Nurul Faizun: Komplain Saja Langsung kepada Kami


Nurul Faizun sedang membersihkan toilet di salah satu gerbong Kereta Api Purwojaya yang sedang melaju kencang dari Cilacap menuju Jakarta saat seorang penumpang hendak memasuki kloset itu. Faizun bergegas keluar dengan membawa gagang pel dan semprotan berisi cairan pembersih.

Menjaga peturasan tetap resik dan tak berbau adalah salah satu tugas Faizun sebagai petugas CCAB (Care Clean and Board) selain mondar-mandir pada gerbong yang menjadi tanggung jawabnya sambil membawa kantung sampah besar berwarna hitam. “Saya baru satu tahun bekerja di sini,” kata pemuda kelahiran Cilacap 20 tahun lalu ini, saat ditemui di atas Kereta Api Purwojaya, Rabu (22 Maret 2017).

Kamar kecil di gerbong eksekutif kereta api ini berukuran 1,1 x 1,1 meter persegi. Di dalamnya terlihat bersih dan tercium aroma odoran. Airnya tersedia banyak. Tisu tergulung rapi dan cairan pembasuh tangan berwarna merah juga masih terisi penuh di atas wastafel. Tempat sampah berada di salah satu sudutnya.

Beberapa saat kemudian, penumpang yang baru saja menggunakan toilet itu keluar dan langsung memberikan pujian kepada Faizun. “Bersih dan wangi,” kata penumpang sambil mengacungkan jempol kepada Faizun.

Lajang yang berasal dari Maos, 25 kilometer dari Cilacap, ini menganggukkan kepala sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Baginya, mendapatkan apresiasi dari penumpang sudah merupakan hal yang luar biasa.

Setidaknya, menurut Faizun, ini menghibur dirinya sebagai petugas kebersihan outsourcing. “Kami berempat hanya mendapatkan gaji pokok saja. Tak ada uang jalan, uang makan, dan mes buat kami,” lanjut Faizun.

Ia dan teman-temannya bertugas dengan metode kerja  2 kali pulang pergi dan libur 2 hari. Kereta Api Purwojaya hanya berangkat sekali dalam sehari. Dari Cilacap pukul 14.30, sampai di Jakarta pukul 22.00. Sedangkan dari Jakarta kereta api akan berangkat pukul 22.15 dan sampai di Cilacap pukul 05.05. Menurutnya, ini seperti bekerja 16 jam sehari dan tidak ada hari libur.

Untuk mengantisipasi membengkaknya biaya yang dikeluarkan, Faizun tidak pulang ke Maos saat kereta tiba di Cilacap dan harus berangkat lagi siang harinya. Ia pun tidak menyewa kos atau mengontrak rumah. “Kami biasa menunggu jadwal dan beristirahat di kereta api,” ujar Faizun.

Hari itu kursi yang tersedia di gerbong Kereta Api Purwojaya tidak semuanya terisi penuh. Maklum hari Rabu hari kerja biasa. Faizun harus ekstra berkeringat kalau di akhir pekan, karena kereta akan penuh dengan penumpang.

Faizun berkeinginan penumpang akan puas dengan layanan yang diberikannya. Kalau tidak puas, Faizun berharap penumpang tidak komplain langsung ke pusat (aduan layanan PT KAI). Ia meminta penumpang melapor atau menegur seketika kepadanya kalau ada yang kurang bersih. Tentu dia akan membersihkannya segera. Karena sebagai manusia, tutur Faizun,  ada saja kelalaian kecil yang sebenarnya tidak diinginkannya.

“Risikonya kami yang kena. Biasanya akan langsung di-SP (Surat Peringatan) atau di-grounded-kan,” tambah Faizun sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dengan sopan. Istilah “grounded” ini berarti Faizun tidak boleh bekerja di atas kereta api lagi. Bagi pekerja kecil semacam Faizun ini berarti malapetaka, karena penghasilannya akan berkurang jauh.

Mendadak, suara dari pelantang di dalam kereta api terdengar keras. Ada pengumuman kalau kereta api akan segera sampai di Stasiun Maos. Ini pertanda buat Faizun untuk mengerjakan tugas lain. “Saya harus membuka pintu,” ujar Faizun mengakhiri.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Gerbong 8 Purwojaya, 22 Maret 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s