan berpikir dua kali untuk menyebarkan keburukan. Sehingga dengan ini pula ia bersegera dan bersemangat untuk melakukan kebaikan kerana pahalanya itu akan mengalir pada dirinya entah sampai kapan.

Maka contohlah ia yang selalu di setiap paginya, sesaat akan berangkat ke kantor, ia membersihkan jalan depan rumahnya dari segala sesuatu yang mengakibatkan orang lain sengsara, seperti batu-batu jalanan dan benda-benda tajam. Maka contohlah ia yang selalu membagi-bagikan peraturan perpajakan yang terbaru kepada para peserta milis yang membutuhkannya.

Contohlah ia—karena ketidakpunyaan yang dirasakannya—mengazamkan diri untuk tidak datang terlambat pada pertemuan di setiap pekannya, dan mengisi di tempat-tempat lain dengan hanya menaiki sepeda kayuh.

Contohlah ia yang berusaha untuk tetap memberikan senyuman yang terindah kepada istrinya setelah tiba di rumah walaupun di tengah lelah yang menghimpit kerana berdesak-desakan di atas kereta api sore hari. Contohlah ia yang tak pernah tega untuk mengucapkan kata-kata keras kepada anak-anaknya.

Contohlah ia yang tidak pernah memaki, menghina, ataupun mengeluarkan persangkaan buruk kepada saudara seimannya. Contohlah ia yang di dalam setiap doanya selalu meminta agar para tetangganya mendapatkan kebaikan dan rahmat dari Allah Yang Mahakaya. Contohlah ia yang tak pernah menuduh orang lain berbuat curang sebelum ia telah menunjukkan keempat jarinya pada dirinya sendiri lalu ia menasehatinya.

Ah…begitu banyak kebaikan yang bisa dilakukan teman-teman saya ini. Sungguh saya ingin meniru mereka, dengan menyebar banyak kebaikan. Kapan saja, di mana saja. Apa saya bisa? Mereka bisa, kenapa saya tidak?

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih saja seperti ini

10:45 21 Januari 2006

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s