Nyamuk Namruz


Saya masih teringat suasana ketika aplikasi Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) pertama kali mulai diterapkan di Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga pada 2004 lampau.

Tahun itu semua kantor pajak di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dimodernisasi. Tidak hanya soal integritas dan budaya kerja, melainkan teknologi informasinya. Menyusul kantor pajak di lingkungan Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar yang sudah mendahului sejak 2002.

Seluruh pegawai dengan tertatih-tatih mulai mengakrabkan diri menggunakan aplikasi yang berbasis data Oracle itu dalam melaksanakan tugas keseharian di kantor. Sistem tersebut sampai sekarang—saat artikel ini ditulis pada November 2020—masih digunakan. Sudah hampir dua dekade saja.

Waktu yang membuat segalanya berubah, kecanggihan teknologi informasi terkini dan banyak aplikasi tambahan yang ditempel, menjadikan SIDJP itu tambal sulam, usang, dan rawan isu keamanan.

Ini, sudah tentu, membuat pincang DJP dalam merapikan tata kelola administrasi perpajakan yang puncanya untuk mendongkrak penerimaan negara dari sektor perpajakan.

Anda mungkin ingat, untuk mengantisipasi keusangan itu DJP sebenarnya pernah berencana membarui sistem informasinya melalui proyek PINTAR (Project for Indonesian Tax Administration Reform) yang dimulai pada 2010. Namun, proyek yang niatnya didanai lewat pinjaman Bank Dunia itu ternyata gagal tender.

Belajar dari kegagalan dan kebutuhan mendesak akan adanya sistem informasi yang campin itu, DJP kembali bergerak. Reformasi Perpajakan dicanangkan pada akhir 2016. Salah satu pilarnya adalah ketersediaan sistem informasi yang andal untuk mengolah basis data perpajakan sesuai bisnis inti DJP.

Ujungnya dibentuk Tim Pelaksana Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP) pada Oktober 2020 untuk mengawal pengadaan dan implementasi proyek teknologi informasi DJP yang digadang-gadang akan mulai jalan pada 2024. Optimisme menyeruak.

 

Piwulang

Di tengah itu, saya menghiraukan Leo Agung Cahyono dan Eko Nugroho yang menyodorkan piwulang kepada kita semua dalam jurnalnya yang diterbitkan pada 2014 dan berjudul Belajar dari Kegagalan Proyek-Proyek Teknologi Informasi.

Mereka memberikan contoh proyek gagal, di masa lalu dan di masa yang tak terlalu lama. Saya mengutip untuk masing-masing masa itu.

Greyhound Lines Inc adalah sebuah perusahaan bus yang sedang mengerjakan proyek Sistem Reservasi Perjalanan dan Pemberangkatan Bus bernama Trips.  Perlu diketahui awal 1990-an internet mengguncang dunia. Di masa itu perusahaan berlomba-lomba menerapkan Enterprise Resource Planning (ERP).  Ini adalah paket aplikasi program terintegrasi dan banyak modul untuk merencanakan, mengelola, dan mendukung berbagai fungsi dalam perusahaan agar berjalan sangkil dan mangkus.

Greyhound mengeluarkan kurang lebih US$6 juta di awal 1990-an untuk membangun Trips. Sayangnya, Greyhound gagal total memasang Trips pada 1993 saat Greyhound mencoba menawarkan harga diskon tiket bus.

Kendala sistem itu membuat para agen tiket Greyhound terpaksa menulis tiket dengan tangan secara manual. Akibatnya parah, para pelanggan harus menunggu antrean dan ada juga yang terpaksa ketinggalan jadwal bus. Efeknya adalah penumpang anjlok 12% dalam satu bulan.

Greyhound harus menonaktifkan Trips di beberapa daerah sambil mencoba melacak sumber masalahnya. Kejadian ini hanya beberapa minggu setelah Greyhound menjalankan aplikasi itu. Greyhound pun menanggung kerugian sebesar US$61,4 juta pada semester pertama tahun 1994.

