[HALO NUSANTARA] Jinayat dan Ganja


Gerak rampak para santri dalam zikir maulid (Foto Riza Almanfaluthi)

Jinayat

Hari Jumat, ratusan orang berkumpul di pelataran Masjid Raya Tapaktuan, Istiqamah. Bukan untuk apa-apa, melainkan mereka akan melihat prosesi pencambukan orang-orang yang melanggar Qanun. Biasanya karena perbuatan maisir (perjudian) dan khalwat (mesum).

Sebelumnya aparat Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan berkeliling kota memberitahu masyarakat melalui pengeras suara. Usai salat Jumat pencambukan dilaksanakan. Tidak banyak cambuk itu mendera di punggung para pelanggar qanun. Bisa lima sampai sembilan pukulan saja.

Algojo bertopeng dari Polisi Syariah (Wilayatul Hisbah) yang akan melakukannya. Aparat Kejaksaan Negeri sebagai yang punya gawe harus bisa memastikan acara tersebut berjalan dengan lancar.

Tidak setiap saat peristiwa ini digelar. Setahun paling sekali acara itu dilaksanakan mengingat butuh biaya besar dalam penyelenggaraannya. Karena itu bagi para pelancong yang datang ke Aceh Selatan tidak serta merta akan bisa melihat prosesi penegakan hukum itu.

Apalagi bupatinya sudah mewanti-wanti agar tidak terjadi lagi pencambukan ini. Bukan kepada harapan tidak ditegakkannya hukum jinayat melainkan sebuah asa agar tidak ada masyarakat Aceh yang melanggar syariat Islam.

Bale

Di lain waktu, Masjid Istiqamah pun ramai dengan acara maulid yang digelar aparat Pemerintah Kabupaten setelah sekian lama tidak ada karena alasan keamanan. Bupati yang baru terpilih menggalakkannya kembali. Namun kental sekali dengan budaya lokalnya.

Masing-masing kecamatan mengirimkan utusan. Tidak sembarang utusan melainkan mereka para santri dipimpin amirnya yang akan maraton berzikir. Mereka duduk membentuk lingkaran dan menyuguhkan kekompakan dalam gerak badan sambil mulut tiada henti menyenandungkan salawat. Irama, emosi, dan gerak para santri ini begitu rampak.

Yang unik dalam acara maulid yang dihadiri ribuan masyarakat ini adalah setiap perwakilan daerah atau instansi yang diundang untuk meramaikannya akan membawa sebuah hidangan atau sajian beraneka ragam namun tidak mahal yang dihias dengan hiasan semenarik dan sebesar mungkin. Inilah yang disebut bale. Salah satu bale yang dibuat oleh oleh salah satu instansi di sana dalam bentuk perahu beroda, rumah adat, dan lain-lain.

Bale-bale ini diperuntukkan buat para peserta zikir maulid. Masing-masing bale ditandai dengan nomor. Bale dengan nomor urut satu dan termasuk paling besar adalah bale dari bupati. Itu khusus untuk diperebutkan oleh para hadirin ketika acara hampir selesai. Dan betul, ketika bale nomor satu itu diizinkan untuk dibuka. Sontak puluhan hadirin berebut semua makanan yang ada di dalam bale. Dalam sekejap isinya tak bersisa.

Ranup Lampuan

Tarian yang diciptakan di tahun 1959 oleh Almarhum Yuslizar ini bermula di Banda Aceh. Lalu tersebar ke seluruh wilayah Aceh. Tidak terkecuali di Tapaktuan. Tarian ini menjadi suguhan utama ketika menyambut tamu. Entah dalam sebuah acara kedaerahan ataupun dalam resepsi pernikahan.

Setiap gerak tarian ini menggambarkan keramahan masyarakat Aceh dalam menyambut serta memberikan sirih kepada tamu. Tarian yang dibawakan para gadis cantik ini diakhiri dengan suguhan para penari yang akan memberikan sirih kepada para tamu. Itulah saatnya Anda mengambil sirih dan mulai belajar memakannya.

Sirih memang tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakat Aceh yang suka memuliakan tamu. Ranup berarti sirih. Puan adalah tempat sirih. Di Tapaktuan, puan ini menjadi semacam tugu yang berada di salah satu persimpangan jalannya.

Kuliner

Membincang Tapaktuan sebagai bagian dari Aceh, maka tak bisa dilepaskan dari kulinernya yang mengesankan. Sebagai penghasil pala sejak zaman lampau, maka tak terelakkan pala menjadi salah satu objek pengembangan industri rumahan. Selain bisa dijadikan minyak, maka pala dapat dijadikan manisan dan buah tangan untuk dibawa pulang. Di pusat pertokoan Tapaktuan banyak menjajakan manisan ini.

Jangan lupa dengan kopinya. Karena kopi menjadi elemen penunjang budaya di Aceh. Anda bisa merasakan nikmatnya kopi hitam dan kopi sanger, kopi susu khas Aceh. Beda sekali rasanya dengan kopi dari daerah lain.

Di sepanjang pinggir jalan Tapaktuan berjejer warung-warung kopi itu. Cara memasak dan penyajiannya yang berbeda. Bahkan sebelumnya, cara pemilihan biji kopi dan pengolahannya ini yang menjadi pembeda. Anda harus memesan jauh-jauh hari kopi jenis robusta ini jika Anda ingin menjadikannya sebagai oleh-oleh.

Mi Aceh dengan bumbu merah khasnya pun menjadi unggulan kuliner di sini, selain ikan tentunya. Hasil laut ini diambil oleh para nelayan yang melaut semalaman dan dijual kepada para pelanggannya keesokan harinya. Tentu kesegarannya senantiasa terjaga. Maka bisa dikatakan dagingnya pun terasa manis di lidah.

Pertanyaan yang selalu mengusik dari para pelancong adalah bagaimana dengan ganja? Barang haram itu memang ditanam di pelosok perbukitan di sekitar Aceh Selatan. Tetapi aparat pun tak bosan-bosannya melakukan ekspedisi pembasmian ladang-ladangnya. Ini tidak sekadar masalah cita rasa kuliner melainkan keselamatan generasi mendatang.

Ditunggu lancongan Anda di sini.


Bale (Foto Riza Almanfaluthi)


Aparat polisi dengan ganja hasil sitaannya. (Foto Edo Baron)


Puan di Simpang Terapung (Foto KPP pratama Tapaktuan)



***

Riza Almanfaluthi

Artikel ini telah dimuat di DJP emagazine Edisi September 2014.

Advertisements

4 thoughts on “[HALO NUSANTARA] Jinayat dan Ganja

  1. Saya pengen banget melancong ke Tapaktuan Pak. Paling jauh cuma sampe Meulaboh saja. Sepertinya harus saya agendakan berkunjung ke Tapaktuan nih. Dari banyak hal di atas, yang pernah saya saksikan cuma tari Ranup Lampuan saja.

    Like

  2. Teknis pencambukan itu seperti apa, Pak? Jenis dan macam cambuknya. Lalu teknis mengayunkan cambuknya. Apakah ada literatur (berbahasa Indonesia) yang membahas hal ini? Terima kasih.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s