[HALO NUSANTARA] Antara Legenda dan Takdir: Ini yang Menarik di Tapaktuan


Surfing di suatu senja (Foto Syukrunaddawami-Pegawai KPP Pratama Tapaktuan.)

Tapaktuan, tempat eksotis berjuluk Kota Naga ini terletak 440 km arah selatan Banda Aceh. Ibu kota Kabupaten Aceh Selatan ini bisa ditempuh dengan menggunakan perjalanan darat dari Kota Banda Aceh ataupun Kota Medan selama kurang lebih 8 sampai 9 jam.

Anda disarankan untuk menempuhnya di siang hari agar mata bisa termanjakan dengan pantai nan memukau di sepanjang jalan lintas barat Provinsi Aceh. Sekalian merenungi asar-asar tsunami tahun 2004 yang masih tampak. Atau menikmati keteduhan Berastagi dan hutan Pegunungan Leuseur yang berkelok-kelok jika Anda memula kembara dari Kota Medan.

Sesampainya di kota pala ini siapkan kamera agar semua ciptaan luar biasa Yang Maha Kuasa ini terabadikan dan bisa terceritakan ke anak cucu. Ya, karena Anda telah pernah menjejakkan diri ke sebuah situs luar biasa yang menjadi landmark tak pernah tergantikan: Jejak Kaki Raksasa Tuan Tapa.

Di sana, di kaki Gunung Lampu, di tepian Samudra Hindia, di saat mengunjunginya, berlakulah sebagaimana Anda hendak diperlakukan sebagai tamu. Itu tutur kata para tetua yang diturunkan dari bani ke bani, dari generasi ke generasi. Layak didengarkan.

Laut biru, deburan ombak, buih putih, batu karang hitam adalah anasir yang menambah indah lanskap jejak yang melegenda ini. Sebuah legenda tentang bekas pertempuran antara Tuan Tapa dan sepasang naga yang telah menculik gadis cantik dari negeri Cina.

Pada kesudahannya kebatilan moksa dan kebenaranlah yang jaya. Namun, tidaklah menyurutkan orang untuk mengabadikan binatang besar bersisik menjadi ornamen-ornamen penghias kota.

Tak jauh—masih di tempat yang sama—di puncak Gunung Lampu itu, jika Anda punya nyali, naiklah ke rooftop, menara besi tempat memandang dan merenung segala, tempat elang laut bertengger sehabis menyambar ikan di lautan. Dari atas sana Anda dapatkan sebuah pemandangan tiada dua: kota Tapaktuan dari ketinggian. Atau tentunya bersama Anda sendiri dalam sebuah aksi selfie.

Setelahnya jangan lupakan pesara aditokoh legenda itu yang besarnya tidak seperti makam biasa. Letaknya di depan Kantor Keuchik Gampong
Ilir. Uluk salam sebagaimana galib kaum beragama yang Anda pahami saat berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir manusia.

Ah, kalau berbicara pantai maka sepanjang garis kota Tapaktuan bahkan garis pantai di Aceh Selatan semuanya menyebut satu kata yang sama: indah. Dengan bentangan pasir putih, pohon kelapa, dan tentu senjanya. Tidak ada yang tidak menghentakkan pemilik mata untuk bertasbih memuji kebesaran-Nya.

Maka tak heran, jika Anda bermukim di sana, Anda bisa mempunyai kesukaan baru: snorkelling, diving, ataupun surfing. Spot-spotnya tersedia melimpah di kota kecil ini. Tak kalah dengan Sabang yang berada di ujung negeri. Daerah ini bisa tumbuh pesat melalui potensi wisatanya jika saja pemerintah daerah setempat mau bersusah-payah sedikit dalam pengembangannya.

Tidak ada hotel yang menawarkan kemewahan, yang ada hanyalah kesederhanaan dan ketenangan. Yang perlu diketahui para musafir adalah negeri ini bersendikan syariat, maka tutupilah aurat Anda semestinya. Tak ada tempat berduaan bagi yang bukan mahram.

Tak cukup satu dua halaman kertas untuk mengisahkan semua tentang Tapaktuan. Karena betapa banyak hal-hal unik yang mesti didengar, dilihat, dirasakan, dan diketahui. Pun, tersebab semua punya ceritanya masing-masing.

Jika Anda ditakdirkan untuk singgah di sana, maka jangan lewatkan semuanya. Jangan pula lewatkan untuk singgah di kantor kami yang baru ini. Barangkali, Anda akan menemukan saya di salah satu sudut ruangannya. Menyambut Anda—Sang Pengelana—dan berucap: “Selamat datang.”

Selamat Datang di Kota Naga (Foto Riza Almanfaluthi-Pegawai KPP Pratama Tapaktuan)

Jejak kaki raksasa Tuan Tapa (Foto Nanda Rizaldi Lubis-Pegawai KPP Pratama Subulussalam).


Makam Tuan Tapa (Foto Riza Almanfaluthi-Pegawai KPP Pratama Tapaktuan)

Kantor baru kami, KPP Pratama Tapaktuan, dilihat dari tengah laut. (Foto Sudirman Napitupulu-Pegawai KPP Pratama Tapaktuan).

***

Riza Almanfaluthi

Artikel ini telah dimuat di DJP emagazine Edisi September 2014.

Advertisements

3 thoughts on “[HALO NUSANTARA] Antara Legenda dan Takdir: Ini yang Menarik di Tapaktuan

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s