SANG MUTAAKHIR


SANG MUTAAKHIR
Oleh: Riza Almanfaluthi

Anak itu memandang dengan tatapan kosong ke dalam kelas dari balik pintu. Dari wajahnya tergurat kesedihan dan bekas airmata yang tertahan di pipinya. Ya, sedih karena ia terlambat dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti tes masuk Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Hikmah, padahal terlihat bahwa Ibu Penguji baru saja membagi-bagikan kertas soal ujian dan belum memulai memberikan waktu kepada anak-anak untuk mengerjakan soalnya.
Sang ayah menghampiri sang anak, “Sudahlah mas, nanti tunggu saja dulu yah. Mas boleh kok ikut ujian masuk, tapi nanti yah setelah semuanya selesai. Sesudah ujian tertulis ini nanti ada permainan yang akan dinilai, Mas bisa ikut gabung, dan sesudah permainan itu, baru Mas ikutan ujian susulan.”
Sang ayah dan ibu dari anak itu memang terlambat datang dari jadwal yang sudah ditentukan, yakni pukul delapan tepat. Dikarenakan ketidakjelasan informasi dari pihak pengelola, sampai pada hari H ada saja yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut, mulai dari si Dedek yang rewel, mengatur belanjaan yang harus dimasak untuk para tukang di rumahnya, hingga urusan bahan bangunan yang harus segera diperoleh. Jadilah pukul 08.30 pagi sang ayah berangkat dengan mobil butut tahun 91-an yang ia pun harus berjalan berlambat-lambat ria karena ia belum mahir mengendarai roda empat.
Pukul setengah sepuluh tiba di SDIT cabang Cipayung yang pusatnya di Bangka Mampang itu. Tatapan banyak orang tua atau wali calon murid mengiringi rombongan kecil memasuki tempat ujian. Celetukan dan sedikit perkataan bernada candaan terlontar dari mulut mereka yang sebenarnya adalah teman-teman sang ayah dan ibu. “Wah…akhi ente muta-akhir.”
Celetukan yang sebenarnya adalah sekadar nasehat itu bagi sang ayah bukanlah menjadi pelipur kegundahan dirinya karena telah datang terlambat, bahkan menjadi sesuatu yang telah menggores dan melukai hatinya. Bagi sang ayah nasehat yang diberikan bukan pada tempat dan waktunya bahkan menjadi sesuatu yang kontraproduktif dan sia-sia.
Tanpa memedulikan semua celetukan tersebut, sang ayah pun pergi ke ruang sekretariat panitia, itu pun tanpa ada teman yang membantu tanpa diminta untuk menunjukkan ruangan ataupun prosedur yang harus dijalani.
Sang ibu bersegera naik kelantai dua—setelah bertanya di mana tempat ujian berada. Ketergesaannya ternyata sia-sia, sang anak tidak diperbolehkan masuk walapun soal ujian baru saja dibagikan.
“Nanti saja, di gelombang berikutnya, kalau tidak hari ini berarti ya besok pagi,” kata sang penguji tegas tapi sedikit ketus. Sang ibu cuma bisa tertegun dan berpikir bahwa kemungkinan besar sang anak tidak akan bisa diterima di sekolah ini. Dus, pernyataan ini telah meluluhlantakan benteng keteguhan sang anak yang sempat mendengar semuanya. Isaknya mulai terdengar.
Dengan berjalannya waktu, ternyata tidak hanya satu anak saja yang terlambat, masih ada sekitar empat teman sebayanya yang mengalami hal yang sama, salah satunya adalah anak dari ustadz ternama. Dengan jumlah yang sedemikian maka peluang masih terbuka untuk mengadakan ujian susulan pada hari itu juga.
Setelah beberapa waktu lamanya, ujian calistung (baca tulis menghitung) itu pun selesai. Saatnya sang anak untuk bergabung dengan permainan keaktifan yang dinilai. Cuma setengah jam saja kiranya. Setelah itu bagi yang sudah selesai ujian permainan ini mereka diperbolehkan untuk mengukur baju seragam yang kelak akan dipakai nanti setelah pengumuman penerimaan.
Sedangkan sang anak kini saatnya untuk masuk kembali ke dalam kelas mengikuti ujian susulan yang akan menentukan ia dapat sekolah di sana atau tidak. Sang ayah dan ibu masih berdiskusi dan memikirkan untuk mengambil formulir pendaftaran di sekolah lain untuk antisipasi ketidaklulusan.
Tiba-tiba panggilan dari pengeras suara mengusik diskusi mereka. Sang ayah dan ibu memasuki ruang kelas di bawah untuk diwawancarai tentang perkembangan sang anak dari maslah kesehatan dan aktivitas kesehariannya. Tidak lupa mengisi formulir kontribusi yang dapat diberikan kepada sekolah ini. “Semoga lulus ya Pak,” kata pewawancara mengakhiri.
***
Matahari sudah meninggi dan mulai tergelincir ke bawah. Siang terasa terik tapi itu tidak lama karena sesaat kemudian mega mendung dari utara begitu cepatnya menutupi langit di atas. Bahkan tiada terasa rintik-rintik mulai turun satu-satu. Tidak deras, cuma rintik belaka.
Dalam perjalan pulang, sang ibu bertanya kepada sang anak, “bagaimana ujiannya sayang? bisakan?” Sang anak Cuma tertawa-tawa saja seperti melupakan apa yang baru saja ia tangisi dan kerjakan itu.
Sang ibu masih tetap bertanya sembari mendiamkan sang dedek yang mulai kambuh rewelnya, “Mas, tadi menuliskan nama di kertas soal, nama yang mana?”
“Nama panggilan,” jawabnya dengan enteng. Lengkap sudah jawaban itu melengkapi kegundahan mereka terhadap kelulusan sang anak. Karena nama panggilan tersebut jauh berbeda dengan nama lengkap yang ia punyai.
Sang ayah dan ibu saling berpandangan.