Menanggung malu dan sebagai bentuk pertanggungjawaban, CEO dan CFO Greyhound mengundurkan diri. Seiring dengan berjalannya waktu, Greyhound menemukan sumber masalah dan berhasil mengoperasikan kembali Trips. Sudah terlambat. Kejadian itu membuat Greyhound harus melepaskan statusnya sebagai penguasa transportasi.

Contoh yang lebih kiwari terjadi pada produsen kimia Avantor Performance Materials yang menggugat IBM atas kegagalan proyek Systems, Application and Products (SAP) pada November 2012. Sederhananya SAP adalah bagian dari dari ERP.

Avantor menggugat IBM dengan alasan pejabat IBM telah berbohong tentang kesesuaian sebuah paket perangkat lunak berbasis SAP yang ditawarkan. Sistem yang disebut “Express Life Sciences Solution” ini dianggap tidak cocok untuk Avantor dan proyek perangkat lunak berikutnya menyebabkan Avantor hampir berhenti beroperasi.

Tuduhan lain dari Avantor adalah IBM menempatkan pekerja proyek yang tidak kompeten, sembrono, dan sering membuat kesalahan. IBM juga mengambil jalan pintas dengan menjalankan aplikasi itu lebih cepat yang ternyata malah membuat bencana.

Di pertengahan 2013, gugatan itu dibatalkan oleh otoritas pengadilan setempat karena adanya kesepakatan di antara dua perusahaan tersebut. Namun demikian, kegagalan proyek ini telah memberikan banyak pelajaran dan menjadi bahan studi dalam dunia manajemen perubahan teknologi informasi.

Selayaknya kegagalan itu dapat diminimalisasi, yang Leo dan Eko tangkap, dengan menghindari beberapa kesalahan yang sering terjadi pada proyek teknologi informasi: Pertama, ruang lingkup dan persyaratan yang tidak jelas dan tidak disepakati sejak awal. Kedua, kurangnya sumber daya yang berkualitas dan berkomitmen bersama seluruh pemangku kepentingan. Ketiga, jadwal yang terlalu ketat dan tidak realistis. Keempat, perencanaan yang kurang matang dan selaras serta tidak komprehensif. Kelima, faktor risiko yang tidak terindentifikasi secara menyeluruh dan tidak dikelola secara baik.

 

Bugs

Tim Pelaksana PSIAP—dan semua yang tergabung dalam Tim Reformasi Perpajakan—memang mesti memasang cermin di setiap sisi untuk membaca semua kegagalan yang pernah terjadi. Dengan tidak juga mengesampingkan adanya tangan tak kasat mata yang turut membuat perfek proyek itu sehingga bisa diimplementasikan pada waktunya.

Ini bukan soal kerja keras dan cerdas semata yang di kedepankan. Keberhasilan PSIAP di ujung nanti tak hanya perihal itu. Kalau itu yang terjadi, lalu apa bedanya dengan Karun, sezaman dengan Musa dan Harun, yang merasa bahwa segala kekayaannya berasal dari kecerdasannya, an sich. Ingat, kunci-kunci perbendaharaan harta Karun ini sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat saking banyaknya mal yang dimilikinya. Pada akhirnya, kita semua tahu apa yang terjadi dengan Karun: bumi menelannya.

Berabad-abad sebelumnya, untuk melayukan Raja Namruz, penguasa Babilonia—negara adidaya pada masa itu—tidak perlu mendatangkan pasukan besar, tetapi cukup dengan nyamuk yang memasuki gendang telinganya. Barangkali ketika sikap umuk itu nyata, apa yang kita bangun susah payah dapat runtuh sekejap dengan adanya “bugs” di dalam sistem informasi yang kita jalankan nanti.

Kita tak menghendakinya. Berserah kepada siapa lagi kalau bukan kepada yang di atas. Tidak bersandar kepada selainnya atau kepada gumpalan yang berada di balik tempurung kepala dan otot-otot kita.

Artikel ini ditulis untuk dan telah dimuat di majalah elektronik internal Direktorat Jenderal Pajak INTAX Edisi 4 Tahun 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.