SIGAP TERHADAP AIB, GAGAP TERHADAP KELEBIHAN


SIGAP TERHADAP AIB, GAGAP TERHADAP KELEBIHAN

By: Riza Almanfaluthi

        

IslamediaKetika saya ditanya seorang teman tentang tiga kelemahan dirinya, saya dengan cepat dan sigap menyebutnya satu persatu. Tetapi ketika kemudian saya ditanya lagi tentang tiga kelebihan dirinya, maka mulut saya seperti Aziz Gagap. Ehhhh…ehhhh…Lola. Loading Lambat. Berpikirnya lama. Sambil bertanya-tanya, “apa ya?”

    Jelas sudah, ini tabiat manusia. Kalau dengan kelemahan, keburukan atau aib seseorang pikiran kita dengan cepat mengumpulkan informasi itu. Atau sebenarnya memori terdalam kita sudah lama menjumput semua kelemahan-kelemahan orang lain seperti kita mengukir di atas batu. Tetapi jika dengan kebaikan seseorang kita mudah untuk melupakannya seperti menulis di atas air.

    Padahal di saat kita menimbang-nimbang kelemahan orang lain, sudah menunggu begitu banyak kelemahan diri yang perlu untuk dihitung-hitung. Inilah yang sering diungkap dalam sebuah pepatah yang mengatakan, “semut di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Maka sebenarnya jika diri kita mampu untuk mengevaluasi diri, tidaklah akan sempat kita untuk menghitung-hitung dan mencari-cari kelemahan atau aib orang lain. Pun karena takut, kalau-kalau Allah akan mengungkap aib kita kelak. Tidak hanya itu, Al Qarni dalam sebuah ungkapan menyebutkan bahwa evaluasi diri mampu menjadikan harapan kita kepada orang lain lebih seimbang (tak berlebihan) dan membuat kita menjadi simpatik kepada orang yang berbuat kesalahan.

    Setiap orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Itu sudah pasti. Dan untuk menjadi timbangan penilaian adalah sebanyak apapun kelebihan seseorang tetaplah ia bukan malaikat yang tak pernah berbuat kesalahan. Saat melihat kelemahannya maka kita memaklumi bahwa Ia hanya manusia yang tak sempurna, tempatnya lalai dan dosa.

Atau dengan kata lain, dengan ukuran apa seseorang itu sudah dapat disebut sebagai orang yang baik atau orang yang buruk. Tentu ukurannya adalah sejauh mana banyaknya kebaikan itu dapat menutupi keburukannya atau sebaliknya. Contohnya Kita lihat pada sosok yang satu ini.

Sosok Hajjaj bin Yusuf. Ia yang telah mengalungkan kepada Anas bin Malik—ahli hadits dan sahabat nabi terkemuka—dengan sebutan yang sangat menghina. Lebih sadis lagi adalah apa yang pernah ia lakukan beberapa tahun sebelumnya dengan mengirim kepala Abdullah bin Zubair di atas nampan kepada junjungannya, Abdul Malik bin Marwan, yang berada di Damaskus.

Tangan yang berlumuran darah dan membersitkan amisnya itu tak mampu menahan mantan kepala sekolah di Thaif ini untuk mengambil peran dalam kejayaan tamadun Bani Umayyah. Reformasi ortografinya berupa pengembangan tanda baca untuk menghindari kesalahan dalam membaca Alqur’an menjadikannya monumental. Apakah kebaikannya lebih dikenal daripada keburukannya? Sudah barang tentu kekejian dan kesadisannya lebih dikenal daripada peran pentingnya itu.

Seseorang ulama yang sudah dikenal dengan pengabdiannya kepada umat, buku-bukunya yang sudah tersebar ke seantoro dunia, kelurusan akidah serta moderatnya dalam fikih yang sudah diakui pula, ketika melakukan satu kesalahan—bisa jadi berawal dari perbedaan pendapat dalam ijtihad yang diambil—apakah itu akan menghancurkan dan menutupi seluruh kebaikannya untuk umat itu? Tidak, sungguh tidak adil jika kita mengabaikannya. Kesalahan—jika masih disebut seperti itu—yang dilakukannya malah membuktikan bahwa dia adalah manusia yang tak sempurna.

