Derita Abadi


 

Tanah pesisir memanggil hujan,
dari langit jatuh pesan-pesan perdamaian, basah, dingin,
angin gemetar, daun tunduk
Kota diam sepenuh takluk

Yang tak kausadari itu doa sepenuh hati
dari penyair yang cuma punya sekerat
kenangan yang tak bisa dihancurleburkan
Ia yang mengaku paling menderita.
Derita yang tak mau dibagi.
Ia takut, kalau deritanya habis dibagi,
ia tak bisa menggembala segerombolan huruf,
sekelompok kata, dan beberapa ekor bait yang ada di kepalanya
untuk dijadikan puisi nan cantik dan imut.
“Jangan menjadi seorang penyair, kalau kau tak mau menderita,”
kata penyair pada murid-murid.
Kehilangan adalah derita abadinya.

***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
10 Juni 2016
Sumber gambar: IG @awesome.earth

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s