***
Empat hari kemudian, pesan pendek dari teman sang ibu yang sekaligus juga adalah panitia penerimaan mampir. Isinya konfirmasi tentang soal ujian dari sang anak, karena ternyata nama sang tidak ada dalam daftar induk nama-nama calon siswa.
Siangnya telepon genggam sang ibu berdering. Melihat sepintas pada layar dan langsung menempelkan di telinganya.
“Ya, Bu…ada kabar buat saya?” tanya sang ibu.
“Iya tuh, bagaimana yah dengan anak ibu…” jawab di seberang sambil menghela nafas, memperlambat bahkan menghentikan suaranya.
Dengan adanya suasana itu membuat sang ibu sudah memasrahkan segalanya pada Sang Kuasa. “Ya, sudahlah, nggak apa-apa kok nggak lulus,” kata sang Ibu pelan.
“Ya sudahlah, yang sabar ya Bu. Tapi ngomong-ngomong kata siapa anak Ibu tidak lulus?”
“Ya Ibu tadi bukan…”
“Ah, saya tidak berkata demikian, malah saya mau mengabarkan kepada Ibu bahwa anak ibu itu lulus dan rangking satu di kelas Mangga. Nilainya mendapat 9,75 poin.”
“Masak…? Alhamdulillah…” puji sang ibu.
Ternyata semua itu cuma godaan dan candaan dari sang teman ibu.
Sang ibu segera membagi kebahagiaannya pada sang ayah. Sujud syukur dan dhuha menjadi penghias pagi dengan matahari yang sudah sepenggalah.

***
Nama sang anak itu memang berada di urutan pertama saat dilihat pada malam harinya oleh sang ayah sepulang dari tempat kerjanya. Ada deg-degan juga. Ini mengingatkan sang ayah dan sang ibu pada kenangan masa lampaunya saat setiap kali pengumuman semesteran di kampus dulu. Kenangan di kampus yang sering men-DO-kan mahasiswa yang indeks prestasinya di bawah standar yang ditetapkan.
Ah, ya nama sang anak itu berada di urutan pertama. Subhanallah, padahal mereka sering underestimate pada sang anak. Walaupun prestasi di taman kanak-kanak juga telah membuktikan kesalahan penilaian mereka pada sang anak, tapi itu belumlah cukup. Kini yakinlah mereka pada sang anak.
“Jangan pernah berpikir itu lagi,” tekad mereka. Dan jangan pula meremehkan dia. Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir, karena Abu Dzar pun mutaakhir, tapi ia tetap menyusul rombongan Rasulullah yang telah lama pergi untuk berjihad.
Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir. Perkataan yang juga layak ditujukan kepada teman sang ayah dan ibu.
Ah, ya nama anak itu cuma: Maulvi Izhharulhaq A.

*******


BIODATA

Nama : Riza Almanfaluthi, S.Sos. MM
Tempat/tanggal lahir : Jatibarang, 24 Juli 1976
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah dengan satu istri dua anak
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
NIP : 060089098
Pangkat/Gol. Ruang : Penata Muda/IIIa
Jabatan : Account Representative
Alamat Kantor : Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat
Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
12750
Alamat Rumah : Komplek Puri Bojong Lestari Blok HH No.23 RT. 11 RW.17
Pabuaran, Bojonggede, Bogor
Alamat email : almanfaluthi@gmail.com
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
URL : http://dirantingcemara.blogspot.com
Nomor Rekening : 0060005113679
Bank Mandiri Cabang Dewi Sartika
a.n. Riza Almanfaluthi

Riwayat Pendidikan:
– Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (lulus tahun 1988);
– Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (lulus tahun 1991);
– Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (lulus tahun 1994);
– Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan
Keuangan, Departemen Keuangan (lulus tahun 1997);
– Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik
Indonesia (STIA LAN RI) Jurusan Administrasi Bisnis (lulus tahun 2002);
– Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
(lulus tahun 2007).

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s