Tinggal bagaimana saudara seakidahnya ini dapat menutupi aib yang ada atau memberikan pemakluman kepada ulama itu. Karena masih ada 999 alasan lainnya untuk kita berlapang dada dengan kelemahan yang dimilikinya.

Saya teringat perkataan salah satu orang besar dunia, “Lupakan kesalahan orang lain seperti kita melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan dan jangan pernah untuk melupakan kebaikan orang lain.”

“Ayo cepat, sebutkan segera tiga kelebihan saya untuk diisi dalam formulir ini,” tanya teman saya lagi.

“Ee…eh,” saya masih saja tergagap-gagap.

Dasar.

 

***

Riza Almanfaluthi

ditulis untuk Islamedia

dedaunan di ranting cemara

Lantai 9 Pengadilan Pajak

10.42 21 April 2011

 

http://www.islamedia.web.id/2011/04/sigap-terhadap-aib-gagap-terhadap.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

dermaga


dermaga

**

 

debur ombak seringkali mengalahkan senyapnya

angin yang bertiup di atas bibir-bibir karang,

geliatnya mengalahkan sejuta pesona

matahari yang hendak tidur diam-diam,

aku adalah perahu yang hendak

kembali di keesokan hari,

berkenanlah kau menjadi dermaga

tempat aku persembahkan

segala apa yang ada di dalam samudera,

apa saja…

sudi?

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 April 2011

METAFORA DAN SIMILE


METAFORA DAN SIMILE

 

Saat ini, hujan menangis di bahuku, aku basah dengan cinta…

“Metafora yang ciamik…”

“Salah itu bukan metafora, tapi personifikasi”.

“Oh kalimat di atas bukan metafora yah…lalu?”

“Metafora seperti yang akan saya uraikan di bawah.”

*

Ketika kita membaca ungkapan berteman bagaikan sumur atau berteman bagaikan laut atau wajahmu secantik bulan purnama
apakah
ini juga
metafora? Bukan, ini pun bukan metafora, hampir mirip memang dengan metafora. Lalu seperti apa metafora?

***

Waktu belajar bahasa Indonesia di sekolah dulu sering kali kita diajarkan tentang apa itu metafora yakni pemakaian kata bukan dalam bentuk sebenarnya. Mengutip dalam bukunya Robert A Harris yang berjudul A Handbook of Rhetorical Devices, Harry Surjadi—mantan wartawan Kompas—mengemukakan bahwa metafora adalah salah satu bentuk retorika berbahasa.

Saya menyukai metafora. Dengan sangat. Apalagi Aristoteles sampai mengatakan: “hal yang paling luar biasa sejauh ini adalah menjadi penguasa metafora.” Maka benarlah apa yang disebutkan dalam makalah Harry bahwa manfaat penggunaan metafora adalah antara lain membuat lebih hidup bahasa yang sering kita pakai dalam keseharian, mendorong banyak interpretasi, lebih efisien dan ekonomis, menciptakan arti baru, serta menunjukkan kecerdasan.

Saya akan tunjukkan contoh metafora yang ada dalam beberapa paragraf berikut ini.

Kau berjalan di pematang sawah pada pagi yang berkabut  tipis. Dan aku menunggumu di saung yang meraung kesepian  di ujungnya. Lalu kita sama-sama mematut-matut diri pada nasib yang membuat kita berjarak pada nyatanya. Kita membunuh waktu dengan celotehan tentang apa saja yang membahagiakan masing-masing.

Sampai kita lupa pada burung-burung yang tiba-tiba saja hadir menemani tapi untuk urusannya mereka sendiri. Hanya mengambil satu dua bulir padi yang siap untuk dipanen. Kita pun tidak rela, hingga kau mengayunkan tali untuk menggerakan orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti mereka. Aku melihatmu. Aku memperhatikanmu.

Dan setiap  gerak itu, yang hanya terlihat di mataku adalah sebuah simfoni. Karena tawamu adalah bunyi biola yang mengindahkan semuanya. Senyummu adalah dentingan gitar yang terpetik mengiringinya. Matamu adalah piano orkestra yang menjadi instrumentalia pembuka. Sungguh, saat itu yang aku inginkan adalah waktu menjadi beku. Menjadi tawananku untuk tak lari menghindar. Aku hanya ingin  melihatmu melakukan apa saja di saung itu. Dan aku cukup dengan melihatmu saja. Aku sudah bahagia. *1)

Lihat pada kalimat: “Karena tawamu adalah bunyi biola yang mengindahkan semuanya. Senyummu adalah dentingan gitar yang terpetik mengiringinya. Matamu adalah piano orkestra yang menjadi instrumentalia pembuka.” Akan kering tanpa rasa bila hanya menyebut tawamu renyah, senyummu menawan, dan matamu indah. Seperti keringnya kita saat mendengar cabang Partai A atau ranting Partai B. Kata-kata itu telah kehilangan rasanya karena klise.

Sapardi Djoko Damono seringkali menggunakan metafora dalam karya indahnya. Coba lihat ini:

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. (Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo).

Lalu kalau simile itu apa? Hampir sama dengan metafora tinggal tambahkan saja kata seperti, atau bagaikan. Pada dasarnya simile merupakan perbandingan dua benda yang mempunyai kemiripan dan kesamaan dengan menambahkan kata seperti atau sebagai. Kalau metafora menyatakan bahwa “sesuatu” itu benda lain, sedangkan pada simile sebaliknya, “sesuatu” tidak menyatakan sama dengan benda itu tapi mempunyai kemiripan.

Contoh:

Metafora: Tawamu biola (tawamu adalah biola)

Simile:

– Tawamu seperti biola (tawamu bukan biola)

– berteman bagaikan sumur atau berteman bagaikan laut atau wajahmu secantik bulan purnama.

Dan inilah simile yang saya buat itu:

Sehari saja enggak nyentuh gtalk, seperti ikan yang dikeluarkan dari air, seperti ular yang digaremin, seperti burung yang dipatahin satu sayapnya, seperti kecoa yang diputusin sungutnya, seperti ekor cicak yang tanggal dari tubuhnya, seperti bisul yang mau pecah cenat-cenut, seperti sepeda yang satu bannya meletus tak karuan.*2)

Sapardi Djoko Damono dalam Penyair:

Aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku

…aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu…

Sangat imajinatif, penuh pemaknaan, begitulah adanya metafora dan simile. Anda mudah untuk membuatnya jika mau. Dan demikianlah perbedaan metafora dan simile. Semoga bisa dipahami.

***

*1) Dibuat di atas bus yang pulang dari Pengadilan Pajak pada Rabu 6 April 2011

*2) Dibuat 02 Maret 2011

Maraji’: Metafora , Harry Surjadi, Bahan Diklat Menulis Ilmiah, Pusdiklat Keuangan Umum, Departemen Keuangan

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*mohon kritik jika salah dan ada yang kurang

09.56 am 10 April 2011

Tags: metafora, simile, personifikasi, harry surjadi, kompas, pusdiklat keuangan umum, Robert A Harris, Handbook of Rhetorical Devices, pengadilan pajak

terlanjur


terlanjur

*

hujan menangis

di bahuku saat ini,

aku basah dengan cinta…

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.33 pm 08 04 2011

PNS, CPNS, DAN MALINDA DEE


PNS, CPNS, DAN MALINDA DEE

 

Dua kali mengetes kejujuran para kondektur Metromini 640 Jurusan Tanah Abang Pasar Minggu, hasilnya kurang memuaskan. Caranya? Diam-diam saya membayari ongkos Metromini teman satu instansi saya, walau tidak kenal. Saya memberi uang 4000 perak kepada kondektur untuk ongkos angkut saya dan teman yang ada di depan. Saya tunjuk dari belakang seorang perempuan berjilbab. Saya yakini betul kondektur itu untuk tidak menagih lagi ongkos padanya.

    Kondektur melewati teman saya walau ia sudah menyodorkan uangnya. Dan ketika sudah sampai ke tujuan dan ia hendak turun, teman saya itu kembali menyerahkan uang dua ribuannya kepada kondektur. Kondektur itu melihat dulu ke arah saya, karena dia tahu saya mengawasinya, ia cuma bilang “sudah dibayari sama yang di belakang.” Teman saya bingung siapa lagi yang bayari dia. Saya pura-pura melihat ke arah lain. Apa coba yang terjadi kalau saya tidak memelototi kondektur itu?

    Hari yang lain juga sama. Untuk ini saya serahkan uang enam ribu rupiah kepada kondektur buat dua orang teman saya yang ada di depan, tentu tanpa sepengetahuan mereka. Kondektur melewati mereka. Namun karena dua teman saya itu tak tahu ada yang membayari mereka maka pada saat turun mereka tetap menyerahkan uangnya kepada kondektur. Kondektur itu menerimanya walau tahu mereka sudah dibayari saya. Seharusnya kondektur itu bilang, “ada yang bayarin.” Apa susahnya?

    Dua orang kondektur itu bagi saya masih diragukan kejujurannya. Tapi eksperimen saya masih sumir karena mengambil sampel yang cuma sedikit. Yang membanggakan adalah teman-teman saya dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini, integritas mereka teruji sudah. Merasa belum bayar, mereka tidak langsung menyimpan uangnya kembali ke saku, memanfaatkan kesempatan lupanya kondektur untuk mengirit dua ribu perak, tetapi membiarkan uang itu tetap dipegang di tangannya dan akan diserahkannya pada saat turun nanti.

    Akan ada yang berpikir begini bahwa mereka—teman-teman saya ini—belum teruji karena cuma disodorkan kesempatan “menilap” uang recehan yang tidak bernilai itu. Kalau uang milyaran di depan mata, siapa tak akan mau? Sebenarnya jawabannya mudah. Kalau yang kecil saja tidak bisa ditolak bagaimana mungkin akan menolak yang bernilai besar? Semua itu dimulai dari hal-hal yang kecil. Hari itu saya bangga mempunyai teman seperti mereka.

Di kesempatan lain, ada teman yang pernah menjadi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) di daerah Kalimantan namun meninggalkan kesempatan besar untuk menjadi PNS itu hanya karena banyak hal yang bertentangan dengan idealismenya. Saya ingin menceritakannya sepintas.

Seperti kita ketahui bersama, begitu banyak orang terpikat untuk menjadi PNS, oleh karenanya saat lowongan penerimaan PNS dibuka, ribuan orang turut serta berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri. Bagi yang tak mau capek dan ingin hasil yang instan, segala cara bisa dipakai. Mulai dari menggunakan jalur koneksi, dukun, sampai sogok menyogok. Seringkali pada akhirnya mereka hanya menjadi korban penipuan saja.

    Tak masalah jika dari hasil seleksi itu yang diterima adalah mereka yang benar-benar berkualitas. Masalahnya adalah jika mereka yang tak mau capek dan memakai segala cara itu ternyata ikut diterima juga. Lalu akan jadi birokrat seperti apa mereka? Pun, apakah mereka yang diterima dengan cara yang benar dijamin akan menjadi seorang birokrat yang mampu memegang idealismenya? Tentu ini tergantung antara lain dari budaya yang ada di tempat kerjanya, keteladanan para seniornya, dan komitmen para pemangku kepentingan utama untuk menjalankan good corporate governance.

    Ceritanya, teman saya ini diterima sebagai CPNS dengan cara yang jujur dan langsung ditempatkan di salah satu dinas di sana ketika lulus. Hanya empat bulan dia bertahan dengan suasana yang penuh ujian terhadap integritasnya. Mulai dari disuruh me-markup laporan pertanggungjawaban, lembur dan rapat fiktif, menerima uang tidak jelas sebesar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah sehari, atau sekadar dicatut namanya pada kegiatan tertentu lalu ia tinggal menikmati hasilnya. Ia protes atas semua itu.

    Ia yang sudah diajarkan tentang nilai idealisme dan menyampaikan kebenaran walau pahit sejak kecil, merasa menjadi PNS bukan dunianya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, keluar dari menjadi Calon PNS. Dengan meninggalkan kesempatan untuk menjadi PNS, gaji Rp3,5 juta waktu itu dan akan bertambah besar, serta mendapatkan jaminan pensiun kelak. Dan ia bersedia untuk membayar Rp10 juta untuk pengunduran dirinya. Sekarang ia hanya menjadi seorang guru SDIT saja. Mendengar ceritanya, hari itu saya bangga mempunyai teman sepertinya.

    Dua cerita ini menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan saya sendiri pada saat diskusi di dalam bus yang membawa kami pulang dari Pengadilan Pajak. Masih adakah orang jujur untuk melanjutkan reformasi birokrasi yang dirasa berjalan lambat ini dan karena adanya peristiwa-peristiwa yang mencederai semangat reformasi itu? Faktanya ada. Masih banyak orang jujur. Tidak hanya di DJP, di luar DJP juga tidaklah sedikit.

Begitu pula potensi korupsi dan orang-orang yang tidak jujur tidak hanya ada pada instansi pemerintah, tetapi juga pada instansi swasta yang profesional dan kredibel, seperti Citibank misalnya. Sebagaimana sudah diketahui kalau Citibank ini adalah bank terkenal, mendunia, disebut juga sebagai universitas perbankan, mempunyai kultur kerja yang baku, nilai-nilai yang sudah inheren, sistem perbankan yang canggih dan modern. Tetapi sebutan itu tak berdaya di hadapan seorang Malinda Dee yang disangka telah membobol lebih dari Rp17 milyar selama 3 tahun.

Malinda diuntungkan karena tempatnya bekerja. Dia tidak langsung disebut sebagai seorang koruptor ketika menyelewengkan uang nasabah, cuma penggelap. Beda dengan teman-teman saya di atas jika tidak melakukan perbuatan tidak jujur itu. Stigma koruptor langsung melekat. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring disebutkan pelaku yang menyelewengkan uang Negara atau perusahaan adalah koruptor.

Jarang pengamat yang menyalahkan sistem perbankkannya yang bobrok, semuanya mengarah pada niat dan kesempatan terbuka yang dimanfaatkan oleh Malinda. Tidaklah sama dengan yang diterima institusi pemerintahan seperti DJP yang berusaha untuk menjadikan sistem pelayanannya diterima masyarakat dengan baik. Seberapa bagusnya sistem tersebut, selain orang yang disalahkan maka sistemnya pun menjadi ajang terbuka untuk dihujat. Inilah risiko ketika reformasi birokrasi dimulai dari sebuah awal yang buruk berupa stigma masa lalu: birokrasi korup.

Pada akhirnya teman-teman saya di atas, PNS dan CPNS itu, terbukti lebih bersahajanya daripada Malinda Dee ketika kesempatan itu terbuka di depan mata.

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

4.32 04 april 2011

 

Tags: citibank, kejahatan perbankan, integritas, jujur, kalimantan, kbbi, Malinda dee

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/04/05/pns-cpns-dan-malinda-dee/

 

 

menjelma


menjelma

**

 

menjelma menjadi mimpi,

rinai hujan yang datang membisikkan padamu tadi shubuh,

menjelma menjadi sajak,

kabut yang salah paham menyelimutimu tadi malam,

menjelma menjadi burung,

awan yang pergi tanpa pamit berkata culas padamu tadi sore,

menjelma menjadi 3 jam,

rindu yang menggigit jubah kehilanganmu tadi siang,

menjelma menjadi air mata,

bahagia yang menderai di sudut hatimu barusan saja.

akulah yang menjelma …

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11.14 03 April 2011

malam ketujuh


malam ketujuh

 

tak ada yang tertulis untukmu

di sela tubuh yang menggigil

pada jam yang menabuh genderang perang

sudah tengah malam katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

biar kata-kata yang ada memuara ke laut

hanyut bersama sampah-sampah hitam ciliwung

sudah menggila katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

karena langit sudah rata dengan bumi

sudah saatnya katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

sudah malam ketujuh katanya

 

tak ada yang tertulis untukmu

siapa bilang?

karena setiap kata yang terucap

karena setiap huruf yang tertulis

di langit dan di bumi

semua untukmu…

aku semakin menggigil

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12.06 31 Maret 2011

 

 

JUM’AT 01 APRIL 2011 SIAP-SIAP *)


JUM’AT 01 APRIL 2011 SIAP-SIAP *)

 

Besok kamis adalah hari terakhir Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress beroperasi di Jabodetabek. Nanti mulai tanggal 1 April 2011 tidak akan ada lagi kereta kasta tertinggi ini. Tidak akan ada lagi susul-susulan. Tidak akan ada lagi KRL yang bisa sampai ke tempat tujuan hanya dalam jangka waktu 30 menit saja. Tidak akan ada lagi kelonggaran-kelonggaran yang bisa dinikmati.

Karena krl penggantinya dengan harga yang diturunkan menjadi Rp7.000,00 akan berhenti di setiap stasiun. Sudah barang tentu ini akan memakan waktu panjang lagi untuk menaikturunkan penumpang. Dan sudah pasti akan banyak penumpang yang memadati krl ini. Kalau demikian adanya, tak akan bisa lagi orang menggelar koran atau membuka kursi lipatnya. Kalau begini pedagang kursi lipat akan alami kebangkrutan, enggak laku soalnya.

Saya jadi berpikir, waktu yang akan saya tempuh untuk perjalanan pergi dan pulang kantor akan bertambah panjang lagi. Yang dulu, sampai di Stasiun Sudirman jam setengah tujuh pagi—dan masih punya waktu panjang untuk tiba di kantor—bisa jadi nantinya jam 7 pagi krl itu baru tiba di sana. Kalau begitu siap-siap untuk naik ojek atau cari partner taksi kalau waktunya mepet.

KRL Ekspress yang biasa saya naiki, Pakuan Ekspress, masih punya rentang waktu cukup atasi keterlambatan kalau ada masalah di persinyalan kereta atau karena ada kereta yang mogok dan menghalangi jalur. Saya tak pernah terlambat ke kantor dengan naik KRL Ekspress paling pagi ke Tanah Abang itu.

Saya membayangkan jika sistem KRL Commuter Line ini mulai dijalankan sedangkan infrastrukturnya juga masih seperti ini, maka kalau ada kereta yang mogok, terlambat sudah menjadi sebuah kepastian dah. Hanya punya waktu toleransi 15 menit untuk hal-hal seperti ini. Kalau sudah lewat waktu itu pasti terlambat ke kantor. Tapi lihat saja nanti, bagaimana pola operasi sistem perkeretaapian baru ini akan berjalan.

Siap-siap untuk tidak bisa lagi bermonolog, baca koran dengan santainya, tidur ayam, dan lain-lainnya. Apa boleh buat, kenyamanan akan berkurang, sebanding dengan harga yang dikeluarkan pula. Namun tetap, bagi saya, KRL adalah satu-satunya—jadi bukan lagi sekadar alternatif—moda angkutan yang paling masuk akal untuk saya naiki di tengah ketidaklogisan kemacetan parah yang terjadi di Jakarta sewaktu pagi atau sore.

So, dinikmati saja apa yang kita dapatkan sekarang. Semoga perubahan itu akan membawa kebaikan buat kita semua—para pengguna jasa perkeretaapian. Optimis sajalah. Yakini betul bahwa hari ini—hari yang kita akan jalani—adalah hari kita satu-satunya. Insya Allah kita akan nyaman di mana pun adanya kita. Semoga.

Ohya jangan lupa, berangkatlah lebih pagi di jum’at besok untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan karena adanya perubahan jadwal.

*) Catatan penting: Dengar-dengar malah kebijakan ini sudah dibatalkan oleh pejabat KAI mendadak, saya kurang tahu, tapi lihat saja di FB Solidaritas Jabodetabek Untuk KRL Yang Lebih Baik. Kalau benar, maka tulisan ini tak ada gunanya. 🙂  

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

menggigil

10.44 30 Maret 2011

 

Tags: ptkai, krl, pakuan ekspress, commuter line, pola operasi baru

pinta sederhana


Cinta Pinta Sederhana

**

 

aku memintamu,

di pagi yang terbangun kesiangan

atau di malam yang cemburu,

ketika aku datang

buatkan secangkir teh yasmin hangat

ambilkan sepiring nasi dan lauk secukupnya

hidangkan semuanya untukku

dan kau duduk di depan

melihat aku menghabiskannya

sambil bercerita apa saja.

cuma pinta sederhana

untuk 12 tahun yang telah lewat

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

anniversary atau ani berseri-seri?

27 Maret 1999 – 27 Maret 2011

08.10 am

Gambar diambil dari sini.

megalomania


megalomania

**

Aku adalah antartika yang menunggu tetes-tetes salju abadi

Aku adalah niagara yang menunggu surutnya

Aku adalah matahari yang menunggu padamnya

Aku adalah…

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

untuk malam yang semakin malam

10.19 am 26 Maret 2011